Disclaimer:

Aldnoah Zero Written By: Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama

Studio: A-1 Pictures + TROYCA

Warning: AU, typo, GS, OOC, Don't Like, Don't Read! ;)

Summary: [Inasure] [OrangeBat] Fem!Slaine. | Aku ingin kamu menjaga Slaine, Inaho-kun. | Itu adalah permintaan Asseylum. | Perasaan ini, apakah masih bernama simpati? | Kalau bukan, apa namanya?

A/N: Demi dewaaa, chap ini rasanya susah banget buat nganu-nganu. Authornya masih polos(?) /yha/

Arischa : Inaho pergi perang :') tapi adegan perangnya dibayangin sendiri aja :""D makasih udah dibilang wow, semoga chap ini gak jatuh-jatuh amat penceritaannya/? Yuhuu teman sekapal :D

Kanato-desu : gak apa-apa lama, tapi akan aku tepati /halah/ /dor/ syukur ini nyampe tanggal 31. :') aih, enaknya Inaho diapain yak /pasang muka begal/

Nanaho Haruka : Terima kasih, semoga chap ini gak bikin mood berantakan /yha/ :") tentu saja dilanjutkan, makanya ini diapdet pas mepet tanggal untuk nepatin janji :'D /woi/

Rin Haruna : Cowok kalo modus emang jago /emangnya ayam?/ /dor/ Slaine sih pengen aja ikut perang lagi, siapa tau bisa secara nggak sengaja ngebacok kataphrakt Inaho sampe meleduk /salahwoi/

Guest : boleh kok, mikir nganu-nganu dan iya-iya. /woi/ kebanyakan fuwa-fuwa ntar mabok ;(

Wako P: Anu-anunya bayangin sendiri aja deh, soalnya author gak bakat nulis yang nganu-nganu, kalo ngebayangin sih bisa ;( /woi/ udah diapdet nih broo

Aoi Minori : dilanjut dong, sesuai janji. Pas tanggal tua :D ada banyak hal yang terjadi ;( makasih sudah mereview :D

Terima kasih para reader-nim yang sudah meluangkan waktu untuk membaca, folfav dan mereview :"D

Chapter VII

Pada awalnya, diminta menjaga Slaine Troyard oleh Ratu Vers, Inaho tidak begitu tertarik dengan tugas itu. Dia akan menjalankannya dengan cepat. Mengawasi keadaan. Pulang. Lagipula hanya satu kali dalam satu bulan, bukan hal yang terlalu sulit. Untuk memeriksa kamera pengawas, hanya perlu beberapa menit saja. Apa yang bisa gadis berstatus tahanan rumah itu lakukan? Dia tentu tidak terlalu bodoh untuk melarikan diri atau bunuh diri. Dia sangat setia pada Asseylum Vers Allusia.

Perjalanan ke rumah itu jauh. Jauh dan sunyi. Berada sangat jauh dari kota Shinawara, sekitar tiga kota yang harus di lewati. Dua jam dengan menggunakan mobil. Melewati hutan dan bisa melihat laut di sepanjang perjalanan.

Berada di depan gerbang yang tinggi, melihat sekitar yang sepi, tentu akan membuat orang berpikiran macam-macam tentang tempat apa dibalik pagar beton ini, terutama pikiran negatif. Misalnya, sebuah lab percobaan makhluk hidup?

Tempat yang terpencil, sehingga tidak akan ada orang yang akan berniat datang kemari, kecuali dengan alasan tertentu.

Gelap. Ruang tamu. Ruang makan. Dapur. Lantai dua. Kamar lantai atas. Semua gorden tertutup. Seperti tanpa penghuni. Membuka semuanya setiap melewati ruangan, Inaho mengetuk pintu kamar untuk sekedar sopan santun. Tidak ada balasan, namun begitu dibuka, terlihat seorang perempuan dengan rambut di kuncir berdiri di dekat jendela, melihat keluar. Satu-satunya gorden yang terbuka, hanya kamar itu.

Menatap tajam pada Inaho adalah hal pertama yang dilakukan oleh Slaine. Tidak menakutkan sih sebenarnya, raut wajah itu membuat Inaho merasa bersimpati. Tatapan kosong dan menerawang. Terkadang ketus, atau mengatakan hal yang sepertinya berlawanan dengan ekspresinya. Seperti tidak peduli, namun cukup peduli pada apa-apa di sekitarnya.

