"Chapter 6"

Genre : Romance/Hurt/Comfort

Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei donk!

WARNING! : OOC, gaje, alur cepat, AU, miss-typo, OC, abal & laennya

Summary: Sakura, seorang gadis yang mempunyai kepribadian di tempat yang berbeda tak bisa hidup mandiri di saat kedua orang tuanya harus bekerja di luar negeri. Akhirnya dua orang pemuda dipekerjakan orang tua Sakura, yaitu Naruto dan Sasuke. Dan terjadi konflik dengan senior nomor satu di Konoha High School, Kiba Inuzuka, sekaligus kekasih Sakura. NaruSaku, SasuSaku, KibaSaku/ R&R?

Akhirnya aku update juga! Oh ya, karena fanfic ini jelek alias nggak bikin tertarik bacanya, (mohon maaf V) jadi kayaknya chapter berikutnya nggak ditunggu-tunggu kan? Wajar.. wajar.. Shina-chan sabar kok, ckckck. Baca aja deh percintaan baru yg nggak ada bau Kiba-nya lagi. Kiba bakal pergi nanti. Oh, ya..DIBACA- Maaf kalau chapter ini aku ganti bahasanya sedikit.. Yah, agak gimana gitu. Contohnya 'nggak' jadi 'tidak/tak'. Lebih enak bacanya. Okaay? Dan.. soal edit mengedit. Mungkin bisa kuganti sih bahasa yg diubah itu di semua chapter sebelumnya. Tapi kayaknya nggak bakal bisa berubah lagi karena aku dah banyak ngeditnya..

Ohya, aku lagi ada ide. Jadi.. maklumlah gaya ceritanya beda sama chapter sebelumnya *ketawa setan* Yap. I don't care what you say…

'Don't like, don't read, don't blame!'

~Chapter 6~

.


.

FFn(My-Butler)FFn

.

.

.

"Sakura.. kau serius?" seru Ino sedikit mengeraskan suaranya, tanpa sadar ucapan itu segera menarik perhatian orang di sekitar bawah atap. Ya, Sakura dan Ino sedang duduk di atas atap. Hal seperti ini memang bukan hal aneh bagi Sakura CS. Kemana Hinata & Tenten? Biasa.. Ke perpustakaan. Hal yang juga tak mengherankan.

"Pelankan suaramu," kata Sakura santai. Ia melanjutkan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Ino, "Lagipula di dunia ini banyak pria seperti Kiba."

Ino menatap sahabatnya tak percaya. Tapi, terdengar jelas dari ucapan Sakura. Biasanya Sakura memanggil Kiba dengan '-kun'. Sekarang sepertinya Sakura membuktikan kalau dia tak bercanda. "Aku percaya," ujar Ino setelah terdiam sejenak. "Berarti, kau pasti sudah punya rencana ingin mencari seorang pria lain, kan?"

"Gadis senasib sepertiku pasti berpikir seperti itu," ucap Sakura sambil memejamkan matanya. Seakan menikmati angin yang berhembus kencang di atas atap. "Tapi sepertinya sulit."

Ino langsung menyambar lengan sahabatnya secepat kilat, "Tidak, tidak! Nggak sulit kok!" ucapnya. "Kamu 'kan punya dua cowok, Sakura," sambungnya genit.

Sakura memutar bola matanya.

"Mereka? Tidak tertarik," ujar Sakura yang tiba-tiba saja pandangannya menuju ke arah Naruto dan Sasuke secara tidak sengaja. Mereka berdua tampak terlihat sedang tertawa bersama Shikamaru CS. Tanpa Kiba...

"Kenapa tidak?" tanya Ino. Kini pandangannya ikut-ikutan melihat Sasuke dan Naruto. "Kalau dipikir-pikir, mereka juga tampan dan baik! Apalagi Sasuke.." katanya sambil mengatupkan tangannya ke dada dengan gemas, "Uuh~benar-benar tipeku!"

Sakura langsung menoleh, "Kalau begitu kejar saja Sasuke," ujarnya tanpa rasa cemburu sedikit pun.

Eh? Lagi pula kenapa harus cemburu? Karena tatapan Sakura terlihat seakan mengatakan 'Jangan bercanda.'

"Yang benar? Sasuke.. hng.. kalau diperhatikan mirip Kiba, ya? Hanya saja Sasuke lebih dingin dan pendiam, kalau Kiba agak ceria. Betul, kan?" goda Ino. "Sudahlah, Sakura. Aku tahu apa masalahmu. Kau masih mencintai Kiba, kan? Relakan saja dia! Dia meninggalkanmu dengan cinta. Ini demi orang tuanya, bukan kemauannya."

"Aku tidak berniat mencari pria seperti Kiba-kun," imbuh Sakura cepat.

"Kenapa? Sasuke kan..." Belum selesai Ino melanjutkan ucapannya, Sakura langsung memotongnya.

"Maksudmu apa, sih, Ino?" labrak Sakura sambil mengibaskan rambutnya. "Aku gerah. Kita turun, yuk!"

