Ohayou minna-chan...
Yoyeo come back #ditendang#...
Gomen ne baru updet... yoyeo sibuk banget udah mau uts nih banyak banget tugas...
Jujur banget ni chapter yoyeo rasa chapter paling sulit yang pernah yoyeo tulis... selain karena banyak tugas, yoyeo juga harus gambarin bagaimana red clouds itu. Yoyeo mesti cari banyak referensi dulu apalagi nama-nama senjata pembunuh massal senjata biologi, sama mutasi genetika. Sama bagian adegan pein saku di kamar saku... yoyeo mungkin bukan tipe orang romantis jadi bikin adegan yang menyentuh tuw agaka kaku. Semoga kalian suka. Hahhhh... dan yang terakhir yoyeo ga sempet ngedit... nanti mungkin banyak typo mohon di maafkan...
Oke berhubung yoyeo ga punya banyak waktu yoyeo mau langsung balas ripiu dulu...
aoi-san : siap...ni dah lanjut...
dhiila baekhyun : salam kenal juga... aku juga suka sifat sakura... ehm sebenernya saya juga suka pairing itasaku di fic ini... aku rasa sifat Itachi yang dewasa cocok banget ma sifat saku yang keras kepala... tapi mau gimana? Ini fic gaasaku hikhik ga rela#plaklemparsepatu#
Yukina Itou Sephiienna Kitami :semoga chap ni keinginan kamu terkabul hehe
sakura yuuki : makasih udah mau baca... selamt menikmati chap 6
Kumada Chiyu : unyu? Oke deh bisa jadi hehe... akan ada pairing sasusaku tapi endingnya hanya saya yang tahu hahaha... iya saya juga setuju sama kamu. Itasku cocok banget cemistry mereka dapet banget.
itsuka ikabara : maksih yah... semoga kamu puas chap ni...oke siap
Akiko Mi Sakura : sumpah greget banget#gigitbantal#kamu lucu banget ... sumpah greget banget#gigitbantal#kamu lucu banget...hahaha
Oke siap! Iya ita tuw suka ma saku sayang banget malah...
Elfairy3 :hmmm kayaknya kamu salah deh hehehe...chap ni bakal jawab pertanyaan kamu. Ehmm VIP no 3, no 1 saya CLOUD (tapi bukan red clouds hahahaha)#plak# kedua saya ELF, ke 3 saya VIP, keempat saya EXOTIC, kelima saya HOTTEST hahahha borong...
natsume : ok
CherrySand1 :chap ni bakal ngejawab pertanyaan kamu...
naoe bia :kayaknya kamu petugas sensus deh hehehe suka nanya umur... saso seumuran itachi 22 tahun, kalao pein 26 tahun. Deidara seumuran ma gaara, sasu, naru, sai mereka 20 tahun.
Uchiwa :yups...met menikmati chap ni
nadira cherry and legolas :semoga chap ni ngejawab pertanyaan kamu... thanks ripiunya
DF :wah seneng banget kalo kamu suka. Aku juga suka gaasaku. Oke siap
white's : seneng kalao kamu suka... semoga chap ni ngejawab harapan kamu... aku juga suka bagian tuw... makasih semngatnya saya sangat termotivasi. Hahaha kamu lucu deh...
icha :makasi ripiunya...selamat membaca chap 6
Guest :arrrrrgggghhhh ni dah muncul...oke siap...
Whitemour :thanks ripiunya...:)
Eysha CherryBlossom :masih ada typo? Arrrrghhhhh...
Luca Marvell :saku ikut nama keluarga ibunya soalnya dia trauma ma pein dia g mau jadi keluarga Akasuna...nanti da cerita tentang itu...
o.O rambu no baka: tentu ada...ni udah nongol hehe...salam kenal juga...
natsume :stadium akhir hahahaha
hanazono yuri:siap...
Jeremy Liaz Toner : ehhhh...aku serius nih... (serius kepo)#plak# abis penasaran... nama kamu kayak laki-laki tapi feeling aku kok kamu perempuan yah...
oke tidak usah lama-lama langsung ajah cekidot
Naruto itu punyanya kangmas masashi kishimoto
Tapi kalau Monster's punya saya
Boleh di copy tapi ga boleh di paste
Monster's
Drama/Sci-fi
Sakura, Akatsuki, Gaara, Sasuke
Chapter 6
Red Clouds
LOS ANGELES, 03.00 P.M, 20 April 2014
Bunyi derap langkah kaki mengalun tegas namun teratur menunjukan sang pemilik kaki yang sedang terburu namun tetap berwibawa dalam melangkah. Seorang pemuda berperawakan kekar berambut raven dan berpakaian serba hitam menatap lurus lorong di depan. Mata elangnya tajam seolah akan melahap apa saja yang akan menghalang langkahnya yang terlihat sangat terburu itu. Di belakangnya empat orang yang tampak seperti pengawal berstelan kemeja putih, berdasi dan berjas hitam mengikuti langkahnya. Ia membelok ke kanan di pertigaan lorong tersebut dan mempercepat langkahnya saat mendapati sebuah pintu di ujung lorong tersebut. Mendorong kasar pintu di hadapannya, ia segera masuk dan menatap datar seseorang yang duduk membelakanginya.
"Ah selamat datang, Sasuke-kun?" sapa seorang berambut abu-abu yang berdiri di samping pria yang duduk membelakanginya itu.
"Dimana dia?" ucap pemuda yang dipanggil Sasuke itu tanpa mempedulikan sapaan sang pria berambut abu-abu. Matanya terus tertuju pada kursi yang membelakanginya itu. Kabuto, pria yang berambut abu-abu sedikit mendengus dan beralih menatap tuannya yang duduk di sampingnya.
"Kau sudah datang Sasuke-kun?" jawab pria yang berada di balik kursi itu.
"Tidak usah basa-basi. Cepat katakan dimana dia?" balas Sasuke dingin. Pria itu tertawa. Suara tawa yang tidak bisa dikatakan merdu lebih cenderung menyeramkan.
"Seperti biasa, tidak sabaran" pria itu membalik tubuhnya. Seorang pria lima puluhan. Rambut hitam panjangnya dan senyuman mengerikan di wajahnya membuat tidak ada yang ingin berada di dekatnya terlalu lama. Wajahnya yang sedikit kurus, matanya yang beriris kuning dan kulitnya yang pucat membuatnya terlihat seperti mayat hidup. Aura mangerikan selalu terasa saat ia tersenyum. Sasuke menatap datar pria tua itu. Mereka berdua saling tatap untuk beberapa saat sebelum akhirnya sang pria tua itu kembali tertawa.
"Jangan habiskan waktuku! Cepat katakan dimana dia?!" ucap Sasuke saat mendengar tawa lelaki tua itu. Mungkin dia juga sudah mulai merasakan efek tidak enak dari tawa pria itu.
"Hei Uchiha! Bersikaplah sopan pada Orochimaru-sama!" bentak Kabuto yang dibalas dengan lirikan sengit tidak suka dari Sasuke.
"Sudahlah Kabuto" ucap Lelaki tua yang bernama Orochimaru itu setelah berhenti dari tertawanya. Ia menatap Sasuke sambil tetap tersenyum. "Kau belum bisa bertemu dengannya Sasuke-kun" kata tenang. "Penelitianku padamu belum selesai. Tubuhmu masih belum stabil menerima ..."
"Hentikan omong kosongmu tua bangka!" potong Sasuke setengah menghardik. Kabuto ingin maju menghajar Sasuke karena ucapannya yang sangat kurang ajar. Namun sebuah tangan menghentikan niatnya. Kabuto menoleh manatap Orochimaru dengan tatapan tidak terima. Ia hanya mendengus dan kembali menatap Sasuke tidak suka. Sasuke terdiam sesaat kemudian melanjutkan ucapannya. "Aku datang padamu bukan untuk menjadi budakmu." Ia menatap tajam pada Orochimaru. "Kita punya perjanjian. Dan aku yakin kau tidak melupakannya kan?". Senyum di wajah Orochimaru menghilang. Agak kesal juga mendengar ucapan kasar Uchiha di depannya. kalau saja dia bukan sample percobaannya sudah di tembak mati pemuda di depannya itu.
"..."
"Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan. Dan ternyata kau malah berkhianat dan menyembunyikan semua dariku. Apa kau ingin aku menembak kepalamu sekarang juga?" ucapnya dingin.
"Jaga sikapmu Uchiha! Jangan seenaknya mengancam! Kau ingin mati hah!" bentak Kabuto geram.
"Aku tidak ada urusan denganmu penjilat" balasnya dingin. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Kabuto. "Tapi aku harus berterima kasih dengan mulut penjilatmu itu. Berkat mulut itu aku bisa mengetahui pengkhianatan Tuanmu yang kau hormati ini" ucapan dingin ini membungkam mulut Kabuto. Ia berdecak sambil melirik takut pada Orochimaru. Orochimaru tidak bereaksi.
"..."
"Katakan dimana dia. Atau aku akan membunuhmu sekarang"
"..."
"..."
"Kau tahu Sasuke-kun. Kita sudah membuat perjanjian kalau kau akan menyelesaikan urusanmu dengan kakakmu itu, jika semua urusanmu denganku sudah selesai. Tapi kau sendiri tahu kan kalau urusanmu denganku belum selesai?" kata Orochimaru setelah suasana hening tercipta sesaat di antara mereka.
"Dan kau ingatkan kakek tua? Kau berjanji akan segera memberitahukan apa saja yang kau ketahui tentang pembunuh itu? Itu berarti kau tetap memberitahukan padaku segala hal tentangnya apapun keadaanku!" ucapnya sedikit menggeram.
"..."
"Dan ternyata kau sudah berkhianat"
"..."
"..."
"Aku melakukannya untukmu Sasuke." Jawab Orochimaru kemudian. "Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan percobaanku. Termasuk emosimu".
"Itu urusanmu" Orochimaru diam. "Percobaan itu keinginanmu. Jadi itu bukan urusanku. Urusanku adalah dengan pembunuh itu" ucap Sasuke lagi dingin. "Aku akan berbaik hati untuk melupakan pengkhianatanmu dan mengajukan sebuah pilihan padamu."
"..."
"Beritahu padaku keberadaannya dan biarkan aku mencarinya, aku akan membiarkan kau meneruskan urusan percobaanmu pada tubuhku. Atau aku pastikan kau tidak akan mendapat apapun, tubuhku dan nyawamu." Sambungnya lagi. Orochimaru mendengus.
"Kau tidak sadar dengan siapa kau bicara Uchiha?"
"..."
"Kau pikir kau bisa membunuhku dengan mudah? Kau sedang dalam markasku, ingat itu" Orochimaru menatap tajam Sasuke. Namun yang ditatap tidak menampakkan raut takut sama sekali. "Aku yang akan membunuhmu jika aku mau" sambungnya dingin.
"Bunuh aku dan jangan harap kau bisa lari dari Klan Uchiha" jawab Sasuke dingin. Dahi Orochimaru bertemu. Ia berdecih. Adalah kesalahan mengancam seorang Uchiha. Dia tahu itu. Klan paling berpengaruh di pemerintahan Kekaisaran Jepang. "Jadi katakan sekarang" ia menatap Orochimaru tajam. Orochimaru hanya diam.