Inaho pernah mencoba makanan buatan Slaine. Tidak takut akan diracuni, karena dia mengawasinya dari kursi ruang makan. Makanan buatan Slaine itu, just so-so. Sup buatannya hambar, telur dadarnya asin. Sushi buatannya berantakan, namun ternyata malah makanan ini yang rasanya paling normal; cukup enak.

Yeah, don't judge a book by its cover.

Jika terus belajar, kemampuan memasak Slaine pasti membaik.

Practice makes perfect.

Inaho ingat bagaimana saat pertama kali dia bertemu Slaine, perempuan itu dulunya memiliki rambut panjang sebahu. Sekarang, hampir sepunggung. Melihatnya dari dekat, akan dapat disadari dengan lebih cepat, cantik.

Dia akan lebih cantik jika tersenyum.

Dia akan terlihat manis ketika bicara.

Dia kesepian.

Pada awalnya ini hanyalah rasa simpati.

XoXo-XoXo-XoXo

"Tidak, aku tidak setuju. Kenapa adikku harus pergi kesana! Ke tempat yang tidak jelas seperti itu!" Yuki marah. Dia marah saat mengetahui misi yang akan dijalani Inaho diputuskan tanpa sepengetahuannya. Mungkin hal itu juga yang menjadikan Inaho tidak mengatakan apa-apa padanya sedari awal.

"Sebagai sesama anggota United Forces of Earth dan Mustang Platoon. Aku harap kita bekerja sama dengan baik, Yuki-nee. Kami mengandalkan bantuan informasi dari headquarter."

"Nao-kun! Aku masih belum setuju! Bagaimana kalau berhenti saja sekarang, lalu menjadi warga sipil!"

"Jika perang terjadi lagi, warga sipil pun akan jadi korban, dan bumi akan berantakan lagi, Yuki-nee."

"Bumi luas kok! Kita tidak harus terlibat—"

"Karena mencegah perang terjadi, lebih mudah daripada menghentikannya. Benar?"

Yuki memeluk erat sang adik. Tidak rela untuk melepasnya. Benar-benar tidak rela. "Kau harus kembali dengan selamat. Harus."

Membalas pelukan, Inaho tersenyum simpul pada sang kakak. Hal yang jarang dilakukan kepada siapapun, "Kau harus belajar bangun lebih pagi, lalu membuat sarapan sendiri selama aku nanti pergi."

XoXo-XoXo-XoXo

Slaine pikir, dunia sudah damai. Tidak akan ada lagi peperangan.

Tidak akan ada lagi.

Tidak akan ada lagi yang mati karena perang.

"Mungkin akan ada pertempuran. Mungkin akan terjadi perang. Mungkin kami bisa selamat. Mungkin… aku akan mati, Slaine."

Jadi, saat mendengar Inaho mengucapkan kata itu dengan begitu lancar, Slaine masih merasa tidak dapat percaya. Slaine mengerti bagaimana perang dapat dimulai dengan begitu mudah, dan begitu sulit untuk diakhiri. Mencegah terkadang memerlukan pengorbanan; ada hal yang harus dikorbankan.

"M—mana boleh kau mati. Hanya aku yang boleh membunuhmu, Orange!" Slaine mengarahkan telunjuknya pada Inaho. "Hanya aku yang cukup hebat untuk membunuhmu…"

Tangan itu masih terkepal, berdiri di depan Inaho, kedua tangan itu berada dibahu Inaho, "Kenapa tidak mengikut sertakan aku saja? Aku cukup hebat dalam misi seperti itu. Aku berpengalaman!"

Inaho bangkit dari duduknya, masih dengan suara yang tenang. "Kau? Siapa kau? Slaine Troyard sudah tidak ada lagi, Bat."

Sebuah tinju nyaris menghantam rahang Inaho seandainya dia tidak menghindar dengan cepat. Selang beberapa detik, dengan segera kembali berhasil menahan tendangan yang dilancarkan oleh gadis di depannya dengan kedua tangannya.

Tidak menyerah dengan mudah, Slaine kembali melayangkan serangan dengan kepalan tangannya. Berhasil menangkap kepalan tangan, Inaho memelintir tangan Slaine ke belakang. Id card nya berada di leher Slaine. "Seandainya ini pistol, kau akan mati sekarang. Kau bukan lagi Ksatria Orbit."

Inaho melepaskannya setelah tidak ada perlawanan dari Slaine. Pemuda bersurai kehitaman itu kembali duduk, menghela napas seraya memasukkan kembali kartu id miliknya.

