Kuroko no Basuke©Fujimaki Tadatoshi

-Everything Ended Here chapter 5-

.


Sudah seminggu berlalu sejak kepulangan Akashi dari Kyoto. Tidak ada yang berubah. Latihan tim basket berjalan seperti biasa. Kise masihlah seorang model yang suka tebar pesona, Kuroko masih tetap dengan wajah datarnya, Midorima yang terus membawa benda yang diyakininya sebagai lucky item, Aomine yang tetap mesum, porsi snack Murasakibara yang menyerupai gunung, dan Akashi yang selalu setia bersama gunting tercintanya.

Uh, sejauh ini semuanya masih normal. Para anggota Kiseki no Sedai kini bermain 3 on 3 di lapangan dan Momoi mengamati latihan mereka dari bench. Jangan lupa bahwa Seira berada disampingnya.

Tidak ada yang berubah—itu pendapat yang lainnya. Namun, berbeda dengan pendapat sang kapten tim basket Teikou Academy. Sudah seminggu ini, pemuda merah itu 'memperhatikan' Seira.

Akashi merasa ada yang aneh dengan Seira setelah kepulangannya dari Kyoto.

Memang, Akashi tidak memungkiri bahwa ia merasa lega saat melihat Seira berada didalam gym saat itu. Tetapi, disaat yang bersamaan ia juga merasa janggal.

10 menit pun berlalu, kini Kiseki no Sedai tengah beristirahat sejenak di bench. Seira membantu Momoi untuk memberikan minuman isotonik kepada para anggota.

"Akashi -san, douzo~" ujar Seira. Tangan kanannya ia ulurkan untuk memberikan botol minuman kepada Akashi.

Bukannya mengambil botol tersebut dari tangan Seira, Akashi justru menarik pergelangan tangannya. Ia memperdekat jarak diantaranya dengan Seira.

"Akashi -san? Ada ap—" perkataan Seira terhenti ketika melihat kedua manik heterokom Akashi menatap tajam dirinya. Seira bergidik ngeri karena tatapan Akashi itu.

Sekitar 10 detik kemudian, Akashi melepaskan cengkramannya. "Terima kasih" ujarnya sambil mengambil minuman isotonik. Seolah-olah, ia tidak peduli pada apa yang ia lakukan beberapa detik yang lalu.

Seira hanya bisa mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sambil berjalan menjauh dari Akashi. Namun—

"Seiracchi!"

—sebuah pelukan Kise pun ia dapatkan. Sepertinya, ia menjadi pelarian karena sebelumnya Kise hendak memeluk Kuroko namun sang pemuda berwajah datar itu menolaknya mentah-mentah.

"Kise-san, berhenti memelukku seperti ini" protes Seira.

"Heeeee~ biasanya Seiracchi tidak protes jika aku peluk seperti ini ssu. Malah, Seiracchi kan suka menepuk-nepuk kepalaku kalau aku peluk ssu" rengek Kise.

"Itu karena kau berkeringat nanodayo" sahut Midorima.

"Midorimacchi hidoi ssu!"

"Mungkin karena Ki-chan bau?"

"Momocchi kenapa jadi ikutan ssu?"

"Heh tapi kau memang bau, Kise"

"Yang bau itu Aominecchi ssu!"

"Minna, hentikan" ujar Seira menengahi perdebatan. Gadis itu melempar pandangannya ke Kise. "Alasanku meminta Kise-san untuk berhenti memelukku karena aku takut fans Kise-san nanti salah paham"

"Tidak mungkin ssu! Lagi pula mereka semua sudah tahu kalau Seiracchi itu sudah seperti kakak bagiku. Seiracchi jadi aneh ssu"

"Kau yang aneh nanodayo" Entah kenapa sepertinya hari ini Midorima senang sekali mengkritik pemuda pirang tersebut.

"Kau salah, Shintarou. Aku sependapat dengan, Ryouta" ucapan Akashi pun langsung mengundang perhatian Kiseki no Sedai yang lain. Heee? Kok tumben-tumbennya Akashi bisa satu pendapat dengan Kise.

