Present by Tetsuya Ran

Pairing : Akakuro, GOMKuro, All seme x Kuroko, Pokoknya KuroHarem dah wkwk xD

Genre : Crime, Romance

Rated : M (for lemon and violence)

Disclaimers : Kuroko no basuke bukan milik saya. Saya hanya meminjam karakter.

Assassin milik saya seorang

Special thanks to Kazuma B'tomat yang sudah membantu saya mengedit fic. ini sehingga chap. 6 bisa update dan chap. 6 ini tampak lebih baik :)

Happy Reading

.

.

.

Seorang lelaki bersurai merah menatap datar papan shogi di hadapannya sambil memainkan bidak-bidak permainan itu. Tidak ada lawan. Lelaki itu bermain melawan dirinya sendiri.

Merasa bosan, ia mengeluarkan benda elektronik tipis yang kerap disebut smartphone oleh orang-orang zaman sekarang. Ia mengetikkan beberapa nomor lalu memulai panggilan. Akashi Seijuurou berdecak ketika tidak ada yang menjawab panggilannya dan bersumpah akan memberi pelajaran pada orang yang tengah ia telepon. Ia kembali mencoba melakukan panggilan pada nomor yang sama.

"Moshi-moshi. " Suara salah satu anak buah—budaknya—terdengar dari seberang.

"Reo, kau tahu aku menghubungimu dan kau tidak menjawab. Bagus sekali kelakuanmu" sindiran dingin Seijuurou langsung membuat manusia di seberang sana membatu dengan keringat dingin bercucuran.

"Etto... Maafkan aku, Sei-chan. Tapi tadi—"

"Aku tidak peduli apapun alasanmu. Datang ke tempat itu sekarang!" titah sang penguasa Distrik Empat itu semena-mena. Tanpa menunggu jawaban budaknya, Seijuurou langsung memutus panggilan.

"Argghhh!" Seijuurou meremas surai merahnya, lalu tangannya melempar papan shogi kesayangannya ke sembarang arah, membuat bidak-bidak yang sering dijalankannya berceceran kemana-mana.

"Kenapa sulit sekali?!" Dia bangkit dari duduknya. Segera menghampiri meja kecil yang ada di sudut ruangan, menyambar kunci mobilnya dan meninggalkan ruangan. Seijuurou melangkahkan kakinya menuju mobil sport hitam, hadiah ulang tahunnya yang ke tujuh belas dari mendiang sang ayah. Sayang, lelaki itu meninggal di tangannya. Seijuurou melajukan mobilnya dengan kecepatan fantastis.

"Drrrtt… Drrrtt…"

Smarphone-nya bergetar. Dahi Seijuurou berkerut ketika melihat sederet kanji yang tertera di sana. Tidak lama, ia menyentuh tombol hijau.

"Ada apa?" tanyanya datar.

"Akashi-sama, apakah Anda sudah mendengar berita tentang penjara Kaijo?" Suara cempreng sekretaris pribadinya terdengar.

"Belum," jawab Seijuurou singkat.

"Penjara Kaijo telah di—"

"Dengar, apapun yang terjadi aku tidak peduli. " Seijuurou yang terlalu malas untuk mendengarkan penjelasan panjang lebar wanita berambut merah jambu itu memilih untuk memutus perkataan Momoi.

"Saksi melihat pemimpin Distrik Lima keluar dari penjara sambil menggendong pemuda berambut biru." Tiga kata terakhir dari Momoi membuat Seijuurou menginjak pedal rem dengan sekuat tenaga, membuat mobilnya berhenti seketika. Pegangan di smartphone-nya mengerat, giginya saling beradu.

"Pemuda berambut biru kau bilang?" tanyanya sangsi.

"Ya, pemuda itu kelihatannya pingsan," jelas Momoi. Setelahnya Seijuurou langsung memutus panggilan dan membanting smartphonenya ke jok di samping pengemudi. Tangannya mencengkram setir mobilnya.

