Chapter 6

Desclamier : Naruto punya paman Masashi Kisimoto

Pairing : SasuHina slight GaaHina dan temukan sendiri

Warning : OOC, AU,typo (always) dll

Dont like, dont read

.

.

.

-Butuh semenit saja untuk jatuh cinta pada seseorang. Sejam untuk benar-benar menyukainya, dan sehari untuk mencintainya. Namun butuh seumur hidup untuk melupakannya- (Hinata)

Ruangan serbaguna yang terletak di kawasan elit itu kini penuh dengan berbagai macam item seperti kursi, meja, lampu hingga bunga asli maupun bunga hiasan yang terpajang rapi. Semua karyawan Konoha Coorporation bekerja keras untuk mempersiapkan acara megah ini. Awalnya mereka semua mengira ini akan menjadi acara paling mewah seantero Jepang mengingat mereka mendapatkan perintah bahwa acara ini merupakan acara pernikahan putra tunggal pemegang saham terbesar di Jepang, namun ternyata mereka salah dugaan. Acara megah ini masih acara pertunangan saja. Mendengar hal itu kontan saja semua pegawai melongo, pertunangan saja bisa semewah ini bagaimana dengan pernikahannya nanti?

Ino sibuk meneliti kertas berisi susunan acara pertunangan putra tunggal dari anak pemegang saham terbesar di kantornya—Gaara di tangannya. T-shirt berwarna hitam fit body yang dipakainya hari ini memperlihatkan lekuk tubuhnya yang memang pas debut sebagai model. Apalagi rambut pirangnya yang dikuncir kuda, semakin membuatnya terlihat cantik. Tidak ada laki-laki yang bisa lepas dari pesonanya termasuk Naruto.

"Tes..tes..tes… 123 tes" Ino mencoba menghubungi beberapa bawahannya menggunakan walkie talkie

"Hai Ino-senpai" Salah seorang bawahannya menjawab

"Bagaimana mengenai dekorasi, apakah sudah siap semuanya? Acara akan digelar besok. Aku tidak ingin mereka kecewa dengan teamwork kita" Ucap Ino tegas

"Tinggal pemasangan lampu senpai. Semuanya sudah kami kerjakan dengan baik"

"Hmhm… ganbatte ne!" Ino memberikan semangat kepada anggota timnya

Setelah memutus percakapannya, Ino kembali meneliti kertas yang dibawanya kemudian melirik jam tangannya lagi. Hari masih siang, sekitar pukul 11.00. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum bisa ia selesaikan. Entah mengapa hari ini ia merasa ada yang kurang, ia merasa belum siap menghadapi acara akbar besok mengingat ia adalah penanggungjawab acara untuk besok secara keseluruhan. Apakah ini efek karena tidak ada Hinata di dekatnya? Beberapa hari kebelakang ini memang menjadi hari yang rumit untuk dirinya dan Hinata. Dulu…dulu sekali, hidup mereka tenang-tenang saja. Semua berubah ketika kejadian buruk itu menimpa Hinata. Sejak kejadian buruk itu, mereka berdua berjuang untuk menghadapi semuanya berdua. Dimulai dari Hinata yang mengandung namun belum bisa menerima kenyataan yang menyebabkan Ino harus terus menerus berada disisi Hinata agar gadis mungil itu tidak melakukan hal-hal yang bisa membuatnya dan calon anaknya itu celaka.

Masih segar juga diingatan Ino ketika melihat bulir-bulir air mata mengalir di wajah sendu milik okaasan Hinata ketika mendengar bahwa putri kesayangannya mengalami kejadian yang menyakitkan. Bagaimana merahnya pipi Hinata ketika mendapat tamparan keras dari tousannya dan bagaimana hangatnya pelukan Hanabi merangkul rapuhnya Hinata. Ino pernah berdoa kepada Kami Sama mengapa ia tidak dilahirkan menjadi laki-laki saja agar ia bisa meringankan penderitaan Hinata.

