Us Against The World

.

Chapter 6: Under the Starry Stars

Jaehyun berpikir keras tentang hadiah yang akan ia berikan kepada kekasih kesayangannya, Taeyong. Well, ini bukan soal Taeyong yang sedang berulang tahun. Atau bertukar hadiah pada hari Natal. Ini soal pencapaian yang berhasil diraih oleh Taeyong dan kawan-kawan.

Sebuah kabar menggembirakan datang untuk NCT Dash yang berhasil meraih posisi satu pada minggu ini di salah satu music program. Sepulang dari SM TOWN di Bangkok, para member NCT Dash langsung menuju ke music program itu untuk tampil live dan menerima pengumuman di akhir acara. Semua tidak menyangka. Semua di luar dugaan. Semua bahkan tidak percaya pada awalnya.

Namun, ini nyata. Taeyong bersama member NCT Dash meraih penghargaan sebagai pemenang. Sungguh, apa yang mereka alami malam itu merupakan yang pertama selama mereka berkarir di NCT. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Perasaan itu begitu membuncah dalam dada hingga mereka tidak tahu harus mewujudkannya dalam bentuk yang bagaimana. Akhirnya, mereka alirkan begitu saja. Mereka tidak peduli dengan image masculine yang selama ini mereka tunjukkan dalam music video dan tampilan live.

Malam ini, mereka ingin menjadi anak lelaki biasa. Anak lelaki biasa yang mendadak tidak bisa berkata-kata karena takjub atas pencapaian mereka. Anak lelaki biasa yang bisa menangis saat menerima penghargaan yang selama ini mereka idam-idamkan. Yang mereka perjuangkan. Yang berhasil mereka capai. Pada akhirnya mereka merasakan suatu keindahan, di mana rasa haru dan bahagia merupakan perpaduan yang terlampau sempurna untuk dinikmati bersama teman perjuangan.

Agensi mereka pun tidak tanggung-tanggung untuk memanfaatkan momen ini sebagai awal promosi di luar Korea. NCT Dash diberi kesempatan untuk mengadakan showcase di Osaka, Jepang, selama dua hari. Para member akan berangkat besok pada penerbangan pertama. Itulah mengapa Jaehyun harus tergopoh-gopoh untuk mempersembahkan sesuatu sebelum Taeyong pergi.

Setelah memutari area Myeong-dong dan sekitarnya selama hampir dua jam, Jaehyun pulang dengan beberapa bungkusan di tangan. Tangannya membawa plastik berisi dua boks persegi panjang. Di dalamnya berisi kue coklat bite-size kesukaan Taeyong. Ia sengaja membeli banyak karena sebagian penghuni dorm mempunyai tangan dan mulut jahil yang parah. Lagipula, hadiah ini bukan hanya untuk Taeyong seorang, tapi juga untuk member NCT Dash. Tangan yang lain membawa satu boks kubus, lebih kecil dan tidak lupa dibungkus rapi dengan pita hitam.

"Aku pulang!" Jaehyun melangkah ke dorm dan langsung disambut oleh beberapa pasang mata.

"Hyung, Jaehyun-hyung, bawa apa? Banyak sekali boksnya!" ia dicegat Jeno didepan pintu masuk.

"Aigoo, kau semangat sekali, Jeno-ah. Apa kau sudah makan?" Jaehyun mengusak pelan rambut Jeno.

"Sudah, hyung. Tapi aku masih lapar," Jeno meringis memperlihatkan giginya yang rapi.

"Baiklah, kalau begitu makan dessert ini supaya kau lebih kenyang, Jeno-ah!" Jaehyun memberikan satu bungkusan boks kue untuk Jeno. Jeno yang menerimanya menghambur ke pelukan Jaehyun untuk berterima kasih. Jaehyun membalasnya dengan tepukan pelan di punggung Jeno.

