Hy minna~
Hanya karena kemarin Shera nggak ngasih konflik di ending part, bukan berarti Fict ini udah kurang greget lho~
masih baaaaaaaaanyak rintangan yang harus dilewati pasangan SasuSaku ini.
Hm.. kayaknya banyak ya yg nge-request sasuke untuk baca reviews, tapi Shera khawatir kalau dia nggak mau.
Jadi Sakura akan hadir jga buat menemaninya..
Sakura : hy, semua~ di sini Haruno Sakura akan membalas reviews kalian lagi.
Nah karena banyak pertanyaan yang muncul, mulai di part depan kami akan membuka kolom 'ASK QUESTIONS', kami akan jawab pertanyaan dari kalian seputar Fict ini. Bagi yang mau bertanya, reviews aja ok?
Sasuke-kun jangan diam saja!
Sasuke : oh, hy. *angkat sebelah tangan*
~Balasan Reviews~
Kiyora Yamazaki,
Sakura : wuah, mungkin km bisa berteman baik dengan Author-san kalau begitu~
Sasuke : apa yang menarik dari kpop? cih..
Princess Cherry Blossom,
Sakura : le...lemon? engh~ *cari di dalam script*
Sasuke : Sabar saja, baka Shera itu mengatakan masih ada dua part lagi yang harus di-take sebelum lemon muncuh *sigh*
Minri,
Sakura : arigatou untuk reviewnya.. :)
Sasuke : hm
Reako Mizuumi,
Sasuke : hm, thx. *blushing*
Sakura : ha ha, itu nggak mungkin kan kalau Itachi-nii tiba-tiba ada 'love line' sama Sasori-kun? O.O
sudoer arekndablekputrakeramat,
Sasuke : namamu kurang panjang! *tangan keriting buat nulis*
Sakura : Sasuek-kun! *jitak* Ah, mengenai kemiripan, memang sebenarnya nggak mirip, tapi dalam cerita dibuat mirip~ Gomen kalau kesannya terlalu dipaksakan~
Dan mengenai kisah di part 5 ini, sebenarnya hanya untuk menunjukkan kalau Sasuke-kun sudah mulai menerima perasaanku. :O
hanazono yuri,
Sakura : Ah.. le..lebih romantis? *Sakura blushing*
Sasuke : akan kupertimbangkan. *dzig*
Zanah pinkyblue,
Sakura : apakah ceritanya berubah? Atau mungkin sifat para karakternya saja yang terlihat sedikit berubah.
Sasuke : hn...
Sohnkywoonie,
Sakura : usulmu diterima, arigatou. :) Tapi sebenarnya... kami kurang paham dengan penjelasanmu. *toeng?*
Ah,...aku aku... aku nembak Sasuke itu bukan tiba-tiba kok. *Blushing*
Sasuke : lemon? tunggu dua part lagi. *sigh*
Eysha Cherry Blossom,
Sakura : arigatou atas pujiannya. :) Sasuke-kun!
Sasuke : hn? *stoic*
Hikari Matsushita,
Sakura : arigatou untuk reviewnya... :)
Sasuke : hn.
Sya Sabaku,
Sakura : Sasuke-kun, apa kau mengatakanya karena kasihan padaku? *lirik*
Sasuke : menurutmu? *palingin muka, blushing*
Hanna Hoshiko,
Sakura : ha ha ha, tak semengerikan itu kok. Arigatou untuk review-nya. :)
Sasuke : hn.
Qren,
Sakura : yap, arigatou untuk review-nya. :)
Sasuke: hn.
Jeremy Liaz Toner,
Sakura : kya~ aku juga maunya berakhir sama Sasuke-kun.
Sasuke : *sweat drop*
Natsumo Kagerou,
Sakura : Arigatou, review-mu akan disampaikan kepada Author. :) Sasuke-kun, semua meragukan perasaanmu padaku. *lirik*
Sasuke : Cih, lihat saja.
Harulisnachan,
Sakura : Menurut Author, salah satu pengunjung villa memberitahunya. Ah, mungkin saja Author telah tertipu.
Syukurlah Saso-kun, mereka senang kau yang membalas reviews-nya~ *puk puk Saso*
Sasuke : Hm... *palingin muka*
Uchiha ratih,
Sakura : Shion dekat denganku katanya ia suka sosokku. Kuat dan charming. Atau lebih tepatnya aku sosok idamannya.
Sasuke : sok tau.
Sakura : *jitak Sasuke* Shion memang memberitahukannya padaku kok! huft!
Anisha Ryuzaki,
Sasuke : Aku akan menegaskannya! puas! *roar*
Sakura : *speechless*
Luca Marvell,
Sasuke : Sainganku? banyak. *lirik para pemain pria*
Sakura : ha ha *sweat drop*
Febri Feven,
Sakura : arigatou untuk reviewnya. :)
Sasuke : hn.
White's,
Sasuke : Kau ngajak berantem? *deathglare*
Sakura : Sasuke, hentikan! Dia mendukung hubungan kita lho~
Haru cherryraven,
Sakura : akamaru? Ah? sayang sekali sulit untuk meminta akamaru datang ke studio. Lagipula-
Sasuke : *memotong ucapan Sakura* Lagipula akamaru nggak satu agency dengan kami, baka!
dhezthy UchihAruno,
Sasuke : lewati saja. *Sakura sweat drop*
I Nikita-chan,
Sakura : Wah, arigatou brkat doamu sekarang demamku sudah sembuh~ :)
Sasuke : hm.
Sami Haruchi,
Sakura : arigatou atas review-nya. :)
Sasuke : hm.
Haruchan,
Sakura : Author-san bilang judulnya 'Come on over', tapi dia juga sepertinya ragu-ragu.
Ah, jadi yang bener 'peduli' bukan 'perduli'? *catet*
Mengenai mitos itu, mungkin Author-san dibohongi sama salah satu pengunjung villa~ *kasihan Author*
Sasuke : sudah jangan kelamaan! *kesal baca reviewnya*
Black SS Pearl,
Sasuke : tak kumaafkan. *dzig*
Sakura : Sasuke-kun! hentikan bersikap kekanakan! itu sebabnya para readers tak mempercayaimu saat kau menyatakan perasaan padaku kan? huft~
Sasuke : Aku akan mempertegasnya nanti, aku juga akan_dzig! (*Shion tiba-tiba datang* owwwooo~ Neechan memanggilku? hy hy~ Shion di sini~ ah ada Sakura-nee juga~ senangnya~)
*Sasuke pundung*
Sakura Haruhana-chan,
Sasuke : aku menindasnya? memang kenapa? Aku suka kok menindasnya, bahkan sampai sekarang. *disannaro Sakura*
Sakura : Em...hubungan kami... eng... *gugup*
Sasuke : bukan urusanmu.
