.

.

.

From The Beginning

Disclaimer :
Bleach © Tite Kubo

Pair :
Hitsugaya Toshirou dan Rukia Kuchiki

Genre :
Romance, Adventure, Mystery, and Drama

Warning :
Alternative Universe; Out Of Character; TYPO; Alur kecepatan; dan masih banyak lagi.
Diharapkan untuk menyiapkan obat sakit kepala dan kantong muntah sebagai pertahanan sebelum membaca fic ini.

.

.

.

Summary :
Rukia Kuchiki adalah seorang gadis yang berasal dari kalangan menengah atas, tetapi ia lebih senang hidup sederhana. Namun ketika ayah tercintanya mendadak jatuh sakit dan meninggal dunia, ia harus menyelamatkan nama baik keluarganya serta mencari harta warisan yang ditinggalkan kedua orangtuanya. Dengan bantuan pengacara muda, ia akan menjelajahi dunia untuk mencari harta itu. Apakah ia dapat menemukan harta itu?

.

.

.

Don't Like. Don't Read!

.

.

.


# Chapter 5 #

Mentari pagi menyinari permukaan bumi dengan cahaya yang menyilaukan. Burung-burung sudah mulai bercicit memanggil satu sama lain. Angin dingin musim dingin berhembus membuat suara gemerisik yang sangat khas. Jalan yang kemarin sore masih bersih sudah dipenuhi benda dingin berwarna putih yang disebut dengan salju. Semua orang yang bergerak di jalan segera mengencangkan pakaian tebal dan syal yang kenakan agar angin dingin yang menusukkulit tidak sempat menyentuh kulit mereka.

Diantara orang-orang yang berjalan ditengah salju memenuhi jalanan, terlihatlah dua orang yang memiliki rambut yang berwarna kontras. Mereka berjalan berdampingan tanpa ada yang membuka suara sedikitpun. Langkah kaki mereka seperti melodi yang saling mengiringi. Wanita yang berambut hitam sesekali melirik kearah samping dimana pria berambut putih yang mirip dengan salju itu berjalan dengan tenang. Raut wajahnya masih sama dengan keluar dari apartemen tadi pagi. Datar dan tidak menunjukkan sedikitpun keraguan.

"Apa ini hal yang tepat dilakukan?" Rukia membuka suaranya yang sedaritadi terkubur didalam tenggorokannya yang mulai kering.

"Kalau kau tidak mau, pulanglah." Jawab Hitsugaya dengan acuh tidak acuh miliknya.

"Tidak." Rukia memantapkan diri sendiri untuk tidak mundur. "Jika aku mundur sekarang, aku akan menyesal seumur hidupku." Hitsugaya yang sedaritadi hanya beraut datar sedikit menarik bibirnya untuk mengembangkan senyumnya walau hanya setipis sutra. Didalam hatinya ia sedang menantang sang gadis bermarga Kuchiki itu.

Angin sekali lagi berhembus menerpa wajah mereka. Dengan langkah kaki yang mantap dan stabil mereka berjalan menuju sebuah gedung besar bercat putih dengan atap bundar layaknya sebuah gelora biasa. Namun tidak banyak yang tahu bahwa didalamnya sudah menunggu orang-orang yang akan mengungkapkan sebuah misteri yang terkait dengan atlet panah kebanggaan mereka.

Tanpa keraguan sedikitpun, mereka mendorong pintu kaca dan memasuki gedung itu. Renji yang menunggu didekat pintu masuk sekaligus keluar itu langsung menghampiri mereka dan menyapanya untuk sekedar basa-basi saja. Renji mengajak mereka ke gedung bagian dalam yang biasa digunakan para atlet untuk berlatih atau bertanding sesekali. Di kursi penonton yang tersedia sudah dipenuhi oleh orang-orang dengan spanduk maupun alat untuk mendukung jagoannya. Renji mengajak Hitsugaya dan Rukia ke salah satu kursi VIP yang sudah dipesan jauh-jauh hari setelah mendengar ada kejuaraan.

