proudly present
An EXO Fanfiction
ONE WEEK GIRLFRIEND
Cast : Oh Sehun, Kim Jongin
Remake dari Novel berjudul sama karya Monica Murphy
Happy Reading!
.
.
.
"Love is a smoke and is made with the fume of sighs"
.
Kim Jongin
Orang kaya itu menyebalkan. Mereka kasar, mereka bertingkah seolah mereka berhak melakukan segalanya dan melarangmu berpenampilan seperti orang miskin. Aku memakai jeans dan sweater, tidak mewah, dan mereka semua mencibirku seolah aku ini gelandangan. Mereka memberiku pandangan mencela seolah aku baru keluar dari selokan dan memandang takut-takut dan gugup ketika aku mendekati mereka. Seolah aku akan menusukkan pisau ke arah mereka atau ingin meminta semua uang mereka.
Itu juga terjadi padaku ketika aku memutuskan mengelilingi pusat kota Carmel seorang diri, mengelilingi toko-toko lucu di sana. Sehun mengantarkanku hingga ke puncak bukit dan menjelaskan ada banyak sekali toko dan galeri seni sepanjang pinggir jalan di wilayah itu. Dia bilang aku bisa berkeliling kota berjam-jam jika aku mau, dan aku sangat bersemangat dengan rencana itu terutama ketika aku tahu ayahnya ingin bicara berdua saja dengannya.
Ini yang tengah mereka lakukan sekarang. Duduk di sebuah restoran, berpura-pura menikmati makan siang mereka sementara ayahnya mencecarnya dengan pertanyaan 'apa yang akan kau lakukan dalam hidupmu', aku yakin. Untungnya, Jessica telah terlanjur membuat janji dengan penata rambutnya jadi dia tak bisa ikut dengan mereka, walaupun aku yakin dia bisa saja menbatalkan janjinya itu. Tapi Ayahnya Sehun menghentikannya, mengatakan dia ingin bicara dengan putranya berdua saja.
Kekecewaan pahit yang di rasakannya terlihat lebih jelas dari yang sebelum-sebelumnya.
Rasa dingin menjalar di tulang belakangku. Wanita itu membuatku merasa tak karuan. Aku tak menyukainya dan dia juga tak menyukaiku. Sama sekali. Dia mencoba sekuat tenaga menghabiskan waktu dengan Sehun sementara Sehun mencoba menghindarinya pada setiap kesempatan. Aku benar-benar tak mengerti.
Tentu saja, siapa aku menghakimi keluarga mereka yang kacau? Keluargaku malah jauh lebih kacau.
Aku berhenti di depan sebuah jendela toko dan mengintip melalui kaca jendela. Sepatu yang di pajang di sana pastinya sangat mahal, aku merasa aku bahkan tidak mampu untuk sekedar melihatnya, berjalan sendirian memasuki tempat itu. Untung saja, teleponku berbunyi dan menyelamatkanku dari keharusan bertingkah konyol.
"Katakan padaku kalau semuanya baik-baik saja," Aku menjawab.
"Semuanya baik-baik saja," Taehyung membalas ucapanku. Sialan, bahkan dari suaranya terdengar sekali dia tengah menyeringai.
"Bukankah seharusnya kau masih di sekolah?" Baru jam dua siang dan dia masih harus di sekolah hingga jam tiga.
"Hari ini masuk setengah hari."
Dia berbohong. Sekolah hanya masuk setengah hari pada hari rabu saja tapi tak ada gunanya mendebatnya dalam hal ini. Aku di luar kota. Tak ada yang bisa kulakukan. "Apa ibu pulang semalam?"
"Ya, semalam dia pulang, tapi menjengkelkan." Dia memaki di sela nafasnya. "Dia membawa pacar barunya bersamanya."
Yaiks! Aku bersyukur tak ada disana. Biarpun aku ada di rumah, ibuku tak pernah membawanya ke sana. Bahkan dia juga jarang berada di rumah. "Apakah dia baik?"
"Tidak, dia bajingan. Memerintahkan ibu mengambilkannya bir sepanjang malam. Akhirnya aku bilang padanya untuk mengambil bir sialannya itu sendiri."
Aku melorot di dinding dan mengerang, membuat orang-orang asing yang lewat di jalan menatapku aneh. "Tidak mungkin kau melakukannya."
"Tentu saja aku bilang begitu. Dia benar-benar kasar dan dia pemabuk. Ibu pantas mendapatkan yang lebih baik darinya."
Aku tak bisa sepakat dengannya dalam hal ini karena kau berpikir ibuku tak pantas mendapatkan yang lebih baik. Dia telah membuat pilihannya sendiri selama bertahun-tahun, dan pilihannya selalu sama. Aku sudah tak dapat menghitung barapa banyak pemabuk kasar yang telah berhubungan dengan ibuku. Taehyung tak menyadarinya karena sedapat mungkin aku menyingkirkannya ketika ibu bersama dengan pacarnya.