Sakura : uft begitulah Sasuke-kun, hubungan kami masih digantung. *ngambek*
Sasuke : Saso mungkin suka sama Sakura, tapi aku nggak akan membiarkan dia mendapatkan Sakura. *deathglare*
cherryma,
Sasuke : kalau tour ke Paris, itu belum tau. Tapi nanti KISS berencana akan tour ke London, entah kapan terwujud. *sigh*
Sakura : pesanmu akan disampaikan kepada Author, arigatou~ :) Salam balik dari kami semua~
Marukocan,
Sasuke : sebaiknya kau jangan berlebihan memujinya.
Sakura : Sasuke! *kesal* Masalah lemon, rencananya akan muncul dalam dua part lagi. Semoga masih tetap sabar ya~ :)
Ara-chan,
Sakura : konflik mulai berkembag di part ini. Semoga itu mengejutkanmu~ Dan Author-san mengucapkan terima kasih atas doanya. :)
Sasuke : Hm
Sasa,
Sasuke : aku akan lebih romantis lagi kedepannya. *dicubit Sakura*
Sakura : eh? apakah kamu tahu apa yang dimaksud Sai-nii dengan olahraga malam? Bisa beritahu aku? *puppy eyes* (Sai : ahh~ apa kau mulai tertarik denganku? Siapa namamu? Sasa kah? Tinggalkan saja alamat mu di depan agency kami, aku tak akan membuatmu kesepian malam ini *kedipin mata*)
Nurfiah15,
Sakura : arigatou atas reviewnya.. :)
Sasuke : hn.
CutIcut Uchiha,
Sasuke : apa?! *sharingan mode on*
Sakura : Sasuke-kun hentikan! Astaga~ sulit sekali menjaga 'makhluk ganas' sepertimu. Lihatlah Sasori yang lembut itu~
Sasuke : kenapa sih kau membela Sasori terus? ck! *palingin muka*
Nuria23agazta,
Sakura : aku juga senang saat semuanya berkumpul bersama~
Sasuke : Karin sedang ada konser juga di sana.
Sakura : Sepertinya kau paham sekali akan hal itu. *ngambek* *Sasuke menghela nafas*
Sakura haruhana-chan,
Sasuke : hanya perasaanku saja, atau kau memang mereveiw sampai dua kali?
Sakura : *dorong-dorong Sasori* (Sasori : ah? aku? em.. kau memanggilku? Ya, hy. *gugup* Senang berkenalan denganmu. Ikuti terus ceritanya ya..)
Lucy Hinata,
Sasuke : *lirik Sasori yang kelihatannya bahagia* cih~
Sakura : arigatou, salammu akan disampaikan ke Author~ :)
Fira Uchiha,
Sasuke : aku juga nggak sabar *sigh*
Sakura : *blush* ah, kata Author, itu akan muncul dalam dua part lagi. Sabar ya~ :)
maya clark 3914,
Sasuke : cih~ itu bukan urusanmu siapa yang kupilih kan.
Sakura : ha ha *sambil jitak Sasuke* arigatou atas reviewnya ya.. :)
Sabrina kanzaki,
Sakura : . . . . *diam*
Sasuke : kenapa? tak percaya kalau aku tak akan kembali bersama Karin lagi? Ayolah, Sakura~
Kyouka Hime,
Sasuke : oh, jadi Sasuke sudah nyogok Shera untuk muncul di part ini? Ok~ boleh juga idenya. *smirk*
Sakura : Sasuke, jangan merencanakan yang macam-macam. *merinding*
Furiikuhime,
Sakura : Author-san sempet punya file di part 1-3, setelah itu ia kejar setoran dengan membuat script selanjutnya.
Beruntung waktu itu dia sedang nganggur, kalau sudah sibuk begini, energinya jadi terkuras habis. *lirik Author yang lagi tepar*
Sasuke : Salah sendiri memaksakan diri.
Sakura : huah... membalas reviews-nya sih bukan masalah untukku, tapi mengatur ucapan Sasuke-kun itu yang suliiiit~ baiklah, minna~ semoga tadi ucapan Sasuke-kun tidak terlalu dimasukan hati ya.
Anggap saja kalian seperti mendengar macan mangaum.
Sasuke : Kalau aku macan, tak salah kan seandainya aku menerkammu di sini? *smirk* *Sakura blushing*
~Enjoy reading~
Disclaimer Characters © Masashi Kishimoto
Disclaimer Story © Shera Liuzaki
.
.
A story with a girl being loved by lot of guys
.
.
No Flame. Kritik? yes. Pujian? apa lagi~
.
.
Shera Liuzaki, present :
.
.
"BROTHER X SISTER"
.
.
Part 6 : I Will Forget You
.
.
Enjoy Reading
.
.
Setelah pulang dari penculikan Sasuke ke Bogor, kini Sakura malah jatuh sakit. Sebenarnya dibalik rasa sakit itu, Sakura bersyukur bisa melihat kepanikan sang kakak. Beruntung hanya perlu waktu dua hari untuknya bisa kembali pulih. Dan para anggota KISS lainnya pun segera bersiap untuk pulang. Mereka kembali bersamaan dengan pulangnya keluarga besar Uchiha.
Sasuke memang mendapatkan hukumannya karena telah membawa kabur Sakura, tapi mereka memaafkannya ketika Sakura—dengan wajah memerahnya karena demam—yang memintanya.
-ooOoo-
Cuap-cuap burung kecil mendominasi di sana. Celah jendela—yang entah sengaja atau tidak—dibiarkan terbuka, membuat sinar matahari dengan susah payah masuk. Seorang pemuda nampak duduk diam sambil melihat selembar kertas berisikan obrolan Fans KISS di forum resmi.
Sejak konser mereka di Bogor, sepertinya popularitas KISS mulai naik. Anggota KISSer pun bertambah seiring berjalannya waktu. Memang Sasuke tentu senang mendengarnya, tapi berkat itu, banyak tuntutan baru yan datang.
'KISS, kenapa kalian tak membuat lagu baru lagi?'
'Aku memang menyukai lagu-lagu KISS, tapi aku merindukan KISS yang dulu.'
