A VOCALOID FANFIC
Disclaimer: What makes YAMAHA Vocaloid or Utauloid and some companies are concerned
Len: If the Author who created, Vocaloid or Utauloid software can't be famous because of stupidity Author. ==" *Slap!*
Warning inside: OOC – AU—LenRin slight LenMiku slight RinMikuo—Not Twincest/Incest because one of the two Kagamine it was the adopted son.
Chapter 6—Old Promise of My New Sister.—
DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
"Kita—akan selalu selalu bersama 'kan?"
"Ya! Tentu saja, Len! Sebab, kita 'kan saudara!"
.
.
.
.
Len terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sakit dan itu cukup untuk membuatnya malas memulai harinya. Len hanya telentang di tempat tidurnya saat ini. Mood –nya juga begitu tidak baik hari ini, membuatnya semakin enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya.
"Kenapa aku bermimpi seperti itu sih…" bisik Len dengan tatapan yang masih sayu. "Membuatku mengingat masa lalu saja." lanjut Lan yang beranjak dari tempat tidurnya. Len menahan segala rintihan tubuhnya yang masih ingin untuk telentang di tempat tidur. Dengan segera, Len menyambar handuknya dan segera keluar dari kamarnya.
.
.
"O-HA-YO!" Kaito berjalan menuju ruang makan. Dimana saat ini ruang makan yang biasanya sepi terlihat cukup ramai dengan keberadaan Rin, Miku, Luka, Gakupo, Mikuo, Teto, Ted, dll. Namun Kaito hanya melongo saat melihat segelas jus pisang yang sama sekali tidak tersentuh. Ke manakah si maniak pisang itu? *dibantai*
"Ada apa denganmu? Cepat makan BaKaito." Luka menyeringai penuh misteri. Sedangkan yang lainnya hanya bisa sweatdrop.
"Oke! Oke!" Kaito menyambar kursi yang di hadapannya tersuguh berbagai macam es krim. Dengan sangat bahagia, Kaito melahap es krimya. "Oh ya, mana Len?" tanya Kaito. Beberapa orang (Rin, Miku, Luka dan Mikuo) yang mendengar nama Len langsung menghentikan acara makan pagi mereka. Terutama Rin.
"Sepertinya dia ganti baju. Tadi, sejam yang lalu aku lihat dia baru keluar dari kamar mandi." Jelas Teto sambil mengunyah roti berukuran jumbo di hadapannya.
"He? Dia terlambat bangun?" Kaito mengernyitkan dahi. Namun acara makan es krimnya masih berlanjut tanpa halangan.
"Entahlah," Luka menghela nafas, "Sepertinya dia ada masalah." Ujar Luka sambil mengarahkan tatapanya pada Rin dan Miku yang diselingi oleh kediaman. Sontak ke dua sahabat itu menunduk.
"K- Kalau begitu, aku akan memanggil Len." Miku hendak beranjak dari kursinya, namun dia dicegah oleh Luka.
"Tidak usah, Miku-chan. Biar Rin yang memanggilnya," Luka mengarahkan senyumannya pada Rin. Dan Rin terlonjak kaget. "Mereka 'kan saudara." Luka tersenyum manis, dan Miku hanya bergumam 'oh' yang diiringi kekecewaan.
"A- Aku?" Rin terkesiap, "T- Tapi—eeto… Um… aku sakit perut, jadi mau ke toilet du—"
"Di dekat kamar kalian ada toilet 'kan?" potong Luka. Peluh menitik dari pelipis Rin. "Kau 'kan bisa ke toilet dan sekalian juga kau memanggil Len." lanjut Luka. Kaito hanya tertawa kecil. Sepertinya si BaKaito itu sudah mengerti akan apa yang terjadi di antara mereka.
"Um… B- Baiklah." Rin menyunggingkan senyuman palsu saat hampir seluruh orang yang berada di meja makan itu menatapnya dengan tatapan curiga. Dengan sangat – amat – terpaksa, Rin menaiki anak tangga dan hilang ditelan oleh jarak.
"Ada apa dengannya? Aneh sekali." Ted menatap tangga yang tadinya dilalui oleh Rin dengan rasa curiga. Teto yang berada di samping Ted sedikit kaget, lalu ia kamudian mengangguk, membenarkan Ted.