Tapi… seberat apapun masalahnya, Kami sama selalu memberikan jawaban atas masalah-masalah yang kita hadapi bukan? Karena setiap masalah akan selalu satu paket dengan penyelesaiannya bukan? Semuanya hanya tergantung seberapa besar kekuatan kita, sebesar apapun kesabaran kita untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah itu.

Hal ini juga berlaku dengan Hinata. Ia bertahan. Walaupun harus tertatih-tatih ia bertahan. Ia berjuang. Dan setelah ia lulus dari perjuangan itu, setelah ia lulus dari penderitaan itu, setelah ia rela dan mengiklaskan semuanya, setelah ia berusaha mati-matian untuk melupakan kejadian itu, melupakan actor utama penyebab semua lubang-lubang kesakitan di hatinya mengapa waktu justru memutarbalikkan semuanya? Mengapa Kami Sama harus menguji Hinata lagi? Mengapa?

Ino ingin pulang. Ingin melihat kondisi Hinata pasca gadis itu bertemu lagi dengan Sasori. Kemarin Hinata mengurung diri seharian di kamar. Ia tidak ingin makan atau minum apapun dan itu sangat membuat Ino cemas. Tapi lagi-lagi, demi sebuah pekerjaan yang menuntutnya untuk profesional ia harus mengabaikan Hinata.

Sebuah tepukan di pundaknya membuat Ino terperanjat,

"GAARA-kun!" Ino memekik kaget ketika mengetahui siapa yang mengagetkannya.

Lelaki yang memiliki tato bertuliskan kanji ai di keningnya itu menampilkan cengiran hingga deretan gigi putihya tampak jelas.

"Mengapa kau ada disini? Bukankah kau masih kuliah setahun lagi?" Kening Ino berkerut.

"Aku bekerja di perusahaan ini mulai dari hari ini. Dan senpai harusnya bangga bahwa aku akan bekerja di divisi mu, jadi kau tidak akan kerepotan lagi kan" Gaara menyombongkan dirinya. Sedangkan mata Ino berbinar. Mendapatkan tim sepintar Gaara di divisinya tentu seperti mendapatkan durian runtuh. Siapa yang tidak mengenal juniornya itu? Pemuda bersuarai merah itu memang sejak kuliah sudah diakui kemampuannya. Pemuda dengan tubuh yang proporsional, wajah yang rupawan, senyum yang manis bahkan IQ yang tinggi tentu saja menjadi nilai plus bagi Gaara. Banyak cewek-cewek cantik rela antre untuk bisa menjadi kekasihnya. Dengan IQ yang tinggi tentu mudah bagi Gaar untuk menamatkan pendidikannya bahkan sebelum waktunya.

"Aku tidak melihat Hinata oneechan daritadi?" Tanya Gaara mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan untuk mencari gadis bersurai ungu itu.

"Hinata tidak masuk, ia sedang tidak enak badan" Ucap Ino

Senyum di bibirnya sedikit luntur, "Padahal aku ingin memberikannya kejutan"

"Bagaimana kalau hari ini aku traktir sebagai ucapan selamat datang,hm?" Ino merangkul pundak Gaara sambil berjinjit mengingat kepala Ino hanya sepundak Gaara.

Gaara hanya membalas dengan anggukan kepala. Mereka kemudian berjalan menuju restoran terdekat untuk mengisi perut mereka yang kebetulan memang sudah minta untuk diisi.

"Padahal aku kesini hanya ingin bertemu denganmu, Hinata" Ucap Gaara sambil tertunduk lesu

Hinata menyapukan blush on berwarna pink di pipi pucatnya dengan menggunakan brush. Ino sudah mengingatkannya bahwa ia tak perlu datang ke acara pertunangan itu. Ino juga meyakinkan Hinata bahwa pekerjaannya akan dihandle oleh karyawan baru. Hinata tau, bahwa Ino sangat mengkhawatirkan dirinya, Ino yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu pasti akan sedih jika melihat Hinata kembali menjadi sosok yang rapuh seperti dulu. Seberapapun kerasnya ia bangkit akibat keterpurukan di masa lalu namun masa lalu tetap akan menjadi hal yang terus diingat kan? Karena kesalahan di masa lalu membuat kita belajar untuk tidak mengulangnya lagi di masa depan.