Beberapa detik berlalu dalam kesunyian, Seijuurou akhirnya kembali melajukan mobilnya menuju tempat yang baru ia kunjungi beberapa hari yang lalu. Tak sampai sepuluh menit, ia sudah sampai di tempat lapang penuh dengan batu nisan.

Seijuurou keluar dari mobilnya lalu melangkahkan kakinya masuk ke pemakaman umum tersebut. Ia berhenti tepat di sebuah makam. Pada batu nisan tertulis nama Kagami Taiga. Bunga-bunga yang sudah layu masih ada di atasnya.

Seijuurou berjongkok, tangannya memungut setangkai bunga mawar biru yang kini sudah menguning dan kering.

"Kau tidak kemari lagi, Tetsuya?" tanyanya entah pada siapa.

Derap-derap langkah yang terburu-buru terdengar.

"Hosh… Hosh… Sei-chan! Ada apa kau memanggilku kemari?" tanya seseorang yang baru saja memasuki area ini. Ia ikut berjongkok di samping Seijuurou. Reo mengernyit heran melihat Seijuurou menggenggam setangkai mawar biru yang sudah layu dan memandangi bunga itu dengan khidmat, sampai-sampai tidak menyadari keberadaannya. Reo mengambil mawar biru yang ada di genggaman Seijuurou, lalu membuangnya ke belakang.

Ia menatap Seijuurou kesal, lalu berdiri.

"Seharusnya kau menghargai keda—"

"BUAGH!"

Kalimat Reo terhenti ketika ia merasakan hantaman di pipinya. Ia terhempas terjatuh. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

"Ambil!" perintah Seijuurou sambil menarik kerah Reo. Tangannya terkepal, siap menghajar Reo.

"Ba- baik." Seijuurou pun melepaskan Reo. Ia mengamati gerak-gerik budaknya yang satu itu ketika memungut mawar biru, lalu mengembalikan padanya.

"Berani kau membuangnya lagi, kubunuh kau!" ancam Seijuurou. Ia memandangi mawar itu, lalu menciumnya sambil berbisik, "Pasti akan kutemukan."

"Reo!" Panggilnya pada pemuda berambut hitam yang sedang membenarkan pakaiannya yang kusut.

"Y-ya?"

"Kau sudah mendapat informasi tentang Tetsuya?" tanya Seijuurou, suaranya sedikit melembut.

"Sudah. Aku jamin kau pasti akan terkejut mendengarnya." Reo merogoh saku celananya, mendapati smartphone-nya dan membuka aplikasi memo di sana.

"Aku tidak punya banyak waktu," desis Seijuurou.

"Kuroko Tetsuya. Ia adalah salah satu pelacur favorit pejabat-pejabat negara. Berperawakannya mungil dan berwajah manis. Bahkan ia menjadi simpanan tiga pemimpin distrik; Aomine Daiki, Murasakibara Atsushi, Midorima Shintarou," jelas Reo. Jujur saja sebenarnya Reo merasa sedikit risih ketika si Boss menyuruhnya untuk mencari tahu informasi tentang seorang pelacur bernama Kuroko Tetsuya ini.

"Tunggu dulu, Reo. Di sini ada lima distrik. Bagaimana pemimpin distrik yang satunya?" Tanya Seijuurou sambil meletakkan bunga mawar itu kembali ke atas lahat kakaknya.

"Pemimpin distrik lima, Mayuzumi Chihiro. Dialah orang yang menjual Kuroko Tetsuya." Perkataan Momoi kembali terlintas.

"Reo, temanmu yang berisik salah satu bawahan Chihiro brengsek itu, bukan?" tanya Seijuurou. Tangannya merogoh saku celananya, menggapai sekotak rokok dan sebuah pemantik. Ia menyelipkan sebatang rokok di belahan bibirnya lalu disulut pemantik.

"Maksudmu Kotarou?" Reo balik bertanya dan dijawab anggukan singkat.

"Tanyakan pada bocah itu apa yang akan dilakukan si Brengsek."

Reo mulai menelpon sahabatnya dan mulai mengorek informasi dari Kotarou. Panggilan itu berlangsung selama beberapa menit.

