oO-タマサ-Oo
Disclaimer: SM Entertainment. But story and plot are mine.
Rated: M
Genre: Romance
Pairing: ChanSoo, and others.
Warning: YAOI, Boyslove, AU, OOC, typo(s).
Don't like don't read!
oO-タマサ-Oo
Bab 05
…
Kyungsoo berjalan perlahan melewati lorong apartemennya dengan langkah gontai. Tas kerja ia bawa di tangan kiri, sementara tangan kanannya merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Tidak ada pesan dari kekasihnya, lagi-lagi...
Begitu sampai di depan apartemennya, Kyungsoo memasukkan nomor PIN pintu apartemennya, dan masuk ke dalam. Kyungsoo melepas sepatunya dengan gerakan malas. Berjalan menuju ruang tengah, dan duduk di sofa besar. Ia sangat lelah. Lelah fisik dan lelah mental. Sudah beberapa hari ini ia sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan. Ia butuh pengalihan untuk pikirannya, dan menurutnya pekerjaan adalah satu-satunya solusi.
Apa yang sedang mengganggu pikiran Kyungsoo sebenarnya? Saat terakhir kali kunjungan Jongin ke apartemennya, tepat seminggu yang lalu, Jongin tertidur lebih dulu. Kyungsoo berusaha memakluminya. Pasti Jongin merasa lelah dengan pekerjaannya. Hal penting yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Kyungsoo, terpaksa harus dipendam lagi dengan harapan besoknya ia bisa membicarakannya lagi bersama Jongin. Sayangnya Jongin meninggalkan apartemen Kyungsoo diam-diam keesokan harinya, sama sekali tak berpamitan dengan Kyungsoo. Kyungsoo merasa kecewa tentu saja dengan kebiasaan buruk kekasihnya. Lalu apa tujuannya datang ke ke apartemen Kyungsoo? Menumpang tidur? Bukankah lebih baik ia tidur di apartemennya sendiri ketimbang harus membuang waktu untuk berjalan ke apartemen Kyungsoo yang jelas-jelas berlawanan arah dengan apartemennya?
Kyungsoo yang kesal dengan perbuatan Jongin tidak bisa menceritakan hal itu pada siapapun, termasuk pada Baekhyun. Baekhyun pasti akan mengoloknya, mengatakan kalau Kyungsoo adalah pria bodoh yang mau diperlakukan seenaknya oleh Jongin. Atau seperti biasanya ia akan mencaci maki Jongin dengan kalimat kasar, yang tentu akan membuatnya sakit hati pada Baekhyun. Ia terlalu mencintai Jongin, dan ia tak bisa membiarkan orang lain menghina kekasihnya.
Kyungsoo tersentak saat mendengar ponselnya berdering. Ia merogoh saku celananya dan melihat layar ponselnya. Baekhyun meneleponnya. Tumben... ini sudah jam 8 malam, aoa yang diinginkan Baekhyun? Kyungsoo menggeser ikon hijau di layarnya dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Kyungsoo-ya?"
"Ya?"
"Di mana kau sekarang?"
"Di apartemen. Ada apa?"
"Kau sudah makan malam?"
"Belum. Aku baru pulang dari kantor..."
"Kau lembur lagi?"
"Begitulah..."
"Kalau begitu aku akan membelikanmu makanan. Jangan memasak ya! Sementara itu, mandilah! Aku tak akan lama!"
"Baekhyun-ah, tak perlu!"
"Sudahlah, turuti saja perkataanku. Kau pasti lelah, bukan? Aku sedang berada di restoran dekat apartemenmu, jadi tidak masalah buatku untuk mampir ke tempatmu. Kira-kira dua puluh menit lagi aku sampai di sana!" Baekhyun memang pria cerewet yang menyebalkan, tapi hanya dia satu-satunya teman terbaik yang ia miliki. Satu-satunya yang peduli padanya, hingga bagian terkecil sekalipun. Kyungsoo mematikan panggilan ponselnya, memutuskan untuk segera membersihkan diri sebelum Baekhyun tiba dengan makan malamnya.
