Oke, saya kembali dari istirahat panjang saya, aka. hibernasi~ XD
Ini dia chapter 6, selamat membaca!
.
Disclaimer : Hajime Isayama
Genre : Friendship, Drama, Hurt/Comfort,and -may be- a bit Romance, and also Fantasy
Warning : Modern AU, OOC, typo, alur tak beraturan, rivamika close friendship, dll.
Rate : T (untuk penggunaan bahasa)
.
Keesokan harinya, seperti yang telah Mikasa perkirakan, Levi tidak masuk sekolah. Gadis itu memeriksa, apakah pemuda itu memberikan sebuah pembertahuan ke sekolah. Kemarin sebelum ia pulang, ia sudah memaksa Levi dan mewanti-wanti Hanji agar setidaknya memberi keterangan kepada pihak sekolah jika Levi tidak masuk.
Tergambar senyum di wajah gadis itu saat menemukan sepucuk surat izin atas nama Levi di atas meja guru. Mikasa kembali ke tempat duduknya. Ia menghela nafasnya, sedikit merasa sepi. Levi tidak masuk dan Hanji sedang sibuk dengan urusan OSIS. Sedikit banyak, Mikasa sadar kalau selama ini ia juga tidak banyak bergaul dengan sisa teman sekelasnya.
Untung saja, Petra, Mike dan teman-temannya dengan ramah menghampirinya. "Mau bergabung bersama kami, Mikasa?" tawar gadis itu ramah.
Mikasa hanya tersenyum. Malu untuk mengakui kalau ia sendiri tidak begitu akrab dengan yang lain. Mungkin, ia belum tahu nama dari setengah siswa di kelas ini.
Tak ada pembicaraan yang terjadi untuk beberapa saat. Baik Mikasa maupun Petra tak tahu topik apa yang sebaiknya mereka bahas.
"Mikasa, apa kau tahu, Levi sakit apa? Tidak biasanya ia sakit." Tanya Mike, sedikit penasaran sambil membuka topik. Menurut pemuda itu, Levi adalah topik terbaik yang dapat mereka bahas untuk sekarang,.
Mikasa pura-pura tidak begitu mengetahui masalah Levi, ia tak ingin membuat teman-teman sekelasnya curiga. Ia menjawab dengan nada yang dibuat sedikit ragu, "hm, yang kudengar dari Hanji tadi pagi, katanya Levi mengalami cidera kaki."
Kebanyakan dari mereka tidak tahu harus berekspresi seperti apa, antara kaget dan bingung. Jarang-jarang Levi sakit, apalagi sampai terluka. Tiba-tiba, Petra mengusulkan, "meskipun belum tiga hari, bagaimana kalau kita mengunjunginya saja? Err, maksudku, sebagai teman, mengapa tidak?"
Mike mengangguk setuju. "Mengapa tidak? Lagipula aku tidak yakin kita dapat melakukan seleksi pemain basket hari ini. Hanji sedang sibuk, padahal aku butuh bantuannya. Kita dapat mengunjungi Levi sepulang sekolah. Ide yang bagus, Petra." Puji Mike yang membuat Petra sedikit salah tingkah.
"Um, tapi, apakah kalian tahu alamat rumah Levi?" tanya Mikasa di sela-sela percakapan.
Petra berfikir, benar yang dikatakan Mikasa. Levi begitu jarang bergaul dengan mereka, sehingga mereka bahkan tidak tahu alamat Levi. Bagaimana caranya mereka dapat mengunjungi Levi? Sepertinya Mikasa juga tidak mengetahui rumah pemuda itu.
Lain halnya dengan Mike. Pemuda itu tersenyum dengan percaya diri. "Tenang saja. Aku memang belum pernah ke rumah Levi, tapi Erd sudah, ya, kan?" ujar Mike.
"Ehm, ya, aku pernah ke sana sekali. Ku rasa, aku masih ingat lokasinya." Jawab Erd.
"Baiklah kalau begitu. Sudah ditetapkan, sepulang sekolah kita akan mengunjungi Levi!" Ucap Mike semangat.
"Oi, Mike, kau tak perlu semangat seperti itu, kan? Tampaknya kau bukan semangat karena ingin mengunjungi Levi." tegur Erd, tapi Mike tak perduli, pemuda itu masih larut dalam semangatnya. Diam-diam, Mikasa menyunggingkan senyum kepada mereka.
