Tittle: Lovesick (Sequel Sexy Fortune)

Author: Dyorit

Genre: Drama, Angst, Family

Rating: M (for sexual scene and heavy language)

Length: Chaptered (Chapter 6)

Cast: Kai—Kyungsoo

Support Cast: Kim Minseok, Park Chanyeol

Disclaimer: Seluruh cast milik diri sendiri, orang tua, agensi, fans, dan semua yang sayang ama dia. Seluruh typo's, cerita, dan EYD yang ancur punya gue seorang

Warning: YAOI, BL, Boys Love, boy x boy, boys love boys, Official Pair!, EYD berantakan, alur ngebosenin, OOC (Out Of Character), typos beterbaran, cerita pasaran, alur ngebut.

Author's:

~…~

"I'm human, aren't I?"—Shima (Doushitemo Furetakunai)

"Jadi kita makan makanan tadi pagi?" Jongin bertanya, matanya masih memandang ayam goreng di depannya yang terlihat tidak seindah tadi pagi. Kyungsoo tahu, Jongin pasti akan mengeluh saat melihat ayamnya tidak seindah tadi pagi. Tetapi, sungguh sarapan mereka tadi pagi (yang sama sekali belum tersentuh) masih banyak dan sayang jika di buang

"Tapi ayamnya tidak seindah tadi pagi" benar sudah perkiraannya. Protes pertama Jongin pasti tentang ayam gorengnya

"Yang penting masih bisa di makan. Sudahlah makan saja apa yang ada jangan banyak mengeluh seperti bayi"

"Tak bisakah kau memasak ayam goreng lagi?" Kyungsoo berbalik lantas menatap Jongin dengan tatapan tidak mengerti

"Ayolah walaupun warnanya tidak seindah tadi pagi tapi itu masih enak dimakan" Kyungsoo menyahut dengan ketus, "Lagipula yang kau makan kan ayamnya bukan warnanya. Jadi jangan merengek seperti itu"

Jongin ahirnya menurut, lagipula setelah di pikir-pikir kata-kata Kyungsoo ada benarnya juga. yang penting adalah rasanya bukan warnanya. Lagipula, kadang-kadang Kyungsoo bereksperimen dengan beberapa resep dan membuat jenis makanan aneh yang tak dapat di nalar jika hanya di lihat. Walaupun bagian 'look'nya terlihat 'awful' tapi beruntunglah rasanya tidak semengerikan tampilannya

"Cuci tangan dulu sebelum makan" Jongin menurut, ia berdiri dan berjalan menuju wastafel untuk membasuh tangannya. Saat Kyungsoo sedang menuang sup ke dalam mangkuk tiba-tiba saja bel apartemen berbunyi beberapa kali

"Hei, Kyungsoo sana buka pintunya"

"Kau tidak lihat aku sedang apa? Kenapa tidak kau saja yang buka pintu? Lagipula kau sedang menganggur"

Jongin hanya mengediikan bahunya. Memilih menurut daripada harus terlibat pertengkaran lagi dengan si cerewet. Dengan malas dan wajah masam ia berjalan menuju pintu depan dan membukanya tanpa melihat intercom

"Wow, ekspresi yang menakjubkan" Baekhyun memekik kaget saat melihat raut wajah Jongin yang benar-benar bisa membuat tamunya langsung lari terbirit, "Ada apa dengan wajah masam itu?"

"Ada urusan apa?" Jongin memilih tidak memperdulikan ucapan sepupunya tersebut dan memilih melayangkan kembali pertanyaan

"Aku hanya ingin mengunjungi sepupuku. Memangnya tidak boleh ya?"

"Hmm" hanya gumaman yang di berukan Jongin sebagai jawaban, "Masuklah. Kami baru mau makan malam"

Baekhyun tersenyum lebar melihat Jongin dengan wajah malas seperti biasanya. Jongin sendiri jadi bingung ada apa dengan sepupu jauhnya ini, walaupun dia sudah tahu kalau Baekhyun memang senang tertawa walaupun hal yang di tertawakannya tidak lucu sama sekali

"Apa-apaan kau itu?" tak tahan dengan wajah sepupunya yang terlihat menyebalkan Jongin ahirnya bertanya dengan nada mengintimidasi

"Memangnya aku kenapa?"

