Chapter 6 : Confronting the Great Immortal Phoenix

STORY START!

Suasana di aula kediaman Phenex saat itu sangat meriah. Aula dipenuhi oleh bangsawan-bangsawan keluarga iblis terpandang. Bahkan keempat raja iblis hadir dalam acara ini. Wajar saja, adik salah satu raja iblis akan bertunangan. Jadi ketiga raja iblis lainnya turut hadir. Bukan hanya bangsawan, petinggi-petinggi penting dalam pemerintahan dunia bawah pun turut hadir. Bahkan sang juara Rating Game sang Emperor (Kaisar) Belial Diehauser dan budak iblisnya juga hadir.

Sekarang, kita dengarkan percakapan antara keempat raja iblis di suatu ruangan.

"Apa kau yakin, Sirzech? Kau bisa menjatuhkan nama keluargamu!" hardik Maou Beelzebub, Ajuka.

"Belum lagi kepercayaan keluarga lain padamu juga akan berkurang!" tambah Maou Asmodeus, Falbium. Sangat bertentangan dengan sifat alaminya yang pemalas.

"Pikirkan lagi, Sirzech-chan! aku tahu kau sangat menyayangi Ria-tan, tapi bukan begini caranya!" Maou Leviathan, Serafall, ikut menambahkan. Tapi yang dihardik cuma duduk tenang menyeruput tehnya.

BRAKK! "Katakan sesuatu, bangsat! Harga diri, reputasi, dan kedudukan keluargamu jadi taruhannya!" Ajuka menggebrak meja.

Sirzech meletakkan cangkirnya di meja yang retak tersebut, "Aku sangat yakin dengan keputusanku. Hyoudou Issei bukanlah manusia yang bisa dianggap remeh. Kalian akan mengetahuinya nanti. Orang itu… aku saja ragu bisa selamat bertarung serius dengannya." Maou yang lain terkejut.

"Tapi tetap saja manusia ikut campur dengan urusan keluargamu. Dia bahkan bukan budak iblis Ria-tan!" ujar Leviathan.

"Tidak apa-apa. Kami sudah menyiapkan segalanya." Sirzech bangkit dari tempat duduknya, "Sekarang, lebih baik kita sambut tamu kita."

===Meet the Devils!===

"Hoho, jadi ini kediaman keluarga besar Phenex? Agak nyentrik menurutku." Komentar Ise saat mereka tiba di gerbang depan kediaman Phenex.

"Kalau ada duit, semua orang juga pasti menggila seperti ini, Ise." Timpal Ellie.

"Tapi aku ga pernah bikin rumah sampai sebegininya biarpun punya uang banyak." Bantah Ise.

"Sudah, kesampingkan soal itu. Rencananya kalian ingat kan?" tanya Ellie.

"Yep! Ellie-chan nanti bergabung dengan Akeno-san dan yang lain, lalu kami akan masuk seperti [yang direncanakan]!" seru Miki.

"Kalau begitu kita—

"Siapa disana!? Apa yang kalian lakukan disini!?"

"Oh, ada pengganggu. Miki, kamu tahu apa yang harus dilakukan?"

"Tentu saja, onii-chan." Miki menaikkan tudung jubahnya dan menghilang di kegelapan malam dunia bawah.

"Maaf, saya kesini hanya mengantar teman. Dia adalah anggota budak iblis Rias Gremory-sama. Kalau saya tidak salah acara pesta pertunangan beliau diadakan di sini bukan?" ujar Ise. Di belakang punggungnya sudah siap pistol bius.

"Hanya dia yang boleh masuk. Kau tidak boleh masuk!" ujar iblis penjaga.

"Maaf, tapi Gremory-sama memerintahkan saya untuk mengawal budaknya sampai—

"Aku yang akan mengantarnya. Kau kembali saja ke—URK!" iblis penjaga tersebut tiba-tiba kehilangan kesadaran setelah ditembak Ise dengan peluru biusnya.

"Miki, ada berapa penjaga?" tanya Ise lewat sihir telepati.

[Selain yang di gerbang tadi, semuanya ada di dalam mansion. Mereka fokus menjaga keamanan di dalam mansion.] Jawab Miki.

"Kalau begitu kami masuk." Ise membetulkan posisi topinya.

"Siap, Ise?"

"I was born for it. Ayo masuk!"

===Meet the Devils!===

Sementara itu di kamar Rias,

"Untuk sementara jangan terlalu banyak bergerak dulu, Gremory-sama. Nanti kalau berkeringat terlalu banyak, make-up-nya bisa terhapus. Kami permisi dulu." Tim penata rias yang menata make-up Rias keluar kamar.

Saat ini Rias memakai gaun pengantin putih yang sangat cantik. Biarpun terlihat sangat cantik, tapi wajah Rias sama sekli tidak menunjukkan ekspresi bahagia. Seharusnya memakai gaun pengantin merupakan impian setiap wanita. Tapi biarpun impiannya terwujud, ia merasa tidak bahagia.

Pintu diketuk dan Akeno dan yang lainnya pun masuk.

"Buchou, kami datang." Ujar Kiba sambil membungkukkan badannya.

"Buchoudaijoubu?" tanya Koneko. Rias tersenyum getir.

"Aku baik-baik saja, Koneko."

"… apa buchou yakin ingin menikahi Riser? Kalau mau kita bisa—

"Maaf, Yuuma. Aku tidak bisa mengkhianati keluargaku. Aku mau saja kabur, tapi keluargaku? Mereka pasti akan malu." Potong Rias.

"Maaf sudah bicara yang tidak-tidak…" ujar Yuuma sambil menbungkukkan badannya.

"Tidak apa-apa, Yuuma."

"Kalau begitu kami permisi dulu." Akeno keluar ruangan diikuti Yuuma, Kiba, terakhir Koneko.

"Apa buchou yakin akan menikahi ayam panggang itu?" sebuah suara dari langit-langit mengagetkan Rias.

