DO YOU WISH TO KNOW THE TRUTH?

Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Do you wish to know the truth? © Akabane Kazama

Genre (s) :

Suspense

Drama

.

.

Chapter 6

.

.

Kalau saja saat itu aku berada di sampingmu.

.

.

Apakah lagi-lagi dia bertemu dengan 'orang itu'?

Manusia itu, hanya akan menunjukkan wajah terjeleknya pada keluarga atau teman jika mereka merasa dendam, sedih, dan ketakutan. Jika salah satu dari ketiga ekspresi—atau lebih parah, seluruhnya—sudah bangkit, kebanyakan orang lebih memilih menjauh. Walau ada saja yang masih setia, berada di sisi mereka. Ia juga tak suka, tapi bukan berarti ia akan meninggalkannya begitu saja. Dirinya hanya bisa berharap, semoga lelaki sangar satu itu bisa lebih menahan diri. Soalnya wajahnya sudah jelek, jadi jangan buat lebih mengerikan daripada sebelumnya. Haha...bercanda~

.

45 % bercanda.

.

Oke, jangan terlalu dipikirkan masalah sepele itu. Yang mesti direnungkan adalah, apa yang harus dilakukan jika 'orang itu' terus menerornya? Pindah kota? Sepertinya itu tak akan terlalu membantu. Soalnya 'orang itu' gigih. Ia tak akan menyerah jika belum mendapatkan hasil yang ia harapkan. Operasi plastik? Tidak, tidak. Meskipun lelaki itu bisa menghindarinya, ia lagi-lagi harus mengulang kembali kehidupan dari awal, padahal yang sekarang saja masih kabur, tak jelas. Dirinya masih berpikir, seraya melayang di atas langit, memperhatikan kota dan para manusia yang kini terlihat begitu kecil di mata kosongnya itu.

Ah, sudah jam segini. Sudah waktunya ia bergegas untuk pergi ke 'sekolah'.


Kelopak matanya tak mau terbuka lebar seperti yang diharapkan, membuat kedua manik merah hanya bisa mengintip dari balik tirai. Ingin rasanya ia tidur saja di kelas, mengisi ulang tenaga yang hanya terbangkitkan setengah. Bukan hanya handphone saja yang mesti di charger jika baterainya habis, manusia juga memerlukannya, "kau kenapa, Kagami-kun? Kurang tidur? Jangan tidur larut malam karena main game."

"Siapa juga yang main game? Ini semua gara-gara kalian, tahu!" Kagami mengucek-ngucek mata merah yang kini terlihat semakin merah dengan urat-urat yang bermunculan. Ah, jangan lupakan urat yang juga muncul di pelipisnya, "aku sudah tahu kalau Kise dan Momoi bertemu, pasti jadi kacau. Tapi tak kusangka akan separah ini."


"Momocchi! Coba cari di sebelah sana!" Kise membuka lemari baju Kagami, menegadahkan kepalanya, sebelum kedua pintu lemari yang terbuat dari kayu mahoni ia tutup kembali, "jangan sampai lewatkan satupun, ya!"

"Tentu saja! Sekarang aku benar-benar bersemangat!" Momoi memeriksa kamar mandi, mulai dari bathub hingga tumpukan handuk di sudut ruangan.

Misteri yang berhasil ditemukan kali ini, membuat kedua makhluk berisik itu senang bukan kepalang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 09.15 malam, namun langkah kaki mereka yang menggebu-gebu masih saja terdengar. Bahkan salah satu penghuni sebelah kamar Kagami menggedor-gedor pintu, marah. Kagami yang juga kelelahan akibat kejadian di stasiun kereta api tadi, ditambah ributnya mereka berdua, apalagi kamar yang kini terlihat seperti kapal pecah, membuat kesabarannya habis. Bukan hanya di kening, tapi juga di wajah hingga leher, perempatan demi perempatan muncul, "kalian berdua..."

"CEPAT PERGI DARI KAMARKU!"


"Aku harus membereskan semuanya sendirian, sementara kau enak-enakan tidur." Kagami menguap lebar. Kalau tak ditutup, mungkin ia bisa menelan 3 buah hamburger sekaligus, "apalagi alarm di handphone lamaku terus berbunyi setiap jam 5 pagi. Aku jadi hanya tidur selama 3 jam."