"Tersenyum mengerikan seperti itu" sahutnya malas, "Menjijikkan"

"Kukira kau sudah berubah. Tetap, ternyata masih kasar seperti dulu" Baekhyun menggerutu dengan wajah masam, "Wah. Ini bau sup rumput laut"

Jongin hanya melirik Baekhyun dari ekor matanya. Sepupunya yang satu ini benar-benar berbahaya untuk jantung, moodnya luar biasa sekali. Kembali, Jongin lebih memilih berjalan cepat menuju dapur. Saat keduanya sampai di pintu dapur Kyungsoo terlihat sedang menuang sup ke dalam mangkuk-mangkuk kecil

"Oh? Baekhyun-ssi. Selamat datang"

"Apa-apaan dengan cara bicaramu itu?" Jongin mencibir saat mendengan cara dan nada bicara Kyungsoo yang lembut. Benar-benar bukan Kyungsoo sekali.

"Memangnya kenapa?" Kyungsoo balik bertanya dengan nada menantang. Jongin mendengus saat mendengar Kyungsoo yang asli keluar.

Baekhyun terkekeh mendengar bagaimana keduanya berbicara. Benar-benar terlihat 'dekat' dengan cara mereka sendiri, jadi begini sifat asli Kyungsoo. Saat melihat Kyungsoo untuk yang pertama kalinya, Kyungsoo terlihat untouchable tapi setelah melihat bagaimana Kyungsoo dan Jongin berinteraksi sepertinya label itu harus di lepas

"Kalian benar-benar memiliki cara unik untuk dekat" Baekhyun menyahut di antara umpatan-umpatan yang Jongin keluarkan saat Kyungsoo dengan sengaja menumpahkan sedikit sup di atas kakinya, "Benar-benar cara unik"

Jongin dan Kyungsoo hanya diam dan saling memandang satu sama lain. Baekhyun kembali terkekeh saat melihat hal tersebut. Ia menumpukan kedua sikutnya di atas meja dan menopang dagunya dengan tangannya yang ramping bak seorang gadis belia.

"Aku jadi berfikir ingin tinggal bersama kalian pasti ak—"

"Tidak mau. Aku tidak mau" Jongin memotong dengan tegas, "Aku tidak mau mengurusi orang-orang cerewet menyebalkan seperti kalian"

"Mengurusi?" Kyungsoo mulai menyindir, hal itu kembali membuat Baekhyun terkekeh, "Bukannya aku yang mengurusmu? Dasar bayi!"

"Ya! Aku ini tu—"

"Aku bukan babi potong. Lagipula, kalaupun aku adalah babi potong aku tidak mau memiliki majikan sepertimu" kini Kyungsoo yang balas memotong ucapan Jongin, "Oh iya. Silahkan Baekhyun-ssi makanlah sepuasmu, karena hari ini aku masak banyak akan sangat sayang jika yang habis hanya ayam gorengnya saja"

Baekhyun tersenyum lalu mengangguk dengan bersemangat seperti seorang gadis kecil, sementara Baekhyun terlihat sangat bahagia Jongin terlihat kembali mendengus kesal karena di sindir secara tidak langsung.

"Oh iya Kyungsoo. Kenapa tadi aku tidak melihatmu di bangku penonton ya? Aku kira kau akan datang jadi aku berencana mengenalkanmu pada paman sutradara"

"Huh? Sutradara?"

"Kudengar dari Jongin, kau punya suara yang bagus jadi kupikir kau bisa ikut audisi untuk drama berikutnya"

"Ah? Kurasa tidak, suaraku tidak bagus. Lagipula seperinya aku tidak cocok di pagelaran seperti itu"

"Dia bohong. Suaranya lumayan, ajaklah dia ke tempat karaoke jika kau ingin mendengarnya" Jongin menyela pembicaraan keduanya, "Jika kau mengajakknya ke kelas menyanyi dia pasti tidak mau menyanyi. Satu-satunya cara agar dia mau menyanyi adalah mengajaknya ke tempat karaoke"

"Oh tidak terima kasih. Menyanyi tidak ada dalam agenda hidupku"

Baekhyun terlihat kecewa dan Kyungsoo menyadari itu. Tapi, mau bagaimanapun walaupun suaranya bagus tetapi ia tidak mau menyanyi jika tidak dalam keadaan terdesak.

"Sayang sekali. Salah satu pemain kami baru saja melakukan operasi pita suara, jadi untuk beberapa minggu ia tidak di perbolehkan menyanyi. Jadi, kami berfikir untuk mencari seseorang yang dapat mengcover bagian menyanyinya untuk sementara" Baekhyun berucap dengan nada memohon

"Kau tidak kasihan padanya? Terima saja tawarannya"

"Aku ingin tapi aku tidak bisa" tolak Kyungsoo. Jongin dan Baekhyun sama-sama mengerutkan dahinya menunggu lanjutan dari perkataan Kyungsoo, "Ya, karna aku tidak bisa saja"

"Ya sudahlah, kalau kau tidak mau, aku bisa apa?" Baekhyun ahirnya pasrah. Jongin kembali dengan postur mengedikkan bahunya. Ikut pasrah dengan pilihan Kyungsoo.