.
.
"Huuh!" Rin mendengus kesal. Dia mengintip ruang makan dari balik tembok. "Kenapa harus aku? Luka-nee ingin mengerjaiku?" gerutu Rin. Rin menyandarkan punggungnya pada permukaan tembok. Helaan nafas tidak ikhlas terdengar darinya. "Aku malas ketemu dengan Len, tapi—" Rin menekuk lutut. "Kalau aku tidak memanggilnya, mereka akan curiga." Ucap Rin sedikit berpikir.
Selama beberapa menit Rin menekuk lututnya di situ. Tidak ada sedikit pun reaksi darinya. Hingga sebuah suara mengagetkannya.
"Rin! Di mana Len-kun?" suara Teto terdengar dari ruang makan yang terletak di bawah. Reflek Rin berteriak membalas.
"I- Iya!" Rin dengan cepat berlari hingga berhenti tepat di depan kamar Len. Rin menggembungkan pipinya, lalu dengan sedikit berhati-hati Rin mengetuk pintu kamar Len. "L- Len? S- Semua orang memanggilmu untuk sarapan." Ucap Rin. Namun tidak ada suara. Rin yang tidak digubris sedikit pun mendengus kesal. "Tch, menyebalkan!" gerutu Rin. Dengan sangat kesal, Rin membuka pintu tidak bersalah itu dengan kasar. Rin awalnya hendak untuk mendobraknya, namun karena pintu itu tidak terkunci – malah tidak tertutup dengan rapat – Rin terjatuh dan mencium lantai dengan sangat mesra. *dihajar*
Rin mengangkat wajahnya yang memerah. Tiga sudut siku terlihat di keninganya saat ini. Rin sangat marah sepertinya.
"Oi Len! Setidaknya kau menjawab kalau dipang—Eh?" Rin terkesiap. Bibirnya tertutup rapat. Suara dengan frekuensi tinggi yang hampir dikeluarkannya tercekang di tenggorokannya begitu melihat adiknya itu tertidur pulas di tempat tidurnya. "L- Len?" Rin dengan sedikit hati-hati mendekati tempat tidur Len, hendak melihat wajah innocent itu lebih dekat.
Deg, spontan, wajah manis Rin memerah begitu melihat adiknya yang –err begitu innocent saat terlelap itu. Entah kenapa, darah di dalam tubuhnya langsung mengalir lebih cepat, membuatnya merasa sesak.
"E-ee…" Rin kehabisan kata-kata. "O- Oke, kalau kau masih mau tidur, t- terserah k- kau." Ucap Rin gelagapan. Rona merah masih terlihat di kedua pipinya. Namun dengan cepat, Rin menepuk kedua pipinya itu. "Aw! Kenapa di sini terasa panas ya?" gumam Rin. Namun dengan cepat, kegagapannya tadi berubah menjadi senyuman tipis. "Yah… selamat tidur." Desisnya sambil melepaskan handuk berwarna kuning yang menutupi sebagian wajah Len.
"—Rin—"
"—Eh? M- Mikuo?" Rin terkesiap. Telapak tangannya yang tadinya hendak men –ekhm, menelusuri rambut blond milik saudaranya itu reflek bersembunyi di balik punggung kecil Rin.
"Semuanya mencarimu." Ujar Mikuo. "Len masih tidur?" Mikuo berjalan menghampiri Rin yang di belakangnya terdapat Len yang terlelap. "Wow… Lucu juga kalau Len tertidur." Komentar Mikuo sambil mengamati wajah Len. Rin tertawa kecil mendengarnya.
"Ya, kau benar. Oh ya, kita keluar yuk! Daripada mengganggunya tidur." ajak Rin. Mikuo menyetujuinya saja. Segera kedua manusia itu meninggalkan kamar Len. Tidak lupa kalau sebelumnya Rin menutup pintu berwarna kuning itu.
.
.
.
"Eh, eh, Rin." Len duduk di taman rumahnya. Di hadapan Len, seorang gadis berpita putih juga duduk. Mereka saling berhadapan. "A- Ayah bilang kita ini akan jadi saudara. Aku sudah menganggapmu Kakakku." Ucap Len malu-malu. Gadis bernama Rin di hadapannya melongo.