"Cklek"
Sasuke mengancungkan Handgunnya. Kediaman Orochimaru memaksanya menggertak dengan senjata. Mata Kabuto membulat. Ia reflek mengambil Handgunnya juga dan mengarahkankannya pada Sasuke. Suasana tegang tercipta di antara mereka. Orochimaru mengerutkan alisnya.
"Katakan sekarang" perintah Sasuke.
"..."
"Sekarang!" bentaknya geram. Sebelumnya Sasuke tidak pernah semarah ini. Sama seperti semua Uchiha, ia adalah orang dingin yang jarang menunujukan ekspresinya. Namun kali ini perbuatan Orochimaru benar-benar membuatnya geram. Orochimaru menghembuskan nafasnya kasar.
"Tokyo" Sasuke diam. ia mengerutkan alisnya. "Ia ada di Jepang" Kali ini Sasuke terkejut.
"Jepang?" tanyanya dalam hati. Ia menatap lantai ruangan itu seperti sedang berpikir. "Kenapa Klan Uchiha tidak ada yang dapat melacaknya jika dia ada sedekat itu" pikirnya. Ia kembali menatap Orochimaru. "Apa maksudmu? Bicara yang jelas?" Orochimaru mendengus.
"Apa kurang jelas yang kukatakan? Dia ada di Tokyo, Jepang"
"Cih..jangan bercanda. Kalau ia ada di Jepang kenapa Klanku tidak bisa melacaknya?" Orochimaru menyeringai.
"Entahlah, mungkin Klanmu sudah kehilangan kehebatannya, sehingga untuk melakukan hal kecil ini saja tidak becus"
"Jangan bicara seenaknya!"gertak Sasuke tidak suka. "Kau ingin mati hah?!" katanya lagi. Ia paling tidak suka Klannya dihina. Baginya Klannya adalah segalanya dan terhebat.
"Santai Sasuke, aku hanya bercanda" balas Orochimaru sambil tertawa. "Tentu saja Klanmu tidak dapat melacaknya" Sasuke kembali mengerutkan alisnya tidak mengerti. Namun ia hanya diam menunggu kelanjutan ucapan Orochimaru. "Ia ada di dalam Red Clouds" tidak ada reaksi berlebihan dari Sasuke.
"Red Clouds?" tanya Sasuke.
"Kau tidak tahu Sasuke?" tanya Orochimaru tidak percaya. Ia lalu tertawa. "Apa kekagumanmu pada Klanmu membuatmu menutup matamu pada Klan hebat lainnya?" cibir Orochimaru sambil tersenyum sinis. Sasuke menatapnya tajam. Melihatnya Orochimaru kembali berkata. "Kalau kau ingin mempertahankan kehebatan Klanmu, seharusnya kau buka matamu. Pelajari sekelilingmu"
"..."
"Jangan sombong Uchiha. Sikapmu yang terlalu menjunjung klanmu dan merasa kalianlah yang terhebat membuatmu tidak sadar di sekelilingmu ada banyak klan lain yang berbahaya yang bisa menjatuhkan klanmu"
"..."
"Kau pikir kalian satu-satunya yang terhebat? Cih... "
"..."
"Pantas saja Itachi meninggalkan klan menyedihkan itu"
DOOR
Bunyi tembakan terdengar di ruangan itu. Kabuto maju ke depan dengan Handgun tetap terarah ke Sasuke. Orochimaru terdiam. Sasuke menembak lantai di bawah mejanya.
"Letakkan senjatamu Sasuke!" teriak Kabuto. Sasuke bergeming. Ia menatap tajam Orochimaru.
"Jaga ucapanmu kakek tua!" desisnya marah. "Pembunuh itu yang tidak pantas ada di klan Uchiha" sambungnya tajam. Orochimaru terdiam beberapa saat kemudian tertawa.
"Terserah kau saja Sasuke. Aku tidak peduli" katanya kemudian. Ia kemudian menatap Sasuke serius.
"Aku punya seorang mata-mata di kepolisian Jepang" Sasuke diam mungkin masih geram. karenanya Orochimaru tersenyum. "Saat mengejar seorang kriminal, ia di bawa masuk dalam pertemuan Red Clouds dan Korea Selatan. Dan di situlah ia melihat kakakmu itu terlibat dalam pertemuan itu" Kali ini Sasuke tampak terkejut. "Ia tidak tahu Itachi ada di pihak mana. Tapi dari posisi duduknya, mata-mataku menyimpulkan ia ada di pihak Red Clouds" jawab Orochimaru menyudahi penjelasannya. "Aku akan menyiapkan tiga buah tiket menuju Jepang" Orochimaru menatap Sasuke tajam. "Aku akan mengikuti keinginanmu. Aku akan membiarkanmu mencari kakakmu itu dan menyelesaikan urusanmu dengannya. Tapi aku minta kau juga menyelesaikan urusanmu denganku. Jika kau berani main-main denganku. Aku tidak akan segan-segan membunuhmu Uchiha!" ancam Orochimaru serius. Ia menyeringai dan menjilat bibir bawahnya. Sasuke tidak bergeming. "Jangan pikir aku main-main Uchiha" sambung Orochimaru lagi. "Jangan kau pikir kau satu-satunya orang hebat yang layak menjadi sample percobaan ini karena klanmu itu. Aku punya banyak nama yang bisa kujadikan sample. Jadi jangan besar kepala." Sasuke berdecih.
"Lalu kenapa tidak kau minta salah satu nama yang kau punya untuk jadi samplemu?" ia berjalan maju untuk mendekati Orochimaru. "Kenapa malah memintaku untuk menjadi samplemu?" Kabuto menghalang jalannya.
"Jangan mendekat. Berhenti di tempatmu!"ancam Kabuto. Sasuke melirik datar Kabuto tanpa rasa takut. Kabuto menelan ludahnya. Orochimaru menyeringai.
"Karena kau sangat menyedihkan" jawabnya ringan. Tatapan Sasuke menajam. "Aku tidak punya alasan untuk meminta orang lain. Tapi kalau kau, aku yakin kaupun tahu alasanku" ia menggantungkan kalimatnya. "Alasanku adalah urusanmu dengan Itachi sasuke-kun" ia tertawa. Sasuke sudah mau menembak lagi saat suara Orochimaru menggema keras. "Daripada kau habiskan energimu untukku. Lebih baik kau siapkan mentalmu untuk menghadapi Red Clouds" katanya tegas. Sasuke tercekat. "Aku tidak akan mengulang dua kali" ia menatap tajam Sasuke. Sasuke sendiri sedikit terkejut dengan perubahan drastis sikap Orochiamaru ini. "Jangan remehkan mereka"
"..."
"..."
"Red Clouds..." ucapan Sasuke menggantung.
"..."
"Seperti apa organisasi itu?" Orochimaru menyeringai mendengarnya.
"Kukira kau tidak tertarik mendengarnya Sasuke-kun?"
M.O.N.S.T.E.R.S
Japan, 10.00 P.M, 20 April 2014
Sakura mengangakan mulutnya tidak percaya. Sungguh, ia mengharapkan kalau tadi ia salah dengar. Sudah beberapa hari ini ia dikejutkan oleh perkataan kakaknya itu yang membuat adrenalinnya meningkat dan jantungnya berpacu cepat. Ia hanya berdoa semoga ia tidak akan mati saat keluar dari rumah ini. Namun lagi-lagi ia dikejutkan dengan pernyataan kakaknya yang akan membawanya pulang ke rumah mereka. Dan ia yakin kali ini mungkin ia akan langsung mati kalau itu terjadi. Atau kemungkinan terbaiknya ia akan cepat mati jika tinggal dekat kakaknya itu.
"Aku bilang, kau akan pulang Sakura, kau akan tinggal bersamaku dan Sasori" kata Pein menjawab teriakan Sakura.
"Oke Sakura, itu kabar yang bagus bukan?" Deidara tersenyum senang. Namun dimata Sakura, itu adalah senyum yang sangat menyebalkan. "Kita akan bertemu setiap hari. Bukankah itu adalah hal yang menyenangkan?" Sakura ingin mencakar muka dan merobek bibir Deidara saat mendengar kata-katanya barusan. Bertemu dengannya dua hari saja sudah menghabiskan stok energinya untuk marah, apalagi bertemu setiap hari. Bisa-bisa ia jadi gila.
"AKU TIDAK MAU!" jeritnya. Pein diam. ia tidak menoleh atau sekedar melirik Sakura. hanya diam. Konan sedikit tercekat. Deidara hanya tersenyum miring. Agaknya dia sudah bisa menebak reaksi Sakura. Sasori dan Itachi hanya menatapnya datar. Sakura merasa dadanya sesak. Ia benar-benar marah.
"Aku sudah mengikuti apa yang kau inginkan kan?" desisnya. "Semuanya" katanya lagi pelan.
"..."
"AKU SUDAH IKUTI SEMUANYA" dia kembali berteriak.
"..."
"Aku sudah sabar untuk ikuti semuanya Nii-san" tangisnya pecah. Airmatanya jatuh mewakili amarahnya. "Jadi...jadi tolong jangan paksa aku lagi untuk melakukan hal-hal konyol lain yang membuatku semakin muak" ia menelan ludah. Ia tahu mungkin kakaknya itu akan murka karena kata-katanya itu. Tapi jujur ia sendiri sekarang juga sedang mati-matian meredam emosinya karena kakaknya itu.
"..."
"..."
Pein kemudian berdiri. Sakura terkejut dan reflek mundur. Tentu saja saat tegang begini ia harus waspada dengan semua gerak-gerik Pein. Bisa saja karena tidak suka dengan kata-katanya, Pein menendang atau memukulnya. Mungkin memang agak berlebihan. Pein tidak mungkin melakukan itu pada Sakura. Tapi untuk saat ini dalam pikiran Sakura semua bisa saja terjadi. Pein berbalik memunggungi Sakura.
"Ada yang ingin ku bicarakan dengan yang lain. Kau tidurlah" kata Pein sebelum melangkah pergi. Sakura mengerjab. Itu perkataan yang sama sekali tidak menjawabnya.
"AKU BILANG TIDAK MAU YA TIDAK MAU!"jeritnya meraung setengah menangis. Langkah Pein terhenti. Sakura berusaha menahan tangisnya. Ia menunggu jawaban Pein. Namun beberapa detik kemudian Pein kembali berjalan. Sakura tambah jengkel.
"NII-SAN!" teriaknya sambil menghentakkan satu kakinya. Kali ini dia tidak dapat menahan tangisnya. Ia terisak. Namun hal itu tidak menghentikan langkah Pein. Ia melangkah masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu tanpa menoleh sedikitpun pada Sakura. "Hikhik Nii-san aku hik tidak mau hikhik" walau tidak sekeras tadi, Sakura tetap berteriak di sela isak tangisnya. Ia menunduk sambil menutup mata kanannya dengan punggung tangannya. Itachi menghela nafas lalu berdiri dan berjalan menuju Sakura. ia mencoba meraih tangan Sakura yang sedang menutupi matanya.
"Sakura, sebaiknya kau tidur..." Ucapan Itachi terhenti saat Sakura menepis tangannya.
