Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: ooc, oc, typos, alur cepat, dont like dont read!
AN: maaf banget yaa updatenya lama... aku sendiri sampai lupa ceritanya dan harus baca dulu chap2 sebelumnya baru tahu ingat mau tulis apa. #plak.
Enjoy :)
Chapter 6
.
.
.
.
.
Sakura's POV (Japan dimension)
.
.
Selama perjalanan kami menuju pabrik bekas itu, jantungku serasa nyaris meledak. Di satu sisi, aku benar-benar ingin bersembunyi di rumah dan tidak mau menghadapi ini semua. Di sisi lain, aku ingin melihat wajah orang yang berani membunuh keluargaku.
"Sakura. Kami tidak ingin membawamu bersama kami." Suara Itachi membuat pikiranku terputus. Aku menatap Itachi yang sekarang sedang mengemudi dengan wajah dingin. "Tapi, dengan berada di sisi kami, kau akan aman."
Aku mengangguk. Meski menyeramkan, Itachi sudah seperti kakakku sendiri. Aku masih ingat dulu ketika kami masih kecil, aku dan Sasuke suka bertengkar demi memperebutkan perhatian Itachi. "Aku tahu kalau kita akan pergi ke tempat yang berbahaya." Aku berujar pelan. "Tapi lebih baik aku bersama kalian semua daripada bersembunyi sendirian di suatu tempat."
Sasuke mengangguk, memainkan pistol yang ada di tangannya. "Kita akan ke markas Orochimaru sekarang dan…"
"Tidak." Ucapan dingin Itachi membuatku tersentak.
"Tidak?"
"Apa maksudmu?" Sasuke mengerutkan kening. "Kau berubah pikiran?"
"Sebelum kita ke markas Orochimaru, kita harus menyusun rencana." Itachi melirik ke arah Sasuke sesaat, menatap lengan adiknya yang dililit perban. "Dan kita butuh waktu beberapa hari untuk melancarkan serangan." Itachi mendelik, menatap tangan Sasuke yang dililit perban. "Kau harus sembuh dulu."
"Aku tidak apa-apa." Sasuke balas mendelik.
Aku hanya bisa terdiam, merasa bersalah. Kaki dan lengan Sasuke terluka karena pecahan kaca. Sasuke terluka karena melindungiku.
"Kalau kau tidak mau menyerbu di markas sekarang, kenapa kau tadi bilang kalau kita akan menyerbu?" Pertanyaan Sasuke yang dingin membuat Itachi menginjak gas, mengemudi semakin cepat.
"Apakah…" Aku mengerutkan kening. Memang, Itachi tadi langsung berujar ke kami semua bahwa kita akan menyerbu markas Orochimaru. Namun Itachi… dia sengaja mengatakan hal itu di depan anak buah Orochimaru sendiri. "Itachi. Apakah kau mau menipu anak buah Orochimaru yang kita sekap tadi?"
Itachi mengangguk. "Kita tidak tahu pasti. Mereka mengaku terlalu mudah. Bisa jadi tempat markas itu sendiri adalah jebakan. Orochimaru tidak bodoh. Aku tidak heran jika dia tahu bahwa kita akan menerjang markas mereka sekarang."
Sasuke tidak menjawab.
"Aku tahu kalau kau sudah gatal ingin membenamkan peluru di balik otak Orochimaru." Itachi berujar ke arah Sasuke. "Tapi dia bukan musuh yang biasa. Kau sendiri sudah tahu akan itu."
Sasuke hanya bisa menggertakkan gigi. Aku menatap Sasuke dengan cemas. Ada alasan kenapa Sasuke menjadi tidak sabar untuk menghadap Orochimaru. Orang tua Sasuke meninggal karena kecelakaan. Namun, kecelakaan itu… sangat aneh. Dan ada kemungkin bahwa Orochimaru sendiri yang menyebabkan 'kecelakaan' itu. Mau bagaimana pun, ayah dan ibu Sasuke sendiri adalah mantan polisi elit Jepang yang dulu menghadapi teroris.
"Baiklah." Sasuke mendengus, memasukkan pistolnya ke dalam tas. "Kalau begitu kita akan bertemu tim Taka di suatu tempat dan menyusun rencana. Kita tidak bisa kembali ke rumah atau ke kediaman Haruno. Orochimaru sudah tahu akan kedua tempat itu."
Aku mengangguk. "Siasat bagus." Tim Taka. Itu organisasi kepolisian Jepang yang dirahasiakan. Mereka bersedia untuk melanggar peraturan dan membantu Sasuke. Mau bagaimana lagi, Sasuke sendiri adalah ketua dari Tim Taka dan Karin, wakil dari tim itu sudah cinta mati sama Sasuke. Selain itu, Itachi sendiri adalah mantan FBI. Sekarang dia bekerja di tim kepolisian yang dibentuk sendiri oleh perdana mentri, ANBU. Baik Itachi dan Sasuke adalah penembak yang handal. Namun, Sasuke harus sembuh dulu dari lukanya. "Kita akan menang." Aku berbisik pelan. "Ada Naruto disini."