"Miki!? Apa yang kamu—

"Tenang saja. Miki kesini nggak sendirian kok. Ellie-chan dan onii-chan juga datang." Ujar Miki sambil melompat turun dari langit-langit.

"Kenapa Miki ada disini?" tanya Rias.

"Hm… sebenarnya Miki sama sekali tidak punya niat untuk datang. Tapi karena onii-chan ingin datang jadi Miki ikut aja. Ellie-chan juga datang kok. Untuk sekarang kami belum akan melakukan hal yang berbahaya."

""Belum"? Berarti nanti kalian akan melakukan hal yang berbahaya!?"

"Oops, salah sebut. Yah, terserahlah. Kalau begitu Miki permisi dulu. Daah~!" Miki melompat keluar jendela dan menghilang.

Rias menatap jauh ke langit tak berbulan dunia bawah. "Apa yang akan kalian lakukan?"

===Meet the Devils!===

Sementara itu, di waktu yang sama, Akeno dan yang lain berpapasan dengan kelompok Sona Sitri. Kiba dan Saji pun berbincang sambil minum di balkon.

"Jadi, gimana?" tanya Saji.

"… kami dikalahkan…" jawab Kiba lemah.

"Oh, jadi begitu… maaf sudah bertanya…"

"Tidak apa-apa, Saji-kun. ini juga salahku karena kurang waspada." Ujar Kiba. Di tangannya terdapat segelas jus apel yang masih belum diminum. Kiba hanya menatap gelas itu.

"Bersemangatlah. Ini Rating Game pertama kalian. Bisa membabat habis budak iblis Riser Phenex saja itu sudah luar biasa." Saji menghibur Kiba. Yang dihibur cuma tersenyum kecil.

Tepat saat itulah, Riser muncul dengan lingkaran sihir berapinya di tengah-tengah tamu.

"Tuan-tuan, nyonya-nyonya, para bangsawan, petinggi, Maou, serta sang kaisar Belial Diehauser-sama. Saya, Riser Phenex, dengan bangga memperkenalkan pada anda semua tunangan saya, calon istri saya, Rias Gremory!"

Dari sebelah Riser muncul Rias dengan lingkaran sihirnya. Beda dengan Riser yang menunjukkan senyum, Rias sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun.

BRAK!

Tiga detik setelah Rias muncul pintu aula didobrak dan muncullah… pengantar paket?

"Permisi~! Saya dari KuFC (Kuoh Fried Chicken) mengantarkan pesanan… Yondai Maou…? Apa Yondai-san ada di sini?"

Sirzech turun dari balkon atas, "Ah, maaf, maaf. Saya sepertinya salah menulis kanji. Maksudnya "Yondai Maou" itu "Empat Raja Iblis". Bukan nama orang. Maaf, salah tulis."

"Ah, tidak apa-apa, Maou-sama. Pantas saya diminta manager ke dunia bawah untuk mengirimnya. Ternyata untuk empat Raja Iblis toh. Silahkan, satu paket special spicy black pepper Yakitori dengan minumnya satu strawberry milkshake, dua green tea milkshake, dan satu red tea milkshake. Totalnya 3.540 yen."

Sirzech membuka dompetnya dan mengeluarkan uang tiga ribuan yen, satu lima ratus yen, dan satu uang seratus yen.

"Oke, kembaliannya 60 yen. Ngomong-ngomong, disini ramai juga. Ada acara apa ya?" tanya pengantar paket.

"Oh, adikku akan menikah. Ini pesta pertunangannya." Jawab Sirzech. Mereka bercakap-cakap seperti teman dekat dan sama sekali tidak ada yang berani mengusik pembicaraan mereka.

"Menikah? Maksudnya nona cantik berambut merah yang di sana akan menikah dengan ayam panggang di sebelahnya?"

CTIK! Riser merasa [Pissed off switch]-nya menyala.

"Hahahaha, begitulah. Tapi mau bagaimana lagi, sebenarnya aku tidak setuju adikku menikah dengannya. Tapi orang tua kami berkata ini semua demi kebaikan bangsa iblis. Untuk mencegah punahnya ras iblis berdarah murni katanya. Biarpun aku Maou, aku tidak bisa menggunakan kekuasaanku untuk memutuskan pertunangan ini." Sirzech menghapus air mata palsu yang keluar di sudut matanya.

"Wah, kasihan sekali nona cantik di sana. Saya turut berduka cita nona—

DHUAR! Salah satu meja meledak dan terbakar oleh api dari Riser.

"Aku sudah menahan diri dari tadi. Tapi sepertinya kau yang minta mati, iblis rendahan!" hardik Riser.

"Pufu~ HAHAHAHAHAHAHAHA! Dia memanggilku iblis! Pfff… HAHAHAHAHAHAHA! Duh, dasar gebleg. Padahal sebelumnya udah aku bilang aku bukan iblis, apa dia ga bisa membedakan aura iblis dengan manusia?" pengantar paket itu membuka topinya dan menunjukkan rambut coklat jabrik dengan ujung rambut yang sedikit memerah, mata yang berbeda warna, dan senyum mengejeknya.

"K-kau!? Apa yang kau lakukan di sini, HYOUDOU ISSEI!?"

"Aku dapat undangan dari Sirzech. Jadi aku datang." Ise menjawab santai dan mengeluarkan kertas undangan dari saku celananya.

"Undangan!? Dan kau memanggil Sirzech-sama tanpa penghormatan begitu!? Beraninya kau…!" Riser menggigil menahan marah.

"Lho? Sudah wajar kan kau memanggil yang lebih muda darimu begitu? Bener ga, broh?"

"Yo'i banget, bray! Brofist!" Sirzech dan Ise mengadu tinju mereka. Semua yang menyaksikan menganga. Sirzech Lucifer, sang raja iblis terkuat, berbicara dengan bahasa gaul, dengan seorang manusia.

"PENJAGA! TAHAN DIA!" tapi tidak ada penjaga yang datang. Sekali lagi Riser berteriak. Tapi tidak ada yang datang.