"Jangan lupa bagi dengan yang lain, ya," Jeno mengangguk semangat sambil melepas pelukannya. Semua orang tahu bahwa Jaehyun sangat menyayangi Jeno. Begitu juga sebaliknya. Jadi, tidak ada yang merasa asing lagi dengan skinship yang ditunjukkan oleh Jaehyun atau pun Jeno.

Jaehyun kemudian melenggang masuk menuju ruang rekreasi, melewati para maknae yang sedang rebutan kue coklat di meja makan. Jaehyun menemukan beberapa orang di sana. Hansol dan Taeil yang sedang duduk bersebelahan sambil membaca satu buku. Mereka memegang buku itu bersama-sama dan ngobrol dalam dunia mereka sendiri. Jaehyun penasaran buku apa itu. Di depan mereka duduk Jhonny dan Doyoung yang sedang menonton Running Man sambil asyik cekikikan.

"Hyung-deul, aku belikan ini untuk NCT Dash. Selamat atas kemenangannya. Kalian memang pantas mendapatkannya," ujar Jaehyun sambil meletakkan boks persegi panjang di meja yang menengahi mereka.

"Jaehyun-ah, kau anak curang," Taeil mendesis, "kau pasti selalu lari duluan kalau soal hadiah-hadiah begini."

"Wah, uri Jaehyunie memang pengertian, tidak seperti tetua kita, hahaha ...," goda Hansol pada Taeil.

"Aku mau yang banyak coklatnya!" tangan Doyoung menyambar cepat.

"Kue coklat, ya?" gumam Jhonny. "You're late, man. Baru saja si Cookie Monster ke kantor agensi dengan Yuta untuk membicarakan perjalanan besok."

Jaehyun tercekat. Matanya mengerjap-ngerjap gugup. Merupakan hal yang mudah bagi Jhonny untuk menebak maksud Jaehyun membeli kue coklat itu untuk Taeyong. Meskipun Jhonny tidak tahu hubungan Jaehyun dan Taeyong yang sebenarnya, radar Jhonny terlalu kuat untuk merasakan memang ada sesuatu diantara mereka berdua. Namun, Jhonny memilih untuk diam. Setidaknya untuk saat ini.

"Yah, sisakan saja nanti untuk Taeyong-hyung dan Yuta-hyung," jawab Jaehyun sesantai mungkin. "Lho, Winwin dan Ten-hyung di mana?" lanjut Jaehyun mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Winwin istirahat di kamarnya. Ten pergi ke minimarket bersama Kun," timpal Taeil. Jaehyun hanya meng-oh-kan dan ikut duduk di samping Hansol dan Taeil yang kembali asik dengan buku mereka.

"Jaehyun-ah, tadi manajer-hyung telpon. Lagu kita sudah siap, besok kita ke studio untuk latihan," kata Jhonny.

"Eh? Sudah jadi? Hm, padahal aku ingin ikut menulis liriknya," Jaehyun menopangkan dagunya kecewa.

Jhonny tertawa kecil. "Still too early for us, darling. Tapi, manajer-hyung bilang aku boleh ikut menyisipkan musik DJ-ku."

"Heeh? Tidak adil. Tadi hyung bilang terlalu awal untuk kita!" Jaehyun protes memajukan tubuhnya.

"Exception for me," sarkas Jhonny halus. Jaehyun menghela napas malas. Sudah ia duga pengalaman Jhonny di bidang DJ tidak bisa tidak diacuhkan begitu saja bahkan bagi pencipta lagu mereka. Jaehyun merebahkan tubuhnya di sofa, berusaha menyerah dengan Jhonny.

"Jaehyun-ah, aku mau main basket. Temani aku, dong," Doyoung tiba-tiba memecah sunyi diantara mereka.

"Hah? Malam-malam begini?" Jaehyun mengangkat tubuhnya, sedikit tertarik.

"Ayolah, sebelum aku pergi besok. Aku perlu menyegarkan otakku sebelum aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran selama dua hari di Jepang," Doyoung memohon.