Aku menoleh, sempat bingung karena Naruto yang berisik itu sama sekali tidak bersuara. Aku menatap lelaki 27 tahun yang menatap pemandangan dari jendela dengan tatapan takjub. "Kau lihat apa?" Aku bertanya pelan. Hari sudah menjadi gelap dan Naruto tidak bisa melepaskan matanya dari langit malam.
"Hei lihat! Bulannya mengikuti kendaraan ini, dattebayo!" Naruto Uzumaki dengan girang menunjuk ke bulan dari luar jendela. "Sejak tadi dari rumahmu sampai sekarang, dia tetap mengikuti kita tanpa henti! Padahal mobil ini cepat, dattebayo, tapi bulan ini tidak kalah cepatnya!"
"Akan kubuktikan meski aku terluka, aku masih bisa menembak jitu dengan cara membenamkan peluru di balik kepala si dobe itu." Sasuke menggeram. Itachi langsung mengangguk, menyetir dengan rahang yang mengeras.
Aku hanya bisa menepuk jidat.
xxx
Itachi membawa kami keluar Tokyo dengan mobilnya. Aku tidak tahu sudah berapa lama kami ada di dalam mobil, namun aku tertidur tanpa kusadari. Ketika aku terbangun, kepalaku sudah menempel di bahu Naruto. Aku tersentak, cepat-cepat duduk tegak dengan wajah merona. "Ma-maaf!"
"Maaf untuk apa, Sakura-chan?" Naruto tertawa.
"Aku… sudah seenaknya tidur di bahumu…" Aku berbisik malu. Meski aku sudah merasa nyaman berada di sisi Naruto, aku tetap saja baru mengenalnya selama satu hari ini.
"Tidak apa." Naruto menyeringai lebar. "Lagipula, ketika kau menyender di bahuku… aku merasakan sesuatu yang nostalgia." Naruto tersenyum. Namun, perlahan-lahan senyumnya menghilang. "Tapi… aku tidak bisa ingat apa."
Aku tidak menjawab. Itachi menghentikan mobilnya dan keluar, diikuti oleh Sasuke. Mereka berdua masuk ke dalam rumah tingkat dua yang terletak di sebelah kedai makan. Aku tidak tahu apakah mereka sengaja keluar untuk memberiku waktu sendirian untuk Naruto atau apa. Namun yang pasti, aku tidak akan melewatkan kesempatan ini.
"Naruto…" Aku berbisik pelan. "Apakah kau tahu apa yang terjadi sekarang?"
"Hmm… tidak juga." Naruto menghembuskan napas.
"Kau… sepertinya kau memang datang dari dimensi lain."
"Hmm. Aku bisa lihat itu." Naruto tertawa pelan, menatap mobil-mobil yang melaju, melewati mobil ini.
"Dan di dimensi ini, di dimensiku maksudnya…" Aku bergumam. "Sedang dilanda masalah. Orangtuaku dibunuh oleh lelaki bernama Orochimaru."
"Orochimaru… aku pernah dengar nama itu."
Kali ini, aku tidak kaget ketika mendengar ucapan Naruto. Aku tersenyum tipis. "Sepertinya, orang-orang di sini ada di duniamu juga ya?" Apakah di dunia ini juga ada lelaki yang bernama Naruto? Kalau ada, aku sangat ingin bertemu dengan lelaki itu. "Intinya, kami akan berburu Orochimaru dan menangkapnya."
Naruto mengangguk. "Kalian membutuhkan bantuanku kan? Orochimaru memang berbahaya. Aku akan membantu kalian."
Aku menatap Naruto, tidak bisa berkata-kata. Sebenarnya tadi niatku adalah bicara baik-baik dan mendesak Naruto untuk membantu kami, namun Naruto langsung menawarkan bantuannya begitu saja. "Kau orang baik, Naruto." Aku tersenyum. "Sungguh."
Naruto menggaruk kepalanya dengan malu, membuatku tertawa.
"Naruto…" Aku berbisik pelan. "Apakah kau mau kembali ke tempat asalmu?"
Naruto tidak menjawab. Dia menatap sekeliling dan tersenyum lebar. "Aku suka tempat ini, banyak yang unik. Tapi…" Dia menyeringai. "Aku akan kembali. Meski aku tidak tahu bagaimana caranya dan meski aku tidak mengingat siapa pun, aku ingin kembali. Karena aku yakin bahwa banyak yang menungguku di Konoha."