"huuu hikhik huuu" sambil tetap menangis Sakura berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Dengan penuh emosi ia membanting keras pintu kamarnya sebagai tanda protes pada Pein. Untung saja pintu itu terbuat dengan kualitas bahan yang bermutu. Kalau tidak mungkin pintu itu sudah terlepas dari engselnya. Itachi memandang kepergian Sakura dengan datar lalu kembali menghela nafas saat mendengar debuman pintu yang sangat keras. Ia sempat berpikir mungkin Pein juga dapat mendengar debuman pintu itu. Sasori berdiri berjalan mendekatinya dan menepuk bahunya dari belakang. Itachi menoleh menatap Sasori.
"Ayo pergi. Kau sudah dengar kata Pein tadi kan? Sepertinya ada yang ingin dikatakannya" Sasori melepaskan tangannya dari pundak Itachi. Konan dan Deidara ikut berdiri. Sasori memejamkan matanya "Tidak usah pikirkan anak itu" ia membuka matanya kembali. "Mau tak mau ia tetap akan menuruti Pein" katanya sebelum melangkah menuju ruang kerja Pein diikuti Deidara dan Konan. Itachi menatap ketiganya sesaat lalu mengikuti langkah mereka.
M.O.N.S.T.E.R.S
Sasuke menatap datar pria yang duduk di hadapannya. Kini tinggal mereka berdua yang ada di ruangan itu.
"Red Clouds adalah sebuah organisasi yang di dirikan oleh klan Akasuna." Orochimaru membuka suaranya. Sasuke mengerutkan alisnya. Ia pernah mendengar tentang klan itu. "Pemimpin generasi pertama sekaligus pendiri organisasi itu adalah Akasuna Kirashi." Orochimaru memulai penjelasannya.
"Seorang pria berdarah Jepang-Amerika. Ia masih mempunyai hubungan darah dengan kekaisaran Jepang. Ayahnya adalah bungsu dari enam bersaudara dari kaisar Jepang ke 124 yang lahir dari Maharani. Sang ayah adalah salah satu pangeran yang merupakan kandidat kuat untuk naik tahta. Tapi karena permainan politik dan juga skandalnya yang jatuh cinta dengan seorang gadis berkebangsaan Amerika Serikat, akhirnya ia memilih mundur dan menjadi rakyat biasa. Pada akhirnya sang ayah menetap di Amerika Serikat setelah menikahi kekasihnya dan lahirlah Kirashi" orochimaru sedikit menghela nafas.
"Kirashi yang mendengar cerita tentang sang ayah yang mundur dari gelar bangsawannya tidak terima dan hendak membalas dendam sang ayah walaupun sebenarnya sang ayah tidak menginginkannya karena mundur dari gelar pangeran adalah keinginan sang ayah sendiri. Karena perbedaan pendapat inilah timbul konflik di antara mereka. Kirashi kemudian pergi meninggalkan keluarganya dan mengganti nama keluarganya menjadi Akasuna dan mendirikan Red Clouds dengan tujuan membalas dendam pada keluarga Kaisar" Sasuke hanya diam menunggu kelanjutan cerita Orochimaru.
"Setelah pergantian generasi, sepertinya misi organisasi itu tetap ada namun sedikit berubah. Mereka memang masih ingin menguasai politik Jepang, tapi tidak lagi dengan modus dendam. Generasi kedua organisasi ini dipimpin oleh Akasuna Kizashi. Organisasi ini tumbuh sebagai produsen dan penyuplai senjata paling berkualitas di dunia. Namun hanya segelintir orang yang tahu kalau sebenarnya organisasi ini adalah organisasi berbahaya yang tahu semua rahasia politik dan militer hampir seluruh dunia" Sasuke mengerutkan alisnya.
"Apa maksudmu?" potong Sasuke. Orochiamru menyeringai. Sepertinya Uchiha bungsu ini semakin tertarik dengan ceritanya.
"Mimpi yang jadi kenyataan bukan? Bukan hanya Jepang tapi hampir seluruh dunia" Orochimaru tersenyum miring "Produsen dan penyuplai senjata paling berkualitas." Orochimaru menjeda kalimatnya sebentar. "Kau tahu jenis apa saja senjata yang dihasilkan Sasuke-kun?"
"..."
"Semua jenis senjata perang" Sasuke tidak bereaksi. "Semua jenis termasuk bom, nuklir, senjata kimia, dan senjata biologi" Sasuke terbelalak. Orochimaru menyeringai. "Yah, semua jenis senjata termasuk pengembangan senjata yang di larang"
"Jangan bercanda! Kalau dilarang mana mungkin mereka bisa membuatnya! Itu illegal!"
"Tentu saja illegal kecuali mereka mempunyai kerjasama dengan Amerika Serikat" Sasuke menahan nafas. Selama ini dia mengira klannyalah satu-satunya Klan yang paling kuat kedudukan politiknya di Jepang. Tanpa ia tahu kalau ada klan yang lebih berpengaruh. Tidak hanya Jepang tapi di dunia.
"Red Clouds mengembangkan semua jenis senjata di bawah naungan USA. Mereka mempuyai banyak sekali tenaga ahli yang memang sudah dilatih sejak usia dini maupun yang memang jenius. Sudah banyak pengembangan senjata yang mereka lakukan. Pengembangan nuklir dari senyawa lain selain uranium, pembuatan senjata biologi dari bakteri Bubonic Plague dan Pneumonic Plague yang bisa membunuh ribuan manusia dalam hitungan jam, senyata kimia pemunuh massal "Agent Orange" bahkan yang paling mencengangkan..." Orochimaru sedikit menggantungkan kalimatnya sambil tersenyum penuh arti pada Sasuke.
"Mesin pembunuh manusia pertama"
"..." Sasuke hanya diam tidak mengerti. "Di dunia ini banyak sekali hewan yang mempunyai keistimewaan yang memang diberikan kepadanya untuk dapat bertahan hidup. Kekuatan fisik, kemampuan mata yang tajam, kepekaan indera pendengaran dan penciuman, keseimbangan tubuh yang baik, sensor infrasonic dan kecepatan berlari. Seorang jenius menyadari itu dan mencetuskan ide untuk merekayasakan sel hewan-hewan itu pada manusia" Sasuke terbelalak. Orochimaru menyeringai saat mengatakan kata "Jenius" tadi. Tampaknya memuji diri sendiri adalah hobi barunya sekarang. "Manusia yang gennya dimutasi akan mempunyai keistimewaan yang sama dengan hewan-hewan itu dan menjadi mesin pembunuh yang kejam tanpa punya hati nurani"
"..."
Orochimaru masih dengan seringainya. "Tampaknya kau sangat terpesona karena hal itu Sasuke-kun" Orochiamru sengaja memancing emosi pemuda di depannya, tapi sepertinya tidak berhasil. Walau sempat terkejut Sasuke kembali memasang wajah datar. Orochimaru hanya mendengus melihat reaksi Sasuke.
"Semua pihak yang boleh menjalin kerjasama dengan Organisasi ini adalah menteri pertahanan. Dan sudah menjadi rahasia umum, siapapun pihak yang ingin bekerjasama dengan Red Clouds harus memberitahu rahasia politik dan strategi militer negaranya jika ingin membeli senjata illegal yang di larang. Ini adalah syarat untuk menjaga stabilitas keamanan dunia. Untuk menjaga penyalahgunaan senjata, begitu alasannya. Itu adalah syarat dari Amerika Serikat. Tapi aku yakin itu bukan tujuan sebenarnya" Lanjutnya sedikit melenceng dari kalimat sebelumnya. Dalam pikirannya adalah percuma membahas sesuatu yang tidak membuat Sasuke tertarik. Menarik perhatian pemuda itu adalah kesenangannya. Orochimaru mengambil wine di depannya dan meminumnya.
"Tentu saja ini strategi politik USA untuk menjaga keamanan mereka sendiri. Mereka perlu tahu startegi politik dan militer negara lain. Dan mereka perlu Red Clouds untuk hal ini" Orochimaru meletakkan gelasnya. "Penjualan senjata yang dilarang secara legal hanya kedok. Cih pada kenyataannya negara adikuasa itu ingin mengendalikan politik dunia secara terselubung. Dan parahnya tidak ada satu negarapun yang sadar akan hal itu. Yang mereka tahu USA hanya mengijinkan Red Clouds untuk memproduksi senjata dan rahasia politik dan militer negara mereka hanya Red Clouds yang tahu"
"Darimana kau tahu hal ini?" Orochimaru kembali menatap Sasuke.
"..."
"Kau bilang hanya segelintir orang yang tahu tentang hal ini kecuali Menteri Pertahanan tiap negara?" Sasuke menyeringai. "Dan aku tidak yakin kau adalah salah satu menteri pertahanan kan?" sambungnya dengan nada mengejek. Orochimaru tersenyum miring.
"Memang" ia menatap Sasuke intens. "Aku memang tidak punya peran penting apapun di negaraku yang bisa membuatku dapat berhubungan dan mengetahui semua hal tentang Red Clouds". Ia tetap tersenyum. "Tapi aku pernah menjalin kerjasama dengan mereka atas keinginanku sendiri" Sasuke menyipit.
"..."
"Kau tahu? Dalam dunia politik adalah perbuatan bodoh jika kau patuh pada seorang tuan dan tetap setia pada satu aturan?"
"..."
"Red Clouds adalah pihak yang sadar akan hal itu"
"..."
"Red Clouds tidak menelan mentah-mentah syarat dari USA. Misi pribadi tetap misi pribadi. Di belakang mereka mengadakan perjanjian gelap dengan beberapa pihak termasuk orang-orang yang mempunyai niat jahat tertentu dan..." Orochimaru sedikit menggantung kalimatnya. "Teroris" Sasuke tercekat. Ororchimaru menyeringai.
"Yah... mereka mengadakan perjanjian denganku. 14325 Deoxclon..."
"..."
"Kerjasama rekayasa genetik itu adalah perjanjian denganku" entah sudah berapa kali Sasuke terkejut. Dan kali ini dia tidak dapat menyembunyikan ekspresi itu. "Perjanjian yang melibatkan banyak Klan berpengaruh di seluruh dunia..."
"Termasuk klan Uchiha"
"Apa maksudmu?!" Sasuke tidak dapat menyembunyikan nada terkejutnya dalam kalimat tersebut. Orochimaru terkekeh.
"Kau tidak perlu tahu itu Sasuke" jawab Orochimaru "Jangankan aku, klanmu yang mengetahui ini juga mungkin tidak akan memberitahumu. Mereka, aku maupun klan lain yang mengambil bagian dalam perjanjian ini, masing-masing yang tidak boleh dibocorkan pada yang lain." Sambungnya. Sasuke masih menyerngit tidak suka, rasa penasaran membuncah di dadanya. Ia harus mencari tahu tentang kerjasama itu. Ya, harus! Ia menatap geran Orochimaru.. "Yang jelas, aku di tetapkan sebagai teroris setelah setengah jalan perjanjian itu. Stabilitas dunia sempat keruh saat itu dan itu sangat membanggakan buatku" Sasuke berdecih mendengarnya. Kini ia tahu mengapa pria di depannya itu menjadi teroris dunia. "Tapi Akasuna brengsek itu mengkhianatiku dan perjanjian ini batal. Padahal tinggal sedikit lagi aku bisa memporakporandakan dunia" ia mengatakannya dengan sedikit kesal.