"Untuk apa kau memasang alarm pagi-pagi seperti itu? Kau ingin olahraga?" Kuroko berkata, mengintip dari balik buku seni budaya, pelajaran terfavorit anak satu ini. Dirinya suka bukan hanya karena Teppei sensei orang yang baik, tapi juga cara ia menyampaikan begitu menyenangkan, membuat kelas seolah berwarna-warni seperti pelangi di dalam warna yang ia ajarkan.

"Entahlah. Alarm itu sudah terpasang begitu handphone lamaku aktif kembali. Kurasa 'diriku' yang dulu menyetelnya." ia menguap—lagi, "sudah ku non-aktifkan, tapi tetap saja berbunyi tiap hari. Dan bunyi alarmnya juga aneh. Panjang, pendek, panjang, pendek. Berisik."

Pelajaran pertama dimulai dengan pelajaran olahraga yang diajarkan oleh Mitobe Rinnosuke sensei. Hari ini mereka latihan lari 3 kaki. Selama menunggu giliran dipanggil, Kagami duduk di sisi lapangan terbuka, sembari memandangi kunci yang ditemukannya waktu itu—dirantai membentuk sebuah kalung agar bisa dibawa kemana-mana dan tak mudah hilang. Kunci yang berwarna emas, memantulkan cahaya matahari yang bersinar begitu terik, "Taiga." Lamunannya tersadarkan saat lelaki berambut hitam menghampiri seraya membawa dua botol minuman ion yang sudah disediakan sang guru, "kunci apa itu? Kau terlihat begitu menjaganya"

"Ah...I-Ini hanya kunci apartemenku, kok. Yang waktu itu hilang, jadi aku meminta yang baru. Karena tak ingin terjadi hal yang sama, kunci ini sekarang kubawa-bawa."

Lagi-lagi Kagami berbohong. Karena sikap Himuro yang belakangan ini semakin aneh, ia jadi ragu untuk mengungkapkan yang sebenarnya kepada lelaki itu. Padahal ia sudah berkata pada diri sendiri untuk tak meragukan teman yang sudah menyelamatkannya. Tapi tetap saja, jauh di dalam hati, kejanggalan yang mencekam masih tersimpan, bahkan meluas. Himuro memiringkan kepala, mengangkat bahu sekali dan melanjutkan perkataan, "oh ya. Kau sudah memiliki pasangan untuk lari 3 kaki hari ini? Bagaimana kalau kau berpasangan denganku saja?"

"Kalau soal itu, maaf Himuro." Manik merahnya menangkap sosok anak bersurai biru yang baru selesai berganti baju dan kini berdiri di sampingnya, "aku sudah berpasangan dengan Kuroko. Mitobe sensei juga sudah mendata kami sebagai satu tim."

"Oh, begitu." Kuroko menoleh ke arah Himuro dan memberikan sebuah senyum tipis sebagai ucapan salam. Manik hitam bundar miliknya menyipit, sebelum akhirnya kembali menatap lelaki berambut crimson red, meletakkan salah satu minuman ion yang ia bawa, "kalau begitu, aku permisi. Sebentar lagi giliranku." Dan berjalan pergi menuju lapangan tengah.

Apa hanya perasaan Kagami saja atau ia menangkap sorot kebencian yang teramat sangat di kedua matanya itu?

"Kagami-kun, mengenai kunci itu..." suara lembut Kuroko mengalihkan prasangka buruknya. Ia ikut duduk di samping Kagami, menatap kunci emas berkilau-kilau karena pantulan sang surya, "apa kau akan pergi kesana?"

Kedua mata biru langit itu masih terlihat kosong seperti biasanya. Tapi kali ini ia bisa melihat dengan jelas bahwa Kuroko nampak bersemangat. Sebentar ia diam, sebelum Kagami mengangguk mantap, "kalau begitu, besok kau harus bersiap-siap. Tokyo dan Saitama itu jauh. Kurasa butuh satu hari penuh untuk sampai disana."

"Saitama 108" Kagami menggumamkan alamat rumah yang ditemukan dari tumpukan buku literatur klasik miliknya, seraya menonton latihan lari 3 kaki. Saat ini giliran Himuro, berpasangan dengan salah satu teman sekelas mereka, Kensuke Fukui, berlari di lapangan. Sempat terjadi kegaduhan karena Kensuke yang tak bisa selaras dengan langkah kaki Himuro, yang tentunya mengundang tawa para siswa-siswi.