"Apa maksudmu, Akashi?" Midorima membenarkan letak kacamatanya.

Kedua bola mata Akashi melirik Seira dengan tajam. "Aku juga merasakan bahwa ada yang aneh dengan Seira"

"A-apa maksudnya, Akashi-san? Aku masih seperti yang biasa kok"

Seira memundurkan dirinya ketika sadar bahwa Akashi melangkah mendekatinya.

"Seperti biasa?" Akashi menaikkan salah satu alisnya. "Hm, jadi bisa kau jelaskan kenapa ada tanda lahir di lehermu? Pertama kali aku bertemu denganmu rasanya tanda itu belum ada"

Yang lainnya pun langsung menatap Seira—lebih tepatnya sebuah tanda lahir yang berada di leher Seira.

"Etto, seingatku Seira-san sejak kecil tidak memilikinya" tambah Kuroko.

"Heee? Benarkah? Aku sudah memilikinya sejak lahir kok!" sanggah Seira. Bisa dipastikan bahwa kini keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya.

"Kau memilikinya sejak lahir?" Akashi mengulang perkataan Seira yang langsung direspon anggukan cepat dari gadis itu.

"Kalau begitu, berarti kau bukanlah Seira Akari. Siapa kau sebenarnya?"

DEG

Semuanya mematung mendengar perkataan Akashi barusan. Kalau gadis yang kini bersama mereka bukanlah Seira, lalu siapa dia? Dan dimana Seira yang asli?

"Akashi-kun, mana mungkin dia bukan Seira" sahut Momoi.

"Bukankah Ryouta mengatakan bahwa ada yang aneh dengannya? Apa kau tidak percaya pada kata-kataku, Satsuki?"

Momoi merinding ketika tatapan tajam Akashi beralih kepadanya. Ia langsung terdiam membisu.

"Apa yang membuat Akashi-kun berpikir bahwa dia bukan Seira-san?" tanya Kuroko. Si phantom player yang satu ini kini berjalan mendekati sang kapten. Kedua bola mata biru langitnya menatap lurus ke arah Akashi.

Akashi melempar tatapannya sebentar kepada Kuroko. "Pertama, tanda lahir"

"Aku setuju dengan Aka-chin. Dari awal aku juga tidak melihat bahwa Seira-chin memiliki tanda lahir di lehernya" sambung Murasakibara tiba-tiba—tumben sekali. "Selain itu Seira-chin yang ini jarang memberiku kue lagi"

Ara~ Rupanya ada modus tersembunyi.

"Terima kasih atas tambahan darimu, Atsushi" Akashi memberi jeda sejenak. "Kedua, saat penilaian lari marathon beberapa hari yang lalu, fisikmu tampak kuat sekali. Padahal biasanya Seira tidak mampu untuk berlari terlalu lama"

"Aku.. aku melatih diriku belakangan ini, Akashi-san!" Seira masih tetap menyangkalnya.

"Dan yang ketiga," Saat ini, Akashi menghadapkan dirinya persis didepan Seira. "Wajah Seira mudah memerah ketika aku tatap seperti ini"

'Selain itu, aku sudah tidak merasa berdebar-debar lagi ketika berada didekat gadis ini' tambah Akashi didalam hatinya.

"Memangnya kenapa kalau aku sudah tidak memerah lagi? Aku ini Seira Akari, Akashi-san! Percayalah"

"Tidak. Kau bukan Seira"

"Aku ini Seira!"

"Bukan"

"Iya!"

"Kau bukan Seira Akari"

"Aku benar-benar Seira Akari, Akashi-san"

"KALAU BEGITU APA KAU INGAT PERNAH MEMBUAT JANJI DENGANKU?!"

Seira langsung terdiam. Nafasnya tercekat melihat Akashi yang tiba-tiba membentaknya seperti itu. Ia memundurkan dirinya beberapa langkah.