'Kemana cinta kalian pergi? Akhir-akhir ini aku merasakan performa Sasuke-kun mulai monoton. Buatlah lagu cinta lagi, ini hanya saran sih.'
'Tak lama lagi kalian akan ada mini-concert kan? Semoga saat itu kalian mempromosikan lagu baru ya.'
"Sasuke-kun semangat! Kau pasti bisa melaluinya. Buat lagu cinta lagi ya, aku ingin mendengarnya.'
Sasuke menghela nafas membacanya. Ia menegadah menatap langit-langit. Tepat di tempat ini, ia pernah mencium Sakura. Saat itu ia sedang memikirkan Karin—mantan kekasihnya, dan ia melihat Sakura di sana. Menatapnya dengan linangan air mata.
Sasuke memejamkan mata.
"Cinta itu hanya perasaan bodoh saja." entah ia berucap pada siapa.
Kalau boleh jujur, Sasuke masih memiliki perasaan aneh dalam dirinya. Ia belum bisa menerima kehadiran Sakura seutuhnya. Rasanya ia ingin menyiksa gadis itu—lagi, menghancurkannya seperti Karin yang menghancurkan hatinya sekarang. Tapi ada perasaan lain yang mencegahnya melakukan itu.
Krekkk
Ia meremas kertas itu. Dibuatnya hingga sudah tak berbentuk lagi. Matanya menajam, memperlihatkan kekelaman yang dalam. Seperti jarum jam yang berputar, maka tak akan kembali memutar ke arah yang berlawanan. Sasuke sudah memutuskan sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan Sakura, entah apa itu.
-ooOoo-
Hari ini demam Sakura mulai menurun, sepertinya besok ia sudah dapat melakukan kegiatan sehari-harinya. Merasa bosan terus berada di kamar, ia memutuskan untuk turun dan berkeliling rumah.
Ini masih jam sibuk, tentu saja yang berada di rumah hanyalah pelayan-pelayan lain. Sakura melirik sebuah pintu kayu, ah itu adalah kamar Sasuke. Sepertinya gadis itu memiliki suatu pemikiran berbahaya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari kesempatan untuk masuk ke dalam.
Cklek Blam
Dengan cekatan dan kecepatan cahaya, ia berhasil masuk tanpa ketahuan. Gadis itu menghela nafas lega.
"Fiuh~" Kembali ia mengedakan pandangan. "Maaf ya Niichan, aku hanya ingin lihat-lihat saja kok."
Sakura mengamati sekitar. Ia bisa melihat ciri khas kamar vocalist band cowok yang sangat kental di sana. Berbagai macam gitar menghiasi sudut kamar, poster-poster band papan atas juga tak kalah jumlahnya, dan Sakura tertarik pada meja belajar di sana.
"Wuah~"
Meskipun anak band, tapi ternyata Sasuke cukup memperhatikan pelajaran juga. Nyatanya banyak buku-buku besar yang sangat sulit bagi Sakura bertumpukan di sana. Bahkan beberapa diantaranya dibiarkan terbuka, mungkin sisa belajar semalam.
Sekilas Sakura seperti mendapati sesuatu. Sebuah buku hitam dengan tulisan 'Our Song' berwarna putih tergeletak tak jauh dari sana. Merasa penasaran, ia mendekatinya dan meraih buku itu. Melihat dari judulnya, Sakura menduga itu adalah buku coretan lagu-lagu karangan Sasuke untuk KISS.
"Apa ini?"
Perlahan ia membuka buku itu, kalaupun itu bukan buku coretan Sasuke, ia berharap itu adalah buku diary milik Sasuke. Namun ternyata apa yang diinginkannya tak terkabul kali ini. Itu bukanlah buku diary milik Sasuke ataupun buku coretannya, tapi itu juga buku yang berisikan lagu-lagu cinta dengan nama Sasuke dan Karin.
DHEG
Rasanya sesuatu menyayat hati Sakura. Matanya terpaku membaca tiap-tiap lirik yang dituliskan dengan rapi di sana. Senyuman yang awalnya memaniskan wajahnya, kini menghilang ditiup angin. Tangannya meremas ujung buku itu. Meski perasaannya tak karuan, tapi entah mengapa ia tak bisa melepaskan matanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?!"
DHEG!
Segera saja Sakura menoleh, dan tepat saat itu ia melihat sang empunya kamar berdiri dengan tatapan garang menatapnya. Sakura kalut, ia meneguk ludahnya dengan susah payah. Sasuke semakin menyipitkan matanya, membuat Sakura merinding ketakutan.
"Ah, Ano—Sasuke-niichan… aku…aku hanya…" Sakura bingung harus melakukan apa.
Sasuke melangkahkan kakinya mendekat, dan ia melihat buku hitamnya yang dipegang Sakura. Kembali ia memasang tampang sangarnya. Kini Sakura bahkan tak berani untuk sekedar menatap onyx yang memanas itu.
GREB
Buku hitam itu direbut paksa oleh Sasuke, membuat Sakura sampai kaget dibuatnya. Gadis itu bahkan menabrak meja belajar Sasuke dan menjatuhkan ponselnya ke lantai.
Kembali matanya membulat, memperlihatkan emerald-nya yang terkejut melihat wallpaper ponsel Sasuke yang terjatuh. Itu adalah foto seorang gadis, gadis berambut merah dan di sebelahnya ada Sasuke sedang bermain gitar.
Sakura menundukkan kepalanya, ternyata memang sulit bagi Sasuke untuk menghapus jejak wanita itu dari hidupnya. Padahal beberapa waktu lalu ia sudah menyatakan perasaannya kepada Sakura, tapi bahkan sampai saat ini ia masih menyimpan semua yang mengingatkannya pada gadis itu.
"Kenapa?" bisik Sakura dengan suaranya yang nyaris tak terdengar. "Padahal kau bilang kau ingin bahagia bersamaku. Tapi kenapa? Kenapa kau masih menyimpan ini semua?"
Saat Sakura menegadah, ia melihat Sasuke memalingkan wajah darinya. Saat itu ia menyadari, mungkin Sasuke masih menganggap dirinya sebagai penganti Karin. Kembali wajahnya tertunduk, tangannya mengepal erat. Pemuda itu bersujud meraih ponselnya yang terjatuh di lantai.
Sekalipun Sasuke tak mengarahkan matanya menatap Sakura, ia hanya terdiam sambil kembali memasukkan ponselnya ke saku celana dan berjalan menjauh. Sebelum Sakura merengek dan melepaskan emosinya, pemuda itu berucap.