"Lalu?" Rin menautkan alisnya.
"Um…" Len berpikir sejenak, lalu dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Lupakan saja." ucap Len yang sepertinya hendak membicarakan sesuatu dengan Rin. Rin hanya menaikkan sebelah alisnya. Heran dengan kelakukan Len.
Aku takut untuk mengetahui kenyataan
"Kau ingin berbicara sesuatu Len?" tanya Rin. Len hanya mengangguk. "Bicaralah. Aku akan mendengarkannya." Jelas Rin. Len kembali menggelengkan kepalanya.
Sekali lagi, aku takut untuk mengetahuinya
Mengetahui perasaannya yang sebenarnya
"M- Maaf! Nanti sa—" belum selesai Len mengelak, sosok gadis kecil di hadapannya itu sudah merengkuh Len. Memasukkan tubuhnya ke dalam dekapannya.
"Aku sayang Len. Sangat sayang. Meski kami bukanlah saudara kandung, aku akan tetap menyayangi Len. Akan melindungi Len semampuku." Bisik Rin. Wajah Len kecil saat itu memerah. Dia termangu saat mendengar ucapan dari Kakak barunya itu. "Karena itu, apa pun yang Len ingin katakan padaku, aku akan mendengarkannya." Lanjutnya. Len semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukan sang Kakak itu.
Angin bertiup, membuat rambut blond milik mereka sedikit menari-nari karena angin. Tentu saja Rin menyuruh Len masuk ke dalam rumah saat itu.
A Few Years Later…
"Len! Ayo pulang!" Rin mengulurkan tangannya pada Len. Len tentu saja menerima uluran tangan dari Kakaknya itu dengan senyuman.
Saat ini Len dan Rin sudah kelas 3 Sekolah Dasar. Mereka sekelas, dan juga sebangku. Tentu saja banyak yang berpendapat bahwa Rin dan Len itu adalah saudara kembar. Lalu, reaksi mereka berdua saat mendengarkan anggapan seperti itu adalah anggukan cepat yang diiringi dengan seruan : "Kami memang saudara kembar yang sangaaat dekat!" saat mereka berseru seperti itu, tangan mereka saling mengamit satu sama lain.
"Hm… Len, bagaimana kalau di jalan nanti kita singgah beli jus pisang? Kemarin saat belanja aku lihat stand yang menjual jus pisang, lho! Sepertinya enak!" ajak Rin. Mata Len langsung berbinar-binar. Dengan cepat Len mengangguk dan menyetujuinya.
"Aku mau!" seru Len semangat. Mereka pun berjalan hingga beberapa meter dan berhenti begitu melihat sebuah stand yang menjual jus pisang dan juga jeruk. Dengan riangnya mereka membeli jus pisang dan jus jeruk yang terkenal dari stand itu. Pemilik stand itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat keakraban Rin dan Len saat itu.
"Enak 'kan, Len?" Rin berbalik dan bertanya pada Len yang mengekor padanya. Len mengangguk, namun wajahnya tertunduk. "L- Len? K- Kau kenapa?" tanya Rin khawatir. Kekhawatiran Rin semakin mendekati puncak begitu melihat linangan air mata menuruni pipi Adiknya.
"Hiks… Hiks…" Len mengusap air matanya. Berusaha agar tidak membuat Rin khawatir. Namun mau bagaimana lagi, Rin terlanjur cemas. "R- Rin…?"
"Ya? K- Kau kenapa Len? Ada masalah? Atau jusnya tidak enak?" bertubi-tubi pertanyaan terlontar dari bibir Rin yang saat itu sangat khawatir. Len menggelengkan kepalanya.
"Jusnya enak… tapi…" Len terisak, "Aku takut…" ucap Len. Rin menautkan alisnya.
"Nani? Kau takut apa? Apa ada orang yang menggencetmu?" Rin meraih sapu tangannya, lalu menghapus air mata Adiknya itu. Len yang mendengar pertanyaan Rin kembali menggelengkan kepalanya.
"Aku takut kalau Rin—" Len tersentak, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. Membuat Rin semakin keheranan. "—Bu- Bukan apa-apa! Ayo kita pulang!" seru Len semangat. Sangat berbeda dengan yang tadi.
.
.
.