Diam. Seira tidak menjawab apapun. Tentunya, hal ini mengundang kecurigan dari semua anggota Kiseki no Sedai.

"Seiracchi?"

"Seira-san?"

"Tidak mungkin, Seira.."

Gadis bersurai coklat tua itu menundukkan wajahnya. Ia tidak berani menatap siapapun yang ada didalam gym.

"Maaf, aku tidak ingat" ujarnya pelan. Momoi dan Kise terkejut mendengar jawaban tersebut. "Karena sebenarnya—"

Suasana di gym terasa lebih mencekam dibandingkan sebelumnya. Malah, lebih mencekam dibandingkan saat Akashi marah pada Seira beberapa bulan yang lalu.

"—namaku adalah Rinna Akari, bukan Seira Akari"

"Uso" Momoi membelalakan matanya tak percaya. "Sejak kapan?"

Gadis yang kini 'mengaku' bernama Rinna Akari itu menoleh pada Momoi. "Sekitar dua minggu yang lalu. Aku menggantikan peran Seira disini"

"Apa maksudmu dengan menggantikan?!" Akashi menarik pergelangan tangan Rinna—membuat tubuh gadis itu berputar menghadapnya. "Dimana Seira? Apa yang kau lakukan disini?"

Rinna menggigit bibirnya. Terlihat bahwa gadis ini masih menimbang-nimbang untuk menceritakan yang sebenarnya atau tidak.

"Aku adalah adik kembar dari Seira Akari" Perlahan Rinna mendongakkan wajahnya untuk menatap Akashi. "Sebenarnya, oneesan"

Tubuh Rinna mulai bergemetar.

"—oneesan sudah meninggal sejak 5 hari setelah keberangkatan Akashi-san ke Kyoto"

Detik itu, Akashi merasa bahwa ia kehilangan seluruh tenaganya.

'Apa mungkin, 4 suku kata yang Seira lafalkan saat itu adalah sayounara?'

-flashback-

Namaku Seira Akari.

Aku berumur 16 tahun.

Saat ini, aku bersekolah di Teikou Academy. Aku berada dikelas 2-B sekarang.

Sebenarnya sejak aku berumur 7 tahun, aku mengidap penyakit Hepatitis C. Aku mengetahuinya dari obaasan.

Beliau bercerita, bahwa aku mengidap penyakit ini setelah mendapat transfusi darah ketika aku mengalami kecelakaan.

Penyakit ini bisa dibilang unik, karena kata obaasan gejala penyakit ini tidak begitu terlihat meskipun sudah terinfeksi bertahun-tahun.

Keluargaku sama sekali tidak mengetahui hal ini. Semua itu dikarenakan aku tinggal bersama obaasan sejak kecil. Aku tidak tinggal bersama orang tuaku.

Namun, kini aku sudah kembali tinggal bersama mereka, juga bersama adik kembarku.

Mungkin, sebentar lagi aku harus menceritakan hal ini kepada mereka.

Seira menutup buku berwarna coklat yang berada ditangannya. Ia tengah duduk bersandar di ranjangnya. Sementara, ditepi ranjangnya itu terdapat adik kembarnya, Rinna.

"Oneesan.."

"Oneesan rasa sudah waktunya untuk memberitahukan hal ini kepada kalian. Maaf ya, selama ini oneesan menyembunyikannya"

Seira tersenyum lembut sambil mengusap puncak kepala Rinna. Adik kembarnya itu tidak mampu berkata apa-apa.

Seira dan Rinna merupakan anak kembar di keluarga Akari. Mereka berdua kembar identik. Orang asing yang baru melihatnya pertama kali pasti sulit untuk membedakan keduanya.

Sebenarnya cukup mudah untuk membedakan mereka berdua, cukup melihat ke arah leher. Sang adik memiliki tanda lahir disana. Sedangkan sang kakak memiliki tanda lahir dibelakang telinga—sedikit susah untuk dilihat sekilas.