Jaehyun berpikir itu bukan ide yang buruk. Ia juga perlu mengalihkan kesedihannya karena harus berpisah dengan Taeyong meskipun itu hanya dua hari. "Oke, hyung. Ayo!"

"Bagus. Hyungdeul mau ikut juga?" Doyoung mencoba mengajak para hyung-nya. Jhonny mengibaskan tangannya sambil berkata "pass", sementara Hansol dan Taeil, masih berkutat dengan buku mereka. Doyoung hanya mendengus mendengar tolakan mereka. "Sepertinya kita berdua saja, Jaehyun-ah. Para maknae juga sedang asyik dengan parade cookies yang kau belikan."

"Tunggu, hyung. Aku taruh ini di kamar dulu."

Doyoung melirik boks kubus yang sedari tadi di genggam Jaehyun. "Untuk Taeyong-hyung?"

"Eh? Ah, ini, hanya menemukan barang yang mungkin cocok untuk dia pakai," Jaehyun salah tingkah, seolah tertangkap basah oleh Doyoung. Seharusnya Jaehyun meletakkan boks itu terlebih dulu di kamar agar tidak ada yang tersinggung karena ia memberikan hadiah ekstra untuk Taeyong.

Doyoung hanya mengangkat bahu tidak peduli. "Oh, begitu. Cepatlah, aku tunggu di bawah."

Jaehyun mengangguk cepat dan berlari menuju kamarnya. Ia letakkan boks itu di kasur Taeyong dan segera berlari keluar menyusul Doyoung.

...

Dorm NCT mempunyai halaman belakang yang lumayan luas. Cukup untuk satu lapangan basket dan satu petak untuk playground yang berisi tiga ayunan dan satu perosotan. Jaehyun dan Doyoung menikmati malam itu dengan jiwa semurni anak kecil. Mereka bermain basket tanpa aturan. Asalkan bola masuk ke ring sudah cukup untuk mencetak skor.

Bosan bermain bola, mereka pindah ke ayunan. Saling mendorong agar tubuh mereka melayang tinggi seolah mencapai langit. Setelah itu mereka bermain perosotan. Mereka hanya bisa tertawa tanpa dosa saat tubuh mereka terjepit di slide dan tidak mau meluncur.

"Hahaha...hyung, badan hyung terlalu besar untuk perosotan itu!" seru Jaehyun sambil terbahak-bahak.

"Aish...ayo meluncur! Jaehyun-ah, cepat kau naik dan dorong aku! Aku ingin meluncur!" Doyoung berteriak merengek seperti anak kecil. Jaehyun semakin tergelak dengan ide konyol Doyoung. Tapi Jaehyun juga ingin bersenang-senang malam itu. Ia menuruti Doyoung dan naik untuk meluncur bersama. Meskipun tubuh mereka tetap terjebak, mereka berhasil meluncur dengan sedikit paksaan dan dorongan dari Jaehyun.

Karena terlalu dipaksakan, keduanya mendarat tidak mulus di tanah. Doyoung harus mengerang kesakitan karena tertimpa badan Jaehyun yang besar. Menyadari kelakuan mereka berdua yang sungguh konyol, mereka hanya bisa menertawainya dan bergulingan di tanah. Suara halaman belakang yang tadinya sepi kini penuh dengan tawa dari dua insan yang sedang tiduran sambil memandang langit.

"Untung aku mengajakmu kesini, Jaehyun-ah. Kalau tidak aku yakin kau sudah mati bosan di dorm," ujar Doyoung masih setengah tertawa.

"Ya, kau benar, hyung. Terima kasih, walaupun aku harus menuruti tingkahmu yang kekanakan," pingkal Jaehyun.

Doyoung menepuk pelan kepala Jaehyun, "Bilang saja kau juga bersenang-senang, dasar Bayi Besar!"

Jaehyun tidak kuasa menahan tawanya setelah dijuluki sesuatu yang menurutnya memang pas untuk dirinya. "Doyoung-hyung kau benar-benar tahu aku ini seperti apa, ya," Jaehyun tidak menyangka kalau Doyoung bisa menggambarkan dirinya melebihi dari yang ia sendiri tahu.

