"Library is Love"
By : Amanda Lactis
Chapter 6 : Hitam di atas Putih
Naruto sedang mengidap penyakit yang sedang mewabah di masyarakat kebanyakan. Dengan gejala, murung seharian, tidak nafsu makan dan gejala yang paling mengganggu Ino selama seminggu ini adalah Naruto keranjingan mengunjungi perpustakaan kota dengan dalih meminjam novel keluaran terbaru.
"Kau bahkan belum membaca lima novel yang kemarin kau pinjam dan sekarang kau ingin ke sana lagi?! Demi Tuhan, Namikaze Naruto! Bangunlah! Kau tidak bisa terus-terusan begini!"
Ino mengacak surai blondenya, turut frustasi akan sikap sahabatnya. Mulanya ia ingin membiarkan Naruto, tapi melihat kondisi gadis itu yang makin parah membuat hatinya tergerak untuk menjedotkan kepala sahabat pirangnya ke dinding sekolah. Shikamaru saja sampai tidak mau berdekatan dengan Naruto dalam jarak minimum lima meter. Alasannya? Takut tertular penyakit gadis itu. Memangnya penyakit apa yang diderita Naruto sampai semua orang mendadak heboh?
GALAU.
G-A-L-A-U. Yes. Lima huruf dalam satu kesinambungan, sederet huruf yang menyimpan banyak kepedihan dan kemunafikan tak beralasan. Naruto enggan mengakui jika dirinya tengah galau karena seseorang. Tunggu. Memangnya orang yang dibahas juga merasakan hal yang sama?
"Ini makanlah! Aku tidak mau maag mu kambuh!" seru Ino mengambilkan sebuah sandwich dan menyodorkan nya tepat di depan mulut Naruto. Tapi sekali lagi, agaknya Naruto ingin menyulut api emosi dalam hati Ino, dia menggeleng dan menjauhkan sandwich itu dari hadapannya.
"Aku bilang makan, dasar anak nakal! Bilang saja kau rindu dengan Uchiha-san-mpphh!"
Naruto segera membekap mulut Ino yang sedang melontarkan sebuah kalimat terlarang. Kantin sepi, dia membatin penuh kelegaan. Ino meloading tindakan Naruto, ia mengangguk perlahan dan meminta Naruto untuk melepaskan bungkaman nya. Keduanya menghela nafas lega.
"Jangan keras-keras, dinding juga memiliki telinga. Mata-mata Karin tersebar di sekolah ini."
Ino mendengus. "Begitu saja kau takut, kau sendiri memiliki kekuasaan lebih tinggi darinya. Uzumaki-sama mengakuimu sebagai cucu, ingat?" bisiknya membuat bulu kuduk Naruto meremang. Tapi itu memang benar. Sayangnya, Naruto enggan menerima tawaran menggiurkan yang diberikan Jiraiya tiga hari lalu. Pria tua itu bahkan meminta dengan wajah memohon yang menyedihkan, agar Naruto mau mengganti marga dan tinggal di Mansion Uzumaki.
"Baka, meski aku mengidamkan surga duniawi sekalipun aku tak mau terjerumus dalam keserakahan." Naruto menyahuti cuek. Baginya, harta hanyalah aksesoris. Uang memang dibutuhkan, tapi tidak semua di dunia ini bisa dibeli dengan uang. Selama ia bisa mempertahankan konsep dasar dalam berkehidupan, bersyukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan, Naruto bisa menjamin kebahagiaan nya. Kurama sering berpesan, jangan pernah termakan oleh nafsu, dendam dan keegoisan. Mereka bisa sangat berbahaya bila kau sudah jatuh terlalu dalam.
"Dasar kau ini, kau bisa hidup bergelimang harta, Uzumaki is awesome ya know?"
"And I don't like it, I'm happy with my own life, I don't regret it. I'm happy, okay?"
Entah kenapa Naruto mulai fasih berbahasa Inggris, mungkin efek membaca novel terjemahan di perpustakaan kota. Ino mengendikkan bahu jenuh. "Setidaknya, jangan galau karena seorang lelaki, mengerti? Uchiha-san punya banyak koneksi, aku tidak mau si kaca mata turut menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya."
Naruto mendadak diam. "Perjodohan Uzumaki dan Uchiha, ya?" gumamnya pelan.
"Yeah, Itachi-san tidak mungkin dijodohkan dengan Karin, orientasi sexualnya menyimpang~"
Hening.
"Aku tidak pernah tahu kau mengenal Itachi-sama sedalam itu. Ino. Kau ada hubungan dengannya?"