Len's POV
Aku terbangun dari tidurku. Kurasakan keningku yang terus saja terasa sakit. Aku berusaha untuk bangun, dan sayup-sayup aku mendengar suara Rin dan Mikuo di depan kamarku. Apa yang mereka lakukan di depan kamarku? Kalau mau pacaran, jangan di depan kamar orang lain tahu.
Sekali lagi, aku memimpikan hal itu. Kenapa mimpi itu muncul? Kenapa mimpi itu selalu saja membuat kepalaku sakit? Aku stress memikirkannya. Aku merasa kalau mimpi itu seakan-akan mengejek hubunganku dengan Rin yang merenggang akhir-akhir ini.
"Ukh!" aku mengepalkan tanganku. Perasaan kesal menghampirku begitu suara yang terdengar dari depan kamarku begitu terasa. Mereka bercengkrama sepertinya. Saling tertawa, bercerita dan—mereka begitu akrab? Oh ayolah Len, memangnya apa hubungannya denganmu?
"Oh ya, Rin, apa Len masih tertidur di kamarnya?" terdengar suara Mikuo. Dengan cepat aku mengendap-endap mendekati pintu. Mencuri dengar pembicaraan Mikuo dan Rin.
"Um… ya, sepertinya." Terdengar suara Rin yang memelas. Aku hanya menaikkan sebelah alis. ' Mereka tahu aku tertidur? ' pikirku sambil menempelkan telinga di permukaan pintu.
"Hm… Rin?"
Perasaanku mulai tidak enak. Dengan sangat penasaran, aku mencoba berpikir akan topik mereka selanjutnya.
"Apa?"
"Maukah kau—"
BRAAAAAK!
Normal POV
BRAAAAAK!
Pintu terbuka secara paksa, menampakkan sosok Len dengan wajah panik tingkat wahid. Langsung saja Rin dan Mikuo yang berada di depan kamar kuning itu tersentak kaget.
"Tidak akan kubiarkan kau Mikuo—Ekh!" Len mengerjapkan matanya. Terlihat Rin dan Mikuo yang memasang wajah heran. Harga diri Len serasa jatuh beberapa tingkat karena tingkahnya barusan. "Um… maksudku, tidak akan kubiarkan kalau kau mengambil PISANG untuk sarapan pagiku Mikuo!" seru Len mencari alasan. Rin hanya menganga melihatnya.
"Pft, memangnya siapa yang akan mengambil pisangmu, Len?" Mikuo menahan tawa. Sedangkan Rin? Ekspresi wajahnya berubah kembali menjadi dingin. "Aku hanya ingin mengajak Rin dalam duet Magnet lagi di acara XX. Mereka mengundangku bersama Rin untuk hadir dan berduet." Jelas Mikuo dengan air mata di sudut matanya.
"O- Oh—Ekh? T- Tunggu? Acara XX? Bukannya itu adalah acara yang menampilkan beberapa pasangan terkenal di Jepang di setiap minggunya?" Len terbelalak. Mikuo hanya mengangguk.
"Ya. Entah alasan apa hingga kami dipanggil menjadi bintang tamunya." Ungkap Mikuo, "Kau mau 'kan, Rin?" ajak Mikuo. Rin sedikit tersentak.
"Um… I- Itu. Yeah, aku ikut." Rin menerimanya dengan tampang tenang-tenang saja. Bagaimana dia bisa memiliki tampang tenang begitu? Padahal acara TV ini selalu melibatkan para pasangan yang terkenal atau menghebohkan di Jepang. Tentu saja mereka (Rin dan Mikuo) diundang dengan tujuan lain.
"O- Oh… Nikmatilah acara kalian." Len bersiul-siul sambil menyilangkan tangannya di belakang kepala. Len berjalan meninggalkan Rin dan Mikuo dengan ekspresi yang dapat dibilang 100% berbohong.
.
.
.
"Rin?"
"Ada apa, Len?"
"Apa kau—serius?"
Tap, langkah kaki dua murid Sekolah Dasar tingkat 6 itu berhenti. Pemiliknya saling berpandangan satu sama lain. Yang satu memandang dengan tatapan heran, dan yang satu memandang dengan tatapan ragu-ragu.
