Be a Princess!


Mei : Minna~ Gomen saya lama hiatus~ m(_ _)m

Ini semua dikarenakan mood saya dan ide yang lagi tersumbat masuknya ke otak, sekali lagi gomennasai~ Dan sekali lagi gomen kalo misalnya ceritanya makin aneh.

Len : Minta maap mulu, lebaran masih lama

Mei : Aku tau, cuman mau minta maap karena keterlambatan update shota sayang~

Len : Gue bukan shota! *malingin muka*

Mei : Ckckck… baca disclaimer gih! Imbalannya aku bikinin bolu pisang~ Mau?

Len : *tergiur* Mau banget! *meluk author*

Mei : *blushing* 'Mimpi gue jadi kenyataan, yes!' U-Udah, baca disclaimer sana…

Len : Ok! Ehem…


Disclaimer: Vocaloid bukan milik author, dia hanya punya fic ini.

Rate: T

Genre: Drama, Romance, Comedy/Humor


Chapter 6 :I Can't Believe This


Normal POV


"APAAAAAAA?" Sebuah teriakan yang amat sangat nyaring tiba-tiba saja bergema dari dalam istana itu. Spontan saja semua burung yang sedang terbang langsung jatuh ke tanah karena mendengar suara ultrasonik tersebut.

"Hi-Hime-sama… tenanglah…" Ucap seorang wanita berambut pink yang merupakan mentor dari sang putri. Sementara sang putri hanya bisa menarik napas dan mengeluarkannya dengan cepat sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke arah wajahnya. Keringat bercucuran dari pelupuhnya, sepertinya dia baru saja mendengar sebuah berita yang sangat amat buruk.

"Bagaimana aku bisa tenang, Luka-san? Aku baru beberapa hari menjadi seorang putri dan belajar disini dan kau datang dan mengatakan kalau… kalau…" Rin semakin panik, napasnya semakin sesak, sampai akhirnya dia…

BRUK!

…pingsan.

"Rin Himee!" Spontan saja seluruh penghuni istana yang ada langsung berteriak panik.

"Len, bawa Hime ke kamar, CEPAT!" Titah Luka tak kalah panik dari Rin sebelumnya. Sementara yang dipanggil namanya langsung menggendong Rin a la bridal style lalu membawanya ke kamar.


"Up," ucap Len sambil membaringkan Rin yang masih belum sadarkan diri ke atas ranjangnya.

"Sepertinya ini berat bagi Rin, sampai-sampai dia pingsan karena tekanannya." Ucapnya pelan, baru saja dia hendak meninggalkan kamar, tapi ujung bajunya ditarik oleh seseorang.

"Jangan pergi, aku butuh seseorang untuk membuatku tenang, Len…" Ucap Rin yang sudah setengah sadar, dipeganginya kepalanya yang terasa pusing. "Uh… Luka-san kejam…"

Merasa bahwa Rin membutuhkannya, Len pun memutuskan untuk duduk di pinggir ranjang milik Rin. "…Tapi bukannya itu… untuk kebaikan Hime?"

Rin pun bangun dan merubah posisinya menjadi duduk, "kebaikan ya kebaikan, tapi kenapa mendadak begini?" dengusnya kesal.


Flashback On

Rin baru saja selesai menyantap sarapan paginya, namun tiba-tiba Luka datang menghampirinya lalu berkata.

"Rin Hime-sama, besok pagi anda akan bertemu dengan calon tunangan anda."

Spontan saja Rin tersedak jus jeruknya karena perkataan Luka barusan.

"APAAAAAAA?"

Flashback Off


Sungguh sebuah mimpi buruk bagi Rin karena telah mengingat kejadian barusan. Tanpa mereka sadari, keheningan terjadi di antara mereka.

.

Hening…

.

.

Hening…

.

.

"…Len…"

"Ya?"

"Berjanjilah padaku…"

"Eh? B-Berjanji apa?"

"Berjanjilah kalau kau selalu berada di sisiku, bantulah aku jika perlu…" Jawab Rin pelan sambil menunduk.

"M-Maksud Hime?"

"Baka! Maksudku, bantu aku dalam menghadapinya!" Ucap Rin dengan tegas sambil menggembungkan kedua pipinya.

"E-Eh? Ta-Tapi… bukannya masalah pertunangan Hime sudah ditentukan, aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali kedua belah pihak yang memutuskan untuk membatalkannya."

"Len!" Tiba-tiba saja Rin memanggilnya dengan keras.