Hinata mengoleskan lip cream berwarna pink di bibir mungilnya. Ia melihat pantulan dirinya sekali lagi di cermin. make up minimalis memang cocok diaplikasikan ke wajahnya. Dengan balutan dress berwarna putih dengan aksen hitam dengan lengan pendek semakin membuatnya terlihat manis. Tidak lupa juga rambut violetnya yang di ikat tinggi. Hinata mengambil name tag gantung di atas lemarinya kemudian ia gunakan.

"Apa kau yakin ingin ikut ke acara pertunangan Sasori, Hinata?" Tanya Ino dari balik pintu kamar Hinata. ia bersender di dinding berwarna putih itu. Ino menggunakan dress dengan warna dan aksen yang sama dengan Hinata namun miliknya tanpa lengan. Make up yang disapukan di wajah Ino sangat pas. Wajah tirusnya semakin membuat ia bersinar dan elegan. Jangan lupa rambut pirangnya yang disanggul membuat leher putihnya semakin terekspos.

Hinata hanya mengangguk sambil menggunakan wedgesnya.

"Kau jangan khawatir Ino-chan. Aku sudah mengiklaskan semua yang terjadi pada hidupku. Aku ingin menunjukkan kepada Sasori bahwa Hinatanya yang dulu telah mati. Aku Hinata yang baru. Hinata yang kuat. Bukankah balas dendam yang paling manis itu ketika melihat orang yang menyakitimu bisa melihat dengan jelas orang yang disakiti berubah menjadi lebih kuat dari sebelumnya kan?"

Ino mengulum senyumnya kemudian memeluk Hinata, "Aku percaya padamu Hinata"

Dan mereka pun berjalan menuju basement.

Suasana pesta pertunangan begitu meriah, terlihat jelas bahwa pesta yang diadakan ini merupakan pesta orang terpenting di Jepang. Berbagai macam makanan dan minuman sangat berlimpah. Para undangan bebas untuk menikmati semuanya tanpa harus takut kehabisan. Piring untuk makanan yang tertata di meja tidak dibiarkan untuk habis. Para undangan yang masuk pun tidak sembarangan. Mereka yang masuk harus menyerahkan kartu undangan yang mereka dapat kepada petugas keamanan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Hinata melirik arloji di tangan kanannya, ia harap-harap cemas. Handphonenya dari tadi juga tidak mengeluarkan suara panggilan masuk. Ia berjalan mondar-mandir. Sasuke bersama teman-temannya belum juga datang padahal acara live musik yang akan mengiring penyematan cincin akan berlangsung sebentar lagi.

Hinata hendak mendial nomor Sasuke namun sang pemilik nomor tiba-tiba muncul,

"Kalian darimana saja?" Tanya Hinata khawatir saat melihat Sasuke dan rekan-rekannya baru muncul.

Sasuke berjalan kearah Hinata. Hinata sempat menahan nafasnya beberapa detik. Texudo putih yang digunakan Sasuke malam ini semakin membuatnya terlihat tampan. Apalagi tindikan di telinganya. Sambil mengunyah permen karet, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. "Kau merindukanku Hinata, hm?"

Hinata tergagap, "Ti-ti-dak… siapa bilang aku mengkhawatirkan mu? Aku mengkhawatirkan semuanya. Acara akan mulai beberapa saat lagi tapi kalian belum siap-siap juga" Hinata memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin Sasuke melihat wajahnya yang merah.

Sasuke menepuk puncak kepala Hinata kemudian mengelusnya, "Kalau begitu kami akan bersiap-siap sekarang" Ucap Sasuke kemudian pergi meninggalkan Hinata yang mematung.