Aku tersenyum lebar. Pelan-pelan, kugenggam tangan Naruto. "Kuharap… kuharap kau bisa ingat akan dimensimu. Kuharap… kau bisa kembali ke sana. Dan meski kau tidak bisa kembali, tetaplah disini, kau boleh tetap bersamaku."
Naruto menyeringai lebar, wajahnya berseri-seri. "Kau memang baik, Sakura-chan!"
Memang? Aku tertawa. "Hei, Naruto. Sepertinya di duniamu juga ada wanita yang bernama Sakura?"
"Aku tidak tahu…" Naruto menggarukkan kepala. "Tapi aku tahu kalau aku sangat menyukai Sakura-chan yang ada di depanku!" Cengiran lebar Naruto membuat wajahku memanas. "Hei! Kalau semua ini sudah berakhir, ajarkan aku tarian ya!"
"Tarian?" Aku menaikkan sebelah alis.
"Wal!"
"Wal?" Keningku berkerut. "Ah. Waltz?" Aku tertawa, teringat akan percakapan di mobil tadi siang. "Tentu saja."
Dan lagi-lagi Naruto menyeringai lebar, memandangku dengan tatapan berseri-seri. Aku hanya bisa tersenyum. Aku tahu senyuman yang dia arahkan padaku sekarang bukanlah untukku, melainkan Sakura yang ada di dunia sana. Tapi… Aku menggigit bibir. Salahkah aku jika aku ingin Naruto tetap tinggal di sini?
"Sakura." Pintu mobil yang terbuka membuatku tersentak. Aku melotot, bertemu mata dengan onyx hitam di depanku. "Ayo."
"Sasuke-kun!" Aku menjerit. "Kau mengagetkanku!"
"Iya, teme!" Naruto mengelus-elus dadanya. Ternyata dia juga terkejut.
"Kenapa, dobe? Kau tidak bisa menjadi seperti ninja-ninja di buku dan membaca aura orang lain yang menghampirimu?" Sasuke tersenyum mengejek.
"Berisik! Kau tidak punya cakra! Mana bisa aku melacak keberadaanmu!"
"Oh? Lalu bagaimana dengan langkah kakiku?"
"Kau kira pendengaranku ini pendengaran apa? Kendaraanmu ini kedap suara!" Naruto mendengus, menyilangkan lengannya.
Aku hanya bisa berkedip, menatap dua lelaki yang berdebat di depanku. Aku tidak pernah melihat Sasuke yang seperti ini sebelumnya. Jangan-jangan Sasuke di dunia sana juga seperti ini? Aku tertawa pelan, membuat Sasuke menoleh, menatapku sambil menaikkan sebelah alis. "Ayo pergi." Aku menyabet tasku dan turun dari mobil, diikuti oleh Naruto. "Ini rumah siapa?" Aku menatap rumah tingkat dua sederhana itu.
"Rumah Itachi, namun dibeli dengan nama orang lain. Nama palsu. Jadi ini rumah persembunyian."
Aku mengangguk. Pintar juga, karena rumahnya atas nama palsu, Orochimaru tidak mungkin bisa melacak rumah ini. "Karin dan yang lain?"
"Mereka sudah di dalam, berjaga-jaga."
"Kisame-san juga?"
Sasuke mengangguk. "Dan beberapa anggota ANBU yang tidak kukenal."
Aku hanya bisa meneguk ludah. Di tempat ini, hanya aku yang paling lemah dan tidak bisa apa-apa. Selain itu, akulah sasaran Orochimaru. Sasuke membimbingku sampai ke salah satu kamar. "Aku tidur sama Karin?" Aku bertanya ketika menatap dua ranjang single size.
Sasuke mengangguk, membuatku meneguk ludah. Karin masih tidak terima akan pertunanganku dengan Sasuke. Yah… meski aku dan Sasuke sama sekali tidak merasakan apa-apa terhadap satu sama lain.
"Aku tidur di mana?" Naruto bertanya pada Sasuke.
"Kau tidur bersamaku dan Itachi."
"Heee? Sama teme dan si dingin Uchiha?! Tidak mau!"
"Berisik, usuratonkachi." Sasuke menyeret Naruto keluar dari kamarku, membuatku tertawa geli. Aku meletakkan tas ranselku di kamar.
"Ah, ada kamar mandi." Aku bergumam pelan ketika melihat ruangan shower. Tanpa buang waktu, aku menyabet kaus santai dan celana jogging. Banyak yang terjadi hari ini dan aku sangat membutuhkan shower panas. Setelah selesai mandi, aku keluar, merasa lebih segar. Ketika aku keluar dari kamar, aku melihat Sasuke dan yang lain berkumpul di ruang tamu. Mereka berdiskusi, menunjuk ke arah blueprint yang menurutku adalah blueprint gudang yang konon markas Orochimaru.