Kalau dipikir-pikir, ia jadi ingat kejadian 2 hari lalu, saat ia terbaring sakit di dalam kamar. Himuro datang ke apartemen untuk merawat dirinya, serta meminjamkan catatan dan mengembalikan buku Kagami yang pernah ia pinjam. Bukankah waktu itu sikap Himuro tiba-tiba aneh saat melihat rak buku Kagami? Dan setelahnya, Kagami menemukan misteri lain di sana.

Apa mungkin saat kunjungannya hari itu, Himuro sudah menyadarinya? Kalau buku itu disusun dengan rapi, akan terbentuk sebuah kalimat? Dia orang yang cerdas, Kagami yakin dia tahu. Meskipun begitu, mengapa ia tak memberitahu Kagami? Mengapa wajahnya berubah menjadi pucat hanya karena itu? Sekalipun orang menemukan arti di balik buku-bukunya, pasti mereka berpikiran kalau ini hanya kebetulan belaka. Atau jangan-jangan, Himuro sebenarnya tahu—

rahasia di balik hilangnya ingatan Kagami.


Apakah dirinya begitu dibenci?

Teman lelaki itu, menatapnya dengan mata yang menakutkan. Apa ia pernah berbuat salah? Tapi mereka baru saja bertemu. Ia tak ingat pernah mengatakan apapun yang menyinggung perasaan. Tidak. Lebih tepatnya, berbicara dengannya saja ia belum pernah. Lelaki itu bilang, dia orang baik-baik, supel dan suka menolong siapa saja. Benar-benar gambaran orang yang ramah. Tapi bagaimana kalau ternyata dirinya itu bermuka dua? Dia baik di depan lelaki itu tetapi dibelakang dia adalah seorang penindas? Seperti yang ia baca di manga atau novel ijime? Kalau memang iya...

Hiii...tubuhnya jadi merinding sendiri. Tunggu, tunggu. Ia tak boleh berprasangka buruk seperti itu. Yang dibicarakan ini adalah temannya lelaki itu, lo. Meskipun dirinya gampang marah dan tak sabaran, bukan berarti ia juga mau berteman dengan orang yang suka menusuk dari belakang. Mungkin saja temannya itu hanya canggung berhadapan dengan dirinya karena selama ini ia selalu bersama lelaki itu. Ya. Pasti begitu. Pasti deh.

Oke! Melamun selesai! Kalau begitu, sudah saatnya ia membantu beres-beres perlengkapan untuk pergi besok.


Keesokan harinya...

Menurut prakiraan cuaca, hari minggu ini cerah. Namun menilik awan hitam yang datang dari arah timur, pembawa acara mengatakan sore nanti akan turun hujan lebat, "air minum, makanan, uang, handphone, payung juga. Semuanya sudah siap." Kagami bergumam, seraya mengecek barang yang sudah ia kemas ke dalam tas gandeng berukuran sedang, satu persatu. Ya. Hari ini ia akan pergi ke sana, ke Saitama, ke rumah yang sebenarnya.

Kagami mengelus kepala Nigou yang masih tertidur di depan pintu apartemen, menunggunya. Kemarin, anjing hitam putih itu benar-benar risau melihat dirinya mengepak barang-barang. Nigou anjing yang pintar. Mungkin ia tahu kalau Kagami akan pergi jauh. Untungnya Kise bersedia menjaga Nigou—katanya ia ingin menghilangkan lelah sehabis pemotretan dengan bermain bersamanya. Anjing itu terbangun dari tidur ketika merasakan kehangatan tangan sang pemilik dan menyalak sekali, seolah mengantar kepergian Kagami.

Begitu kakinya menapak keluar dari gedung apartemen, hawa dingin musim semi langsung menusuk kulit. Meski sudah memakai jaket yang cukup tebal, tubuhnya masih mengigil. Ia bisa melihat jelas napas berwarna putih melayang-layang di langit yang masih gelap. Melirik jam yang melingkari pergelangan tangan kiri, masih pukul 06.25 pagi. Bus pertama datang pada pukul 07.30. Sepertinya ia bangun terlalu cepat. Gara-gara alarm jam 5 yang tak henti-hentinya berbunyi, Kagami tak bisa kembali tidur dan lebih memilih untuk bersiap. Jalanan begitu sepi, namun juga begitu tentram. Hanya ada beberapa mobil yang bertugas di pagi buta melintas di sana.