-oO-タマサ-Oo-
"Bagaimana?" Chanyeol menyuapkan sepotong sushi ke mulutnya dalam sekali suapan menggunakan sumpit. Baekhyun meletakkan ponselnya ke atas meja, mengambil sumpitnya dan melanjutkan makan.
"Dia ada di apartemen, baru kembali dari kantor," jawab Baekhyun. Chanyeol menggelengkan kepalanya, tak habis pikir.
"Dia pekerja keras ya. Aku ingin memiliki satu saja pegawai yang rajin sepertinya."
"Hoo... jadi kau akan memaksa pegawaimu untuk bekerja keras seperti Kyungsoo? Dasar kau tak punya hati!" Bukan itu maksud Chanyeol. Sebenarnya dia akan lebih senang jika Kyungsoo bekerja di perusahaannya. Bukan orang seperti Kyungsoo yang ia butuhkan, tapi Kyungsoo itu sendiri.
"Aku bukannya tidak punya hati. Tapi atasan mana yang tak akan senang kalau punya pegawai yang berdedikasi tinggi sepertinya?" Chanyeol mencoba berkelit. Kyungsoo itu sempurna. Dia pintar, penurut, dan rajin. Dan jangan lupakan soal kemampuannya dalam memasak. Chanyeol masih ingat dengan ide di mana Kyungsoo membuatkan makan siang untuknya setiap hari. Bayangkan betapa menyenangkannya kehidupannya jika bisa merasakan makanan seenak buatan Kyungsoo tiap hari...
Tak butuh waktu lama bagi Baekhyun dan Chanyeol menyelesaikan makan malam mereka, untuk kemudian segera pergi dari restoran menuju apartemen Kyungsoo. Sebelumnya Chanyeol sempat mampir ke minimarket untuk membeli banyak bir. Saat Baekhyun memberikan tatapan penuh tanya, Chanyeol meringis
"Rasanya aneh kalau mengobrol tanpa minum bir."
Jawaban itu pula yang diberikan Chanyeol pada saat Kyungsoo menanyakan mengapa ia membawa begitu banyak kaleng bir dalam kantung plastik. Kyungsoo menghela nafas, sepertinya keberatan dengan ide Chanyeol. Tentu saja, mabuk di saat besok masih harus berangkat tentu bukanlah sesuatu yang baik. Bagaimana dengan pekerjaan mereka besok? Chanyeol tahu itu, ia sendiri pun besok masih punya pekerjaan penting. Tapi kalau tidak begini, ia jadi tidak punya alasan untuk bisa mengobrol lama dengan Kyungsoo.
Jujur saja, tidak bertemu selama seminggu entah mengapa membuat Chanyeol sangat merindukan Kyungsoo. Selama berhari-hari Chanyeol memikirkan alasannya, dan kemungkinan besar yang iadapatkan adalah ia merindukan perbincangan cerdas yang mereka berdua lakukan. Kyungsoo adalah orang yang serius dalam menanggapi sesuatu, jadi jika ia berhasil mengajak bicara Kyungsoo, Chanyeol merasa tingkat kepintarannya pun bertambah.
Chanyeol sengaja mengajak Baekhyun bertemu setiap hari, berharap kalau ia bisa saja berkesempatan bertemu dengan Kyungsoo. Sayangnya hal itu tidak terwujud. Baekhyun berkata, kalau ia kesulitan menghubungi Kyungsoo karena sahabatnya itu selalu sibuk. Chanyeol tak mungkin mendatangi Kyungsoo langsung di apartemennya, karena hal itu bisa saja membuat ia memiliki pikiran negatif tentangnya.
Saat melihat Kyungsoo membukakan pintu untuk mereka tadi pun, Chanyeol seperti kehilangan nafas. Chanyeol tak tahu apakah karena ia sudah beberapa hari tak bertemu Kyungsoo, tapi menurut Chanyeol malam ini Kyungsoo terlihat sangat tampan. Ia hanya memakai kaos polos hitam dan celana pendek jeans berwarna senada. Di lehernya bahkan masih tergantung handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Tapi sungguh, kulit putihnya... pipinya yang merona..., dan aroma sabun yang menguar dari tubuhnya... Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya –Kyungsoo sangat tampan sekaligus menggairahkan.