Aku sebenarnya ingin duduk bersama mereka dan melihat mereka berdiskusi, namun sekarang Sasuke, Itachi dan perserta yang lain memasang tampang yang siap untuk membunuh siapa pun yang mendekati mereka. Aku meneguk ludah, berjalan pergi. Naruto tidak ada bersama Sasuke, jadi aku menebak kalau Naruto ada di kamarnya sendiri. Aku mulai berjalan, mencari Naruto. Langkahku terhenti ketika aku sadar bahwa aku tidak tahu Naruto ada di kamar mana.
"Kamar si pirang ada di paling pojok kanan!"
Jeritan Karin membuat wajahku terbakar. Aku menoleh, melotot ke arahnya. Dia hanya mengibaskan rambut, menatapku dengan tatapan menantang. Dalam hati si Karin itu sendiri pasti sedang girang karena aku mencari Naruto, bukan Sasuke. Aku mendengus, berjalan di arah yang ditunjukan oleh Karin. Setelah sampai di depan pintu, aku mengetuk sesaat. "Naruto?"
Tidak ada jawaban.
Aku mengerutkan kening, membuka pintu perlahan. Aku menghela napas lega ketika melihat Naruto yang tergeletak di atas kasur, tertidur dengan rambut basah. Dia pasti baru selesai mandi juga dan langsung tertidur. Wajah tidur Naruto terlihat sangat tenang. Aku tersenyum, duduk berlutut di sebelah kasurnya. Wajahnya terlihat sangat muda. Meski Naruto umurnya 27, lebih tua dariku 3 tahun.
"Sakura-chan…"
Mataku melebar. "Kau mengigau lagi?" Aku berbisik pelan. Memimpikan Sakura di dunia sana? Meski Naruto tidak bisa mengingat semua orang dari dimensinya, namun sepertinya di dalam mimpi, dia bisa mengingat mereka semua. Mau tak mau, dadaku terasa sesak akan perasaan cemburu.
Apakah aku sudah menyukai Naruto sampai seperti itu?
Pelan-pelan, aku meraih tangan Naruto. Aku memegang tangannya yang hangat dan lebar itu. Aku tersenyum tipis. Setidaknya, selama Naruto ada di sini, dia menyukaiku.
"Ahh…" suara Naruto yang serak membuatku melompat kaget.
"Na-Naruto? Kau terbangun?" Aku cepat-cepat melepaskan tangan Naruto. Wajahku terbakar ketika melihat Naruto yang beranjak, menggaruk rambutnya dan menatapku. Naruto tidak berkata apa-apa. Matanya menatapku dengan tajam, membuatku tidak bisa berkata-kata.
Tunggu. Ada yang aneh.
Mata Naruto… bukankah matanya berwarna biru? Kenapa mata Naruto sekarang… berwarna merah?
"Sama persis." Mulut Naruto terbuka. "Ah… pantas saja dia tidak bisa mengingat Sakura dari dunianya sendiri. Sakura di depannya sama persis dengan Sakura di Konoha."
Aku terpaku. Apa?
Naruto beranjak, merenggangkan tubuhnya. Dia mengabaikanku dan berjalan mondar-mandir, meneliti ruangan ini. Dia berjalan ke arah tirai dan membuka tirai itu, menatap pemandangan luar. "Ah… pemandangan yang beda jauh dari Konoha." Naruto menyeringai lebar, membuat bulu kudukku berdiri.
"Naruto? Kau baik-baik saja?"
Naruto memutar tubuhnya, menatapku sambil menaikkan sebelah alisnya. "Aku bukan Naruto."
Aku hanya bisa termangu. Apakah ini salah satu jurus Naruto?
"Namaku Kurama." Naruto mendengus. "Aku adalah monster yang tidur di balik tubuh bocah pirang ini." Naruto menyeringai lebar.
Aku hanya bisa melongo. Kurama? Monster? "Hah?"
'Naruto' memutar bola matanya. "Tentu saja. Kau tidak tahu akan keberadaanku karena Naruto tidak pernah cerita padamu. Pastinya Naruto sendiri lupa padaku, bukan? Sayang sekali, aku hanya bisa muncul ketika dia tertidur. Ketika dia tertidur, aku bisa menyuapi sedikit informasi tentang Konoha di kepalanya."
Aku terpaku. Menyuapi informasi ketika Naruto tertidur? Pantas saja ketika Naruto sedang tertidur dia teringat akan dunianya sendiri…
"Hei, Sakura."
