Disclaimer © J.K Rowling
.
.
Guardian Angel © lumostotalus
a/n : my first fic. halo! saya adalah author baru yang selama ini hanya menjadi reader dan tergoda(?) untuk membuat fic sendiri. hehe. selamat membaca :)
.
.
Lumossays : untuk attachan, lumos masukin nama Merlin disini karena lumos pengen ini gak 100% muggle, jadi masih ada lah istilah istilah sihir yang kepake. Contohnya kayak Death Eaters Corp sama Madam Puddifoot's. Itu aja hehehe. Makasih banyak yg udah ngasih kritik dan nge review *cupsbasah*
Tanpa banyak tedeng aling-aling lagi, This is it! *farah quinn mode on* chapter up already set, and I brought this to y'all. HAPPY READING! :D (bacanya abis buka puasa ya)
.
.
Kemudian...
Sudah bisa menebak apa yang terjadi kan? Draco melumat bibir Hermione pelan, pada awalnya. Ia tidak mau terburu-buru, ingin memanjakan gadis di hadapannya terlebih dahulu. Hermione menyusupkan kedua tangannya ke rambut pirang platinum Draco. Dilanjutkan dengan memajukan tubuh langsingnya, kedua insan itu pun berciuman dengan posisi badan rapat sempurna.
Draco melingkarkan satu tangannya ke pinggang Hermione, sementara tangan yang tadi berada di pipi Hermione berpindah ke belakang kepala partner-kiss nya, semakin merapatkan bibir mereka.
Draco tak tahan lagi, ia menjilat bibir bawah Hermione kemudian mengigitnya pelan. Hermione mengerti, ia pun membuka mulutnya. Memberikan akses sepenuhnya bagi lidah Draco untuk masuk. Dua lidah bertemu dalam satu rongga mulut. Hermione unggul, maka kedua lidah bertemu di rongga milik Draco. Kemudian Draco menyerang, menjadikannya lebih unggul. Lidah Hermione pun mundur, posisi berbalik, kedua lidah bertemu di rongga Hermione. Ciuman memenuhi mulut mereka berdua.
Hermione terbakar, ia mengaitkan sebelah kakinya ke pinggang Draco. Tanpa melepaskan ciuman mereka, Draco menarik sebelah kaki Hermione lainnya. Kedua kaki Hermione kini tak menyentuh tanah, Draco menggendongnya. Oksigen tertarik keluar dari paru-paru masing-masing. Akibatnya, mereka melepaskan ciuman panas itu. Tetapi Draco belum selesai, beberapa detik setelahnya ia menciumi leher jenjang Hermione.
"Ughhh... Dracooo..." Erangan merdu keluar dari bibir Hermione, kepalanya mendongak keatas. Hermione meremas rambut Draco lebih kencang. Draco melanjutkan serangannya, rupanya ia belum sadar akan tempat yang tak layak ini.
"Awww,, oh shit!" Hermione berteriak keras ketika Draco mengulum telinganya. Terlalu keras teriakannya, Draco pun meredam teriakan itu dengan kembali mengulum bibir Hermione.
"Terlalu keras 'Mione." Draco berkata, sambil mengatur nafasnya yang berceceran.
"Draco... Aku rasa-ohhh, ini b-bukan tempat yang tepat-ughh, untuk..." Sepertinya Draco tidak peduli, ia mulai membuka kancing mantel Hermione dan menyingkap bajunya.
"T-ttungu Draco..." Berusaha melepaskan diri, Hermione mendorong tangan nakal Draco yang menyingkap sweater nya. Iris kelabu meredup, menyiratkan kekecewaan.
"Kenapa 'Mione? Apa terlalu cepat? Maafkan aku, aku hanya..."
"Tidak Draco," potong Hermione cepat.
"Tidak di sini, tempat ini tak layak kau tahu? Kita tak mungkin berbuat seperti itu di gang sempit seperti ini. Setidaknya aku ingin tempat yang empuk. Kamarmu misalnya." Hermione mengerling nakal.
Tawa Draco berderai, benar juga. Gang ini kotor dan agak bau. Dan sangat rentan terlihat oleh orang asing. Draco tak ingin di ganggu lagi.
"Ayo kita pulang. Kamarku akan jauh lebih hangat malam ini." Gurau Draco, mencium bibir Hermione lagi sekilas.
.
.
I wanna dance, and love, and dance again
I wanna dance, and love, and dance again
Dance, yes
Love, next
Dance, yes
Love, next
"Ngggg..." Draco membuka matanya yang berat, menggeliat sebentar diatas kasurnya. Ia meraih handphone nya yang sedari tadi berdering petanda ada panggilan masuk.
"Ya, hallo," suara serak Draco menjawab panggilan.
"Yeah Harry, tentu tentu aku ingat. Jam 9 kan? Memang jam berapa sekarang?" Draco tersentak dan melirik jam dinding. Pukul 06.45am
"Oh man, iya aku siap-siap sekarang," jeda sebentar, mengucek matanya yang ternyata masih juga belum terbuka sempurna.