Jujur saja, mereka semua tidak menyangka bahwa hari pertandingan ini akan menjadi hari dimana semuanya terungkap. Misteri yang menyelubungi kematian Ishida Uryuu, atlet panah kebanggaan Tokyo yang pernah memenangkan kejuaraan internasional di usianya yang masih muda waktu itu.

Saat mereka duduk di kursi yang tersedia, mereka dapat melihat inspektur Ichigo yang duduk disalah satu kursi tersebut. Ia mengenakan setelan jasnya yang biasa. Jas abu-abu dengan kemeja putih didalam serta dasi merah. Berbeda dengan Renji yang hanya memakai pakaian santainya. Sambil melipat tangan di dada, Ichigo melihat pertandingan yang sedang berlangsung. Pertandingan panah yang seharusnya diikuti oleh Ishida. Di bangku yang tidak jauh dengan tempat mereka berempat, terlihatlah Tatsuki dan Keigo yang sedang menyemangati teman mereka yang ikut pertandingan, Chizuru Honzo, yang sekaligus adalah salah satu tersangka pembunuhan.

Mereka memperhatikan bagaimana para atlet dengan lihainya memainkan busur serta anak panah mereka. Mereka mengarahkannya ke target yang terbentang sejauh 10 meter didepan mereka. Dengan mata yang sudah terlatih dan jeli, mereka mulai melepaskan beberapa anak panah agar mengenai titik tengahnya.

Syut.

Syut.

Syut.

Syut.

Dak.

Dak.

Dak.

Dak.

Empat anak panah terlempar dari busur dengan kecepatan tinggi. Ujung runcingnya menancap pada titik tengah sasaran target yang terdiri dari 10 lingkaran yang dimulai dari lingkaran kecil didalam kemudian semakin membesar hingga lingkaran ke-10. Setelah panahnya menancap di target, para atlet menghela nafas lega. Walau tidak semua panah menancap pada titik tengah yang merupakan sumber poin terbesar, tapi mereka masih merasakan kepuasan karena telah berhasil mewakili daerah mereka pada pertandingan tingkat nasional ini.

Pertandingan demi pertandingan dilewati satu persatu. Hingga jam 12 siang tepat tengah hari semua pertandingan diberhentikan sebentar guna mengistirahatkan para atlet serta penonton yang mungkin sudah lelah duduk ditempatnya selama berjam-jam. Hitsugaya, Ichigo, Renji, dan Rukia segera berjalan menuju ruang istirahat atlet. Mereka mencari-cari nama Chizuru Honzo dan setelah 15 menit berkeliling akhirnya menemukannya. Mereka mengetuk pintu itu dan yang didalam mempersihlakan mereka masuk.

Didalam ruangan itu terlihatlah beberapa anggota polisi dengan seragam lengkap, Chizuru, Tatsuki, Keigo, dan Ikumi. Mereka sudah dikumpulkan sesuai permintaan Ichigo kemarin malam. Semua orang yang ada disana menatap 4 orang yang baru masuk berharap penjelasan mengapa mereka dikumpulkan disaat istirahat seperti ini. Bahkan ada beberapa polisi yang seperti menjaga buronan pula. Hari sebelumnya, mereka diminta untuk berkumpul saat istirahat atlet namun tidak diberikan penjelasan lebih mengenai hal tersebut.

"Kulihat semuanya ada disini, bukan?" tanya Ichigo sekedar basa-basi agar suasana tidak terlalu canggung. Keempat orang yang baru datang langsung menduduki kursi yang sudah tersedia disana. Mereka mengambil posisi yang nyaman. Renji meletakkan beberapa foto diatas meja yang ada disana. Tidak ada yang bergerak sampai Ichigo membuka suaranya lagi.

"Kami mengumpulkan kalian disini untuk memberitahukan kalian siapa pelaku pembunuhan Ishida." Matanya meneliti tiap orang yang ada disana.

"Jadi siapa yang membunuh Ishida?" tanya Tatsuki yang sudah tidak sabar.

"Yang membunuh Ishida adalah Ikumi Unagiya!" Ichigo menunjuk Ikumi yang duduk di pojok dekat tembok. Yang ditunjuk langsung tersentak dan menatap Ichigo dengan tatapan tidak percaya.