"I-Iya?" Len pun jadi salah tingkah. Tanpa di duga-duga, Rin menggenggam kedua telapak tangan Len dengan kuat.

"Len! Kau jenius!" Seru Rin dengan mata yang berbinar-binar. Sebuah senyuman lebar pun merekah di wajahnya. Sementara Len hanya sweatdrop melihat tingkah Rin yang tiba-tiba menjadi… aneh.

"Um… jenius?" 'Beberapa saat yang lalu dia menyebutku baka, dan sekarang dia menyebutku jenius…'

"Yup! Kau benar-benar jenius Len! Kenapa ide itu tak terpikirkan olehku?" Seru Rin yang kini sudah asyik dengan dunianya sendiri. "Oh Len, aku sayang padamuuuu~~~" Rin pun segera memeluk Len dengan death hug miliknya saking girangnya.

"Hi… Hime… a-ah… se…sak…"

"E-Eh? Ah! Gomennasai Len-kun! Aku terlalu senang sampai-sampai aku memelukmu dengan erat." Ucap Rin yang sama sekali tidak menampakkan wajah bersalah, dia justru tersenyum makin lebar pada Len. Sementara Len hanya bisa memegangi lehernya yang tadi serasa mau putus.

"Jadi…apa rencanamu Hime?"

"Ah! Iya, rencana! Rencananya adalah…" Rin pun terdiam sejenak. Rencana… dia bahkan belum memikirkannya.

.

Hening

.

Hening

.

"Rencananya… apa ya? Apa kau ada usul Len?" Rin pun berbalik menanyai Len dengan wajah innocent-nya. Spontan saja Len langsung sweatdrop karena dikiranya Rin sudah punya recana sampai-sampai dia menyekik lehernya tadi. Tapi apa daya… sebuah ide saja belum terpikirkan olehnya.

"Um… mungkin Hime harus bersikap kasar pada calon tunangan Hime nanti,"ujar Len sambil menggaruk punggung lehernya.

"Len, kau memang jenius! Bahkan melebihi Albert Einstein!" Seru Rin sambil meloncat-loncat di atas ranjangnya sambil menebar kelopak bunga berwarna-warni.

"Ahaha… Begitu ya?" Tanya Len dengan tawa garing nan hambar. "Um… Kalau begitu aku permisi dulu, Hime-sama." Len pun segera beranjak pergi dan membuka pintu kamar.

"Eh? TUNGGU!" Rin pun segera berteriak dan turun dari ranjangnya.

"Ada apa la-" Ucapan Len terhenti karena sesuatu yang lembut mendarat di pipi kirinya. Seketika itu juga wajah Len langsung memanas dan memerah.

"Hehehe, itu sebagai ucapan terima kasihku untuk kejeniusanmu Len." Ucap Rin sambil tersenyum manis. Len pun hanya diam sambil memegangi pipi kirinya.

Bagaikan sebuah mimpi yang jadi kenyataan, kini Len sudah menjerit dan melompat-lompat dalam hati. Wajahnya pun semakin terasa panas karena perasaan senang yang meluap-luap, rasa malu serta perasaan kaget yang tak diduga-duga. Semuanya bercampur aduk menjadi satu.

"Len? Oi, Len…" Suara cempreng milik Rin pun membuyarkan lamunannya.

"I-Iya?" Tanya Len sambil salah tingkah. Rin pun menatap Len dengan tatapan kau-aneh.

"Kau aneh Len, apa kau sakit? Wajahmu semerah buah strawberry di kebun kerajaan," ucap Rin yang kemudian melangkah keluar dari kamarnya dan meninggalkan Len yang masih termanggu di ambang pintu. "Sebaiknya hubungi dokter jika kau demam Len, jaa~ aku akan mengambil snack~" Tambah Rin begitu ia menuruni tangga sambil melambaikan tangannya.

Sementara Len, yang masih terbujur kaku di tempat. Hanya bisa berteriak dalam hati 'Aarghh!' beberapa saat kemudian dia pun membenturkan kepalanya ke tembok karena kebodohannya yaitu 'tidak bisa menyembunyikan wajah yang bersemu merah'.


Esok Paginya


Rin POV


"Haah… sabar Rin, kau pasti bisa melakukannya… Tarik napas… buang napas… bagus, laukukan seperti itu," ucapku pada diri sendiri sambil melihat pantulan diriku di cermin.

