'Karena Lisanna itu Pacarku.'
Apa yang baru saja dikatakan Bickslow? Apa dia sebegitu bencinya padaku hingga tega berbohong padaku hanya agar aku merasa bahagia? Ini sangat memuakkan.
"Hey, kau tak perlu berbohong seperti itu demi aku, Bickslow-san."
Bickslow menghela napas, wajahnya tertunduk lesu. Ah, sangat disayangkan rupanya kau tak sebaik yang kupikirkan. Saat ini aku berpikir jika dia ini, pria asing yang baru saja ku kenal, sama busuknya dengan hatiku yang tak mau melupakan Natsu dengan segera.
Bickslow masih tertunduk dalam diam abadinya. Setiap detik begitu terasa, membuatku semakin emosi dan kecewa. Kenyataan jika aku merasa bahagia pada apa yang dikatakan Bickslow semakin menghempaskanku. Akan tetapi ucapan Bickslow selanjutnya membuatku terdiam tak berdaya.
Karena itu Kau
Fairy Tail milik Hiro Mashima
Karena itu Kau by Nalu D
All is Lucy POV
Warning : Gaje, Typo, OOC, Gomenasai. Don't like Don't Read!
Mind RnR please!
"Maaf Lucy, tapi aku tak berbohong sama sekali."
Tatapan Bickslow mengatakan jika itu bukanlah sebuah kebohongan. Mata itu menatapku penuh kejujuran, memintaku untuk menerima jika apa yang baru saja dikatakannya bukanlah kepalsuan. Itu adalah kenyataan, sepenuhnya memang benar adanya.
"Ta-tapi, Lisanna…"
"Aku tahu. Lisanna sudah menceritakan semuanya padaku. Tentang Natsu juga tentang perasaannya. Aku tahu semua itu."
"Lalu-"
Urgh, ini membingungkan. Bukankah Lisanna seharusnya juga sangat menyukai Natsu?
"Sulit dipercaya bukan?" Bickslow terkekeh pelan. Saat dia terlihat begitu tenang, aku menyadari perbedaan diantara kami. Jarak umur kami jadi begitu terasa. Bickslow Nampak begitu dewasa. Dia begitu tenang dan tak terlihat sedikitpun keraguan di wajahnya. Padahal kondisi ini bukanlah kondisi yang bisa dihadapi dengan mudah. Setidaknya bagiku begitu.
Pikiranku mulai berkeliaran kemana-mana. Berbagai pertanyaan tentang kenapa dan bagaimana memenuhi isi pikiranku. Membuatnya berdenyut sakit. Tanggapan apa yang harus kuberikan dalam situasi seperti ini? Apa yang harus ku lakukan saat ini?
"BICKSLOW!" Tiba-tiba saja sebuah suara yang baru ku kenal dan entah kenapa menjadi familiar bagiku terdengar. Suara itu memanggil orang yang berdiri tepat di sebelahku. Suara itu, pemiliknya tentu saja aku tahu.
"Lisanna, selamat datang kembali." Bickslow terkekeh pelan. Lisanna ikut terkekeh lalu tersenyum ke arahku. "Menyenangkan?" Tanya Bickslow tanpa adanya maksud sindiran karena telah meninggalkan kami.
Lisanna hanya mengangguk dan berdehem. Lalu, dimana Natsu? Karena pikiranku yang tiba-tiba kacau aku lupa padanya. Ini pertama kalinya ada sesuatu yang bisa melupakanku pada kehadiran Natsu. Aku hanya melihat Lisanna.
"Natsu sedang membeli minum. Di sana." Lisanna sepertinya tahu apa yang sedang kupikirkan. Lagipula mataku terus bergerak ke sana-kemari seakan mencari sesuatu. Tangannya menunjuk ke arah pojok taman hiburan. Meski begitu, aku tetap tak bisa melihatnya.
"Ah, mungkin dia akan kerepotan jika harus membawa empat. Aku akan menyusulnya." Ujar Bickslow lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan tatapanku yang memintanya untuk tetap tinggal dan menjelaskan apa yang sebelumnya sedang kami bicarakan.