"I-iya?" Aku cepat-cepat beranjak. Meski itu tubuh Naruto, aku yakin yang bicara denganku sekarang bukan dia. Mau bagaimana lagi, nada bicara mereka sangat berbeda. Atau jangan-jangan Naruto ternyata punya dua kepribadian? Atau memang di dalam tubuhnya ada monster bernama Kurama?
Ini semua sangat sulit untuk dipercaya.
"Kau suka pada Naruto bukan?"
Aku tersedak. "Hah?!" Aku langsung menatap Kurama dengan tatapan terbelalak. "A-aku tidak…"
"Sudah kuduga." Kurama mendengus. "Lupakan."
Tatapan tajam Kurama membuat jantungku serasa berhenti. "Lupakan? Maksudmu…"
"Percuma jatuh cinta pada cowok dangkal ini." Kurama mendengus, menunjuk dirinya.
"Kenapa percuma?" Aku mengerutkan kening. "Dari apa yang kulihat, Naruto sendiri suka padak…"
"Suka pada Sakura di dunianya. Kau sendiri sudah tahu akan fakta itu. Jangan menipu dirimu sendiri."
Aku menggigit bibir, menundukkan kepala. "Ta… tapi… aku dan Sakura yang di dunia itu sama juga kan? Aku yakin wajah dan sosok kami sama. Si-siapa tahu kalau Naruto bisa merubah perasaannya dan…"
"Tidak bisa." Kurama mendengus. "Kau tidak mengerti."
"Kenapa aku tidak mengerti? Kau harus jelaskan padaku!" Aku mengepalkan tinju. Aku sudah kehilangan orang yang kusayangi. Aku kehilangan keluargaku. Aku tidak mau lagi kehilangan orang yang…
Orang yang apa? Apakah aku… menyukai Naruto sampai sedalam itu?
"Kau sendiri masih bingung." Kurama mendengus. "Sudahlah. Aku tidak bisa mengerjakan dua tugas sekaligus. Aku harus pergi."
"Pergi? Dua tugas sekaligus? Apa yang kau lakukan sekarang?" Aku mengerutkan kening.
"Kau akan tahu nanti." Kurama menatapku dengan tajam. "Akan kujelaskan lain waktu. Lagipula aku masih ada banyak waktu. Gerbang baru untuk kembali ke Konoha belum bisa terbuka. Aku harus melakukan sesuatu untuk membuka gerbang baru itu."
Gerbang baru?
"Ah, sudah waktu segini?" Mata merah Kurama terpaku pada bulan di langit. "Cih! Sudah waktunya untuk pergi." Sang monster berdecak. Dan tiba-tiba saja, Naruto langsung terjatuh, membuatku tersentak.
"Naruto!" Aku menghampiri lelaki berambut pirang itu. Aku menghela napas lega ketika melihat Naruto yang tertidur lelap. Namun, perlahan-lahan keningku berkerut ketika aku teringat akan ucapan Kurama.
Gerbang baru? Dia harus membuka gerbang baru untuk kembali ke dunia sana?
Gerbang seperti apa?
xxx
Normal POV (Konoha dimension)
.
.
Sakura Uzumaki masih ingat akan impresi pertamanya terhadap Naruto. Naruto Uzumaki itu bocah tengil yang menyedihkan, setiap hari berbuat ulah supaya mendapat perhatian orang lain. Dia sadar kalau Naruto sudah menyukainya sejak kecil, namun dia tidak peduli. Toh dia suka pada cowok yang jauh lebih keren dan tampan, Sasuke Uchiha.
Sakura selalu merasa kalau dia bisa kembali ke masa lalu, dia akan menampar dirinya yang masih kecil itu. Sakura tidak tahu kapan perasaannya berubah terhadap Naruto. Tanpa dia sadari, Naruto selalu ada di sisinya. Naruto menjadi semakin kuat dan dia berusaha untuk mengejar Naruto.
Dan entah kapan, dia mulai jatuh cinta pada lelaki berambut pirang itu.
Ketika melihat Naruto yang setiap hari menghampirinya dengan senyuman lebar, Sakura sudah memutuskan bahwa dia ingin menjadi pasangan hidup Naruto. Namun, dia tidak yakin apakah Naruto masih menyukainya. Pada waktu itu sudah banyak wanita yang menyukai Naruto. Dan banyak wanita luar biasa yang mencintai lelaki itu. Hinata Hyuuga contohnya. Hinata adalah wanita yang baik. Sakura tidak keberatan kalau Naruto pada akhirnya memilih Hinata.
Namun tidak. Naruto memilihnya. Naruto melamarnya, mengajaknya menikah ketika usia mereka 22. Dan sekarang, usia mereka sudah 27, mendekati 28. Mereka sudah mempunyai dua putri kembar bernama Kushina dan Chiyo.
