Title : Tetanggaku, Baekhyun.

Author : Damneed a.k.a Dathan

Genre : Slice of Life.

Rating : T+

Main Cast : KYUNGSOO GS, other EXO member. Perhaps, a few OC.

Disclaimer : Karakter EXO itu milik tuhan, bukan saya. Tapi status-nya sih, memang suami-suami saya. /senyumin/

Pairing : Unknown.

WARNING : Typo & ketidakjelasan; Pengulangan kalimat yang beruntun, karena penulisan masih belajar.


"Maaf, pasti kau merasa risih tadi siang."

Kyungsoo menengok sedikit ke kanan, dan menyipitkan matanya sembari melukiskan lengkungan ke atas pada bibirnya, memperhatikan pemuda yang tengah duduk di sampingnya itu dengan baik-baik; Kim Jongin.

"Aku hanya kaget, tidak biasanya kau tiba-tiba ke kelasku, hanya untuk berbicara denganku."

Kemudian Jongin hanya tersenyum kecut, "Maaf."

Mereka tengah berada di taman kecil yang tidak jauh beberapa Blok dari lokasi SMA Inchang. Keberadaan Jongin di detik-detik terakhir jam istirahat habis tadi siang, tentu membuat Kyungsoo kebingungan. Apalagi menemukan Jongin sedang duduk di kursinya. Jongin mengatakan kalau ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Kyungsoo, dan Kyungsoo pun membuat perjanjian untuk bertemu di taman ini, ketika jam pulang sekolah tiba.

"Itu bukan sarkasme, hanya opini." Kyungsoo mencoba membuat pernyataan dengan pasti, kekehan kecil menempel di akhir kalimatnya.

Jongin menoleh padanya, "Apa kau.."

"Tidak, aku bebas setiap pulang sekolah, tidak ada ekskul seperti Sohyun, yang sangat terpikat dengan Tennis." Kyungsoo menjawab seakan dia tahu apa yang akan Jongin katakan selanjutnya, dan dugaan dia memang benar.

Jongin hanya memberi anggukan, dengan senyum dikulum; Satu menit keheningan di antara mereka kian muncul, dan itu tidak membuat mereka canggung sama sekali. Melainkan nyaman, Kyungsoo merindukan momen seperti ini. Menghabiskan setengah waktu hanya terdiam dengan lamunan masing-masing, meski sedang berdampingan, mereka pikir momen itu tetap nyaman untuk mereka sendiri.

Semuanya berubah, semenjak Soojung dan Jongin memutuskan untuk bersama; Dan Soojung terus-terusan berjalan dengan Jongin ke mana pun dan kapan pun, membuat mereka masing-masing tidak mempunyai waktu sama sekali untuk bersama.

Agak mengagetkan, kalau Jongin datang untuk menemuinya, tanpa Soojung. Pasti Jongin ingin membicarakan sesuatu yang cukup penting.

"Bagaimana kondisimu?"

Pertanyaan dari Jongin, memecahkan keheningan.

Kyungsoo membenarkan duduknya di atas bangku taman tersebut, "Aku baik-baik saja."

Ia baru membenarkan beberapa serpihan memorinya; Soal Kyungsoo jatuh dari atap sekolah, karena didorong sengaja oleh tetangga barunya.

"Benarkah?" Jongin terlihat tidak yakin.

Sang perempuan hanya mengedikkan bahu, "Iya, aku hanya terpeleset, dan terjun ke bawah."

"Sehun menangkapmu."

Mendengar hal itu, Kyungsoo langsung memutarkan bola matanya. Memandang Jongin seakan Jongin sekarang benar-benar mirip dengan Sohyun.

Kyungsoo menghela napas, "Kalau tidak ada dia, aku bisa mati."

"Apa itu benar-benar alasanmu?" Tanya Jongin sekali lagi.

Kyungsoo mengangkat alisnya, "Topik apa yang kau arahkan, Jongin?"

Punggung Jongin disandarkan ke dada bangku, dan menatap ke depan.

"Aku pikir kau ada niatan bunuh diri, aku benar-benar merasa tidak nyaman akan hal itu."

Kyungsoo mengangguk singkat, "Kalau iya, aku sudah mencoba bunuh diri esoknya, mencari lokasi yang berbeda."