"Yosh! Aku siap!" Seruku sambil tersenyum mantap. Aku pun segera melangkah keluar dari kamar, lalu melangkahkan kedua kakiku menuju ruang tengah. Ya, hari ini aku akan bertemu dengan calon tunanganku!

Entah apa yang dipikirkan kedua orangtuaku dulu, sampai-sampai mereka memutuskan untuk menjodohkanku secara sepihak. Luka-san saja baru memberitahukanku kemarin, bagaimana aku bisa menghadapinya?

Tap Tap Tap

KREEK

Aku pun membuka pintu besar berwarna coklat mahony itu, dan begitu aku melangkahkan kakiku, semua orang yang berada dalam ruangan itu memandang ke arahku.

Len, Luka, Mikuo, serta seorang cowok seumuranku yang memiliki rambut berwarna hijau. Dilihat dari pakaiannya yang tidak terlalu formal, sepertinya dia orang yang lumayan keren karena pakaiannya sama seperti Mikuo.

Sebuah kemeja berwarna putih serta celana jeans berwarna hitam, serta sebuah kacamata berbingkai merah di atas kepalanya.

Aku sendiri juga memakai pakaian yang tidak terlalu formal, hanya sebuah kaus berwarna putih yang berlapiskan jas berwarna oranye, serta miniskirt berwarna putih dengan renda hitam, dan pita putihku kuletakkan disamping.

Aku pun kemudian menghampiri Luka-san dan berdiri disampingnya, lalu memandangi cowok itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Dari wajahnya, kulihat dia sepertinya tipe orang yang cuek.

"Rin Hime-sama, perkenalkan dia Megane Gumiya, calon tunanganmu," ucap Luka padaku.

"Megane Gumiya, yoroshiku onegaishimasu," ujar Gumiya sambil membungkuk hormat padaku.

"Kagamine Rin, yoroshiku," balasku singkat sambil membungkuk sedikit, yah… setidaknya aku harus memakai sopan santun kan?

"Silahkan duduk dulu, sebaiknya kita minum teh," ucap Luka. Kami pun mengikuti ajakannya, lalau duduk di sebuah sofa berwarna putih.

Tak lama kemudian, Gumi datang dengan pakaiannya maid-nya sambil membawa perlengkapan minum teh lengkap dengan sebuah teko teh yang lumayan besar di atas nampan.

"Tehnya datang~" Serunya dengan bersemangat, namun dia tiba-tiba terhenti di depan meja kecil yang terletak didepan sofa yang kami duduki. Pandangannya memandang ke arah Gumiya, begitu pula sebaliknya. Raut wajah mereka seperti terkejut antara tidak percaya. "Gu-Gumiya-kun…" Bisiknya pelan.

"Gumi, tuangkan tehnya," titah Luka. Gumi pun tersadar dan segera menuangkan teh ke dalam cangkir-cangkir kecil. Namun raut wajahnya tidak seceria tadi, malahan terlihat tegang. Apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka? Apa mereka sudah saling kenal sebelumnya? Sebaiknya aku bicara pada Gumi nanti.

"Arigatou tehnya Gumi-chan," ucapku pada Gumi sebelum ku meminum teh milikku.

"A-Ah, iya… permisi…" Gumi pun kembali ke dapur sambil membawa nampan yang telah kosong.


Akhirnya, setelah sejam berbasa-basi dengan Gumiya, aku bisa meregangkan kembali otot-otot tubuhku. Yah, walau bisa kubilang, Gumiya orangnya lumayan friendly dan terbuka. Dia juga ramah walaupun wajahnya terkesan cuek.

Tapi tetap saja, aku tidak bisa menerima perjodohan sepihak ini!

O iya, sepertinya Gumiya selalu memandang ke arah Gumi setiap Gumi lewat. Akh, ada baiknya aku menanyakan hal ini pada Gumi.

Tok Tok

"Siapa?" Tanya Gumi dari dalam kamarnya. Sepertinya dia baru selesai mandi, berhubung ini sudah sore menjelang malam.

"Ini aku, boleh aku masuk Gumi-chan?"

"A-Ah, tunggu sebentar!" Seru Gumi, beberapa detik kemudian Gumi pun membuka pintu kamarnya. Kulihat rambutnya sedikit basah, Gumi juga hanya memakai sebuah kaus dengan gambar wortel serta celana pendek. "Silahkan masuk, Rin-sama," ucapnya.

"Oh Gumi, panggil Rin-chan saja, lagipula kita sahabat kan?" Tanyaku untuk mencairkan suasana bawahan-majikan ini.

