Author note di awal fanfic
Saya jujur sedang galau. Entah kenapa akhir-akhir ini banyak hal yang bisa membuat saya galau. Mulai dari mempertanyakan tujuan kuliah ini, apa yang sebenarnya ingin dicapai dimasa depan nanti sampai perasaan yang seharusnya sudah tidak datang lagi, tiba-tiba kembali lagi. Mungkin ini peringatan saya harus mulai menghindari lagu mellow atau saya menghancurkan dinding yang mulai kokoh dibuat selama empat tahun ini.
Ah maaf saya curhat, soalnya teman saya cowok semua. Mana ngerti sama curhatan saya soal masa lalu -_-
.
.
Love Song
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Standar warning. Tidak mengambil keuntungan apapun dalam pembuatan fanfic ini. Menggunakan first POV.
[Akashi Seijuuro] x [OC]
Love Song © tsaforite
.
.
F—Fight
Because there's nothing to be scared about—2PM
Memperjuangkan perasaan itu agar disadari oleh orang yang kita sukai mungkin adalah hal yang terberat bagi seorang perempuan. Namun ada hal yang lebih berat daripada memperjuangkan perasaan agar berbalas, yaitu mencoba melupakannya.
Aku tahu, melupakan orang yang pernah aku cintai sepenuh hatiku seperti mission impossibe, namun aku harus melakukannya. Karena perasaan ini tidak akan bisa bersatu, meskipun aku ingin, meskipun aku tahu perasaannya sama denganku.
Karena Akashi sebentar lagi akan menikah dengan orang lain dan aku memilih beasiswa ke Italia untuk mengejar impianku sebagai desainer terkenal. Aku sebenarnya pernah diberikan pilihan pada Akashi, namun aku memilih untuk mengejar impianku daripada Akashi.
"Selamat ya, Sei-kun. Ah— sepertinya aku harus mulai membiasakan diri memanggilmu Akashi lagi," ucapku saat bertemu dengan Akashi untuk terakhir kalinya, karena besok aku berangkat ke Italia.
"Terakhir kalinya aku bertanya padamu soal hal ini," mengabaikan candaanku —yang sebenarnya serius itu— Akashi kembali menanyakan hal yang dia tahu jawabannya. Aku keras kepala jika sudah menetapkan tujuanku dan dia keras kepala untuk menerima kenyataan jika mendapati penolakan. "Kau memilih aku atau Italia?"
"Masih tetap sama sayangnya. Maaf," aku boleh saja mengatakannya sembari tersenyum tanpa beban. Tapi yang paling tahu diriku sendiri adalah aku dan hatiku tidak mau menerima keputusanku itu. aku tahu, logika dan hatiku selalu bertarung setiap aku mulai memilih dua hal yang sangat penting dalam hidupku.
Aku melihat dari kejauhan perempuan bersurai pink berjalan mendekati kami. Dia adalah calon istri Akashi yang sudah ditetapkan oleh ayahnya dan sekali lihat, aku tahu mereka cocok.
Meskipun aku berat untuk mengakuinya.
"Pergilah, Akashi. Calon istrimu sudah datang," ucapku sambil tersenyum.
Setelah berbasa-basi singkat bersama perempuan bersurai pink itu, mereka berdua pergi dari hadapanku dan aku melepaskan mereka dengan senyuman. Setelah mereka menghilang dari balik pintu restoran, aku masih tetap tidak melepaskan senyuman dari wajahku. Aku tahu jika mataku mulai memburam dan aku tahu saat itu aku menangis.
Dua hari kemudian, aku sudah berada di langit untuk menuju Italia. Aku tau hari itu adalah hari pernikahan Akashi dan aku melarikan diri. Aku takut jika aku datang, aku tidaklah kuat untuk menghadapi kenyataan jika aku tidak mau berpisah dengan Akashi.
Kenapa di dunia ini ada pilihan yang sangat sulit?
Setelah aku sampai di Italia, aku fokus pada pendidikan desain yang aku ambil dan menutup segala akses untuk mengetahui kabar terbaru dari Jepang. Satu-satunya akses yang kubuka hanyalah sebuah telepon rumah, yaitu telepon rumah orangtuaku. Itupun jarang terjadi konversasi karena kedua orangtuaku sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Aku tahu mereka sejak lama saling mengkhianati dan membangun keluarga baru masing-masing. Dan aku hanyalah sebuah pion yang menunjukkan kepada seluruh orang jika keluargaku baik-baik saja. Salah satu alasan yang membuatku muak di sana dan memilih untuk ke Italia.
Jadi jika malam itu ada nomor yang tidak dikenal meneleponku, namun aku tahu nomor ini adalah nomor dari Jepang dan bukan nomor telepon dari orangtuaku. Mereka tidak mungkin membuang uangnya untuk telepon internasional yang biayanya bisa dibilang mengerikan.
"Halo," tidak ada jawaban yang membuatku melihat ke handphoneku apakah sudah di tutup dan hanya telepon iseng saja.
Namun ternyata masih aktif yang membuatku segera menempelkan telingaku ke handphoe lagi. "Ini siapa?"
Masih tidak ada jawaban yang membuatku menghela nafas. Aku kalau mau akan diam dan membiarkan orang di seberang sana tetap menunggu sehingga tagihan teleponnya membengkak. Namun aku tidak tega, jadi aku membuat keputusan untuk menutup teleponnya.
"Aku tutup jika tidak ada keperluan. Adios."
"Jadi setahun waktu yang cukup untuk melupakanku?" suara itu membuat jantungku berhenti sesaat dan aku tidak bisa bernafas. Suara itu ... suara itu ...