"Keluarlah, Sakura."
Dheg
Lagi-lagi Sakura bisa merasakan perasaan menyayat hatinya. Ia mengigit bibir bawahnya dan kemudian berlari keluar kamar. Meninggalkan Sasuke yang duduk di atas ranjangnya. Pemuda itu menunduk dan mengepalkan tangannya. Ia memegangi kepalanya sendiri sambil menggumamkan sesuatu yang tak jelas.
Saat Sakura berlari menuju kamarnya, Sai lewat. Ini kedua kalinya pemuda kembaran Sasuke itu melihat Sakura menangis setelah keluar dari kamar Sasuke. Sai terdiam sejenak, rasanya ia memikirkan suatu tindakan.
Perlahan pemuda itu berjalan menuju kamar Sasuke, dan melihat sang empunya sedang duduk di pinggir ranjang. Sai menyandarkan diri di tembok dan melipat kedua tangannya.
"Jadi…apa yang sudah kau lakukan padanya?"
Sasuke yang mendengar suara langsung mendongak melihat siapa orang kedua yang berani melewati batas pribadinya. Sai tersenyum, menanggapi sorotan mata tak suka dari kembarannya itu.
"Bukan urusanmu."
"Oh ya? Tapi aku paling tak suka melihat wanita menangis kalau bukan karena aku."
"Berisik!"
Brak!
Sasuke bangkit dan melempar tasnya dengan keras, membuat rak buku yang menjadi sasarannya bergoyang. Beberapa buku terlihat jatuh dan membuat suara, namun keduanya nampak tak goyah dari tempat masing-masing. Baik Sai maupun Sasuke sama-sama menatap sinis.
"Sebegitu bencinya kah kau padanya?"
"Aku bukan membencinya, aku hanya sedang dalam proses untuk menerimanya. Dan itu butuh waktu, aku tak bisa tiba-tiba memalingkan perasaanku."
"Begitu kah?" Sai menyunggingkan seringainya. "Kalau kau memang tak bisa menerimanya, kenapa tak kau saja yang keluar dari rumah ini?"
DHEG
Sasuke menggeram mendengar kembaranya sendiri mengatakan hal yang tak bisa dipercaya. Apakah itu suatu bentuk pengusiran secara halus? Sasuke bangkit dan menatap Sai dengan tajam.
"Apa maksudmu?"
"Kau bilang kau tak bisa menerimanya, sedangkan semua orang di rumah ini tak sependapat denganmu." Sai kini kembali memamerkan senyuman hampanya, seakan menyindir Sasuke. "Masalah Sakura-chan, biar aku yang menenangkannya. Sekarang…kau tak memiliki alasan lagi untuk tetap bertahan di sini bukan?"
Ucapan Sai sungguh membuat Sasuke mendapatkan pukulan yang begitu keras. Pemuda itu merasa diinjak-injak harga dirinya.
BRAK!
Dengan kekuatan besarnya, ia menghantam tembok kamarnya sendiri. Meski Sai mengakuinya, pasti sakit menghantam tembok sekencang itu, tapi ia sendiri juga tahu kalau Sasuke akan tetap memasang wajah stoic-nya apapun yang terjadi.
"Keluar dari sini. Sekarang." ucapan itu sangat lirih, namun cukup untuk didengar oleh Sai.
Sai pun menurut dan berdiri tegap, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pemuda berambut lepek itu menghela nafas panjang, ia sempat berucap sebelum benar-benar pergi meninggalkan Sasuke di sana.
"Kita ini kembar, Sasuke. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan terhadap Sakura saat ini. Kau hanya takut untuk mengakuinya."
-ooOoo-
Setelah 3 hari ijin sekolah karena sakit, kini Sakura mulai bisa kembali menjalankan aktivitas seperti biasanya. Pertama kali masuk ke kelas, Hinata jadi orang pertama yang memberikannya pelukan rindu. Gadis indigo itu sepertinya lebih cenderung merasa penasaran kepada kisah Sakura dengan Sasuke sedangkan mengenai kondisi tubuhnya.
Sebenarnya Sakura tak ingin menceritakan mengenai kejadian di Bogor dan di kamar sang kakak itu, tapi ia sudah terlalu banyak menyembunyikan hal-hal penting dari Hinata. Padahal gadis itu sudah memberikan banyak uluran tangan kepadanya. Mau tak mau, jam kosong di awal harinya menjadi sesi curhat dan summary atas pengalamannya.
"Haaa? Apa-apaan itu?" Hinata mengerutkan dahinya. "Apa Sasuke-niisama belum bisa melupakan Karin? Tapi aku—bagaimanapun—mengerti perasaannya."
"Sssst, Hinata! Kau tak ingin membuat sahabatmu ini kena pandangan aneh dari teman-teman lainnya kan?" redam Sakura sambil mengisyaratkan Hinata untuk diam.
"Oops, sebaiknya kau tak udah berpikiran negative, Sakura" Kembali Hinata melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalau memang benar Sasuke-niisama sudah mengaku cinta padamu, artinya ia sudah memutuskan untuk melupakan Karin dan menerimamu."
Sakura terdiam mendengarnya. Ia sendiri juga mencoba mengerti perasaan sang kakak. Masa iya apa yang diucapkan kakaknya saat di Bogor itu adalah suatu dusta? Padahal saat itu Sakura sudah hampir menyerah atas rasa ini, kenapa tak biarkan saja Sakura menyudahinya.
Hinata menghela nafas melihat Sakura yang kembali lesu, "Sudahlah, Sakura. Oh ya, aku ingin mengajakmu pergi, kau ada waktu?"
"Pergi? Kemana? Aku sedang tak mood kalau itu berhubungan dengan KISS."
"Tenang-tenang~" jawab gadis itu sambil mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah Sakura. "Aku akan membawamu ke tempat bermain yang asyik. Kujamin ini bisa menghilangkan pikiran jenuhmu."
"Kau jamin?" Sakura menatapnya penuh keraguan. "Terakhir kali kau mengajakku, semua berakhir di base camp KISS."
"Ah, ha ha." Hinata tersenyum canggung. "Kali ini, percayalah padaku."
"Hm, baiklah."
"Boleh aku masuk hitungan?"
Baik Hinata dan Sakura kaget mendengar ada sebuah suara berat yang tiba-tiba berbicara kepada mereka. Sontak keduanya mengalihkan pandangan, dan kembali dikejutkan oleh kehadiran Sasori di sana. Pemuda merah itu berdiri tepat menghadap Sakura.
