Aku akan sedikit beri ulasan tentang transplantasi donor hati. Berhubung pas aku baca review ada yang kebingungan.
jadi sebenarnya pendonoran atau transplantasi hati itu bisa dilakukan oleh pendonor yang sudah mati (mayat) ataupun yang masih hidup. Nah biasanya jika pendonor dari orang yang masih hidup, hati yang diambil tidak boleh dari 60%. jadi hati yang tinggal 40% itulah yang akan tumbuh kembali hingga menjadi hati yang normal. Biasanya butuh waktu beberapa bulan sampai tahun agar hati kembali pada volume yang normal. Jadi meskipun seseorang telah menyumbangkan hatinya, ia akan tetap hidup dan bisa beraktifitas seperti orang normal lainnya.
Kembali ke story : sebanarnya syarat mutlak untuk melakukan tranplantasi hati itu selain hatinya cocok dengan si penerima, si pendonor juga harus dalam keadaan sehat sehingga tidak mengancam jiwanya. Yah berhubung saya suka menyiksa chara apalagi itu naruto #langsung dirasenggan , jadi saya membuat operasi yang tidak boleh menjadi boleh #senyum ibli, seharusnya itu kabuto dan tim medis lainnya yang terlibat dalam operasi harus dipenjara, karna itu adalah tindakan kriminal. tapi biarlah itu menjadi rahasia #penulis gablek, udah lu bongkar juga masih dibilang rahasia
Oh ya, thanks banget yg udh komen tentang cara penulisan aku di story ini. Kritikan itu membangun dan Semoga aku bisa lebih baik. Yosh…..aza-aza fighting #salah fandom
Disclaimer : Masashi Kishimoto
FF : Aries Fanfiction
Genre : Drama, Romance, Hurt/comfort, Family
Rate : T-M
Pairing : SasuNaru, GaaNaru
Warning
Lemon, Boys Love, Typo, OOC, tak sesuai EYD
cerita ini hanya fiktif dengan meminjam beberapa chara dalam anime/manga Naruto milik Masashi Kishimoto sensei. maaf jika tulisan ini masih acak-acakan karna saya bukanlah seorang penulis yang profesional tapi, ingin terus belajar untuk menjadi penulis prefesional. cerita ini khusus dipersembahkan untuk para fudanshi dan fujoshi. jika kalian bukan kategori tersebut, mohon jangan dilanjutkan untuk membaca cerita ini. sekian dan terimakasih.
.
.
.
Begitu pelajaran terakhir selesai, Naruto segera keluar dari kelasnya, berjalan dengan tergesa-gesa agar bisa secepatnya sampai di gedung tempat anak kelas tiga berada.
Hari ini, sepulang sekolah, Gaara sudah berjanji akan menemaninya pergi ke makam Kankuro. Padahal baru kemarin ia mendatangi makan kakak laki-laki Gaara itu, tapi tak pernah sekalipun terbesit rasa bosan dihatinya. Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bercerita dengan seseorang yang tak pernah lagi terlihat raganya juga bukan suatu hal dianggap konyol olehnya. Dia yakin, dialam manapun Kankuro berada, cowok itu pasti bisa melihat dirinya dan mendengar suaranya.
Berdiri di luar kelas anak kelas tiga –lebih tepatnya kelas Gaara yang juga merupakan kelas Sasuke— Naruto mengedarkan pandangannya ke setiap sudut dalam ruangan itu. Mencari sosok laki-laki berambut merah dengan tato 'ai' dikeningnya.
"mencari Sasuke, Naruto?"
"sen— arrrggh" Naruto yang kaget melihat wajah Shikamaru yang tiba-tiba berada disampingnya langsung reflek menghindar kesisi berlawan, membuat kepalanya terantuk pada dinding yang ada disampingnya
"kau tidak apa-apa? Maaf aku mengangetkanmu?" ucap Shikamaru meraasa bersalah
"ah tidak apa-apa senpai. Aku saja yang terlalu ceroboh"
Shikamaru tersenyum mendengar ucapan Naruto, dengan gemas….diacaknya surai pirang adik temannya itu "benar apa yang dibilang Sasuke, kau itu ceroboh" gumamnya pelan
"eh? Senpai mengatakan sesuatu?" Naruto mengernyitkan dahi, bingung dengan apa yang dikatakan Shikamaru karna ia tak terlalu jelas mendengar kata-kata nya tadi
Shikamaru hanya menggeleng menjawab pertanyaan Naruto "Sasuke masih dilapangan basket, tadi pelatih memanggilnya, sebentar lagi dia pasti akan datang" ucap Shikamaru menjelaskan dimana keberadaan Sasuke
"hmmm….aku bukan mencari nii-san, senpai" Naruto menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal. Bibirnya tiba-tiba terasa kelu saat kedua mata kuaci milik Shikamaru memandangnya begitu lekat. Membuat hatinya diliputi keraguan apakah harus berkata jujur atau malah sebaliknya. Permusuhan antara kubu Gaara dan kubu Sasuke sudah menjadi rahasia umum disekolah ini, dan sekarang….ia yang menyandang status sebagai adik Sasuke malah datang untuk mencari rival abadi sang kakak. Bisa dipastikan sebutan 'penghianat'akan ia sandang dalam waktu singkat
"apa kau mencari orang lain?" Shikamaru semakin dibuat penasaran saat melihat Naruto menganggukkan kepalanya "siapa?"
"Oiiii…naru-chan" Deidara, cowok pirang dengan paras manis itu merangkul Naruto dengan erat dari belakang, tak menyadari bahwa kedua tangannya yang melingkar dileher naruto membuat nafas cowok itu sesak
"sen…pai, to…tolong lepaskan a…aku" ucap Naruto terbata. dengan susah payah segera dienyahkannya kedua tangan Deidara yang melingkar dilehernya
"hehehe….gomenne naru-chan" ucap Deidara terkikik geli melihat wajah Naruto yang memerah
Naruto mendengus kesal saat mendengar panggilan deidara kepadanya. Sudah berulang kali ia katakan jangan memakai embel-embelan chan pada namanya. Panggilan itu sungguh membuatnya risih.