"Maksudmu?" Rin, salah seorang dari mereka angkat bicara. "Serius apa?"
"Um…" di sampingnya, seorang anak laki-laki dengan warna rambut yang sama, dan iris yang sama berdiri dengan tatapan ragu. "Kau pernah bilang, kalau kau itu menyayangiku sebagai Adikmu. Apa itu serius? Apa kau tulus mengucapkannya?" anak bernama Len itu menatap Rin dengan tatapan seriusnya. Rin yang merasa diperhatikan segera membuang muka.
"Tentu saja, Len! Kenapa kau mempertanyakan hal itu?" kini Rin yang balik bertanya. Len juga membuang muka, mencari objek pandang yang lain.
"Karena saat itu… Kita masih kecil. Kau tahu 'kan, lontaran janji yang dibuat oleh anak kecil belum tentu benar." Ucap Len sambil menggandeng tas punggungnya. "Dari waktu kita pertama bertemu, aku sudah ingin mempertanyakan hal ini. Hanya saja—kau tahu 'kan, biasanya anak kecil cuma mengatakan apa yang berada di kepala mereka, bukan dari hati mereka." Len menjelaskan. Dan Rin saat itu hanya tertawa kecil.
"Oh… jadi kau takut kalau aku ingkar?" tebak Rin sambil membentuk sebuah pistol dari jemari telunjuk dan jempolnya. Len hanya menangguk dengan tatapan ragunya.
"Maaf kalau aku baru memberitahukanmu hal ini." Len menggaruk kepalanya, sedangkan Rin hanya terdiam dan berpikir dalam diamnya.
"Lalu, kalau seandainya aku ingkar, apa yang akan kau lakukan Len?"
"Eh? A- Apa?" Len terkesiap. Matanya melebar kaget.
"Kuulangi sekali lagi. Kalau seandainya aku ingkar, apa yang akan kau lakukan?" tatapan mata Rin juga mulai serius saat pertanyaan itu dia lontarkan. Len yang dituju oleh pertanyaan itu serasa didesak.
"Itu… mungkin aku akan—membencimu?" jawab Len apa adanya. Rin tersenyum tipis.
"Bagus. Kalau aku ingkar, bencilah aku Len. Aku akan mengaggap kalau itu adalah ganjaran untukku." Ucap Rin dengan menyunggingkan senyuman tipisnya. Len hanyut dalam diam. "Tapi, setidaknya kau harus tahu satu hal. Anak kecil itu tidak akan pernah berbohong. Apa pun yang mereka lihat, mereka rasakan, mereka pasti akan mengatakannya dengan jujur. Dan kau tahu? Saat itu aku mengatakan apa yang aku rasakan." Jelas Rin. Sontak wajah Len memerah.
"R- Rin?"
"Ayo Len, kita pulang. Nanti Ayah marah kalau kita pulang kelamaan."
.
.
.
.
.
.
Luka's Room
"APA! Mikuo dan Rin akan menghadiri acara XX? Dari mana kau tahu?" Luka terkesiap saat menerima kabar itu dari Kaito. Kaito hanya mengangguk sambil memperlihatkan secarik kertas yang merupakan undangan berpartisipasi dalam acara tersebut. "Lalu, dari mana kau dapat undangan i—APA? INI UNDANGAN KITA!" Luka semakin kaget saat menyadari kalau nama yang tertera dalam undangan itu adalah namanya dan sibodoh itu. Sepertinya gosip tentang mereka belum hilang sepenuhnya.
"Aku tahu hal itu dari sponsor. Katanya, Rin dan Mikuo juga akan hadir. Kita tolak saja." Kaito mendesah pelan. Luka terdiam. Sesuatu melintas di kepalanya.
"Kapan acara itu berlangsung, Kaito?" tanya Luka dengan suara dingin. Kaito membaca undangan itu baik-baik.
"Um… hari ini jam 08.00 pm. Memangnya ada apa?" Kaito balik bertanya. Luka tertawa kecil, lebih tepatnya menyeringai. Sekali lagi, Kaito mulai bergidik dengan aura tidak jelas yang terpancar dari Luka.
"Kita pergi, BaKaito—"
"APA? PERGI? Jangan cari masalah Luka. Oi, kau tidak tahu gosip yang menimpa ki—"
"—Kita buntuti mereka, BaKaito."