"Percuma. Miki sudah menghabisi semua penjaga." Dari langit-langit atas, Miki dan Ellie melompat turun dengan pedang mereka berlumuran darah.

"Oy, Miki, Ellie! Aku udah bilang jangan bunuh penjaganya kan!?" hardik Ise.

"Maaf, onii-chan. Tapi Miki tidak membunuh mereka kok."

"Bohong! Itu pedang kenapa berdarah gitu!?" Ise menunjuk pedang Ellie.

"Yaaaaah~ gimana yaaa~? Tadi ada penjaga yang melawan dikit. Tapi kayaknya pedang kami punya pikiran sendiri deh. Jadinya… gitu deh." Gumam Ellie. Sayang Ise mendengarnya.

"Apa maksudnya "gitu deh" tadi!? Pasti mati semua kan!?"

Miki dan Ellie tidak menjawab.

"Udah dibilangin jangan dibunuh! Aaaarrrgh! Udah deh… yang dah jadi, jadi lah…" Ise menepukkan tangannya ke wajah.

"K-kalian… membunuh… semua penjaga…!?" tanya Riser menggigil

"Memangnya kenapa kalau semua mati? Toh, setiap makhluk pasti akan mati, ayam panggang." Jawab Miki sambil menatap Riser dengan tatapan dingin.

"Cukup dengan semua lelucon ini! apa maksudnya ini, Sirzech-sama!? Kenapa ada manusia itu di sini!?" tanya Riser.

"Baiklah, aku akan jujur. Rias, apa kamu menginginkan pernikahan ini?" tanya Sirzech pada Rias.

"Lebih baik aku disiksa sampai mati daripada menikah dengannya." Jawab Rias.

"Whoooooo~! Hahahaha! Denger tuh!" Ise dan Ellie ketawa ngakak mendengar jawaban Rias.

"Kalau begitu, apa kamu akan mengambil Rias kembali, Hyoudou Issei-kun? Kalau Rias menikah, dia tidak boleh sekolah lagi. Kalau itu terjadi, berarti semua budak iblisnya juga akan ikut dengannya. Dengan itu, berarti tidak akan ada lagi Klub Penelitian Ilmu Gaib. Apa kamu ingin mengambil Rias kembali?" tanya Sirzech pada Ise.

"Ha!? Pertanyaan macam apa itu? Cukup serahkan saja Rias-buchou pada kami, maka tidak akan ada pertumpahan darah." Jawaban Ise membuat Riser semakin marah.

"Kau sepertinya minta mati, manusia." Riser mengancam.

"Nggak tuh. Aku cuma minta Rias-buchou. Itu aja." dan Ise menjawab dengan santai.

Suasana semakin panas dikarenakan Riser yang membara.

"Baiklah~! Untuk mencegah kerusakan properti pribadi milik Lord Phenex, bagaimana kalau Hyoudou Issei di sini bertarung dengan Riser Phenex di sana?" tawar Sirzech. Riser tertawa.

"Sebenarnya aku benci melawan orang lemah. Tapi karena ini tawaran dari Maou-sama, aku terima."

"Aku ga mau." Jawab Ise datar.

"Eh? Kenapa?"

"Aku benci melawan orang yang tidak mengeluarkan darah. Apa serunya menusuk orang tapi ga ada darah yang keluar?" sisi sadist Ise keluar.

"K-kau…!" Riser menahan tinjunya. "Kau pikir kau bisa mengalahkanku, MANUSIA!?"

"Tidak, aku tidak bisa mengalahkanmu tanpa membunuhmu." Mata kanan Ise menyala merah terang seolah-olah berapi. Sedangkan matanya yang berwarna orange berubah bentuk menjadi tanda silang.

"Onii-chan, jangan gunakan itu. Nanti satu ruangan habis semua…" Miki menahan tangan kanan Ise. Mata Ise kembali ke semula.

"Jadi, apa kamu akan bertarung?" tanya Sirzech ke Ise.

"Che, keras kepala banget ni ayam panggang. Yo wes, aku terima." Jawab Ise.

"Aku juga." Timpal Riser.

"Ah, sebelumnya aku ingin menaikkan taruhan. Si ayam panggang boleh menggunakan air mata phoenix sebanyak-banyaknya. Aku hanya akan bertarung dengan ini," Ise mengeluarkan sebuah tombak dari buku catatannya, "dan [Sacred Gear]-ku. Taruhannya bukan cuma buchou. Kalau si ayam menang, dia boleh melakukan apapun padaku dan adikku. Tapi kalau aku menang, aku akan mengambil semua budak iblisnya."

"Heh, kau sedikit mendapat keuntungan sialan! Apa asiknya cuma dapat satu wanita?"

"Sekedar info, adikku perawan."

"Sepakat!" Riser dan Ise berjabat tangan, menyegel kontrak kesepakatan.

"Kalau soal cewek perawan aja langsung cepat. Onii-sama bego…" Ravel yang dari tadi memperhatikan cekcok Ise-Riser bergumam halus.

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Kenapa kita tidak pindah saja ke tempat lain. Riser, Ise, ikuti aku." Sirzech membawa Ise dan Riser ke ruangan lain. Di sana mereka di teleport ke dimensi lain.

===Meet the Devils!===

[Seperti saat Rating Game, di dimensi ini kalian bisa bertarung sepuasnya. Kalau Riser menang, Rias dan Hyoudou bersaudara akan menjadi miliknya. Kalau Hyoudou Issei menang, Rias dan seluruh budak iblis Riser akan menjadi milik Hyoudou Issei. Kalian boleh mulai kapanpun kalian mau.]

Ise melakukan sedikit pemanasan. Sedangkan Riser hanya melihatnya dengan pandangan meremehkan.

[Ah, satu lagi, Hyoudou Issei-kun,]

"Ya, Maou-sama?"

[Jangan membunuh Riser.] Ise hanya menyeringai kecil.