"Sekarang pemimpin organisasi itu adalah Akasuna Pein. Pemimpin generasi ketiga. Putra sulung dari Akasuna Kizashi. Pein mengambil alih kepemimpinan setelah ayahnya mati bunuh diri" Alis Sasuke bertemu. Agaknya ia sedikit tertarik tentang cerita pemimpin baru Red Clouds itu. "Pein memimpin di usianya yang terbilang muda. Tidak seperti pemimpin terdahulunya, Pein memimpin dengan bersih. Tidak ada lagi perjanjian gelap. Cih... anak muda yang terlalu polos. Hah atau malah bodoh?" Orochimaru sedikit meremehkan. "Namun aku rasa ia juga bukan orang yang bisa diremehkan. Pada masa kepemimpinannya, Red Clouds cenderung menutup diri dari dunia. Termasuk USA. Entahlah... aku sendiri sanksi dengan kabar kalau dia bersih. Bisa sajakan itu motifnya untuk bisa lepas dari pengaruh USA?" Orochimaru menghentikan kalimatnya. Ia menatap Sasuke seolah menunggu respon pemuda itu. Namun yang di tatap hanya diam karenanya ia melanjutkan kalimatnya. "Ia hanya menerima transaksi penjualan senjata api legal yang tidak di larang dan tidak ada tanda-tanda melakukan perjanjian gelap seperti yang dilakukan pendahulunya. Setidaknya itu yang aku dengar dari mata-mataku. Sampai mata-mataku yang lain mendapatinya melakukan pertemuan dengan Korea Selatan. Meski belum tentu perjanjian gelap, aku yakin ada yang di sembunyikan dari kerjasama itu."Orochimaru menghentikan menyipit saat tidak mendapatkan tanda-tanda orochimaru akan melanjutkan kata-katanya.
"Hanya itu saja?" Orochimaru mendengus.
"Sangat mahal jika kau tahu informasi ini Uchiha. Tidak banyak yang tahu tentang mereka. Mereka bukan orang yang bisa kau remehkan. Sedikit info tentang mereka yang diketahui orang luar, hanya ada dua pilihan untuk orang itu, bergabung dengan mereka atau..."Orochimaru menghentikan kalimatnya.
"..."
"Mati"
"..."
"..."
"..."
"Itachi ada bersama mereka. Itulah sebabnya klanmu tidak ada yang dapat melacaknya. Jangankan hanya Itachi, sebuah informasi penting kecil saja bisa mereka sembunyikan dengan lihai" Orochimaru kembali menarik salah satu sudut bibirnya.
"Aku adalah salah seorang yang tahu tentang mereka. Itu berarti aku adalah salah satu target sniper mereka. Tapi aku juga bukan seorang yang bisa di remehkan, kau tahu?"
"..."
"Jika aku tertangkap oleh mereka, aku tidak bisa memastikan kau bisa selamat, karena kau juga telah kuberitahu tentang ini Sasuke. Mereka pasti akan melacak siapa saja yang mengetaui tentang mereka selain aku" Walau tidak dikatakan secara langsung, Sasuke tahu kalau Orochimaru sedang mengancamnya.
"Kau mengancamku?" balasnya dingin. Seringai masih tercetak di bibir Orochimaru.
"..."
"Mereka tidak akan mengetahui tentang aku jika kau tidak memberitahu mereka. Kau ingin mengancamku?" Orochimaru tertawa.
"Kau benar-benar pintar Sasuke-kun"
"..."
"..."
"Aku hanya akan memberitahu ini sekali. Aku akan menganggap ini adalah perjanjian di antara kita. Selesaikan urusanmu dengan kakakmu itu. Tapi jangan pernah kau berkhianat padaku. Ingat ini baik-baik Sasuke..." Orochimaru menghentikan sesaat ucapannya. Ia menatap tajam Sasuke. Yang ditatap hanya mengerutkan alisnya.
"Jika aku hancur, kaupun hancur"
M.O.N.S.T.E.R.S
"Jadi ini maksudmu?" Pein menatap intens pemuda di depannya. itachi membalas tatapan itu dengan datar. Ia mengangguk.
"Ya, seperti dugaanku" jawaban Itachi membuat lagi-lagi Sasori mendengus. Selalu seperti itu. Selalu ia menjadi orang terakhir yang tahu. Ia agak terkejut saat mendengar cerita tentang pembicaraan Pein dan Kankuro. Ia tidak menyangka kalau Gaara menyukai Sakura. Tidak terbersit sedikitpun tentang hal itu. Mau protes juga bukan pilihan yang baik. Itu malah membuatnya menunjukan kebodohannya karena tidak peka pada sekelilingnya.
"Sejak kapan kau tahu?" tanyanya ketus kemudian. Itachi menoleh kearahnya.
"Saat pertemuan pertama mereka" jawab Itachi singkat. Sungguh Sasori merasa dirinya benar-benar bodoh karena tidak menyadarinya. Ia merasa Itachi seolah sedang meremehkannya.
"Cih..." ketusnya entah pada siapa. Terlalu ambigu. Untuk Itachikah? Atau untuk Gaara yang menyukai Sakura. Entahlah. Mendengarnya membuat Deidara menyeringai.
"Kenapa kau?" tanya Deidara kemudian. "Mengejek pemuda Sabaku itu atau terlalu kesal pada Itachi?" Sasori menoleh tajam ke arahnya. Konan menyenggol sedikit pinggangnya yang dibalas dengan geraman pemuda pirang itu. "Apa? aku hanya bertanya" jawabnya tidak suka.
"Aku hanya merasa tidak perlu memberitahu karena ini bukan sesuatu yang berbahaya" kata Itachi seolah menjawab kekesalan Sasori. Pein hanya menatapnya datar. "Lagipula, aku tidak bisa memberitahu sebuah dugaan tanpa bukti terlebih dahulu bukan?"
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau pancingan yang kau katakan membuatnya mengatakan yang sebenarnya" Pein seolah-olah tidak mengubris perdebatan diantara mereka.
"Si Pinkie itu... hebat juga bocah itu. Entah apa yang dilihat pemuda Sabaku itu darinya" komentar Deidara iseng. Sasori menatap tidak suka pada Deidara.
"Kau cemburu" ejeknya. Deidara kaget.
"Yang benar saja, aku cemburu? pada bocah tidak tahu malu itu? Kau sudah gila" kilahnya gugup. Ia sedikit melirik pada Pein.
"Apa yang kau lakukan setelah ini Pein?" tanya Itachi pada Pein.
"Entahlah, ini sesuatu diluar kuasaku. Aku tidak berhak mengambil keputusan." Jawabnya. Ia menatap Deidara dan Itachi bergantian. "Seharusnya pertanyaan itu untuk kalian. Pikirkan baik-baik jawabannya" Deidara terkejut. Itachi menatap Pein datar. Pein menghela nafas kemudian berdiri.
"Aku akan mengantar gitar dan ponsel Sakura ke kamarnya. Ada yang ingin kukatakan padanya" kata Pein entah pada siapa. Sasori berdiri karena merasa Pein berbicara padanya.
"Hn" jawabnya hendak keluar untuk mengambil apa yang diminta kakaknya itu. Gitar dan ponsel Sakura tentunya. Dia yang menyimpannya.
"Kirim orang untuk mengambil semua barang Sakura lusa. Kalau dia tidak mau aku yang akan datang menjemputnya" Sasori berdecih.
"Kenapa tidak langsung kau saja yang menjemputnya?" balas Sasori. Sudah barang tentu Sakura menolak. Dari pada capek-capek mengirim orang? Bukannya tidak mau repot, hanya saja Sasori bukan tipe orang yang suka melakukan hal-hal yang tidak ada gunanya.
"..."
"Anak nakal itu pasti tidak mau"
"..."
"..."
"Aku ingin menguji kesetiaannya" sebenarnya Sasori berada dalam posisi antara terkejut dan ingin tertawa. Sudah pasti ia paham maksud Pein yang ingin menguji apakah Sakura mengikuti perintahnya atau tidak. Tapi orang bodoh manapun tahu, Sakura pasti tidak akan semudah itu saja menurutinya.
"Terserah kau saja" ujar Sasori sambil melangkah meninggalkan Pein.
M.O.S.T.E.R.S
Pein menatap datar tubuh yang terbaring miring menekuk kedua lutut didepan perutnya. Ia tidak tidur dengan rapi di tengah ranjangnya tapi hanya menempati ujung tempat tidur king sizenya. Sosok itu tampak sedikit berantakan masih dengan gaun yang tadi dipakainya. Ada bekas airmata di wajahnya, tampaknya gadis itu tidur karena kelelahan menangis. Stilletto pinknya tergeletak berantakan saling terpisah di lantai kamarnya. Pein menghela nafas lalu menyandarkan gitar di samping meja belajar yang ada di ruangan itu dan meletakkan ponsel di atas meja tersebut. Ia kemudian berjalan mendekati gadis itu dan duduk disamping tubuhnya.
Dengan pelan ia menyingkap anak rambut yang menutupi wajah cantik Sakura dan membelai lembut rambut halus adiknya itu.
"Anak nakal" gumamnya pelan. Ia kembali berdiri dan membungkuk menghadap Sakura. Tangan kirinya diletakkan di belakang lehernya sementara tangan kanannya membalik hati-hati tubuh Sakura agar gadis itu tidak bangun. Setelahnya ia menyelipkan tangan kirinya di belakang lutut Sakuram dan sedetik kemudian tubuh gadis itu terangkat. Ia meletakkan Sakura pada posisi nyaman yang benar di ranjang itu kemudian menarik selimut untuk menutup setengah tubuh gadis itu. Ia kembali mendudukan dirinya di samping tubuh Sakura. ia membelai lagi rambut Sakura.
"Tapi kau juga spesial Sakura" ujarnya lagi. Tatapannya melembut. Oke tidak pernah sebelumnya ia menampakan raut ini pada orang lain.
"Kau spesial di mataku, ayah, Sasori, Itachi bahkan dimata orang yang baru pertama kali kau temui" ia terus berbicara walau ia tahu kalau Sakura tidak mungkin mendengarnya
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu spesial"
"..." ia terdiam sesaat.
"Kau tahu, aku bahkan rela menyerahkan kebahagiaanku tanpa aku sadari untukmu, imouto?"
"..."
"Bahkan saat aku sadarpun, aku tidak punya kekuatan untuk membencimu"
"..."
"Aku bahkan membunuh ayah untukmu dan terus menjagamu sampai saat ini. Tidakkah kau menyadarinya Sakura?"
"..."
"Tidak bisakah kau menuruti kata-kataku untuk sekali saja?" Hei Pein tidakkah kau sadar Sakura selalu menurutimu? Tapi pastinya bukan itu yang diinginkan Pein. Ia ingin Sakura menurutinya dengan tulus, bukan karena takut.
"..."
"Tidak bisakah kau melihatku sebagai Anikimu seperti kau melihat Sasori?"
"..."
"Tidak bisakah kau melupakan masa lalu?"
"..."