"Apa kau keberatan kalau aku ikut?" pemuda itu mengulang pertanyaannya sambil menatap Hinata.
"Ah, ti—tidak masalah, kurasa."
-ooOoo-
Warna merah keemasan senja perlahan mulai melebur bersamaan dengan gelapnya malam. Sakura baru saja selesai membersihkan dirinya, setelah seharian beraktifitas, memang sangat menyegarkan kalau pada sore hari keramas. Keringat langsung hilang, tubuh terasa bersih dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, Sakura menggeser kursi dan duduk di sana. Saat akan membuka buku dan mulai belajar, seseorang nampak mengetuk pintu kamarnya. Orang itu pun masuk, Sakura tersenyum mendapati itu adalah Itachi.
"Apa aku mengganggumu, Sakura?" Itachi masuk sambil menutup kembali pintu itu.
"Tentu saja tidak, Itachi -niichan. Justru aku senang sekali hari ini Niichan pulang lebih awal." Sakura memperhatikan Itachi yang mulai mendekat. "Apa pekerjaan di rumah sakit begitu banyak? Rasanya niichan terlihat pucat."
"Sepertinya aku sedikit kelelahan." jawab Itachi—dengan senyuman paraunya. "Sakura, rambutmu masih sangat basah. Kau bisa masuk angin kalau membiarkannya, biar kukeringkan untukmu."
"Ah, arigatou, niichan." Sakura kembali duduk lurus, membiarkan Itachi mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Rambutmu lembut, Sakura." puji Itachi.
"Arigatou~ sebenarnya Sai-nii yang mengajariku merawat rambut."
"Hm? Sai?" Itachi nampaknya tak mempercayai hal itu.
Sakura mengangguk pelan, "Waktu itu Sai -nii tak sengaja menyentuh rambutku, tiba-tiba saja ia mengomeliku. 'Apa-apaan ini?!' dia berteriak seperti itu di telingaku."
Itachi hanya terkekeh mendengar cerita Sakura. Sepertinya pria itu bisa membayangkan situasi yang terjadi saat itu.
"Dia bilang, untuk seorang wanita, rambut merupakan mahkotanya. Sudah sepatutnya rambut itu dijaga baik-baik. Sejak saat itu aku diberikan pelajaran intensif selama seminggu full tentang cara merawat rambut."
"Sai memang sangat cerewet kalau sudah menyangkut style rambut. Dulu, yang membuat model rambut Sasuke seperti itu juga dia."
"Ah? Benarkah?! Rambut pantat ayam itu? Ha ha ha."
Sambil mengeringkan rambut adiknya itu, Itachi berucap. "Sakura…" Sakura menoleh di sela tawanya. "Apa benar liburan kemarin Sasuke membawamu ke Bogor?"
Dheg
Jantung Sakura seakan disetrum tiba-tiba. Benar juga, sudah pasti Itachi datang malam-malam ke kamarnya bukan semata-mata untuk mengeringkan rambutnya dan berbincang-bincang saja, pasti ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh pria dewasa itu. Sakura meneguk ludah yang menganjal di tenggorokannya.
"Eng…itu…ya begitulah."
"Apa saja yang sudah terjadi? Apa Sasuke melakukan sesuatu kepadamu?"
Sakura hanya terdiam, suasana menjadi hening seketika. Tanpa mendengar penjelasan Sakura, Itachi tahu pasti ada yang terjadi selama mereka di sana. Apalagi saat pulang Sakura masih setengah sembuh dari demamnya. Mengomeli Sasuke seharian pun tak cukup baginya, berhubung Sakura sudah dianggapnya sebagai adik kesayangan.
Itachi menghela nafas, "Sakura, mungkin saat ini kau sedang melalui suatu masa yang sulit. Dimana hanya kau yang bisa menyelesaikannya. Meskipun kau menceritakan hal itu pada orang lain, bukan berarti orang itu bisa campur tangan di dalamnya."
"Tapi…Itachi -nii, aku tak yakin bisa melaluinya. Bagaimana kalau aku sudah tak sanggup lagi?"
"Kenapa? Kalau kau mau menyerah, kenapa kau tak melakukannya sejak awal?" Itachi memberikan jeda pada kalimatnya. "Sakura, mungkin saat ini kau merasa duniamu tiba-tiba berubah, tapi sebenarnya itu tidak benar."
Merasa penasaran atas ucapan kakaknya itu, Sakura mendongakkan kepala menatapnya. Itachi membelai rambut Sakura sambil tersenyum.
"Yang berubah itu… kau." Sakura mengerutkan dahi. "Saat ini lingkungan sekitarmu sedang menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada dalam dirimu."
"Perubahan dalam diriku?"
"Iya." Perlahan tangan Itachi menunjuk tepat di dadanya. Tempat dimana 'hati' itu berada. "Di sini."
Sakura bisa merasakannya, ia mengerti. Memang benar, ia sendiri pun mengakui kalau ada bagian dalam dirinya yang berubah. Sesuatu yang dulu tak ada kini ada, sesuatu yang dulu ada kini tak ada. Mungkin yang dikatakan Itachi mampu membukakan pikirannya.
Sementara Sakura sedang memegangi dadanya, menyadari akan hal itu, di belakangnya Itachi nampak sangat pucat. Keringat dingin menetes melalui pelipisnya, membasahi kemeja putih yang dipakainya. Tak lama setelah itu, Itachi berpamitan keluar dari kamar Sakura.
"Ah Itachi-niichan!" sesaat sebelum Itachi benar-benar pergi, Sakura memanggilnya. "Aku ingin minta maaf karena telah membuat kalian semua khawatir."
Itachi bisa melihat Sakura yang pundung sambil menundukkan kepalanya. "Kami semua khawatir karena kami menyayangimu, Sakura. Kalau kau memang tak ingin membuat kami khawatir, jangan lakukan hal-hal seperti itu lagi ya."
"Aku mengerti, Itachi -nii." Sakura menganggukkan kepalanya. Setelahnya Itachipun menutup pintu kamar Sakura.
-ooOoo-
Sementara itu, di sebuah tempat yang dipenuhi oleh berbagai instrument musik, duduklah seorang pemuda berambut raven. Gaya rambut pemuda itu sangat khas, hanya melihatnya sekilas saja semua orang sudah bisa menduga siapa dia. Ditambah lagi gayanya yang sok cool dan omongannya yang pedas, untung hanya ada satu makhluk seperti itu di dunia.