…
"Kau serius ini rumahnya, Erd?" tanya Mike tak yakin. Selepas sekolah, mereka benar-benar melaksanakan rencana untuk membesuk Levi. Tak hanya Mike, Petra dan Erd, tapi juga anak-anak ekskul basket, sebagian besar ikut mengunjungi Levi. Bahkan Petra sempat membeli buah-buahan di perjalanan mereka tadi.
"Hm, kalau Levi belum pindah rumah, ya, memang ini rumahnya." Jawab Erd, sedikit tak acuh.
"Bagaimana kalau sampai salah?" tanya Mike lagi. Sebenarnya ia tidak perlu begitu ragu kalau rumahnya biasa saja. Tapi rumah ini, dapat digolongkan sebagai rumah mewah. Mike memang sudah menduga kalau Levi adalah orang kaya, tapi tak menyangka kalau rumahnya saja semewah ini. Bahkan arsitektur luarnya saja sudah membuat Mike merasa minder.
"Sudahlah, lebih baik kita bertanya dulu kepada pemilik rumahnya." Lerai Petra, walaupun ia sendiri tidak yakin. Sementara Mikasa hanya mengamati rumah itu tanpa minat. Ia tak begitu terkejut sebenarnya, tapi sejak ia tak tahu apa-apa mengenai keluarga Levi, ia tak dapat memperkirakan seperti apa rumahnya. Namun yang membuat gadis itu menjadi ragu adalah menyadari betapa sepinya rumah itu. Rumah itu seakan-akan dingin, hampir tak berpenghuni.
Meskipun Petra sudah menyarankan untuk mengetuk pintu rumah itu, baik Mike maupun Erd tidak ada yang bergerak. Apalagi yang lainnya, tentu saja tidak akan bergerak. Karena kesal, Petra menggandeng Mikasa, dan menarik gadis itu untuk mengetuk pintu rumah itu. Mikasa sebagai korban kaget karena perlakuan Petra yang tiba-tiba hanya bisa mengikuti teman sekelasnya itu dengan sedikit terseret-seret.
Petra mengetuk pintu kayu itu dengan lembut, kemudian menyapa, "selamat siang."
Sepertinya mereka beruntung. Sebuah suara feminim menyambut mereka. Mikasa merasa suara itu tidak begitu asing untuk telinganya. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka setengahnya, menampakan sosok gadis yang tadi menjawab sapaan Petra.
"Hanji?" Petra tak menyangka orang yang akan ditemuinya adalah teman sekelasnya sendiri.
Hanji sendiri tidak kalah herannya melihat Petra, Mike, Erd, beserta teman-teman sekelasnya yang lain datang mengunjungi kediamannya. Bahkan Mikasa juga datang. Semenjak ia tinggal bersama keluarga Levi, baru kali ini ada yang datang ke rumahnya. 'Ada apa ini?' pikirnya dalam hati.
Untunglah, Mikasa segera mengerti keadaan yang terjadi. Gadis itu mengambil inisiatif untuk menjelaskan maksud mereka untuk datang. "Um, Hanji, kami dengar Levi mengalami cedera kaki. Kami datang ke sini untuk menjenguknya."
Setelah mendengar penjelasan Mikasa, Hanji segera paham maksud mereka. Cepat-cepat, dibukanya pintu itu sehingga terbuka sepenuhnya, mempersilahkan mereka untuk masuk.
Hanji segera membawa mereka untuk langsung menuju kamar Levi. Kamar itu luas, seperti yang mereka kira. Namun di dalamnya tidak terdapat banyak perabot, apalagi yang mewah-mewah. Di dalam kamar itu, hanya ada sebuah kasur, meja belajar, kursi, dan beberapa peralatan elektronik. Yang mengejutkan, kamar itu sangatlah rapi, mengingat ini adalah kamar cowok.
"Kalian mau apa?" tanya Levi tak ramah begitu pintu terbuka, seperti biasanya. Meskipun ia tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya, mengapa mereka datang ke rumahnya.
"Bagaimana keadaanmu? Ku dengar kakimu mengalami cidera." Mike bertanya dengan perhatian, berusaha mengabaikan sapaan kasar temannya itu.
"Kau dapat lihat sendiri. Tch, menyebalkan sekali, serasa menjadi orang lumpuh." Levi menggerutu, entah untuk menjawab pertanyaan Mike barusan atau hanya untuk dirinya sendiri.