"senpai, jangan memanggilku dengan kata chan lagi. aku tak suka mendengarnya" protes Naruto, dengan wajah serius, ditatapnya Deidara tajam. Menegaskan bahwa ia sungguh-sungguh dengan ucapannya
"aku menolak. Aku suka memanggilmu begitu" tolak Deidara tegas dengan kedua tangan terlipat didepan dada
"senpai!" sepasang sapphire itu berkilat kesal saat mendengar jawaban teman Gaara tersebut
tapi tetap, bagaimanapun membunuhnya tatapan kedua mata milik Naruto itu, Deidara tetap bersikeras untuk tidak akan terpengaruh sama sekali. Malah sebuah kedipan jahilpun kini ia layangkan pada si pirang uchiha itu "kau mencari Gaara bukan?" ucap Deidara kemudian "dia menunggumu di bawah. Pergilah, dia sudah dari tadi disana"
tanpa mempedulikan keberadaan Deidara, Naruto berbalik, kembali menatap Shikamaru untuk pamit secara sopan pada cowok itu sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan tempat tersebut
.
.
.
berdiri bersandar pada badan loker di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada, Gaara menatap lurus kedepan, tak hayal sebuah senyuman tipis hadir di paras menawan miliknya saat melihat sosok si pirang yang ia tunggu sejak tadi berjalan mendekat kearahnya.
"kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Gaara saat Naruto sudah berdiri didepannya
"mood ku lagi jelek gara-gara Deidara senpai" jawab naruto ketus.
"ada apa lagi, hmm….?" Naruto hanya memutar bola matanya sebagai tanda bahwa ia benar-benar kesal, lalu berjalan keluar gedung tanpa memperdulikan pertanyaan Gaara tadi
"hei Naru, ada apa? Hei tunggu…." dengan tergesa-gesa Gaara membuka pintu loker miliknya agar ia bisa mengganti baju olah raganya yang basah oleh keringat dengan kaos putih polos yang ia simpan di dalam loker. Setelah melempar asal baju olah raganya kedalam loker dan menutup kembali pintu besi itu, ia langsung menyusul Naruto yang sudah berjalan jauh didepan
"ada apa?" kembali Gaara bertanya saat ia berhasil menyusul naruto, berjalan tepat disamping si pirang
"aku tidak suka Deidara senpai menambahkan kata chan dibelakang namaku. Aku bukan anak perempuan. Kenapasih dia tak pernah mau mendengarkan ucapanku" Mendengar keluhan itu sontak membuat tawa Gaara pecah seketika
"kenapa senpai malah tertawa!" bentak Naruto kesal, merasa tak terima
"itu yang dinamakan karma, kau sendiri juga tak pernah mendengarkan ucapanku"
"memangnya kapan aku tak pernah mendengarkan senpai?" Naruto hanya memandang Gaara dengan wajah polos, benar-benar tak tahu dimana letak kesalahannya
"kau ini" sebuah pukulan yang tak terlalu kuat Gaara berikan pada puncak kepala sipirang didepannya itu
"ittai….senpai, kenapa kau tiba-tiba memukul ku?" rintih Naruto sambil memegang kepalanya yang menjadi korban kekejaman Gaara
"Gaara…,panggil namaku tanpa kata-kata senpai lagi. Bukankah sudah kuperingatkan kau berkali-kali tentang hal itu Naruto"
"kau….!" Maki Naruto tertahan. Lau dipandanginya daerah sekitar, waspada jika ada orang yang mendengar ucapan tak sopannya barusan. Merasa tak ada seorangpun yang mendengar, kembali ditatapnya Gaara tajam
"kau gila ya?! Mana mungkin aku hanya memanggil namamu saja! Aku akan mendapat masalah jika melakukan itu" sebisa mungkin Naruto meredam volume suaranya agar kalimat yang ia ucapkan hanya didengar oleh Gaara
"dasar uchiha, selalu saja penuh sopan santun dalam bersikap di depan banyak orang" desisnya geram "oke, aku paham alasanmu jika kau tidak bisa melakukan itu disekolah. Tapi diluar sekolah, kenapa tetap memanggilku senpai, hmm…."
"itu karena aku tidak mau nantinya keceplosan disekolah. Ahh…sudahlah" Naruto mengacak surai pirangnya frustasi, pergi meninggalkan Gaara begitu saja
"kau mau kemana Naruto? Mobilku ada diparkiran" teriak Gaara saat dilihatnya Naruto berjalan kearah gerbang sekolah, bukannya kearah parkiran tempat mobilnya berada. sadar Naruto marah padanya, Gaara langsung mengejar si bungsu uchiha itu
"oke, aku minta maaf. Kita pergi ke makam Kankuro sekarang" ditariknya tangan Naruto untuk kembali ke parkiran tapi langsung ditepis kasar oleh cowok itu
"aku bisa pergi sendiri!" tolak Naruto tegas
"tidak, aku akan mengantarmu" kembali diraihnya tangan Naruto, namun sekali lagi sipirang itu kembali menepisnya
"aku bilang aku bisa pergi sendiri!"