Karena waktu masih banyak sebelum pergi ke halte bus tempat dirinya dan Kuroko bertemu, sepertinya ia tak perlu jalan cepat-cepat. Lagipula jarang-jarang ia bisa menikmati angin sesejuk ini selama tinggal di tengah kota. Beberapa kali ia menghirup dan menghembuskan udara sekitar. Rasanya begitu bersih dibandingkan saat siang hari.

"Kau terlihat menikmatinya, Kagami-kun. Jarang keluar pagi, ya?"

Rasanya bukan hanya tubuh saja yang membeku kedinginan, tapi juga jantungnya. Tak perlu memastikan dua kali, anak bersurai biru itu sudah berjalan di sisinya, dengan jaket kulit warna putih, syal biru terang, serta tas besar yang kelihatannya berisi lebih banyak muatan daripada milik Kagami. Benar-benar deh. Kalau dia selalu muncul tiba-tiba tanpa pemberitahuan seperti ini, jantung Kagami tak akan siap. Mungkin mulai saat ini ia harus membawa-bawa AED[1], untuk berjaga-jaga. Apa dokter Midorima menjualnya?

Kuroko—menggosok-gosok tangan yang dingin—mengintip lelaki disebelah dari balik poni, "aku lapar. Ayo kita beli makanan."

"Kau ini benar-benar banyak maunya, ya. Kita ini bukan mau pergi piknik, tahu." Kagami menaikkan kerah baju hingga menutupi leher. Ia jadi agak menyesal karena hanya memakai kaos tipis saja.

"Walau bukan piknik, sudah kubilang untuk bersiap-siap, bukan?" Kuroko mengeluarkan syal merah dari dalam tas, lalu dililitkan di leher lelaki yang memiliki tinggi lebih dari dirinya itu, "bagaimana sekarang? Kau ingin makan yang hangat-hangat, kan?"

Kagami memegang syal yang kini terlingkar di lehernya. Rasanya hangat. Lembut. Dan harum. Wangi khas dari pelembut pakaian yang digunakan di mesin laundry. Manik merahnya menangkap wajah anak bersurai biru kini penuh dengan rona merah, "yang kedinginan itu kau, bukan?" seraya berkata, mendaratkan satu pukulan pelan di kepala mungilnya.


Kuroko memakan bakpao rasa daging selama bus melaju. Disisi kiri pegangan tangan tempat ia duduk diletakkan secangkir vanilla hangat. Wajah pucat miliknya bersemu merah, senang karena akhirnya dibelikan makanan dan minuman yang ia inginkan dan senang karena pemandangan menyegarkan yang dilihatnya dari balik kaca bus, dengan padang hijau terbentang dan pohon-pohon musim semi bermekaran. Saat ini, mereka sudah mulai keluar dari area perkotaan, "Kise-kun menelponku semalam. Katanya ia ingin ikut bersama kita." Kuroko menyeruput minumannya, kembali mengunyah bakpao yang tersisa setengah, dan melanjutkan, "waktu itu ia pernah menjadi foto model sebagai seorang polisi. Karena ingin memperdalam perannya, akhir-akhir ini ia jadi sering membaca manga atau novel bergenre misteri. Begitu kali pertama ia tahu di kamarmu ada banyak sekali teka-teki, ia jadi bersemangat. Katanya kalau dia ikut, mungkin ada yang bisa ia bantu."

"Haa..." Kagami mengiyakan ucapan Kuroko, seraya menelan bakpao isi kari dalam sekali lahap—itu sudah bakpao yang ketiga. Pantas saja nalar Kise saat itu cepat sekali. Kalau dipikir-pikir, ia bisa menemukan kunci serta alamat rumahnya itu, semua berkat Kise.

Huh...kalau begitu, sepulang nanti aku harus berterima kasih padanya, pikir Kagami.

Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki kereta selama 30 menit—belum dihitung pergantian kereta di stasiun berikutnya. Keadaan dalam kereta mulai penuh sesak, mengingat waktu sudah menunjukkan jam 11. Kagami dan Kuroko duduk di bagian agak dalam karena desakan para penumpang yang juga pergi jalan-jalan dan beberapa pegawai kantoran yang masih bekerja meskipun hari libur. Perjalanan mereka di dalam kereta kebanyakan dihabiskan dalam diam. Karena suasana di dalam cukup ribut, rasanya tak nyaman untuk mengobrol. Tapi anak bersurai biru itu beranggapan kalau duduk dalam diam saja itu lebih tak nyaman lagi. Jadi ia mulai angkat bicara, "Nee...Kagami-kun. Apakah sekarang kau masih penasaran—"

"—mengenai mengapa aku bisa menjadi hantu?"