"Kalian sudah makan?!" Chanyeol terkejut mendengar Kyungsoo berteriak dari dapurnya. Baekhyun yang duduk di sebelahnya mengumpat kecil, bangkit berdiri dan segera melesat menuju dapur. Chanyeol tertawa kecil, apalagi setelah mendengar teriakan dari Baekhyun. Pria tampan itu memilih untuk mengambil satu kaleng bir dan membukanya. Chanyeol meneguk birnya dan menyandarkan punggung ke sofa saat sayup-sayup ia mendengar suara cekikikan dari dapur. Apa yang sedang mereka berdua bicarakan sebenarnya, mengapa tak segera kembali ke ruang tengah? Penasaran, Chanyeol melangkah berjinjit menuju dapur dan menjulurkan kepalanya untuk mengintip. Pemandangan yang ada di hadapannya membuat Chanyeol termangu.
Baekhyun sedang memeluk Kyungsoo dari belakang, sambil menumpukan dagunya pada bahu sempit Kyungsoo. Kyungsoo hanya diam, tidak menolak perlakuan Baekhyun sama sekali. Chanyeol masih terdiam memperhatikan keakraban mereka berdua. Rasanya ada yang aneh di dadanya. Ia tahu, Baekhyun memang selalu bersikap manja pada semua orang dekatnya, meskipun ia sudah memiliki Chanyeol sebagai kekasihnya. Walaupun begitu bukanlah hal yang mudah untuk Chanyeol membiasakan diri dengan kelakuan Baekhyun yang itu. Terlalu centil menurutnya. Tapi melihat Baekhyun dan Kyungsoo yang akrab seperti itu, ia merasa tak punya kuasa untuk cemburu. Lagipula siapa yang ia cemburui saat ini? Ia sendiri tak yakin untuk menjawabnya.
Chanyeol berdehem, membuat Baekhyun melepaskan satu tangannya dan menoleh ke arah pintu dapur. Lihat, ia bahkan enggan melepaskan pelukannya ke Kyungsoo meskipun saat ini ada kekasihnya yang sedang memperhatikan. Baekhyun hanya meringis melihat Chanyeol yang kini berdiri bersandar pada pinggiran pintu sambil menyilangkan dada.
"Kalian berpelukan mesra seperti itu hingga tak menyadari kalau aku berdiri di sini sedari tadi?" Chanyeol melangkah perlahan mendekati Baekhyun dan Kyungsoo. Baekhyun melingkarkan kedua tangannya ke perut Kyungsoo lagi, sementara Kyungsoo memukul telapak tangan Baekhyun sambil menunduk malu. Sepertinya ia malu karena keberadaan Chanyeol.
"Kyungsoo sedang membutuhkan pelukan," jawab Baekhyun. Tidak begitu jelas perkataannya karena ia menenggelamkan wajahnya ke pundak Kyungsoo. Hei, apa-apaan Baekhyun ini? Tidakkah ia berpikir kalau bisa saja Chanyeol cemburu?
"Sungguh? Jadi ada yang sedang ingin dihibur saat ini?" tanya Chanyeol berhenti tepat di samping Kyungsoo. Ia membungkukkan badannya, terang-terangan mengintip Kyungsoo karena ingin tahu bagaimana ekspresi wajah Kyungsoo. Ia tersenyum kecil begitu mendapati rona merah di sekujur wajah Kyungsoo.
"Bolehkah aku bergabung dengan kalian berdua?" tanya Chanyeol. Baekhyun menoleh ke arahnya, dan memberikan anggukan sebagai jawaban. Dengan cepat Chanyeol merengkuh mereka berdua dengan kedua tangannya. Baekhyun tertawa tertahan, sementara Kyungsoo justru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Chanyeol ikut tertawa kecil, padahal otaknya sedang berpikir keras saat ini,
Mengapa jantungnya berdebar sekencang ini?