Gaara menghela nafas berat. Menghadapi sikap Naruto yang kekanakan terkadang memang membutuhkan kesabaran yang ekstra baginya
"aku benar-benar minta maaf Naruto" ucapnya sungguh-sungguh, namun si pirang masih saja betah memalingkan wajah, tak mau menatap kearahnya "bagaimana jika ku traktir kau ramen ichiraku sebagai permintaan maaf" bujuk Gaara yang ia yakin akan meluluhkan hati Naruto
"Kalau begitu aku ramen daging porsi jumbo"
Gaara tersenyum saat mendapati umpannya berhasil ditangkap "tidak, porsi biasa saja. belakangan ini kau terlalu banyak memakan makanan itu"
"karna senpai menolak, sekarang aku mau dua porsi jumbo ramen ichiraku, kalau tidak aku tak mau memaafkanmu dan aku akan pergi kemakam sendirian saja" ancam Naruto
"kau mengancamku bocah?!" Gaara mendekatkan wajahnya kearah Naruto, berusaha untuk menekan cowok itu agar merubah keputusannya
"kenapa? Apa ada masalah?!" tak mau kalah, Naruto juga mendekatkan wajahnya, balik menantang Gaara
DEG!
'Sial!'Rutuk Gaara dalam hati. untuk yang kesekian kalinya, lagi-lagi entah mengapa jantungnya kembali berdetak dengan cepat, dan itu selalu terjadi saat dirinya dan Naruto berada dalam jarak yang sangat dekat, seperti sekarang.
"NARUTO!" teriak seseorang yang membuat keduanya terlonjak kaget
.
Sasuke yang sejak tadi berdiri ditengah lapangan basket hanya diam mematung saat melihat dua orang yang terus menjadi fokus objek kedua matanya.
Bukannya tak tau apa-apa, hanya saja selama ini Sasuke memilih untuk berpura-pura tak tau tentang kedekatan adiknya dan sabaku gaara belakangan ini
Hampir setiap hari ia melihat Gaara datang dan pergi menjemput Naruto dikediaman rumahnya, lalu keduanya pergi entah kemana dan pulang ketika hari sudah malam, dan Sasuke memilih diam untuk itu. Ia juga sering mendapati Gaara dan Naruto saling bercerita dengan akrab, tertawa bersama, bahkan dua hal itulah yang sangat ia impikan terjadi bersama dengan sang adik namun tak pernah sekalipun terwujud, dan lagi-lagi ia memilih untuk diam.
Tapi tidak seorangpun tau, termasuk kedua teman karibnya sekalipun, bahwa dibalik ketenangan sempurna dan aksi diam yang selama ini sasuke perlihatkan, sebenarnya cowok itu merasa dadanya hangus terbakar. Kecemburuannya Tumpah dalam bentuk letupan lahar.
"Sasuke…"panggil Sai yang berdiri disamping teman yang dipanggilnya itu "apa tidak apa-apa membiarkan mereka terus seperti itu?" ucapnya melihat kearah Naruto dan Gaara yang berdiri cukup jauh didepan mereka
"mereka hanya mengobrol" jawab Sasuke sekenanya, karna memang hanya itulah yang ia lihat.
'kenapa dia masih bisa bersikap setenang itu sih' batin Sai sambil menatap kearah sasuke yang berjalan ke pinggil lapangan .
Sai kembali melihat kedepan, tempat dimana Naruto dan Gaara berdiri tadi "a…apa yang mereka lakukan!" Sai kontan menegang saat melihat pemandangan yang ada didepan matanya. Dalam konteks pandangan yang terbatas, berada jauh dibelakang Gaara dan Naruto, ia melihat kedua cowok itu berada dalam jarak yang tidak wajar, sehingga sebuah asumsi yang terlintas diotaknya saat itu juga langsung terucap dengan spontan "mereka berciuman?"
Dua kata terakhir yang Sai ucapkan sontak membuat langkah Sasuke terhenti. Tubuhnya seketika menggigil, menahan Ketakutan untuk membuktikan kebenaran dari kata yang didengarnya barusan.
Saat tubuh professional Sasuke berbalik, menatap kedepan, kearah yang sama dengan yang dilihat Sai….Benar saja! Asumsi yang ia pikirkan sama.
Dan hal itu membuatnya marah, Berakhir dengan hancurnya ketenangan sempurna yang ia perlihatkan selama ini. Tanpa buang waktu, Sasuke segera berlari kearah depan gerbang, ke tempat dimana Naruto dan Gaara berada
"NARUTO!" teriak Sasuke berlari mendekati adiknya. Gelegar suaranya bukan hanya mampu membuat Naruto dan Gaara terlonjak kaget, tapi semua yang ada disitu juga kaget mendengar teriakan kemarahan anak sulung uchiha tersebut.
Naruto seketika pucat. Meskipun kali ini ia tidak tahu dimana letak kesalahannya, melihat mimik wajah Sasuke yang mengeras dan merah membuatnya cukup tahu bahwa kakaknya itu sedang marah besar padanya
"KITA PULANG!" bentak Sasuke ketika sampai dihadapan Naruto. ditariknya satu tangan sang adik dengan kasar, tak peduli raut kesakitan yang begitu terlihat jelas diwajah cowok pirang itu
"apa-apaan kau!? Kenapa begitu kasar padanya!?" bentak Gaara jadi ikutan marah, tak terima melihat perlakuan kasar Sasuke pada Naruto
Kedua onyx Sasuke menatap nyalang sepasang emerald didepannya, siap melayangkan tinjunya pada Gaara. Tapi ia batal memperpanjang masalah karena sekarang mereka telah menjadi tontonan gratis. Ditatap berpasang-pasang mata dari segala penjuru.
"kita pulang Naruto" kembali ditariknya tangan Naruto yang memang sejak tadi tak pernah ia lepas. Kali ini Naruto memilih untuk diam dan menurut saat Sasuke menyeretnya masuk kedalam mobil
Berada dalam kursi pengemudi mobil miliknya, Gaara mengikuti kepergian mobil Sasuke saat melewati gerbang sekolah dengan sepasang mata yang dipercik api kebencian. Dan tanpa sepengetahuan Sasuke, mobil sport merah milik gaara mulai mengejarnya dibelakang
mobil milik Gaara meliuk tajam, berusaha mencari jalan ditengah padatnya lalu lintas jalanan Tokyo, memanfaatkan beberapa celah yang terbuka, memotong laju mobil yang berada didepannya, tak diperdulikannya raungan klakson kemarahan dari setiap pengemudi mobil yang berhasil ia terobos.