"Sudahlah Levi, kau tampak jauh lebih baik dari kemarin." Komentar Hanji, sambil membuka jalan, mempersilahkan para tamu untuk mengisi ruangan itu.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Petra sambil meletakkan buah-buahan yang ia bawa di atas meja, melanjutkan pembicaraan mereka. Baik Levi maupun Hanji menatapnya tidak mengerti. Sehingga Petra memperjelas pertanyaannya. "Maksudku, kenapa kaki Levi bisa sampai cidera?"
"Err, ya, kemarin dia jatuh dari tangga saat mengganti bola lampu yang mati." Ujar Hanji, cepat-cepat mengarang sebuah alasan. Tidak mungkin mereka mengatakan alasan yang sebenarnya, kan? Hanji hanya mengalihkan pandangannya dengan gugup ke arah Levi, berharap bantuan pemuda itu untuk meng-iyakan alasannya. Sayangnya, pemuda itu hanya menatap mereka bosan.
"Apakah yang terluka adalah kedua kakinya? Atau hanya salah satunya?" tanya salah seorang diantara mereka. Sementara Petra masih memikirkan jawaban Hanji barusan.
"Well, keduanya memang terluka, tapi yang satu tidak separah yang lain, kukira." Hanji yang menjawab lagi, mencoba mengingat-ingat informasi yang didapatnya.
"Kapan kau berencana untuk kembali ke sekolah, Levi?" tanya Mike, kali ini mengarahkan pertanyaan itu langsung kepada objek pertanyaannya. Ia ingin mendengar langsung jawaban darinya.
"Tiga hari lagi, mungkin?" Levi terdengar tidak yakin dengan pilihannya. "Kurasa kakiku sudah dapat digunakan pada saat itu, tapi tentu tidak untuk aktivitas berat seperti olahraga." Levi menyiratkan sesuatu di balik kalimatnya itu. Ia yakin, Mike mengerti maksudnya.
"Yeah, tentu saja. Sangat disayangkan kau tak dapat bergabung dengan tim basket, Levi." Sesal Mike, tampak merasa sedikit kecewa. Namun, tak lama kemudian, sebuah senyum memancar dari wajahnya. "Tapi, yang terpenting kesembuhan kakimu, Levi. Ya kan teman-teman?" tanyanya kepada yang lain.
Sepeti Mike, yang lain mulai tersenyum kepada Levi, seakan-akan ingin memberinya semangat untuk cepat sembuh. "Ya, tentu saja." Levi mendengar salah satu dari mereka menyahuti ucapan Mike. "Ya, ya, cepat sembuh, Levi!" sambung yang lainnya.
Levi terdiam, terkejut mendengar ucapan-ucapan penyemangat dari teman-temannya. Ada suatu emosi yang muncul dari dalam dirinya, membuat hatinya terasa hangat. Terharu, mungkin? Entahlah. Bagaimanapun, Levi tetaplah Levi yang tidak akan mengakui emosi yang muncul dari dalam dirinya dengan mudah. Pada akhirnya, ia hanya menjawab, "tch, tentu saja aku akan sembuh." Namun kali ini, ia membiarkan senyum tipis terlukis di wajahnya.
Mikasa mengamati hal itu, sedikit banyak puas dengan kondisi yang ada. Ia sengaja memilih untuk tidak berkata-kata sama sekali, karena ia ingin yang lain berinteraksi dengan Levi lebih banyak di saat sensitifnya.
Setelah merasa kedatangan mereka cukup lama, Mike dan yang lainnya memutuskan untuk undur diri.
"Ya, aku pikir, sebaiknya kami pulang sekarang. Kau membutuhkan waktu istirahatmu, kan, Levi?" tanya Mike, sedikit menggodanya dan dijawab dengan anggukan bosan Levi.
"Aa, Mikasa, kau ikut pulang bersama kami?" tanya Petra, melihat Mikasa masih tidak menunjukkan tanda-tanda untuk bergerak.
"Tidak. Aku masih ingin mengobrol dengan Hanji lebih banyak." Jawab Mikasa dengan kalem. "Aku bisa pulang sendiri, nanti." Lanjutnya meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu, kami pulang dulu." Erd berujar, mengajak yang lain untuk segera pulang. Satu per satu memberi salam kepada Levi, setelah itu, Hanji membawa mereka untuk keluar dari kamar itu. Suasana kamar itu mendadak jadi sepi,
Mikasa menghela nafasnya sebelum ia memulai pembicaraan. "Bagaimana?" tanya gadis itu ambigu.