"Itu tidak lucu." Toleh Jongin, dengan wajah bak papan datar.

"Aku tidak sedang bercanda." Sambar Kyungsoo. Ia mengalihkan pandanganya, dan ikut melihat ke depan; Bagaimana orang-orang di luar taman, kini berlalu lalang dalam matanya. Entah itu anak sekolahan yang tengah tertawa dengan teman-temannya, pasangan yang saling menggenggam tangan masing-masing di jalan, atau pria yang sedang menelepon rekan kerjanya sembari berjalan.

Kyungsoo membuka mulutnya lagi, "Dan.. Itu bukan topik yang sebenarnya kau ingin bicarakan, bukan?"

"Itu salah satu topiknya," Dengus Jongin, "Soojung berkelahi denganku."

Kyungsoo menggambar senyuman remeh di bibirnya dalam beberapa detik, lalu mengatup bibirnya, "Mhmm."

"Aku menemukan dirinya selingkuh dengan pria lain, dan aku kenal pemuda itu."

"Siapa?"

"Minhyuk, Kakak kelas kita."

Mendapati nama itu di kepala, Kyungsoo ingat nama tersebut. Soojung pernah mengatakan kalau dirinya sempat didekati oleh Minhyuk, setahun yang lalu. Beberapa bulan sebelum dirinya menjalin hubungan lebih dengan Jongin; Kyungsoo mengangguk, "Lanjut."

"Aku hanya bertanya soal hubungan dia dengan Minhyuk, dan dia meledak."

"Lalu kalian bertengkar, sampai sekarang?" Nada Kyungsoo berbicara terdengar agak mengecil, meski Jongin sendiri masih dapat mendengarnya.

"Begitulah." Kedik Jongin, lalu ia mengacak-acak rambutnya sendiri.

"Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya si perempuan.

Ada beberapa detik jeda sebelum Jongin berbicara, "Aku sangat menyayangi Soojung, aku tidak mau mengakhiri hubungan kami begitu saja."

Kyungsoo memindahkan penglihatannya pada tas sekolah miliknya yang berada di atas pangkuannya,

"Kalau begitu perbaikilah."

Jongin melirik ke arah Kyungsoo, "Bagaimana caranya?"

"Omongkan soal ini secara baik-baik, kejutan kecil akan menjadi momen manis baginya."

"Seperti mengirim bunga-bunga?"

"Dia bukan mayat, Kim Jongin."

Jongin langsung tertawa kecil, "Apa yang paling disukai oleh perempuan?"

"Tentu saja makanan," Angguk Kyungsoo mantap, "Makanan Favorit Soojung adalah Pizza bukan? Coba kau datang ke rumahnya, dengan membawa makanan seperti itu."

"Kau masih mengingatnya." Jongin memasang untaian senyumannya dalam wajah, menarik tubuhnya dari sandaran bangku.

"Hubungan kami memang merenggang soal pertengkaran tahun lalu, dirinya dan Sohyun," Ucap Kyungsoo, "Tapi bukan berarti aku melupakan dirinya sebagai sosok temanku."

Jongin kini menatap Kyungsoo sepenuhnya, "Sebenarnya, apa yang Sohyun dan Soojung permasalahkan saat itu?"

Kyungsoo terdiam. Berpikir alasan apa yang tepat untuk dikatakan, lalu kembali mengangkat jawaban, "Entahlah, Sohyun juga tidak mau bercerita denganku. Kupikir Soojung cerita padamu?"

"Tidak, tidak sama sekali." Geleng Jongin, benar-benar tidak mengerti.

Kyungsoo pun menoleh ke samping; dan menemukan mereka sendiri, tengah memandang satu sama lain.

"Kau percaya dengan Soojung kan?" Kyungsoo menelengkan kepalanya.

"Tentu saja, aku mencintainya."

"Telepon-lah, tanyakan kabarnya, kalau dia masih sayang denganmu, pasti dia mengangkat."

"Baiklah." Balas Jongin.

Kyungsoo pun menepuk pundak sang pria dengan singkat, "Semoga beruntung."

Si pemuda masih saja menatap Kyungsoo; Seakan masih ada sesuatu yang ingin ia ucapkan, tetapi Kyungsoo segera melambaikan sebelah tangannya, memberi isyarat agar Jongin cepat-cepat melaksanakan misinya.