Kembali, aku harus berdua dengan Lisanna. Dalam keadaan canggung juga diam yang sangat tak menyenangkan. Aku ingin mencairkan suasana dan menanyakan tentang apa yang sebelumnya Bickslow katakan padaku. Itu suatu hal yang sangat penting.
"E-bagaimana kalau kita menunggu mereka disana?" Usul Lisanna. Matanya menatap ke arah bangku panjang kosong di pinggir jalan taman. Aku hanya mengangguk. Lalu kami berjalan.
Setelah mendudukkan diri kami masing-masing, kami kembali terdiam. Bagiku hingga saat ini Lisanna adalah orang asing yang dicintai Natsu. Ini pertemuan kedua kami. Meskipun ada hal penting yang ingin kutanyakan, aku tak bisa begitu saja menanyakannya. Apalagi ini menyangkut hal pribadi. Bagi Lisanna mungkin akupun hanyalah orang asing.
"Arigatou"
"Hn?" Mendengar ucapan terimakasih Lisanna yang tidak perlu jelas saja membuatku heran.
"Arigatou, kau sudah mau datang kemari. Meskipun pada akhirnya, kau harus ditinggalkan bersama Bi-chan. Gomen." Lisanna tertunduk. Ada rasa bersalah dalam ucapannya. Dan juga Bi-chan?
"Tidak masalah. Lagipula ini memang seharusnya acara kalian berdua kan?"
Lisanna menggelang pelan, membuatku mengeryitkan dahiku tak mengerti. "Kau salah. Ini bukan acara kami berdua. Ini acara Natsu. Seharusnya mungkin aku tak boleh menerima tawarannya saat itu." Lisanna menatap mataku dalam. Apa sih yang sebenarnya ingin ia katakan?
"Kau tahu, Heartfilia-san? Orang yang kubawa bersamaku, dia bukanlah temanku." Ah, ini dia. Rupanya Bickslow memang tak berbohong.
"Pacarmu? Begitukan?"
Kulihat raut Lisanna berubah. Dia Nampak terkejut. "Tak perlu heran, tadi saat kalian pergi, Bickslow-san memberitahukannya padaku."
"Jadi…"
"Yah, kau benar. Dia pacarku." Aku Lisanna, matanya menatap ke arah langit biru yang menyilaukan mata.
"Lalu, Natsu? Bukankah kau—"
"Itu juga benar. Tapi itu dulu, setahun yang lalu." Ujar Lisanna, kali ini matanya menatap lurus seakan menembus waktu pada kenangannya yang dulu.
Lidahku kelu, aku tak tahu harus berkata apa. Kenyataan jika Lisanna saat ini milik Bickslow membuat perasaanku bingung. Haruskah aku merasa bahagia, karena satu-satunya rival terberatku ternyata telah mundur sejak awal? Ataukah aku harus bersedih untuk Natsu atas kisah cintanya yang rupanya tak seperti yang ia inginkan?
"Aku menyadari jika Natsu berarti bagimu. Aku yakin melebihi apapun kau akan selalu melindunginya dengan seluruh nyawamu. Karena itulah, aku akan memberitahukan kebenarannya padamu." Lisanna, kenapa dia begitu yakin padaku? Tidakkah Lisanna itu terlalu naif?
"Kenapa kau mengkhianati Natsu?" Hanya pertanyaan itulah yang bisa keluar dari mulutku. Dari banyaknya pertanyaan yang ingin kuketahui jawabannya, kenapa yang keluar justru pertanyaan kasar seperti itu?
Lisanna kembali menghela napas, "Dua tahun yang lalu, saat aku harus pindah secara tiba-tiba ke Edolas, percayalah itu adalah scenario terburuk dalam hidupku. Tengah malam, orang tua kami tanpa peringatan membawa aku serta kedua kakakku untuk bergegas meninggalkan Magnolia."