Slaine masih berdiri terdiam, lalu berbalik dan menatapnya nanar. Sejak kapan dia menjadi selemah ini?

"Maksudmu aku tidak bisa berbuat apa-apa? I—ini menyedihkan. Katakan pada Asseylum-sama, aku yakin dia akan mengizinkanku. Memakai identitas palsu pasti bisa—"

Gyut!

Kedua pipinya ditahan oleh kedua tangan Inaho. Kata-katanya terhenti karena perlakuan Inaho. Mata mulai berkaca dengan hidung yang memanas. Menahan beberapa rasa, termasuk amarah di dalamnya. Tiba-tiba terpikir, kenapa rasanya tidak ikhlas kalau sosok itu akan pergi begitu saja darinya. Terlebih lagi berkata kalau dia akan mati dengan begitu mudah.

Memegang kedua pipi Slaine dengan kedua tangannya dengan jarak sedekat ini—tanpa digampar— tidak pernah terbayangkan akan terjadi bahkan dalam mimpi Inaho. Tapi ternyata, dapat terjadi dalam kenyataan. Sekarang.

"Wajah ini… aku tidak pernah menyangka akan melihatnya menangis demi diriku." Inaho mendongak, netra merah itu menatap dengan serius sosok yang berdiri dihadapannya.

"Karena kau bilang—mungkin akan mati! Mana boleh mati sebelum aku! Sialan! Kau membuatku berada dalam keadaan seperti ini, seenaknya berkata untuk harus tetap hidup?! Aku tidak terima!" Tangan Slaine berada di bahu Inaho, mencengkramnya erat dan menatap sosok pemuda itu, sedikit menunduk untuk mempertemukan pandangan mereka. Menatap tajam, walau sambil menggigit bibirnya sendiri.

Dan dalam hitungan detik, jarak diantara keduanya hilang karena pergerakan dari Inaho yang mengalihkan tangan pada tengkuk sosok dihadapannya. Mendekatkan wajahnya. Mempertemukan bibir mereka. Mencium Slaine. Dalam.

Si pirang itu refleks mencengkram bahu baju Inaho. Hidung bersentuhan. Mata merah rubi dan iris biru kehijauan bertemu dari jarak yang sangat dekat, bias pantulan diri mereka terpancar dari bola mata satu sama lain. Hingga sekian detik berlalu menjadi menit.

Slaine mendaratkan dagunya dibahu Inaho. Bernapas dengan payah. Sejurus kemudian, melakukan hal tidak terduga.

Bite.

Menggigit leher samping orang di hadapannya. Melampiaskan rasa kesal—dan rasa lainnya.

Beberapa sekon waktu berlalu dengan slow motion, dunia terasa berputar bagi Slaine. Begitu tersadar, tubuhnya sudah mendarat di sofa. Di bawah Inaho, wajah berhadapan. Kedua tangan Inaho diantara sisi wajahnya. Posisi terancam.

"Aku belum ingin mati." Ucapan itu serius, melancar keluar dari bibir Inaho.

"Kalau begitu jangan mati…"

Inaho diam. Ekspresi wajah yang datar namun jarak diantara mereka kembali menghilang sedikit demi sedikit, membuat Slaine menahan napas.

"Tentunya aku tidak akan mati dengan mudah," suara Inaho tepat berbisik di telinga Slaine. Hembusan napas, nada husky menyentuh indra pendengaran. Membuat merinding. Iris kehijauan refleks menutup dengan rapat.

Poni yang menutup dahi Slaine disingkap oleh Inaho. Sebuah ciuman lembut mendarat disana. "Apa kau tidak ingin aku melakukan ini?"

Tangan Slaine bergerak menahan tubuh bagian atas Inaho agar tidak menindihnya. Mata melihat kearah lain. Ucapan lelaki itu membuatnya berdebar. Tidak menjawab.

"Aku tidak bisa berhenti lagi nanti jika aku melakukan lebih dari ini sekarang, jadi… apa kau tidak masalah?"

Di luar, hujan akhirnya turun dari awan yang mendung.

"Kau tahu, Asseylum memang memintaku untuk mengawasi dan menjagamu. Tapi, ingin membuatmu bahagia, itu kehendakku sendiri. Aku ingin kau tetap bahagia, bersama diriku maupun tanpa diriku. Kau tahu kenapa? Karena aku mencintaimu, entah sejak kapan."