"Ba-bagaimana bisa kau menuduhku?" Teriak Ikumi dengan nada tidak terima. Ia dipanggil jauh-jauh dari tempat kerjanya untuk dituduh? Itu lucu sekali, menurutnya. "Apa buktimu kalau aku yang membunuhnya? Aku ibu yang melahirkannya! Mana mungkin aku membunuh anakku sendiri!" Ikumi berdiri untuk mendekati Ichigo, namun beberapa polisi langsung menangkap tangannya dan melumpuhkan gerakannya. Tatsuki, Keigo, dan Chizuru menatap Ikumi dengan tatapan kaget.

"Buktinya adalah kau tidak mau memberitahu kami kemana kau pergi saat hari kematian Ishida. Kemungkinan besar kau pelakunya sangatlah tinggi. Kami sudah mengerahkan beberapa orang untuk bertanya padamu namun kau selalu menolaknya. Jadi kami berspekulasi bahwa kaulah yang membunuhnya." Ichigo menjabarkan dugaannya.

"Apa motifnya? Setahuku kalian juga harus mencari motifnya juga, kan?" tanya Tatsuki dengan berani. Ia tidak percaya bahwa Ikumilah yang membunuh sahabatnya itu. Pada dasarnya Ikumi adalah ibunya. Ibu mana yang tega membunuh anaknya sendiri? Ibu yang gila mungkin.

"Mudah saja." Ichigo tersenyum sombong sebentar. "Dia menginginkan semua harta dari Ishida Ryuuken untuknya sendiri. Karena dari 100% harta warisan, ia hanya mendapatkan 20% sedangkan sisanya dimiliki oleh Ishida Uryuu. Benar kan, Ikumi Unagiya?" Ichigo menatap Ikumi dengan tatapan jijik. Di matanya, itu adalah perbuatan paling hina.

"Ditambah lagi saat ia pulang ke rumah adalah jam 4 pagi, menurut penuturan anaknya. Jam kematian Ishida diperkirakan pukul 2 pagi saat orang-orang yang ada di lingkungan apartemen maupun koridor apartemen tempat Ishida tinggal masih sepi. Ikumi mendatangi Ishida saat korban ingin pergi tidur tapi karena Ikumi mengetuk pintu jadi korban membukakannya. Kalau dilihat dari noda darah yang menyebar sampai jendela dan kaca yang pecah, kemungkinan besar Ishida memberontak dan Ikumi terpaksa memukul kepalanya dengan benda tumpul." Jabar Ichigo lagi.

Ikumi meronta-ronta untuk dilepaskan namun cengkeraman tangan pada pergelangan tangannya semakin kuat dan membuat tangannya mati rasa. Ia berteriak-teriak untuk membela diri namun diacuhkan oleh Ichigo. Semua orang yang ada disana percaya pada Ichigo.

"Bullshit." Hitsugaya angkat bicara. Semua orang yang ada disana langsung menengok kearah Hitsugaya yang menutup mulutnya rapat sejak tadi.

"Apa katamu?!" Ikumi membentak Hitsugaya.

"Aku bukan berbicara denganmu." Ucap Hitsugaya dingin. "Aku berbicara kepada inspektur sombong berkepala oranye ini." Hitsugaya menunjuk Ichigo dengan dagunya.

"Apa?!" Sekarang giliran Ichigo yang menaikan suaranya.

"Pelaku yang sebenarnya adalah Chizuru Honzo." Semua orang disana terkejut bukan main. Saat Ikumi dituduh saja mereka sudah tidak tahu harus bereaksi apa, apalagi Chizuru yang bisa dibilang teman kecil Ishida kan?

"Tch! Kau masih menuduh gadis ini? Kau ini bodoh atau apa, huh? Mereka teman sejak kecil jadi tidak mungkin!" Ichigo membentak Hitsugaya dan hampir menonjoknya namun berhasil digagalkan oleh Renji. Rukia dan Tatsuki langsung menahan nafas ketika Ichigo hampir menonjok Hitsugaya.