Sakura membuka matanya, menatap atap-atap kamarnya. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia berbaring di kamarnya. Hari sudah tengah malam. Dua putrinya sudah tidur sejak tadi. Sakura memutar tubuhnya, berganti posisi tidur. Mata emeraldnya berkedip, terpaku pada kasur yang terasa luas ini. Sejak kapan kasur ini terasa sangat luas? Oh iya. Karena Naruto tidak ada.
Sakura menggigit bibirnya. Dia membenamkan wajahnya di balik bantal. Dia tidak pernah mengalami hal ini. Memang, Naruto selalu terperosok di situasi yang berbahaya. Namun setidaknya, dia selalu ada di sisi Naruto. Bahkan ketika mereka menghadapi musuh terakhir, Madara, dia ada di sisi Naruto. Namun sekarang, dia bahkan tidak tahu apakah Naruto masih hidup.
Rata-rata ninja tewas dalam usia kurang lebih 30 tahun atau bahkan lebih muda dari itu. Bahkan banyak anak-anak genin yang tewas dalam misi. Sang yondaime Konoha saja tewas dalam misi. Di usia yang sangat muda.
Sakura teringat akan salah satu ucapan karyawan Konoha.
Tidak diherankan jika rokudaime kita juga… sudah tewas dalam misi.
Tenggorokan Sakura langsung tercekat. Dia tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa Naruto. Tidak bisa. Dia selalu sibuk di rumah sakit. Tugasnya adalah untuk menyelamatkan jiwa orang lain. Namun terkadang ada masanya dia tidak bisa menyelamatkan jiwa orang tersebut. Hanya Naruto yang bisa menghiburnya, berada di sisinya dan menenangkannya. Setiap kali dia merasa lelah, Naruto selalu ada di sana, melontarkan cengiran lebar dan membuatnya tersenyum. Jika dia memarahi kedua putrinya, Naruto selalu ada di sana, menjadi tempat bersembunyi bagi dua bocah itu.
Jika Naruto tewas… maka semua itu akan hilang.
Tanpa dia sadari, air matanya sudah mengalir, membasahi bantalnya. Sakura terisak, memeluk bantalnya dan meringkuk di balik selimut. Meski udara di kamar ini hangat, dia merasa kedinginan. Naruto tidak ada di sisinya.
Dia tidak tahu sudah berapa lama dia menangis, namun dia langsung terpaku, tangisannya terhenti ketika dia mendengar langkah kaki yang mendekati kamarnya. Dia beranjak, dengan gesit menghapus air mata yang menempel di wajahnya. Matanya menajam. Dari balik kegelapan, dia bisa melihat dua sosok bocah mungil yang menyeret selimut, masuk ke kamarnya.
"Hei." Sakura berbisik, mengulurkan tangan.
"Ibu." Kushina dan Chiyo berujar di saat bersamaan. Mereka berdua bergegas memanjat dan menyelinap masuk ke dalam selimut, memeluk Sakura.
"Sudah tengah malam. Kenapa masih belum tidur?" Sakura mengusap rambut anak-anaknya. Dia tersenyum tipis melihat kedua anaknya. Meski kembar, kepribadian mereka sangat berbeda. Chiyo seakan-akan mewarisi sisi feminimnya sedangkan Kushina mewarisi sisi barbarnya. Chiyo mengenakan piyama gaun bercorak bunga. Kushina mengenakan kaus kendur dengan celana pendek. "Kushina. Kau tidak capek? Biasanya kau langsung tertidur lelap setelah makan malam."
"Tidak bisa tidur, dattebane." Mata biru itu terbuka lebar. "Ada monster!"
"Monster?" Sakura mengerutkan kening.
"Kushina-nee tiba-tiba terbangun." Chiyo melapor. "Dia membangunkanku…"
Kushina memanyunkan bibirnya. "Monster itu tiba-tiba muncul di mimpiku! Dia seram!"
"Monster apa?" Sakura mulai merasa cemas. Kushina memang jahil, namun dia tidak pernah berbohong.
"Aku lupa."
Sakura memutar bola matanya. Kushina benar-benar mewarisi otak Naruto. "Itu hanya mimpi." Sakura tersenyum, merebahkan tubuh kedua anaknya di kasur. "Ayo tidur."
"Ahh! Aku juga mau tidur di sebelah Ibu!" Chiyo merengek, langsung melompat kasur dan berlari di sisi lainnya supaya bisa tidur di sebelah Sakura. Wanita itu hanya bisa tersenyum. Bagaimana jadinya kalau anak ketiganya sudah lahir? Bisa-bisa mereka bertiga berebutan untuk tidur di sisinya.
"Ibu, bacakan dongeng!" Kushina menyeringai lebar, memeluk selimut mungilnya.