You're so beautiful I'm in despair

Let's love one another like abandoned animals

You're so beautiful I want to cry

I want to feel you amidst the platonicin an upside down world

[Paradoxical Zoo - AKINO with Bless4]

XoXo-XoXo-XoXo

Slaine sudah membuka matanya sejak beberapa saat waktu berlalu, memperhatikan orang yang masih terpejam disebelahnya seraya berpikir tentang banyak hal. Misalnya, apakah dia sudah gila? Kenapa dia bisa menyukai orang ini? Bagaimana bisa mereka jadi begini? Mereka dalam satu selimut yang sama. Lelaki ini sudah memberikannya banyak hal, rasa yang menyenangkan. Kebebasan. Kesal. Kebahagiaan. Kesedihan. kehangatan.

Slaine merapatkan dirinya pada sosok yang memakai baju kaos putih itu. Mencoba mengingat aroma orang disampingnya. Merasa pergerakan, Inaho membuka mata merah rubinya. Saling berpandangan untuk beberapa saat, dengan rona merah masing-masing menghias wajah mereka mengingat apa yang telah terlalui sekian waktu yang dilewati bersama.

Ini mimpi deh kayaknya.

Tentu saja bukan. Mana bisa lupa tentang yang terjadi tadi malam—

"P—pertama kalinya aku melihat ekspresi wajahmu seperti ini—ow!"

Inaho tiba-tiba mendekapnya erat. Hidung Slaine membentur dada bidang Inaho, perempuan yang memakai kemeja besar soft blue—salah satu baju yang dibelikan Inaho dulu— itu ingin mendongak, namun pelukan dari Inaho semakin kuat. Membuat pergerakannya tertahan.

"Jangan lihat." Suara Inaho terdengar serak karena baru bangun. "Aku tidak menyangka akan melakukan hal seperti ini dan tidak menyesalinya. Kau marah?"

Dengan jelas Slaine bisa mendengar detak jantung sosok yang selalu tenang di hadapannya ini. Bagaimana ekspresi lelaki itu bisa tetap datar sedang jantungnya berdegup dengan cepat. Dasar cowok sialan—

Melepas pelukan seraya bangun dengan segera, sosok itu menduduki tubuh bagian atas Inaho. Menahan pergerakan sosok yang ditindih dengan berat tubuhnya. Helaian rambut panjang berwarna pirang terang yang berantakan nyaris mengenai wajah Inaho karena dia menunduk. Memberikan kesan wild dan sexy karena berada dalam posisi sedemikian rupa tanpa disadarinya. Ibu jari dan telunjuknya membentuk gestur menembak dengan pistol di pelipis Inaho. Mata bertemu mata.

"Aku sangat marah padamu."

Tapi tidak bisa membencimu.

"Aku akan merindukanmu…"

XoXo-XoXo-XoXo

Duduk di kursi dengan cemas, Yuki menatap ke arah pintu. Yang akhirnya terbuka setelah sekian lama oleh Inaho.

"Nao-kun! Dari mana saja kau? Kupikir terjadi sesuatu. Besok kau akan berangkat misi! Apa kau tidak memikirkannya? Demi tuhan! Kau tidak mengangkat telepon dan membalas pesanku. Dimana kau berada semalaman? Aku hampir mati karena cemas!" Rentetan ucapan Yuki memasuki telinga Inaho. "Meskipun aku tahu kau tidak akan melarikan dari misi sih, tapi setidaknya berikan aku kabar—"

"Aku meniduri seorang perempuan."

"Kau ini—kau apa?!" Yuki tidak mempercayai pendengarannya.

"Kau mendengarnya Yuki-nee."

Ini semacam joke dari Inaho, kan? Karena dia selalu menggoda Inaho dengan perkataan seperti itu. Tentang mengencani perempuan—tidur dengan perempuan—semacam itulah.

"Ini tidak lucu lho—"

Ekspresi Inaho masih sama. Adiknya itu tampak tidak sedang bercanda sama sekali; lagipula sejak kapan Inaho suka bercanda. Inaho dengan perlahan membuka kerah bajunya, menampakkan bekas gigitan di lehernya. Membuat sang kakak langsung menganga, terdiam tanpa suara. Yuki merasa oleng beberapa saat, mendaratkan tubuhnya di kursi dan memijit pelipisnya. Bergumam pelan, "Astaga… astaga… astaga—"

Yuki menarik napas perlahan, meminta penjelasan, "K—kau punya kekasih? Apa dia Inko? Atau Rayet?"