"Maaf, kalau itu aku ga bisa janji." Ujarnya. Lalu menyelesaikan pemanasannya, "Yosh, selesai. Kau boleh mulai kapanpun, yakitori yankee." Ise mencoba memancing emosi Riser. Dan berhasil.

DHUARRR!

Tempat Ise berpijak tadi kini terbakar oleh api berukuran sangat besar. Ise tidak terlihat dimanapun. Yang terihat hanya kacamata kecil Ise yang tergeletak sedikit gosong di sana.

Di bangku penonton,

"ISE-KUN!" Semua anggota ORC kecuali Miki panik. Mereka tidak melihat Ise dimanapun.

"Jangan khawatir. Onii-chan bukan tipe orang yang gampang dikalahkan." Ujar Miki santai sambil mengunyah keripik kentang.

Kembali ke pertandingan,

Riser tertawa keras. Dia tidak melihat Ise dimanapun. Dia yakin Ise pasti sudah mati.

"Hahahaha! Lemah! Banyak omong tapi hasilnya? Hahahahaha—

"Kalau aku jadi kau aku akan mulai menghindar."

Belum selesai Riser tertawa dia sudah terlempar jauh dari posisinya berdiri tadi. Di tempat Riser berdiri tadi, Ise berdiri dengan tombaknya dan sayap mekanik bercabang empat di setiap sayapnya. Sayap itu mengeluarkan partikel-partikel merah yang mengelilingi Ise.

"Skill No. 4, Trans-Am, activated." Gumam Ise. Ise kembali menghilang dan muncul di belakang Riser. Tombaknya diarahkan ke perut Riser. Target yang tidak sempat mengelak tertusuk tombak hitam kelam itu.

"AAARGH! Kenapa aku… merasa sakit…!?"

"Wajar kau merasa sakit. Seperti Painful Toothpick milik Ellie, tombak ini juga kubersihkan dengan air suci. Jadi jangan berharap lukamu akan sembuh tanpa air mata phoenix."

"AAAARGH! S-sialan!" Riser melepaskan diri dari tombak Ise dan terbang menjauh. Ia mengeluarkan air mata phoenix-nya—

CRAASSSH!

Dan botol air mata itu jatuh bersama dengan tangan kanannya.

"AAAARGH!" Riser menggeram menahan sakit. Darah mengalir keluar dari lukanya.

"Kau berpikir aku akan membiarkanmu menyembuhkan diri? Jangan harap." Ise kembali menyerang. Dikarenakan skill Trans-Am Ise, Riser tidak bisa melihat pergerakan Ise yang terlalu cepat. Yang dilihat Riser hanya sekelebat kilatan merah yang bergerak kesana-kemari. Sekujur tubuh Riser kini dipenuhi luka-luka bekas tebasan tombak Ise.

"Kenapa? Apa Riser Phenex sang Phoenix abadi mulai kelelahan?" Ise kembali memancing amarah Riser.

"Heh… sok kuat… kau sendiri juga… pasti kelelahan… grrh, kau tidak membiarkanku menyembuhkan… diri karena… takut, kan?" Riser mencoba memancing emosi Ise. Sayangnya Ise di fic ini bukan tipe orang yang gampang terpancing seperti di anime aslinya.

"Berterima kasihlah aku tidak menggunakan senjata favoritku. Kalau sudah, kau pasti mati terbakar."

"HA! Phoenix tidak bisa terbakar…! Kami adalah penguasa api dan angin!"

Perlahan luka Riser mulai menghilang. Tangannya yang terpotong tadi juga mulai tumbuh. Riser meminum air mata Phoenix lain.

"HAHAHA! Kau sudah tamat! Yang bisa mengalahkanku sekarang cuma dua naga surgawi!" sesumbar Riser. Ise tertawa keras. Sangat keras.

"Berarti aku bisa mengalahkanmu sekarang! Skill no. 4, Trans-Am, deactivate!" partikel merah yang mengelilingi Ise tadi menghilang. Ise menyimpan tombaknya kembali.

[BOOST!]

[Boosted Gear, Balance Break!]

Seluruh tubuh Ise bercahaya. Saat cahaya menghilang, sekujur tubuh Ise dilindungi oleh armor berwarna merah. Di punggung tangan, lutut, siku, dan dada Ise terdapat permata hijau bercahaya.

"[Boosted Gear Scale Mail]. Kalau begini mungkin berlebihan, tapi kau pantas mendapatkannya atas kesombonganmu, Riser Phenex." Ujar Ise.

"K-kau…! S-siapa kau… sebenarnya…!?"

"Namaku Hyoudou Issei, Sekiryuutei pemilik [Sacred Gear] tipe Longinus kelas menengah, [Boosted Gear]. Dengan kata lain, salah satu dari dua naga surgawi yang akan mengalahkanmu!" Ise berpose layaknya super sentai setelah perkenalan. Dengan ditambah efek ledakan di belakangnya, Ise benar-benar seperti super sentai

Di bangku penonton,

Miki menutupi wajahnya karena malu melihat perkenalan Ise seperti itu.

"Sudahlah, Miki. Biarpun begitu, dia tetap kakakmu tercinta kan?" goda Ellie. Miki mengubur wajahnya di lututnya. Ellie tertawa ngakak.

"Apa Ise-kun memang seperti itu dulu?" tanya Kiba.

"Ya. Malahan dulu lebih memalukan lagi. Dia akan berpose dengan ombak berdebur sebagai latar belakangnya. Pfft, bwahahahahaha!" Ellie tidak bisa menahan tawanya. Kiba hanya sweatdrop.

Kembali ke pertandingan,

Riser memucat melihat wujud baru Ise. Tadi dia dengan PD sesumbar kalau yang bisa mengalahkannya cuma dua naga surgawi. Sekarang dihadapannya hadir Sekiryuutei yang merupakan salah satu dari dua naga surgawi.