Memanfaatkan ruas jalan yang sesaat lengang, mendadak Gaara menggas total mobilnya lalu melesat mengambil celah kosong disamping mobil milik Sasuke, lalu membanting stir kearah kanan, tepat mengenai badan mobil Sasuke
Sasuke dan Naruto terlonjak kaget saat merasakan hantaman keras pada bagian kiri badan mobil. Belum sempat keduanya tersadar sepenuhnya dengan apa yang terjadi, suara keras yang memekakkan telinga kembali terdengar
PRANGGG!
Suara dentingan pecahan kaca yang berjatuhan ke aspal jalan membuat Sasuke sadar bahwa ia telah kehilanan spion kiri mobilnya. Saat ia menoleh kesamping, mencari tahu siapa orang yang telah berbuat kurang ajar pada mobilnya, didapatinya sepasang emerald milik gaara menatap tajam kearahnya.
"BRENGSEK!" umpat Sasuke geram, segera diturunkannya kaca jendela yang ada disampingnya
"MINGGIR!" teriak Gaara keras dari dalam mobilnya "KUBILANG MINGGIR, BANGSAT!" teriakan kemarahan itu kembali terlontar, berakhir dengan dibantingnya sekali lagi stir kearah kanan, membuat bagian kanan mobilnya kembali menghantam badan kiri mobil Sasuke
Sasuke menggertakkan gerahamnya. Kemarahannya semakin menjadi saat mendengar ucapan kasar Gaara. Lima menit kemudian, Sasuke menghentikan mobilnya ditepi sebuah jalan yang tak begitu banyak dilalui kendaraan.
"diam dan tetap tunggu di mobil. Jangan turun!" perintah Sasuke pada Naruto, ia segera membuka pintu dan turun dari dalam mobil, menghampiri Gaara yang telah terlebih dulu turun dari mobilnya. kemudian diikutinya cowok itu dari belakang, berjalan menuju bagian bawah jembatan yang membentang di atas sungai, tempat yang berada jauh dari tepi jalan dimana mobil mereka terparkir tadi
BUUUGGH
Dengan keadaan yang belum siap, Sasuke menerima pukulan keras Gaara tepat mengenai rahangnya, membuat tubuhnya jatuh tersungkur ke belakang
Kedua emerald itu berkilat tajam, bahkan pukulan keras yang baru saja dilayangkannya ke tubuh putra sulung uchiha Fugaku itu ternyata belum cukup meredam emosinya. Kembali dilukainya tubuh didepannya itu, memberi satu tendangan keras di perut Sasuke
Sasuke mengerang tertahan dengan kedua tangan memegang perut yang menjadi sasaran hantaman kaki Gaara barusan "bajingan kau Gaara" umpatnya marah
"kaulah yang bajingan disini uchiha?! berapa banyak wanita yang kau kencani kemudian kau buang mereka layaknya sampah setelah kau merasa bosan dengan mereka? Sepuluh? Dua puluh? Atau mungkin lebih?"
Sasuke menatap Gaara tak mengerti "apa maksud…..aarrggh….." si raven mengerang kesakitan saat kaki yang berdiri disamping tubuhnya itu kembali menghantam perutnya ditempat yang sama
"kalau bukan karna Naruto, aku pasti sudah membunuhmu saat ini juga, karna memang itulah yang ingin kulakukan sejak tiga tahu yang lalu"
Kedua rahang tegas milik Sasuke terkatup kuat saat Gaara menyebut nama adiknya itu. Bayangan saat kejadian di sekolah tadi kembali membuat dadanya menggelegak marah. Dengan kuat, ditariknya kedua kaki Gaara yang berada didekatnya hingga membuat tubuh cowok yang memiliki tato kanji dikeningnya itu terhempas ditanah
"aku tanya apa maksud dari kata-kata yang kau ucapkan tadi, brengsek!" Sasuke meninju tubuh Gaara yang terbaring dibawah tekanan lutut dan lengannya
Gaara terbatuk, nafasnya terengah karna tekanan kedua lutut Sasuke di atas dadanya. Kedua matanya menatap wajah kalap Sasuke yang ada diatas tubuhnya, memaku tepat pada onyx yang tengah menatapnya bingung, dan kebingungan Sasuke itu sontak memecah tawanya seketika
Sebelah alis Sasuke terangkat, dahinya mengernyit bingung saat melihat tawa Gaara yang benar-benar tak ia pahami. Memang dimana letak kelucuan dalam kata-katanya tadi?
Sasuke mulai jengah saat Gaara tak juga menghentikan tawanya, entah kenapa ada perasaan tak nyaman menyelimuti hatinya saat memandangi kedua emerald dihadapannya itu, ada kesedihan, luka, dan juga kemarahan yang begitu besar dalam pancaran sinarnya
"DIAM!" maki Sasuke dengan memberikan satu pukalan keras diwajah Gaara dan berhasil membungkam tawa menyebalkan itu
dalam hening yang datang begitu tiba-tiba, kedua pasang iris berbeda warna ini saling menatap satu sama lain
"aku muak….benar-benar muak melihat tampang tak berdosa mu itu, SASUKE!" ucapnya marah "padahal kau adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab untuk sesuatu yang terjadi tiga tahun yang lalu. Sesuatu yang membuat hancur hidup orang lain"
Sasuke terdiam, otaknya kembali memproses ulang kata demi kata yang Gaara ucapkan. 'sesuatu yang terjadi tiga tahun yang lalu? Sesuatu yang membuat hancur hidup orang lain?' ulangnya dalam pikirannya
Sasuke tersentak, kedua matanya seketika terbelalak, menatap Gaara dengan ketakutan yang begitu kentara "t—tidak mungkin….bagaimana k—kau…."