"Bukan Cuma kau yang terluka, Sakura. Aku lebih kesakitan daripada yang kau lihat"
"..."
"Tentang yang kulakukan pada ayah dan tentang sikapmu. Apa kau sadar itu, hime?" sedikit emosi di tunjukan Pein saat ia mengucapkan kalimat itu. Ia menghela nafas.
"..."
"Tapi apapun yang terjadi, aku ingin kau tahu, aku selalu menyayangimu Sakura. Aku tidak menyesal" Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura dan mengecup dahinya.
"Aku tidak pernah menyesal menjadi monster mengerikan di tangan ayah untuk melindungimu selamanya" sambungnya lagi sebelum beranjak pelan keluar dari kamar adiknya itu.
M.O.N.S.T.E.R.S
Temari syok mendengar cerita Kankuro. Ia hanya bisa terbelalak sambil menutup mulutnya saking kagetnya. Setelah kunjungan dari tempat Pein, Kankuro memang memintanya untuk bicara sebentar, tanpa Gaara tentunya. Ia ingin kakaknya itu juga tahu fakta tentang Sakura.
Ini benar-benar rumit. Temari tidak habis pikir kalau Sakura adalah formula yang selama ini mereka cari. Formula yang mungkin bisa membuat Gaara dapat mengendalikan sifat liar Gaara. Dan yang membuatnya lebih tidak habis pikir, Gaara menyukai Sakura. Gaara menyukai formulanya sendiri. Apakah ini takdir yang di sebut jodoh? Atau hanya kebetulan? Entahlah. Yang jelas saat ini ekspresi terkejut di wajah Temari perlahan luntur tergantikan dengan sebuah senyum lembut. Kankuro sendiri hanya menatap perubahan diwajah kakaknya itu dengan datar dan lekat. Seolah ingin mencari tahu apa yang ada dibenak wanita itu.
"Kau tahu apa artinya semua ini Kankuro?" tanya Temari ambigu. Senyumnya itu sangat sulit di tebak. Seperti seorang yang sedang merencanakan sesuatu. Lembut tapi juga sedikit tercipta kesan mengerikan. Kankuro hanya diam menunggu kata-kata Temari.
"..."
"Kau tahu semua di dunia ini tidak ada yang kebetulan?"
"..."
"Tapi aku rasa ini juga bukan takdir"
"..."
"Aku rasa ini adalah sebuah insting" Kankuro mengerutkan alisnya.
"..."
"Sebuah insting dari seekor binatang yang hidup di tubuh Gaara"
"..."
"Insting yang sudah bercampur dan bersatu erat dengan darahnya"
"..."
"Insting untuk mencari orang yang tepat untuknya"
"..."
"Yah ... insting Gaara adalah Sakura" sambungnya sambil tetap tersenyum.
"Apa yang kau rencanakan?" Temari tertawa. Entahlah hanya perasaan Kankuro saja atau ia memang mendengar tawa itu sesuatu yang mengerikan. Airmata Temari tiba-tiba turun. Kankuro terkejut melihatnya. Tadi tertawa mengerikan sekarang menangis. Sungguh ia tidak dapat membaca apa yang ada di kepala wanita ini.
"Apa yang kurencanakan?" Dia kembali tertawa. "Kau tanya apa yang aku rencanakan? Tentu saja tidak ada Kankuro"
"..."
"Aku bukan seorang politikus sepertimu" ia hanya tersenyum
"..."
"Tidak ada yang kurencanakan..."
"..."
"Tapi..."
"..."
"Aku hanya akan mengikuti naluriku, seperti Gaara mengikuti instingnya"
"..."
"Naluriku sebagai seorang kakak yang ingin adiknya bahagia" Temari tertawa. "Hahaha...Ada apa denganku? Kenapa aku jadi berlebihan seperti ini?" sambungnya sambil mengusap airmatanya. Namun ia kembali menangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"..."
"..."
"Dia peninggalan ibu yang terakhir hikhik" suara Temari terdengar lirih di sela-sela tangisannya. "Ibu rela menukar nyawanya demi dirinya. Dia amanat ibu,, hikhikhik..." Kankuro diam. ia sangat tahu Temari sangat dekat dengan ibunya. Kankuro dapat melihat kemiripan sifat keduanya. Dan Kankuro juga tahu Temarilah yang paling terpuruk saat ibunya meninggal karena menyelamatkan Gaara. Namun Temari tidak pernah menyalahkan Gaara. Ia tahu ibunya rela melakukan apapun demi anaknya. Bahkan untuk menukar nyawanya asal Gaara tetap hidup. Ibunya mempercayakan Gaara pada Temari.
Kankuro tahu Temari menyayangi Gaara sepenuh hatinya. Tapi tidak dengan Gaara. Ia tidak mempercayai siapapun. Setelah kematian ibunya di depan mata mereka bertiga, Gaara merasa semua orang menyalahkannya atas kematian ibunya itu. Seberapa keras Temari mengatakan kalau itu tidak benar namun Gaara mengubrisnya. Ia menutup dirinya. Menutupi dari siapapun yang ingin mendekat padanya termasuk Temari dan dirinya.
Kankuro tahu saat bertemu Sakura, ia melihat sosok ibunya dalam diri gadis itu. Pikiran pria berambut cokelat itu melayang mengingat bagaimana gadis itu begitu murka saat ia menghina Sasori, dan menyerangnya tanpa takut apapun. Sama. Sama seperti ibunya yang terbunuh karena membela Gaara dari ayahnya. Dan setelah itulah terjadi tragedi yang merubah seluruh hidupnya. Hidup Temari. Dan hidup Gaara.
"Dia sudah terlalu banyak menderita Kankuro. Aku hanya ingin melihat senyumnya seperti dulu. Hanya itu. Rasanya ingin mati saja melihatnya hidup seperti itu selama ini. Apa kau tahu perasaanku?" Kankuro kembali dari pikirannya mendengar kata-kata Temari ini. Ia menghela nafas sedikit kemudian mengelus rambut Temari. Temari yang memang lebih pendek darinya memudahkannya melakukannya. "Aku tahu" Ia lalu menarik Temari dalam pelukannya. "Akupun akan melakukan hal yang sama" Ia kemudian tersenyum setelah mengatakannya. "Aku berjanji padamu. Aku akan membawa Sakura pada Gaara." Sambungnya membuat tangis Temari bertambah keras.
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura mondar-mandir tidak jelas di kamarnya. Beberapa kali mulutnya menggeram dan menggumamkan makian. Di antara telinga dan tangannya tersemat sebuah Smartphone kuning. Ponsel yang di temukan setelah ia bangun dari tidurnya tadi pagi di atas meja belajar di kamar itu. Tampaknya ia sedang menghubungi seseorang yang sedang dimakinya dari tadi.
Pagi ini cukup mengejutkan baginya, karena lagi-lagi ia menemukan dirinya dalam keadaan nyaman tertidur di atas ranjangnya dengan piyama tidur. Ia tidak ingat kalau semalam ia sudah mengganti gaunnya. Yang terakhir ia ingat, ia merasa lelah menangis dan memutuskan untuk memejamkan matanya sesaat di ujung ranjangnya. Dan yang lebih mengejutkan pagi tadi posisinya tidak lagi berada di ujung tempat tidur. Apa tidurnya sungguh liar sampai pergeserannya begitu jauh? Tidak mau ambil pusing ia langsung menghubungi Naruto untuk menjemputnya setelah ia menemukan ponsel dan gitarnya.
"Hallo ? siapa ini?" suara serak khas orang baru bangun tidur terdengar di telinga Sakura. Akhirnya, pikir gadis itu. Setelah menelepon puluhan kali, pemuda pirang menyebalkan itu akhirnya menjawabnya. Ia sebenarnya juga sudah mencoba menghubungi Sai. Tapi ponsel pemuda itu malah lebih parah. Tidak aktif. Hingga akhirnya ia harus dengan sabar menahan emosi menunggu pemuda berisik di seberangnya itu menjawab panggilannya. Dan seperti gunung yang sudah menahan laharnya berjuta-juta tahun, akhirnya gunung itupun memuntahkan semua laharnya.
"BODOH! APA SAJA YANG KAU LAKUKAN! KAU TULI? TIDAK PUNYA TELINGA?! AKU SUDAH MENELEPONMU JUTAAN KALI!" semburnya tanpa ampun. Naruto sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ia berdecak. Lalu melihat siapa yang menggangu tidurnya sepagi ini. Ayolah ini masih jam enam pagi. Sedikit terkejut saat mendapat namanya sendiri di ponselnya. Ia mengerjab-ngerjab bingung. Ia kembali meletakkan ponsel merah itu ke telinganya.
"Hallo, sepertinya aku sedang bermimpi" ucapnya setengah sadar. Sakura naik darah.
"BODOH! CEPAT BANGUN PEMALAS! INI AKU! SAKURA!" geramnya. Naruto kembali mengerjab saat mecerna kata-kata dari seberang. Sedetik kemudian ia terkejut. Kesadarannya pulih total. Ia ingat kalau sedang membawa ponsel Sakura. Ia lalu cengengesan.
"Gomen Sakura-chan. Aku lupa kalau membawa ponselmu" katanya membuat Sakura mengerutu tidak jelas. "Ada apa kau meneleponku pagi-pagi?" sambungnya membuat Sakura murka.
"KAU BILANG ADA APA?! KAU LUPA AKU TIDAK ADA KABAR SELAMA DUA HARI? BEGITUKAH RESPONMU SAAT MENDENGAR TEMANMU YANG HILANG MENELEPON?! KURANG AJAR KAU!" makinya kesal. Naruto meringis. Bukannya tidak khawatir. Ia yang paling khawatir dengan sahabat pinknya itu setelah mendengar kabar Sakura yang menghilang dan tidak bisa dihubungi. Tapi mendengar Sakura yang marah-marah pagi-pagi buta membuatnya yakin kalau gadis itu baik-baik saja.
"Ich Sakura-chan. Jangan marah-marah begitu. Ini masih pagi. Kau yang marah-marah begini membuatku yakin kau baik-baik saja" jawabnya kemudian. Sakura mendengus dibuatnya.
"Tidak usah berisik! Cepat jemput aku! Aku tidak mau tahu satu jam lagi kau tidak datang, kupecat kau dari band" balasnya sambil mematikan ponselnya. Ia kemudian melangkah menuju kamar mandi. Sementara Naruto menatap bingung ponsel di tangannya.
"Jemput? Jemput dimana?" Ia kemudian mengangkat bahu kemudian menarik kembali selimutnya dan melanjutkan mimpinya yang sempat terputus karena telepon Sakura. tampaknya Sakura harus menunggu lagi agak lama.
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura mengomel tidak jelas saat menuruni tangga rumah itu. Bagaimana tidak. Tiga jam. Sekali lagi tiga jam. Tiga jam ia menunggu si bodoh pirang itu. Satu setengah jam setelah ia menelepon Naruto tadi, bocah pirang itu sama sekali tidak menunjukan batang hidungnya. Dengan kemarahan tingkat dewa, ia kembali menghubungi sahabatnya itu dan menyemburkan semua makian yang mampu ia ucapkan karena Naruto belum menjemputnya. Dan lebih murka lagi dirinya saat mendengar sahabat pirangnya itu masih belum bersiap dan sedang menikmati ramen cup kesukaannya di apartemen tercintanya.