Ino mengerjap. Otaknya mentransfer kalimat yang baru saja ia ucapkan, segera ia panic dan mencengkram kedua bahu mungil Naruto. "Lupakan apa yang aku ucapkan! Oke? Naru-chan, kau sahabat baikku, bukan? Ya kan?" ia mendesak dengan tatapan mata menyeramkan, kantung matanya kian menghitam akhir-akhir ini. Naruto mengangguk cepat, ia tidak mau mati muda hanya karena guncangan keras pada bahunya.
"Ne Ino, boleh aku bertanya sesuatu?"
Ino melepaskan cengkramannya dan kembali menjadi normal.
"Apa wajar jika aku jatuh cinta pada Uchiha-sama?"
TIK
TOK
TIK
"Katakan ini bohong, Naru. Kau? Jatuh cinta pada lelaki dewasa yang memiliki selisih umur enam tahun denganmu? Kau serius, Namikaze Naruto? Atau aku perlu menemanimu untuk memeriksakan diri ke Rumah Sakit?"
Naruto memiringkan kepalanya polos, "Tidak boleh ya?" tanya nya.
Ino menepuk keningnya, kadang, memiliki teman yang kelewat polos memang merepotkan. Dan Naruto adalah contoh nyata dari kesialan itu. Entah ia harus senang akhirnya gadis itu menjadi dewasa dan mengenal cinta atau prihatin karena bukan tidak mungkin Sasuke menolak cintanya.
.
.
Tsunade sedang memikirkan sesuatu. Dia memperhatikan sikap suaminya yang kian aneh dari hari ke hari. Jiraiya tak lagi mengungkit masalah perjodohan yang sempat ia agungkan. Jiraiya mulai meluangkan waktunya untuk makan bersama Tsunade, dan yang lebih mengejutkan Jiraiya jadi sering tersenyum padanya! Apa yang tidak ia ketahui? Apa yang sudah terjadi pada suami nya? Apa Tuhan mulai menunjukkan keadilannya?
"Sesuatu terjadi? Tidak biasanya kau makan malam di mansion." tanya Tsunade mengiris steaknya dan mengunyahnya perlahan. Jiraiya menggeleng dan menyesesap wine pilihan kepala koki.
"Aku baru menyadari, keegoisan ku sudah menghancurkan keluarga ini." Jiraiya menyahuti kalem, nada bijaksana menguar mengiringi ucapannya. Tsunade terhenyak. Suaminya perlahan kembali menjadi sosok yang ia cintai dulu. Sosok yang begitu biijaksana dan berhati lapang.
Nagato berdehem. "Ayah, apa yang kau bicarakan? Kau tidak egois sama sekali."
"Tidak, nak. Aku bertemu seseorang, dia begitu baik dan menuntunku ke jalan yang benar. Matahari yang bersinar begitu terang telah memasuki kehidupan motone ku."
Ternyata selain perubahan positif lainnya, Jiraiya mendadak puitis dan sedikit berlebihan dalam menyusun kata. Tsunade tersenyum maklum.
"Kau, bertemu dengan 'dia'?" tanya Tsunade hati-hati, takut menyinggung hati suaminya. Namun sebaliknya, Jiraiya tersenyum hangat, meraih sebuah tisu bersih dan mengusap noda bumbu pada sudut bibir istrinya, lembut dan penuh perhatian. "Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik hati. Tipikal Kushina semasa remaja."
Nagato menegang. Dia tak pernah menyangka rencana nya hancur begitu saja, hanya karena kesalahan kecil akibat ia terlalu fokus dalam menyerang Itachi tanpa memikirkan putri dari cinta pertamanya bisa saja muncul di waktu yang tidak terduga. Jiraiya pasti sudah mulai mengendus aksi nya, pria itu meski terlihat bodoh, tetapi ia memiliki tekad yang kuat. Nagato menggenggam garpunya erat, mencoba menetralkan nafas nya yang mendadak terengah, ia merasakan jantungnya berdetak kencang.
'Kau, gadis sialan. Beraninya kau menghancurkan rencana yang sudah ku bangun selama tiga belas tahun' batin Nagato menggeram emosi.
"Siapa 'dia' yang dimaksud Ibu, ayah? Apa dia orang yang penting bagi keluarga ini?"
Jiraiya tersenyum. "Tentu saja. Dia keponakanmu, Namikaze-Uzumaki Naruto, cucu ku, putri kandung dari mendiang Kushina."
PYAAARRR!