BUUUGGH
Satu tendangan keras langsung dilayangkan Gaara tepat didada Sasuke, dan hal itu cukup membuat tubuh cowok itu terpental kebelakang, sukses menghantarkan punggung miliknya menghantam keras dinding beton bawah jembatan.
Gaara segera bangkit, menghampiri tubuh Sasuke yang tergeletak lemah akibat tendangannya tadi, dicengkramnya bagian depan seragam Sasuke kasar "Ino itu temanku dari kecil….BAJINGAN!" teriaknya kalap. Dipukulnya Sasuke bertubi-tubi hingga hatinya puas, sampai rasa sesak didanya berkurang.
Dalam ketidak berdayaan akan rasa sakit yang ia rasakan disekujur tubuhnya, Sasuke tetap berusaha mempertahan kesadarannya. Tak ada niatan untuk membalas pukulan-pukulan itu sedikitpun pada Gaara, karna ia memang pantas menerima itu semua. Sasuke kembali terpuruk karna dengan paksa Gaara telah membawanya pada masa kelam dalam hidupnya tiga tahun yang lalu
"satu tahun Sasuke….dan ternyata kebersamaan kita selama ini hanyalah sebuah kebohongan yang kau ciptakan untuk menutupi perasaanmu yang sebenarnya. Kita akhiri saja hubungan ini. Aku tak mau terus menerus menjadi bayang-bayang dari orang yang kau cintai"
...
"ya! Memang akulah yang menyebarkan berita tentang adikmu itu pada media! Kalau kau ingin membunuhku saat ini juga….silahkan. aku akan benar-benar berterima kasih padamu jika kau melakukan itu"
….
"tak ada yang harus kau pertanggung jawabkan Sasuke, karna bukan kaulah ayah dari bayi yang ku kandung saat ini. Pergi, jangan pernah menemuiku lagi dan mengucapkan kata-kataa bodoh itu lagi. aku tak butuh belas kasihan darimu"
"sekarang kau tahukan kenapa selama ini aku membencimu padahal kita baru bertemu saat upacara penerimaan siswa baru waktu itu" ucap Gaara dingin
"naruto…." Sasuke tersentak dari lamunannya akan masa lalu saat Gaara menyebut nama orang yang dicintainya itu
"jika sekali lagi aku melihat kau atau ayahmu menyakitinya, akan kupastikan uchiha kehilangan hak asuh sebagai keluarga angkatnya" ucap Gaara dingin lalu pergi begitu saja meninggalkan Sasuke yang masih terkapar ditanah
Tubuh Sasuke menegang saat mendengar kalimat terakhir Gaara tadi. Ia ingin berteriak, memanggil nama Gaara agar cowok itu menghentikan langkahnya dan menjelaskan padanya kenapa ia bisa tahu tentang hal itu.
entah mendapatkan kekuatan dari mana, tiba-tiba Sasuke berdiri, berjalan tertatih dengan memegang kepalanya yang benar-benar terasa pening, tak juga ia peludikan rasa nyeri dari setiap luka-lukanya. Namun langkahnya terhenti saat pikirannya berkata bahwa 'Naruto' sendirilah yang memberitahu Gaara tentang masalah itu mengingat seberapa dekatnya hubungan keduanya akhir-akhir ini.
Saat rasa pening dikepalanya semakin terasa hebat, akhirnya Sasuke menyerah dan menghentikan usahanya mengejar Gaara, membiarkan tubuhnya tergolek pasrah di tanah
Sebelah tangan Sasuke terulur mengambil ponlsel miliknya di saku celana "Shikamaru….."
dalam percakapan itu, Sasuke meminta temannya itu untuk datang menjemputnya karna dia merasa tak sanggup untuk berdiri tanpa bantuan orang lain dengan keadaannya saat ini
.
.
.
Awalnya, Naruto marah besar pada Gaara saat cowok itu mengatakan ia habis berkelahi dengan Sasuke hingga babak belur. Dia memberontak dan terus memaki cowok itu dengan sumpah serapah saat dirinya ditarik paksa keluar dari mobil Sasuke dan memaksanya masuk kedalam mobil cowok itu.
Gaara menyerah dan menghentikan mobilnya di tepi jalan, ia tak ingin membahayakan nyawa cowok pirang yang duduk disamping kursi pengemudinya hanya karna dirinya kehilangan konsentrasi saat menyetir yang disebabkan oleh teriakan-teriakan marah Naruto dan terus meminta turun dari dalam mobilnya. akhirnya Gaara mengatakan alasan sebenarnya kenapa ia berbuat seperti itu pada Sasuke, ia tak ingin Naruto kembali membencinya seperti dulu.
Naruto terpekur dalam tunduknya, sosok itu mendadak menjelma menjadi arca disamping Gaara setelah ia mendengar cerita cowok itu tentang permasalahan Sasuke dan Ino tiga tahun yang silam secara garis besarnya saja. ya…cerita yang hanya sebatas Gaara tahu saja, dimana waktu Sasuke dan Ino menjalin kasih, lalu hari dimana saat gadis itu datang pada Gaara dalam tangis yang hebat tanpa bercerita sedikitpun tentang apa yang terjadi padanya, sampai dimana hari saat Gaara tahu kalau Ino masuk rumah sakit karna percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh gadis dari keluarga yamanaka tersebut. hingga satu kenyataan lagi yang benar-benar membuat Naruto hancur mendengarnya, gadis itu hamil, dan kemungkinan besar anak yang dikandungnya adalah anak Sasuke, orang yang ia cintai dengan menahan seluruh rasa sakit dihatinya selama ini.