"Yo! Sasuke." Kiba terlihat memasuki ruangan, ia meletakkan bass-nya di dekat sebuah lemari kayu besar. Di belakangnya Naruto dan Shion ikut masuk.
Naruto langsung menuju dapur, sepertinya mereka cukup menguras tenaga setelah konser. Shion justru terlihat membaringkan diri di atas sofa, mencoba memejamkan mata tanpa berbicara apapun.
"Apa itu, Sasuke?" Kiba melihat sebuah buku hitam tergeletak di atas meja. Ia mengambilnya, terdapat tulisan dengan tinta putih di sana. "Hm? Apakah ini bukumu?"
Sasuke terlihat menjawabnya dengan ogah-ogahan. "Dulunya. Sekarang aku akan membuangnya."
"Kenapa? Bukankah banyak aransemen bagus yang kau tulis di sini? Lagipula kita sedang kehabisan ide kan? KISSer juga meminta kita membuat lagu baru."
Sasuke tahu itu, tentu saja. Saat ini ia bahkan sedang membuka website KISS dan membaca pesan para fans mereka yang meminta KISS menyanyikan lagu cinta lagi. Sasuke menghela nafas bosan, ia meletakkan ponselnya dan menunduk lemas.
Kiba menatapnya dalam diam, " Sasuke, apa kau masih belum bisa melupakan Karin?" pertanyaan itu tak dibalas oleh Sasuke. "Kurasa kalau kau terus-terusan mengingat apa yang sudah bukan milikmu, kau akan kehilangan apa yang kau miliki sekarang."
"Jangan sebut nama beruang betina itu lagi!" tiba-tiba saja Shion yang sedang berbaring itu berteriak. "Kau kan sudah memiliki Sakura-chan, Sasuke. Cukup dengan kau membuka hatimu, secara otomatis lagu-lagu cinta akan mengalun di pikiranmu kok."
"Bagus juga kata-katamu, bocah." Naruto yang baru datang langsung sengaja mengganggu tidur Shion, akibatnya pemuda itu mendapatkan jitakan bertubi-tubi.
"Kurasa kita butuh sedikit hiburan, itung-itung sebagai pelepas stress sambil mencari inspirasi." Kiba menyeduh minuman yang dibawa Naruto.
"Ah, benar juga!" sahut Naruto sambil mencoba menahan serangan Shion. "Kudengar ada sebuah taman bermain yang baru saja dibuka, kurasa tak ada salahnya kita ke sana."
"Taman bermain?" Shion sepertinya tertarik—dasar anak SMP.
"Boleh juga."
-ooOoo-
Entah ada angin apa, tapi di sinilah mereka. Sebuah taman bermain yang baru saja dibuka bulan lalu. Pengunjungnya juga lumayan penuh karena masih banyak promo yang ditawarkan.
Sakura dan Hinata saling bertukar pandangan canggung. Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan kepada teman sekelas mereka yang tiba-tiba ingin ikut ini. Hinata menyenggol lengan Sakura, mengisyaratkan kepada Sakura untuk mendekati pemuda itu.
Mau tak mau gadis itu mendekat, "Emm…Sasori-kun."
Sasori menoleh.
"Kau yakin ingin ikut?"
"Kenapa? Aku hanya ingin menagih ucapan terima kasihmu atas kejadian di ruang ganti club. Ingat?"
Toeng
Ah, benar juga. Sakura sampai melupakannya. Sasori adalah orang yang sudah memberikannya informasi mengenai Karin. Pemuda itu telah memberikannya 'kunci' penting untuk membuka masa lalu Sasuke. Kini gadis itu hanya bisa menggaruk kepala bingung.
"Dengar ya, hari ini kau harus mentraktirku sampai puas." Ucap Sasori sambil tersenyum meremehkan. Sakura yang melihatnya entah mengapa jadi kesal.
"Apa?! Hey hey, tuan anggota inti, jadi kau mau mengancamku heh?"
Dzig
Mendengarnya Sasori menjadi geram. Sakura sudah mendengar cerita pemuda itu tentang kekesalannya tak bisa menjadi captain di club Basket. Perlahan pemuda itu mengepalkan tangannya, namun bagaimanapun ia mencoba menahan.
Sepertinya keduanya malah saling menyulut emosi satu sama lain. Hinata hanya bisa mendengus dan mengelengkan kepala melihat tingkah kedua teman sekelasnya ini. Sepertinya Sakura lebih cocok bersama Sasori daripada bersama Sasuke—pikir Hinata.
Sepanjang hari, Sakura dan Sasori tak henti-hentinya bertanding. Entah itu adu kekuatan di arena pukul, adu kelincahan di Timezo—piiip, maupun adu kuat saat naik jet coaster. Sepertinya Sakura mulai bisa menikmati harinya. Saat Sakura hendak membeli minuman, perlahan Hinata mendekati Sasori.
"Hey, kau menyukainya heh?"
Uhuk! Plup!
Pertanyaan itu membuat Sasori sampai kaget dan hampir menelan permen karet yang dimakannya. Ia langsung membersihkan wajahnya yang ditempeli bubble gum manis itu. Melihat perubahan sikap Sasori, tentu saja Hinata hanya berusaha menahan tawa.
"Apa yang kau katakan?"
Hinata terkekeh. "Maksudku, apa kau menyukai permainan di sini?" Sasori hanya bisa mendecih menanggapinya. "Tak apa, tak apa. Kalaupun benar, aku akan mendukungmu untuk mendapatkannya. Kurasa dia akan baik-baik saja kalau bersamamu."
"Hey!"
Teriakan Sakura menutup obrolan mereka. Hinata membalasnya dengan senyuman, Sasori hanya memalingkan wajahnya. Sakura menatap mereka bergantian, gadis itu mengerutkan hadi.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Sakura sambil menyodorkan minuman kepada Hinata.
Melihat Sakura yang sepertinya penasaran, Hinata melirik Sasori. Pemuda itu terlihat mendecih, pipinya dihiasi guratan-guratan merah. Hinata hanya terkekeh ringan melihatnya. Sakura semakin bingung, rasa penasarannya semakin bertambah.
"Hey Hey, sejak kapan kalian jadi seakrab itu?" sindir Sakura merasa diabaikan.
"Hm? Apa kau cemburu?" Hinata membelasnya dengan godaan. "Kau penasaran dengan apa yang kami bicarakan barusan, kan? Kalau begitu kenapa tak kau tanyakan saja pada yang bersangkutan?"