Tanpa banyak bicara, Ino mengiakan permintaan sahabat cherry-nya ini.

Tap.

Dua gadis ini kini sudah menginjak tanah dan diam di tempat. Kenapa? Mereka lupa jika dihadapan mereka adalah sekumpulan cowok-cowok yang lagi 'nongkrong'. Semua laki-laki itu mengarahkan tujuan mereka pada dua gadis ini. Tatapan Sakura justru lebih tertuju pada Sasuke. Tapi, Sasuke malah melihat Naruto (?)

'Kesempatan bagus!' batin Naruto sambil terkikik pelan. 'Sakura melihat Sasuke.. Berarti dia mulai tertarik!' innernya lagi sambil menoleh pada Sasuke yang ia heran juga menoleh padanya.

Sasuke langsung memasang wajah bingung pada sobat blonde-nya itu.

'Aneh.' gumam Sasuke pelan.

Ino menyenggol lengan Sakura. "Sana, hampiri Sasuke dan bilang kalau kau suka padanya."

Mata Sakura membulat seketika. Ia langsung menutup mulut Ino. "Kau gila, pig! Sudah, jangan katakan apa pun lagi."

Mereka pun enyah dari situ tanpa penghormatan. Cowok-cowok yang barusan menjeda aktifitas 'tertawa barengnya' itu langsung melanjutkannya. Ya, mereka sama sekali tidak mempedulikan kehadiran dua gadis cantik tadi. Mereka mengacuhkan gadis yang tak ada keperluan dengan mereka.

Kecuali Naruto dan Sasuke, mereka justru diam di saat yang lainnya tambah heboh membicarakan aktris yang mereka baca di majalah perpustakaan. Aneh, ya? Kok menertawakan aktris? Yang mereka tertawakan adalah saat aktris itu tersandung batu dan jatuh. Fotonya dipasang di majalah; sampai dipajang di papan umum sekolah lagi. Aktris itu wanita. Hm, memang tak heran kalau cowok yang membicarakannya.

Gosip dan pembicaraan cowok berbeda dengan cewek. Itu jelas!

FFn(My-Butler)FFn

.

.

"Hinata, kamu habis baca buku apa tadi?" tanya Tenten sambil berjalan mengiringi Hinata di sampingnya.

"A-aku.. baca buku..." Hinata tiba-tiba gugup saat ditanya secara mendadak begini. Wajahnya bersemu merah. Tadi baru saja dia membaca buku yang tak biasa dibacanya. Buku itu sampai dipinjaminya, dan kini ia terus memeluk erat buku itu di dadanya. Seakan tak memberikan seorang pun mengetahuinya.

"Wah, kenapa wajahmu jadi merah begitu?" goda Tenten sambil cekikikan. Wajah Hinata tambah merah, bahkan peluhnya tambah banyak.

"Eh.. A-anu.. Tenten baca apa tadi?" elak Hinata sambil tersenyum. Meskipun malu-malunya tak hilang.

"Itu buku apa? Yang kamu pegang," Tenten langsung merebut buku bersampul pink yang dipeluk Hinata sedari tadi. "Eh?"

"Ja-jangan!" seru Hinata sambil mencoba merebut kembali bukunya.

"Pinjam dari perpustakaan, ya. Buku romantiiiiss~ Menarik! Baca ringkasannya saja sudah buat tertarik. Di perpustakaan masih ada nggak, Hina-chan?" tanya Tenten sambil memegang buku itu. Ia mengatur jarak buku agar sulit dijangkau Hinata.

"Ti-tidak ada lagi. Kau boleh pinjam nanti setelah aku-kumohon kembalikan, Tenten-chan." pinta Hinata.

"Ini deh kukembalikan," Tenten memberikan novel romantis berjudul 'Nii-chan is My Love' karangan Shiro Maeda, penulis novel romansa terkenal di Jepang. Tenten kembali mengatakan, "Omong-omong, kenapa Hina-chan pinjam buku itu?" wajah Tenten sedikit memerah. Ia terus menggoda Hinata sampai mengatakannya.

"Apa perlu kukatakan?" ucap Hinata pelan. Wajahnya kembali merah padam. "Aku cuma sedang ingin pinjam buku dengan genre ini. Salah, ya, Tenten-chan?"

"Bukan, bukan salah. Hanya aneh, Hina-chan." timpal Tenten. "Jangan-jangan kamu sedang jatuh cinta!"

Hinata tersentak. Buku yang dipegangnya sampai jatuh. Ia cepat-cepat mengambil buku itu sebagai alasan untuk menyembunyikan wajahnya yang semakin terlihat malu

Hinata bangkit dan langsung menggeleng cepat. "Ti-tidak, bukan. Bukan tujuan itu! Sungguh! Pe-percayalah, Tenten-chan!" tukasnya bertubi-tubi.