Bukan Kyungsoo tak mau menyanyi, sedari kecil Kyungsoo selalu senang dengan dunia tarik suara. Suaranya indah, semua orang akan mengakui itu. Kyungsoo hanya kurang merasa percaya pada dirinya sendiri

.

.

.

Saat pagi menjelang, tepat pukul enam pagi Kyungsoo telah berada di universitas. Jongin telah meluncur menuju kelasnya sendiri, meneruskan mimpinya yang tertunda pagi tadi akibat ulah Kyungsoo yang dengan tenang menendangnya keluar dari kasur.

"Hei kau lihat sepatunya baru"

"Aku pernah melihat sepatu yang sama tengah di pakai Chanyeol"

"Kulihat di katalog bulan lalu, itu adalah sepatu edisi terbatas"

"Sepatu itu pasti hasil dari 'kerja malamnya' "

"Jadi dia semiskin itu sampai hanya untuk membeli sepatupun ia harus menjual diri"

"Benar-benar murahan"

Kyungsoo sontak berhenti berjalan saat mendengar para wanita yang saling berbisik membicarakannya. Pandangan matanya ia arahnya ke arah sepatu yang di gunakannya. Bukan salah mereka, pada dasarnya mereka benar. Hampir, Kyungsoo telah terbiasa mendapat gunjingan yang sama menyakitkannya seperti yang di bicarakan pada gadis tadi. Tetapi, rasanya tetap saja menyakitkan.

"Jadi kau adalah sepatu edisi terbatas?" mungkin, setelah ini, selain di sebut murahan Kyungsoo akan mendapat julukan gila. Tetapi, sepertinya Kyungsoo tidak terlalu memperdulikannya. Pandangan matanya masih terus tertuju pada kedua sepatu yang tengah membalut kakinya.

"Mereka mungkin ada benarnya" gumamnya sembari terus memainkan ujung sepatunya, "Aku memang tidak pantas memakai barang mahal"

"Selain murahan dia pasti juga sudah mulai gila" satu lagi bisikan tak mengenakkan hati mampir ke telingannya. Para gadis memanglah media penyebar yang sangat efektif

"Mungkin aku memang murahan" Kyungsoo berhenti memainkan ujung sepatunya, ia diam untuk beberapa saat. Tak ada helaan nafas lelah, tak ada keluhan. Hanya ada pembenaran atas semua gunjingan yang di layangkan padanya, "Aku penasaran. Masihkan aku bisa di sebut manusia setelah semua gunjingan ini"

"Kyungsoo" kepalanya ahirnya mendongak, sosok Chanyeol adalah hal pertama terlihat oleh pengelihatannya walaupun kenyataannya di belakang laki-laki tinggi tersebut ada beberapa gadis yang masih berbisik menggunjingnya. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Tidak ada" jawabnya dengan pandangan kosong. Chanyeol mengernyitkan dahinya bingung melihat perubahan Kyungsoo. Saat Chanyeol hendak kembali melemparkan pertanyaan pada laki-laki di depannya. Kyungsoo dengan tergesa-gesa melepaskan sepatunya lantas tanpa berkata-kata apapun ia berlari menjauhi orang-orang yang entah sejak kapan telah berkerumun di koridor.

Chanyeol terlihat bingung untuk beberapa waktu. Saat ia tersadar dan mulai bergerak untuk mengejar Kyungsoo. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat Jongin telah berdiri di depannya dengan ekspresi malas.

"Mulut wanita jaman sekarang memang lebih lebar dan lebih dalam daripada sumur" itu adalah ucapan pertama yang keluar dari mulut Jongin saat melihat beberapa wanita yang masih menggunjing dengan suara berbisik.

"Orang bilang wanita adalah makhluk terhormat" lanjutnya. Chanyeol masih diam di tempat menunggu kelanjutan ucapan dari Jongin

"Bullshit!. Ternyata kalian tidak lebih dari sampah, terutama mulut kalian" setelah mengatakan hal itu. Jongin memutar tubuhnya membelakangi orang-orang yang masih terperangah kaget dengan ucapan Jongin yang terkesan kasar dan tidak berpendidikan.

"Kalau begitu apa yang orang bilang dengan orang kaya adalah orang yang beradap jugalah omong kosong" balas seorang wanita dari ujung koridor. Jongin menolehkan wajahnya, memberikan senyum remeh pada wanita yang menyahut ucapannya.