-oO-タマサ-Oo-
Chanyeol memperhatikan Baekhyun dan Kyungsoo dengan tatapan kosong. Kedua pria itu sudah terlalu mabuk hingga tak sadarkan diri. Baekhyun sedang tertidur di lantai, sementara Kyungsoo tidur bersandar di sofa. Tampang keduanya sudah berantakan, belum lagi aroma alkohol yang menguar dari tubuh mereka. Siapa yang menyangka kalau ternyata Kyungsoo memiliki banyak simpanan minuman beralkohol di rak kabinet dapurnya. Oke, hanya Chanyeol yang tak menyangka, sementara Baekhyun sepertinya sudah mengetahui hal tersebut, karena dia yang terlebih dulu menantang Kyungsoo untuk mengeluarkan beberapa botol soju simpanannya.
Chanyeol mungkin jarang minum, tapi bukan berarti dia adalah peminum yang lemah. Ia sudah tahu seberapa kemampuannya minum alkohol, dan ia yakin sejak awal kalau Baekhyun dan Kyungsoo tak memiliki kemampuan sebaik dirinya. Jadi, di saat yang lain sudah tak sadarkan diri, Chanyeol menghentikan acara minum-minum mereka.
Chanyeol bangkit berdiri, berkacak pinggang sambil matanya memperhatikan sekeliling. Lebih baik ia segera membereskan kekacauan ini dan pulang ke rumahnya. Chanyeol memperhatikan arlojinya, pukul 11.30. Pertama, yang ia lakukan adalah mengurus Baekhyun. Chanyeol berjalan menuju salah satu kamar. Saat dibuka, kosong dan gelap. Setelah menyalakan saklar, Chanyeol mengecek isi kamar. Tidak ada barang penting, bahkan foto Kyungsoo. Mungkin ini adalah kamar tamu. Chanyeol kembali menuju ruang tengah, membopong Baekhyun dengan kedua tangannya, lalu menidurkannya di kamar tamu.
Setelah urusan Baekhyun selesai, Chanyeol menuju kamar lain. Saat menengok isi kamar, Chanyeol langsung yakin jika kamar ini adalah kamar Kyungsoo. Chanyeol ingat betul suasana kamar ini sama persis dengan kamar di mana Baekhyun pernah melakukan video call dengan Kyungsoo dulu. Dan kalau tebakan Chanyeol benar, pasti meja di sudut sana adalah meja yang digunakan Kyungsoo untuk meletakkan ponselnya. Chanyeol tersenyum kecil, merasa puas dengan penyelidikan kecil yang baru saja ia lakukan. Ia menuju ruang tengah, berencana menggendong Kyungsoo sama seperti yang telah ia lakukan pada Baekhyun sebelumnya. Kyungsoo masih tetap pada posisinya, tidur terduduk sambil menyandarkan kepalanya di sofa.
Chanyeol berlutut di hadapan Kyungsoo, memperhatikan wajah Kyungsoo dengan serius. Ia sungguh-sungguh saat mengatakan Kyungsoo adalah pria yang tampan. Memang mata bulat dan pipi berisinya itu seperti milik anak kecil, tapi cara Kyungsoo bersikap sangat dewasa, berbanding terbalik dengan pembawaan Baekhyun yang ceria. Dan ia tak akan lelah mengulangi pertanyaan yang sama, bagaimana bisa Baekhyun dan Kyungsoo berteman baik, sementara mereka memiliki karakter yang sangat bertolak belakang?
Chanyeol menghela nafas, memilih untuk segera membopong Kyungsoo dan membawa pria pendek itu ke kamarnya. Kyungsoo menggeliat kecil, tapi bukannya terbangun ia justru menyamankan dirinya dan memeluk leher Chanyeol menggunakan tangan kanannya. Spontan Chanyeol menghentikan langkahnya. Matanya membulat, menatap Kyungsoo dengan tatapan horor. Astaga... mengapa debaran di dadanya bertambah kencang? Mengapa tubuhnya memberikan reaksi seaneh ini saat bersentuhan dengan Kyungsoo? Mengapa tubuhnya tidak memberikan reaksi yang sama pada Baekhyun?