"Kau itu yang bodoh. Tidak memeriksa kasus secara mendalam dan teliti. Malah menuduh orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan ini semua." Hitsugaya menantang Ichigo dengan nada yang datar.

"Tapi Ikumi Unagiya terlihat memasukkan sesuatu saat ia mengajak Ishida minum di café 4 jam sebelum kematian Ishida." Ichigo kembali menunjuk Ikumi dan Ikumi protes lagi namun tangannya sudah dilepaskan dan ia sudah bisa mengendalikan dirinya.

"Lalu apa motif Chizuru Honzo dalam kasus ini?" tanya Renji yang sudah menenangkan Ichigo.

"Cinta yang tidak terbalas." Jawab Rukia yang hanya menjadi penonton selama ini. "Aku dengar dari Keigo bahwa Chizuru sangat menyukai Ishida sampai bisa digolongkan ke tingkat stalker. Namun sayangnya Ishida sudah menyukai Tatsuki sejak lama." Rukia tersenyum sendu kearah tiga orang yang namanya ia sebutkan itu. Tatsuki melotot dan segera menatap Keigo seolah-olah meminta penjelasan, sedangkan Keigo sendiri hanya mengangguk pelan. Chizuru yang duduk disebelah Tatsuki meremat pakaian atlet yang belum ia ganti.

"Buktinya?" tanya Chizuru menatap mata emerald Hitsugaya dengan mantap.

Hitsugaya melirik kearah Rukia dan Rukia lanjut menjelaskan, "Menurut analisaku, kau menggunakan parfum yang sangat khas saat menerobos masuk ke kamar Ishida. Parfum yang kau gunakan adalah parfum dengan ekstrak mawar didalamnya. Parfum itu cukup terkenal jadi aku bisa mendapatkannya dengan mudah di mall." Rukia mengeluarkan sebuah botol elegan dengan tutup berbentuk kipas. Warna botol itu keemasan dan tertempel label putih untuk menutupi nama merk parfum tersebut.

"Bagaimana kau tahu bahwa ia menggunakan parfum yang sama?" tanya Keigo membela temannya.

"Ini pengalaman pribadi. Semasa SMA dulu, temanku mengajakku ke tempat parfum dan aku selalu menemaninya karena tidak enak. Sebenarnya aku tidak terlalu suka parfum, namun karena lama-kelamaan sudah terbiasa jadi aku tahu berbagai jenis parfum walau itu membuat hidungku sakit, sih." Jelas Rukia dengan wajah yang muncul semburat merah karena malu.

"Ah!" Tatsuki memekik ketika melihat botol yang ada diatas meja. "Ini memang parfum kesukaanmu kan, Chizuru?"

"Lalu aku dapat mencium, walau dengan samar, jenis parfum ini di kamar Ishida dan kamar mayat waktu itu walau bercampur dengan bau amis darah. Penciumanku memang sensitive sejak kecil jadi bau yang asing aku selalu tahu." Tambah Rukia.

"Seperti anjing saja." Balas Ichigo yang sepertinya ingin memanas-manasi wanita cantik berambut hitam itu.

"Kau tahu itu tidak sopan, kan Ichigo." Renji menepuk pundak Ichigo dan tersenyum meminta maaf atas kelakuan atasannya itu. Rukia yang tidak mau tersulut api emosi langsung membuang muka.

"Kurasa kau juga melewatkan hal yang kecil, Kurosaki." Hitsugaya melirik Ichigo kemudian ke Chizuru. "Kau pulang jam 2 pagi di hari itu, bukan?" Chizuru mengangguk. "Tapi kata tetangga yang ada, mereka melihatmu pergi lagi pukul 3."

"A-apa? Aku ada di rumah saat itu!" Chizuru berusaha membela diri.

"Matamu mengatakan yang sebaliknya." Tambah Renji.

"Eh?"

"Kau ketakutan." Renji menatap Chizuru sambil mengatakan itu dengan tenang.

"I-i-itu..!" Chiuru tidak bisa berkata-kata.

"Jadi benar kau yang membunuh Ishida?" tanya Tatsuki tidak percaya kepada temannya.