"Ya, aku pasti mengajak Hermione. Oke, bye." Draco mengakhiri panggilan telfonnya. Ia mendesah, benar-benar lupa kalau hari ini ia menjadi bintang tamu di Ellen Show dan harus tiba di studio pukul 9. Untung saja tadi Harry menelfon dan mengingatkannya. Kalau tidak, pasti Draco masih tidur.
"Ada apa Draco?" Sebuah tangan halus menggapai perut six-pack Draco dari bawah selimut.
"Hm? Oh kau sudah bangun 'Mione?" Hermione keluar dari selimut dan cepat-cepat menutupi tubuh bagian atasnya yang tak tertutup sehelai benang pun. Hermione tidak menjawab pertanyaan Draco, ia masih menunggu jawaban dari pertanyaan pertamanya.
"Oh, itu Harry. Ia tadi mengingatkanku kalau pukul 9 aku harus sampai di studio Ellen Show," tangan Draco mencoba menarik kembali selimut yang menutupi tubuh telanjang Hermione, tetapi gadis itu menahannya. Semburat merah terlihat menghiasi wajahnya.
"Dan kau harus ikut, karena kau pengawalku." Lanjut Draco, memainkan sejumput rambut Hermione.
"Ya, aku tahu itu. Cepat sana mandi dan siap-siap." Alih-alih melaksanakan perintah Hermione, Draco melirik ke ujung selimut. Terlihat noda merah di sana.
"Apa masih sakit Dear?" Draco mengelus pangkal paha Hermione dibalik selimut.
"Ngggghh... Sudah t-ttidak kok," Hermione mendesah kegelian.
"Please Draco, jangan sekarang. Kau-mmmhh.. Kau ada show, ohh!" Hermione kegelian lalu menjauhkan tangan Draco yang semakin naik mengelus bagian tengah kedua pahanya.
"Sebentar saja 'Mione." Draco berbisik mesra di telinga Hermione, kemudian mengulumnya pelan. Hermione menyerah, membiarkan Draco berbuat sesukanya. Lalu mereka melanjutkan permainan semalam.
.
.
Akibat short-play mereka, Draco terburu-buru mandi dan mengebut ke studio Ellen Show. Karena ini hanya talkshow, hanya Hermione saja bodyguard yang bertugas untuk menemani Draco.
Setibanya di depan gedung studio, ternyata ada beberapa kelompok fans yang telah menunggu kedatangan Draco.
"Ah itu dia! Aku akan meminta tanda tangannya!" Seru seorang gadis berambut bob pirang, langsung menghambur ke arah Draco yang baru keluar dari mobil. Draco tersenyum tipis dan menyambut fans yang mengulurkan kertas dan pena. Ia menandatangani beberapa buku, kertas, dan foto dirinya. Tak sedikit fans yang meminta berfoto, tapi Draco hanya melayani beberapa.
Hermione mengawasi Draco dari samping, menjauhkan tangan-tangan yang akan melukai Draco. Ia memakai setelan hitam-hitam khas bodyguard, dan ada name tag tersemat di dada kiri seragamnya bertuliskan 'Bodyguard'. Setelah beberapa lama, Hermione menarik Draco keluar dari kerumunan para fans. Hermione memeluk sisi tubuh Draco, menghalau jangkauan fans dan masuk gedung studio.
.
.
"Jadi Draco Malfoy, apa yang membuatmu tertarik menjadi penyanyi?" Ellen bertanya kepada Draco. Mereka berdua duduk berhadapan diatas kursi bundar merah, khas Ellen Show. Draco berpikir sejenak, kemudian menjawab
"Hmmm, karena dulu ada seseorang yang mengatakan kalau suaraku bagus. Waktu itu masih anak-anak dan hanya bernyanyi sepenggal lagu. Tapi ia bilang suaraku indah, selanjutnya aku mulai ikut menyanyi di gereja dan belajar bermain gitar. Semua karena dia," Draco mengulum senyum. Matanya beralih ke arah bangku penonton, menatap manik hazel seseorang.
"Wah, siapa orang beruntung itu? I bet she's a girl. Isn't it?" Ellen kemudian terkekeh, memberikan pandangan jahil ke arah Draco.
"Ya benar," Draco mengalihkan pandangannya sebentar kembali ke Ellen.
"Gadis yang spesial, dari dulu hingga sekarang." Manik kelabu kembali beralih memandang manik Hazel yang tertegun di bangku penonton. Senyum menghiasi bibirnya.
"Sayang sekali, pasti akan ada banyak fans mu yang menangis malam ini." Gurau Ellen, penonton di dalam studio tertawa pelan.
"Tapi fans juga teramat penting untukku. Mungkin ini kedengaran klise, tapi aku akan tetap mengatakannya," Draco menarik nafas dan pandangannya tertuju ke arah kamera.