"Jadi, bisa kita mulai sekarang?" Ise menghilang dan muncul kembali di belakang Riser. Ise menendang Riser dengan keras. Riser melayang jauh dari tempat asalnya. Dikarenakan ego yang terlalu tinggi, Riser menolak mengakui kekalahan telaknya.

Jadi, untuk apa Ise menahan diri?

Semua serangan yang dilancarkan Riser sama sekali tidak berpengaruh. Bahkan armor Ise sama sekali tidak tergores. Hanya Riser yang dari tadi terpental kesana-kemari akibat pukulan dan tendangan berlebihan Ise. Berkali-kali Riser kehilangan anggota badan, berkali-kali pula ia beregenerasi.

"Sudah lelah?" tanya Ise sambil nyengir dibalik helm armor-nya.

"S-sssiaalll! Kubunuh kau… manusia!" Riser mencoba berdiri, tapi dia sudah terlalu kelelahan. Karena terlalu banyak beregenerasi ia memakai hampir semua sihir yang dia punya. Sekarang dia hanya tertelungkup lemas tidak berdaya. Bahkan hanya untuk mengeluarkan botol air mata phoenix yang lain saja dia tidak sanggup.

"Ada kata-kata terakhir?" tanya Ise. Riser hanya terdiam.

Sebelum Ise melancarkan serangan penghabisan, sebuah lingkaran sihir muncul di sebelahnya. Dari lingkaran sihir itu muncul Ravel melindungi kakaknya.

"… hn, kau benar-benar adik yang baik. Tapi mohon menyingkir dulu. Sebelum dia mengatakan dia menyerah pertandingan ini belum usai." Ujar Ise. Tapi Ravel tetap tidak bergerak dari tempatnya. Ia tetap berdiri di hadapan Ise. Melindungi Riser. Meskipun kakinya gemetar, ia tidak gentar.

"K-kumohon, jangan sakiti onii-sama lebih dari ini… kalau onii-sama terluka lebih dari ini, a-a-aku tidak akan t-tinggal diam!" Ravel berkata dengan air mata mengalir.

"… tidak." Ise menghilang dan muncul di belakang Ravel, "Kakakmu sudah menghina ketua klubku, mengancamnya, dan melecehkan sahabatku. Kalau tidak mau terluka, lebih baik—

"J-jangan…!" Riser perlahan mencoba berdiri. Ravel membantu kakaknya berdiri.

"Onii-sama, jangan berdiri dulu!"

"Tidak apa-apa, Ravel. Sekiryuutei, jangan sakiti… adikku… aku menyerah…! Kau boleh… mengambil budak-budakku… yang lain… tapi jangan… adikku… guh!" Riser memohon pada Ise. Ise terkejut mendengar Riser memohon padanya.

"… kau yakin? Kalau aku mengambil budakmu, bagaimana kau akan mengikuti Rating Game?" tanya Ise.

"Tidak… masalah… Asalkan adikku… tidak… terluka…" Riser akhirnya kehilangan kesadaran dan tumbang.

[Riser Phenex tidak dapat melanjutkan pertarungan. Hyoudou Issei memenangkan pertarungan!]

Di bangku penonton Akeno, Kiba, Yuuma, Koneko, Ellie, dan Miki bersorak gembira. Mereka berhasil membawa pulang Rias. Sementara itu Rias di bangku VIP (di sebelah Sirzech) menangis terharu. Ise bertarung demi dirinya. Awalnya dia pesimis Ise akan memenangkan pertandingan. Tapi kekhawatirannya tidak terbukti. Justru Ise memenangkan pertandingan tanpa terluka sama sekali.

Saat Ise baru dikembalikan dari arena pertarungan, Rias langsung menerjang dan memeluknya dengan (sungguh sangat) erat. Ia berkali-kali membisikkan terima kasih ke telinga Ise. Ise hanya mengelus kepala Rias untuk menenangkannya.

===Meet the Devils!===

Sementara itu Riser yang tak sadarkan diri dijaga oleh Ravel. Ise dan yang lain mendatanginya. Tepat saat Ise masuk, Riser membuka matanya.

"Yo, ayam panggang!" Ravel baru saja hendak melempar Ise dengan botol kalau Riser tidak menahan tangan Ravel.

"Sekiryuutei." Riser mencoba duduk. Tapi salah satu perawat menahan Riser agar tidak bangun.

"Tidak perlu bangun, aku kesini cuma ingin mengklaim hadiahku." Ujar Ise santai sambil duduk di sisi ranjang Riser.

"Kau! Kakakku sedang butuh istirahat dan kau—

"Tidak apa-apa, Ravel. Duduklah." Pinta Riser. Ravel hanya menurut.

"Jadi, ada beberapa perubahan yang kuinginkan dalam pertaruhan kita."

Ravel langsung memotong, "Kau baru membuat perubahan setelah kau menang!? Apa kau ingin lebih!?"

"Ravel…! Duduklah." Perintah Riser. "Apa itu?"

"Di awal pertaruhan aku menginginkan buchou dan semua budakmu. Sekarang aku berubah pikiran." Ujar Ise.

"Apa lagi yang kau inginkan…?"

"Tidak, tidak. Bukannya aku ingin minta tambah atau apa. Justru aku kesini untuk bilang aku tidak jadi mengambil budak-budakmu."

Semua orang di ruangan membelalakkan mata karena tidak percaya kata-kata Ise.

"Apa maksudmu!? I-itu bagian dari taruhan kita…!"

"Yaaah~ gimana ya…? Setelah melihat adik kecilmu melindungimu seperti itu aku jadi tidak tega. Dalam perjanjian memang kubilang kalau aku mendapatkan semua budakmu. Tapi aku berubah pikiran."

"? K-kenapa…?"

"Berterima kasihlah pada adikmu. Kalau saja dia tidak datang mungkin aku sudah menghabisimu tadi. Dia memohon agar kau tidak terluka lebih parah. Ah, tapi ini juga udah parah banget sih, sampai air mata phoenix aja ngga bisa nyembuhin… pokoknya, aku tidak jadi mengambil budakmu. Itu saja. Aku permisi dulu." Ise dan yang lain langsung keluar. Meninggalkan Riser yang kebingungan.