"Sudah?" tanya Seijuurou saat ia melihat Reo memasukkan smartphonenya ke dalam saku.

"Ya. Katanya malam ini Mayuzumi mengundang ketiga pemimpin distrik ke mansionnya," jawab Reo sambil memainkan rambutnya yang agak panjang.

"Dan tidak ada undangan untukku, huh?" tanya Seijuurou sambil membuang rokoknya, lalu menginjaknya.

"Bukankah kita memang tidak pernah membutuhkan undangan, Sei-chan? " Reo melangkah mendahului Seijuurou.

"Hm." Seijuurou pun ikut melangkah pergi dari pemakaman umum tersebut.

"Sebaiknya kita segera ke Distrik Lima kalau kau mau menemui pemuda birumu," ucap Reo ketika Seijuurou sudah berada di sampingnya. Sedangkan Seijuurou kini sedang menyeringai sambil mengetikkan pesan berisi perintah untuk anak buah kepercayaanya, lalu ia menyentuh tombol send.

.

.

.

"Ukkhh!" Tetsuya mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum matanya dapat melihat langit-langit berwarna putih dengan jelas. Ia langsung melihat ke arah tubuhnya yang telanjang. Satu-satunya benda yang menutupinya hanya sehelai selimut tipis.

"Sudah bangun, Tetsuya?" Suara bariton dari pria berambut abu-abu yang sudah sangat familier baginya membuat Tetsuya segera mengalihkan pandangannya dari langit-langit ke Mayuzumi yang sedang duduk santai sambil menyeruput kopi di kursi di samping tempat tidur.

"Mayuzumi-kun…" Tetsuya hendak menggerakkan tangannya namun tertahan oleh metal dingin yang melingkar pergelangannya. Sebuah borgol dikaitkan di tempat tidur, membelenggunya.

Tetsuya menggeram sambil tetap menggerakkan tangannya, mencoba membebaskan diri. Ruam kemerahan terlihat melingkar.

"Jangan menyakiti dirimu sendiri, Tetsuya." Mayuzumi meletakkan cangkir kopinya di atas meja lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia meraih tangan putih Tetsuya yang memerah akibat gesture tubuhnya, lalu ia mengecup tangan lembut tersebut dan menjilat ruam kemerahan di pergelangan tangannya.

"Menyingkir dariku!" Tetsuya menyentakkan tangannya. Mayuzumi memundurkan wajahnya. Matanya menatap datar ke arahnya, namun entah bagaimana bisa membuat tubuh Tetsuya meremang.

"Hm… Kau ingin bermain kasar denganku?" Mayuzumi menyeringai lalu menarik dagu Tetsuya. Ia melumat bibir mungil itu kasar, bahkan Mayuzumi sesekali menggigit bibir bagian bawah Tetsuya hingga berdarah, tidak peduli pada penolakan yang ia terima.

Mayuzumi menyudahi ciuman panasnya dan memberi jarak. Benang-benang saliva masih terlihat. Tetsuya berusaha mengatur napasnya.

"Sejak dulu kau memang cantik, Tetsuya," ucap Mayuzumi sambil membelai pipi putih pucat Tetsuya. Ibu jarinya mengusap bibir merah tersebut. Ia tersenyum tulus pada Tetsuya.

"Kau membuatku jijik!" desis Tetsuya sarkastis. Ia memalingkan wajahnya ke samping.

"Jangan jual mahal begitu, sayang."

Tetsuya memekik ketika tiba-tiba Mayuzumi menyingkapkan selimutnya. Mayuzumi menjilat daerah di sekitar bibirnya sambir memasang seringai. Tanpa beretika ia bersiul menyaksikan tubuh polos Tetsuya. Tangan Mayuzumi menyusuri setiap lekuk tubuh Tetsuya. Leher, dada, hingga perut Tetsuya.

"Mayuzumi-kun! Hentikan! Aku sudah tidak... sudah tidak... " Tetsuya tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena air matanya sudah berada di pelupuk matanya. Suaranya bergetar menahan tangis.

"Sudah tidak apa, hm?" Mayuzumi mengelus helaian biru muda milik Tetsuya.