Kagami terhenyak saat ia kembali mengungkit pertanyaannya waktu itu. Tanpa sadar, dirinya sudah menatap lurus ke kedua manik yang masih saja terlihat kosong, "aku tak sepenuhnya berbohong mengenai tak ingat apa-apa tentang kehidupan sebelum aku mati" Kuroko memainkan karcis kereta api warna krem, "hari itu, saat aku tersadar, aku sudah berada di rumah sakit, sebagai sesosok hantu. Tanpa ingatan apapun mengenai kecelakaan yang menyebabkanku seperti ini. Yaah...bisa dibilang sedikit mirip dengan apa yang kau alami sekarang ini."

Mereka berdua turun dari kereta, dan segera menaiki kereta yang lain. Kali ini, tak begitu banyak orang di dalam, jadi AC kereta terasa lebih dingin daripada angin musim semi di pagi hari tadi. Lagi-lagi, mereka harus melilitkan syal setebal mungkin, "karena tak tahu apa yang harus kulakukan, akhirnya aku berkeliling rumah sakit. Mungkin saja aku bisa mengingat sesuatu." Ia memandang Kagami, "dan yang kutemukan malah dirimu. Terbaring di rumah sakit yang sama."

"aku memang tak ingat apapun di kehidupan sebelum mati, tapi aku merasa mengenalmu. Seperti...dulu kita pernah berteman." Bola mata baby blue itu sedikit bergetar, "kukira bisa langsung memastikannya, tapi ternyata kau juga lupa ingatan. Lalu, setelah kuputuskan, akhirnya aku mengikutimu seperti sekarang ini. Mungkin saja selama pencarian ingatanmu kembali, aku juga bisa mendapatkan apa yang kulupakan."

"Dan begitulah kejadiannya." Kuroko mengakhiri cerita, bertepatan dengan berhentinya kereta di stasiun selanjutnya.

Kagami hanya bisa diam selama ia bercerita sedari beberapa jam yang lalu. Ia dan Kurooko dulunya berteman? Ia memang tak bisa membuang jauh kemungkinan satu itu. Bukan hanya Kuroko saja, tapi saat kali pertama Kagami bertemu, ia juga merasakan perasaan rindu yang sama. Setelah mendengar pengakuan sang hantu—ah, saat ini ia sedang menjadi seorang manusia—Kagami juga jadi ingat sesuatu yang dilupakannya. Karena kejadian aneh yang menimpanya akhir-akhir ini, ia jadi benar-benar lupa. Ya.

Penyebab dirinya mengapa bisa masuk rumah sakit.

Himuro tak mengatakan apapun tentang hal itu, baik setelah ia sudah kembali ke apartemen ataupun sudah mulai masuk sekolah seperti biasa. Apa mungkin ia hanya tak ingin mengungkit-ungkit kecelakaan dulu yang nanti berujung pada dirinya menjadi stress? Tapi Himuro kan sudah tahu bahwa ia lupa ingatan. Meskipun itu kenangan buruk sekalipun, seharusnya ia membantu Kagami mengingat kembali.

Setelah cukup lama mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, mereka sampai di tempat tujuan. Di Saitama. Jalanannya lebih sepi, mengingat hari sudah mulai sore. Sejauh mata memandang, kiri kanan dipenuhi rumah berderet dengan atap berwarna-warni. Setelah bertanya pada orang sekitar yang berlalu lalang sekadar menikmati alam, berjalan sedikit selama 15 menit, mereka sampai di depan sebuah rumah tingkat 3 yang terbuat dari bata merah berpagar besi. Kolam ikan berada di sisi kiri rumah serta pepohonan rindang yang tumbuh dengan lebatnya di sekitar. Di sisi kanan, rumput hijau yang luasnya cukup untuk bermain mini golf terpampang. Mewah. Itulah kesan pertama di diri kedua anak yang diam mematung dengan mulut terbuka lebar.

"Kau kaya ya, Kagami-kun. Mengapa kau memilih tinggal di apartemen sempit itu? Jangan-jangan kau bertengkar dengan orang tuamu dan kabur dari rumah" adalah komentar pedas pertama yang Kuroko lontarkan.

