LEGENDA SIMBOL:

xxx : pembatas situasi (seperti biasa)

-x-x-x- : pembatas POV

|-x-x-x-|

Pacarku Superstar

By: Garis Miring—yeah, Remus Black dan Sirius Lupin.

BAB 6: MOGOK

Lagi-lagi akhir pekan ia habiskan seorang diri—kali ini tanpa sepupu kecilnya—dan anak dinamis seperti Remus paling anti diam di rumah jika ada waktu luang. Sebisa mungkin ia menyibukkan dirinya dengan kegiatan yang berguna. Namun kali ini nampaknya anak itu tidak bisa menemukan kesibukkan karena tidak adanya rekan sejawat yang biasa diajak bergembira bersama, yaitu James. Bocah atraktif berkacamata itu agaknya sudah memasukkan banyak nama Lily Evans dalam setiap agendanya dan menelantarkan Remus begitu saja—setidaknya itulah bahasa kasarnya.

Jadi di sinilah Remus, leyeh-leyeh di sofa ruang keluarga menonton acara yang merekomendasikan berbagai tempat wisata menarik di ibukota—yang sebagian besar telah ia kunjungi bersama James—dan itu membuatnya bosan. Akhirnya lima belas menit kemudian ia memutuskan untuk mematikan tivi dan mengambil buku direktori wisata kota. Ia melemparnya secara sembarangan—hampir mengenai guci antik Vietnam kesayangan mamanya—dan terbukalah satu halaman.

Remus mendekati benda itu dan menggumam kepada halaman yang terbuka tadi, "kayaknya seru juga ke sini sendirian, sekalian ngetes mobil baru keluar dari bengkel." Dan keputusan sudah bulat, akhir pekan ini ia akan berjalan-jalan sore sendirian. Setelah berbenah diri ia pun berjalan menuju garasi, tak lupa sebelumnya berpamitan kepada ibunda supaya selamat di jalan.

Seperti lirik lagu Lemon Tree, di Minggu siang yang hujan ia hanya menjalankan mobilnya entah kemana dan saat macet ia melihat sekeliling dan hanya terdapat pepohonan, tak ada orang yang menemaninya dalam kesendirian ini. Baru kemarin sepertinya James mengajaknya bersenang-senang dan rasanya baru kemarin juga sahabatnya itu tiba-tiba membatalkan janjinya.

Deretan pepohonan telah hilang digantikan pemandangan jalan bebas hambatan. Rasanya sebentar lagi ia sampai tujuan ketika tiba-tiba ia merasa ada yang tidak beres dengan mobilnya. Maka ia memutuskan untuk merapat ke bahu jalan. Dan benar saja, sungguh mengherankan mengingat mobil ini baru saja keluar bengkel.

Kalau sudah begini biasanya James dapat memberikan solusi, hanya saja saat ini rupanya anak tersebut tidak diketahui keberadaaannya. Lalu Remus memutuskan untuk mencoba meneleponnya. Sambil menunggu nada sambung yang monoton itu, Remus mengerling sekali lagi ke arah kap mobilnya yang terbuka sambil menghela napas menderita.

Telepon diangkat oleh James, "halo? Siapa di sana?!"

"Heh, Remus di sini, emangnya nomer gue ilang dari kontak lo?"

"Oh, Ramses my combro," balas James, "kenapa, Rem?—sori tadi gak liat layar, gak tau siapa yang nelfon."

"Gitu?" kata Remus setengah heran, "gue lagi—anjrit, lo lagi di mana sih berisik benget!"

"Sori, apaan?—gak kedengeran lo ngomong! Gue lagi di konsernya Rihanna! Sumpah berisik abis, Rem," seru James susah payah di antara hentakan hingar-bingar, "kalo ada perlu SMS gue aja, ya! Oke oke siyu leter!"

Tuut.

"Bencong, ke konser gak ngajak-ngajak gue," Remus menggerutu habis-habisan, kini ia hanya berdua saja dengan mesin mati. Kepada siapa lagi ia harus minta tolong? Tiba-tiba ada satu nama terlintas di kepalanya.

Sirius, gue ganggu lo gak?

Jarinya bergerak begitu saja menekan tombol 'kirim'. Barulah sepersekian menit kemudian ia menyadari apa yang baru saja diperbuatnya.

"LOH NGAPAIN GUE ESEMES DIA?!"

Teriakan paniknya seketika hilang digantikan eskpresi tegang saat telepon genggamnya berbunyi dan menampilkan nama Sirius di layarnya. Sambil menelan ludah, ia mengucap kata standar yang digunakan untuk menyapa orang di seberang telepon,

"HALO?!"

Ia juga tak tahu kenapa harus berteriak.

"Lo kenapa, Rem? Teriak-teriak gitu—eh sori manggil pake 'Rem', sok akrab bener gue," tanggap Sirius di seberang telepon.