Sakura langsung mengalihkan wajahnya kepada Sasori, namun pemuda itu hanya melengos sambil mengatakan.
"Bukan urusanmu!"
"Aaapa?!"
"Eeeeyy~!"
Dengan kesal Sakura siap melayangkan pukulan mautnya kepada Sasori, dan menyadari bahwa Sakura adalah atlet karate tentu saja tak membuat Sasori tinggal diam. Meskipun tak seharusnya lelaki membalas ketika wanita mengamuk, tapi kali ini Haruno Sakura yang kita bahas. Tentu saja ia bukan wanita biasa.
Sasori dengan sigap berhasil menangkal pukulan-pukulan Sakura dengan tangannya, meski pukulan itu tak hanya sekali dan tak ringan juga, namun Sakura tak akan berhenti sampai Sasori mengatakannya.
Hinata yang awalnya tertawa melihat kelakuan kedua teman sekelasnya itu, kini mulai terdiam saat melihat seseorang mendekati mereka. Seseorang yang membawa sebuah tak gitar di punggungnya. Dan beberapa orang yang familiar terlihat berjalan di belakangnya.
"Sa—Sasuke-niisama?!"
Pekikan Hinata membuat Sakura dan Sasori menghentikan pertengkaran mereka. Gadis merah jambu itu menoleh dan memastikan bahwa Hinata salah lihat. Mata emerald-nya membulat sempurna melihat sang kakak berdiri dengan gayanya yang angkuh itu tepat di hadapannya.
Ini bukan sesuatu yang bagus.
"Sa, Sasuke-oniichan!"
Sasuke masih tetap dengan gayanya yang stay cool, menatap Sasori. Tentu saja sudah tak asing bagi keduanya untuk saling bertatap muka. Mereka sudah saling mengenal lebih lama dari Sakura. Bahkan keduanya 'sempat' sangat dekat.
Sakura menjadi gusar, Hinata pun ikut bangkit dari duduknya. Selain Sasuke, ada Kiba dan Naruto juga yang mengikuti di belakang. Melihat Hinata, Naruto langsung sumringah sambil melambaikan tangannya. Hinata tersipu malu dibuatnya.
"Hinata-chaaaann~! Oh, hy Sakura-chan~ dan….?"
"Sasori." jawab Sasuke lirih. "Lama tak jumpa."
Kembali suasana menjadi tak menyenangkan. Sasori menatap tak gentar pada pemuda yang usianya dua tahun lebih tua itu. Sasuke sendiri tak menunjukkan respeknya kepada Sasori meskipun mereka merupakan teman lama.
Karna itu memang cerita lama.
"Baik, bagaimana denganmu?" Sasori tak mau kalah dengan tatapan angkuh itu. "Dan…bagaimana dengan boyband KISS yang kalian banggakan itu~? Sedang mengadakan konser sebagai band pembuka di sini heh?"
Tuing
Sebuah urat perempatan muncul di dahi Sasuke, membuat Kiba dan Naruto hanya bisa menggelengkan kepalanya. Seketika saja taman bermain yang menyenangkan itu bisa berubah menjadi arena tempur untuk kubu Akasuna dan Uchiha.
"Jadi, apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Kiba mencoba mencairkan situasi.
"Kami sedang mengisi waktu luang saja dengan bermain." jawab Sakura sekenanya. "Kalau kalian sendiri?"
"Akhir-akhir ini KISSer meminta kami untuk menciptakan lagu baru, dan sekarang kami sedang mencari referensinya."
"Oh ya? Lagu seperti apa?"
"CINTA!" Naruto nampak berseru gembira.
Toeng
Padahal saat ini mereka sedang mencoba memadamkan api diantara Sasuke dan Sasori, namun Naruto sepertinya malah semakin menyulutnya dengan minyak tanah. Menyadari kebodohannya, pemuda berkumis itu hanya bisa tertawa garing sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Oooh? Jadi sekarang KISS sudah benar-benar resmi menjadi boyband ya? Lagu cinta seperti apa yang akan kalian buat dengan referensi taman bermain?" Sasori semakin berani memberikan sindirannya, menambah jumlah urat perempatan di dahi Sasuke.
"Bocah, kau terus-terusan mengatakan boyband. Tapi bukankah dalam konser kami, kau tak pernah absen?"
JUDUAR!
Oh Yeah bagus sekali, kini giliran counter attack dari Sasuke yang tepat mengenai harga diri Sasori. Pemuda itu menggertakkan gigi-giginya kesal, sementara Sakura, Hinata, Kiba, dan Naruto hanya bisa saling menggelengkan kepala tak tahan melihat kelakuan keduanya yang kekanakan.
Tapi entah mengapa Sakura malah merasa lebih lega melihat ini. Karna dari penjelasan Itachi, Sasori dan Sasuke sempat berteman baik dulu, bisa jadi sesuatu telah merusak persahabatan mereka. Awalnya ia berpikir mungkin akan buruk sekali kalau mereka sampai bertemu langsung.
Namun sepertinya pemikirannya itu salah besar, nyatanya sahabat sejati memang tak bisa dipisahkan meskipun sesuatu telah berusaha menghancurkan mereka. Meski tak bisa seakrab dulu, tapi ini saja sudah cukup asal tak ada perang dingin seperti dirinya dengan Sasuke.
"Ka—kalau begitu, kenapa kita tak main-main saja di sini?" Kiba kembali mencoba mencairkan suasana. "Jarang sekali kita semua bisa berkumpul kan."
"Ah, benar! Kurasa itu bukan ide yang buruk juga." sahut Naruto sambil mengedipkan matanya kepada Hinata.
Sementara Sasuke dan Sasori masih saling melemparkan tatapan saling menjatuhkannya, Sakura mendekat. Saat ini kedua pemuda itu sedang mengalami high energy dan kalau tenaga itu tak disalurkan ke arah yang benar, bisa-bisa taman bermain yang baru dibangun ini dalam sekejap akan kembali rata oleh tanah.
"Bagaimana, Sasuke-nii, Sasori-kun? Apa kalian ikut?"
Sudut bibir Sasuke dan Sasori perlahan naik dan membentuk sebuah seringai.
"Boleh saja!"
Acara liburan yang seharusnya menjadi moment bagi Sakura melepaskan stress, malah menjadi arena pertempuran Sasuke dan Sasori. Mereka sesekali terkekeh melihat tingkah konyol kedua pemuda—yang sudah tak bisa dibilang kecil lagi—itu.