Udara dingin kembali mengelus kulit. Awan-awan hitam melayang di atas kepala dan titik-titik hujan mulai turun membasahi bumi. Benar yang dikatakan pembawa acara prakiraan cuaca tadi pagi, sore ini akan turun hujan. Segera saja mereka melangkah masuk sebelum tubuh basah kuyup. Pintu rumahnya bertipe ganda, dengan bahan dasar kayu jati dilapisi cat perak serta pegangan berupa gagang besi. Terkunci. Seperti yang diharapkan. Kagami mengeluarkan kunci yang menggantung di lehernya, memutar kunci dan masuk setelah bunyi krieet yang cukup menganggu. Lampu dihidupkan. Lantai begitu bening sampai-sampai memantulkan bayangan mereka sendiri, sebuah perapian dari batu hitam mengkilat, perabotan-perabotan rumah berupa lemari, vas bunga, sofa serta meja dan lainnya tertangkap di sudut kedua manik mereka yang terus berputar-putar mengitari ruangan.

"Kagami-kun, hidoi. Aku tak ingin menjadi temanmu lagi." Adalah komentar pedas kedua yang anak itu lontarkan.

Perempatan muncul.

Kagami saja terkagum-kagum melihat rumah ini. Membuat jauh di dalam dirinya, tumbuh perasaan ragu. Apakah benar, ia memiliki rumah semewah ini? Tidak mungkin, kan?

"Ukh..." kekagumannya terhenti ketika tiba-tiba pusing menyerang dirinya. Keringat dingin langsung mengalir keluar dan wajah berubah pucat. Ia bisa merasakan tubuh yang semakin lama semakin berat, sehingga ia harus bersandar pada dinding bata agar tak terjatuh.

Kuroko yang tadinya sedang menikmati keindahan interior rumah, langsung berlari menghampiri lelaki kekar itu, "Kagami-kun? Kau kenapa?"

Lelaki itu tak menjawab, hanya berusaha mengatur napas yang mulai tak beraturan. Tubuhnya begitu panas serasa terbakar. Ia ingat sensasi ini. Sensasi yang sama seperti hari itu. Hari dimana ia sakit, hari dimana—

—ia mendapatkan kembali ingatannya.

Suara Kuroko mulai terdengar kabur saat rangkaian kejadian berputar di otaknya. Ia seperti menonton sebuah rekaman video, berisi flashback-flashback yang sama sekali tak ia ingat.

.

.

Seseorang yang tak ia kenal mengetuk pintu rumahnya.

Entah mengapa wajahnya tak terlihat. Semuanya hitam. Yang ia tahu, orang itu adalah laki-laki.

Pintu terbuka, menampilkan wajah Kagami yang tersenyum senang.

Mereka berdua masuk.

Lalu naik ke lantai 3.

Berbincang di dalam kamar yang sepertinya milik Kagami.

Kagami turun sebentar, untuk menyediakan minuman.

Anak laki-laki itu masih berada di dalam kamarnya.

Ketika Kagami kembali—

.

.

Rekaman ingatan dalam otaknya berhenti sampai disitu.

Begitu gambaran mulai jelas kembali, bayangan pertama yang terpantul pada manik merahnya adalah wajah cemas Kuroko, "Kagami-kun? Kau tidak apa-apa? Kalau sakit, sebaiknya kita beristirahat dahulu."

Ia jadi sadar kini posisinya tak lagi berdiri, melainkan jatuh terduduk. Cengkraman tangan Kuroko di bahunya begitu kuat, dan juga begitu bergetar. Wajahnya yang sedari awal pucat, terlihat lebih putih lagi. Ia tak tahu kalau anak bersurai biru itu bisa secemas ini. Tak ingin ia lebih khawatir lagi, Kagami perlahan-lahan bangkit dan memaparkan garis senyum seadanya, "tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah."

"Sudah kubilang tenang saja." lelaki itu mengacak-acak rambut biru secerah langit, mencoba menyapu bersih kecemasan yang masih tersisa disana, "kau tahu aku bukan orang lemah yang perlu kau cemaskan, bukan?"

Meski masih ragu, Kuroko menghela napas cukup panjang dan mencoba untuk tersenyum. Lelaki berambut crimson red itu juga bisa bernapas lega. Hanya untuk saat ini.