"Apa onii-chan yakin?" tanya Miki saat mereka keluar dari kamar Riser.

"Kenapa?"

"… bukan apa-apa…" Miki terdiam. Mengingat kakaknya ini terlalu baik bahkan untuk menghukum binatang yang mengotori pakaiannya saja tidak tega.

"Jadi, apa kita semua akan pulang?" tanya Ise pada yang lain. Semua mengangguk. Sebelum mereka pergi, datang Sirzech.

"Ah, sebelum kalian pergi, aku ingin bicara dengan Ise-kun, adiknya, dan budak baru Rias."

===Meet the Devils!===

Ise, Miki, dan Ellie dibawa ke salah satu ruangan di kediaman Phenex. Di sana sudah hadir ketiga Maou lainnya beserta kepala klan Phenex dan Gremory.

"Jadi, kenapa kami dibawa kesini?" tanya Ise blak-blakan.

"Langsung saja. Kami ingin tahu kebenaran tentang kalian. Siapa kalian? Darimana kalian datang? Apa yang kalian rencanakan?" tanya Ajuka beruntun.

"Whoa, whoa, whoa. Satu-satu broh! Kita mulai dari pertanyaan pertama. Kami cuma pengembara yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tampat lain. Aku dan adikku asli dari Kyoto, sedangkan Ellie dari Inggris. Kami berencana menemukan teman-teman kami yang lain." Jawab Ise singkat.

"Itu saja? Kami masih meragukan kalian." Ujar Ajuka.

"Sheesh, aku paling benci kalau harus menjawab panjang-panjang. Namaku Hyoudou Issei, Sekiryuutei pemilik salah satu [Six Elemental Holy Blades], [Blaze Katana], serta mantan ketua pemberontak Shogun. Adikku, Hyoudou Mikie, adalah ninja yang pernah melayani Takeda Shingen dan Sanada Yukimura bersama Sarutobi Sasuke. Temanku, Elizabeth Claire, adalah salah satu pemilik [Six Elemental Holy Blades] lainnya, [Aqua Trident], yang dulunya pernah menjadi murid Raja Arthur dan ikut bertempur bersamanya. Kami berkeliling dunia bersama teman-teman kami yang lain untuk mencari dan bertemu orang-orang yang mengancam kedamaian dunia. Memang kedengarannya seperti cerita dalam anime-manga, tapi memang itulah yang kami lakukan. Sekarang, kami masih belum punya rencana apa-apa. Karena Azazel sudah tahu keberadaanku, kurasa aku tidak akan berpindah-pindah lagi dan menetap disini untuk sementara. Kurasa Sirzech sudah menjelaskannya pada kalian apa yang kuceritakan padanya di ruang klub. Benar kan, Sirzech?"

"Ya. Tapi mereka bilang mereka ingin mendengar penjelasanmu langsung." Jawab Sirzech sambil menyeruput tehnya.

"Tadi kau bilang Azazel mengetahui keberadaanmu, apa hubunganmu dengannya?" tanya Falbium. Tidak biasanya dia serius. Bahkan dia tidak terlihat mengantuk sama sekali.

"Aku punya hutang pada pak tua itu." Jawab Ise.

"Hutang?"

"Ya. Dialah yang menyelamatkanku dan teman-temanku beberapa abad yang lalu. Aku membayar hutang dengan bekerja padanya. Dan hutangku kembali bertambah sejak dia menyembuhkan kutukan dari adikku beberapa hari yang lalu." Sambung Ise. Ise ikut menyeruput tehnya dengan santai.

"Kalau begitu, kau kawan… atau lawan?" tanya Ajuka.

"Itu tergantung sudut pandang kalian, kalau kalian menganggap kami teman, kami akan menganggap kalian teman pula. tapi kalau kalian menganggap kami lawan, aku tidak akan menahan diri." Ujar Ise sambil menatap lurus Ajuka. Yang ditatap mengalihkan pandangannya. Entah kenapa tatapan mata Ise kelihatan berbahaya.

"Sirzech bilang kau punya senjata yang setara dengan Longinus. Boleh kami melihatnya?" tanya Lord Phenex. Lord Gremory memajukan badannya sedikit.

"Maaf, tapi aku masih belum sepenuhnya percaya pada kalian."

BRAK! Falbium menggebrak meja.

"Jangan bercanda kau! Hanya karena kau mengalahkan Riser Phenex bukan berarti kau bisa—

"Falbium. Hentikan." Falbium kembali duduk tenang mendengar perintah Sirzech.

"Tidak perlu khawatir, Ise. Kau bisa mempercayai mereka. Mereka tidak seperti Raja Iblis sebelumnya." Sambung Sirzech. Ise hanya mengangkat bahunya dan mengeluarkan buku catatan sakunya.

"Ini senjataku. [Blaze Katana]." Sebuah katana sepanjang satu meter dengan bilah berwarna merah muncul di genggaman tangan Ise.

"Yang ini punyaku, [Aqua Trident]." Ellie yang dari tadi diam ikut mengeluarkan senjatanya. Sebuah tombak bermata tiga berwarna biru cerah dengan gambar tetesan air di pegangannya.

"Bagaimana dengan adikmu?" tanya Sirzech.

"Miki tidak punya." Jawab Ise.

"Lalu, apa Miki punya [Sacred Gear]?" tanya Sirzech lagi. Ise menggeleng.

"Kekuatan Miki murni berasal dari dirinya sendiri. Dia mempelajari Ninjutsu, sihir, juga alchemy. Itulah kemampuan Miki." Jawab Ise.

"Miki juga belajar beberapa jenis bela diri. Tapi Miki lebih suka menggunakan kemampuan Miki dalam menyusup. Hal itu lebih menarik daripada harus berhadapan dengan musuh secara langsung." Ujar Miki.

"Siapa saja teman-teman kalian yang memiliki senjata seperti kalian?" tanya Serafall yang dari tadi diam.