Pecahan gelas terburai di atas lantai marmer. Tsunade merasakan tangannya gemetar tiada henti. Matanya terbelalak, hatinya resah, seperti intuisi nya memberitahunya sesuatu yang buruk akan segera terjadi.
"Tsunade! Apa kau terluka? Apa yang terjadi? Shi! Cepat bawa Tsunade ke kamarnya!"
Dengan patuh Shi muncul dan menuntun Tsunade, dia memapah wanita itu dengan hati-hati, takut majikannya bisa terluka. Mata nya tak sengaja bertatapan dengan Nagato, lelaki itu tengah tersenyum bengis, menyampaikan puluhan rencana jahat dibalik sikap santun nya.
'Tidak. Kita tidak akan kalah semudah ini.' ujar Shi dalam hati.
.
.
.
"Masih salah, ulangi! Dan jangan coba untuk pulang sebelum proposal ini benar-benar sempurna, Uzumaki-san." Kurama menghela nafas panjang, memunguti beberapa map merah yang dibuang dengan keji oleh Itachi. Pria itu benar-benar kejam sejak mereka putus. Bukannya apa, tapi Kurama merasa jam kerja nya menjadi lebih banyak dari biasanya. Dan, Itachi mulai memberlakukan lembur! Sasuke yang memang boss nya saja tidak suka adanya jam malam, itu hanya menambah beban pegawai dan menurunkan produktivitas dari pegawai itu sendiri, dan imbasnya akan merugikan perusahaan nya. Sasuke realistis, Itachi yang dinamis dengan emosi naik turun bagai roll-coaster.
"Baik, saya mengerti. Saya undur diri, Uchiha-sama."
"Hn. Jangan lupa kau juga ada tanggungan melaporkan pengeluaran dana satu bulan lalu. Oh surat pemesanan dari client belum sampai di tanganku, aku sudah mengatur meeting besok pagi jangan lupa kau siapkan segala sesuatunya, mengerti Namikaze-san?" Kurama bersumpah lahir batin, Itachi tengah mengumbar senyum pongah di wajah tampannya, seolah mengejek betapa berkuasa ia karena nama Uchiha menempel dibelakang namanya.
Kurama diam, tarik nafas, lalu keluarkan. Ia lakukan sampai sepuluh kali guna mengurangi efek dramatis yang dihasilkan suasana di ruangan Itachi. Kalau saja Sasuke tidak meminta izin untuk hijrah ke Konoha dengan alasan tidak bermutu seperti,
"Aku rindu dengan adikmu, biarkan aku menemuinya untuk yang terakhir kalinya sebelum aku menyetujui perjodohan ini."
Kurama sih ingin menggampar Sasuke kalau bisa, hanya saja ia sayang nyawa dan masih ingin menguliahkan adik nya, jadi dengan terpaksa Itachi menggantikan Sasuke sampai pria itu kembali, dan Kurama berharap Sasuke begitu baik untuk tidak berlama-lama di Konoha, bila perlu cukup satu minggu penyiksaan bersama Itachi.
Saat Kurama hendak memutar knop pintu dan melangkah keluar, suara Itachi mengusik gendang telinganya dan menghentikan langkah kakinya.
"Mau sampai kapan kita bersikap begini, Ku-chan?" nada bicaranya berbeda. Terselip rasa rindu, kesepian dan pedih dalam untaian kata yang Itachi lontarkan. Tangan Kurama gemetar, sekuat tenaga mencengkram knop pintu berbahan aluminium, urat tangannya timbul akibat tekanan pada knop pintu tersebut.
"Setidaknya, kita tak perlu saling menyakiti, bukankah begitu?" balas Kurama pelan.
TAP
TAP
TAP
Itachi menyentuh permukaan tangan Kurama, menggenggam nya seolah mereka akan terpisah dalam jangka waktu lama, pria itu merapatkan tubuh atletisnya pada tubuh Kurama, menyesap aroma mint yang masih bisa ia ingat saat mereka berpacaran dulu. Kurama mendadak kaku. Tangan kirinya yang tadinya memegang map, kini berganti mengusap surai hitam Itachi lembut, mencoba menguatkan lelaki itu untuk bertahan sedikit lagi.
"Aku mencintaimu, sialan, jangan menyerah semudah ini. Sudah, lepaskan aku."
Tapi Itachi enggan melepaskan diri, justru ia semakin merapatkan tubuhnya, tangannya berganti memeluk tubuh Kurama yang lebih kecil darinya, posesif dan tidak terbantahkan, ciri khasnya sejak dulu. Dengan nakal ia meniup leher Kurama yang memang titik sensitive pria garang itu.