Tenten pun mulai penasaran dan berniat menyelidiki tentang laki-laki yang disukai Hinata. Hmph.. Tenten sendiri menyukai seorang pria tidak, ya? Tenten berhenti menggoda Hinata, ia menahan rasa penasarannya sampai bisa mengetahuinya sendiri.

FFn(My-Butler)FFn

.

.

"Cinta apa maksudmu?" Sasuke mengrenyitkan dahinya mendengar Naruto berbicara yang bukan soal ketertarikannya. Bahkan bisa dibilang 'Hal yang paling membosankan'. Padahal hal yang 'tidak tabu lagi bagi remaja'.

Naruto memandang sebal pria beriris onyx itu. "Teme, kau pantas disebut cowok cool kalau tahu arti cinta!" Naruto membuka buku saku kecilnya yang tadi diselipkannya di kantung celananya. "Nah, bagian ini yang paling penting dibaca."

Naruto menyodorkan buku kecil itu pada Sasuke. Tapi, Sasuke hanya diam sambil memandang buku itu dengan datar. Kemudian ia menatap kedua bola mata sapphire milik Naruto dengan tatapan 'death-glare' nya.

Naruto langsung menyipitkan matanya dan menarik kembali buku yang tadi disodorkannya. "Pria aneh. Dasar, Teme!" umpat Naruto sambil mendengus sebal. Ia memasukkan kembali buku itu ke saku celananya. Ternyata buku seharga sepuluh yen itu memang tidak ada gunanya.

"Naruto, kau mau merencanakan apa? Kau pasti memikirkan sebuah rencana kan untuk Nona Haruno?" imbuh Sasuke sambil duduk di atas batu dekat taman belakang.

"Sasuke, kenapa tiba-tiba memanggil Sakura seperti itu, sih?" kata Naruto sambil mencari-cari tempat duduk.

"Sudahlah. Jawab pertanyaanku," sahut Sasuke dengan nada datar.

"Panggil dia Sakura dulu baru aku mau mengatakannya!"

"Huh," Sasuke mendengus sebal sambil menunduk. Wajah coolnya tetap kelihatan dari pandangan Naruto. "Ya.. Sakura."

Naruto menyengir sambil mengangguk-angguk. "Yah, aku memang sudah punya rencana," ucapnya kemudian.

"Rencana apa?" tanya Sasuke.

"Kau nggak boleh tahu, Teme. Masalahnya.. ngg.. pokoknya kamu nggak boleh tahu! Ikuti saja kata-kataku kalau niatmu juga mau membantu si Sakura."

"Ku rasa Sakura tidak sedih lagi,"

"Kau tahu dari mana?"

"Ku pikir selama ini kau terus memperhatikannya. Rupanya kau tidak tahu, ya."

"Ngg.. entahlah, Teme. Kalau kau yang paling tahu, berarti kau memperhatikan dia kan?" Naruto tersenyum nakal. Ia tak melepaskan pandangannya pada mata obsidian Sasuke. Naruto mendekatinya.

"Jangan memikirkan yang bukan-bukan. Sakura bisa memecatmu nanti," elak Sasuke tanpa melihat Naruto.

"Aku nggak memikirkan yang bukan-bukan, hanya saja ku rasa kau kurang beres."

"Aku memang kurang beres," jawab Sasuke enteng. "Soal Kiba.. berarti aku tak perlu membicarakannya pada Sakura kan karena masalahnya sudah terungkap."

"Ya. Meskipun sebenarnya aku ingin melihat kau melakukan itu."

"Sudahlah. Sana buatkan makan siang, Bi Noris sedang pergi ke rumah saudaranya yang katanya sedang sakit," lanjutnya sambil berdiri meninggalkan Naruto.

Sontak saja Naruto terkejut dan menarik pundak Sasuke. Sasuke kini menghadap ke arahnya. Naruto memandangnya dengan penuh tanya. Seperti 'apa maksudnya?' atau 'sampai besok?' atau 'jangan bilang cuma kita bertiga..' Eh? Jangan sampai!

"Sa-Sasuke.. Maksudmu.. Ah, jangan bercanda!" seru Naruto tersenyum sambil menyilangkan tangan ke belakang kepalanya. Ia beranggapan bahwa ucapan Sasuke hanya candaannya saja.

Sasuke menghela napas sebentar. "Mana mungkin aku berbohong. Konyol," Sasuke pergi meninggalkan Naruto. Dari kejauhan, ia berteriak, "Bi Noris pulangnya besok."

"Ya sudah, tak masalah," kata Naruto begitu Sasuke telah menjauh.

Pembicaraan siang ini terasa singkat dan sia-sia saja. Naruto sampai rela mengurangi uang yang seharusnya ia pakai untuk membeli ramen super di sekolah. Kekeraskepalaan Sasuke memang susah ditembus dan dipahami. Sebenarnya apa pikiran Sasuke sampai tak tertarik soal 'cinta'? Apa yang membuatnya beda dari yang lainnya? Apa dia kolot, cuma sok cool dan tebar pesona? Tapi Naruto rasa Sasuke bukan orang seperti itu. Sampai bisa menyadari otak konyol Sasuke, Naruto mengiringi proses itu sambil membuat Sakura jatuh cinta pada Sasuke. Sasuke.. Ya. Orang yang dipikirnya bisa menutup luka yang tertoreh di hati Sakura.