Air mata sudah mengalir membentuk sungai di pipi. Tetsuya terlihat begitu rapuh. Sedangkan Mayuzumi kini terus mengelus paha Tetsuya , meneliti tiap sentinya kulit putih itu dengan jemarinya. Senyumnya mengembang ketika mendapati bahwa paha putih itu benar-benar mulus.

Samar-samar, perkataan Kise kembali terngiang di dalam kepala Tetsuya, membangkitkan kesadarannya.

"Kurokocchi, kau tentu tidak selemah itu, bukan?"

Tetsuya menendang Mayuzumi tepat di wajah. Sontak saja Mayuzumi mundur beberapa langkah. Hidung dan mulutnya mengalirkan darah segar.

Mayuzumi mendesis kesal. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun. Ia mengambil langkah menuju lemari tua di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah tongkat kayu dari dalam sana. Lantas ia mendekati Tetsuya yang kini mentapnya dengan pandangan takut.

"Ma-Mayuzumi-kun…" panggil Tetsuya. Aura ancaman menguar kuat ketika Mayuzumi sudah sampai di sampingnya.

"Kalau Tetsuya memang ingin bermain kasar, aku akan mengabulkannya. Masokis kesayanganku." Mayuzumi menebarkan aura mengerikan ke seluruh ruangan. Bibirnya tersenyum sadis. Ia mengangkat tongkat kayu itu tinggi-tinggi, hendak memukul Tetsuya.

Tetsuya memejamkan matanya erat-erat, siap menerima pukulan dari Mayuzumi. Ia sudah bisa membayangkan sensasi perih di kulitnya. Namun rasa itu tidak kunjung datang. Takut-takut ia membuka mata. Sepasang azure itu membulat ketika ia melihat tongkat kayu tersebut berada persis di depan wajahnya.

Tetsuya sedikit terkejut saat Mayuzumi melempar tongkat kayu itu ke belakang, lalu memeluknya dengan erat.

"Kalau aku melakukannya, aku bisa membuatmu cacat dan itu akan menurunkan harga jualmu, sayang" bisik Mayuzumi tepat di samping telinga Tetsuya. Ia bahkan sempat menjilat cupingnya.

"Argghhhh!" Tetsuya berteriak saat Mayuzumi menggigit lehernya sampai berdarah.

"Cih. Jahitan ini membuat tubuhmu tidak mulus lagi," ucap Mayuzumi sambil mengelus hasil karya Kise di pundak Tetsuya.

Tetsuya kembali berteriak ketika Mayuzumi menggesekkan silet yang entah didapat dari mana ke benang di tubuh Tetsuya.

"Benang apa ini? Tidak bisa di potong." Mayuzumi geram. Ia pun melempar silet dengan asal, lalu segera menyesap darah yang mengalir dari pundak Tetsuya.

"Ahhh…" Tetsuya mengerang ketika Mayuzumi menciptakan bercak-bercak kemerahan di sekitar lehernya sampai dada.

Mayuzumi menyentil puting Tetsuya, membuat Tetsuya mendesah. Lalu dengan penuh nafsu, Mayuzumi mencium dan mengulum puting Tetsuya.

"Ahhh ja- jangan aaaah di situ…" Tetsuya mengelinjang sambil beberapa kali memohon.

"Mau langsungan, eh?" Mayuzumi menyeringai. Ia melucuti bajunya sendiri lalu melirik Tetsuya yang wajahnya sudah semerah tomat.

Tanpa sadar Tetsuya menelan ludah ketika melihat tubuh Mayuzumi. Tubuh tegap yang biasa terbalut jas tersebut dibalut oleh otot indah.

"Tertarik dengan tubuhku, Tetsuya?" Goda Mayuzumi. Lelaki itu terkekeh melihat Tetsuya membuang muka. Mayuzumi lanjut melepaskan celananya. Kini mereka sama-sama tidak terbalut sehelai benang pun.

Mayuzumi mendekati Tetsuya dan menindih pemuda berperawakan mungil itu. Ia menahan diri dengan kedua sikunya.