"Bagaimana apanya?" tanya Levi, membalikkan perkataan gadis itu.
"Kau masih ingat taruhan itu, kan? Jangan katakan kau sudah lupa." Ujarnya pura-pura kecewa.
"Tch, memangnya apa hubungannya dengan taruhan itu?"
"Tidakkah definisimu tentang pertemanan berubah sekarang. Kau sudah melihat sendiri, kan, mereka tidak memandang siapa dirimu. Kalau mengingat perilakumu terhadap mereka, mereka tak akan repot-repot datang mengunjungimu, kau tahu kan?" sindir Mikasa, membuat Levi berfikir lebih lagi.
"Ini pasti idemu." Levi masih masih belum mau mengakui isi hatinya.
"Tidak, tuan aktor. Ini semua adalah ide Petra." Jawab Mikasa, dengan senyum misterius.
"Petra?" Levi mengulangi nama orang yang mencetuskan ide itu, tak percaya.
"Kalau aku ingat, kau tak pernah bersikap ramah kepadanya. Mengejutkan, sebenarnya, gadis itu masih mau repot-repot mengunjungimu, bahkan membelikanmu buah. Dia baik sekali." Mikasa sedikit menyindir Levi.
Levi masih setia dalam diamnya. Ia tidak menyangka kalau masih ada orang yang seperti itu di dunia ini. Sedikit banyak, ia mulai menyadari kalau pendapatnya mengenai pertemanan tidaklah selalu benar, masih ada orang seperti Petra, Mike, dan yang lainnya."
Mikasa tertawa kecil, melihat Levi. "Well, well, Mr. Levi, will you admit it right now?" tanya Mikasa.
"Dan, apa yang harus kuakui, nona Mikasa?" Levi tahu maksud gadis itu, ia hanya terganggu dengan hal itu dan lebih lagi, harga dirinya menahannya untuk mengakui hal itu.
"Kau tahu maksudku. Aku ingin kau mengakui bahwa kau telah salah menilai seorang teman." Mikasa berkata dengan serius.
"Aku yakin, hanya karena mereka mengunjungiku sekali, hal itu tidak akan mengubah banyak pendapatku, Ackerman. Bisa saja hal ini terjadi secara kebetulan." Ucap Levi mengelak, masih tidak mau mengakuinya.
Mikasa menghela nafasnya lagi. Ia tidak begitu kecewa sebenarnya, toh ia sudah memperkirakan hal ini sebelumnya, Levi tidak akan mengakui sesuatu dengan mudah. Mikasa tidak melanjutkan percakapan mereka, lebih karena ia sendiri tidak tahu harus berkata apa. Sementara Levi, lebih memilih untuk melihat ke arah lain, ke manapun, kecuali ke arah teman satu kelasnya ini.
Tak ada yang berbicara hingga Hanji memasuki ruangan itu. "Syukurlah kau belum pulang, Mikasa, sejujurnya ada yang ingin kubicarakan denganmu." Itulah yang dikatakan gadis berkacamata itu begitu ia memasuki kamar.
"Hm? Masalah apa? Aku harap hal itu tidak berkaitan dengan keputusanku kemarin." Mikasa berusaha menanggapi dengan tenang, tapi Levi dapat melihat kepalan tangan di pangkuan terkepal Mikasa semakin erat.
Hanji hanya tertawa kecil, sedikit hambar, "ya sebenarnya itu yang ingin kubicarakan. Bukankah sayang sekali untuk melewatkan kesempatan ini?"
"Tidak juga. Aku sudah menolak banyak tawaran yang lebih besar. Mengapa aku harus menerima tawaran ini?" tanya Mikasa balik. Hanji tidak siap untuk menjawab pertanyaan itu, sementara Levi tidak berniat untuk menjawabnya. "Lupakan saja. Jadi bagaimana penyutingan filmnya? Harus kuakui, kalian berada dalam posisi yang buruk." Sesal Mikasa.
"Terakhir yang kudengar, sang sutradara menundanya, tak ada yang tahu sampai kapan." Jawab Hanji.