"Aku punya teman dari Jepang bernama Minamoto Mikaze, seorang—atau mungkin seekor—yokai pemilik [Gale Slicer], dari Korea bernama Kim Jong Seo, pemilik [Great Earth], ada lagi yang dari Rusia, namanya Renata Stalinovich, pemilik [Thunder Lance]. Dia bukan manusia, tapi keturunan setengah peri dan setengah manusia. Kami punya ketua yang memimpin kami. Tapi beliau sudah meninggal. Karena itu kami terpecah belah sampai sekarang. Namanya Tiffania. Beliau juga bukan manusia, melainkan salah satu dari bangsa peri. Beliaulah yang membuat senjata-senjata ini. dan beliau adalah pemilik senjata terkuat, [Holy Saber]. Sampai sekarang kami tidak tahu dimana beliau menyimpan [Holy Saber]." Ujar Ise.

"Bangsa peri? Bukannya mereka tidak bisa mati? Lalu kenapa…?"

"Beliau menyegel [Holy Saber] di suatu tempat. Dikhawatirkan senjatanya akan diperebutkan banyak orang dan malah menyebabkan kekacauan. Daripada dia menyimpannya, lebih baik dia menyegelnya di tempat yang tidak diketahui orang lain. Bahkan Miki yang tahu tentang hal itu saja disegel ingatannya." Ise kembali menyeruput tehnya.

PIPIPIPIP~!

HP Miki tiba-tiba bunyi.

"Eh? Di sini bisa dapat sinyal ya?" Ujar Miki polos. Miki menjawab panggilannya.

"Moshi-moshi? Oh, Asia-chan! ada apa? Kenapa kedengarannya panik begitu? … Eh? Yang benar!? Oke! Aku dan onii-chan akan segera kesana!" Miki mematikan HP-nya.

"Kenapa Miki?" tanya Ise.

"Mario Ziennes ditemukan!" Jawab Miki. Tapi wajahnya terlihat pucat.

"Dimana?"

Pintu ruangan diketuk dan seorang penjaga masuk dan berbisik ke Sirzech.

"Apa!? Mustahil!" Sirzech terlihat kaget mendengarnya.

"Ada apa, Sirzech?" tanya Ajuka.

"Kalian tidak akan percaya ini. Ibukota sedang diserang segerombolan Gargoyle dan makhluk aneh yang tidak diketahui!"

"Apa!?" semua kaget mendengarnya.

"Asia-chan juga bilang begitu! Ini mungkin perbuatan buronan yang kabur dari Vatikan!" tambah Miki.

"Tunggu apa lagi!? kita pergi sekarang!" Ise membuka jendela dan terbang begitu saja.

===Meet the Devils!===

Disaat yang sama, dengan Asia dan kawan-kawan,

Saat ini Asia tengah melawan sepasukan makhluk aneh bertanduk. Mereka menyerang Asia dengan cakar mereka yang bentuknya aneh. Asia melawannya dengan menembakkan peluru suci ke arah makhluk aneh itu. Tapi terlalu banyak. Asia sudah kelelahan. Pakaiannya lusuh, keringat bercucuran, napasnya tidak beraturan, amunisinya juga hampir habis.

"Asia! Dibelakang!" secara refleks Asia berbalik dan menembak. Betapa terkejutnya dia melihat Gargoyle raksasa yang hendak menyerangnya. Asia gagal mengelak dan terlempar jauh.

"ASIA!" seorang biarawati berpakaian putih bersenjatakan pedang menghampiri Asia. Ia membawa Asia menjauh dan mengobatinya seadanya.

"Suster… Griselda… larilah…" ujar Asia terengah-engah.

"Jangan berpikiran begitu! Aku tidak akan meninggalkanmu!" Griselda menggendong Asia dan membawanya menjauh. Sementara itu, seorang pendeta bersenjatakan tombak tengah dikepung sekumpulan Gargoyle. Pendeta itu juga sudah kelelahan.

Di atas sebuah gedung di tengah kota yang kacau tersebut berdiri seorang pria berambut coklat menatap ke arah kekacauan yang dibuatnya.

"Sebentar lagi… kalian semua akan kuhabisi…" gumamnya. Dia sama sekali tidak sadar seseorang mengendap di belakangnya. Saat orang itu hendak menyerangnya, muncul sosok lain yang membunuh penyerang dadakan tadi.

"Signore Mario, anda harus lebih memperhatikan sekitar anda." Ujarnya.

"Aku percaya padamu." Balas Mario Ziennes.

"Biarpun begitu, kita tidak bisa membiarkan mereka begitu saja. Gadis itu, dia memiliki apa yang kita inginkan. Kita harus—

"Bersabar dan menunggu saat yang tepat. Itu saja. Lagipula, aku yakin [orang itu] akan datang." Potong Mario. Ia memutar-mutar seruling ditangannya. Seruling yang merupakan [Sacred Gear] pemanggil makhluk-makhluk mistis berbahaya, [Demon's Whisper].

"Anda terlalu santai, Signore…"

"Itulah aku, Gregor."

"Karena itulah, hamba percaya pada anda. Hamba permisi dulu." Pria itu—Gregor—menghilang meninggalkan Mario.

===Meet the Devils!===

"Dimana posisinya, Miki?"

"Sebentar… disana! Empat ekor Gargoyle menyerang seorang iblis! Disana juga terdapat beberapa orang anak-anak!"

"Biar aku yang menanganinya, Miki dan Ise lanjut saja!"

"OKE!"

Saat ini, Ise, Miki, dan Ellie tengah dalam perjalanan ke pusat kota. Mereka tidak bisa memakai sihir teleportasi karena ada suatu segel yang menahan sihir teleportasi mengelilingi Lilith. Dikarenakan kediaman Phenex terletak jauh dari pusat kota Lilith, mereka terpaksa berlari.