Oke, siapa yang tidak marah jika sudah satu setengah jam menunggu tapi yang di tunggu masih enak-enakan bersantai padahal yang menunggu sudah berasa berada di neraka yang akan mengulitimu sampai hanya tersisa tulang belulang. Dan dengan polosnya pemuda itu menjawab "Memangnya kau ada dimana? Bagaimana aku bisa menjemputmu kalau kau tidak memberitahu keberadaanmu?".
Perkataan polos Naruto sukses membuat rahang Sakura jatuh. Ia hanya mangap tidak percaya. Oke, sekarang siapa yang bodoh disini? Mau marah, sama siapa? Mau menyalahkan, siapa yang salah? Oh ayolah, ini memang salahnya, tapi bisakan pemuda bodoh itu kembali meneleponya untuk menanyakan alamatnya. Tapi ia tidak mau memperpanjang masalah. Hanya gerutuan yang bisa ia lakukan sambil kemudian memberitahukan alamat rumah kakaknya itu. Dengan tidak relapun akhirnya ia harus menunggu Naruto lebih lama lagi.
Dan disinilah ia, dalam perjalanan menuruni tangga setelah ia mendapat telepon dari Naruto kalau sahabatnya itu telah sampai di gerbang rumah sesuai alamatnya diberikan Sakura. Dalam teleponnya Naruto mengatakan kalau ia tidak di ijinkan masuk oleh penjaga.
Sepertinya kesabaran Sakura benar-benar diuji, dengan kemarahan yang meletup-letup, ia menuruni tangga dan berjalan menuju lantai bawah mencari siapa saja penghuni rumah ini untuk mengajukan protes atas tindakan penjaga gerbang tersebut. Sedikit mengumpat karena ia melihat Pein yang duduk di ruang tengah yang kemarin. Sekilas ia melihat TV yang kemarin ia hancurkan telah berganti dengan TV baru. "Hobby sekali sih dia duduk di situ" itulah yang ada di benak Sakura. benar-benar pemikiran yang tidak penting. Pura-pura tidak tahu, ia lalu memutar arah jalannya menuju dapur karena tidak ingin bertemu dengan Pein.
"Kau sudah mau pergi?" langkah Sakura terhenti. Pein menyadari kehadirannya. Ia mendengus.
"Y..ya" jawabnya putus-putus tanpa menoleh.
"Kau pergi dengan siapa?" tanyanya lagi. Sakura kembali mengumpat. Berbicara dengan posisi saling memunggungi begini membuatnya tidak nyaman. Ia merasa tidak sopan. Mungkin kalau dengan orang lain ia tidak peduli. Tapi ini beda. Ia sedang berbicara dengan Pein, kakak yang seluruh dunia juga tahu, ia takuti. Ia membalik badan menghadap ke arah Pein walau pria itu masih memunggunginya, setidaknya ia sudah bersikap sopan.
"De..dengan temanku"
"Hn"
Sakura mengumpat untuk ketiga kalinya. Entah kemana semua kekesalan dan protes yang sudah ia siapkan tadi. Dia benar-benar benci dengan dirinya yang lemah ini. Entah bagaimana tiba-tiba otaknya mengingat kejadian semalam yang membuatnya tambah emosi.
"..."
"..."
"Nii-san..." Sakura mencoba mengajukan protes.
"..."
"Soal semalam..."
"..."
"Aku tidak akan pulang" Sakura menunduk dalam. Takut. Ya , dia takut. Dia takut Pein akan marah karena kata-katanya barusan. Tapi setelah menunggu beberapa saat ia tidak melihat tanda-tanda reaksi dari Pein. Pria itu duduk tenang seperti tidak terjadi sesuatu. Hal ini membuat Sakura sedikit kesal. Ia tahu kalau Pein tidak menjawab perkataannya berarti pria itu tidak mau dibantah. Sakura mengepalkan tangannya kuat. Baiklah kalau begitu. Ia juga tidak akan peduli. Terserah apapun pendapat Pein ia tidak peduli. Yang penting ia sudah mengatakan apa yang ia inginkan.
Sedikit bersyukur saat iris hijaunya menangkap sosok yang baru keluar dari sebuah ruangan dengan sebuah map biru di tangannya. Wajah Sakura berubah sumringah.
"Sasori Nii-chan!" jeritnya membuat pemuda bersurai merah di depannya itu memindahkan pandangannya dari map di tangannya menuju obyek yang memanggilnya. Sedikit terkejut namun kemudian kembali memasang datarnya, Sasori memandang Sakura tidak suka. Ia menatap Sakura dari atas sampai bawah. Sakura berlari mendekatinya dan secara tidak langsung membuatnya berada di hadapan Pein.
"Sasori nii-chan, aku ingin protes!" Sasori tidak menjawab, membuat Sakura kembali melanjutkan ucapannya. "Apa-apaan penjaga gerbang rumah ini! Temanku akan menjemputku, tapi ia tidak mengijinkannya masuk! Aku tidak suka! Pecat dia!" sembur Sakura emosi. Mungkin ini juga pelampiasan emosinya pada Pein yang tidak mempedulikan penolakannya.
"Kau pikir kau siapa Sakura? seenaknya saja memerintahku!" balas Sasori membuat Sakura manyun.
"Tidak kakak tidak adik, semua sama saja. sama-sama menyebalkan" umpatnya dalam hati.
"Apa tidak ada baju lain yang bisa kau pakai? Kau tidak sedang akan konser kan?" sambung Sasori dingin. Sakura menatapnya sebal kemudian melihat bajunya sendiri. Sebuah kaos tanpa lengan berwarna hitam dan bertulis "Girl" melekat pada tubuh rampingnya, dipadukan dengan sebuah hotpant hitam dan sebuah jaket putih bertudung yang sedikit kebesaran membuat jaket itu mencapai pahanya. Ia sengaja membiarkan jaket itu tidak terlesleting untuk menampakan kesan keren. Di kepalanya tersemat sebuah topi hitam polos yang sengaja dipakainya agak miring dan sebuah kaca mata hitam berbentuk persegi dengan bingkai motif warna kulit sapi hitam polkadot putih diatas sang topi. Rambutnya sengaja ia ikat setengah longgar. Membiarkan rambut itu menggantung dengan sedikit anak rambut yang tidak terikat jatuh bebas menghiasi sisi-sisi wajahnya. Berantakan yang manis. Itu kesan yang dihasilkan. Sedangkan untuk alas kaki ia memakai sneaker yang ia pakai semalam.
Oke sejauh pemandangannya sekarang, ia tidak melihat keanehan dengan pakaiannya sekarang. Ini adalah trend yang sedang di gandrungi penyanyi-penyayi sekarang. Ia juga tidak memakai perhiasan berlebihan atau membawa sesuatu yang mencolok. Di tangan kanannya hanya ada sebuah tas berisi gitar berwarna hitam. Itu saja. tidak ada yang aneh.
"Memangnya ada apa dengan bajuku? Tidak ada yang aneh?" tanyanya bingung. Sasori menghela nafas. Bukannya Sasori ingin melarang-larang Sakura memakai baju sesuai trend sekarang. Hanya saja hotpant yang Sakura pakai sekarang adalah hotpant yang dia pakai semalam. Dan hotpant itu sangat pendek. Untuk ukuran Sakura yang akan pergi dan bukan akan konser hotpant itu sangat tidak layak dipakai. Namun Sasori tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Ia memberi kode pada salah satu pelayan di ruangan itu untuk mengijinkan Naruto maksud. Sang pelayan yang paham maksud Sasori segera beranjak dari tempatnya dan melangkah ke luar. Sakura berdecak kagum.
"Ckckck, kau hebat sekali nii-chan" katanya sambil menatap kepergian pelayan itu. Sasori hanya menatapnya datar. "Hanya kode saja, pelayan itu tahu apa maksudmu" Sasori mendengus.
"Bodoh, tentu saja dia tahu maksudku. Kau tadi berteriak begitu keras. Siapa yang tidak akan mendengarnya" balas Sasori sarkastik. Tapi Sakura tidak menggubrisnya. Ia mengambil kacamata di atas topinya dan memakainya. Kemudian memanggul gitarnya di punggungnya kemudian melangkah mengikuti sang pelayan.
"Kau mau kemana?" suara Sasori menahan langkah Sakura. Ia berbalik kemudian sedikit menurunkan kacamatanya untuk sekedar menatap Sasori kemudian tersenyum mengejek.
"Tentu saja aku akan pulang Nii-chan bodoh" katanya sambil membetulkan letak kacamatanya. "Tenang saja, semua yang kupakai hari ini akan kukembalikan. Tidak usah khawatir begitu. Dasar pelit. Salah sendiri kau mengurungku begitu lama. Aku kesinikan tanpa persiapan sama sekali" ingin sekali Sasori menjitak kepala adiknya yang bodoh itu kalau tidak mengingat imagenya yang terlanjur di cap "cool". Tentu saja bukan itu maksudnya
"Bukan itu maksudku" Sakura menaikan sebelah alisnya seolah mengatakan "Lalu apa?". Tapi tentu saja semua itu tidak terlihat oleh Sasori karena tertutup kacamata hitamnya. "Bisakah kau berpamitan dengan sopan Sakura?" sambung Sasori sambil melirik Pein. Yang dilirik hanya menatap Sakura datar. Sedangkan Sakura hanya menganga tidak percaya apa yang dikatakan Sasori. Ia berkedip beberapa kali.
"Oh-my-God" ucapnya sambil menekan kalimatnya. Sedikit meniru gaya lebay sahabat pirangnya yang satu lagi, Ino, ia menutup mulutnya pura-pura kaget. Sasori mendengus jijik mendengarnya. Sangat tidak cocok untuk Sakura "Apa aku tidak salah dengar? Yang mulia Your Highness kita Akasuna Sasori-sama minta dipamiti dengan sopan? Baiklah, apa yang harus kulakukan? Berlutut dan mencium kakimu?" balasnya sarkastik. Sasori menatapnya tak suka, sebelum ia membalas kata-kata Sakura, Pein lebih dahulu memotong.
"Biar ku antar sampai di depan" kata-kata Pein membuat Sakura bungkam dan mendelik tak percaya.
"Tidak usah Nii-san" jawabnya reflek. Tapi Pein tetap berdiri dan melangkah mendekati Sakura. Sakura bergetar melihat kakaknya itu. Namun ia sedikit bernafas lega saat sang kakak ternyata melewatinya. Oke, tak apalah di antar. Toh setidaknya Pein tidak melarangnya pulang. Begitulah yang ada di benak Sakura sampai ia mendengar suara Pein yang berhenti selangkah di belakangnya.
"Tapi tolong jangan lupa kata-kataku semalam Sakura" mendadak tubuh Sakura menjadi kaku. Ia kaget. Pein melanjutkan langkahnya. Sakura mengepalkan tangannya. Ia berbalik dengan gusar dan melangkah cepat mendahului kakak sulungnya itu. Masa bodoh dengan kakaknya itu. Ia tidak peduli. Ia tidak akan menurutinya. Kalau kakaknya itu mau membunuhnya ia juga tidak peduli. Ia sudah muak dengan semua itu. Ia membuka pintu utama, dan membantingnya kasar. Sasori hanya menghela nafas melihatnya. Ia ikut melangkahkan kakinya keluar.