"Aku penasaran mengapa SMA mu dapat meluluskan orang bodoh sepertimu" ujar Jongin, masih dengan senyum remehnya.

"Dalam sejarah orang kaya dan bangsawan adalah orang-orang yang pada ahir hidupnya mati dengan menggenaskan. Dalam sejarah orang kaya dan bangsawan adalah kumpulan orang-orang dengan obsesi besar yang pada ahirnya menyeret mereka pada kematian konyol hanya karena perebutan harta, tahta dan pendamping hidup"

"Orang kaya adalah orang yang beradap. Heh, itu adalah cerita lama" ujarnya dengan santai dan tanpa beban lantas dengan tenang pergi meninggalkan orang-orang yang terlihat masih terkaget-kaget dengan setiap kata yang keluar dari bibir 'tanpa adab' miliknya.

Chanyeol terdiam mencerna setiap kata yang di ucapakan Jongin, pandangan matanya berpindah dari memandang punggung lebar Jongin menjadi memandang sepasang sepatu yang di tinggalkan dengan berantakan oleh pemiliknya. Perlahan Chanyeol berjongkok, memunguti kedua buah sepatu tersebut lantas ikut pergi dengan tenang meninggalkan koridor dengan memeluk sepatu milik orang yang telah mencuri seluruh hati dan pikirannya.

"Apa yang kau lakukan disana?" Chanyeol bertanya pada Jongin yang tengah duduk santai dengan sesekali meneguk minuman bersoda, "Tidakkah kau berfikir untuk mencari Kyungsoo?"

"Tidak. Aku tidak mau mencarinya, lagipula dia sudah bukan anak kecil"

"Tidakkah kau khawatir padanya"

"Ya dan tidak" Chanyeol mengernyit mendengar jawaban Jongin yang membingungkan, "Tapi yang pasti aku tahu dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti kebanyakan orang gila lain"

"Dia tidak gila"

"Dia gila, dan kau seharusnya tahu itu. Dia gila karena seluruhnya dia yang menanggung, dia miskin dari lahir. Ayahnya meninggal saat ia masih terlalu kecil untuk mengerti hidup yang keras dan ibunya terlalu merepotkannya dengan terus sakit-sakitan" seteguk demi seteguk soda melewati kerongkongan laki-laki berkulit tan itu. "Pola pikirnya bahkan lebih tinggi daripada tinggi badannya"

"Tapi, walau bagaimanapun dia tetaplah manusia. Ada saatnya dimana dia mulai merasa lelah"

"Kita tidak akan pernah tahu kapan dia akan merasa lelah dan ahirnya menyerah"

"Saat hal itu terjadi aku akan berada di sampingnya. Aku yakin itu" Jongin mengalihkan pandangannya pada Chanyeol. Raut wajah laki-laki di depannya terlihat mantap dan serius. Jongin tersenyum kecil.

"Pegang kata-katamu. Laki-laki pantang menjilat ludahnya sendiri apapun yang terjadi"

Chanyeol diam di tempatnya, di kedua lengannya masih dipeluknya dengan erat sepatu Kyungsoo. Tak perduli lengan bajunya yang telah kotor oleh sepatu dalam pelukannya.

"Dia butuh waktu. Sebaiknya jangan ganggu dia" bisik Jongin pelan. Chanyeol mengangguk menyetujui.

"Kau benar dia butuh waktu" bisik Chanyeol sembari mengeratkan pelukannya pada sepasang sepatu dalam kedua lengannya.

TBC

Maafkan gue yang ternyata ampe chapter 6 anu-anuannya/? Belom keluar, gue lagi mepet ide. Mungkin chap depan bakal ada anu-anuan/? dikit. Dan entah kenape chap ini gue merasa ngebosenin. Mungkin karna kebanyakan adegan sedih-sedihnya. Chap depan bakal gue coba buat biar kek biasanya lagi/?. Maaf juga postan gue sering ngaret kuadrat. Maaf juga chap kemaren A/N gue melenceng, tadinya chap 5 emang sengaja mau gue post sebelom puasa tapi ternyata banyak kejadian tak terduga. Dan karena gue yang post juga buru-buru. Jadi A/Nnya kaga gue edit sama sekali :v

Maaf juga ahir-ahir ini gue banyak baca manga yaoi (biasanya juga banyak tapi ahir-ahir ini lebih banyak/?), jadi mungkin ceritanya jadi rada kebawa sama manga apa yang gue lagi baca. Tapi kemaren gue nemu itu tuh quotes yang di atas, rasanya ngejleb banget. Pokoknya gue suka ceritanya itu manga. Walaupun kata orang artnya emang kaga bagus bagus banget