"Apa ibu marah padamu?"
"Dia tak mengatakan apapun tapi laki-laki itu mengancam akan menendang bokongku jika aku berani bicara kepadanya lagi."
"Sialan," aku bergumam, dengan berat menutup mataku. Inilah mengapa aku tak seharusnya meninggalkannya. Belum tiga hari aku meninggalkan mereka dan segalanya tampaknya sudah mulai kacau. "Aku benar-benar berharap dia tak memukulmu atau aku akan memanggil polisi."
"Pfttt…" Remaja tiga belas tahun mengira mereka bisa menghilang dan adikku tak ada bedanya. "Seolah dia bisa menyentuhku saja. Aku yang akan menendang bokongnya terlebih dahulu."
"Aku harus pulang." Panik melandaku. Aku tahu semuanya akan lepas kendali dengan begitu cepat ketika aku tidak ada di sana. Yang di katakan Taehyung membuktikan hal itu benar. "Aku akan naik bus atau kereta api atau apapun dan pulang malam ini jika kau membutuhkanku."
"Bagaimana dengan anak-anak nakal yang sedang kau jaga itu? Kau tak bisa begitu saja membuang pekerjaanmu."
"Bisa saja jika kau dalam masalah. Tak ada pekerjaan yang lebih penting dari keluarga sendiri." Aku menatap sekitarku, menyaksikan orang-orang yang cantik dan tampan meluncur melewatiku. Sangat dingin disini, kabut menggantung menyelubungi langit sekitar, agak lebih mirip awan dan jalanan di penuhi oleh turis lokal maupun asing. Tak perlu menjadi jenius agar mereka mengerti masalahku.
"Tinggallah disitu dan carilah uang sebanyak-banyaknya yang aku yakin akan kita butuhkan." Dia merendahkan suaranya dan aku mendengar teriakan di kejauhan, mungkin salah satu temannya. Tuhan, mereka mungkin sedang nongkrong di apartemen dan memakan semua makanan. "Ibu kehilangan pekerjaannya."
Hatiku meluncur jatuh ke dasar perutku. Dia bekerja paruh waktu di toko dan bekerja demi mendapatkan upah minimum. Tak banyak, tapi kami membutuhkan semua yang bisa di hasilkannya. Uang dari Sehun mungkin hanya bisa menghidupi kami sedikit lebih lama, apalagi sekarang dia sudah jadi pengangguran. "Hebat. Kapan tepatnya itu terjadi?"
"Pagi ini. Dia mengirimiku pesan dan memberitahuku. Dia bilang akan tinggal di tempat Larry malam ini."
"Jadi malam ini kau akan sendirian?" Sialan. Tidak. Itu adalah hal terakhir yang kuharapkan terjadi.
"Aku akan ke rumah Jungkook, jadi tak perlu khawatir. Aku akan menginap di sana." Kata-kata yang diucapkannya membuat rambut di tengkukku meremang.
Dia bohong, aku yakin itu. Aku benar-benar bisa membaca gelagat anak ini dan seharusnya aku yang menjadi ibunya. "Seharusnya memang begitu. Aku akan menelepon kediaman Jungkook malam ini untuk memastikan kau di sana."
"Tunggu dulu Jongin. Apa ini, kau tak bisa mempercayaiku?" Dia merengek, terdengar seperti adik kecilku dulu. Pertanda lain dia tengah berbohong.
"Tidak, terutama ketika aku sedang di luar kota." Teleponku berbunyi bip, tanda aku mendapatkan sebuah pesan dan aku menjauhkan teleponku dan memeriksanya dengan cepat.
Dari Sehun. Dan hanya ada satu kata di dalamnya.
.
"Marshmallow."
.
Sialan.
"Hey, aku harus pergi, tapi aku akan meneleponmu nanti malam dan aku akan bicara dengan Ibunya Jungkook. Pastikan kau berlaku baik dan kerjakan PR-mu dan hal-hal lain yang harus kau kerjakan."
"Jongin, itu semua omong…"
"Bye." Aku menutup teleponnya sebelum Taehyung membuatku marah lagi dan aku langsung membalas pesan Sehun.
.
'Aku tak bisa datang menolongmu jika aku tak tahu di mana kau berada.'
.
Jantungku berdebar keras sekali setelah aku mengirimkan pesan itu. Ini adalah pertama kalinya Sehun menggunakan kata kode Marshmallow dan aku menghawatirkannya. Kemarin aku hanya menghabiskan waktu di rumah. Aku menghabiskan sepanjang siang di pantai sementara Sehun dan Ayahnya pergi bermain golf di padang golf yang tak jauh dari rumah. Sehun bilang padaku ada banyak sekali padang golf di sekitar rumah itu, seolah aku akan peduli. Menurutku golf itu membosankan, tapi kuduga Jessica ikut bersama mereka biarpun dia tak bermain bersma mereka. Tapi dia pasti akan mengikuti mereka mengelilingi padang golf itu.