"Iya, bacakan dongeng!" Chiyo menimpali, cekikikan.
"Dongeng apa ya?" Sakura tertawa. "Hmmm… bagaimana kalau begini… Ibu akan bacakan dongeng tentang pahlawan yang bernama Kushina dan Chiyo?"
Dua bocah di sisinya itu langsung terlihat berseri-seri.
"Jaman dahulu kala… ada pahlawan Konoha yang bernama Kushina. Dia punya rambut yang cantik sekali, panjang dan berwarna merah." Sakura memulai ceritanya. "Dia kunoichi yang kuat."
"Nenek!" Kushina menjerit girang. Bocah itu sudah sering mendengar cerita tentang wanita bernama Kushina melalui mulut Naruto.
"Bagaimana dengan Chiyo?" Chiyo tersenyum lebar, menggoncang tangan ibunya.
"Chiyo? Ah… beliau adalah pahlawan Suna." Senyum Sakura mengembang. "Dia suka bermain boneka, seperti Chiyo." Sang Ibu menyentuh ujung hidung putri bungsunya, membuat anak itu cekikikan. "Dia ninja medis yang hebat, dan dia rela mengorbankan nyawa demi Kazekage."
Sakura tidak tahu seberapa lama dia bercerita, namun yang pasti, kedua putrinya sudah tertidur lelap. Dengan perlahan, Sakura menyelimuti dua bocah yang sekarang sudah memeluknya itu. Aku juga harus tidur. Sakura memutar tubuhnya, menghadap ke arah Kushina yang sekarang tertidur dengan mulut terbuka lebar. Sakura tertawa pelan, menutup mulut putrinya. Namun, keningnya perlahan-lahan berkerut. Kushina mimpi buruk? Putrinya ini selalu bisa tidur lelap tanpa gangguan.
Monster?
Monster seperti apa?
Sakura menggelengkan kepala. Dia tidak perlu memusingkan hal ini. Masalah Naruto tetap menjadi priotitas utama. Dia harus tidur dan kembali ke ruangan autopsi besok. Semoga besok sudah ada kabar baik…
xxx
Ketika pagi hari tiba, Sakura membawa kedua putrinya ke akademi. Dua bocah itu melompat-lompat dengan girang, membuat Sakura yang kelelahan itu tersenyum tipis.
"Sampai jumpa, Bu!" Kushina dan Chiyo menjerit girang, melambaikan tangan ke arah Sakura sebelum masuk ke kelas.
"Jangan nakal oke! Kushina, jangan menjahili guru-gurumu dengan kage bunshin lagi!" Sakura menjerit, tersenyum pelan ketika mendengar tawa Kushina. Memang, meski putrinya itu masih lima tahun, dia mewarisi cakra raksasa Naruto. Mau bagaimana lagi, darah Uzumaki selalu mempunyai jumlah cakra yang luar biasa. Dan tentu saja Kushina langsung memanfaatkan cakranya itu untuk membuat kage bunshin dan berbuat jahil. "Hinata akan menjemput kalian ya nanti!" Sakura menjerit lagi, tertawa pelan ketika melihat Kushina yang menyeringai lebar sebagai jawaban. Sakura menatap punggung kedua putrinya yang perlahan-lahan menghilang, masuk ke dalam kelas. Setelah yakin bahwa anaknya sudah ada di tempat yang aman, Sakura mulai melompati atap demi atap, menuju gedung hokage.
Dia sudah tidak sabar untuk mencari tahu apakah ada sesuatu yang berhasil ditemukan Ino dan yang lain. Ketika dia sampai di ruangan hokage, dia cepat-cepat mengetuk pintu.
"Masuk." Suara Tsunade yang terdengar kelelahan membuat Sakura menggigit bibirnya. Tsunade sendiri sudah melemah sejak pertarungan dengan Madara. Dan sekarang… Tsunade terpaksa kembali menguras tenaga untuk menemukan Naruto. "Ah, Sakura!" Senyuman Tsunade yang pahit membuat Sakura mengerutkan kening.
"Ada kabar, Tsunade-sama?"
"Ada kabar baik dan kabar buruk." Tsunade menggertakkan gigi. Sakura langsung bergegas mendekatinya. Sasuke dan Ino berdiri di sisi Tsunade. Mata Sakura terpaku sesaat, menatap gambar segel di meja kerja Naruto.
"Ini..."
"Kau tidak akan percaya dengan informasi apa yang berhasil kukorek dari kepala Fuyuki." Ino menggeram. "Aku sama sekali tidak percaya dengan jurus sialan yang…"
"Ino." Sakura memotong ucapan sahabatnya. "Suaramu bergetar."
"Maaf." Ino meneguk ludah. Wajah Ino terlihat pucat, lingkaran hitam berada di bawah matanya. "Aku… hanya kurang tidur, kau tahu." Ino tertawa pelan.