"Mayuzumi-kun!" Tetsuya mencoba memberontak tapi kaki Mayuzumi yang jauh lebih kuat segera menahan kakinya. Lelaki itu jadi lebih siaga setelah kejadian tadi.

"Tetsuya sudah banyak berubah ya?" Mayuzumi menatap Tetsuya dengan pandangan teduh. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Tetsuya, lalu mencuri ciuman singkat.

"Arghhhh!" Teriakan kembali terdengar di ruangan itu saat Mayuzumi memasukkan dua jarinya secara bersamaan ke dalam lubangnya. Tepat saat Tetsuya berteriak, Mayuzumi memasukkan sebuah pil ke dalam mulut lelaki berambut biru muda tersebut.

"Tenanglah, Tetsuya. Itu hanya permen " ujar Mayuzumi sambil mengecup garis selangkangan Tetsuya.

"Ahh…" Tetsuya mendesah tanpa bisa ia tahan. Lidahnya mengecap rasa manis dari pil yang diberikan Mayuzumi. Tanpa curiga Tetsuya percaya saja bahwa pil itu memang permen.

Mayuzumi mengelus milik Tetsuya dan menjilatnya. Tangannya yang lain menambahkan dua jari lagi, sehingga kini keempat jarinya berada di dalam Tetsuya.

Tetsuya merintih kesakitan ketika Mayuzumi menggerakkan jari-jarinya, melebarkan lubang Tetsuya yang sudah kembali menyempit setelah kegiatannya bersama Kise.

Merasa cukup, Mayuzumi pun mengeluarkan jari-jarinya. Lalu ia melebarkan paha Tetsuya, bersiap memasukkan miliknya ke dalam lubang Tetsuya.

"Tok! Tok! Tok!"

"Tch, mengganggu saja." Mayuzumi menggerutu. Meski enggan, ia tetap bangkit dan mengambil bajunya yang berserakan di lantai lalu mengenakannya.

Tetsuya menghela nafas lega, manik azure-nya mengamati setiap pergerakan yang dilakukan Mayuzumi.

"Ada apa Tetsuya?" Mayuzumi yang sedang mengancingkan kemejanya sekilas melirik Tetsuya.

Tetsuya segera menggeleng pelan. Ia kembali memalingkan wajah. Apapun, asal bukan Mayuzumi.

"Tolong lepaskan borgol ini, Mayuzumi-kun," Tetsuya meminta lirih. Tangannya mengepal.

"Tidak bisa, Tetsuya. Permainan bahkan belum dimulai." Tangan Mayuzumi membenarkan kemeja lusuhnya.

Mazuyumi berjalan meninggalkan kamar itu, membiarkan Tetsuya tenggelam dalam keheningan seorang diri.

"Nggghhhhh…" Tetsuya mengerang pelan. Panas yang asing terasa menjalar ke seluruh tubuh. Ia juga merasakan miliknya tiba-tiba menengang.

"Apa yang terjadi padaku?" Ia bertanya pelan sebelum ia mencoba merilekskan diri dengan memejamkan mata.

.

.

.

"Yo, Reo!" panggil Kotarou sambil melambaikan tangan ketika melihat sosok sahabatnya bersama seseorang berambut merah berada di lobby sebuah hotel di Distrik Lima.

"Kotarou, lama tidak berjumpa denganmu!" Reo berlari ke arah Kotarou lalu menerjangnya dalam pelukan erat. Seijuurou berjalan dengan santai ke arah mereka tanpa merasa sungkan.

"Reo, kuharap kau tidak lupa dengan tujuan kita kemari " ucap Seijuurou sambil menghisap rokoknya.

"Ah! Tentu saja!" Reo menepuk dahinya. Ia lalu melepas pelukannya.

Mendengar dialog singkat antara bos dengan bawahan itu, Kotarou mengerutkan kening.

"Ehem, jadi begini Kotarou. Tadi di telepon kau bilang kalau bosmu mengundang tiga pemimpin distrik ke mansionnya, bukan?" tanya Reo dan dijawab dengan anggukan oleh Kotarou.