"EKH?
.
.
.
"Rin?"
"Apa?"
"Kau pernah bilang kalau kau itu dibuang oleh keluargamu. Apa itu benar?" tanya Len sambil menatap kaki kecilnya. Rin mencoba tenang saat mendengar pertanyaan itu.
"Ya. Memangnya ada apa?" Rin menoleh sedikit pada Len yang berjalan beriringan dengannya. Len berpikir sejenak.
"Kau dibuang karena apa?"
Deg,
"L- Len?" tubuh Rin menjadi kaku saat mendengar pertanyaan dari Len.
"Mana mungkin kau dibuang tanpa alasan yang jelas 'kan? Rin itu anak baik, dan Rin tidak mungkin dibenci." Ungkap Len dengan tatapan lurus ke depan.
"I- Itu—" bibir Rin bergetar. Sedikit takut untuk berucap. "Maaf, itu rahasia, Len."
Len hanya diam dan mematung saat mendengar ucapan Rin barusan. Dia hanya bergumam 'o' saja untuk meresponnya. Namun siapa sangka kalau ternyata di dalam hati Len menaruh rasa kecewa pada Kakaknya itu.
.
.
.
Bukannya kita adalah saudara? Saudara tidak akan pernah menyimpan rahasia satu sama lain bukan? Kau—belum mempercayaiku?
.
.
.
06.34 pm.
"Ayo cepat, Rin, tinggal beberapa jam lagi acaranya akan dimulai." Mikuo memperhatikan jam digital yang terpasang di pergelangannya. Mikuo dengan sabarnya menuggu Rin yang masih berkutat dengan lemari dan juga meja riasnya.
"T- Tunggu, Mikuo! Tinggal sedikit lagi!" teriak Rin dari dalam kamarnya. Mikuo hanya membalas 'Oke' dan menunggu Rin lagi. Cukup lama Mikuo menunggu, akhirnya pintu kamar Rin terbuka. "Maaf terlambat."
"Tidak apa-a—" mulut Mikuo menganga saat melihat Rin. Rin terlihat sangat manis malam ini. Rin mengenakan sebuah kaos berwarna hitam tanpa lengan. Rok mini berwarna putih keabu-abuan. Sebuah celana leging berwarna hitam dengan rim berwarna emas. Sepatu berwarna hitam dengan hak yang tidak tinggi. Bahkan pita besar yang biasa dia gunakan tepat di atas kepalanya kini sedikit bertengger di sebelah kiri Rin (*). Siapa pun yang melihat Rin saat ini, pasti akan blushing di tempat. Termasuk Mikuo.
"A- Ada apa Mikuo? Pakaianku aneh?" tanya Rin polos saat dia menyadari kalau Mikuo memperhatikannya. Mikuo menggelengkan kepalanya.
"Tidak aneh, kok. Menurutku kau sangat cocok dengan pakaian itu." ucap Mikuo. Rin blushing mendengarnya. "Ayo cepat, kita disuruh datang cepat, nih." Ajak Mikuo. Rin mengangguk dan menurutinya saja.
Rin dan Mikuo segera menuju studio yang bertanggung jawab akan acara yang mengundang mereka sebagai bintang tamunya. Namun tidak dapat disangka kalau mereka singgah dulu di pusat kota, menghampiri beberapa stand yang menjual beberapa barang. Rin akhirnya paham kalau Mikuo menyuruhnya cepat-cepat karena ingin menghampiri pusat kota dulu bersama Rin. Namun Rin hanya diam saja, mengikuti alur dari perjalanannya bersama Mikuo.
Dan, tanpa mereka berdua sadari, dua pasang mata membuntuti mereka.
"Woy! Jangan ribut! Nanti ketahuan!" protes seorang gadis dengan rambut merah mudanya, Luka. Dia menahan syal panjang Kaito yang hendak kabur karena melihat stand es krim yang begitu menggugah selera.
"Apa? Tapi di sana ada orang yang menujual es magnum! Aku tidak pernah coba!" rengek Kaito dengan sifat kekanak-kanakan. Entah sekampungan apa Kaito itu, yang jelas es krim magnum yang kini populer di masyarakat tidak pernah sedikit pun dia coba. Padahal author+reader saja sudah mencobanya hingga berkali-kali.