"Tapi perkiraan jam meninggalnya Ishida adalah pukul 2 pagi, dimana Chizuru sedang berada di rumahnya." Ichigo masih kekeuh dengan perndapatnya bahwa Ikumilah yang bersalah.

"Ichigo, kau tahu alasanmu tidak begitu kuat, kan?" Renji menatap Ichigo dengan tatapan teman yang ingin menyadarkan teman baiknya.

"Lalu bagaimana darahnya begitu kering jika dilakukan pukul 3 pagi, 3 jam sebelum ditemukannya korban?" Tanya Ichigo.

"AC." Jawab Hitsugaya pendek.

"Ah!" Rukia seakan mendapat pencerahan. "Saat darah Ishida mengucur dari kepalanya menyentuh lantai, kemungkinan besar AC sedang dinyalakan. Sang pelaku bisa saja menyalakan AC dalam suhu yang tinggi. Lalu ketika pagi harinya, ketika mayat ditemukan, pintu dibuka lebar oleh Chizuru sehingga hawa dinginnya keluar dengan cepat. Dan karena banyak orang saat itu jadi hawa dingin tidak terasa lagi, ditambah lagi orang-orang itu berdesak-desakkan."

"Tapi kalau begitu ia membutuhkan waktu yang lebih lama karena ia harus memanjat, bukan?" Ichigo menuntut penjelasan.

"Siapa bilang dia memanjat?" Hitsugaya menaikan sebelah alisnya bingung dengan kata 'memanjat' yang Ichigo keluarkan.

"Bukankah ia memanjat untuk sampai disana? Kacanya pecah karena ia menerobos masuk." Renji menjelaskan maksud Ichigo. Benar-benar teman yang baik.

"Tidak ada acara panjat memanjat. Benar, bukan, Chizuru Honzo?" tanya Hitsugaya dengan senyum sombongnya. Yang ditanya meremat pakaiannya dengan erat dan menelan ludahnya.

"Benar." Chizuru mengakuinya.

"Chizuru?"

"Chizuru!"

"Benar aku yang membunuh Ishida dan motifnya sudah dijelaskan oleh nona detektif itu." Chizuru menunduk. Akhirnya ia mengakui kesalahannya.

"Lalu noda darah di jendela itu?" tanya Tatsuki.

"Dia tidak memanjat melainkan mengetuk pintu sama yang seperti Ichigo katakan. Kaca pecah karena Ishida berusaha melawan dengan menonjok kacanya." Renji melepaskan sarung tangan Chizuru. Semua orang baru menyadari bahwa Chizuru memakai sarung tangan selama ini. "Lukanya sudah mau sembuh kan?"

"Pandai sekali. Padahal aku kira aku sudah merapikan semuanya dengan baik. Bahkan menyiapkan alibi." Chizuru berkomentar. Tangannya langsung diborgol oleh polisi yang ada. "Bahkan inspektur itu mengira Ikumi-san yang membunuhnya."

Plakk.

Suara tamparan dapat terdengar. Tatsuki baru saja menampar Chizuru dan Keigo berusaha menenangkan Tatsuki.

"Beraninya kau membunuh Ishida." Ucap Tatsuki geram. "Dia adalah teman kita! Kenapa kau? Karena cinta tidak dibalas saja!"

"Kau tidak akan pernah mengerti perasaan yang kupunya untuknya selama 10 tahun! Aku menganggapnya sebagai seorang panutan namun semua itu berubah ketika aku menyadari bahwa ini adalah cinta!" Chizuru berteriak membuat seisi ruangan terdiam. "Dia bertindak seperti seorang kakak bagiku! Pelindung! Bahkan ketika anak-anak nakal mematahkan kacamataku, ia membelaku! Aku sangat menyukainya sampai-sampai kehilangan kewarasan." Ucapnya tulus. "Dan kau! Harusnya aku membunuhmu, bukannya dia!"

"Bisa kau jelaskan?" tanya Hitsugaya dengan nada kalem nan tenang miliknya.