Sejak berumur 3 tahun, Seira tumbuh lebih cepat dibandingkan Rinna dari segi akademis. Ia mudah memahami apa yang baru dipelajarinya. Namun, ia memang memiliki fisik yang lebih lemah dari adiknya. Begitulah mengapa alasan Rinna lebih unggul dalam bidang olahraga.

Itulah alasan mengapa ayah mereka berdua lebih memilih Seira untuk menjadi pewaris perusahaan keluarga. Seira kecil mulai diikat dalam beberapa peraturan dari ayahnya. Ia disekolahkan di sekolah ternama, serta selalu diawasi perkembangannya. Berbeda dengan Rinna yang lebih memilih untuk home schooling.

Keduanya diperlakukan begitu berbeda. Seira begitu diandalkan didalam keluarga. Seluruh pelayan keluarganya pasti mengenal serta akrab dengannya. Sedangkan, keberadaan Rinna terkadang begitu diacuhkan. Sampai-sampai, beberapa rekan bisnis keluarga Akari sering mengatakan 'Keluarga Akari pasti bangga ya memiliki putri tunggal seperti Seira'

"Nee, Rinna" panggil Seira memecahkan keheningan antara dirinya serta adiknya itu. "Oneesan punya permintaan kepadamu"

-end flashback-

"Aku.. hanya sebisa mungkin ingin melakukan apa yang oneesan percayakan kepadaku. Oneesan tidak pernah meminta bantuanku sebelumnya. Maka dari itu, ketika oneesan meminta hal ini.. aku.. aku.."

"ii yo, Rinna," Momoi menepuk pundak Rinna pelan. Ia berusaha menenangkannya. "Kami mengerti"

"Akashi-kun?"

Ketujuh pasang mata menatap kapten mereka yang sebelumnya dipanggil oleh Kuroko.

"Bisa kau tunjukkan dimana makam Seira?"


Yang aku hormati, Seijuurou Akashi-san.

Akashi-san, konnichiwa. Bagaimana kabarmu? Aku harap Akashi-san baik-baik saja saat ini.


"Disini tempatnya"

Rinna bersama Akashi dan yang lainnya kini sudah menapak disebuah tempat pemakaman elite yang cukup jauh dari Teikou Academy.

"Terima kasih ya, Rinna. Sudah mau mengantar kami ke tempat ini" Manik pink Momoi menatap sendu manik ruby Rinna yang sama persis dengan yang dimiliki oleh Seira.

"Suatu kehormatan bagiku bisa bertemu dengan orang-orang yang disayangi oleh oneesan" jawab Rinna dengan senyum tipisnya. Sesekali ia melirik Akashi—pemuda yang selama ini sering diceritakan oleh kakaknya.


Maa, mungkin saat Akashi-san melihat video ini, aku sudah tidak berada disana lagi. Aku sudah pergi ke sebuah tempat yang jauh, ya kan?


"Akashi-san," panggil Rinna pelan. Pemuda yang dipanggil olehnya membalikkan tubuhnya tanpa semangat.

"Ini, ada titipan benda dari oneesan untukmu"

Manik heterokom Akashi menatap sebuah kotak yang berada di tangannya saat ini. Dilihatnya apa yang berada didalam kotak tersebut.

Sebuah DVD?


Sebelumnya, aku ingin meminta maaf kepada Akashi-san dan yang lainnya karena aku tidak pernah memberitahu kalian mengenai penyakitku. Aku hanya tidak ingin membuat kalian menjadi khawatir padaku. Terutama dirimu, Akashi-san.


"Rasanya konyol sekali ssu. Bahkan kita tidak bisa menyadari bahwa dia adalah Rinna Akari, bukan Seiracchi ssu"

Kise memandangi sebuah nisan didepannya dengan tatapan sendu. Ia masih tidak mempercayai bahwa salah satu orang yang disayanginya kini sudah pergi meninggalkan dirinya dan teman-temannya.

"Seira.."