Sekedar keinginan kecil. Untuk membahagiakan dua orang yang disayanginya.

Naruto benar-benar ingin melihat Sasuke berantusias saat jatuh cinta. Seperti menceritakan pengalamannya selama bersama gadis yang disukainya, hal-hal lucu tentang cinta, atau apalah itu. Tapi, sedikitpun Naruto tak bisa melihat itu. Hati Sasuke tertutup untuk gadis-gadis yang mengejarnya. Mungkin pengecualian untuk Sakura, pikir Naruto.

Makan siang telah siap. Sakura kebetulan saja menghampiri meja makan. Ia mencium harumnya masakan Naruto. Mungkin lezat, pikir gadis berdialek emerald ini. Naruto menyuruh Sakura duduk dan memanggil Sasuke secepatnya. Akhirnya, mereka bertiga terkumpul di meja makan.

"Naruto.. Kau hebat juga memasak. Kau belajar darimana?" tanya Sakura sambil menghirup kuah sup kari yang dibuat Naruto.

"Hehe.. Tentu saja! Aku memang hobi memasak. Hanya saja.. aku.. yah, bisa dibilang kurang hafal resep-resep berbagai makanan," jawab Naruto sambil tersenyum. Hatinya cukup senang mendapat pujian.

"Huh, hobi memasak juga harus belajar tahu resep-resep makanan. Kalau tak tahu satu pun, bagaimana kau bisa membuat resep sendiri? Belajarlah dariku," pamer Sakura ketika mengingat bahwa dia ikut kelas masak di sekolah.

"Bodoh! Memangnya memasak harus selalu melihat resep? Kau tak pernah dengar sejarah Tomi Rumiho, cowok yang hebat memasak berkat kepandaiannya sendiri itu? Dia tak pernah menghafal resep apa pun, tapi yah.. karena memang hobi dan bakatnya, beruntung sekali dia. Wah wah, kalau begitu kelasmu cuma mengajar memasak saja, ya," sindir Naruto.

"Jangan mengejek kelas memasakku! Kami kurang diajarkan yang begituan, toh itu kurang penting. Kami kan bisa baca sendiri di internet. Huh, menghabiskan waktu saja kalau diterangkan soal sejarah. Kelas memasak ya memasak! Bukannya bercerita soal sejarah!" umpat Sakura sedikit kesal. "Tomi Rumiho itu bakat autodidak, jadi tak semua orang bisa. Kau tidak akan bisa, Naruto. Percayalah. Kau baka!" lanjutnya. Sengaja memanas-manasi Naruto.

"Khh.. Aku benci kau, Sakura!" Naruto tiba-tiba melontarkan ucapan itu tanpa pikir panjang. Entah kenapa tiba-tiba saja mulutnya ingin mengatakan itu.

"Huh," Sakura sempat kaget. Ia pikir itu serius. Tapi kemudian ia berasumsi bahwa Naruto cuma bercanda. Apa yang diseriuskan dari seorang Naruto? Sakura merasa tak pernah melihatnya. "Terserah kau saja. Aku juga membencimu!" balas Sakura dengan ketus.

"Ya sudah, diam saja jidat!" ejek Naruto ketika spontan dia langsung tertuju ke arah jidat Sakura yang cukup lebar.

"Hah? Apa katamu tadi? Hey jangan bawa-bawa soal jidat! Dasar rubah!"

"Bawel!"

"Bodoh!"

"Ganas!"

"Ceroboh!"

"Pemalas!"

"Kau pikir kau rajin!?"

"Aku memang rajin. Kau sendiri pemalas. Apa-apa menyuruh orang yang mengerjakannya!"

"Itu wajar kan karena kalian pembantuku! Ingat-ingatlah itu mulai sekarang!"

"Gadis aneh!"

"Laki-laki bodoh!"

"Tak punya perasaan!"

"Jelek!"

Mereka saling mengejek. Sampai-sampai Sasuke menyumbat telinganya dengan earphone sambil dengan santainya melanjutkan makannya. Naruto dan Sakura justru saling mengumpat satu sama lain dengan wajah emosi. Sakura sampai menggigit bibirnya karena kesal pada Naruto.

"Pembohong!" balas Naruto tak mau kalah. Otaknya terus-terusan mencari kata lain yang bisa membuat Sakura kesal + mengaku kalah.

"Kau juga!"

Sasuke bangkit dari duduknya sambil membuka earphone-nya. Sontak, mereka langsung diam. Naruto cepat-cepat menarik lengan Sasuke agar menemaninya. Yah. Nasinya cukup masih banyak. Naruto melirik sedikit ke arah piring Sakura. Nasinya juga masih banyak.