Makan malam minggu malam itu sangat aneh. Jessica berusaha berbicara dengannya, tetap menanyakan masalah pribadi Sehun sementara dengan jelas mengabaikan keberadaanku. Ayahnya jelas-jelas bertingkah aneh, terus menerus mengisi ulang gelas anggurnya hingga penuh dan tak mengucapkan sepatah katapun.
Untungnya aku bisa kabur dengan segera setelah makan malam selesai. Aku bilang aku lelah setelah ujian tengah semester karena harus mempelajari kertas-kertas itu, dan itu semua omong kosong terutama karena aku tidak kuliah. Sehun juga memakai alasan yang sama agar bisa meninggalkan mereka. Kami berdua kembali ke pavilion, ke ruang pribadi kami. Aku sudah sangat lelah dan kupikir aku akan langsung tertidur tapi nyatanya tidak. Aku berbaring nyalang selama lebih dari satu jam, memikirkan tentang Sehun dan keluarga gilanya di sini.
Teleponku kembali berbunyi dan aku memandang layar.
.
'Di restoran di jalan Sixth and Ocean. Aku ingin pergi dari sini. Aku akan menunggumu di luar.'
.
Kelihatannya aku harus pergi menyelamatkan pacar palsuku dari ayahnya yang sombong itu.
.
Oh Sehun
Ketika aku melihatnya, aku merasakan kecemasan mengalir meninggalkan dadaku, dan aku menghela nafas dalam. Aku menunggu di luar restoran, bilang pada ayahku aku butuh menelepon padahal aku hanya ingin menunggu Jongin.
Dan menjauh darinya.
Dia tersenyum padaku ketika dia mendekat ke arahku, rambut pirangnya di tarik ke belakang dan memperlihatkan pipinya yang bulat, hidungnya yang nakal dan bibirnya yang seperti kuncup mawar. Semakin aku melihatnya, dia kelihatan semakin cantik. Dan bukan hanya cantik…
Jongin sangat seksi. Seksi luar bisa dengan badannya yang indah yang telah kulihat dalam berbagai kesempatan ketika dia telanjang sepanjang kami berada di pavilion. Aku melihatnya hanya mengenakan handuk pagi ini ketika dia menyelinap keluar dari kamar mandi dan melesat melintasi ruangan menuju ke kamarnya. Dia bahkan tak melihatku.
Tapi aku melihatnya. Seluruh permukaan kulitnya yang lembut, berembun dan terpampang jelas di hadapanku dan membuatku ingin mengejarnya. Merengkuhnya mendekat dan merasakan kulitnya menyelimutiku. Meraih rambut basahnya dengan jemariku dan menariknya, membawa bibirnya ke bibirku…
Sialan. Hanya dengan mengingatnya saja sudah membuat tubuhku panas. Aku telah dengan susah payah menjauhkan orang-orang sejauh mungkin dariku—terutama cewek—tapi Jongin tampaknya telah meluncur masuk ke dalam kulitku dan membuatku menginginkan…
Dia.
Mengenakan jeans ketat dan sweater yang kebesaran, dia tampak cukup bagus untuk dinikmati, dan aku tak pernah berpikir seperti ini. Sama sekali. Dia membuatku berpikir dan merasa antara tidak nyaman dan melegakan, entahlah.
Dan kata lain, Jongin telah sangat membingungkanku.
"Aku disini." Dia berhenti tepat di hadapanku, kepalanya hanya setinggi dadaku. Dia benar-benar mungil. Aku bisa menciduknya, mengangkatnya ke bahuku dan membawanya pergi dari sini, tak jadi masalah. "Aku siap menyelamatkanmu."
Kata kode Marshmallow tak pernah di gunakan sebelumnya, dan aku senang ketika dia datang dengan cepat. Bukannya ayahku menjadi jahat atau telah berteriak kepadaku. Dia hanya tak mau berhenti menanyakan pertanyaan tentang apa yang akan kulakukan untuk masa depanku. Hal-hal yang tak bisa kujawab karena aku sendiri belum tahu jawabannya.
Akhirnya aku sudah tak tahan lagi dan mengirimkan pesan Marshmallow itu kepada Jongin ketika aku kabur ke kamar kecil.
Dan sekarang dia sudah di sini. Siap membebaskanku.
"Terima kasih sudah muncul."
"Apa dia bertindak keras kepadamu?"
"Tidak, hanya saja aku tak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaannya."
"Oh." Bahkan itu bukanlah sebuah kata, tapi menuntut jawaban juga. Sesuatu yang juga tak bisa kujawab.
"Apa kau suka melihat-lihat toko?" Itu yang disukai cewek-cewek. Belanja, menghabiskan uang, walaupun kupikir Jongin tak punya cukup banyak uang untuk di hambur-hamburkan. Well, jika dia mau dia bisa saja menghabiskan uang yang kuberikan, tapi aku tahu dia menyimpan uang itu untuk mengurusi adiknya.