"Ganbatte ne Hinata" Ucap Naruto, Said an Shikamaru sambil berlalu mengikuti leader mereka.

Hanya diusap rambutnya oleh Sasuke mengapa jantung Hinata jadi berdegub kencang? Padahal Ino juga sering melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Sasuke terhadapnya. Namun saat Ino yang melakukan mengapa perasaannya biasa-biasa saja?

Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan Sasuke di kepala.

"Hinata oneechan?"

"Gaara-kun!" Pekik Hinata kemudian memeluk Gaara dengan keras hingga Gaara harus mundur beberapa langkah

"Jadi yang disebut orang baru oleh Ino adalah kau, gaara?" Tanya Hinata setelah melepas pelukannya

"Bagaimana? Aku hebat kan?" Gaara mengusap hidungnya yang mancung

"Kau semakin bertambah tinggi saja" Hinata tersenyum melihat pemuda bersurai merah yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri akan menjadi satu tim dengannya. Bekerja dengan orang-orang yang disayangi memang membawa perasaan yang bahagia buat Hinata.

"Bagaimana kalau kita sambil jalan-jalan, Hinata onnechan?" Bujuk Gaara

Hinata meninju perut Gaara pelan, " Sudah kubilang kau jangan memanggilku dengan aksen oneechan, aku tidak suka. Aku merasa sangat tua ketika kau memanggilku dengan nada seperti itu" Hinata merajuk

Gaara tertawa dengan kerasnya hingga merasakan perutnya kram. Inilah salah satu alasannya mengapa Gaara ingin sekali cepat-cepat lulus dari kuliahnya, yaitu ingin bertemu dan dekat lagi dengan Hinata. Dulu, waktu mereka masih satu kampus dan satu jurusan yang sama, Gaara selalu berada di dekat Hinata. Semua kegiatan yang dilakukannya pasti ada Hinata disampingnya, ya kecuali belajar di kelas karena kelas mereka berbeda. Gaara satu tingkat dibawah Hinata

Hinata selalu bisa membuat Gaara menjadi nyaman. Senyum Hinata selalu bisa membuat ia bersemangat lagi. Bahkan mata indah Hinata selalu menjadi hal yang paling ia rindukan. Hinata bisa memberikan tempat ternyaman buat Gaara. Masakan Hinata membuat berat badan Gaara naik. Gaara bukanlah tipe orang yang tidak bisa bersahabat. Teman-teman Gaara banyak, bahkan dari luar jurusanpun banyak. Tapi dari semuanya hanya Hinata yang bisa membuatnya tidak bisa berpaling. Mungkin dulu ia sering dicap sebagai playboy kampus yang sering gonta-ganti wanita. Namun sejak bertemu dengan Hinata, semuanya berubah.

"Gaara-kun?" Panggil Hinata sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah Gaara.

"Ya… Hinata?"

"Kau melamun?" Tanya Hinata sambil cekikian

Gaara hanya mengangguk.

"Kau memikirkan apa?" Tanya Hinata lagi. Senyum diwajah Hinata membuat Gaara blushing

"Memikirkan tentang pertemuan kita di kampus dulu" Ucap Gaara sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal

"Kau tidak memikirkan hal yang aneh-anehkan tentang ku?" Hinata memicingkan matanya

Gaara tertawa lagi, kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga Hinata, "Rahasia"

"GAARA-Kun!" teriak Hinata sambil mengejar Gaara yang sudah jalan mendahuluinya.

Tanpa mereka ketahui, dari seberang sana seorang pemuda bersurai raven melihat interaksi antara Gaara dan Hinata. Onyxnya diliputi cemburu dan rasa cemas.