"I-ini siapa?" bodoh! Aku tahu jika ini Akashi, tapi aku harus memastikannya. Karena aku tidak mau dianggap sebagai perusak rumah tangga orang lain. Sudah cukup aku adalah hasil dari rumah tangga yang kacau, jangan menambah beban diriku,
"Seseorang yang kau tinggalkan demi ambisimu. Bagaimana disana? Mendapatkan apa yang kau inginkan dan lelaki baru?"
Aku mencoba untuk tetap tenang dan tidak mengomel serta menjelaskan kehidupanku sekarang, karena aku tahu aku bukanlah siapa-siapa lagi dalam hidup Akashi. Dia sudah ada yang memiliki.
"Baik-baik saja. Penuh tekanan karena deadline tugas, sibuk untuk membangun brand dan semua itu sudah cukup untuk membuatku tidak sempat memikirkan seorang pendamping," sial! Harusnya aku tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi selama setahun ini. Akashi pasti berpikir jika aku tidak bisa move on darinya—meskipun memang kenyataanya sih.
"Hm, baguslah. Karena aku pasti menyingkirkan lelaki itu jika berani mendekatimu."
Aku mendengarnya hanya bisa meringis dalam hati. Masih arogan seperti biasanya dan aku tidak mau terjebak pada permainan katanya. Dia sudah menikah dan aku tidak boleh menganggunya.
"Hahaha ... lucu sekali. Kau bertingkah seperti seorang pacar yang protektif pada kekasihnya," tawaku yang sebenarnya membuatku membuka luka lama hatiku. Dulu aku dan Akashi pernah di posisi itu, dulu sekali, sebelum aku memilih untuk pergi ke Italia.
Namun aku mendengar jawaban Akashi yang membuatku susah untuk bernafas. "Karena kau memang milikku."
Aku memejamkan mata sejenak untuk mengatur emosiku. Aku harus kuat. Aku tidak boleh terjatuh kedalam permainan kata Akashi. Karena aku dan dia sudah bukan dua orang yang bisa kembali lagi karena ada seseorang di sisi Akashi.
"Akashi Seijuuro, aku hanya mengingatkanmu jika kau telah menikah. Jadi berhentilah mencoba membuatku menyesali keputusanku."
"Dan kau, Midori Mizumi, harusnya tahu jika aku tidak jadi menikah dengan Momoi Satsuki."
Hah? Apa?! Kenapa bisa?! Ayahnya Akashi tidak membunuh Akashi karena kelakukannya itu?
"Jangan berbohong kepadaku. Aku tidak akan terpengaruh dengan ucapanmu."
"Terserah kau percaya atau tidak. Cari di handphone pintarmu tentang Aomine Daiki dan Momoi Satsuki, maka kau menemukan jawabannya apa aku berbohong atau tidak."
Dan karena aku masih menggunakan handphoneku untuk menelepon, akupun beralih ke laptopku yang kebetulan ada di dekatku untuk mencari kebenaran ucapan Akashi. Tidak berapa lama kemudian, keluar banyak artikel yang berkaitan dengan mereka berdua dan juga Aomine.
Aku jatuh terduduk dan ada euforia kegembiraan meledak di dalam diriku. Entah kenapa aku sangat senang dengan kenyataan itu. Entah kenapa, aku merasa masih memiliki kesempatan untuk bersama Akashi.
"Lalu Momoi bagaimana?" jangan salahkan aku karena masih penasaran dengan nasibnya. Hamil dengan Aomine namun malah 'hampir' menikah dengan Akashi kalau saja Aomine tidak menerobos masuk acara pernikahan serta berteriak jika Momoi hamil dihadapan semua orang. "Dan juga bagaimana nasibnya Aomine? Dia kan artis populer. Apa pamornya tidak akan turun?"
"Dan aku tersinggung kau lebih peduli pada nasib orang lain daripada nasibku selama setahun ini yang sibuk mencarimu."
"Aku mudah ditemukan kok. Kamu saja yang mungkin tidak berusaha."
"Italia itu luas nona dan sebelum aku mulai berpikiran mendobrak pintu apartemenmu, lebih baik kau bukakan pintu untukku."
"Hah? Kau bilang dimana?"
"Di depan apartemenmu. Di Italia dan aku sudah bersiap untuk menedangnya jika kau tidak segera membukakan pintu."
Aku segera berlari menuju pintu apartemenku dan membukanya. Benar ada Akashi disana, masih memegang teleponnya. Aku juga masih memegang teleponku, masih belum mau mematikannya meskipun aku tahu yang ada dihadapanku adalah nyata. Siapa yang bisa meniru Akashi meskipun ada teori yang mengatakan ada 7 manusia di dunia ini yang sama persis.
"Apa kau yang ada di depanku asli atau hanya ilusiku?"
Akashi tidak menjawabnya, namun menempelkan bibirnya dengan bibirku selama beberapa lama. Hanya menempelkan saja, tidak ada tambahan yang lainnya. Lalu wajahnya menjauh beberapa sentimeter dan menatapku tepat di mataku.
"Ciuman tadi sudah cukup membuktikan jika aku nyata bukan?" suaranya bisa aku dengar di telepon maupun di depan mataku.
Aku tidak bisa tidak menangis dan Akashi memelukku. Dia tidak berusaha menenangkanku karena dia tahu itu hanyalah hal sia-sia. aku terus merancau mengatakan apapun dan dia hanya mengusap kepalaku, tanda semuanya baik-baik saja.
"It's fine. Because when you love someone, you can fight to everthing," perkataan Akashi itu semakin membuatku tidak ingin pergi dari dekapan Akashi.
tsaforite
19/11/2014