"Kami ingin kau memasukkan kami ke mansion bosmu." Reo mengecilkan suaranya, takut ada orang yang mendengar. Matanya menggeliat ke sana kemari, memastikan lobby itu kosong.

"Ha? Untuk apa aku memasukkan kalian ke mansion Chihiro-san?" Kotarou bertanya dengan suara keras sambil berkacak pinggang. Kepala Reo berkedut ketika melihat tingkah bodoh sahabatnya.

Seijuurou mengambil dua langkah maju, mendekat ke Kotarou. Ia mengeluarkan gunting berwarna merah dari saku celananya. Ujung gunting yang tajam mengarah pada leher Kotaraou. Sedikit saja pria itu bergerak, sudah pasti lehernya akan terluka.

"Dengar, idiot. Aku tidak peduli kau bersedia atau tidak, tapi ketika aku menyuruhmu untuk memasukkan kami ke mansion si Brengsek itu maka kau harus melakukannya! Setiap perintahku adalah mutlak. Mengerti?"

Kotarou mengangkat kedua tangannya ke udara, persis seorang panjahat yang sedang di todong pistol oleh polisi. Ia mengangguk tanpa berusaha melawan. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya.

"Kita berangkat." Seijuurou memasukkan guntingnya kembali ke saku celananya. Lalu berjalan keluar dari hotel berbintang itu. Reo dan Kotarou mengekor di belakangnya.

.

.

.

"Kriet…"

Derit pintu membangunkan Tetsuya. Lelaki manis itu membuka matanya dan detik itu juga ia benar-benar tak percaya dengan apa yang disaksikan matanya.

"Oi, Chihiro! Apa maksudnya ini?!" Seorang laki-laki berkulit gelap berteriak tak terima kepada Mayuzumi.

"Dia benar, Mayuzumi. Apa-apaan ini, nanodayo?" Pemuda berambut hijau lumut bertanya dengan intonasi lebih kalem dari laki-laki yang berbicara sebelum dirinya sambil membenarkan letak kacamatanya yang bahkan tidak melorot sama sekali.

"Mayuchin, bisa kau jelaskan ini?" Pemuda lain yang memiliki surai ungu mengunyah maibou. Ia memandang malas Mayuzumi.

"Hee... Aku yakin kalian tidak buta." Mayuzumi menyeringai sambil berjalan mendekati Tetsuya. Ia mendudukkan diri di samping tempat tidur dan membelai surai biru yang terasa halus di tangannya. Tetsuya langsung melemparkan tatapan tajam pada Mayuzumi.

"Jangan menatapku seperti itu, sayang." Mayuzumi mengambil kunci yang ada di meja dan meletakkan kunci itu di dada Tetsuya.

"Tetsu!" Pria berambut biru, berkulit gelap yang bernama Aomine Daiki itu mendekati sosok mungil berambut biru muda yang sedang telentang dalam keadaan tanpa busana. Ia menelan ludahnya melihat pemandangan terindah yang pernah ia temui.

"O-oi, Chihiro. Kau apakan Tetsuku?!" Ia menyambar kerah kemeja Mayuzumi.

"Sejak kapan Kuroko menjadi milikmu, nanodayo? Kuroko hanya milikku seorang!" Si pemilik kepala hijau lumut, Midorima Shintarou, menyahut posesif. Ia mendekati Tetsuya dan mengambil kunci tersebut lalu mengamatinya.

"Kurochin itu punyaku!" Bahkan si rambut ungu, Murasakibara Atsushi, pun ikut memperebutkan Tetsuya.

"Kalian pikir siapa yang mengenalkan Tetsuya pada kalian, huh?" Mayuzumi bertanya angkuh. Ia menyingkirkan tangan Aomine dengan kasar. Ia mengambil sebuah handycam di atas meja. Mayuzumi mengotak-atik handycam itu, sekilas ada senyuman tipis yang terbentuk di wajah tampannya.