Hinata berdiri di dekat dinding koridor yang memisahkan panggung utama dengan belakang panggung. Dari tempatnya ia berdiri, ia melihat Sasori sedang menyematkan cincin berwarna perak di jari manis milik Canon. Hinata tidak cemburu, sama sekali tidak. Baginya, cintanya yang pernah ia berikan kepada Sasori dengan sepenuh hati itu sudah hilang, sudah mati saat Sasori pergi meninggalkannya tanpa rasa pertanggungjawaban sedikit pun. Dari tempatnya berdiri, ia hanya menyesal pernah percaya kepada Sasori. Pernah menyayanginya dengan sepenuh hati. Ia menyesal, ternyata air susu yang ia berikan kepada pemuda berwajah baby face itu malah membalasnya dengan air tuba.

Penglihatan Hinata tiba-tiba hitam. Seseorang telah menutup matanya.

"Kau tidak perlu melihat pemandangan menyedihkan itu, Hinata" Suara baritone di belakang Hinata berbisik ke telinganya. Tangan kekar milik pemuda itu kemudian membalikkan tubuh Hinata hingga kepala Hinata berada di dadanya.

"Sa-su-ke?" Hinata mengadah dan mendapati Sasuke telah memeluknya.

"Lepaskan aku Sasuke" Pinta Hinata

"Tunggu hingga ritual membosankan ini berakhir"

Hinata tidak memaksa Sasuke untuk melepaskannya lagi. Hinata lebih banyak diam, namun sesekali ia diam-diam mengadah untuk melihat dagu Sasuke yang begitu runcing itu. Hinata juga tidak meminta Sasuke untuk melepaskan tangannya yang berada di pinggul Hinata. Mereka berdiri dalam diam. Aroma musk dan peppermint yang menguar dari tubuh Sasuke mulai familiar dihidung Hinata. Hinata ingin membalas pelukan Sasuke, namun ia urungkan lagi niatnya itu. Mengapa pelukan Sasuke begitu nyaman buat Hinata?

Hinata langsung melepaskan pelukan Sasuke. ia tidak ingin debaran jantungnya di dengar oleh Sasuke.

"Mengapa kau tidak ikut bernyanyi dengan grup bandmu Sasuke?" Tanya Hinata sambil melipatkan tangannya di depan dada. Hinata berhak memahari Sasuke karena sebelum acara ini berakhir, Hinata masih bertugas sebagai manajer band Sasuke.

"Aku sudah menyuruh Naruto untuk menggantikan tugasku. Lagian aku tidak suka dikeramaian seperti ini. Kepalaku langsung pusing" Ucapnya sambil memegang kepalanya

"Daijoubu?" Hinata mendekat ke arah Sasuke. Sasuke tetaplah artis yang harus ia jaga.

"Ikut aku ke ruang kesehatan sekarang" Hinata berjalan sambil memegang tangan Sasuke. Hinata jelas panik jika salah satu artisnya sakit.

Tanpa Hinata tahu, Sasuke yang berjalan di belakang Hinata tersenyum tipis.

"Minumlah obat ini… aku yakin obat ini bisa menyembuhkan sakit kepalamu" Ucap Hinata sambil menyerahkan sebotol air mineral dan sebutir obat kepada Sasuke yang sedang rebahan di kasur. Ia duduk di kursi samping kasur Sasuke

"Hm… arigatou" Ucap Sasuke kemudian meminum sebotol air yang diberikan Hinata tadi hingga tandas setengahnya

"Mengapa obatnya tidak kau minum?" Tanya Hinata lagi

"Aku tidak suka minum obat. Lagian hanya dengan melihat wajahmu saja, sudah membuatku sembuh"

Lagi-lagi Sasuke membuat wajah pucat Hinata memerah. Entah sudah berapa kali Sasuke sukses membuat Hinata salah tingkah.

"Kalau kau sudah sembuh, bukankah sebaiknya kau kembali saja kepanggung? Kau menelantarkan tugasmu Sasuke" Hinata hendak bangun dari tempat duduknya namun tangan Sasuke menariknya.

"Mulai saat ini… jangan pernah dekat dengan laki-lain lain selain aku" Sasuke berdesis. Rahangnya mengeras mengingat Hinata yang tertawa bahagia tadi bersama pemuda yang tidak ia kenal.

"Maksudmu apa Sasuke?" Tanya Hinata tidak mengerti.

