Pertengahan bulan Kaminaga diwarnai dengan dilema terbesar selama 21 tahunnya hidup, bahkan lebih galau dari ketika ia berusaha memutuskan untuk tetap tinggal di Jepang lalu bosan setengah mati atau kuliah ke luar negeri meskipun itu berarti meninggalkan keluarga, teman-teman, serta ahem, pacar lamanya—tapi waktu itu ia tidak berpikir ulang lagi begitu mengetahui Tazaki juga mendaftar ke universitas yang sama—karena mau bagaimana pun tidak jadi soal, yang penting mereka tetap bersama.
Dan tepatnya itu yang jadi inti masalahnya sekarang.
Kaminaga sadar dari lama kalau Tazaki menyukainya, atau setidaknya ia sudah curiga—tolonglah, ia kan self-proclaimed ahli romansa, masa tidak bisa menangkap getar-getar cinta—tapi ia mengabaikannya, berpikir kalau mungkin sahabatnya hanya agak keliru saja mengartikan perasaan karena mereka sudah berteman sebegitu dekat. Toh Tazaki juga selalu memperlakukan orang lain dengan sama baik dan ramahnya, jadi untuk sekali ini Kaminaga benar-benar berharap memanglah hanya kepercayaan dirinya saja yang agak berlebih, dan sebenarnya Tazaki memang tidak menyukainya dengan cara yang seperti itu.
Batas antara kasih sayang untuk sahabat dan kekasih itu memang tipis, ia tahu, bedanya hanyalah kau mau mencium sahabatmu atau tidak. Tazaki ternyata mau, karena rupanya ia memang menyukai dengan cara yang seperti itu, dan Kaminaga, meski dengan segala kebingungannya, mendapati kalau dirinya juga tidak keberatan mencium Tazaki. Kaminaga tidak pernah benar-benar memikirkan soal ini sebelumnya, entahlah, mungkin selama ini justru dirinya yang salah mengartikan perasaannya sendiri, merasa kalau keakraban yang mereka bagi masihlah dalam tingkatan yang wajar. Ia sangat menyayangi Tazaki, tentu saja, Kaminaga hanya belum pernah membayangkan bagaimana rasanya mengecup bibir tipis itu, atau menyentuhnya di tempat-tempat yang biasanya ada di balik pakaian, atau mendengarnya mengucapkan nama Kaminaga dalam desah, atau—oh tidak, ia tidak baru saja membayangkan itu, tidak kok, sumpah.
Dari semua orang yang mengelilinginya, perempuan ataupun laki-laki, tidak pernah ada yang betul-betul menarik hatinya. Kaminaga bahkan terkadang lebih melihatnya sebagai semacam permainan; untuk menaklukkan, untuk membuktikan pada dirinya sendiri kalau ia mampu mendapatkan siapa pun. Ia memang tidak pernah mengejar orang yang tidak disukainya, tapi lebih dari sering, perasaannya untuk mereka hanya sekadar saja; satu-satunya alasan ia tidak pernah kesepian dengan hubungan yang dangkal adalah karena ia punya Tazaki, tempatnya membagi segala momen dan perasaan yang sungguhan. Selalu begitu adanya, sampai ia bertemu dengan Miyoshi.
Kaminaga tidak langsung menyukainya ketika mereka baru pertama kali berkenalan. Pemuda itu punya pandangan mata yang suka merendahkan, bicaranya sarkastis dan sifatnya narsis setengah mati. Kadang-kadang ia sampai terbayang untuk mencekik saja si Narcissus satu itu kala orangnya sedang tidur, tapi justru tepat di kala itu juga ia menyadari kalau ia jatuh cinta. (Tidak, Kaminaga bukan benar-benar mau membunuhnya malam itu kok, ia cuma menyeberang ke kamar Miyoshi untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya untuk kelas filosofi sebelum ia lupa sampai pagi, lalu mendapati kalau wajah tertidur pemuda itu ternyata… manis.)