Doyoung hanya terdiam. Seketika tawanya berhenti. Ada yang bergemuruh dalam dadanya mendengar perkataan Jaehyun barusan. Ia hanya tersenyum kecil.

Semilir angin malam membelai lembut wajah mereka. Mata mereka terpejam menikmati sayup-sayup suara di malam hari. Daun-daun pepohonan yang bergesekan, klakson mobil di kejauhan, dan serangga-serangga malam baik yang bersembunyi maupun berterbangan. Kedua lelaki yang terbaring di tanah sejenak hanyut dalam semua itu.

Ketenangan. Adalah hal yang cukup mahal untuk mereka beli sekarang. Tentu saja, ditengah kesibukan dan padatnya aktivitas, orang macam mereka akan menukar apapun demi satu menit ketenangan yang jarang mereka dapatkan.

"Jaehyun-ah, lihat! Ada bintang! Ya ampun! Ada dua!" Doyoung tiba-tiba berseru kegirangan.

"Eh, mana, mana, hyung?" Jaehyun mengikuti arahan telunjuk Doyoung dengan antusias. Dan di arah timur, mata Jaehyun menemukan dua titik berpendar keputihan, meski hanya kecil saja. Jaehyun takjub tidak percaya. Ia bertanya-tanya pada dirinya, mereka benar di Seoul kan? Di kota metropolitan yang penuh polusi ini merupakan hal biasa jika langit malamnya hanya berupa awan merah, bukan berbintang seperti sekarang.

Jaehyun mengangkat tubuhnya untuk duduk. Wajahnya masih menengadah dan matanya berbinar seterang bintang yang dipandangnya. Bibirnya membingkai sebuah senyum merekah, membuat mulutnya terbuka. Doyoung hanya menatapnya kalem. "Akhirnya di langit Seoul ada bintang juga, Jaehyun-ah."

"Eung. Hyung benar."

"Satu lagi keuntungan aku mengajakmu ke sini," Doyoung tersenyum lebar, "kau bisa melihat langsung bintangmu tanpa harus jadi anak jendela lagi."

Jaehyun menoleh, tertegun dengan perkataan Doyoung. Ditatapnya Doyoung yang masih terbaring dan memandang langit. Jaehyun yang melihatnya memasang senyum halus. "Ehehe ... selain Bayi Besar, Doyoung-hyung sepertinya juga tahu kebiasaanku yang duduk di jendela, ya?" ia menggaruk kepalanya malu. Doyoung sejenak terdiam. Ia kemudian juga bangun, menatap Jaehyun dalam.

"Ya, aku tahu, Jaehyun-ah. Kebiasaanmu duduk di pinggir jendela sambil memandang langit, berusaha menemukan bintangmu. Kalau kau sudah bosan, kau ambil bukumu dan kau baca sambil tersenyum sendiri."

Jaehyun menarik napas. Ia tidak tahu mengapa, tapi dari intonasi Doyoung yang begitu lembut, membuat dirinya lupa untuk sekedar mengedipkan matanya.

"Aku juga tahu, bagaimana kau selalu minum air putih tepat setelah kau bangun pagi. Dan tidur dengan memeluk gulingmu pada malamnya," sorot mata Doyoung menghangat, berbanding terbalik dengan sekujur tubuh Jaehyun yang mendingin.

Doyoung menghembuskan napasnya panjang, ditatapnya lelaki didepannya yang terlihat begitu bingung. Namun, Doyoung tetap mencari celah agar Jaehyun mengerti maksud dari semua ini. "Kau tahu, Jaehyun-ah, aku tidak menyangka akhirnya aku mempunyai waktu sendiri denganmu. Akhirnya, hanya ada kau dan aku, malam ini." Doyoung mengalihkan pandangannya, menerawang jauh ke jalanan.

"Aku tidak tahu persis kapan, tapi saat berada di dekatmu, yang aku rasakan hanyalah kenyamanan. Mungkin aku hanya berlebihan, pikirku waktu itu."