"Malam itu aku bermaksud untuk menyatakan perasaanku, namun ia menolaknya. Aku yang tersulut api emosi ketika mendengar penjelasannya langsung memukulnya dengan tasku yang berisi beberapa barang berat." Jawabnya sambil tertawa seperti sudah kehilangan akal sehat.

"Itu sebabnya mengapa kami tidak bisa menemukan barang bukti paling kuatnya." Ichigo berkomentar.

"Hahaha iya! Aku sudah merencanakan semuanya! Aku tahu ia akan menolakku namun aku masih tidak percaya dengan hal itu! Hahaha!" Chizuru tertawa dengan gilanya. Polisi langsung menangkap tangannya dan berusaha menenangkannya. "Lalu aku juga yang memutilasinya haha~"

"Dia kehilangan kewarasannya." Ucap Hitsugaya pendek.

"Bagi seluruh peserta lomba memanah, diharapkan untuk kembali ke arena untuk melakukan pertandingan final." Suara dari pengeras suara terdengar jelas di ruangan itu. Semua orang melirik kearah Ichigo. Disini walaupun ia yang telah salah menangkap orang, namun tetap saja ia yang mempunyai kendali.

"Kubiarkan kau mengikuti final." Ichigo menjawabnya dengan nada kalem. Ia tahu ia sudah kalah dari pengacara ini. Namun ia mempelajari hal yang berharga. Kita tidak meremehkan apapun.

"Terima kasih." Chizuru berucap pelan setelah tenang.

.

.

.

Pertandingan dilanjutkan dan Chizuru dengan tegaknya berdiri di tengah lapangan. Para penonton langsung bersorak-sorai ketka semua pemain menyiapkan dirinya. Chizuru menyiapkan panah dan busurnya. Teman-teman serta polisi yang ada berdiri di sudut lapangan. Mereka memerhatikan Chizuru dengan seksama. Ketika wasit memberikan aba-aba untuk bersiap pada posisi mereka, semuanya melakukannya tanpa terkecuali Chizuru. Ia berdiri tegak dengan tangan yang sudah siap pada anak panah serta busurnya. Matanya terfokus pada target yang ada 15 meter didepannya.

"Dia sudah lebih tenang daripada yang tadi." Komentar Rukia tanpa mengalihkan perhatian dari Chizuru sedikitpun.

"Siap!" Wasit mulai memberi aba-aba. "Mulai!" Bunyi peluit terdengar.

Syut.

Syut.

Syut.

Dak.

Dak.

Dak.

Semua anak panah meluncur dengan bebas menuju target. Ketika menancap di target, dapat dilihat bahwa 2 panah menancap pada titik pusatnya sedangkan satunya menancap pada lingkaran ketiga dihitung dari dalam. Para penonton bersorak-sorai ketika pertandingan panah itu selesai. Ada yang berteriak bahagia karena jagoan mereka menang dan ada pula yang sedih karena jagoan mereka kalah. Namun semuanya masih memancarkan kesenangan dalam pertandingan ini.

Chizuru menghela nafas ketika melihat hasil panahannya yang hanya menancap pada lingkaran ketiga dihitung dari dalam. Ia melihat lapangan pertandingan tempat ia dibesarkan itu. Ini akan menjadi terakhir kalinya ia melihat lapangan pertandingan tempat ia tumbuh sebelum terjebak dibalik jeruji besi. Ia tidak yakin dengan berapa lama ia akan menghabiskan waktunya didalam penjara. Menit berikutnya, ia sudah digiring keluar oleh polisi menuju mobil polisi yang menunggu diluar.

Sebelum memasuki mobil polisi, Chizuru melihat kearah Tatsuki dan Keigo. Mengucapkan terima kasih dan maaf pada keduanya. Keduanya masih terlihat shock dan tidak mampu menjawab Chizuru. Ia tersenyum sendu kearah Hitsugaya dan Rukia lalu memasuki mobil polisi. Ia duduk di bagian penumpang belakang bersama Renji dan seorang polisi.

"Oi!" Suara khas Ichigo menyambangi pendengaran Hitsugaya dan Rukia. "Maaf soal yang kemarin. Aku tersulut api emosi."

"Hn." Jawab Hitsugaya seadanya.