"Tetsuya milikku. Tapi tenang saja, aku akan membaginya pada kalian kali ini." Mayuzumi mendekati Tetsuya dan mengecup bibir sewarna cherry tersebut sambil melirik ke ketiga orang yang melemparkan tatapan membunuh.

"Apa maksudmu?" Aomine menarik lengan Mayuzumi, menjauhkannya dari Tetsuya.

"Hm... Threesome sudah terlalu mainstream, bukan? Bagaimana kalau foursome? Atau fivesome?" Seringai di wajah Mayuzumi semakin menyeramkan.

"Ma-Mayuzumi-kun, jangan katakan—"

"Benar, Tetsuya. Kita akan bermain bersama-sama. Bukannya lebih menyenangkan kalau kita bisa berbagi?" Tawa Mayuzumi menggelegar. Ia melepas kemejanya sembarangan.

"Ku-kumohon jangan. Tolong…" Tetsuya memohon. Air matanya mengalir, membasahi wajahnya. Ia takut. Keempat orang itu terlihat layaknya serigala yang baru mendapat si kerudung merah.

"Bagaimana? Kalian mau?" tanya Mayuzumi sambil mulai menyalakan handycam.

"Aomine-kun, Midorima-kun, Murasakibara-kun, kumohon jangan " pinta Tetsuya sambil terisak pelan. "Tolong selamatkan aku…"

"Tetsuya, Tetsuya… Akuilah kau juga menginginkannya, kau ingin kami semua menyentuhmu, kan?" Mayuzumi terkekeh sambil duduk di kursi dengan santai, mengambil sebatang rokok yang ada di meja, lalu menyulutnya dengan pemantik dan menghisapnya.

"A-aku tidak… Tidak… Argghhhh!" Tetsuya memekik ketika tangan Aomine meremas miliknya kuat.

"Tenanglah, Tetsu. Aku pasti akan memuaskanmu," ucap Aomine. Ia mengecup ujung kejantanan Tetsuya.

"Ne, Minechi. Aku ingin lolipop dan vanila milkshake milik Kurochin." Murasakibara membuang bungkus maibounya ke lantai. Ia menahan tangan Aomine agar tidak meremas milik Tetsuya lagi.

"Tidak bisa, Atsushi! Aku duluan!" Aomine tidak terima, tangannya yang bebas mencoba menyingkirkan tangan Murasakibara yang mengganggu kegiatannya.

"Lebih baik kita segera bermain, nanodayo." Midorima kembali membenarkan letak kacamatanya. Ia memasukkan kunci yang di pegangnya ke lubang kunci di borgol Tetsuya, hendak membukanya.

"Hei, Midorima! Cepat buka kuncinya. Dan kau Atsushi, kau pegang tangan Tetsu, jangan sampai lepas!" perintah Aomine pada kedua temannya. Aomine mulai mengulum milik Tetsuya, membuat sang empunya mendesah.

Midorima segera menuruti perintah Aomine. Ia memutar kuncinya, dan viola, borgol itu terbuka. Tetsuya tidak membuang kesempatan, ia menendang wajah Aomine hingga lelaki itu terjungkal ke belakang. Setelahnya ia segera bangkit , tapi sayang ia kalah cepat dengan Murasakibara. Tangannya sudah lebih dulu dikunci oleh Murasakibara sebelum ia sempat bangkit.

"Sebaiknya kalian berhati-hati. Karena Tetsuya sekarang menjadi sedikit brutal." Mayuzumi mengingatkan. Ia menikmati pertunjukan yang sedang ia saksikan.

"Che! Itu malah membuatku semakin bergairah." Aomine berdiri. Tangannya mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Ia mendekati Tetsuya, mencengkram dagu Tetsuya dengan kasar. Ia mendekatkan wajah mereka hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.

"Tetsu memang selalu membuatku bergairah," kata Aomine sebelum mencium bibir Tetsuya dengan ganas.

"Auch!" Aomine langsung memutuskan ciumannya ketika Tetsuya menggigit bibirnya. Bukannya marah atau memaki, Aomine malah menyeringai lalu mulai menanggalkan semua busananya.