"Jangan tinggalkan aku, Teme!" pinta Naruto sambil menarik-narik lengan Sasuke agar duduk kembali.

"Aku sudah selesai makan. Untuk apa aku di sini?" ujar Sasuke. Nada suaranya seperti kecewa. Mungkin karena ia sama sekali tak bisa ikut campur dalam pembicaraan mereka dan hanya bisa diam saja. Sasuke merasa tak terlibat. Tapi memang iya.

"Menemaniku tentunya! Mana mau aku hanya berdua dengan cewek seperti dia!" Naruto menunjuk Sakura dengan kesal. Sakura membalas tatapannya dengan sinis. Naruto bergidik ngeri melihat tatapannya yang 'sama saja' dengan Sasuke.

"Sudahlah, aku ingin membersihkan kolam renang. Banyak lumut di sekitarnya, airnya jadi kelihatan kotor. Lagi pula kau sudah membuat makan siang, jadi kau tak perlu membantuku." Sasuke berlalu dari situ.

Tatapan Naruto kosong sejenak. Ia melihat jam dinding yang berdetak-detak.

Tik.. Tik.. Tik..

Yah. Sebisa mungkin Naruto mencoba untuk tidak mengobrol dengan Sakura selama makan. Atau makanannya tak akan habis karena terlewatkan oleh pembicaraan bodoh mereka. Makan siang kali ini terasa lamban dan tak karuan rasanya. Apa lagi Naruto kebetulan berhadapan tepat di depan Sakura. Aneh. Sakura juga tak berbicara.

Mungkinkah Sakura sedang berpikir? Atau pikiran Sakura bisa sama saja sama dengan yang sedang ia pikirkan sekarang? Naruto mencuri pandang ketika Sakura sedang fokus pada piring makannya. Pemuda ini menatap mata emerald itu.. Mata yang ternyata menjadi penyebab pesona utama Sakura-Naruto menyukai iris mata indah benderang itu. Rambutnya.. Pink terurai indah. Sakura memang tak pernah mengikat rambutnya. Benar-benar seorang Sakura. Sayang.. Sifatnya tak setara dengan sisi luarnya.

Sakura tiba-tiba menyorotkan matanya ke depan dengan kepala yang masih menunduk. Menyadari Sakura mulai memperhatikan gerak-geriknya, Naruto menelan liurnya dengan galau sambil kembali makan. Khawatir satu pukulan mendarat di kepalanya atau perutnya.

Dengan lagak yang mendadak berubah manis, Sakura tersenyum ketika menyadari Naruto melihatnya sebentar-Naruto yang kemudian kembali mengaduk-aduk makanannya.

"Naruto.." tegur Sakura pelan.

Naruto yang tadinya menunduk spontan langsung mendongak ke depannya. Jantungnya sedikit berdebar ketika melihat Sakura tiba-tiba tersenyum padanya. Tersenyum begitu manis.

"A-apa?" sahut Naruto dengan datar. Ia mengisyaratkan pada Sakura pertanda ia masih marah lewat nada bicaranya.

"Jangan marah, tadi aku kan cuma bercanda. Kau cepat sekali marahnya," ucap Sakura.

Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia tak yakin seorang Haruno Sakura berbicara seperti itu kepadanya. Padanya yang selama ini selalu dianggap bodoh dan kolot.

"A-aku tidak marah. Kau saja yang sensitif, menganggapku marah cuma karena aku malas menjawab," ucap Naruto yang segera kembali melanjutkan makannya dengan cepat.

"Jadi kau malas menjawabku tadi?!" Sakura mulai menggeretak. Tangannya mengepal tanpa melepas sendok dan garpunya.

"Ti-tidak, tidak. Aku bukannya malas menjawab karena apa, soalnya mulutku tadi penuh makanan," elak Naruto yang sekejap saja langsung ketakutan. Untung, untung saja pipinya menggembung dipenuhi makanan.

"Hn," Sakura mengangguk pelan. Ia tersenyum. "Makannya jangan cepat-cepat, aku mau bicara!"

Refleks saja Naruto semangat mendengarnya. Ia menghentikan aktifitas tangannya yang tadinya dengan tangkas menggerakkan sendok dan garpunya.

"Mau bicara apa? Tumben kau mau mengatakan sesuatu padaku," ujar Naruto dengan senyuman lebarnya.

"Hey hey, aku kan sudah sering berkata sesuatu padamu. Barusan juga aku bilang 'sesuatu' kan?" imbuh Sakura sambil tertawa kecil.

Naruto meletakkan sendok dan garpunya di piring. Ia ikut tertawa kecil. "Lalu kau mau mengatakan apa?" tanya Naruto.

"Ng.. Rasanya mustahil aku bisa mengatakan ini dengan mudah," tutur Sakura sambil mengaduk-aduk jusnya dengan pipet kecil. "Karena kau itu kan sahabatnya." Tiba-tiba wajah Sakura merona. Merah tanpa sebab.