Sakura yang sedang emosi tambah emosi saat menyaksikan pemandangan di halaman rumah tersebut. Ia menganga sementara kedua kakakanya baru saja keluar dan berdiri dibelakangnya. Naruto, dengan percaya dirinya pemuda pirang itu bersandar pada sebuah mobil Enzo merah di belakangnya sambil bersedekap. Sakura ingin muntah melihat gaya sok cool itu. Saat menyadari kehadiran Sakura pemuda pirang itu melambai dan tersenyum lebar padanya. Ia bersumpah demi wajah menyebalkan Sasori, ia akan mencincang pemuda itu. Dengan emosi membara ia melangkah cepat ke arah Naruto dan menjitak kepala pemuda itu.
"APA YANG KAU LAKUKAN!" sembur Sakura tanpa ampun.
"Ittai Sakura-chan, apa yang kau lakukan? Apa salahku?" Naruto mengadu sambil memegang kepalanya.
"HARUSNYA AKU YANG TANYA BEGITU! APA YANG KAU LAKUKAN?! KENAPA ENZOKU ADA PADAMU!"murkanya. Sudah cukup ia dibuat kesal dengan tingkahnya tadi pagi sekarang ia harus menerima kenyataan, mobil kesayangannya dengan seenak hati dibawa oleh pemuda itu. Ia ingin membunuh pemuda dihadapannya itu. Dengan segera ia berkeliling melihat keadaan mobilnya untuk memastikan tidak ada goresan di sana.
"Kau ini tidak tahu terima kasih sekali Sakura-chan. Aku sudah membawakan mobilmu dari NJE. Kau tidak ingat meninggalkannya disana? Kau tahu, kalau sampai wartawan tahu mobilmu masih ada di NJE, kebohongan tentang sakitmu itu akan terbongkar" Naruto masih mengusap-usap kepalanya yang sedikit benjol karena jitakan Sakura. Sakura tidak menggubrisnya masih mengamati dengan sekasama mobilnya. Namun kemudian kembali kehadapan pemuda pirang itu.
"Dan setelah itu dengan seenaknya kau pakai mobilku?" serunya sarkastik. Naruto hanya cengengesan karena ketahuan. Sakura mendengus melihat cengiran pemuda itu. Tebakannya benar. "Awas saja kau! Sampai aku merasa ada yang aneh dengan mobilku. Aku pastikan honormu tahun ini tidak akan sampai ke tanganmu" ancamnya. Naruto meringis. Ia tahu Sakura tidak main-main. Walau di Band ia adalah leader, tapi rasanya itu Cuma sekedar nama jabatan tanpa arti. Sakuralah yang paling banyak mengatur atau lebih tepatnya memaksa menguasai. Hanya pada Sai ia bisa sedikit menurut. Naruto sendiri tidak begitu mempedulikan tentang honor. Ia adalah anak Perdana Menteri Jepang. Kalau uang ia tidak pernah berkekurangan, namun sang ayahnya adalah tipe orang yang memberi uang padanya dengan alasan yang logis. Dan tentu saja ia tidak akan memberi uang jika Naruto pakai untuk bersenang-senang dengan para wanita di bar. Karena itulah ancaman Sakura membuatnya sedikit merinding. Ayolah, honornya selalu ia pakai untuk menyalurkan hobinya itu. Tidak dapat dibayangkan selama setahun tanpa bersenang-senang dengan wanita. Oh no.
Sakura lalu membuka pintu mobilnya tanpa menoleh sedikitpun pada Sasori dan Pein. Naruto yang melihat ada orang lain di sana selain mereka, menegurnya.
"Sakura, siapa mereka? Kau tidak pamit dulu?" serunya sedikit keras membuat Sasori dan Pein dapat mendengarnya. Sakura mendengus sambil menyalakan mobilnya.
"Jangan berisik Naruto, kalau kau ingin di tinggal ya sudah!" ancamnya. Naruto yang mendengar itu mau tak mau panik. Ia hanya membungkukkan badannya sekilas kearah Sasori dan Pein kemudian masuk ke dalam mobil. Sakura memencet klakson. Beberapa penjaga gerbang tampak kelabakan saat mendengar riuh bunyi klakson. Salah seorang dari mereka kemudian segera membuka pintu gerbang. Sakura dengan kecepatan penuh melesat keluar meninggalkan pekarangan rumah itu. Meninggalkan kedua kakaknya yang hanya bisa mnghela nafas melihatnya. Atau bisa dibilang Sasori yang melakukannya. Pein hanya menatap kepergiannya datar.
M.O.N.S.T.E.R.S
Sasuke melangkahkan kaki keluar dari loket pemeriksaan tiket dan pasport sambil menarik sebuah koper hitam sedangnya. Di belakangnya dua orang berjas mengikuti. Ia menebarkan pandangan ke sekelilingnya mencari tanda-tanda orang yang akan menjemputnya di bandara itu. Langkahnya terhenti saat seorang pria berambut perak melambaikan tangan kearahnya. Sasuke melangkah mendekatinya.
"Yo Sasuke, apa kabarmu?" sapa pria itu tersenyum.
"Hn" jawab Sasuke ambigu. Pria itu hanya mendengus mendengar jawaban Sasuke kemudian memandang dua orang di belakang Sasuke. Sasuke menoleh ke arah pandang Kakashi.
"Hn, Kabuto dan Juugo. Mereka temanku. Kabuto, Juugo ini Kakashi" Kata Sasuke memperkenalkan mereka. Kakashi hanya mengangguk yang dibalas Kabuto dengan anggukan juga.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Kakashi.
"Hn" gumam Sasuke sambil mengangguk singkat. Kakashi berjalan duluan diikuti Sasuke , Kabuto dan Juugo.
"Apa yang terjadi?" tanya Kakashi saat dalam perjalanan mereka menuju mobil. Sasuke menoleh tanpa menjawab. Karenanya Kakashi meneruskan kalimatnya. "Kau pergi dua tahun tanpa kabar, dan kemudian tiba-tiba menghubungiku dan berkata hendak pulang. Ada apa?" Sasuke kembali menatap ke depan.
"Hn, tidak ada" Kakashi menghela nafas.
"Kau tahu interpol Jepang mengatakan informasi yang membuatku sangat terkejut Sasuke. Mereka mengatakan mendapat foto Orochimaru bersama dengan seorang yang mirip kau" Sasuke sedikit tercekat namun segera di tutupinya. Ia melirik pria Hateke di sebelahnya. Sepertinya pemuda itu tidak menyadarinya. Kakashi menatapnya.
"..."
Kakashi menghela nafas saat Sasuke tidak bereaksi.
"Aku harap kau tidak melakukan sesuatu yang membahayakan klanmu sendiri Sasuke"
"Itu tidak akan terjadi" jawabnya tegas. Sedikitnya Kakashi menghela nafas lega karena jawaban tegas Sasuke.
"Aku tahu itu juga" ia menoleh ke depan. "Aku telah mengatakan kalau kau ada di Paris bukan di Los Angeles. Aku mengatakan kau sedang menjalankan tugas dariku di sana. Dan aku selalu menghubungimu" sambungnya kemudian. Ia sedikit melirik ke arah pemuda Uchiha di sampingnya.
"Aku harap kebohonganku ini tidak menutupi kebohongan yang kau sembunyikan dariku Sasuke?"
"..."
"Tapi jangan sekalipun kau khianati negara ini Sasuke" Sasuke melirik ke arah Kakashi. Tatapan mereka bertemu.
"..."
"Karena kalau sampai itu terjadi, aku akan menciptakan kebohongan lain untuk menjebloskanmu ke dalam penjara atau hukuman mati tanpa ada klanmu yang terlibat sama sekali" Sasuke sedikit terkejut melihat tatapan tajam dari Kakashi. Pria itu tampaknya serius dengan ucapannya. Sasuke tahu hubungan dekat Kakashi dengan keluarganya yang tercipta semenjak ia menikah dengan Rin, istri Uchiha Obito, sepupu Sasuke yang meninggal karena tragedi pembantaian lima tahun yang lalu. Mengingat kejadian pembantaian itu membuat emosi Sasuke naik.
Kakashi memang berjanji pada Obito untuk menjaga Rin dan keluarga Uchiha sesaat sebelum Obito menghembuskan nafas terakhir. Karena itulah Kakashi selalu turun tangan dalam segala hal yang menyangkut keluarga Uchiha. Sasuke mempercayai laki-laki itu.
Ia memang tidak sedang berkhianat terhadap klannya tapi ia tidak dapat menampik perkataan Kakashi tentang berkhianat terhadap negara. Entahlah ia tidak tahu apakah ia sedang berkhianat atau tidak. Tapi ia sudah berjanji akan melakukan apa saja untuk membunuh Itachi atas apa yang telah dilakukannya lima tahun lalu. Yah, tragedi yang merebut kakek, ayah, dan Obito sepupunya. Ia akan melakukan apa saja termasuk bergabung bersama Orochimaru untuk mencari kakanya itu. Ia tidak peduli kalau itu merupakan tindakan yang mengkhianati negara. Tapi ia juga tahu lelaki di sampingnya itu tidak akan membiarkannya melakukan sesuatu yang mengkhanati negaranya. Karena ia adalah seorang agen interpol.
"..."
"..."
"Hn"
Kakashi menghela nafas mendengar jawaban sasuke. Tampaknya memang susah mengetahui apa yang ada di otak pemuda Uchiha itu. Kakashi menatap ke depan saat mereka mendekati sebuah mobil yang terparkir di depan mereka. Kakashi berhenti dan menatap Sasuke. Ia menyerahkan sebuah kunci pada Sasuke.
"Kau yang menyetir oke?" katanya sambil tersenyum. Sasuke hanya mendengus mendengarnya. Ia menerima kunci dan segera masuk ke depan kemudi diikuti ketiga orang lainnya. Kakashi duduk di sebelahnya sedangkan Juugo dan Kabuto duduk di kursi belakang. Tak lama kemudian mobil sedan itu melaju cepat membelah jalan tol Tokyo.
Tak ada yang membuka suara selama perjalanan. Kabuto tampak sibuk dengan laptopnya. Juugo sedang mengamati pemandangan kota Tokyo yang baru sekali ini ia injak. Sementara Kakashi sendiri bukan tipe orang yang suka mengajak bicara orang yang sedang menyetir. Ia hanya duduk diam menatap keluar dengan headseat di telinganya.
Saat berada separuh jalan, Sasuke yang hendak melewati sebuah mobil di depannya tidak menyangka ada sebuah mobil di belakangnya yang melaju dengan cepat. Alhasil kedua mobil ini saling bergesekan. Sasuke berdecih. Ia berusaha mempertahankan mobilnya. Karena kalau ia membanting setir ke kiri ia kembali akan menyerempet mobil yang di salibnya tadi. Dan akibat tindakannya itu sang mobil yang tadi di serempet olehnya oleng ke kanan dan hampir menabrak pembatas kalau saja sang pemilik tidak segera mengerem laju mobilnya sekuat tenaga. Sasuke sendiri reflek menginjak rem dan menepikan mobilnya
"Kau tidak apa-apa Sasuke?" tanya Kakashi di sebelahnya. Sasuke menoleh ke arahnya. Pria itu tampak agak khawatir melihat wajah Sasuke yang agak tegang. Sasuke mengangguk kemudian beranjak keluar. Mobil yang tadi disalibnya pun telah menepi. Seorang pria paruh baya keluar dengan wajah yang campur aduk. Antara takut, marah dan khawatir. Ia mendekat ke arah Sasuke.