"ini bohongkan? ini hanya sebuah leluconkan?" tanya Naruto menahan perih sambil kembali menatap kearah Gaara. ada sebuh permohonan dalam nada suara itu, berharap bahwa ia akan mendengar kata 'ya' atau paling tidak anggukan dari cowok yang ada dihadapannya itu
Gaara tercekat, dadanya tiba-tiba terasa perih saat melihat sorot luka di kedua sapphire Naruto "naruto…."
"bayi itu….apa benar-benar anak Sasuke-nii? Apakah Ino mengatakannya padamu?" Tanya Naruto memotong ucapan Gaara
"aku tidak tahu Naruto, Ino tak pernah mengatakan apapun tentang itu"
"lalu dimana dia sekarang?"
Gaara diam sejenak, kedua matanya kembali menatap kearah jalan didepannya "entahlah, dia menghilang begitu saja tak lama setelah aku menemuinya dirumah sakit waktu itu"
Naruto kembali tak bersuara, ditundukkannya kembali kepalanya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan air mata yang mungkin akan jatuh kembali. Sekarang ia tahu alasan kenapa Sasuke terlihat terpuruk dan selalu mengurung dirinya di dalam kamar saat tiga tahun yang lalu
'Sebegitu besarkah cinta nii-san untuk gadis bernama Ino itu?' tanyanya dalam hati
"Naruto…."panggil Gaara pelan, digenggamnya satu tangan Naruto
Naruto menarik tangannya dalam genggaman Gaara, kepalanya yang masih menunduk membuatnya tak tahu bagaimana terkejutnya wajah Gaara saat ia menolak genggaman tangan cowok itu "aku ingin pulang"
"naruto….apa kau…."suara Gaara terputus, tak yakin dengan hal yang akan ia tanyakan pada Naruto. tapi sejak tadi hatinya begitu resah entah karna apa, ada perasaan tak suka saat melihat sapphire itu terluka saat mendengar hubungan Sasuke dan Ino darinya "kau mencintai sasuke?" tanyanya hati-hati
Tubuh Naruto tersentak, kesepuluh jarinya saling meremas gelisah saat mendengar pertanyaan Gaara "a—aku….aku…." ucapnya terbata, lalu diam tanpa pernah menyelesaikan kata-katanya
Gaara tersenyum pahit, seperti ada sesuatu melukai dadanya saat mendapati ketakutan dalam suara itu. bahasa tubuh yang ditunjukkan naruto sudah lebih dari cukup untuk membuatnya tahu bagaimana perasaan Naruto yang sesungguhnya untuk Sasuke, dan ia tak menyukai kenyataan itu
.
.
.
Kedua onyx milik Sasuke berkilat marah saat menatap jauh kearah luar dari tempat duduknya yang ada di ruang tengan mansion milik keluarganya, tubuhnya mati rasa, tak lagi ada rasa sakit yang ia rasakan saat kulit putih pucatnya yang penuh luka itu sedang diobati oleh teman berambut nanasnya—Shikamaru. dia terus memandangi sosok laki-laki dengan surai emasnya yang baru saja turun dalam mobil merah yang ia tahu betul milik siapa –Gaara. Bahkan saat sosok si pirang itu mulai melangkah masuk kedalam mansion, hingga pandangan mereka saling beradu, tatapan tajam yang sarat akan kemarahan dalam sinarnya terus ia hujamkan pada manik sapphire itu.
Naruto mengepal kedua tangannya kuat-kuat, tak diidahkannya rasa sakit saat kuku-kuku jarinya mulai tertancap dalam pada kulitnya, rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa sakit dihatinya saat mendapati tatapan tajam di kedua onyx yang begitu dipujanya sejak pertama kali menginjakkan kaki di mansion itu, tak pernah sekalipun onyx milik laki-laki itu menatapnya hangat, hanya kebencian dan kemarahan yang selalu diperlihatkan padanya.
'apa salahku nii-san? sebegitu bencinya kau dengan keberadaanku" jerit batinnya menangis.
Naruto segera memutus kontak mata diantara mereka, berjalan menuju anak tangga yang berada tak jauh dibelakang sofa tempat Sasuke dan Shikamaru duduk.
"kenapa kau mengatakan hal itu pada Gaara?" Tanya sasuke tiba-tiba, dipandanginya Naruto yang langsung menghentikan langkahnya
"KENAPA KAU CERITAKAN MASALAH ADOPSI ITU PADA GAARA!" teriaknya kalap
Naruto terlonjak kaget mendengar teriakan Sasuke, jantungnya berdegup kencang saat lagi-lagi Sasuke kembali membentaknya seperti itu
"aku tidak pernah mengatakan hal apapun padanya"
"terus bagaimana dia bisa tau?!"