"Kau benar mengenai aku yang besar kepala. Aku terlalu meremehkan kasus ini. Aku seperti lupa apa rasanya ketika aku berjuang mati-matian untuk mendapatkan posisi ini. Polisi bagian inverstigasi adalah cita-citaku sejak kecil." Ichigo tiba-tiba saja memulai sesi curhatnya dengan dua orang pendengar setia. Walau yang satu hanya menatapnya bosan saja. "Terima kasih, Hitsugaya. Jika kau butuh bantuan, aku akan siap menolong kalian." Cengiran khas Ichigo keluar. "Bye." Ichigo berjalan menuju mobil polisi tersebut. Mobil itu perlahan-lahan berjalan menuju jalan raya.

"Akhirnya misi ini selesai juga!" Rukia merenggangkan tubuhnya.

"Panah terakhir Chizuru," Hitsugaya membuka suaranya dan Rukia langsung enoleh kearahnya. "berada pada bagian jantung." Ucapnya. Rukia langsung mengerti maksudnya hanya tersenyum saja.

"Kadang merelakan itu sulit, terutama orang yang kita sayangi." Rukia menatap langit cerah. Awalnya sulit menerima kenyataan bahwa ia seorang diri di dunia ini, namun dengan kehadiran seseorang, ia merasa tidak kesepian lagi.

"Ha! Ayo cari makan. Aku lapar." Hitsugaya berjalan menjauhi tempat pertandingan itu sambil memasukkan kedua tangannya di kantung celana. Dibelakangnya Rukia mengikuti jejak Hitsugaya.

.

.

.

Tidak jauh dari Hitsugaya dan Rukia, terlihatlah seorang pria jangkung dengan rambut silvernya yang indah ketika ditimpa sinar mentari. Senyum lebar di wajahnya tidak pernah hilang sedikitpun. Matanya yang sedaritadi tertutup membuka sedikit hingga menampakkan iris merah darahnya. Wajah yang mempesona itu masih mengekori kedua orang yang sudah naik bus menuju suatu tempat. Ia keluar dari tempat persembunyiannya sedaritadi.

Tangan kanannya merogoh kantung celananya untuk mengambil ponselnya dan memijat keypad-nya dengan jemari-jemari kurusnya. Kemudian ia meletakkan ponsel itu di telinganya dan mulai berbicara.

"Halo? Aku sudah menemukan orang yang kau maksud. Kau harus membayar mahal untuk ini." Ucapnya ketika percakapannya dengan orang diseberang selesai.

"Bersiaplah Rukia Kuchiki." Pemuda itu menghilang ditengah keramaian jalanan yang semakin ramai karena banyak penonton pertandingan yang keluar.

.

-To Be Continued-

.

Author Note :
Akhirnya case pertama selesai! Banzai! Saya salut kepada kalian semua yang bertahan sampai disini. Ide absurb saya emang bikin kepala sakit kepala. Saya tahu misterinya kurang dan gaje abis. Maklum saya kan masih pemula. Duh evidence sama alibinya apa banget deh *nangis di pojokan* tapi setidaknya saya lega part ini selesai.

Ayo ayo, siapa yang masih penasaran dengan alur ceritanya? Romancenya cepat tidak sih? Saya bingung cara memperlambatnya /slap/ lalu ada Gin loh! Jadi apakah Gin di fic saya? Hayo hayo tebak donk w saya masih nggak pede nih sama misterinya. Itu Ichigo benar-benar saya nistakan disini ya hahaha (?)

Satu lagi, ini fic saya update pas banget sama hari Valentine karena pengen kasih surprise buat yang ngikutin fic ini. Setelah hiatus setahun akhirnya bisa update fic ini lagi. Kangen banget nulis OTP straight saya ini *kedip manja* ok, jangan lupa review ya! Saya tunggu reaksi dan keluhan kalian disini dengan manis.

.:Thank You For Reviewing:.

Ray Kousen7 | Guest | Austine Sophie | IntisariHidup | Wintersia | and You

Happy valentine semua! Sini saya kasih peluk cium. /nggak ada yang mau