"Aku tidak tahu persis kapan juga, tapi saat kau tertawa bersamaku, yang aku rasakan hanyalah kebahagiaan. Mungkin aku hanya salah mengartikan, pikirku juga waktu itu."

"Kemudian aku ingat persis, di mana kau mulai menyentuhku setelah latihan, tangan besarmu menepuk bahuku dan bibir manismu berkata, "Minumlah dulu, Hyung". Saat itu juga untuk pertama kalinya, aku menyadari jantungku yang selalu berdegup kencang tiap kali melihatmu, dan mengakui perasaan yang bergelora dalam hatiku. Bahwa aku menyukai Jung Jaehyun."

Sesuatu bergerak di dalam tubuh Jaehyun yang mendingin. Ia merasakan sebuah letupan kecil mencuat dari dalam jantungnya. Napasnya bergerak naik turun.

"Aku pikir aku telah melakukan kesalahan dengan menyukaimu," Doyoung terkekeh kecil, "jadi aku berusaha melupakannya. Aku berusaha menjalani kehidupan idol ini sebagai pengalih perhatian."

Doyoung menghela napasnya,"Tapi, ternyata itu adalah kesalahanku yang kedua. Karena betapapun aku mencoba menjalani hidupku tanpa perasaanku padamu, hidupku malah jatuh berserakan di sembarang tempat."

"Hidupku menjadi tidak ber-rima tanpamu. Atau lebih tepatnya, tidak mau ber-rima tanpamu," Doyoung menyungging sebuah senyum. "Dan ketika aku memungut kembali hidupku yang berserakan itu, mereka malah sudah berkumpul tepat di hadapanmu. Saat itu juga aku menyadari, bahwa hatiku telah jatuh padamu."

Darah dalam nadi Jaehyun berdesir. Ia hampir tidak mampu menahan letupan-letupan dalam jantungnya yang sudah meliar. Napasnya kian tidak beraturan.

"Jaehyun-ah," panggil Doyoung lirih, ia mendekatkan wajahnya pada Jaehyun, menempatkan tangannya di wajah mulus Jaehyun, "kalau ada tempat untuk menyerahkan hatiku, kalau ada tempat untuk setiap momen kita berdua, aku akan menempatkannya di bintang yang tadi kita temukan. Dan bagiku kau adalah bintang itu sendiri. Bintang dalam hidupku."

Doyoung mengecup lembut bibir Jaehyun.

Jaehyun sungguh terhanyut dengan ombak yang dibawa Doyoung. Ia hanyut dalam semua perkataan Doyoung tentangnya. Ia terombang-ambing dengan perasaan Doyoung tentangnya. Ia bahkan menutup matanya ketika Doyoung dengan lembut menyentuhkan bibir mereka berdua. Ia sudah pasti tenggelam jika saja sebuah bayangan wajah seseorang tidak muncul untuk menariknya ke permukaan. Taeyong.

Jaehyun menjauhkan dirinya dan mendorong tubuh Doyoung. Jantungnya yang berdegup kencang tidak memberinya waktu istirahat. Dan tidak akan pernah memberikan satu detik pun untuknya menarik napas, karena sebuah panggilan kecil yang dingin dari arah belakang.

"Jae ...,"

Jaehyun tahu persis siapa yang memanggilnya dengan panggilan seperti itu. Orang yang paling tidak diharapkan untuk muncul di saat seperti ini. Orang yang menjadi urutan terakhir dalam daftarnya untuk melihatnya baru saja berciuman dengan Doyoung.

"Taeyong-hyung ...," Dada Jaehyun serasa digada melihat Taeyong yang marah, benci, sedih, kecewa, terpancar jelas di wajah Taeyong. Namun, Taeyong dengan cepat menangkis itu semua. Dipertahankannya sikap dingin yang menjadi andalannya. Ia kemudian melempar sesuatu dengan keras ke tubuh Jaehyun. Kemudian ia berlari meninggalkan tempat itu.