"Tch, paling cepat, seminggu lagi mereka baru akan melanjutkan syutingnya. Kakiku tak akan bisa digerakkan dengan baik sampai waktu itu, dan mereka perlu menyeleksi orang yang menggantikan Annie." Levi menggerutu lagi.
"Kau lebih penggerutu dari biasanya Levi, apakah itu karena kakimu?" Mikasa menggoda Levi, menyeringai. Hanji sedang mengambil buah yang diletakkan Petra tadi, berencana mengupasnya untuk Levi.
"Pastikan mereka benar-benar bersih, Hanji." Pesannya sebelum Hanji keluar untuk mencuci buah-buahan tersebut.
Mikasa masih menyeringai memandang Levi. "Apa yang kau inginkan? Salahkan hampir semuanya kepada kakiku. Yang satunya lagi bahkan hampir tidak dapat kugerakkan tanpa mendapat rasa sakit." Kali ini Levi berbicara kepada Mikasa yang duduk di sebelah tempat tidurnya.
"Minimal, kau dapat belajar untuk bersyukur. Banyak yang lebih malang darimu, kau tahu?" Ujar Mikasa, kalem. Levi dapat merasakan mata Mikasa yang menatapnya seakan-akan menembusnya, membuka matanya akan dunia ini. Banyak yang lebih tidak beruntung darinya. Ia masih beruntung karena cideranya hanya untuk beberapa hari, bagaimana mereka yang mengalami kelumpuhan total? Atau mereka yang tidak dapat berjalan sejak kecil?
Tiba-tiba, hp Mikasa berbunyi. Gadis itu cepat-cepat menerima telepon masuk itu. Terdengar nada yang kurang ramah di telinga Levi, meskipun ia tak dapat mengetahui isi kalimat itu dengan jelas. Senyum gadis itu menghilang, sedikit cemas. "ya, maaf. Sebentar lagi aku akan ke sana." Ujar gadis itu di telepon.
Setelah Mikasa menutup teleponnya dengan wajah sedikit murung, Levi bertanya, "kau harus pulang, kan?"
Mikasa hanya mengangguk sebagai jawabannya. Tampaknya ia masih ingin tinggal lebih lama.
"Pulanglah, kau dapat ke sini lagi, kan?" ucap Levi, nada suaranya terdengar lebih lembut kali ini. Ia menatap Mikasa, berusaha membujuknya. Namun sepertinya, gadis itu masih tetap ingin tinggal lebih lama.
"Jangan merepotkanku. Aku belum mendapat cukup istirahat untuk kakiku, kau tau." Kali ini, Mikasa tersenyum kecil mendengar ucapan Levi yang dapat digolongkan sebagai ucapan kasar. Ia langsung beranjak dari kursinya.
"Baiklah. Aku akan pulang." Ucapnya lebih ceria.
"Tch, cepatlah. Aku tak ingin orang di rumahmu mengganggu ketenangku." Ucapnya sambil memalingkan wajahnya. Mikasa hanya tertawa kecil. Perlahan, ia menuju pintu dan membukanya pelan, sebisa mungkin ia tidak menimbulkan keributan. Levi tidak mengucapkan apa-apa lagi. Tapi sebelum pintu itu benar-benar terututup, gadis itu dapat mendengar kalimat yang diucapkan dengan nada rendah, khas Levi, "hati-hati di jalan."
…
TBC
Author's note:
Setelah 3 bulan lebih akhirnya Yuki bisa update~ *menghembuskan nafas lega*
Sepertinya ngga banyak yang berubah untuk fic ini, panjang ficnya juga belum bisa Yuki panjangin lagi. Yuki cuma ngarep kalau reader sekalian belum bosan sama fic ini ;D
Oke, ini balasan review untuk yang non log in:
muss memang ada sesuatu di masa lalu Mikasa yang membuat dia stop berkarir di bidang acting. Begitu pula dengan suatu organisasi *Annie memang salah satu anggotanya* yang ingin menggagalkan film itu, bisa dibilang pesaing mereka gitu.. thanks udah review yaa :D
Yuki tetap mengharapkan berbagai respon dari reader sekalian, baik itu komentar, kritik, ataupun saran terhadap fic ini yang tentu saja dapat dituangkan melalui REVIEW!
"setiap review dari anda sangat berarti bagi Yuki :D"
Salam hangat,
Yuki sukoshi
18 Mei 2014