"APA? Kampungan banget! Aku saja sudah makan sebanyak xx kali!" bentak Luka dengan suara yang dipelankan. Kaito hanya pundung mendengar bentakan itu.
"Hiks… aku 'kan sibuk show…" gumam Kaito. Dan sekilas dia melihat seorang pemuda blond yang lewat di antara kerumunan orang. Meski hanya sekilas saja, tapi Kaito dapat menebak kalau orang itu adalah orang yang dia kenal. "Lho—L- Len?" Kaito mengarahkan jari telunjuknya, menunjuk objek yang sekilas dia lihat tadi itu. Namun naas, sosok itu hilang ditelan kerumunan orang yang membanjiri pusat kota.
"Apa? Kenapa kau panggil Len? Len 'kan ada di apartemen." Gerutu Luka yang kembali menarik paksa syal Kaito hingga pemuda dark blue itu tercekik. "Sepertinya Len juga tidak tahu kalau Rin dan Mikuo akan menghadiri acara itu." Luka kembali menyisir pandangan pada dua orang yang kini berbincang-bincang itu.
"T- Taphi… i- ithuuu L-Lheen! –Argh kau mencekikku Luka!"
Luka bergumam 'oh' dan segera dia mengendorkan tarikannya. Barulah Kaito bernapas lega. Setelah itu, dua manusia stalker itu kambali menelusuri tiap tapak jalan yang juga dilalui oleh Rin dan Mikuo.
.
.
.
"Rin, apa alasan mereka membuangmu?"
"—mereka membenciku, Len. Itu saja, tidak ada yang lain."
.
.
.
Bibir itu bergerak kaku, berusaha untuk menjawab pertanyaanku yang berkisar mengemis itu. Tapi aku tahu, kalau lagi-lagi bibir itu berucap penuh kebohongan.
—Kenapa kepercayaan begitu mahal harganya?—
.
.
.
TBC
A/N: Yey! Ternyata ngelantur banget dari perkiraan yang penuh dengan flashback! XDD
Hahaha, yang jelas ada tentang masa lalunya 'kan? Saya sengaja tidak terterakan flashback, karena tidak jelas siapa yang lagi memutar flashback-nya. Sepertinya baik Len mau pun Rin tidak ada yang memutar flashback mereka =='
Jadi tentang Len dan Rin kecil itu adalah um… *berpikir* tergantung kalianlah mau perkirakan apa. Yang jelas saya yang memutar flashback itu! Bukan Rin mau pun Len X3
(*) Oh ya, style Rin waktu sama Mikuo itu saya ambil di salah satu video klipnya sama Len yang kebetulan saya nonton waktu buat fic ini. Saya lupa apa judulnya, yang jelas di video klipnya itu saya suka banget gayanya Rin! XDD Keren! Pantas saja Lenny jatuh cinta karena gayanya Rin yang cool banget di situ O/O
.
Sekali lagi, OOC? GAJE? Tidak apa-apa, saya memang gaje orangnya X3 Dan saya tidak bisa lepas dari yang namanya OOC. So' saya berani menduga kalau banyak yang bosan dengan fic ini ==" Dan banyak juga yang berharap agar fic ini tamat T_T"
Saya juga tidak tahu kapan endingnya nih. Klimaksnya aja belum. Padahal udah buat setiap chapter dengan word yang mencapai 2000 atau 3000 TAT Huuu… maafkan saya (_ _")
Len: Jangan curhat melulu! Reviews belum dibalas, nih!
Author: Oh iya. Tapi saya malas ngetik dan Online buat balas reviews … T.T
Len: Pemalas banget =="
Author: Iya nih. Gak tau saya kok bisa gini ==" Um… maaf kalau lagi-lagi reviews tidak dibalas. Authornya lagi gak mood+banyak masalah nih~ T.T
Len: Pantas saja ficnya jelek gini. Lagi dapat masalah ya? =3
Author: *Ngangguk* Maaf buat readers (_ _")
Len: Ya udah, tidak penting juga kalau ujung-ujungnya curhat. Ocey! Mind to Reviews? X3
Created: 25 April 2011 – 26 April 2011
Publish: 29 April 2011
Kagamine 'Rii' Vessalius