Belum lepas dari serangan gada, dada Jaehyun menerima serangan susulan bom atom. Ia begitu terpukul Taeyong melempar sesuatu ke tubuhnya, membuatnya mendesis kesakitan.

Sebuah boks kubus putih, dengan pita yang sudah dilepas sebagai pembungkusnya, dan beberapa coklat bite-size yang dibungkus tissue, kini tercerai berai di tanah. Mata Jaehyun memanas melihat semua itu. Ia menyadari bahwa Taeyong ke sini untuk mencarinya. Ia menduga bahwa Taeyong ke sini dengan boks putih itu pasti ingin berterima kasih dengan hadiahnya. Ia tahu bahwa Taeyong ke sini dengan kue coklat yang tadi dibelinya, pastilah untuk Taeyong bagi dan makan bersamanya.

Jaehyun hanya bisa berlutut lemas. Ia telah menyakiti Taeyong. Ia mengerang menyesal dan putus asa. Diambilnya boks putih yang bentuknya sudah reot di sana-sini. Ia memejamkan matanya. Tubuhnya mengatakan ia harus segera menemui Taeyong. Menjelaskan sejelas-jelasnya situasi yang baru saja mereka alami.

Sebelum Jaehyun mengangkat kakinya, tubuhnya berbalik untuk menemukan Doyoung yang masih duduk. Ekspresi wajahnya tenang bagaikan air yang belum diobak-abik. Seolah tidak terpengaruh dengan insiden yang dipertunjukkan oleh Jaehyun dan Taeyong.

"Doyoung-hyung ... maafkan aku," ucap Jeahyun lirih. "Melihat sikapmu, aku yakin hyung pasti sudah tahu soal hubunganku dengan Taeyong-hyung ...," lanjut Jaehyun dengan kepala menunduk.

"Maaf ... karena sejenak aku larut dengan semua ucapan Doyoung-hyung, dan aku ... sangat berterima kasih dan menghargai itu semua," Jaehyun memotong kalimatnya, membungkukkan badannya penuh, "tapi, sekali lagi maaf ... aku mencintai Taeyong-hyung."

Doyoung berdiri dan mengangkat wajah Jaehyun, "Dan apakah Taeyong-hyung juga mencintaimu?"

Jaehyun tersentak dengan pertanyaan Doyoung, "Taeyong-hyung ..."

"Tidak pernah mengatakannya, kan?" pernyataan Doyoung seperti pisau buah membelah hati Jaehyun.

"Apa maksud hyung?"

"Maksudku, kalau dia memang benar mencintaimu, dia pasti pernah menyatakannya padamu, walaupun hanya sekali," tutur Doyoung. "Tidak seperti aku. Aku akan bilang aku mencintaimu berkali-kali, sebanyak yang kau mau. Kau bisa lihat bedanya aku dan Taeyong-hyung, kan? Kau bisa meminta cinta yang lebih dariku, lebih dari yang kau terima saat bersama Taeyong-hyung," tandasnya lagi.

Kalimat terakhir Doyoung membuat Jaehyun terdiam. Beberapa detik kemudian seutas senyum merekah di wajah Jaehyun, membuat Doyoung mengernyit. "Tepat sekali. Taeyong-hyung tidak pernah terang-terangan soal perasaannya. Taeyong-hyung tidak pernah bilang cinta padaku sekalipun."

"Di hadapanku sekarang sudah ada Doyoung-hyung, yang siap memberikan seluruh hatinya padaku. Tapi, di sini aku pula dengan hati dan tubuh yang terisi oleh Taeyong-hyung," Jaehyun terkekeh lembut, "Taeyong-hyung tidak pernah memintaku mencintainya, tapi di sini aku dengan bodohnya tergila-gila padanya."

"Kalau aku menerima cinta Doyoung-hyung, itu karena aku memintanya. Selamanya Doyoung-hyung akan mencintaiku karena aku yang memintanya. Semua yang Doyoung-hyung lakukan adalah karena aku yang memintanya."