Karena ia sempat kehilangan kesadaran tadi, ia hampir lupa mengatakan sesuatu saat melihat keadaan dalam rumah. Kalau tak diperhatikan baik-baik, dia tak akan begitu menyadarinya. Tapi dari lampu yang hidup tanpa kelap-kelaip terlebih dahulu, lantai yang begitu bersih, serta perapian yang terasa lumayan hangat—beberapa kayu habis terbakar, menyisakan abu hitam legam, ia menyimpulkan.

Ada seseorang di dalam rumah ini.

Kalau dipikir-pikir, kilas balik tadi terhenti sampai saat ia masuk kembali ke kamar di lantai 3. Ada apa gerangan disana, ia tak tahu. Dengan Kuroko yang mengekor di belakang, Kagami mulai menaiki tangga keramik satu persatu. Di lantai 3 hanya ada 1 kamar, berpintu kayu mahoni di sudut kiri ruangan. Begitu tangan lebarnya memegang kenop pintu, pusing yang sama kembali melanda. Tapi ia mencoba untuk tak menghiraukan, dan membuka pintu.

.

Seseorang berdiri di beranda kamar, membelakangi mereka.

.

Kagami mencengkeram erat kepalanya yang berputar-putar hebat.

.

Kuroko berdiri mematung disana. Manik kosongnya menatap lurus ke depan.

.

.

.

Nampan yang ia bawa jatuh berserakan.

Anak laki-laki itu tergeletak di atas lantai.

Seseorang berdiri disana, memegang pisau berlumuran darah.

Ia berdiri di dalam gelap kamar.

Tersenyum menyeringai.

.

.

.

Ia, yang berdiri di beranda, membalikkan badan menatap mereka.

.

"Are? Bukankah kau..."

Kuroko hendak berjalan menghampiri, namun Kagami menghentikannya. Wajah lelaki kekar itu lagi-lagi berubah pucat, dan Kuroko lagi-lagi menjadi panik. Saat ia menawarkan bantuan, Kagami malah menggeleng kencang, menolak, "Kuroko, jangan kesana. Tetap di belakangku." Suaranya terdengar parau, "dia..."

"Apa yang kalian lakukan disini? Ini bukan tempat yang tepat untuk berbincang-bincang lo."

Langkah kakinya terdengar menggema di kamar yang cukup luas ini. Pelan dan dalam.

.

"Kuroko. Dengarkan aku." Masih dengan tubuh bersandar pada dinding, tatapan Kagami begitu tajam, "orang itu...dia..."

.

Lelaki berambut hitam itu menampilkan sebuah senyuman manis.

.

"Himuro—"

.

Dan disaat yang bersamaan, terlihat begitu mengerikan.

.

"—adalah orang yang telah membunuhmu."

.

.

.

Ramalan bintang hari ini.

Bagi yang berbintang Scorpio, berhati-hatilah karena kalian berada di peringkat terbawah!

Tapi tenang saja. Selama kalian membawa item keberuntungan : liontin bundar, kalian akan baik-baik saja.

Tingkat kecocokan kalian dengan Leo belum membaik. Cobalah untuk saling terbuka satu sama lain.

Semoga hari kalian menyenangkan!

.

.

~TO BE CONTINUE~


Automated External Defibrillators : alat elektronik portabel untuk menormalkan denyut jantung yang dapat digunakan dengan mudah oleh orang awam sekalipun.


Hooh. Chapter 6 selesai...

Maaf ya, agak lama. 3 hari ini mata saya sakit karena kebanyakan menatap layar komputer, jadi harus diistirahatkan sejenak *curcol nih mbak?*

Bagaimana? Kalian pasti sudah bisa menebak sejak awal karena tingkah Himuro yang aneh kan? Lalu bagaimana dengan Akashi? Keberadaannya belum dijelaskan secara rinci dan hanya muncul 2 kali. Lagipula ada misteri lainnya yang secara tak sadar Kagami sudah temukan di dalam apartemennya. Ada yang bisa menebak?

Untuk review waktu itu, pertanyaannya sudah saya jawab disini. Maaf ya, karena meninggalkan kesan yang cukup membingungkan. Saya juga lupa memasukkannya di chapter 5 dan baru bisa dimasukkan di chapter ini. Oh, tapi masih ada alasan lain mengapa Kise dan Momoi begitu membantu dalam memecahkan misteri. Dan jawabannya akan ada di ujung cerita nanti. Untuk kedepannya, ditunggu ya. saya akan usahakan untuk update secepatnya.

Mind to RnR?

Best Regards

Akabane Kazama