Pelayan bar berhati mulia ini bernama Jongin. Terdengar seperti kisah dongeng di dunia modern.
"Toko di sekitar sini tampaknya terlalu mahal untuk seleraku." Dia mengernyitkan hidungnya, dan dia terlihat lucu sekali. "Aku tak akan mampu melihat ke dalamnya, berpikir seolah aku akan membeli sesuatu. Aku bukan penggila belanja sebenarnya." Jadi apa yang dia senangi selain menghabiskan waktu di pantai? Aku tak tahu apa-apa tentang cewek ini. Ketika aku tahu sesuatu, aku tak bisa benar-benar memahaminya. Kami benar-benar bertolak belakang dalam banyak hal.
"Jadi apa yang sering kau lakukan selama kau tak bekerja?" dia melihatku dengan tatapan aneh, dan aku merasa bodoh. " Kau tahu kan, misalnya hobi dan sebagainya."
Dia meledak tertawa. "Aku tak punya waktu mengerjakan hobi. Dulunya aku suka membaca."
"Dulunya?"
"Aku terlalu sibuk." Dia mengangkat bahunya. "Bekerja, merawat adikku, membersihkan tempat tinggal kami, dan ketika aku selesai aku benar-benar lelah dan ketika aku jatuh ke tempat tidur, biasanya aku langsung terlelap." Dia menatap kejauhan.
"Aku juga begitu." Aku sengaja membuat diriku sibuk. Pelajaranku sangat sulit, walaupun aku tak tahu apa yang akan kulakukan di dalam hidupku selain Football. Sialan, aku tahu pelatihku marah karena aku tak tinggal di kampus agar bisa latihan dan itu masih membuatku merasa bersalah. Akan ada pertandingan besar sebentar lagi dan aku harus berada dalam kondisi prima.
"Benarkah?" dia terdengar terkejut.
Aku mengangguk. "Tetap sibuk agar tak ada yang mengganggumu." Dia mengamatiku sebentar, matanya menyipit. Dia cepat mengerti. Kedua mata hijau gelapnya itu mampu masuk langsung ke inti diriku yang terdalam dan memeriksa semua rahasia tersembunyiku di sana.
Aku tak menyukainya.
"Di sini kau rupanya." Aku berbalik dan melihat ayahku keluar dari restoran, dia jelas-jelas terganggu. Dia memandang Jongin dan rahangnya mengeras. "Kupikir percakapan kita belum selesai," dia mengatakannya dengan tajam.
"Oh, maafkan aku, kukira kalian berdua sudah selesai berbicara." Jongin mendekat seperti pacar yang baik, meraih tanganku dan mendekatkan tubuhnya ke arahku. Dadanya menekan sisi tubuhku dan dia mendongak menatapku penuh cinta. "Aku butuh bantuan Sehun. Aku tak bisa memutuskan sepatu mana yang harusnya kupilih."
Dia benar-benar hebat. Belum dua menit yang lalu dia bilang dia membenci belanja dan sekarang dia menjadi pacar yang tersenyum simpul yang tak bisa memutuskan membeli apa tanpa saran dariku.
"Asumsiku kau akan mengenakannya malam ini kan?" Ayah bertanya.
"Ada acara apa malam ini?" Hebat. Aku tak ingin menjadi tontonan orang-orang. Sudah cukup buruk ketika kami harus pura-pura di hadapan ayah dan Jessica. Akan menjadi lebih sulit melakukannya di depan orang banyak.
"Makan malam spesial menyambut Thanksgiving di Country Club. Aku sudah mengatakannya pada malam kau tiba."
Aku tak ingin pergi. Kedengarannya akan jadi malam yang menyebalkan. "Entahlah…"
"Aku berkeras," ayah memotong ucapanku, memberiku tatapan yang mengisyaratkan bahwa tak ada diskusi dalam hal ini.
"Kedengarannya menyenangkan." Jongin mengencangkan pelukannya di tanganku, tapi aku bisa mendengar suaranya tegang. Rupanya dia juga tak akan menikmati malam ini. "Aku harus memakai apa?"
"Pakaian semi-formal. Gaun pesta santai." Ayah berkata kaku, seolah dia tahu dia membuat Jongin tak nyaman dan kebingungan dan itu benar-benar menjengkelkan. "Aku yakin kau punya gaun yang cantik diantara isi tas mu itu."
"Ayah." Aku marah dengan caranya berbicara pada Jongin, tapi bagaimana aku harus melawannya. Selama ini aku tak pernah benar-benar melakukannya karena, sialan, dia adalah ayahku. Hanya dia yang kupunya di dunia ini.
Dia mengabaikanku. Tak mengejutkan. "Jessica mengharapkan kalian berdua pulang sebelum pukul lima untuk memastikan kita punya banyak waktu untuk bersiap-siap sebelum kita pergi." Ayah menatap jam tangannya. "Ayah harus rapat dengan klien tiga puluh menit lagi. Sampai jumpa dua jam lagi."