"Hei-"
"-kau mau ku pecat, Ku-chan?"
"Cih, seenaknya saja." Kurama mendecih sebal, membiarkan mantan kekasihnya menyalurkan kerinduan yang sudah lama ditahan. Itachi mulai berani melanjutkan aksinya dengan mendaratkan beberapa kecupan pada tengkuk bagian belakang Kurama, kecupan bermakna penuh hasrat akan kepemilikan, kerinduan dan cinta.
CEKLEK
"Hoi Itachi-san aku-"
Hening. Suigetsu bingung, dia harus berteriak lantaran kaget, atau malu karena memergoki aksi nakal boss dan seniornya di kantor.
"A-anu, aku, hmmm…silahkan dilanjutkan saja, Haha." Suigetsu membalikkan tubuhnya dan melangkah maju tapi sepertinya dewi Fortuna membencinya saat Itachi malah memanggilnya kembali.
"Sepertinya kau membawa informasi penting, benar?" pria bergigi hiu tersebut mengangguk pasrah, melihat adegan dimana Kurama dipaksa duduk di pangkuan Itachi membuat hatinya panas, efek terlalu lama sendiri memang fatal. Kurama jelas risih, apalagi ia jadi terlihat lemah dikarenakan posisinya sebagai –uhuk-uke-uhuk-. Harga diri nya jatuh, begitu anggapan nya secara sepihak.
"Errr, yeah. Kau tahu kan jika yang memberi usul akan perjodohan antara Sasuke dan Karin adalah Nagato? Kau juga tahu sendiri berapa kali kita mencoba menjebloskan nya ke penjara tapi nama Uzumaki melindunginya?"
Itachi mengangguk malas. Tangan nya menggerayangi punggung mulus Kurama yang dihadiahi delikan kesal dari pria itu.
'Sebenarnya kau mau dengar tidak sih?! Sudah tahu aku ini jomblo tega sekali pamer kemesraan di depanku. Dasar boss tidak pengertian' Suigetsu membatin uring-uringan.
"Ada dua kabar yang ku dapatkan. Baik dan buruk. Kau mau yang mana?"
"Buruk saja."
"Nyawa adik iparmu dalam bahaya, Itachi. Maksudku, kini Nagato tengah memfokuskan diri untuk melakukan sesuatu pada Naruto."
Itachi tetap tenang, meski Kurama dipangkuannya sudah memaki pelan, ia tetap mendengarkan lanjutan dari informasi yang diberikan Suigetsu.
"Shi-san bilang jika besok malam, aku tidak tahu pastinya, tapi kemungkinan sesuatu akan terjadi pada Naruto. Melihat gelagat Nagato yang begitu mencurigakan, apalagi Jiraiya-sama sudah mengetahui identitas Naruto yang sebenarnya."
DEG!
"Itachi, kita harus melakukan sesuatu, adikku..adikku dalam bahaya!"
"Sshh! Tenang, aku dan Sasuke memiliki banyak koneksi, kami sudah diam-diam merencanakan kehancuran Nagato, jangan khawatir, Ku-chan." Itachi menenangkan kekasihnya dengan menangkup kedua pipi Kurama lalu mendaratkan ciuman panas pada bibir tipisnya. Suigetsu berdehem keras, pura-pura tersedak untuk menyadarkan kedua orang di depannya.
"Lalu kabar baiknya?"
"Aku berhasil melacak salah satu anak buah Nagato, butuh banyak usaha untuk membujuknya menjadi pihak kita, dan untungnya dia bersedia memberi informasi dengan syarat identitasnya tetap dirahasiakan."
Itachi tersenyum, memuji Suigetsu degan tulus atas kerja kerasnya. "Akan kuberi bonus di akhir bulan, nah sekarang silahkan keluar karena aku ingin bermesraan dengan Ku-chan." Suigetsu tersenyum kecut, menyeret pantatnya untuk meninggalkan pasangan yang tengah dirundung mabuk cinta. Tahu begini lebih baik dia ikut kopdar saja, siapa tahu ada gadis yang mau menjadi kekasihnya.
.
.
.
Atas ijin dari Ino, Naruto berhasil mendatangi perpustakaan kota dengan syarat tidak meminjam novel apapun, toh tujuan dia yang sebenarnya bukanlah mengincar novel yang ada di sana. Ada seseorang yang ingin ia temui. Dengan malas, berbekal topi baseball kakaknya, ia menuntun kakinya menuju rak buku dimana ia bertemu dengan Sasuke untuk pertama kalinya. Tapi tunggu. Ada sosok mencurigakan di sana. Sosok itu tinggi, memakai jas hitam, dengan tatanan rambut yang familiar dalam ingatannya. Itu Uchiha Sasuke?