Fokus, Park Chanyeol! Chanyeol membentak dirinya sendiri di dalam hati. Ia mempercepat jalannya, dan begitu sampai di kamar ia meletakkan tubuh Kyungsoo ke tempat tidur. Ia berkacak pinggang, memperhatikan Kyungsoo dengan sorot mata heran. Sementara objek yang dilihat hanya menggelung tubuhnya, menyamankan posisi tidurnya. Apa lagi yang harus ia lakukan? Oh ya, membereskan sampah. Chanyeol memperhatikan Kyungsoo lagi. Ada satu hal yang mengganggu pikirannya sedari tadi. Besok Kyungsoo masih harus bekerja bukan? Tapi jika dilihat dari kondisinya yang seperti ini sudah pasti dia akan kesulitan bangun besok pagi. Lebih baik ia mengurus Kyungsoo terlebih dulu, baru kemudian membereskan ruang tengah. Kalaupun tidak sempat, biar Baekhyun besok yang membantu Kyungsoo membereskannya. Toh besok Baekhyun tidak ada jadwal show.
Chanyeol memutuskan untuk mengambil air hangat di dapur, kemudian membawanya ke kamar Kyungsoo. Nah, ia butuh kain untuk membasuh wajah Kyungsoo. Chanyeol melangkah menuju kamar mandi di sudut kamar. Mungkin saja ia bisa menemukan sesuatu di sana. Ada sebuah handuk kecil yang tergantung di balik pintu. Chanyeol meraih handuk tersebut, mengecek apakah handuk itu cukup bersih untuk digunakan. Setelah ia yakin handuk itu bersih, Chanyeol segera mendekati Kyungsoo dan duduk di tepi ranjang. Kyungsoo masih terlelap. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun Chanyeol membersihkan wajah Kyungsoo menggunakan air hangat. Gerakannya sangat perlahan, karena ia tak ingin membangunkan Kyungsoo. Tapi tetap saja, meskipun ia sudah melakukannya dengan hati-hati, membasahi wajah orang yang sedang tidur akan membuatnya merasa tidak nyaman dalam tidurnya. Chanyeol berhenti bergerak, ikut tegang dengan situasi yang ia hadapi sekarang. Untungnya hanya sebentar, karena kemudian Kyungsoo tak bergerak lagi. Chanyeol menghela nafas lega, buru-buru menyelesaikan kegiatannya sebelum Kyungsoo akan benar-benar terbangun. Soal membasuh tubuh menggunakan air hangat pada saat mabuk, Chanyeol memang selalu melakukannya tiap ia minum. Menurutnya, hal ini cukup ampuh mencegah rasa pusing yang berlebihan saat bangun tidur besoknya. Mungkin saja hal ini juga akan bekerja pada Kyungsoo, siapa tahu?
Setelah selesai, Chanyeol meletakkan wadah air hangat dan handuk yang baru ia gunakan ke meja nakas. Ia tak langsung beranjak dari tempatnya duduk. Ia masih duduk di sana, matanya masih menatap lekat wajah Kyungsoo. Oh bukan... bukan wajah, tapi bibir. Bibir merah Kyungsoo. Chanyeol menelan ludahnya kasar, mendadak gugup hanya karena memperhatikan bibir Kyungsoo. Ia ingin sekali menyentuh bibir itu... bagaimana teksturnya...
Chanyeol mengulurkan tangannya, menyentuh bibir bawah Kyungsoo. Tidak puas hanya dengan menyentuh, ia mengelus kedua belah bibir Kyungsoo menggunakan ibu jarinya. Lembut sekali...