"Um, yasudah kalau Rin-chan yang minta, ada perlu apa? Tumben sekali ke kamarku," tuturnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Ini soal Gumiya," ucapku, kulihat aktifitas Gumi terhenti sejenak, namun beberapa detik kemudia dia menlanjutkannya.

"Hm… Ada apa dengan Gumiya? Apa kalian sudah saling suka?" Tanya Gumi tanpa menolehkan pandangannya ke arahku. Dan perkataan 'saling suka'nya itu seperti menusuk ke hatiku.

"Tidak, bukan soal saling suka Gumi-chan, ini soal… apa kalian sudah pernah mengenal sebelumnya? Aku mendengarmu berbisik 'Gumiya-kun' sebelumnya," jelasku.

"Oh… Mmm… iya, kami sudah saling mengenal sebelumnya," ucap Gumi, dia pun lalu duduk disampingku di ranjangnya. "Kami… um… teman sejak kecil, yah… semacam itulah…" Ucap Gumi sambil tersenyum, dan aku melihat ada sedikit rona merah di pipinya.

Ow ow, aku melihat tanda-tanda.

"Oh… souka, jadi… kau suka padanya?" Tanyaku sambil memandang ke arahnya. Gumi pun kaget, dan wajahnya semakin memerah.

"E-Eh?" Gumi pun segera menyambar sebuah bantal berbentuk wortel raksasa lalu menyembunyikan wajahnya.

Kau polos sekali Gumi, sangat mudah ditebak! Hihihi…

"Ah~ Sepertinya tebakanku benar… Hi-hi…" Godaku sambil tersenyum lebar.

"Uuuu… Rin-chan, kumohon jangan bilang siapa-siapa…" Ucap Gumi dari balik bantalnya. Aku pun terkikik geli.

"Hihihi… Iya iya Gumi-chan, aku ga akan bilang siapa-siapa kok, malahan aku dukung cintamu sama Gumiya-kun!" Seruku sambil mengacungkan ibu jariku pada Gumi.

"Ta-Tapi kan… Gumiya calon tunangan Rin-chan…" Ucap Gumi pelan. Aku pun mendadak speachless. Ow, dia benar, ta-tapi kan aku tidak menyukai Gumiya!

"Enggak kok! Aku tidak akan tunangan sama Gumiya, soalnya… aku gak setuju kalau aku dijodohkan dengan orang yang tidak aku sukai, lagipula ini masih terlalu cepat, makanya… aku tidak mau," cerocosku sambil cemberut. "Gumiya pun sepertinya juga begitu, hanya saja dia mungkin terpaksa," tambahku.

"Jadi… Rin-chan tidak mau ditunangkan? Gitu?"

"Iya," balasku singkat.

"Hm, aku mengerti perasaan Rin-chan, setiap orang pasti tidak mau dijodohkan melainkan memilih sendiri orang yang dicintainya kan?"

"Ya… seperti itulah… hidup memang sulit," balasku sambil menerawang ke luar jendela. "Suatu hari, pasti, aku akan menemukan cintaku, aku hanya perlu berusaha untuk mencarinya, bukan begitu Gumi-chan?"

"Um," jawab Gumi sambil mengangguk setuju, sebuah senyuman manis terukir di wajahnya. Mau bagaimana pun, aku punya tiga alasan kuat untuk menolak perjodohan ini.

Yang pertama; aku tidak setuju dengan perjodohan sepihak, yang kedua; Gumiya juga tidak mau tapi dia terpaksa melakukannya, yang ketiga; aku tidak akan pernah mengambil orang yang dicintai sahabatku sendiri.

Dan yang harus aku lakukan sekarang adalah untuk meyakinkan pihak Gumiya dan pihakku untuk membatalkan pertunangan bodoh ini.


~ To be Continued ~


Mei : Setelah beberapa lama, aku bisa menyelesaikan chap ini… *napas lega*

Rin : Masalahnya makin runyem ya?

Mei : Runyem gimana? Masa bodo ah!

Rin : ==" dasar author ga bener, dia yang bikin cerita malah ga ngerti

Mei : Ya sudahlah~ *ala b*ndan* Minna, review jangan lupa ya~ Saya ga maksa, cuman kalau readers ngasih review, itu bisa bikin saya semangat buat ngelanjutin dan mempercepat publishnya chap berikut!

Mei+Rin : Ja nee~~ *lambaiin sapu tangan*

.

.

V