Kami menyaksikannya menjauh dalam diam. Jongin masih menempel padaku sampai dia benar-benar pergi. Dia menjauh dengan pelan dan tiba-tiba saja aku merindukannya.
Bodoh.
"Aku tak punya apapun yang bisa kugunakan untuk acara makan malam yang mewah." Kedengarannya dia tertekan. "Kau tak pernah bilang aku harus mempersiapkan sesuatu yang semacam itu."
Seharusnya aku memperingatkannya. Aku benar-benar bodoh telah melupakannya. Rencanaku ini muncul pada saat-saat terakhir, jadi aku tak menghiraukan hal-hal remeh semacam itu. "Aku akan membelikanmu sesuatu," aku menawarinya. "Ayo kita melihat-lihat. Kita punya waktu."
Dia mengelengkan kepalanya. "Tidak boleh begitu. Kau telah menghabiskan banyak uang untukku. Aku tak ingin memintamu membelikanku gaun pesta mahal yang hanya akan kupakai sekali. Aku tak sedang main film Pretty Women sekarang."
Lucunya, sebenarnya itu yang sedang kami jalani. Aku sudah menonton film itu—siapa yang tak pernah menontonnya? Aku yakin karakternya Richard Gere membayar Julia Roberts alias pelacur sebesar tiga ribu dolar untuk pura-pura menjadi pacarnya. Juga membelikannya banyak pakaian.
Kesamaannya tak terbantahkan.
"Tak masalah kok." Aku menarik tangannya dan memaksanya ikut. Dia menatapku dengan tatapan lucu, seakan dia tak percaya aku dengan senang hati menyentuhnya sementara tak ada orang di sekeliling kami yang menyaksikan, tapi peduli setan.
Aku ingin dia tahu bahwa bukan hanya dia yang bisa menolongku, akupun ingin menolongnya. Aku tak ingin dia menjadi tak nyaman. Aku tak akan membiarkan orang tuaku mempermalukannya dan membuatnya merasa dia tak pantas bersama mereka. Sudah terlalu buruk karena kami berdua menyadari hal itu.
Tapi aku merasa akupun tak pantas berada di sini. Dari luar mungkin kelihatannya aku pantas-pantas saja, tapi di dalam? Sama sekali tak pantas. Tak ada yang tahu petaka apa yang telah kujalani di tempat ini.
Dan aku akan membiarkannya tetap seperti ini.
.
Akhirnya kami menemukan sebuah toko pakaian trendi di bagian paling ujung pertokoan tempat aku menurunkannya tadi. Jongin terlihat agak nyaman di sini, dia tahu tokonya dan walaupun dia bilang barang-barang di sini mahal, tapi tak semahal toko-toko lain di sepanjang Ocean Avenue, jadi aku setuju.
Tempatnya luas, tak hanya di penuhi pakaian tapi juga peralatan rumah tangga seperti tempat tidur, handuk, pernah-pernik dan lebih banyak lagi hal-hal lain yang tak penting. Jongin langsung menuju ke setiap rak pakaian dan melangkah dengan takut-takut, menarik satu per satu dan menyusunnya di lengannya. Gantungan baju yang terbuat dari kayu terdengar beradu satu sama lain ketika dia berjalan.
"Hey," aku menjaga suaraku tetap pelan ketika aku mendekatinya dan memegang kepalanya. Dia mendongak, matanya melebar. "Jangan buru-buru. Kita punya banyak waktu."
Dia menghela nafas dengan berat dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku benar-benar tak tahu apa yang akan kulakukan. Aku akan meminta saranmu tentang ini."
Apa yang aku tahu tentang gaun pesta? "Aku akan membantumu," aku bilang begitu karena memang itu yang seharusnya kukatakan.
"Sepertinya kau akan mengintipku di ruang ganti dan melihatku mengenakan setiap gaun jadi kau bisa memberitahuku bagaimana penampilanku. Aku tak bisa melakukannya sendirian." Dia kelihatan benar-benar takut. "Syukurlah toko ini tampaknya menjual segala sesuatu yang berkaitan dengan pesta. Semoga ada yang cocok."
"Hai, boleh aku siapkan ruang gantinya sekarang?" Suara bernada tinggi datang dari arah belakang kami dan kami menoleh untuk melihat siapa yang berbicara. "Oh Sehun, Oh My God, kaukah itu?"
Ah, sialan. Mimpi burukku sedang jadi kenyataan. Aku satu SMA dengan cewek ini. Irene, kupikir itu namanya. Yep, tanda pengenal di dadanya bertuliskan Irene. "Apa kabar?" aku menyapanya lemah.
Senyumannya sangat lebar dan cemerlang hingga hampir membuatku buta. Seseorang pasti memutihkan giginya dengan terlalu berlebihan. "Senang sekali melihatmu lagi!" dia melempar dirinya ke arahku dan aku tak punya pilihan lain selain merangkul punggungnya.