"Kau tidak apa-apa nak?" tanyanya saat menghampiri Sasuke. Sasuke membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat. Di belakangnya Kakashi mengikuti. Kabuto dan Juugo hanya memandang dari jauh.
"Maafkan aku paman. Aku sangat ceroboh." Katanya kemudian. Pria paruh baya yang tadinya ingin marah-marah setelah menanyakan keadaan Sasuke jadi tidak enak. Ia kemudian mengibas-ngibaskan tangannya.
"Sudahlah lain kali hati-hati" katanya sambil menoleh ke satu mobil lagi. Ia melihat seorang yang tampak masih syok di dalam mobil mewahnya itu. Terlihat dari orang itu yang belum turun juga dari mobil. Sasuke melihat arah pandang pria itu. Ia lalu membungkuk sekilas.
"Biar aku yang mengurus kekacauan ini paman. Aku akan bicara padanya. Paman bisa melanjutkan perjalanan paman" katanya sopan. Pria itu hanya mengangguk kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju mobil dan kemudian pergi. Sementara Sasuke yang tadinya memperhatikan kepergian pria paruh baya itu kembali menatap mobil yang tadi di serempetnya saat mendengar pintu mobil itu terbuka.
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura syok dengan apa yang baru terjadi. Ia ingat betul saat ia melaju cepat tadi dan akan melewati dua buah sedan hitam di depannya, secara mendadak salah satu mobil yang paling belakang tiba-tiba memotong jalannya dengan maksud menyalib mobil di depannya dengan tiba-tiba. Tiba-tiba. Tiba-tiba. TIBA-TIBA. Kata itulah yang terngiang kuat di otaknya saat sebuah suara membuat dua kata-kata itu menghilang terganti dengan kemarahan yang membuncah di dadanya.
"Sakura-chan! Sakura-chan! Kau tidak apa-apa Sakura?!" teriak Naruto di sampingnya membuyarkan sedikit rasa syoknya. Ia menggeram kemudian mencoba melawan tangan dan kakinya yang bergetar hebat. Ia membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar dengan susah payah. Ia menutup pintu mobilnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat luka gores pada mobil kesayangannya itu.
"OH- MY- GOD" teriaknya histeris sambil memegang kepalanya. Seketika tangan dan kakinya yang bergetar menjadi kokoh kembali akibat luapan amarahnya. Ia bersumpah akan mencincang orang yang menyerempetnya tadi. Sontak ia menoleh sengit ke arah pemuda yang sekarang tengah menatapnya datar. Ia membuka kacamata hitamnya kasar. Di belakangnya Kakashi mencoba tersenyum walau tampak menjadi aneh setelah melihat tatapan Sakura yang tajam membunuh. Sakura berjalan mendekati Sasuke dengan garang.
"HEI BRENGSEK! APA MOBILMU TIDAK ADA KACA SPION?! TIDAK PUNYA LAMPU SEIN?! KAU LIHAT APA YANG KAU LAKUKAN PADA MOBILKU!" semprotnya geram. Kakashi di belakangnya hanya melongo. Oke selama ini banyak sekali gadis yang berteriak di depan pemuda Uchiha di depannya itu. Tapi mereka semua berteriak karena histeris terpesona dan memuja ketampanan pria berambut hitam itu.
Dan gadis di depannya ini adalah gadis pertama yang berteriak marah tanpa takut dan tanpa tanda-tanda raut terpesona sedikitpun pada pemuda di depannya. dan hei apakah gadis itu tidak pernah melihat TV? Ia tidak pernah melihat wajah Sasuke? Sasuke anak dari seorang menteri. Apa kau tidak tahu itu? Berbicara soal "pernah melihat", rasanya Kakashi merasa pernah melihat gadis ini? Dimana? TV? Dan ia akhirnya tahu siapa gadis ini saat melihat seorang pemuda pirang yang menghampiri gadis itu.
"Sakura-chan... tenanglah. Kita bisa bicarakan ini baik-baik" Sakura mendelik ke arah Naruto, membuat pemuda itu menciut seketika.
"Diam baka! Aku juga akan membuat perhitungan denganmu! Kau pikir siapa yang membawa mobilku seenaknya!" Kakashi tahu sekarang. Dia Sakura. member sebuah band rock yang terlibat skandal baru-baru ini karena umurnya di bawah umur. Dan sepertinya ia mendapat sebuah ide.
Sasuke menatap Sakura datar. Gadis yang tadi sedang memarahi Naruto kini kembali menoleh sengit menatapnya. "Kau pikir mobilku murahan hah! Aku membelinya susah payah! Kau tahu tidak!" bentaknya lagi.
"Hn... aku akan ganti kerugiannya" jawabnya datar dan ringan. Sakura menganga tidak percaya.
"Sombong sekali orang ini" Sakura sedikit tidak suka melihat sifat pemuda di depannya itu. Ia begitu sombong. Bahkan kata maafpun tidak terluncur sedikitpun dari mulutnya. Sasuke mengeluarkan selembar cek dan menulis sebuah angka yang tidak sedikit pada cek itu. Sakura mendengus, ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Bukannya berharap sebuah kata maaf, tapi pemuda di depannya ini seolah merasa seolah dirinya tidak salah.
"Hei Tuan, kau pikir uang bisa menyelesaikan segalanya?! Enak saja!" teriaknya.
"Lalu apa yang kau inginkan nona?" seseorang di belakang mereka menginterupsi. Kakashi. Sakura menatap Kakashi tidak suka. "Kau ingin kita selesaikan ini di kantor, polisi nona Sakura?" baik Sakura maupun Sasuke terkejut. Sakura mengumpat. Kantor polisi adalah hal yang paling dihindari saat ini. Bukan hanya kasusnya tapi ia masih belum mempunyai SIM. Ia masih di bawah umur. Sedangkan Sasuke sendiri sedikit menoleh ke arah Kakashi seolah meminta penjelasan kenapa pria itu tahu nama gadis di depannya itu. Kakashi tersenyum seperti mengerti arti tatapan Sasuke.
"Kau tentu tidak ingin kami bawa ke kantor polisi kan nona? Kurasa kasusmu belum selesai. Apa ya yang akan terjadi kalau pers tahu Haruno Sakura, member band rock yang sedang terjerat kasus pelanggaran hukum eksploitasi anak, kini terjerat kasus pelanggaran hukum lalu lintas?" gigi Sakura bergemerutuk. Pria di depannya itu mau main-main dengannya rupanya.
"Ambil saja uang itu. Anggap ini sudah selesai. jangan diperpanjang lagi" tawarnya kemudian "aku tahu kau belum punya SIM. Kau masih dibawah umur. Aku tidak akan mengungkit hal itu asal kau juga tidak mengungkit masalah ini lagi. Cukup adil bukan" Sakura tidak bersuara. Hanya menatap Kakashi geram. Sasuke balik memandang Sakura datar. Ia menyodorkan cek yang tadi telah ditandatangani. Sakura menatap ke arah Sasuke lagi seolah ingin menelan pemuda itu bulat-bulat. Bukannya takut Sasuke hanya balik menatap Sakura. Entahlah. Rasanya ada sesuatu yang menggelitik di perutnya saat melihat mata Sakura yang memancarkan banyak emosi di dalamnya. Marah, kesal, dongkol. Mau tak mau sudut bibirnya sedikit tertarik.
Sakura berusaha menahan emosinya. Ia menyambar kasar kertas cek di depannya. ia lalu berbalik dan berlari masuk mobilnya untuk mengambil sesuatu. Sasuke yang merasa kalau Sakura sudah menerima tawarannya, hendak melangkah menuju mobil kalau saja sebuah suara feminim tidak menahan langkahnya.
"Hei Tuan... sepertinya kau paham sekali dengan arti kata keadilan bukan?" Sasuke menoleh menatap Sakura heran. Ia menatap apa yang telah di genggam Sakura sekarang. Sebuah tongkat bisbol. "Jadi kau pasti paham dengan apa yang aku lakukan sekarang" sambung Sakura sambil tersenyum sinis. Ia melangkah mendekati Sasuke. Kemudian apa yang dilakukan gadis itu membuat Sasuke mengerutkan alisnya. Sakura merobek cek yang tadi di berikan Sasuke di depan wajah pria itu. Naruto mengerang melihatnya. Mungkin mengumpat Sakura yang menyia-nyiakan uang yang di berikan Sasuke. Dengan gerak santai Sakura membuang robekan kertas cek itu ke udara. Ia tersenyum sinis pada Sasuke. Dengan santai pula ia berjalan melewati Sasuke dan Kakashi sambil mengayunkan memutar stik bisbol di tangannya. Dan saat ia sampai tepat di samping mobil sedan Kakashi dengan sekuat tenaga ia memukul kaca depan mobil itu.
PRAAANGGGG
Kaca mobil itu pecah berkeping-keping.
"Aaaaarggghhh!" teriakan frustasi terdengar dari mulut Kakashi. Naruto hanya menganga menatap tingkah Sakura. kabuto dan Juugo hanya melongo. Sedang Sasuke? Pemuda itu menatap datar Sakura walau raut terkejut sempat ada di wajahnya. Sakura melangkah ke depan Kakashi dan membuang stik bisbol itu di hadapannya.
"Tidak usah memberiku uang. Aku rasa sebuah kaca mobilmu itu harganya tidak sebanding dengan goresan di Enzoku. Seharusnya aku menghancurkan semua kaca mobilmu. Tapi aku ingin sedikit berbaik hati. Cukup adil bukan?" katanya sambil menyeringai.
"Kau ...!" teriak Kakashi tidak terima.
"Kenapa? Ingin menamparku? Pecundang" Sakura menatap sinis Kakashi yang menggeram. "Minta saja cek yang tadi pemuda itu berikan padaku" katanya lagi sambil berlalu. Sasuke menatap gadis yang mendekat ke arahnya. Terus mengamati sampai gadis itu melewatinya tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya. Gadis itu kemudian memakai kembali kacamata hitamnya dan melangkah masuk ke dalam mobil. Sebelum itu ia sedikit berteriak ke arah Naruto.
"Hei baka! Sampai kapan kau akan berdiri seperti orang idiot di situ? Kau ingin ku tinggal?" Naruto sadar dari keterkejutannya atas tindakan Sakura lantas kemudian berlari panik masuk ke mobil Sakura. detik berikutnya mobil itu melaju kencang meninggalkan empat orang yang memandang kepergian mobil itu dengan ekspresi yang berbeda-beda.
TO BE CONTINUE
Fiuh... sebenarnya mau lanjut tapi yoyeo dah ngantu berat nih...
Bersambung ajah yah...
Kritik dan sarannya yah hehehe