Anggota ORC yang lain sedang berada di kediaman Gremory. Mereka mempersiapkan diri untuk bertempur kecuali untuk Koneko yang terkena dampak paling parah. Sedangkan Kiba belum bisa bertarung dengan baik karena luka tusuk di perutnya. Yuuma sudah berangkat lebih dulu ke Lilith. Rias dan Akeno-lah yang paling bisa diandalkan disini.

"Bagaimana kita akan kesana? Kita tidak bisa memakai lingkaran sihir. Jadi bagaimana?" tanya Akeno.

"Onii-sama akan mengirim griffon untuk kita." Jawab Rias.

Pintu diketuk dan Kiba masuk ke ruangan, "Buchou, Yuuma-senpai sudah sampai di Lilith. Dilaporkan kalau korban jiwa saat ini masih belum ada. Tapi kalau terus begini…"

"Ah, Griffon kita sudah sampai. Kita berangkat!"

"Tunggu, Rias!" Sirzech datang dan memberikan sesuatu ke Rias dan Kiba.

"Ini…?"

"Alat temuan Ajuka. Tembakkan alat ini ke monster paling besar disana dan monster-monster yang lebih kecil darinya di ruang lingkup radius 15 km sekitarnya akan mati. Tapi hanya bisa digunakan sekali. Cari dan tembaklah monster paling besar disana!"

"Dimengerti! Kita berangkat, Yuuto, Akeno!"

"Hai'!"

===Meet the Devils!===

Ise dan Miki sudah bertemu dengan Asia dan yang lain. Mereka saat ini mundur ke salah satu gedung kosong.

"Bagaimana kalian bisa kesini?" tanya Miki.

"Ceritanya panjang. Singkatnya, kami menangkap satu iblis di dunia manusia dan memaksanya membawa kami kesini." Jawab suster Griselda. Asia cuma tertawa kecil.

"Anehnya tidak ada iblis yang menyerang kalian biarpun kalian menggunakan seragam gereja." Celetuk Ise.

"Kami cuma bilang kami akan membantu mereka. Itu saja." Ujar Asia.

Ise mengeluarkan tombaknya. Sambil melihat ke sekitar, ia bertarung melawan Gargoyle dan monster-monster lainnya. Sudah lima menit ia masih belum menemukan yang dia cari. Miki yang sudah selesai mengobati luka Asia ikut bertarung bersama Ise.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa puluh tahun, Ise dan Miki bertarung bersama. Ise dengan tombaknya, Miki dengan kedua golok kukri miliknya. Mereka bagaikan pasangan yang menari di lantai dansa. Monster yang tak terlihat oleh Ise, dibunuh oleh Miki. Monster yang luput dari perhatian Miki, ditebas oleh Ise. Kerjasama yang sangat baik. Mereka saling menutupi kekurangan masing-masing.

"Kemampuan mereka masih sama seperti dulu…" gumam Asia.

Ise akhirnya menemukan yang dia cari.

"Miki! Gedung paling tinggi arah jam 10!"

Miki langsung melihat ke arah yang ditunjuk. Disana berdiri seorang pria. Dia berdiri tenang seolah-olah tidak ada hal buruk yang terjadi.

"Miki akan mengejarnya!" Miki bersiap hendak melompat.

"Jangan! Kalau itu perangkap bagaimana? Kita tetap disini! Sampai Ellie dan Rias-senpai datang, kita akan tetap disini!" seru Ise. Ise mengganti senjatanya dengan Ascalon dan [Blaze Katana]-nya. Menebas setiap monster dan gargoyle didepannya. Diikuti oleh Miki yang melindungi Ise dari belakang. Asia juga memutuskan untuk bertarung setelah istirahat. Me-reload pistolnya, Asia menembaki monster-monster yang terlewat oleh Ise dan Miki. Tak mau kalah, Griselda yang sudah pulih ikut bertarung bersama mereka.

Dan di puncak gedung tertinggi di Lilith, Mario memperhatikan Ise dan yang lain bertarung.

"Sepertinya sudah waktunya aku mengakhiri semua ini." Mario kembali memainkan serulingnya. Kali ini muncul monster besar berwujud naga panjang berwarna hitam legam. Tidak hanya satu, tapi banyak. Monster-monster naga itu menyerang Ise bersamaan.

Dan Ise yang tidak melihat monster itu terkena serangan telak.

DHUAR!

"ONII-CHAAAAAAAAN!"

END

A/N :

Mwahahahaha! Maaf saya harus memotong cerita ini di sini. Memang saat yang tidak tepat, tapi ini penting untuk membuat pembaca penasaran tigaperempat mati (karena setengah mati sudah terlalu mainstream).

Chapter depan anda akan melihat seperti apa kekuatan Miki yang sebenarnya. kalau Ise punya [Juggernault Drive], Miki beda lagi. Sabar aja. Ntar juga update kok.

Jadi gimana hasil Rating Game-nya? Apa kalian pikir saya akan memenangkan Rias begitu saja? HELL NO! Mana ada serunya kalau begitu! Memang mirip dengan anime, tapi inilah yang menurut saya lebih menarik. Kalau Rias langsung menang, ga bakal ada adegan Ise vs Riser versi saya. Saya sudah lama ingin menulis adegan ini.

Sekian dulu chapter ini. Sayang sekali ini adalah chapter terakhir yang bisa saya post untuk tahun ini. Saya saat ini sedang memulai project untuk menulis buku panduan menyelesaikan Rubik's Cube. Dan saya juga kehilangan hampir 60-an halaman word yang saya ketik karena adek-adek bertuah saya yang dengan santainya menghapus 28 folder word, 354 anime, dan 32 game. Jadinya HDD saya langsung turun berat badan dari 891 GB berisi, tersisa 80 GB berisi. Saya akan melanjutkan menulis fic ini, melanjutkan fic "Konohagakuen, Academy for Knights", dan menulis ulang fic "Lightbender of Konoha".

Sampai jumpa di bulan Januari!

To Be Continued to Chapter 7:

Hyoudou Mikie

fazrulz21, logging out…