Aku bisa merasakan pandangan penasaran Jongin, dan dia juga merasa terganggu ketika dia berdiri di sampingku. Aku meminta maaf melalui pandanganku dan dia memutar matanya. Untuk alasan tertentu, tampaknya reuni ini membuatnya marah.
"Aku juga senang melihatmu," aku memberitahu Irene, memberinya pelukan canggung. Dia mundur dariku, senyum lebarnya masih ada di wajahnya, matanya yang gelap berbinar.
"Apa yang selama ini kau kerjakan? Selain Football tentu saja. Kau tak sering pulang kemari." Dia pura-pura cemberut. "Semua orang merindukanmu."
"Aku sibuk." Aku mengangkat bahu.
"Wow, tampaknya kami tak bisa menerima alasan itu. Kau sudah lama tak kembali ke kampung halamanmu ini." Sepertinya dia sudah benar-benar lupa tentang Jongin, pelanggan yang seharusnya di layaninya. Alih-alih begitu, Irene tampaknya lebih fokus kepadaku. "Kau percaya aku bekerja di sini? Ayahku memaksaku mencari pekerjaan jadi aku bisa belajar bagaimana rasanya hidup di kehidupan nyata. Dia bilang aku sudah berlebihan membelanjakan kartu-kredit-sepuluh-ribudolar-per-bulan-ku." Dia tertawa.
Jongin ternganga mendengarnya. Aku baru saja memberinya tiga ribu dolar dan uang itu akan bisa menyokong kebutuhan ekonomi seluruh keluarganya selama sekitar tiga bulan, sementara gadis ini bertingkah seolah membelanjakan uang sepuluh ribu dolar untuk membeli begitu banyak benda tak penting bukanlah masalah besar. "Um, kau bilang tadi akan mempersiapkan ruang ganti?" Jongin tiba-tiba bertanya.
Irene mamandangnya, sikapnya tiba-tiba berubah. Tadinya dia bersikap seperti pekerja yang baik dan kini dia menilai Jongin terutama karena jelas sekali kami datang bersama.
Aku benar-benar berharap, kami memang kelihatan seperti sedang bersama.
"Ini." Jongin menyerahkan pakaiannya ketika Irene masih tak menjawabnya. "Aku akan segera mencoba baju-baju itu jika kau sudah mempersiapkan ruang ganti untukku."
Sarkasme dalam suaranya terdengar sangat jelas dan aku berusaha menyembunyikan senyumanku. Irene mengambil pakaian-pakaianitu, bibir bawahnya cemberut. "Aku harap ukuran ini akan pas untukmu. Kelihatannya kekecilan untukmu."
Jalang kurang ajar.
Jongin memberinya senyum sekilas. "Oh, ukurannya pas. Hanya saja payudaraku agak kebesaran jadi kelihatannya aku butuh ukuran lebih besar tapi sebenarnya tidak perlu. Sehun senang jika peyudaraku sedikit menggantung jadi dia bisa melihatnya. Dia akan lebih mudah mengaksesnya dan sebagainya. Benar kan, Sayang?" dia mengedipkan bulu matanya ke arahku dan kali ini aku tak bisa menahan untuk tidak terkekeh.
Cewek ini—cewek palsuku ini—benar-benar berlebihan.
"Tentu saja," aku bergumam, menikmati humor yang menari di matanya.
Irene menggumamkan sesuatu di sela nafasnya dan segera menuju ke ruang ganti.
"Well, tadi dia kasar," Jongin mengatakannya ketika Irene sudah berada di luar jarak dengar.
"Maaf tentang itu." Aku merasa aku perlu sering-sering meminta maaf padanya karena orang-orang dari masa laluku yang telah memperlakukannya dengan sangat buruk.
Dia mengangkat bahunya. "Cewek-cewek semacam itu selalu bekerja di toko-toko semacam ini. Mereka tak menyukaiku karena menurut mereka aku tak mampu membeli apapun di sini."
"Apapun yang kau inginkan, aku akan membelikannya untukmu." Aku ingin Jongin keluar dari toko bodoh ini dengan begitu banyak tas belanjaan hingga dia takkan bisa membawanya sendiri. Aku serius. Aku melihat bagaimana dia melihat segala sesuatu di sini. Dia menyukainya. Dia berpura-pura bersikap acuh tak acuh tapi tampaknya toko ini akan jadi toko langganannya jika saja dia mampu, aku bisa merasakannya.
"Aku hanya ingin sebuah gaun," dia berkata, suaranya lemah.
"Dan sepatu," aku mengingatkannya.
"Benar. Sepatu."
"Perhiasan jika kau menginginkannya. Atau hiasan rambut dan sebagainya?" Sialan, aku tak tahu. Aku tak menaruh perhatian pada apa yang di kenakan para cewek ketika mereka berdandan.
"Aku pasti akan menemukan sesuatu. Temui aku di ruang ganti lima belas menit lagi." Dia tersenyum padaku dan itu menyerangku seperti serangan fisik di dadaku, menarik udara keluar dari paru-paruku.