Dengan cepat ia mendapati kalau ternyata mereka lebih cocok daripada yang sebelumnya ia kira. Lidah Miyoshi memang pedas, tapi otaknya sangat cerdas; Kaminaga menikmati setiap detik yang mereka habiskan untuk berdiskusi atau berdebat; tentang seni, filosofi, bahkan hingga galaksi. Miyoshi suka melukis, maka mereka memandang dunia dengan cara yang agak mirip; ada keindahan yang selalu mereka cari, dan ada sesuatu yang selalu ingin mereka abadikan. Pemuda itu tidak pernah mengeluh kalau harus menunggunya berlama-lama mencari spot serta angle foto yang tepat, sementara ia sendiri mengeluarkan buku sketsa dan menggambar. Ia juga suka menemaninya ke pameran fotografi, dan sebagai gantinya Kaminaga dengan senang hati pergi bersamanya ke museum-museum seni.
Ada suatu semesta yang hanya dipahami oleh mereka berdua, dan Kaminaga tidak bisa membaginya dengan orang lain—bahkan mungkin tidak juga pada Tazaki, meski ia yakin sahabatnya itu pasti bersedia mendengarkan seandainya saja Kaminaga mau bercerita sampai ia mengerti.
Kaminaga tidak yakin bagaimana tepatnya, tapi tahu-tahu ia sudah mendapati jantungnya bereaksi ketika ia melihat Miyoshi melebarkan senyum tulus, ketika mata mereka bertatapan agak terlalu lama, ketika mereka berada terlampau dekat hingga hangat tubuh keduanya terbagi.
Lucu, kalau mengingat hati playboy sepertinya dicuri makhluk bernama Miyoshi. Baru kali ini ia benar-benar menumpahkan segala perasaannya dan mencintai tanpa menahan; sayang baru kali ini juga tidak berbalas. Mungkin karma, mungkin hukuman; Kaminaga akhirnya hanya bisa pasrah menerima, dan ia sadar kalau dirinya harus berusaha merelakan.
Tadinya ia yakin segalanya akan baik-baik saja; mau patah hati ataupun patah tulang, Kaminaga akan baik-baik saja selama ada Tazaki di sisinya. Tapi lalu Tazaki juga pergi, tidak jauh, tapi membuat tembok sementara yang ada di antara mereka berubah konkret (tambah ada si cowok Amari itu pula, kenapa ia jadi jengkel lebih dari yang seharusnya sih). Kaminaga sempat terpikir apakah ini dia definisi hidup berantakan—agak berlebihan sih, tapi tidak pernah ia sadar betapa dunianya terguncang kalau tidak ada Tazaki.
Jika situasinya lain, mungkin ia akan dengan mudah menerima si pecinta merpati itu, namun jadi lebih sulit karena posisinya sekarang adalah orang yang cintanya habis kandas, dan sahabatnya sudah menyampaikan dengan jelas kalau ia tidak mau dijadikan sekadar pelarian atau pelampiasan atau apa pun itu—bukannya Kaminaga mau melampiaskan apa-apa ya; ia tidak pernah melihat Tazaki dengan cara seperti itu, apalagi berniat memperlakukannya begitu. Tazaki itu salah satu orang yang paling berharga buatnya, bukan samsak.
Sekarang pertanyaannya hanyalah apakah ia benar-benar membalas Tazaki dengan perasaan yang sama, dan kalau iya, bagaimana cara meyakinkan pemuda itu kalau Kaminaga tulus? Sekarang apa yang harus dilakukannya? Kenapa tidak ada dokter cinta untuk dokter cinta? Memangnya dokter tidak bisa sakit juga?! Kaminaga mengacak rambut; begini memang dilema jadi lelaki laku; sekalinya bilang cinta, orang lain susah percaya.
Pemuda itu berguling turun dari tempat tidur, mencapai mejanya tanpa tenaga. Di dekat jamnya masih tersandar kartu pos dari Jerman, diam di sana sejak beberapa hari yang lalu, tidak ke mana-mana. Sama seperti perasaannya untuk Miyoshi yang juga tidak akan ke mana-mana. Sebab itu ia sadar, mungkin memang lebih baik kalau ia berhenti.
Kaminaga memandangi Tembok Berlin untuk yang terakhir kali, kemudian menyimpan kartu posnya di dalam laci.