Sasuke menarik Hinata. Bibirnya mencium paksa bibir Hinata.

"Hmmmmphhh… Sasuke….hmmmmphhh….lepaskan aku!" Hinata mencoba mendorong Sasuke, namun tenaganya tidak cukup kuat bila disandingkn dengan tenaga milik Sasuke

"Kau milikku Hinata…" Ciuman Sasuke begitu brutal. Ia cemburu. Ia marah. ia tidak ingin Hinata dekat dengan lelaki lain selain dia. Ia tidak ingin Hinata tersakiti lagi. Dan melihat Hinata tertawa bahagia, melihat Hinata memberikan senyum manis kepada pemuda lain membuat darahnya mendidih. Ia marah, ia kecewa kepada dirinya sendiri bahwa sampai saat ini senyum dan tawa yang terukir di bibir Hinata bukan disebabkan olehnya.

"KAUUUUUUU!"

BUGHHHH….

Sasuke jatuh dari ranjang.

"KAAAUUU…. BERANI-BERANI KAU MENCIUM HINATA, HAAAAHH!" Gaara memukul wajah mulus Sasuke. Darah keluar dari ujung bibir Sasuke. Gaara meninju dengan brutal wajah Sasuke.

"Gaaraa… cukup! Hentikan!" Teriak Hinata sambil menangis

Gaara menghentikan aksinya ketika melihat mata Hinata berair.

"Ayo kita pulang, Hinata" Gaara menarik tangan Hinata.

Hinata syok. Ia menurut ketika Gaara menarik tangannya keluar dari ruang kesehatan itu. Sasuke melihat mata Hinata yang sarat akan kekecewaan terhadap dirinya menatapnya sebelum menghilang dari balik pintu.

Sasuke seperti dipukul dengan gada tepat di dadanya. Ia mematung. Bahkan perihnya luka diwajahnya tidak seperih ketika melihat Hinata kecewa terhadapnya. Ia mengacak-ngacak rambut rambutnya. Seharusnya tadi ia tidak lepas control. Seharusnya tadi ia tidak marah kepada Hinata. Seharusnya ia tidak mencium Hinata dengan kasar. Seharusnya… seharusnya…. Padahal ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri, kepada Naruto dan kepada Ino untuk menjaga Hinata. Berjanji agar air mata kesedihan tidak lagi membasahi pipi Hinata. Ia berjanji namun ia juga yang mengingkarinya.

TBC

Akhirnya berondong kita muncul jugaa yaaah (read:Gaara). Aku ingin menggambarkan karakter Gaara disini itu orang yang sleengek-an tapi bisa jadi serius jika berhubungan dengan Hinata. Semoga feelnya Gaara bisa kalian terima yaaa… *berdoa

Maapkeun aku yang update lama, terus pas update bawa cerita dengan alur yang masih lambat kayak gini… ya walaupun konflik udah mulai ada yaa….

Tunggu chapter selanjutnyaa… oya jangan bosan-bosan buat kasi review kalian buat cerita ini.. komen apa aja aku terima kok. Dan mohon maaf banget aku gak bisa balas koment kalian yaa… walaupun aku gak balas tapi aku tetap baca kok koment kalian. Makasih banget yang udah ngasih bintang buat cerita ini, yang masih sempet2nya buat baca cerita gak jelas dari aku ini.. makasih banyak yaaa *kisskiss

Oyaaa… mampir ke cerita SasuHina ku yang lain yukk… judulnya I Need You. Tapi ceritanya berkonten dewasa, jadi buat kalian yang belum cukup umur jangan macem2 yaahhh… dosa gak ditanggung looo…. Wkwkwkkw

Buat para silent reader, ayo dong tunjukkan wajah kalian ke aku, kasih koment, kasih bintang jugaa yaaa…

Sekali lagi, makasih dan maaf jika cerita ini gak sesuai ekpektasi kalian.

Salam Hangat,

Ryeonae/Ilaasasuhinachan