"aku tak tau nii-san" ucap Naruto menggelengkan kepalanya
"JANGAN BOHONG!" Sasuke kembali berteriak
Shikamaru yang melihat wajah pucat Naruto merasa kasihan dan ia mencoba menenangkan Sasuke agar tak terlalu bersikap keras pada adiknya itu "Sasuke kendalikan emosimu, bukan seperti ini caranya menyelesaikan masalah"
"sungguh….aku tak mengatakan hal apapun padanya nii-san" ulang naruto lagi
"NGAAK MUNGKIN!" Sasuke menendang meja didepannya hingga membuat pajangan-pajangan Kristal diatasnya jatuh dan pecah menghantam lantai
"tuan muda Naruto, anda sudah….."ucapa Iruka terhenti saat melihat ruangan tengah mansion dipenuhi pecahan kaca kristal yang berserakan dilantai "ada apa ini?" tanyanya bingung
Tak ada satupun yang bersuara untuk menjawab pertanyaan kepala pelayan yang telah bertahun-tahun mengabdikan dirinya pada keluarga uchiha tersebut
Iruka kembali mengalihkan perhatiannya pada Naruto "tuan muda, Fugaku-sama sedang menunggu anda diruang kerjanya. Beliau ingin bicara dengan anda"
"otou-san sudah pulang?" Tanya Naruto pada Iruka
"ya, beliau baru sampai tadi pagi"
"baiklah" Naruto memandang Sasuke sebentar, lalu segera pergi menuju ruang kerja ayahnya
Sasuke memandang heran Iruka saat ia melihat kepala pelayan itu terus menatap Naruto dengan pandangan khawatir "ada apa Iruka? Apa telah terjadi sesuatu?" Tanya Sasuke curiga
"tadi pagi Fugaku-sama mendapat telfon dari sekolah. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya telfon itu ada hubungannya dengan tuan muda Naruto" jelas Iruka pada Sasuke
Sasuke tersentak, ada perasaan khawatir saat mendengar kata-kata Iruka barusan. Sasuke segera bangkit dari duduknya namun tubuhnya tiba-tiba limbung saat rasa pusing kembali menyerang kepalanya. Shikamaru yang berada di samping Sasuke segera menahannya sebelum tubuh itu kembali jatuh terduduk
"kau tidak apa-apa?" tanya Shikamaru
"tak apa-apa, hanya sedikit merasa pusing"
"kau yakin?" Tanya shikamaru sekali lagi
Sasuke hanya mengangguk menjawab pertanyaaan shikamaru "iruka, bantu aku berjalan. Kita keruang kerja otou-san sekarang"
Shikamaru menggeser tubuhnya, membiarkan kepala pelayan uchiha tersebut menggantikan posisinya disamping Sasuke "kalau begitu aku pulang" pamitnya, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut
.
.
.
PLAKKK
Tak lagi bisa mengendalikan emosinya, uchiha Fugaku melayangkan satu tamparan keras pada anak bungsunya tanpa memberi kesempatan bagi Naruto untuk bicara.
Pagi ini Fugaku baru kembali dari luar negri setelah meninggalkan keluarganya berminggu-minggu untuk urusan bisnis. Perjalanan berjam-jam di pesawat membuatnya lelah, namun saat ia ingin beristirahat dengan tenang di mansionnya, sebuah telfon dari pihak sekolah yang mengabarkan tentang perilaku anak bungsunya itu disekolah langsung menyulut kemarahannya. Bahkan laporan itu lebih parah dari sebelumnya saat ia dipanggil kesekolah karna naruto terlibat perkelahian dengan para seniornya. Kali ini kesalahan naruto yang didengarnya adalah membolos saat jam pelajaran sekolah serta berlaku tidak sopan pada salah satu senseinya.
"sampai kapan kau akan mempermalukan nama besar keluarga ini Naruto!" bentak Fugaku, sebelah tangannya kembali teracung keatas hendak menampar Naruto kembali, tapi sebuah teriakan langsung menghentikannya
"OTOU-SAN, CUKUP!" teriak Sasuke diambang pintu dengan Iruka yang berada disamping si sulung uchiha tersebut. Keduanya terkejut saat melihat kepala keluarga uchiha tersebut menampar Naruto dengan begitu keras
Sasuke melepaskan tangannya dari bahu Iruka yang sejak tadi menopang tubuhnya. Perlahan, ia mendekat kearah ayah dan adiknya "kenapa menampar Naruto? apa kesalahannya?"
"ada apa dengan wajahmu, kau berkelahi?" tanya fugaku balik saat ia melihat beberapa luka lebam diwajah Sasuke
"jangan mengalihkan pembicaraan otou-san!" ucap sasuke
"apa kau telah tertular tabiat buruk Naruto, Sasuke?" tuduh Fugaku "kau ku sekolahkan bukan untuk menjadi seorang preman seperti adikmu!"
"OTOU-SAN!" bentak Sasuke tak terima saat ayahnya menyalahkan Naruto
"JANGAN MEMBENTAKKU SASUKE!" balas Fugaku yang terbawa emosi
Naruto memandang kosong pada lantai dibawahnya, jantungnya seperti tercabik-cabik saat mendengar tuduhan sang ayah padanya, dia ingin menjerit dan menumpahkan seluruh isi hatinya…tapi tak bisa, dia tahu suaranya tak akan pernah didengar di dalam keluarga ini….sama seperti Sembilan tahu yang lalu. Mendengar pertengkaran kedua orang yang disayanginya semakin memanas karna dirinya, membuat butiran sebening Kristal itu tak lagi mampu ditahannya, mengalir membasahi wajahnya yang mulai tampak pucat. Perlahan ia berlutut, bersujud di bawah kaki sang ayah.