"Lepaskan aku, Murasakibara-kun!" Tetsuya mencoba melepaskan diri. Tapi apa daya, kekuatan Murasakibara berkali-kali lipat lebih kuat darinnya.

"Kalau aku melepaskan Kurochin. Aku tidak akan mendapat lolipop dan vanilla milkshake milik Kurochin," balas laki-laki berambut ungu itu dengan polosnya. Murasakibara mengunci tangan Tetsuya, dan memangku pemuda berambut biru muda berwajah manis itu.

Aomine melangkah mendekati Tetsuya. Tangannya yang kekar menangkap kaki Tetsuya yang lagi-lagi mencoba untuk menendangnya, lalu mengunci kaki mungil Tetsuya.

"Mengeranglah, Tetsu." Aomine tiba-tiba mengulum milik Tetsuya, menghisapnya dengan penuh nafsu.

"Ahhhnnn, Aomine-kunnnnhhh!" Tetsuya bergerak tidak nyaman sambil mendesah. Midorima pun ikut ambil bagian, ia menyentuh puting Tetsuya yang sudah mengeras sejak tadi. Ia menjilat tonjolan kecil di dada Tetsuya itu, lalu menghisapnya dengan kuat.

"Ngghhhhh, ja-jangan disitu aaaahhh…" Tetsuya mendesah sambil mengibaskan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Murasakibara mengunci Tetsuya dengan satu tangan. Tangannya yang bebas ia gunakan untuk menarik dagu Tetsuya ke kanan. Ia melumat bibir ranum menggoda tersebut.

"Mphhhh!"

Mayuzumi yang merasa menganggur dan mulai bosan meletakkan handycam-nya di kursi, ia melangkah mendekati ketiga makhluk yang sedang menodai pemuda manis berambut biru muda tersebut.

Ia memainkan puting Tetsuya yang satunya, mencubitnya dan memuntirnya.

"Kau menyukainya, Tetsuya?" Mayuzumi menggoda Tetsuya. Ia melanjutkan kegiatannya. Merasa kurang puas, ia pun mengikuti Midorima. Mencium, mengulum, serta menghisap puting Tetsuya.

Mereka berempat menikmati kegiatan mereka masing-masing. Sedangkan Tetsuya kini berbaring lemas dan tak berdaya. Mau melawan seperti apapun rasanya tidak mungkin bisa bebas, kecuali kalau Tuhan berbaik hati mengirimkan malaikat penolong untuknya.

"BRAK!"

Tiba-tiba pintu yang tadinya terkunci terbuka lebar menampakkan pemuda tampan bermata heterokrom merah-emas. Keempat manusia yang sedang menikmati tubuh Tatsuya pun langsung menghentikan kegiatan masing-masing dan memusatkan perhatian pada sosok yang kini berdiri di ambang pintu. Napas Tetsuya terengah-engah. Rasa lelah membuat pandangannya mengabur. Ia tidak mampu penangkap figure di ambang pintu karena Murasakibara masih menahan dagu Tetsuya. Tetsuya hanya bisa berharap orang yang datang itu akan menjadi malaikat penolongnya.

"Jadi ini kegiatan favorit para pemimpin distrik? Benar-benar tidak berkelas." Seijuurou menatap rendah pada keempat pemimpin distrik tersebut.

Ia melangkah mendekat ke tempat tidur dimana kelima orang itu berada.

"Menyingkirlah, biar aku tunjukkan cara mainnya!" Seijuurou menyeringai. Dan saat itu juga harapan Tetsuya pupus. Ia sudah benar-benar pasrah dengan nasibnya kali ini.

.

.

.

To Be Continued

Nyaaaa~ Akhirnya update lagiii :3

Ahahaha saya rasa saya terlalu menistai Kuroko wkwkwk

TwT

MIND TO REVIEW?

Silahkan ketikkan saran dan kritikan di review yaaaaa? *puppy eyes*

Etto, Ran akan vacum mungkin sekitar 2-3 minggu ehehehe

Arigatou sudah mau mampiiirrrr~

Sampai jumpa di chap. selanjutnya akan terbit beberapa minggu lagi xD