Naruto memutar otaknya, kembali mencerna ucapan Sakura barusan. Ya, Naruto memang otak udang. Lambat berpikir.. alias lemot. Sakura cukup sabar untuk mengambil rasa simpati Naruto. Ia tahu Naruto memang sulit mencerna kata-kata sulit yang padahal sungguh mudah ditebak sekali dengar. Penuh resiko dalam berbicara dengan Naruto, ini salah satunya.

Tiba-tiba, jantung Naruto berdetak pelan.

Deg!

'Sa-Sakura.. Ja-jangan-jangan maksudnya.. Maksudnya...' Naruto mulai menebak-nebak dalam hati.

"Umm.. Ya, Sasuke. Kau bisa membantuku kan agar Sasuke peduli padaku?" labrak Sakura memecah lamunan Naruto. Seakan ia menjawab tebakan batin Naruto yang membuat Naruto hampir pingsan.

'Su-sudah kuduga!' seru Naruto kegirangan dalam hati. Ia tersenyum lebar sambil menaikkan kedua alisnya. Seolah meminta penjelasan lebih dari Sakura karena Naruto memang belum mengerti keinginan Sakura sepenuhnya.

"Maksudku.. Sasuke kan begitu cuek padaku. Bahkan pada gadis lainnya. Apa kau bisa mengubah pikirannya yang.. entahlah aku tak mengerti. Cuma kau yang paling mengerti dia, Naruto. Ku mohon!" pinta Sakura sambil mengatupkan dua tangannya seakan memohon ampunan.

Naruto menyeringai tipis. "Untuk apa memangnya?"

"Kau pasti tahu. Ayolah, jangan memancingku!"

"Kalau mau kubantu, sebaiknya aku tahu segalanya kan? Jadi, kau katakan dulu baru aku akan membantumu."

Sakura menundukkan kepalanya sambil mengangguk pelan. Wajahnya merona. "Aku menyukainya."

Naruto tertawa keras. Hatinya terasa lega-sangat lega ketika mendengar pengakuan seorang gadis yang begitu.. err mustahil baginya untuk mengabulkan permintaannya sejak hari ini. Tepatnya pagi ini! Baru sebentar ia berharap, akhirnya sang bintang jatuh dan harapannya berhasil terkabulkan. Tapi.. Kenapa? Kenapa ada sesuatu yang terselip di hati Naruto? Seakan-akan ingin menembus hatinya. Sebuah anak panah yang menembus hatinya. Tapi Naruto menahan anak panah itu. Anak panah yang masih tertahan di hatinya. Melawan itu memang sulit, tapi Naruto bukan laki-laki payah. Dia mengerti situasi.

'Sakura sudah membaca kertas di bawah kotak kalung itu, ya?' batin Naruto sambil tersenyum. Ia melanjutkan makannya tanpa menjawab Sakura yang karena malu menjadi memelankan gaya makannya.

"Sakura.." tegur Naruto. Membuat Sakura menoleh padanya. "Aku mau membantumu." Naruto memaksakan senyumannya. Entah kenapa tiba-tiba bibirnya kaku untuk melebar.

"Be-benarkah?" tanya Sakura meyakinkan.

"Iya," jawab Naruto singkat.

"Terima kasih, Dobeee!" teriak Sakura tanpa sadar.

"He-eh.. Jangan panggil aku Dobe! Itu panggilan khusus Sasuke padaku. Aku tak membolehkan siapa pun memanggilku begitu. Haah.. Aku tak jadi membantu deh kalau kau tetap memanggilku seperti itu."

"Ehh.. Jangan! Aku cuma kelepasan gara-gara senang! Hehe.. Naruto-sama, maafkan aku, ya," tukas Sakura sambil tersenyum.

FFn(My-Butler)FFn

.

.

Malam ini terasa lebih dingin dari yang biasanya. Tentu saja. Naruto sedang menyendiri di luar rumah Sakura, tepatnya di teras rumahnya. Sebuah lampu cukup untuk menerangi teras rumah berukuran mediumitu. Suasana di luar lebih menyejukkan daripada di dalam. Toh, Sakura sedang menonton tv. Apa salahnya kalau dia mengisi waktu luang dengan cara begini? Bertiga di rumah.. Menjaga seorang gadis yang ditinggal orang tuanya bekerja. Yah, bukan tanggung jawab yang sederhana.

Sejujurnya sekarang Naruto ingin berbicara dengan Sasuke. Tapi, entah di mana Sasuke sekarang. Terakhir Naruto melihatnya di kamar sedang membaca buku pelajaran. Maklum, murid teladan yang bukan hanya terlihat perfect dari luar. Menyuruh Sasuke menghampirinya sekarang? Hal bodoh begitu. Mungkin Sakura akan tambah memandangnya bad boy.

Jangan. Jangan sampai. Naruto sudah cukup malu karena hanya Sakura seorang yang tidak mengakui keunggulannya.. Sasuke? Kini Sakura telah menyadari pesona cowok Uchiha yang raven itu.