"Sasuke-san? A-apa yang kau lakukan di sini?" tanya Naruto tergagap, perasaan senang membuncah di hatinya, meluber sampai senyum tak kunjung hilang dari wajahnya. Tapi nampaknya Sasuke tidak mendengar suaranya dengan jelas, karena pria itu sibuk memilah buku-buku yang berjejer rapi, bahkan menoleh saja tidak.
"Ano, Sasuke-san? Halo?"
Pria itu menoleh. Oh tidak, Naruto salah mengenali orang ternyata. Orang itu bukan Sasuke, dari segi fisik memang mirip tapi rambutnya tidak mencuat seperti Sasuke, malah klimis dan rapi.
"Oh halo, nona. Ada yang bisa aku bantu?"
Naruto malu bukan main, dia menggeleng. "Maaf, sepertinya saya salah orang."
Pria itu tertawa kecil. "Banyak yang salah mengira aku adalah Sasu-chan, padahal kami jelas berbeda." terangnya geli. Naruto mengerjap. Ada hubungan apa orang ini dengan Sasuke-san, pikirnya heran.
"Kami sepupu jauh, secara spesifik begitu. Iya kan, Sasu-chan?"
"Berhenti memanggilku begitu, Sai."
Naruto terlonjak kaget saat mendengar suara Sasuke, ya Sasuke yang asli, bukan yang gadungan seperti pria di depannya. Kali ini Sasuke tampil casual, dia tidak mengenakan setelan jas mahal kebanggaannya seperti beberapa minggu lalu.
"Doumo, Sasuke-san." Naruto menyapa sopan, ditanggapi dengan datar oleh Sasuke.
"Bagaimana kabarmu? Dua minggu tak bertemu kau makin jelek saja, dobe."
"Hei! Itukah yang pantas diucapkan oleh pria dewasa?" sahut Naruto sengit, ia menyipitkan mata birunya, mencoba membuat Sasuke takut dengan tatapan matanya. Pria itu hanya tersenyum tipis dan mengacak rambut yang sudah ditata dengan rapi selama lima belas menit, rambut pirang Naruto tidak beda jauh saat ia bangun tidur sekarang.
"Dia pacarmu ya, Sasu-chan? Aku tidak tahu kau mengidap pedofilia."
KRIK
KRIK
"Hn? Aku tidak berminat pada bocah ingusan sepertinya. Yang ada hanya merepotkanku."
Demi Tuhan Sasuke memaki mulut sinis nya yang tidak bisa dikondisikan. Lihat! Naruto sampai membeku dengan raut wajah yang, terluka? Oh sial.
DEG!
Ulu hatinya sakit, alasan masih dipertanyakan saat Sasuke mengatakan hal itu. Naruto tidak suka saat Sasuke dengan santai berkata keji seperti itu, memang apa salahnya memiliki kekasih yang masih berstatus siswa? Lagipula, siapa juga yang berharap untuk menjalin kisah romantis dengan sang CEO Uchiha Corp?
"Aku memang bocah ingusan tapi setidaknya aku bukan gadis genit yang mengincar mu karena melihat tampang dan hartamu, Uchiha-san!"
Naruto melesat tanpa menatap Sasuke, hatinya masih berdenyut nyeri, kalimat itu terngiang dengan jelas di pikirannya. Ia tak yakin bisa tidur dengan nyenyak nanti malam.
'Sakit hati itu, begini ya rasanya? Ditolak tanpa sempat menyatakan, hahaha'
Tanpa sadar sebulir air mata menetes dari sudut mata nya, pertanda bila ia sudah tidak ingin membahas masalah cinta dan tetek bengeknya. Cinta itu menyebalkan. Kadang ia datang disaat yang tepat, membawa kebahagiaan dan menebarkan suka cita. Tapi di satu sisi, cinta memiliki kepedihan akan penolakan, dan cinta yang seperti itulah yang dihindari semua orang. Mereka menyebutnya, cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Aku juga baru tahu kalau kau sangat berbakat dalam menyakiti hati seorang wanita, Sasu-chan."
"Ck, diamlah, Sai."
.
.
.
"Na-Naru, apa yang terjadi? Kau tiba-tiba datang ke rumah ku tanpa pemberitahuan, kau ada masalah?"