"Saat itu kami tak sempat bersiap-siap. Kami hanya membawa baju seperlunya dan bergegas meninggalkan Magnolia. Tak ada ucapan perpisahan, tak ada perjanjian apapun. Semuanya begitu tiba-tiba."
Lisanna menghentikan ceritanya. Keinginan untuk mencela muncul dalam pikiranku dan mendesak untuk keluar. "Aku mengerti keadaanmu, tapi Strauss-san bagaimana bisa kau melupakan Natsu? Bukankah kalian berjanji akan menikah saat besar nanti? Apakah janji itu bagimu hanyalah sebuah kepalsuan? Kau kan bisa kembali ke Magnolia suatu hari nanti, kenapa kau justru melakukan hal sekejam itu pada Natsu? Kau tahu, bahkan saat kau di Edolas tanpa kabar sedikitpun, dia menangisimu setiap hari."Amarahku meledak. Meskipun rivalku telah mundur sejak awal, itu tak membuatku bahagia. Justru anehnya aku merasa semakin emosi.
Lisanna tidak melihat apa yang aku lihat, Natsu menangisinya. Setiap hari dia berharap agar Lisanna kembali ke sisinya. Natsu selalu berdoa untuk Lisanna. Tapi apa yang Lisanna lakukan? Dia justru mengkhianati Natsu. Sementara aku yang selalu ada disisinya bahkan tak pernah ia hiraukan. Hal itu membuatku muak sekaligus terluka.
"Gomen. Waktu itu pikiranku masih belum dewasa. Orang tua kami tak mengatakan dengan pasti kapan kami bisa kembali ke Magnolia. Ketakutan menggorogotiku. Jarak dan waktu yang tak pasti terbentang dihadapanku. Aku takut tak bisa bertemu Natsu lagi. Aku takut tak bisa menemuinya lagi. Aku takut dia akan melupakanku. Aku takut hidupku akan berhenti disana dan aku tak menginginkan itu. Selama setahun, hidupku begitu muram."
Lisanna terdiam. Tangannya mengetuk-ngetuk pelan. Dia kembali menghela napas, Raut wajahnya berubah lagi. Matanya tampak bercahaya. "Saat itulah aku bertemu dengan Bi-chan." Seulas senyum terbentuk di bibir kecil Lisanna. Ketulusan dan kebahagian tertulis dengan jelas di wajah cantiknya. "Karena Bi-chan lah aku bisa keluar dari keterpurukanku. Lalu tanpa kusadari hatiku mulai berpaling. Aku tetap mengingat Natsu, hanya saja ada yang berubah saat aku mengenangnya."
Aku tak bisa tersenyum, kegelisahan masih terus menyelimuti hatiku. Aku bagaikan seseorang yang terjebak di labirin dan bingung mencari jalan keluar. Harus kemana aku melangkah?
"Alasan seperti ini pasti sulit untuk kau terima. Aku menyadari jika aku telah melakukan kesalahan pada Natsu. Tapi, apa menurutmu yang aku lakukan ini sangat salah?" Tak ada candaan disana. Lisanna serius.
Dia mungkin memang telah mengkhianati Natsu. Dia mungkin telah mengingkari janjinya pada Natsu. Meskipun begitu, jika aku berada dalam posisinya, apa aku juga bisa bertahan untuk terus mencintai Natsu yang manakala saat itu bagaikan sebuah harapan kosong yang tak akan pernah terjadi?
Lisanna tak sepenuhnya salah, hanya itulah satu-satunya jawaban yang kuyakini melebihi apapun. "Tidak, menurutku itu juga bukan salahmu. Maaf, kata-kataku sebelumnya kasar. Aku hanya tidak mau melihat Natsu terluka."
Lisanna memegang tanganku lembut. "Arigatou, aku tahu kau memang orang baik."
"Tapi, apa kau akan mengatakan semuanya pada Natsu?" Bukankah pertanyaanku ini memiliki jawaban yang sudah jelas? Lisanna cepat atau lambat pasti akan mengatakan kebenarannya pada Natsu.