Sakura mengerutkan kening. Dia sudah mengenal sahabatnya selama bertahun-tahun dan dia langsung tahu kalau Ino menyembunyikan sesuatu. "Apa yang kalian temukan?"
"Tidak ada gunanya menyembunyikan hal ini dari Sakura." Sasuke berjalan selangkah, mendekati Sakura. "Kami sudah menemukan rahasia dari jurus pemindah dimensi." Mata onyx Sasuke menatap Sakura dengan tajam.
"Oke. Apa rahasianya?"
"Sejak semula, jurus peminda dimensi ini adalah jurus terlarang. Kau tahu kenapa ini terlarang?" Ino bertanya.
"Tentu saja. Jurus ini menyedot cakra sang pengguna jurus sampai dia tewas."
"Sekilas jurus ini terlihat seperti itu." Sasuke berujar. "Tapi setelah Ino mengorek informasi dari Fuyuki, kami tahu sesuatu. Jurus ini adalah jurus yang lebih dalam dari itu."
"Genji adalah orang yang tewas karena kehabisan cakra. Dia tewas karena dia harus memindahkan Jiraichi ke dimensi lain. Sedangkan Jiraichi adalah ninja yang merebut sel tubuh Madara dan dia harus dikejar. Karena itulah Naruto sengaja ikut tersedot di dalam jurus pemindah dimensi ini." Tsunade menjelaskan.
"Namun, tadi kami baru tahu bahwa… ternyata…" Ino meneguk ludah. "Genji dan Jiraichi bersaudara. Mereka kakak adik."
Sakura mengerutkan kening. "Mereka bersaudara. Lalu?"
"Ikatan darah itu adalah pintu untuk membuka gerbang ke dimensi lain." Ino menjelaskan. "Jadi, jurus ini terlarang bukan karena jurus ini bisa menyedot cakra dan menyebabkan kematian. Jurus ini terlarang karena untuk mengaktifkan jurus ini, kau membutuhkan seseorang yang punya darah yang sama denganmu."
Wajah Sakura memucat. "Jadi…"
"Genji membentuk segel jurus pemindah dimensi, mengirim Jiraichi ke dunia lain. Dan di detik itu juga, cakra Genji terkuras sampai dia tewas." Tsunade menggertakkan gigi. "Namun sepertinya Naruto memegang atau mencengkram Jiraichi sehingga dia ikut terkirim ke dunia lain."
"Sakura…" Suara Ino bergetar. "Untuk mengembalikan Naruto ke sini… kita perlu… kita perlu seseorang yang mempunyai hubungan darah yang kental dengannya. Seseorang itu harus membentuk segel yang sama dan memanggil Naruto yang ada di dunia sana kembali ke dunia ini. Namun tentu saja… dengan begitu cakra orang yang membentuk segel itu akan…"
Di detik itu juga, kepala Sakura langsung terasa berkunang-kunang. Hubungan darah yang kental? Berarti… Tanpa sadar, tangan Sakura langsung mencengkram perutnya. Dia merasa mual. Wajah tawa Kushina dan Chiyo muncul di kepalanya. "Tidak. Tidak."
"Kushina. Dia mewarisi cakra Naruto. Dia punya jumlah cakra yang luar biasa. Dia…"
"Sasuke-kun!" Sakura menjerit. "Kushina masih lima tahun!" Air mata membasahi wajahnya.
"Dan dia sudah bisa kage bunshin." Tatapan Sasuke mengeras. "Jika kau mau Naruto kembali, kau harus…"
"Naruto." Sakura mendesis. "Tidak akan mau kembali jika dia tahu bahwa dia harus mengorbankan putrinya sendiri." Tanpa menunggu jawaban dari Sasuke atau siapa pun, Sakura berlari keluar dari ruangan hokage.
TBC
AN: segitu dulu untuk chapter ini. Karena alurnya ribet, kalau ada yang tidak ngerti, PM aja ya :)
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
PS: Aku sarankan readers buat baca Odd Couple chapter 10. Karena deskripsi Kushina dan Chiyo ada di sana :)
List of OCs:
1. Genji: sang adik yang mengorbankan nyawa dengan membentuk segel jurus pemindah dimensi dan mengirim Jiraichi (kakak) ke dimensi lain. Dan Naruto tersedot ke dalam dimensi dengan cara pegangan sama Jiraichi.
2. Jiraichi: sang kakak yang mencuri sel tubuh Madara dan harus dibasmi(?)
3. Fuyuki: partner Genji yang tertangkap ANBU dan dicongkel ingatannya sama Ino.
4. Kushina dan Chiyo: Anak2 kembar NaruSaku :)