Ino menepuk bahu sahabatnya, ia masih mengenakan piyama tidur, mempersilahkan Naruto masuk setelah gadis itu menggedor-gedor pintu kamarnya. Meski Ino bukan tipikal gadis yang peka nan sensitive, dia tahu ada yang ganjil di sini. Naruto tidak mengucapkan sepatah kata pun, penampilannya cukup berantakan. Biasanya, sepulang dari perpustakaan kota, Naruto terlihat sumringah dan ceria, seperti energinya terisi kembali sampai penuh. Tapi hari ini berbeda.
"Cinta itu, kenapa menyebalkan sekali? Untuk apa dia diciptakan jika hanya menyebabkan derita?"
Hening.
Ino bingung harus menyahuti dengan kalimat apa. Dia kan tidak pernah mengalami kisah se tragis Naruto yang belum apa-apa sudah di tolak duluan. Yang terpenting ialah, menenangkan Naruto, membuatnya tersenyum kembali.
"Hei Naru. Pernah dengar cinta tak harus saling memiliki?" Ino menyamankan posisi duduknya, merapikan rambut indah milik Naruto dan menangkup kedua pipi sahabat berisiknya itu. Ia tersenyum lebar. "Pasti kau berpikir itu menyakitkan, ya kan? Tapi menurutku, cinta memang memiliki cara kerja yang unik. Jangan menyerah semudah ini, baka. Aku tahu ini pasti mengguncang mentalmu, tapi selama kau bisa mendoakan kebahagiaan pria yang kau cintai, kurasa itu bukan hal yang sulit. Bagaimana?"
Naruto tetap diam, entah dia memang mendengarkan ocehan Ino atau pikirannya yang melayang entah kemana. Melihat gelagat Naruto, Ino kembali meneruskan kalimatnya.
"Kau bilang cinta itu menyebalkan? Memang. Suka dan duka itu satu paket. Tawa dan tangis juga satu kesatuan. Kalau tidak ingin bersedih ya jangan terlalu bahagia dan melupakan segalanya. Kalau kau ingin bahagia, kau harus merasakan kepedihan dengan derai air mata, barulah kau menyadari selama ini kebahagiaan itu ada di hatimu. Ada atau tidak hanya kau yang bisa menciptakan nya, Naru."
"Aku benci perasaan ini. Kalau memang dia tidak suka denganku, tak perlu mengucapkan kalimat kasar seperti itu, terlebih di depan orang lain." Naruto memukul ulu hatinya, sedangkan Ino merangkul gadis itu, menyalurkan kekuatannya agar Naruto terus bertahan meski hatinya terpecah menjadi bagian terkecil.
"Mungkin Uchiha-san bukan orang yang mudah mengekspresikan perasaan nya. Kau tahu sendiri bagaimana jalan pikiran pria dewasa, iya kan?"
"Lalu apa aku harus menyerah?"
Ino menggeleng. "Apa kau menyesal pernah jatuh cinta pada Uchiha-san? Apa kau ingin berhenti dan kembali ke kehidupan mu yang monotone?"
"…."
"Tidak, kan? Hei, bukan hanya pria yang perlu berjuang, kadang kala wanita juga harus memperjuangkan cinta mereka. Untuk itulah kita disebut sebagai mahluk yang kuat. Kau mengerti, Naru?"
"Aku mengerti…." Naruto menyahuti begitu lirih, dalam hati bersyukur masih ada yang peduli dan mau menghiburnya. Ia tak ingin membayangkan hidup tanpa kehadiran Ino di sisinya, meski kadang gadis itu bisa menjadi sosok menyebalkan dan usil, tapi hanya dia yang mengerti kondisi nya, hanya Ino yang mau mendengar keluh kesahnya. Hanya Ino tempat Naruto bersandar dan mengeluarkan air matanya.
"That's my bestie. Okay, sekarang, waktunya tidur! Besok hari Sabtu, jadi kau ada shift siang di café Gaara-san, ingat?"
Naruto mengangguk, ia berjalan menuju ranjang yang disediakan khusus untuknya, saking seringnya ia menginap di rumah Ino. Sementara Ino juga merebahkan diri di ranjang yang bersebelahan dengan Naruto. Mereka sama-sama mengumbar senyum.
"Kita ini jomblo tapi berkualitas, ya? Lucu sekali. Padahal aku tak memiliki pengalaman cinta tapi bisa menasehatimu."
Naruto terkikik. "Aku berdoa semoga Shikamaru segera menyadari perasaanmu, Ino." tak lama kemudian ia tertidur pulas, wajahnya begitu damai dan tenang, seperti pahatan sempurna karya sang pencipta. Ino mengeluarkan flip-phone nya dan mengetik sesuatu.