"Oh maap sebelumnya, lo kaget, ya?" kata Remus setengah gugup, "engg, iya nih, lo lagi sibuk gak?"

"Nggak juga, sih. Emang kenapa?"

"Ini—anu gue lagi... ehh," Remus menggumam tak jelas untuk memikirkan kalimat apa yang kira-kira pantas untuk dijadikan permohonan minta tolong, "Sirius, kayaknya gue mau minta tolong sama lo buat jemput gue."

"Elah, kirain ada apaan?" ujar Sirius pendek, "yaudah, lo lagi di mana?"

"Eh, bentar deh—lo nggak lagi di konsernya Rihanna, 'kan?"

"Enggak laah, ngapain juga, ntar gue benyek kena senggolan anak-anak gaul yang lagi joget," serunya sambil tertawa kecil, "emang kenapa? Lo mau ke sana? Gue ada tuh free-pass bejibun abis di rumah gue, dari produser, dari temen, dari kenalan artis—EH jadi gak nyambung. Oke gini aja deh, lo lagi kenapa sih?"

"Jadi gini, gue lagi terdampar di antah berantah jalan bebas hambatan dengan mesin mobil gue yang lagi rusak," ceritanya menderita, "gue gak bisa ngapa-ngapain nih kayaknya—sohib gue si kacamata lagi ke konsernya Jamiroquai dukjedakjedukk—nah, makanya..."

"Oh gitu," kata Sirius menanggapi dari seberang, "sip deh, gue ke tempat lo sekarang ya. Yiuk mari."

"Eh, Sirius."

"Kenapa lagi?"

"Emangnya gue udah bilang gue di mana?"

"Oh iya," katanya, "di fanfiction semuanya jadi mungkin, bisa aja gue tiba-tiba di sebelah lo—"

"Sumpah gak ngerti gue lo ngomong apaan," potong Remus tak sabaran, "posisi gue sekarang di Jalantinggi Lingkarluar."

"Hmm, situ... oke, tunggu yah. Bye"

"Dag."

Satu menit yang menyenangkan, setidaknya itu pikir Remus. Dan rupanya itu cukup untuk membuatnya mengatasi rasa bosan selama kurang lebih setengah jam menunggu Sirius. Dari kejauhan, datanglah mobil yang sudah pernah dikenalnya waktu dulu, itu mobil Sirius.

"Wasap?" seru Sirius dari dalam kaca mobil dan menurunkannya.

"Apa sih lo—cepet juga datengnya," kata Remus sambil bertolak pinggang berbalik ke arah mobilnya yang rusak.

"Kan gue pake NOS biar ngebut," ujarnya asal, "nggak lah gue ngasal—eh, sebenernya gue rada telat kalik, tadi gue ke Circle K bentar beli macem-macem, liat jok belakang gue deh."

Remus menurut dan mengintip ke tempat yang tadi disebutkan, dan ia menjadi sangat takjub dibuatnya: begitu banyak kantong cemilan yang ditaruh di situ.

"Aneh lo, ini semua buat apa cobak?!" tanya Remus keheranan sambil mendecak, dalam hati rupanya ia berkeinginan untuk meminta salah satu dari makanan itu.

"Buat kamu lah—eh, maksud gue, buat elo," jawab Sirius simpel, "hari ini rencananya kita mau jalan bareng 'kan?"

Remus kini menghadap Sirius yang masih termangu di belakang setir, "oh, begitu?"

"Maksud gueeee, melihat keadaan lo yang sekarang, kayaknya percuma lo balik ke rumah—gue juga males nganter lo gitu.. haha—jadi, gimana kalo lo jalan sama gue aja seharian ini?"

Remus menaikkan alisnya, dalam hati menertawakan tingkah si Sirius di depannya, kenapa ia seenaknya saja beranalisa seperti itu? Meskipun dalam hati tentu saja Remus tidak akan menolak ajakannya.

"Terus apa hubungannya sama lo beli makanan sebanyak ini?"

"YA BUAT DIMAKAN LAH!" ujar Sirius sarkas sambil menggerakkan kepala layaknya ABG ngamuk, "gue lagi males jajan-jajan di luar."

"Loh ini kan namanya jajan—"

"Udah, gini aja, sekarang kita mau ngapain mobil lo nih?" potong Sirius tak sabaran, nampaknya ini satu-satunya cara untuk menghentikan Remus membahas perihal makanan lebih lanjut.

"Manggil derek kayaknya," ujar Remus. Seketika itu juga ia menyadari satu lagi kebodohannya. Kenapa juga ia harus memanggil Sirius? Mestinya dari tadi ia sudah selamat sampai rumah hanya dengan menelpon jasa derek. Sungguh aneh.

xxx

CATATAN PENGARANG:

FYI, sebenernya fanfic ini udah selesai dari 2 November 2008. Cuma kita lupa ngepos, hahahaha, maafkan kebodohan kami. Dan tenang saja, kami sedang dalam tahap pengerjaan BAB 7!