"Taeyong-hyung ... dia memang tidak pernah meminta, tapi mampu membuatku memberikan segala-galanya," bisik Jaehyun pelan.

Bisikan Jaehyun seperti pekikan yang memecah gendang telinga Doyoung. Tubuhnya terasa dihantam godam, diikuti jatuhan beton bertubi-tubi. Membuat tubuhnya mengunci.

Ia menyadari sesuatu di kalimat Jaehyun. Sekuat apapun usahanya meyakinkan Jaehyun, ia tidak akan pernah mengalahkan Taeyong. Yang lebih menyakitkan, ia sudah kalah sebelum permainan itu sendiri dimulai. Sebuah senyum pahit terbesit di wajah Doyoung. Begitu, ya? Cinta di mana kau tidak perlu meminta. Kau memang terlalu naif, Jaehyun-ah.

"Doyoung-hyung, sekali lagi maaf. Dan, terima kasih. " Jaehyun segera berlari, meninggalkan Doyoung yang berdiri kaku di sana. Jaehyun sebenarnya tidak tega, tapi pikirannya saat ini hanya Taeyong. Ia harus segera berbicara dengan Taeyong.

...

Taeyong menutup pintu kamarnya cukup keras. Dalam otaknya berteriak berkali-kali ia harus menguncinya. Mencegah siapapun untuk masuk. Namun, tangannya bergetar saat menyentuh kunci yang menggantung di lubang pintu itu. Mendadak seluruh ototnya lemas. Pikirannya kacau. Ia tidak pernah sekalut itu.

Di benaknya masih terngiang adegan Jaehyun yang berciuman dengan Doyoung. Ia meremas rambutnya dengan kasar. Sesekali berteriak pada udara kosong. Sesekali menghantam lemari atau pintu. Napasnya dari tadi memburu tidak stabil. Kalau Taeyong tidak punya pertahanan diri yang kuat, ia pasti sudah terserang panick attack.

BRAK! Suara pintu dibuka dengan tergesa-gesa bersamaan dengan masuknya bayangan seseorang. Jaehyun. Taeyong hanya menatapnya dingin. Gelagat Taeyong masih tidak beraturan dibarengi hembusan napas kasar.

"Taeyong-hyung ... maafkan aku," ucap Jaehyun pada intinya. "Doyoung-hyung bilang dia suka padaku, tapi aku menolaknya. Dan ... dia memang menciumku, tapi sudah aku tegaskan kalau aku tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya," tambahnya meyakinkan. Jaehyun gelisah melihat Taeyong yang diam seribu bahasa.

"Hyung ...," Jaehyun perlahan mendekatinya, "hyung, tolong katakan sesuatu padaku. Apapun itu, makian, hinaan, marah, apa saja, hyung."

Namun, Taeyong tetap diam. Ia bahkan tidak menatap Jaehyun sekalipun. Raut wajah Jaehyun seketika berubah, frustasi. Ia tidak tahan dengan kesunyian yang menyelimuti mereka berdua. Jaehyun lebih baik dicaci maki, dipukul, atau ditampar daripada didiamkan Taeyong. Jaehyun ingin Taeyong meluapkan emosinya sebagaimana pasangan pada umumnya yang menemukannya sedang berciuman dengan orang lain. Apakah Taeyong-hyung juga mencintaimu?

Pertanyaan Doyoung tiba-tiba melesat tanpa aba-aba di kepala Jaehyun, membuat apa yang dilihatnya serasa berputar seperti orang terkena vertigo. Bagaimana jika Taeyong memang tidak mencintainya? Sehingga ia tidak marah dan biasa saja ketika Jaehyun berciuman dengan orang lain. Jaehyun mengusap wajahnya kasar. Dirasakan matanya yang sudah memanas dan kabur oleh air mata yang menggenang. Ia kemudian memeluk Taeyong dari belakang.