Naruto melamun. Memikirkan bagaimana kisah akhir petualangannya di kediaman Haruno ini. Di saat kedua orang tua Sakura pulang kembali. Di manakah dia dan Sasuke tinggal? Akankah mereka meninggalkan tempat penuh kenangan ini tanpa rasa keberatan? Kalau tidak, di mana mereka akan tinggal? Sejauh itu rupanya pemikiran Naruto-pemuda yang dianggap tak pernah berpikir serius oleh Sakura.

Naruto menumpu dagunya dengan tangan kanannya sambil berdiri di pagar kayu teras rumah itu. Ia menatap bintang yang bertaburan. Melengkapi keindahan suasana di malam itu. Indah. Meskipun pikirannya tiba-tiba resah. Jantungnya terasa lemah dan terus berdetak cepat. Atau Naruto dilanda penyakit jantung? Ah, tidak. Jangan sembarangan bicara.

"Sialan.. Kenapa tiba-tiba rasanya aku aneh begini?" gusar Naruto sambil mencengkram baju tepat di dadanya. "Inikah yang dinamakan sakit?"

"Kau sakit apa, Dobe?"

Set. Naruto cepat-cepat menoleh. Suara itu langsung disadarinya tanpa ditebak-tebak. Tentu saja. Cuma dua orang di dalam rumah. Kalau bukan suara seorang gadis, sudah jelas itu Sasuke.

"Teme! A-aku tak sakit. Hanya.. anu.. i-itu.." Naruto gelagapan. Ia tak tahu harus mengatakan apa. 'Sial! Otakku mampet kalau bertemu Sasuke! Susah sekali aku berpikir jernih kalau berbicara dengan Sasuke dan Sakura.' batin Naruto sambil menyengir pada Sasuke.

Sasuke berjalan mendekatinya. Sasuke tersenyum sambil menjiplak gaya Naruto sebelum ia menegurnya. Cowok cool seperti Sasuke.. Kalau bertumpu dagu begitu rasanya.. err kereeen! Naruto menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Sa-Sasuke.. Kebetulan sekali kau keluar. Aku mau bicara padamu," sergah Naruto dengan cepat sebelum Sasuke menyadari kekerenannya sendiri yang bahkan bisa membius seorang lelaki.

"Kalau bicara yang macam-macam aku tak mau mendengarnya," kilah Sasuke tanpa menoleh.

"Tidak macam-macam, memangnya aku pernah bicara yang macam-macam? Seperti apa?"

"Sering. Seperti sesuatu yang tak suka kubahas seperti yang kau katakan padaku tentang isi buku kecil yang tak berguna itu," jawab Sasuke jujur. Terlalu jujur.

Naruto tidak tersinggung. Ia tahu justru salah memberikan Sasuke pelajaran yang langsung saja seolah Sasuke akan berkata, 'Aku akan mencari cinta mulai sekarang.' Aneh.

Haaah.. Rasanya tambah mustahil.

"Aku mau bicara serius. Rasanya malam ini aku tak bisa tertawa seperti biasanya," sela Naruto dengan serius. Nada bicaranya tidak konyol seperti biasanya. Sisi menarik Naruto yang terakhir. "Kau harus mendengarkan aku, Teme," sambungnya sambil ikut melihat bintang seperti Sasuke. Hal yang ia hentikan tadi.

"Bicara apa?" tanya Sasuke. Naca bicaranya mengandung rasa penasaran.

"Kau yakin kita akan bersekolah di sini? Mengumpulkan banyak kenangan dan nanti meninggalkannya begitu saja? Kau yakin kita bisa mendapat tempat tinggal, tetap bersekolah di Konoha, dan membiayai hidup kita setelah kedua orang tua Sakura pulang?" tanya Naruto bertubi-tubi. Ia menghabiskan sampai tuntas seluruh pertanyaan yang terngiang-ngiang di kepalanya. "Tidakkah kau berpikir begitu?"

"Tidak," Sasuke menjawab datar.

Naruto menoleh dengan tatapan tidak percaya. Ayolah! Apa yang dipikirkan Sasuke sampai berkata seperti itu?

"Kenapa, Teme? Kau sama sekali tak merasa merindukan mereka nanti? Shikamaru dan yang lainnya yang selalu mewarnai hidup kita akhir-akhir ini? Mengubah hidup kita yang suram di sekolah yang lama? Membayangkannya saja serasa kepalaku dipenggal," cecar Naruto.

"Kita harus mengumpulkan uang. Seminggu sekali orang tua Sakura mengirimkan kita gaji. Pakai itu sebaik-baiknya. Kita bisa hidup sementara dengan uang itu dan mencari pekerjaan." jawab Sasuke santai. Sama sekali tak terpikir kerisauan yang mungkin terjadi sesuatu sehingga hal itu tak kesampaian.