Jongin terkekeh, lalu bangkit dari duduknya, "Terima kasih, Kyungsoo."

"Sama-sama." Senyum Kyungsoo dengan lebar; Kemudian Jongin berjalan menjauh darinya, tak lupa menyapanya terlebih dahulu.

Kyungsoo masih terduduk di bangkunya, dan memandang punggung lebar itu yang kian menjauh dalam visioner miliknya.

Tetapi penglihatannya tanpa ia sadari segera memburam; Dan Kyungsoo seakan menemukan punggung Jongin sekarang mulai berbalik dan menghampirinya, tetapi Kyungsoo yakin benar, kalau itu bukan Jongin.

Kyungsoo mengedipkan sepasang matanya, sehingga air matanya berhasil terjatuh ke pipinya, membuat pandangan matanya kembali menjelas,

"Baekhyun—"

Ketika Kyungsoo melebarkan dua optiknya, ia malah menemukan pemuda cantik yang tengah berdiri di hadapannya.

"Ada apa?"

"L-Luhan.." Gumamnya, masih mengalirkan air mata dari penglihatannya sendiri.

Menyadari hal itu, Kyungsoo buru-buru mengusap air matanya miliknya, dengan lengan blazer sekolah yang sedang ia kenakan itu; Sementara Luhan, masih berdiri di hadapannya, dan menoleh ke belakang, sebelum kembali melihat Kyungsoo.

"Kau diapakan oleh Jongin tadi?"

Kyungsoo langsung berdiri dari duduknya, ia menggeleng keras, "Tidak, ini..Itu.."

"Ini itu kenapa?" Suara Luhan terdengar jengkel dengan cara bicara Kyungsoo tadi.

Kyungsoo bergidik ngeri, "Ti-Tidak."

"Aku mengerti, kau tidak mau mengatakannya." Dengus Luhan, menggaruk belakang kepalanya.

"Mmn." Kyungsoo menurunkan pandangannya, memeluk tas sekolah miliknya dengan ragu.

Ini tentu pertama kalinya, mereka memiliki suatu topik pembicaraan. Yang Kyungsoo rutuki daritadi adalah kenapa topiknya harus soal ini? Dan kenapa Luhan harus menemukannya dengan penampilan seperti tadi? Apalagi sekarang Kyungsoo benar-benar sedang menghadapi Xiao Luhan, yang ia tahu soal Luhan adalah ia saudara dari Sehun, dan Kyungsoo juga tahu kalau Luhan mengenalnya, karena Sehun adalah teman Kyungsoo. Menurut

Kyungsoo, situasi yang dialaminya sekarang adalah percampuran dari ketegangan dan memalukan. Rasanya ingin kabur saja dari situ, tetapi ia tentu masih mengingat status Luhan itu seperti apa. Ia seperti salah satu murid berbahaya di Inchang, bisa habis Kyungsoo kalau melakukan hal sesukanya, seperti lari tanpa berbicara jelas dengannya terlebih dahulu.

Merasa hangat di pinggang milik Kyungsoo, detik itu, Kyungsoo menyadari dirinya ditarik ke dalam dada Luhan; Mau tak mau, Kyungsoo menemukan dirinya sedang ditenggelamkan dalam pelukannya.

"Apa begini, kau akan mengeluarkan semuanya?"

Kalimat itu terdengar mudah keluar dari bibir Luhan, seperti Luhan tahu apa yang terjadi sebenarnya selama ini, dan tahu bagaimana cara untuk mengobati semua itu. Itu membuat Kyungsoo kebingungan, dan tak mengerti harus bagaimana.

Dan Luhan berhasil membuat Kyungsoo harus mengeluarkan emosi buruknya, di saat itu juga.

"Suka," Tangis Kyungsoo, "Aku suka Jongin."

Selama ini ia hanya menjalani kehidupannya dengan biasa, seakan masalah soal Jongin dan Soojung itu bukanlah masalah. Tetapi kenyataan berkata pahit. Kalau ternyata, Kyungsoo harus menangis di tengah malam dalam sebulan, melewati masa-masa menyebalkan seperti itu. Kyungsoo menyayangi Soojung, Kyungsoo mempercayainya, Kyungsoo terbuka padanya.