To : Big Boss
From : Y. Ino
Sub : Aman?
Naruto sedang menginap di rumahku, besok ia akan bekerja pukul sepuluh pagi dan pulang pukul delapan malam di café milik Sabaku-san. Ada yang lain, boss?
KRINGGGG!
Sepertinya bossnya sedang dalam mood yang baik karena membalas pesan nya begitu cepat.
To : Y. Ino
From : Crows
Sub : Pastikan lagi.
Jika kau sedang senggang awasi pergerakannya selagi ia bekerja, bila perlu minta pertolongan dengan rusa-mu itu. Kau mengerti, Ino-chan?
BLUSH!
Ino memerah malu. Bossnya ini memang handal dalam membuat sebuah kejutan. Manik aquamarinenya melirik sosok Naruto, secuil senyum tulus tersungging di wajahnya. "Tunggu sebentar lagi, Naru-chan. Kau berhak bahagia dengan keluargamu yang sesungguhnya. Aku akan membantumu."
.
.
.
Café bernuansa serba maroon itu sedang ramai, kebanyakan pelanggan yang datang adalah siswa atau siswi yang memang ingin mencari suasana yang pas untuk melampiaskan kekesalan akan tugas dan ujian yang tidak kunjung habis. Naruto seperti biasa, menyambut siapapun itu dengan senyuman manisnya, sampai ada beberapa lelaki datang hanya untuk dilayani oleh gadis itu. Pernah suatu kali, saat Naruto baru seminggu bekerja di sana, datang seorang pria kepala tiga yang mengaku jatuh cinta pada sosok ceria nya, otomatis itu membuat Gaara selaku boss marah besar dan mengusir pelanggan tersebut saat dirasa keadaan mulai tak terkendali. Sejak saat itulah Gaara tanpa sadar suka sekali mengawasi gerak-gerik Naruto, mengamati wajah cantiknya yang bersinar laksana mentari, atau cengiran lebar khas yang bisa mendamaikan hati nya. Gaara menyukai Naruto tanpa sebuah alasan. Pria itu tidak yakin sampai kapan menyembunyikan perasaan nya ini, tapi selama ia bisa menatap dan berbincang dengan Naruto itu bukan masalah baginya.
TRING!
"Konnichiwa, Goshujin-sama! Silahkan duduk." Naruto menyambut seorang pelanggan bergender pria dewasa, sepertinya pria itu sudah berumur lebih dari tiga puluh tahun, tapi paras tampannya masih tertinggal. Ia tersenyum kecil, berterima kasih dan memuji betapa cantik Naruto. Gaara yang melihat kejadian itu dari dapur mendengus sebal.
"Anda ingin memesan apa, tuan?"
Pria itu tersenyum, "Kopi Irlandia saja. Aku butuh wiski untuk menghilangkan stress."
Naruto tertegun, dia cepat-cepat menulis pesanan pria itu. "Hum! Ada lagi, tuan?"
"Tidak ada, terima kasih, nona. Tapi bisakah aku tahu siapa namamu?"
Naruto merasa de javu, ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Jiraiya sama seperti pria di depannya. "Namikaze Naruto, tuan. Anda sendiri?"
Pria itu tersenyum, hembusan angin membelai wajahnya, rambutnya yang berwarna merah bergoyang seirama. Mata kirinya tertutupi rambut tapi Naruto yakin pria itu tetaplah tampan.
"Halo, Naru-chan. Perkenalkan, aku adalah teman mendiang ibumu dulu."
"Benarkah? Kenapa kaa-san tidak pernah bercerita padaku ya? Memangnya anda siapa, tuan?"
"Aku? Aku hanyalah pria yang kehilangan cinta pertamaku. Ah iya, aku belum memperkenalkan diri…"
"…namaku Uzumaki Nagato. Yoroshiku ne, Naru-chan."
Nagato tersenyum. Senyum nya ganjil. Tapi Naruto tak bisa melihat kebengisan dibalik wajah nya yang ramah. Ia tak menyadari, itu saat terakhir dimana kehidupannya yang tenang, akan hancur.
To Be Continued
Note : Dan saya kembali! ^^ ada yang tertipu dan mengira saya bakal hiatus lama? Haha rencana memang gitu kok, saya gak menyangka banyak bala bantuan datang saat melanjutkan chapter ini. Big thanks saya ucapkan buat tiga adik kelas yang selalu menyemangati saya, nyamperin saya dan ngehibur saya juga. Thanks juga buat duo sohib yang udah nemenin selama tiga tahun, tahu aja kalo saya dikejar deadline :)) dan saya selaku Author juga mengucapkan terima kasih pada reader sekalian yang tetap setia nungguin kelanjutan fic saya ^^ bener-bener terharu, haha. Oh apa ada yang sudah menyadari siapa dua mata-mata Itachi selama ini?