"Aku tak pernah berharap dan tidak mau selama-lamanya kembali ke sekolah lama. Ku rasa tempatku memang di sini. Pergaulan di sini sangat menarik. Bersosialisasi dengan mereka sungguh menyenangkan. Ayolah, Sasuke, kapan kau akan merasa peduli pada orang lain? Bahkan pada dirimu sendiri?" ujar Naruto. Ia berusaha mengubah pikiran Sasuke yang... ya, cuek dan santai dalam hal ini. Ia ingin Sasuke sependapat dengannya.

"Menurutmu aku orang yang tidak peduli?" tanya Sasuke datar.

"Ya," jawab Naruto singkat.

"Mengapa kau bilang begitu? Kalau aku tak peduli, seharusnya kubiarkan kau selama ini sendirian. Seharusnya aku tak usah mempedulikan ucapanmu. Harusnya aku bertindak sesuai hatiku," cerca Sasuke, ia membela dirinya sendiri. "Mungkin sekarang kau telah membenciku. Atau mungkin selama-lamanya." sambung Sasuke.

Naruto tersentak. Apa yang dikatakan Sasuke ada benarnya juga. Tapi juga ada salahnya.

"Peduli dalam artian begitu.. Lain lagi halnya dengan yang ku maksud," sela Naruto. "Maksudku, coba kau sedikit saja peduli pada gadis-gadis yang menyukaimu. Aku yakin kau bakal sempurna, Teme."

"Untuk apa? Apa untungnya bagiku?"

"Hatimu akan senang karena cinta. Kau harus merasakannya karena para lelaki harus menjadi suami kelak nanti. Dan itu justru menguntungkan. Kau bisa dianggap kolot. Yah, minimal, balas sms mereka dengan ramah," saran Naruto. "Mereka akan senang. Kalau malas membalas satu-satu.. Ya, bisa kumaklumi. Memang sulit. Sertakan saja alasanmu tidak membalas sms mereka yang kedua."

"Kau menasihatiku, ya?"

"Huh! Teme, Teme. Lihat saja, kau akan merasakan jatuh cinta itu bagaimana rasanya. Dan bagaimana pula rasa kesakitannya."

Sakura terduduk lemas ketika mendengar Sasuke ternyata begitu cuek. Ya. Dia menguping pembicaraan mereka diam-diam. Justru Sakura cukup kaget mendengar Naruto bertingkah seakan dia cowok cool idaman semua gadis seperti Sasuke-sifat seriusnya yang baru dilihat Sakura. Meski marah, biasanya Naruto tetap terlihat lucu dan santai. Kali ini.. sepertinya tidak. Naruto benar-benar ingin membantunya.

Sifat alami Naruto? Berarti Sakura sama dengan Naruto. Atau Naruto sama dengan Sakura. Sakura menunjukkan sifat aslinya kepada teman-temannya. Naruto menunjukkan sifat aslinya pada sahabatnya, Sasuke. Mungkin bukan maksud Naruto menyembunyikan itu, dia hanya serius di saat sedang dalam kondisi serius pula.

Berarti.. Sakura juga seharusnya seperti itu. Ia tak perlu menutupi keceriaannya dan kebaikannya. Keanggunannya? Sebenarnya Sakura begitu anggun. Kalau tidak, kenapa Kiba, sang senior populer itu tertarik pada Sakura?

Yah. Bersifat terbuka lebih baik daripada tertutup. Tak ada kesalahpahaman, dan tak mungkin ada pandangan miring tanpa menyelidikinya lebih dalam lagi. Boleh melihat dari luar, tapi sisi dalam jauh lebih penting. Sakura berlari menuju kamarnya sambil mengatur bunyi langkah kakinya.

Dua sahabat itu sepertinya sedang asyik membicarakan sesuatu yang baru dimulai. Naruto hebat juga. Bisa tahu Sakura tak ada lagi di situ dan mulai berbicara yang sebenarnya kepada Sasuke.

.

.

TBC


A/N : YEEAAH~! Akhirnya chapter 6 selesai juga.. Capek juga mikirnya. Bukan capek nulisnya. Maaf kalau gaje! Hehe.. Tapi di sini udah mulai kok konfliknya. Dan.. kayaknya aku belum bisa nembak deh chapter berapa selesainya nanti... Yah, lebih baik kalian tebak2 aja, *ditimpuk tv*

Kiba mungkin nanti bakal muncul, tapi sedikit.. Kayaknya. Sesuai ideku deh, nanti berubah2 lho... *-plakk!-*

Nggak banyak deh yang mau disampain.. Nanti malah jadi kelihatan kepanjangan ceritanya! Yah, akhir kata, Wassalam! (Non-muslim.. Maaf *peace V*)

Nantikan chapter 7-nya! Maaf lama update!

.

.

Thanks yang sudah baca.. ^^
Aku mengharapkan review lho.. Yg bersifat membangun lebih aku inginkan. Ckck *tapi nggak maksa, ya..*
Flame? Boleh-boleh saja. XD