"Kekasih? Aku tidak tahu apakah aku bisa menyebutnya seperti itu. Dan apakah dia menganggapnya demikian." Inaho tersenyum tipis, membiarkan kerah bajunya berantakan.

"Nao-kun!" Bentak Yuki.

Astaga anak satu ini, apa dia tidak mengerti betapa cemasnya Yuki semenjak kemarin—dan betapa kagetnya dia sekarang.

"Aku mencintainya Yuki-nee. Tapi setelah ini aku tidak tahu apa yang akan terjadi saat aku pergi."

Inaho berjalan masuk menuju kamarnya, Yuki mengikutinya dengan penasaran. Inaho mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya. Sebuah foto gadis pirang tertangkap oleh indra penglihatan Yuki.

"Dia… Slaine Troyard. Tapi dia.. bukannya dia sudah… mati?"

"Aku mendapat tugas untuk mengawasinya, dia masih hidup dan ditahan."

'Pembohongan publik?'Yuki membatin seraya memperhatikan foto.

Meraih pulpen di meja, Inaho menuliskan alamat rumah itu. Menyerahkan foto gadis yang berjongkok sambil menatap bunga itu pada Yuki. "Kutitipkan dia padamu selama aku pergi, Yuki-nee."

Sebuah id card, dengan foto Yuki di sana. Seragam putih, berdasi biru, rambut hitam panjang tergerai.

Kaizuka Yuki

18041993250128

"Aku… akan mengemasi barang-barangku." Ujar Inaho lagi.

Karena Yuki adalah kakak perempuan Inaho. Satu-satunya yang bisa memahami ekspresi Inaho dengan begitu baik. Dia memeluk adiknya, mengusap surai kecoklatan itu. "Kamu akan pulang. Kami akan menunggumu."

XoXo-XoXo-XoXo

Pakaian mereka berdua—Inaho dan Rayet bukan seragam putih seperti biasa, kali ini memakai perlengkapan untuk berangkat menuju Moon Base. Seperti seragam astronot, walaupun tujuan mereka bukan untuk menancapkan bendera Jepang disana.

"I—Inaho! Sebenarnya aku… padamu…" Inko menatap kearah Inaho yang berjalan menuju hangar, menggenggam tangannya sendiri dengan erat. Inaho hanya tersenyum sambil mengelus rambut gadis yang merupakan teman masa kecilnya. Tidak menunggu perkataan selanjutnya terdengar olehnya. "Sampai jumpa lagi."

Mengikuti langkah Rayet yang menunggunya. "Begitu saja?"

"Mau apa? Bagiku cukup seperti itu saja." Sahut Inaho sambil membawa helm hitam milik-nya.

"Kita bertarung demi apa, Inaho?" Rayet mengarahkan Iris ungunya, "Ada sesuatu yang harus di jaga dan di lindungi bukan? Ada yang menunggu kita kembali." Matanya menatap kearah Calm, Inko, Nina, Yuki dan staff lain yang mengantarkan kepergian mereka.

"Jangan mati," Rayet meninju pelan dada Inaho. Kemudian tangannya terkepal ke arah Inaho.

Membalas kepalan tangan itu, dan mempertemukannya, Inaho mengangguk, "Kau juga."

Menatap kataphrakt KG-6 Sleipnir, Inaho menghela napas pelan, memasuki mecha yang sudah lama tidak terjamah. Melihat ke arah gantungan kunci berbentuk bintang yang dibawanya. "Ayo pergi, Orange..."

Our fortress going to interstellar space is our place of respite

We're hit with unease and tremble because we're on the line between life and death.

[Sidonia no Kishi—Angela]

M/P: Paradoxical Zoo - AKINO with Bless4, Sidonia no Kishi—Angela

XoXo-XoXo-XoXo

Dua bulan kemudian, UFE kehilangan kontak dengan pasukan misi di Moon Base.

XoXo-XoXo-XoXo

Miiro VII

XoXo-XoXo-XoXo

M/P: Lagrange Point – LagJuliet semua albumnya :D, Nebulas—Hoshi Dake ga shiru, lagu idol-idolan/? EXO, TVXQ.

A/N: Chapter depan adalah Last Chapter :)

Water City—Kalteng, 31/07/2016

-Kiriya-

Berkenan untuk review? :)