Disisi lain, sekuat tenaga Momoi menahan isak tangisnya. Kuroko dan Aomine berdiri tak jauh dari sosoknya.

'Bukankah kau memiliki janji denganku, Seira?'


Maafkan aku ya, Akashi-san. Aku tidak bisa menepati janjiku kepadamu. Aku juga minta maaf karena aku tidak bisa jujur pada perasaanku sendiri terhadapmu.


Saat itu, Murasakibara berhenti memikirkan makanan cemilannya. Midorima pun juga tampak sedih, meski raut wajahnya tidak terlalu menunjukan perasaannya tersebut. Namun, emosinya bisa terbaca lewat sorot matanya.

Kuroko, yang merupakan teman kecil Seira pun hanya bisa terdiam dengan wajah datarnya. Akan tetapi, bagi orang yang sudah lama mengenalnya pasti bisa melihat sedikit perubahan dibalik raut wajahnya yang datar itu.


Aku menyukaimu, Akashi-san.

Sangat sangat sangat menyukaimu.


"Seiracchi pasti bahagia kan disana?"

"Tentu saja bodoh. Seira pasti bahagia"

Kini, Kiseki no Sedai mengarahkan pandangan mereka ke sang kapten yang sedari tadi tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tidak dapat dipungkiri bahwa mereka mengkhawatirkan kondisi kaptennya yang satu itu.

Mereka tahu kalau Akashi saat ini sedang dalam posisi benar-benar terpuruk. Kekhawatiran mereka semakin diperburuk karena Akashi sama sekali tidak melakukan atau mengatakan apa-apa selama berada di tempat pemakaman.

Pemuda itu hanya terus berdiri sembari menatap kosong ke depan.


Akashi-san, maukah kau mendengarkan sebuah lagu dariku?


Aku sudah memutuskan untuk bertemu denganmu sekarang

Karena aku ingin kau mendengarkan lagu yang ada di saku milikku

Perlahan kunaikkan volumenya, untuk memastikan semuanya pas

Oh good-bye days

Sekarang perasaanku berubah, bahkan masa lalu yang sudah begitu lama

Kau tidak keren tapi berada di sisiku dengan lembut

Lalalalala bersamamu

Ketika Akashi sampai di rumahnya, hari sudah berganti malam. Ia langsung menuju kamar pribadinya. Tidak ia hiraukan pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa pelayannya.

Diambilnya DVD yang sebelumnya diberikan oleh Rinna, adik dari seseorang yang ia sayangi.

Aku berikan padamu salah satu sisi earphoneku

Perlahan musik pun mulai mengalir

Bisakah aku mencintaimu dengan baik? Tapi kadang aku tak merasa begitu

Oh good-bye days

Sekarang semuanya mulai berubah Tapi di dalam hatiku tidak apa-apa

Kau tidak keren, tapi berada disisiku dengan lembut

Lalalala bersamamu

Dimasukkannya lempengan DVD tersebut pada DVD player yang dimilikinya. Sebuah video pun mulai terputar.

Dari dalam video tersebut terlihat Seira sedang duduk di bangku taman yang berada di rumahnya. Tak jauh darinya, terdapat gitar yang dulunya Akashi pernah lihat. Seira sering membawa gitar itu ke sekolah.

Gadis itu mulai berbicara. Setelah beberapa lama, mulailah ia memainkan gitarnya tersebut.

Jika bisa, aku tidak ingin memikirkan kesedihan

Tapi hal itu akan datang lagi,kan?

Di saat itu dengan tersenyum

'Yeah! Halo, kawanku' Bagaimana aku akan mengatakannya?

Tidak apa-apa jika aku berteriak

Saat aku menyenandungkan lagu yang sama

Aku harap engkau disisiku

Kau tidak keren, tapi aku senang bertemu dengan dirimu yang lembut

Lalalala good-bye days


Bagaimana? Apa Akashi-san menyukai lagunya?

Ah, aku memiliki sebuah surat untuk Akashi-san!

Hora? Nanti, Akashi-san bisa membacanya.