Dari bibir kini jari Chanyeol beralih mengelus pipi berisi Kyungsoo. Ia tersenyum miring melihat kedua pipi Kyungsoo yang memerah. Tapi sedetik kemudian ia berhenti. Bagaimana kalau Kyungsoo tiba-tiba terbangun dan tahu apa yang telah ia perbuat? Tapi... kalau dipikir lagi, memangnya apa yang telah ia perbuat? Ia tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Ia hanya mengelus pipi dan bibir Kyungsoo. Itu wajar kan, siapapun yang melihat kedua pipi dan bibir Kyungsoo sedekat ini pasti akan gemas dan melakukan hal yang sama.
Sudahlah... lebih baik ia pulang sekarang. Ini sudah terlalu larut. Ia ingin menginap saja sebenarnya, karena ia sendiri sudah cukup lelah. Hanya saja, ia harus memberi alasan apa jika besok pagi ibunya menginterogasinya? Juga ia harus mendengarkan keluhan ibunya yang menantinya semalaman. Itu bukanlah keluhan yang singkat, ngomong-ngomong. Ia pernah melakukannya dulu, dan sungguh ia tak ingin mengulangi menginap di rumah temannya tanpa ijin dari ibunya lagi.
Sebelum Chanyeol beranjak pergi, lagi-lagi ia menatap Kyungsoo. Salahkan pria yang lebih pendek darinya ini, mengapa ia memiliki wajah yang terlalu tampan sehingga membuat Chanyeol tak bisa berhenti mengaguminya. Dan sebut ia brengsek kali ini. Ia tahu ia sudah memiliki Baekhyun sebagai kekasihnya, tapi entah mengapa ada dorongan kuat di hatinya yang memintanya untuk mencicipi bibir Kyungsoo beberapa detik saja. Kyungsoo terlalu lelap tidur, ia tak akan mungkin menyadari ini. Kalaupun iya, apa yang bisa Kyungsoo pikirkan tentang ini? Pasti ia hanya akan menganggap ini sebagai bunga tidur.
Perlahan Chanyeol mendekatkan wajahnya hingga hidungnya bersentuhan dengan ujung hidung Kyungsoo. Ia bisa merasakan hangat nafas Kyungsoo yang menerpa wajahnya. Chanyeol memejamkan matanya, menempelkan bibirnya dengan bibir Kyungsoo. Selama beberapa detik ia tetap bertahan seperti itu. Namun ketika dirasa tak ada reaksi apapun dari Kyungsoo, Chanyeol mulai membuka mulutnya dan melumat bibir atas Kyungsoo. Hanya satu lumatan, dan itu sudah cukup membuat Chanyeol kehilangan pikirannya. Dengan penuh nafsu ia melumat kedua belah bibir Kyungsoo, lidahnya terjulur membasahi bibir Kyungsoo.
Chanyeol hampir menggigit bibir bawah Kyungsoo saat tiba-tiba terdengar lenguhan dari mulut pria itu. Spontan Chanyeol menjauhkan wajahnya. Kyungsoo masih memejamkan matanya, tapi jantung Chanyeol serasa berdentum karena gugup. Apa yang baru saja ia lakukan? Mengapa ia bisa mencium Kyungsoo? Demi Tuhan, Kyungsoo bahkan sahabat dari kekasihnya sendiri! Ia harus pergi sekarang juga, sebelum ia melakukan hal yang lebih jauh dari ini.
Chanyeol baru saja akan bangkit berdiri saat ia mendengar gumaman tidak jelas meluncur dari mulut Kyungsoo. Chanyeol membelalakkan matanya karena terkejut. Apalagi saat Kyungsoo menggumamkan nama yang sama untuk kedua kalinya.
Siapa Jongin?
To be continued...
-oO-タマサ-Oo-
2579 words, done!
Merry Christmas, guys!
Shoutout untuk Lovedudu1201, kimsoya, knowme, Ida Mujahidah, dan Guest (2) karena udah ngasih semangat buat saya di chapter sebelumnya.
Terimakasih untuk yang udah fav dan follow ini story...
Terimakasih untuk yang cuman baca aja...
Mind to review again?
See you next chapter!
Ciao!