Aku ingin membuatnya tersenyum seperti itu lagi kepadaku. Senyumannya asli. Bukan senyum murahan ketika orang-orang melihatnya atau senyuman 'kau-adalah-cowokku-yang-seksi' palsu yang di berikannya ketika ayahku melihatnya. Senyuman kali ini adalah senyuman yang asli.
Senyuman yang indah.
Jongin berkeliling mencari gaun yang sempurna. Aku pun mengelilingi toko, melihat-lihat sekelilingku dan mulai merasa tak nyaman. Aku tak pernah melakukan hal ini sebelumnya, cowok perhatian yang siap membantu pacarnya memilih baju baru.
Aku mencarinya di bagian baju santai seperti yang biasa di kenakannya.
"Jadi Sehun, pacarmu agak sedikit… berbeda." Irene sudah kembali.
Hebat.
"Maksudmu?" aku berbalik memandangnya, benar-benar tertarik pada opininya. Apa maksudnya Jongin berbeda? Sialan, aku juga berpikir begitu tapi tak pernah benar-benar tahu alasannya.
Irene mangkat bahunya. "Dia tak seperti tipe cewekmu yang biasa."
Aku tak pernah punya tipe cewek. Aku tak pernah punya cewek tetap selama SMA. Aku terlalu sibuk bermain Football dan baseball. Aku harus memilih diantara keduanya setelah aku memainkan kedua permainan itu selama menjadi mahasiswa baru. Dan hampir tak ada waktu untuk berkencan.
"Berapa lama kalian berdua jadian?" Irene bertanya ketika aku tak menjawabnya.
"Sejak Agustus, ketika kuliah di mulai."
"Oh." Irene mengangguk, menggigit bibir bagian bawahnya. Bahasa tubuh genit dan aku tak terpengaruh. "Kau tahu Drew, aku selalu naksir padamu ketika SMA."
Sialan, aku ingin mengerang keras-keras tapi aku menahannya. Ini tak akan sesuai rencanaku. Aku tak ingin terlibat dalam hal sialan ini. "Uh…"
"Kau tak pernah memperhatikan aku sebelumnya, sekuat apapun aku mencoba. Dan Demi Tuhan, aku sudah mencobanya." Irene mendekat selangkah dan melarikan telunjuknya di tengah dadaku, berlama-lama menyentuh kancing kemeja Hanley-ku. "Wow, kau berotot…"
"Kaylie." Aku mundur selangkah. "Aku punya pacar."
"Sayang sekali." Dia cemberut lagi dan itu menyebalkan. Jika menurutnya yang di lakukannya lucu, dia salah. "Aku selalu menginginkan seseorang yang tak bisa kumiliki."
Dengan mengakui hal itu menunjukkan betapa gilanya cewek ini. "Aku harus membantu pacarku. Sampai jumpa lagi."
"Beritahu aku jika dia membutuhkan sesuatu!" Irene berteriak ketika aku menjauh.
Ya, tentu saja. Aku akan memastikan cewek ini sejauh mungkin dariku. Aku takut Jongin akan menendang bokongnya jika saja dia melihat apa yang baru saja di lakukan Irene padaku. Bagaimana dia menyentuhku.
Memiliki pacar pura-pura membuatku mendapatkan perhatian yang tak kuharapkan.
.
Kim Jongin
Setelah mencoba seabrek pakaian selama lebih dari tiga puluh menit, akhirnya aku menemukan satu yang sempurna. Sepertinya aku sudah tahu yang satu ini akan jadi yang sempurna karena aku menyimpannya sebagai yang terakhir. Sehun masih menungguku dengan sabar di luar, pelayan di ruang ganti menyediakan kursi untuknya dan hal-hal lainnya.
Aku suka keluar dari ruang ganti dan menunjukkan apa yang kukenakan. Dia duduk disana membungkuk di kursinya, badannya yang besar menggeletak begitu saja di tempatnya, kakinya melebar ke semua arah dan wajahnya terlihat bosan. Aku membuatnya tersiksa, aku tahu itu, tapi matanya bersinar tiap kali dia melihatku, meskipun bajunya jelek.
Dan dia juga jujur. Aku menghargainya. Ketika aku memakai baju yang benar-benar jelek, dia akan langsung berkata jelek. Sejauh ini dia suka pakaian yang pertama kali ku coba, dan aku tahu gaun itu sempurna tapi yang satu ini… pakaian yang kupakai ini, benar-benar indah hingga hampir membuatku menangis.
Dan juga, harganya hampir mencapai empat ratus dolar, yang paling mahal di antara semuanya. Rasa bersalah melandaku. Aku tak seharusnya menginginkannya. Itu uang yang sangat banyak. Tapi, oh Tuhan, baju ini kelihatan begitu indah ketika kupakai dan aku tak suka membual tapi… ya. Seperti yang kukatakan pada gadis bodoh kenalannya Sehun itu, payudaraku terlihat indah dalam pakaian ini, terlihat menggantung dan terlihat jelas. Segalanya tentang gaun ini begitu bersahaja… berkelas…
Dan seksi.