"maaf….karna aku telah hadir dalam keluarga ini dan merengkut kebahagian yang kalian punya" mohonnya dengan tubuh bergetar menahan pilu. Membuat semua orang yang ada didalam ruangan itu tercekat melihatnya
"maaf….karna aku telah membuat malu nama keluarga ini" mohonnya lagi
"apa yang kau lakukan Naruto, berdiri!" perintah Sasuke yang tak suka melihat adiknya itu terus bersujud di hadapan sang ayah
"maaf….karna aku, okaa-san meninggal" tak dihiraukannya ucapan sasuke, rasa penyesalan yang begitu dalam membuatnya tak bisa memaafkan dirinya sendiri
"berhenti naruto, jangan meminta maaf lagi. kau tak salah apa-apa" sasuke memandang nanar adiknya
"maaf….karna aku hanya bisa membawa pengaruh buruk dan membuat kalian bertengkar. Aku memang pantas untuk dibenci.…aku memang pantas untuk dipukul. Maaf otou-san….maaf nii-san…." kali ini tangisnya pecah
Iruka segera menghampiri Naruto, ia sudah tak sanggup lagi melihat Naruto terluka lebih dalam karna terus menyalahkan dirinya sendiri "sudah…hentikan semua penyesalan anda tuan muda, berdirilah" Iruka mencengkram kedua bahu naruto yang bergetar, membantunya untuk berdiri
Naruto membiarkan Iruka membantunya berdiri, lalu diangkatnya kepala untuk melihat wajah sang ayah didepannya yang tak bersuara sedikitpun "otou-san, aku tahu aku hanya menjadi beban dalam keluarga ini. Otou-san bisa mencabut hak adopsi ku dan aku akan segera pergi dari rumah ini. Terimah kasih untuk semua kebahagian yang telah kudapatkan dalam keluarga ini" ucapnya lirih, kemudian segera keluar dari ruang kerja ayahnya itu tanpa pernah tahu bahwa ucapannya telah melukai hati ketiga orang dewasa yang berada dalam ruangan tersebut
Sasuke tersentak saat mendengar suara pintu yang ditutup oleh Naruto setelah, ia langsung berlari mengejar sosok pemuda itu yang telah hilang dari pandangan matanya. Tak akan ia biarkan Naruto pergi dari sisinya.
"Naruto…." sasuke langsung memeluk adik yang dicintainya itu dari belakang saat melihat sosoknya. Ditenggelamkannya wajahnya pada bahu Naruto, menumpahkan air matanya disana tanpa ada suara isak tangis yang terdengar, hatinya begitu sakit saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan adiknya tadi
Naruto tercekat saat mendapati Sasuke memelukanya dari belakang. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari bahwa sosok itu sedang menangis dalam diam di pundaknya. Tak ia pungkiri bahwa ia bahagia saat mendengar Sasuke memanggil namanya dan memeluknya seperti ini. Pelukan itu terasa begitu hangat, menenangkan dan membuatnya merasa nyaman. Kalau ia boleh bersikap untuk egois, ia ingin meminta pada kami-sama agar menghentikan nafasnya saat ini juga, membiarkan raga tak bernyawanya berada dalam pelukan orang yang begitu dicintainya.
"naruto…."panggilnya lagi begitu lembut
Ada getara halus yang merasuk kedalam dadanya saat mendengar sasuke memanggil namanya seperti itu. Menerbangkan harapannya begitu tinggi saat disadarinya kedua lengan kokoh Sasuke memeluknya semakin dalam. Kebahagiaan itu kini memenuhi ruang dihatinya, menggantikan semua kesedihan yang ia rasakan sebelumnya, seolah-olah kejadian di ruang kerja ayahnya tadi tak pernah terjadi. Tapi ternyata kebahagian itu tak bersedia bertahan lama dihatinya saat memori otaknya kembali mengingatkan pada pembicaraan sore tadi bersama Gaara
'bodoh….apa yang ku harapkan dari pelukan ini. bahkan tak pernah ada cinta dihatinya untukku. Dia hanya mengasihaniku, tak lebih' pikirnya, Lalu Naruto melepaskan pelukan Sasuke dari tubuhnya, meskipun hatinya merasa enggan untuk melakukan hal itu.
Sasuke tercengang saat mendapati naruto menelaskan pelukannya. Hatinya begitu sakit mendapati penolakan Naruto tersebut. Pandangannya mulai mengabur oleh air mata saat dilihatnya Naruto terus berjalan meninggalkannya 'berhentilah, naruto….kumohon. beri aku alasan untuk mencegah kepergianmu. Beri aku kesempatan untuk mengatakan kalau aku menyayangimu, mengatakan kalau aku sangat mencintaimu' pintanya dalam hati
.
.
.
Iruka berdiri didepan pintu kamar Naruto dengan membawa nampan berisi makanan untuk majikannya tersebut "tuan muda….saya membawakan makan malam untuk anda"
"anda harus makan tuan muda, saya mohon….tolong buka pintunya" ucap Iruka sekali lagi saat tak mendapat jawaban apapun dari dalam kamar
"tuan muda…." Ucapan Iruka terhenti saat ia meraih handel pintu dan mendapati kamar Naruto tak terkunci. Perlahan di dorongnya pintu itu menggunakan badannya dan melangkah masuk kedalam kamar yang gelap. Iruka meraba dinding, mencari saklar lampu lalu menghidupkannya. Diedarkannya pandangan keseluruh ruangan mencari keberadaan Naruto "TUAN MUDA!" pekiknya kaget saat mendapati tubuh Naruto tergeletak tak sadarkan diri di atas karpet tebal yang berada di tengah-tengah ruangan
semua pertanyaan kalian di kotak review bukannya nggak mau kujawab, cuman selagi jawaban itu akan ada di tiap-tiap chapter kedepannya, maka aku lenih milih untuk diam. dan jika emang perlu dijawab oleh aku sendiri, maka aku akan jawab lewat PM.
ku harap chap ini udah panjang, karna kayaknya emang sebatas ini kemampuan aku berpikir.
dan yang minta naruto untuk dibuat scene bahagia, maaf...karna chapter kali inipun belum sanggup aku berikan kebahagian itu untuk naru. aku masih betah membuat bocah energik satu itu menderita, yaaaa...sudah seperti hobi tersendiri buat aku saat melihat dia menderita*diinjak naru*
yang minta scene sasunaru dibanyakin kali inipun sepertinya masih mengalami kekecewaan hahahahaha*ketawa iblis* namanya juga bertahap...jadi sabar ya, nanti buah kesabaran itu kita nikmati sama-sama *banyak bacot*
gimana chapter kali ini...HURT-nggak? kalo kata akusih kurang. semoga aku bisa buat yang lebih nyakitin dari ini nantinya
dimohon saran dan kritik yang membangun, karna aku menunggu itu *kiss for all*