Yang belum log in akan saya bales di sini ya ;)
Guest : Udah dilanjut, thanks udah review ^^
Guest 2 : Haha maafkan saya, saya emang gak janji update kilat karena udah kelas 3 ^^ mohon pengertiannya.
Guest 3 : Makasih dukungannya :)) thank you udah mau review :))
ajibana7777 : Sudah saya lanjutka kok ^^ makasih udah review
biybuy : Hayo Ino mata-mata nya sapa? di chap ini sudah terjawab kok ^^ makasih udah review~
bilabilu : Thank you ^^ sudah saya lanjut yaa
Guest 4 : Sudah saya lanjutkan ya, makasih udah review :))
Guest 5 : Hmm, saya tidak memfokuskan pada hal itu kok ;)) anyway makasih udah review ya!
Neko-chan : Halo! Selamat datang di fic saya, hehe! Dan salam kenal juga, Neko-chan^^ terima kasih udah review ya xD
nina : Udah dilanjut, thank you udah review ^^
Nienx C'tebane : Iya makasih dukungannya! Thanks juga udah mampir ke fic saya :))
Kaname : Terima kasih sarannya, huks iya saya emang sering buntu ide ^^" terima kasih udah review:))
Kyu : Maafkan kalo pendeknya ^^ udah saya lanjut, makasih udah review :))
Cuk : Sekali lagi maafkan sya :)) sudah saya putuskan happy ending ko; :))
Special thanks to :
Yasu Mari, 365, Arum Junnie, shin. sakura .11, aiko4848, naginagi, CacuNaruPolepel, Hoiling585, Deera Dragoneella, Aoi Latte, choikim1310, Moku-chan, Phachan, Stlvyesung, Aoi423, Vrysheid, Julia Nita Sifa, akane. uzumaki .faris. , Harma Kim407, Mika Haku, Vira-hime, ameliahyukee0404, Amnoki Budiansyah, fiav9, Habibah794, delta leonidas, yunaucli, Ace155, fyodult, Mizumi Doite, s. reader, yuka, OllaBoyong98, cyan-chan, nusantaraadip, JulyOlaVera, Revhanaslowfujosh, anionim, Yumiko, f112, Fayrin D Fluorite, apriliadona12, Jasmine DaisynoYuki, Dewi15, Minna4869, Dan Harpa, Kerangkai, mysuga, bluesafire, Avanrio11, Panda Dayo, usagi, fans, ghoticlolita89, Akarisa Ruru, Nuy822, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Nakamoto Yuu Na, EuishiFujoshi, narutodobetetsuyapolepel, guest 1, Nurul9171, Lora 29 alus, ima, Morinyo Krivaki, Rin Naoko UchiNami, Hn' Uchiha, ik27, Namikaze598, SuN, Lusiana239, phantomlady13, primara, fie, kyutiesung, Ree Luchia, guest 2, hyunnie02, Kevin913, kyuu, Avanrio11, Dobe Amaa-chan, ajidarkangel, Light Megami, Tsurumaru Munechika, naura, aoisfitrixm, aldina, Samuel903, cheonsa19, yuviika, Nienx C'tebane, Nesia Dirgantara, guest 3, guest 4, guest 5, firdaus minato, , kawaiifera, marsilea2510, Raira Michels, AsakiYuuna, ajibana7777, agung nurrida, Hime, hamidahJS, biybuy, Diena Luna No Azalea, ahmadbima27, FiaClouds732, bilabilu, amenoita, rizky. alila. 1, D, Mizuumi Yoite, kusuma. Iya, dragonfirenatsu90, HiNa devilujoshi, namikazehyunli, Kaname, Namikaze Otorie, Cuk, Kyu, nina, Ema Sabaku No Gaara628, Meli Channie, ayuwida. ax12, retvianputri12, Neko-chan, haneul. byunbaozi.
Yang belum ada namanya bisa PM saya ^^ tanpa kalian saya bukan apa-apa, thank you minna! Makasih juga buat dukungannya! Saya minta doanya karena dalam waktu dekat saya akan menjalani ujian praktek kejuruan, jika lancar maka saya usahakan update kilat ^^ chapter ini saya permanis dengan hubungan ItaKyuu yang membaik :)) mungkin masih ada yang mau protes? :3
Regards,
.
Amanda Lactis