Menarik nafas dalam-dalam, aku membuka pintu dan melangkah ke ruang tunggu. Di sana duduklah Sehun yang tengah membungkuk, matanya tak melihatku. Dia mengejap pelan dan duduk tegak, matanya melebar seolah dia melahapku.
"Sialan," dia bernafas dan membersihkan tenggorokannya.
Senyuman yang menghiasi bibirku bukan bermaksud mengajaknya bercanda. Aku berputar sedikit, membayangkan sepatu hak super tinggi yang ingin ku beli kupakai bersama dengan gaun ini. Walaupun begitu, aku tak ingin menghabiskan begitu banyak uang membeli sepatu. Mungkin di sekitar sini ada Pusat Sepatu murah atau semacamnya.
Yeah. Benar.
"Kau menyukainya?" aku bertanya kepadanya ketika menghadapnya sekali lagi. Gaunnya berwarna hitam dan seperti sutra, tanpa lengan, dengan bordiran yang menutupku hingga ke tulang selangka-ku. Sangat pas, ketat di bagian pinggang, memperlihatkan kakiku. Yang paling sempurna adalah bagian belakangnya. Dengan belahan V rendah, di buat dari kain beludru hitam dengan renda dan menunjukan kulitku. Tak mungkin aku bisa memakai bra di balik gaunku.
"Ambillah," dia mengatakannya tanpa keragu-raguan. "Kau kelihatan…"
"Kau tak keberatan? Benarkah? Ini agak pendek." Aku menatap ke bawah. "Dan aku akan membutuhkan sepasang sepatu."
"Apapun yang kau inginkan. Keren. Gaunnya benar-benar keren." Pandangannya jatuh pada kakiku, berlama-lama memandangnya.
"Dan tentu saja gaunnya tak terlalu pendek."
Kegembiraan berpendar dalam hatiku. Dia menyukainya. Dia melihatku seolah dia menginginkanku dan aku tahu ini gila, tapi aku menyukainya. Aku ingin dia memandangku seperti ini terus. Sepanjang malam.
"Meski begitu, ada masalah." Aku bergeser dengan gelisah, mencoba mengabaikan kekhawatiran di dalam diriku. Aku tak ingin dia mengatakan tidak.
"Apa masalahnya?" dia berdiri dan berjalan mendekatiku. Lututku gemetar dan menahannya, berharap seperti orang gila aku tak terjatuh seperti orang bodoh gara-gara dia mendekatiku dengan mata gelap dan menariknya itu.
Seolah dia ingin menelanku bulat-bulat.
"Harga gaunnya hampir empat ratus dolar," aku berbisik. Aku bisa membeli berton-ton belanjaan dengan uang sebanyak itu. Membayar sebagian besar tagihan kami. Membeli gaun yang mungkin hanya akan kupakai sekali terdengar sangat gila.
Sehun bahkan tidak berkedip. "Aku tetap akan membelikanmu gaun itu." Dia berhenti tepat di hadapanku, menaruh tangannya di pinggangku. Sentuhannya seakan membakar kain gaunku, aku bisa merasakan setiap jarinya menekan kulitku dan hatiku mulai berpacu. "Kau kelihatan sangat cantik, Jongin."
"Aku—aku juga menyukainya." Aku terdengar seolah kehabisan nafas dan aku ingin sekali menendang diriku sendiri. Cowok tidak pernah membuatku kehabisan nafas. Dan mereka juga tak pernah membuatku berdebar.
Tapi entah bagaimana cowok yang satu ini melakukannya.
"Kau menemukan yang kau sukai?" Irene berdiri tepat di belakang Sehun, tatapannya yang dingin mengarah langsung ke arahku dan aku menduga Sehun sengaja melakukan hal tadi karena kehadiran cewek ini.
Keseluruhan tubuhku mengempis karena sadar akan apa yang di lakukannya dan aku menjauh dari tangannya. "Aku akan ganti baju, kemungkinan kami akan mengambilnya. Dan aku masih memerlukan sepasang sepatu."
"Rencananya akan ada acara apa?" Irene terdengar ceria dan manis tapi ada setitik racun di dalam suaranya. Gadis ini terlihat siap membenamkan cakarnya pada Sehun.
Dan kemudian mencongkel keluar mataku.
"Ayahku mengajak kami makan malam ke Pebble Beach malam ini," Sehun memberitahunya.
"Oh, aku juga akan ada di sana. Kita harus duduk bersama." Dia cekikikan dan aku menyelinap kembali ke ruang ganti, menutup pintu dengan kekuatan yang bisa meretakkan dinding.
Duduk bersama. Pilihan kata yang sempurna. Jika dia tak benar-benar memperhatikan, aku ingin sekali memberinya tinju kananku ke hidungnya yang terlalu sempurna itu.
.
END FOR THIS CHAPTER