"Yah, aku harus mengatakan kebenarannya." Lisanna menjawab dengan penuh keyakinan. Dia sudah memutuskan pilihannya.
"Tapi—"
"Kita bukan anak kecil lagi." Lisanna memotong ucapanku. Ada nada penekanan disana. "Baik aku, kau maupun Natsu kita sama sama sudah dewasa. Mau tidak mau, cepat atau lambat, Natsu harus menyadari kondisi ini. Kau tidak bisa terus menerus membiarkannya bersikap kekanakkan, Heartfilia-san." Lisanna berkata tegas. Aura kedewasaan seakan menyelimutinya saat ini. Pastilah kedewasaannya itu terbentuk saat apa yang dialaminya di Edolas.
Aku tak bisa membalas ucapan Lisanna. Dia memang betul jika kami bukanlah anak kecil lagi. Akan tetapi, Natsu itu…
"Cepat atau lambat Natsu pasti akan mengajakku untuk bertemu lagi. Di pertemuan kami yang akan datang aku akan memberitahukan yang sebenarnya." Ucapnya lagi masih dengan nada seriusnya. "Heartfilia-san…" Lisanna memanggilku pelan.
Aku hanya memandang ke arahnya penuh Tanya. "Setelah mendengar semua ini, apa yang akan kau lakukan?"
Apa yang harus kulakukan? Jangan menjebakku dalam pilihan rumit lagi Lisanna.
"Apakah kau akan memberitahukannya pada Natsu lebih dulu? Ataukah kau akan membiarkan dia tahu hal itu dariku?"
Pertanyaan Lisanna menjebakku. Jika aku mengatakan pada Natsu tentang Lisanna, akankah dia percaya? Kalaupun dia percaya, bagaimana sikapnya nanti padaku? Jika aku mengatakannya, bagaimana dengan perasaan yang ingin kunyatakan? Apakah aku masih bisa menyatakan perasaanku padanya nanti?
Tapi jika aku membiarkan Lisanna, jika Natsu tahu aku juga mengetahui hal itu lebih dulu darinya, akankah dia membenciku? Akankah hubungan pertemanan kami berubah nantinya? Lalu bagaimana dengan perasaanku?
"Kau yang harus memutuskannya Heartfilia-san. Jangan menyesali apapun yang telah kau putuskan." Ucap Lisanna.
Saat pikiranku tengah bergemelut, sebuah cup minuman tersodor ke arahku. Kudongakkan kepalaku. "Gomen, tadi aku meninggalkanmu begitu saja." Natsu berdiri dihadapanku entah sejak kapan. Tangannya masih menyodorokan cup minuman beraroma strawberry. "Hey, kau kenapa? Apa kau sakit Luce? Wajahmu pucat." Natsu menatapku cemas. Tangannya masih tetap menyodorkan cup minuman itu. Tanpa lama aku mengambilnya. Bisa kurasakan pipiku memanas saat tangan kami bersentuhan tanpa sengaja.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Arigatou" Bisa kurasakan Lisanna juga Bickslow menatapku jahil. Ayolah, ini keadaan genting ada hal yang harus diputuskan. Dan Lisanna juga Bickslow nampaknya baik-baik saja.
Setelah itu kami memutuskan untuk naik wahana bersama. Dan sejak saat itu sepanjang hari aku tak bisa berkata apa-apa. Pikiranku terlalu sibuk dengan pilihan yang harus ku ambil. Waktuku tidak banyak, dan pilihanku akan menentukan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tentu saja hanya mengenai Natsu juga diriku.
Apa yang sebaiknya aku pilih?
TBC
Gomen *bow
FF nya telat updated, idenya tersendat-sendat, kadang muncul kadang ngilang. Jadi beginilah hasilnya. Maaf kalau FF nya kurang menarik. Semoga kalian tetap bisa menikmatinya. Makasih buat semua review yang sudah mendukung author. Arigatou Gozaimasu!
Thank for Reading, review di persilahkan