Puas menghabiskan tenaga, mereka duduk di sebuah café. Naruto dan Hinata sedang memesan makanan, sedangkan yang lainnya nampak kelelahan. Sakura melirik ke arah Sasuke di sana, ia terdiam. Entah mengapa berbagai perasaan berkecambuk dalam dirinya saat itu. Sasori pun diam-diam memperhatikan Sakura.
Drrrtt Drrr drrr
Tiba-tiba saja ponsel Sakura berdering, ia melihatnya dan mendapati nama Sai tertera di sana.
"Moshi-moshi, Sai-niichan. Ada apa?"
"Sakura, kau ada dimana sekarang? Apa kau juga bersama Sasuke? Aku tak bisa menghubungi bocah itu!"
Dari suara Sai yang kesal dan kalut itu, Sakura bisa merasakan firasat buruk. Bagaimanapun ia tak ingin menduga apapun saat ini.
"Ada apa, Sai-niichan? Iya Sasuke-nii sedang bersamaku sekarang." Mendengar hal itu, semua ikut terdiam dan membiarkan Sakura menelpon—bahkan Sasuke dan Sasori.
"Dengar, Sakura. Kau harus pulang sekarang juga bersama dengan Sasuke."
"Tapi ada apa? Apa yang terjadi?" Sakura jadi ikut panic mendengarnya.
"Itachi-niichan masuk rumah sakit."
-ooOoo-
Tap Tap Tap
Langkah Sakura terlihat terburu-buru, ia tak memperdulikan orang-orang disekitarnya. Bahkan ia menghiraukan Sasuke yang mencoba menenangkannya berkali-kali. Gadis itu kalut, ia baru saja mendengar sesuatu yang bergitu mengejutkan.
Tak lama, ia sampai di depan ruang UGD Tokyo International Hospital. Sai yang awalnya terduduk kini bangkit melihat adik perempuan dan kembarannya itu datang mendekat. Sakura terlihat masih berusaha mengatur nafasnya.
"Hah hah hah, bagaimana…hah…keadaan Itachi-niichan?!" Sakura mencoba mencengkram lengan Sai. "Bagaimana keadaannya? Ia baik-baik saja kan? Iya kan, Sai-nii?!"
"Tenanglah dulu, Sakura." kembali Sasuke mencoba menenangkan.
"Bagaimana aku bisa tenang, Sasuke-nii!" Sakura mencoba melepaskan pegangan Sasuke padanya. "Sai-nii! Jawab aku! Bagaimana keadaan Itachi-niichan!"
"Aku juga tak tahu, Sakura. Aku sedang dalam pameran lukisan saat pihak rumah sakit TIH menelponku." jelas Sai.
Tubuh Sakura terasa lemas seketika, ia tak habis pikir, bagaimana bisa kejadian ini terjadi. Padahal baru kemarin saja Itachi datang ke kamarnya dan mereka berbincang-bincang. Ah, mengingat akan hal itu, Sakura jadi menyadari arti wajah pucat Itachi.
Sasuke membawa tubuh Sakura duduk di kursi tunggu, mereka bertiga sama-sama khawatir dengan keadaan Itachi.
"Sai, apa kau sudah memberitahu Kaasan dan Tousan?" tanya Sasuke, mencoba mencairkan kekhawatiran.
Sai mengangguk, "Aku sudah menghubungi mereka. Tousan masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum ke sini, sedangkan Kaasan sedang dalam perjalanan."
Percakapan mereka berakhir di sana. Ternyata sulit sekali memancing dialog yang panjang. Sasuke bisa melihat raut kecemasan Sakura. Dipeluknya gadis itu, mencoba menenangkannya.
Tak lama pintu ruang UGD itu terbuka, seorang dokter dan beberapa perawat keluar. Sakura yang melihatnya dengan refleks melepaskan pelukan Sasuke. Gadis itu langsung menghampiri sang dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan Itachi -nii?! Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja kan?"
Sang dokter memejamkan matanya, ia mencoba melepaskan tangan Sakura dari jas putihnya. "Ini bukan yang pertama kalinya kan? Apa dia memiliki riwayat suatu penyakit?"
Sakura tak mengerti apa yang dibicarakan oleh dokter itu, tapi di belakang sana, Sai dan Sasuke saling bertatapan. Mereka seakan saling berbicara melalui telepati, kemudian pembicaraan itu berakhir dengan diam.
"Tidak, dokter!" Sakura hanya bisa merengek saat melihat sang dokter dan perawat lainnya mulai pergi.
Sasuke membantu Sakura untuk berdiri, tapi justru bajunya malah ditarik oleh gadis itu. Matanya yang berlinang menunjukkan keseriusannya. Sasuke dan Sai paham benar arti dari tatapan itu. Mereka menghela nafas sebelum mengatakannya kepada Sakura.
"Sepertinya… penyakitnya kambuh."
-To Be Countinued-
...Behind The Scene...
Author : *berseri-seri*
Sasuke : Psst, ada apa dengannya? *lirik Shera*
Sakura : Sepertinya Author-san telah memperoleh kembali energy-nya.
Hm, Sasuke-kun, kau sudah baca script pasrt 7?
Sasuke : Belum, kenapa?
Sasori : *lewat* Kau akan mendapat banyak adegan bersamaku.
*berhenti sejenak* Sebaiknya kau bersiap untuk malu, ok? *evil smirk*
Sasuke : *mangekyou mode on* *Sakura sweat drop*
Itachi : Author-san... *mendekat ke Author*
Author : Ah, Itachi-nii! Gomen aku harus membuat peranmu jatuh sakit~ *sujud-sujud*
Itachi : ha ha *garuk kepala*
Author : Readers, bagi yang Itachi lovers, Shera mohon maaf telah membuat idola kalian jatuh sakit.
Tapi Shera akan berusaha mencari cara agar Itachi tak kalah dengan penyakitnya kok.
Apakah konflik kali ini bisa ditebak?
Coba kalian terbak, apakah Itachi akan selamat atau tidak? dan kira-kira pa penyakit Itachi. *evil
Wah wah, udah mulai inget sama lemonnya ya?
part depan Shera kasih yang semi-lemon deh ya~
Kenapa di bilang 'semi-lemon'?
yah lihat saja besok~ khu khu khu
Ok, see you tomorro~
Give me a mark (review) ok?
Keep Trying My Best!
Shera.