"Tanpa kalian, aku tak akan ada disini. Aku bernyanyi untuk kalian, aku tetap bertahan di industri ini karena kalian. Ingatlah, kalian sangat penting. Jangan pernah anggap kalau kalian aku acuhkan. Walau aku tak bisa membalas semua tweet kalian, tak bisa menandatangani setiap kertas kalian satu persatu, aku sayang kalian semua. Jadi, tetaplah bersamaku ya?" Draco tersenyum lebar ke arah kamera yang merekamnya close up.
"Menakjubkan! Draco Malfoy, pemirsa!" Ellen berdiri disusul Draco, dan mereka berdua berjabat tangan.
"Langsung saja, Draco akan bernyanyi untuk kita hari ini. Single keduanya berjudul 'All I need' ladies and gentlemen, Draco Malfoy!" Ellen lalu memberikan gitar yang akan mengiringi Draco bernyanyi. Draco mengambilnya dan duduk di atas kursi tinggi yang sudah disiapkan, lengkap dengan standing mike. Ia pun mulai bernyanyi.
'All I need' adalah single kedua dari album perdana Draco yang berjudul 'First Step for The Beginning' menceritakan tentang seorang pria yang sangat membutuhkan wanitanya.
'Cause all I need to do to is close my eyes
And you'll be right by my side.
'Cause all I need is you.
You're in my mind, everything's gonna be alright.
Draco dengan senyum khas nya membius penonton dengan petikan gitarnya. Lampu panggung dibuat remang-remang, hanya lampu sorot yang menari-nari di sekelilingnya. Ia sesekali memejamkan matanya. Membayangkan gadisnya yang telah kembali. Lagu ini, diperuntukkan untuk Hermione. Segala yang ia butuhkan hanyalah Hermione.
'Cause a thousand miles wouldn't keep me from seeing you.
I said, a thousand miles wouldn't keep me from seeing you.
Draco membuka matanya yang sedari tadi terpejam, menatap langsung ke arah gadisnya. Jutaan mil tak akan bisa memisahkan ia dengan gadisnya lagi.
All I need to do… is be with you.
Everything I do – I do it, girl, for you.
Draco mengakhiri lagunya, bangkit dari kursinya lalu membungkuk ke arah penonton di studio. Tetapi mata kelabunya hanya tertuju pada satu manik Hazel, manik Hazel milik Hermione.
"Terima kasih." Ucapnya diiringi senyuman khasnya. Lalu Ellen kembali muncul ke tengah panggung.
"Draco Malfoy guys! Jangan lupa membeli albumnya 'First Step for the Beginning' atau unduh di iTunes . Sampai ketemu lagi besok, pukul 10 pagi, central time. Have a blast day!" Ellen mengakhiri show nya dengan gemuruh tepuk tangan, disusul dengan meredupnya lampu panggung dan teriakan "CUT! We're out!" Dari seorang kru.
.
.
Setelah melayani beberapa permintaan fans, Draco beranjak keluar studio bersama Hermione. Tanpa disangka, kerumunan fans yang berjumlah cukup banyak menghalangi jalan menuju tempat parkir. Dengan jumlah fans sebanyak itu, sangat sulit untuk melewatinya dengan pengawalan Hermione saja. Ditengah perdebatannya dengan Hermione, antara mau menerobos atau menunggu, iPhone Draco kembali berdering.
"Ya aunt Bella? Oh kau sudah pulang?" Wow kejutan, ternyata Bellatrix Lestrange yang menelfon. Bahu Hermione menegang. Akhirnya targetnya berada sedekat ini, siap untuk ditangkap.
"Aku sedang di studio Ellen Show, agak kesusahan di sini," jeda sebentar, Draco mengerutkan kening.
"Kau mau menjemput? Oke, tapi mobilku? Baiklah, akan kusuruh Harry mengambilnya... Oke, kutunggu." Draco menekan tombol 'end call'.
"Jadi bibi mu akan menjemput?" Hermione membuka suara, berjalan mendekati Draco.
"Yeah, ia baru saja pulang. Kita harus menunggu sebentar, mungkin ia akan memakai mobil van."
Setelah menunggu sekitar 20 menit, Bellatrix mengabarkan kalau ia sudah sampai dan menunggu di gerbang depan. Dengan bantuan security studio, dan Hermione yang memeluknya di sisi kanan, mereka sampai dengan selamat di dalam van.
"Huuuuaaahhh! Aku hampir mati tadi. Thanks a lot 'Mione, kau tidak apa-apa?" Draco langsung mengenyakkan tubuhnya ke kursi tengah disusul Hermione yang menempati bangku sebelahnya.
"Aku tidak apa-apa. Kau terluka?"
"Untungnya saja tidak." Jawab Draco setelah mengecek lengannya.
"Draco honey! Maaf terlalu lama meninggalkanmu!" Dan di sanalah ia. Bellatrix Lestrange, sang target sedang duduk di samping pengemudi. Kemudian ia memutar badannya ke arah belakang, berpelukan singkat dengan Draco.
The target is locked.
.
.
TBC
Lagu All I Need itu emang beneran ada, dan emang lagunya Tom Felton. Monggo dicari kalo penasaran. Chapter depan bakalan lebih seru dan lebih banyak actionnya! REVIEW?