"Hyung, tolong ...," isak Jaehyun lirih, "aku bisa gila kalau hyung diamkan seperti ini. Aku mohon, hyung, katakan sesuatu. Aku mohon maafkan..."

Cklek. Pintu kamar mereka terbuka. "Taeyong, apa kau sudah selesai packing? Aku mau pin...," Yuta masuk dan melihat Jaehyun yang gelagapan melepaskan tubuhnya dari Taeyong. Jaehyun dengan segera membalikkan badannya, tapi Yuta bisa melihat jelas sembab di mata Jaehyun. Sementara ia menemukan Taeyong yang masih membatu dengan ekspresi…sedih? Tidak, hancur…?

Seketika Yuta menutup wajahnya dengan tangannya, mengutuk kelancangannya yang masuk ke kamar sepasang kekasih. Ia benar-benar lupa jika Jaehyun dan Taeyong memiliki hubungan istimewa. Dan dari atmosfir yang ia rasakan di ruang itu, jelas Jaehyun dan Taeyong sedang dirundung masalah. Yuta mendadak ciut, ia menelan ludah karena sembarangan masuk kamar orang tanpa mengetuk pintu lebih dulu.

"Kau butuh apa, Yuta?" suara Taeyong membuyarkan lamunan Yuta.

"Eh? Ah, bukan apa-apa, Taeyong. Aku kembali saja nanti, atau besok sekalian, haha…" Yuta tertawa gugup.

"Yuta," Taeyong memanggil nama itu lagi, ada penekanan pada suaranya.

Yuta tidak berkutik, "Ehm, tadinya aku mau pinjam pasta gigi untuk ke Jepang besok … ya ampun, kenapa aku tidak minta pada Ten saja, bodohnya aku ini, hahaha…" sekali lagi Yuta tertawa palsu.

"Tunggu, aku ambilkan," sekali lagi Yuta dibuat tidak berkutik karena Taeyong sudah melenggang pergi ke kamar mandi dan mengambilkan pasta gigi untuknya. Yuta sungguh tidak nyaman dengan situasi itu. Apalagi ia mendengar Jaehyun yang sesekali menahan isakannya.

"Ini, ambillah. Aku sudah selesai packing. Aku akan membantumu, jadi aku tidur di kamarmu malam ini," ujar Taeyong datar.

"Hah? Tunggu, Taeyong-hyung!" dan Jaehyun terlambat. Ia hanya bisa menatap nanar punggung Taeyong yang sudah pergi meninggalkannya. Matanya kembali memanas, bersiap meluncurkan butiran air mata ronde kedua. Yuta tidak sampai hati memandang Jaehyun seperti itu, tapi ia juga bingung harus berbuat apa.

"Jaehyun…" Yuta memanggilnya pelan. Jaehyun segera menyeka air mata yang berseluncur bebas di wajahnya. Ia kemudian berbalik, meninggalkan Yuta, menuju kasurnya dan membungkus dirinya dalam selimut. Yuta semakin mengeruh kala mendengar isakan Jaehyun di balik redaman selimutnya. Akhirnya Yuta hanya bisa menghembuskan napas berat. Meraih gagang pintu dan menutupnya pelan. Membantu meredam tangisan getir Jaehyun.

Jaehyun dan Taeyong berpisah keesokan harinya dalam keadaan saling tidak mengacuhkan.

To Be Continued

Up next: Yuta menyatakan perasaanya pada Taeyong di bawah pohon sakura. Baca Yutae juga di chapter berikutnya ya!

A/N: Selamat sore! Sebenernya pengen langsung tulis Yutae juga, tapi wah nanti bakal kepanjangan kayaknya xD jadi pelan2 saja ya :3 ada yang bisa nebak isi boks kubus itu? itu lhoo..hadiah apa yg kira2 dikasih Jaehyun buat Tiwai xD

Oke, terima kasih sudah mampir dan baca, dan untuk yg sudah review, favs, fol chap kemarin...i love you all :* :*

PS. kutunggu reviewnya :*