Ingat ya pada apa yang aku tuliskan di surat ini.

Aku menyukaimu, Akashi-san. Terima kasih untuk segalanya. Semuanya berakhir disini.

Sayounara, Akashi-san


Akashi memejamkan kedua matanya. Video tersebut kini sudah berhenti. Ia melirik surat yang masih berada di dalam kotak. Dibukanya dengan perlahan surat tersebut. Sesekali, ia menghembuskan nafasnya dengan keras.

Secarik kertas yang terlipat dengan rapi terdapat didalamnya. Akashi membuka lipatan demi lipatan. Mulai terlihatlah tulisan tangan Seira yang tersusun dengan begitu rapi.


All you need to do is just looking at the stars,

Because I'll be there

Accompany you in the darkness and silence of the night

Eliminate the trace of tears that streaming down your cheeks

And feel your lonely heart

Look at them! Look at those shining stars

I never want to see you cry

Because, all this time,

I just want to see your smile

I never go, I'm here, as always, right beside you

Don't you ever feel lonely or desperate

Lift up your face and smile

Take yourself as light as the evening breeze

Please don't cry

Remember, I'm always with you

Forever


Satu langkah, dua langkah.

Didekatinya balkon yang berada didalam kamar.

CKLEK

Saat Akashi membuka pintu balkonnya itu, sejuknya angin malam pun langsung menerpanya. Akashi mendongahkan wajahnya ke atas.

"Banyak sekali.. bintang malam ini"

Kedua sudut bibirnya sedikit naik untuk beberapa saat.

"Hm, benarkah semuanya sudah berakhir disini, Seira? Bukankah kau berkata bahwa kau akan selalu berada bersamaku?"


-owari-


Jang jaaaaang~

Tamat ssu!

Dengan ini, saya Rizumu Hikari, menyatakan bahwa Everything Ended Here sudah tamaaaat!

Arigatou minna! Terima kasih untuk dukungannya selama ini :) Dari jaman(?)nya Unspoken Love sampai Everything Ended Here~

Jadi, bagaimana?

Maaf ya endingnya absurd seperti itu. Maa, mau gimana lagi. Yang ada dipikiran saya, hari senin sudah kembali bersekolah dan saya ingin menuntaskan ff ini sebelum kembali disibukkan dengan beragam aktifitas.

Maaf juga kalau para karakternya makin OOC ya ssu~

Ah, lagu yang dinyanyikan oleh Seira itu adalah lagu Good-bye Days karya Yui Yoshioka. Ada fansnya kah disini?

Dan etto, untuk surat Seira dibagian akhir itu, saya mohon maaf kalau ada kesalahan grammarnya ssu. Saya memang payah di hal itu.

Sekali lagi saya mohon maaf ya kalau endingnya kurang memuaskan.

Yak! Special thanks to:

Ecchan

Namikaze Hikari

Lilindha (gomen ne, pennamenya nggak bisa ditulis lengkap)

Kumada Chiyu

Akai Hito

IoDwi

lightsburning

ChizuGawa

UseMyImagination

LeoniaOtaku

ABNORMALholic

Yuki Fheuzel

lucyheart

Akachin

Ruki-chan SukiSuki'ssu

NandaRuKi

xoxo-vanilla

SakuraDoki

baka-nyan4

kurovillgane

killy (gomen ne, pennamenya nggak bisa ditulis lengkap)

Juvia Hanaka

Terima kasih juga buat sahabatku yang udah jadi silent reader selama ini, serta silent readers yang lainnya juga~

Sekian dari saya, selamat kembali beraktifitas ya ssu!

Ah, kalau tugas sekolah saya tidak terlalu padat saya ada rencana mau buat ff lagi dengan pairing Akashi bersama OC saya yang lain. Bukan Seira lagi, kan Seira udah mati *dihajar sama Seira*

Jaa ne~

Sampai bertemu dikesempatan berikutnya ssu~

Terima kasih banyaaaak!