Dan ini balasan yang Kyungsoo dapat.

Luhan melingkarkan satu tangannya lagi di belakang punggung Kyungsoo; Menaruh dagunya di atas kepala si perempuan, dan terdiam tanpa mengatakan apa pun.

Dan Kyungsoo terisak, "Kenapa dia harus memilih Soojung.."

Kyungsoo pikir, Kyungsoo tidak pantas mendapatkannya. Kyungsoo pikir, Soojung adalah orang termunafik sekaligus brengsek, yang pernah ia temukan. Kyungsoo mencoba mengambil pelajaran dalam pengalaman itu, jika orang yang selama ini kau sayangi memperlihatkan keburukan gelap sebenarnya padamu sendiri; Kau harus kuat.

Kyungsoo sendiri bisa dikatakan sebagai pembohong besar, jika dirinya menyatakan, itu semua hanyalah masa lalu yang harus dilupakan dan tak perlu diungkit lagi.

Ia tidak bisa membohongi perasaannya.

Kyungsoo mencintai Jongin.

Kemudian Luhan mengelus belakang kepala perempuan,

"Karena kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari itu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kejadian terlangka yang pernah Kyungsoo alami.

Kalau seorang Xiao Luhan, baru saja mengantarkan Do Kyungsoo pulang sampai ke rumah.

Setelah semua kejadian tangis menangis yang sangat memalukan itu; Luhan mentraktir Kyungsoo untuk makan kimbap dan es krim dengannya. Awalnya, Kyungsoo menolak hal itu, ia tidak ingin merepotkan Luhan lebih dari ini. Dan Luhan membalasnya lebih ngotot, membuat Kyungsoo mau tak mau harus ikut dengan perintahnya soal itu.

Tetapi menurut Kyungsoo, ide dan dan bantuan Luhan sangat membantu. Yang paling Kyungsoo hargai dan tetap berperilaku ramah untuk seorang Xiao Luhan, Luhan tidak mengangkat topik pembicaraan soal Jongin sepanjang sore sampai malam dirinya makan malam sekaligus berjalan-jalan bersama.

Luhan membicarakan belakangan ini ia memiliki masalah dengan beberapa sekolah lain, juga Sehun menyebalkan, tak lupa hampir setiap guru di SMA Inchang, Luhan maki-maki; Kyungsoo mendapati Luhan sebagai seorang pemuda yang cukup urakan, tampang manis dan malaikatnya, sangat bertimpang balik dengan kepribadiannya. Tetapi Kyungsoo menemukan sifat Luhan yang tidak jauh berbeda dengan Sehun.

Sehun yang jutek dan cuek, masih tetap dalam garis peraturan yang ada, untuk mentaatinya. Juga Luhan yang emosional dan semaunya, lebih gemar untuk bermain di luar peraturan. Itu membuat mereka masing-masing memiliki keunikan tersendiri.

Tentu saja, Kyungsoo menceritakan sebagian hal dari dirinya pada Luhan; Dan Kyungsoo menemukan kesamaan lainnya pada Luhan ke Sehun, yaitu mereka adalah pendengar yang baik.

Kini, Kyungsoo baru saja memasuki ruang kamar miliknya; Ia melemparkan tas ranselnya ke atas kasur, dan melepaskan blazer sekolahnya.

Tak sengaja netra miliknya menemukan seseorang yang memeliki jarak pendek di balkon depan kamarnya.

Pemuda itu, Byun Baekhyun, tengah berdiri di balik kaca pintu balkonnya, sembari memegang buku sketsa-nya,

Skandal : Kyungsoo diantarkan pulang oleh Pangeran Luhan.

Alis Kyungsoo berkedut, dan melihat Baekhyun yang lama-kelamaan memperlihatkan senyuman kemenangan dalam bibirnya. Kyungsoo segera menghampiri pintu kaca balkonnya miliknya, menutup tirai, dan berbalik badan, mencoba mengatur emosinya.

Setelah itu Kyungsoo mulai membilas diri, dengan dilanjutkan mengganti bajunya; Kyungsoo yang kini mengeringkan rambutnya dengan handuk putihnya, sekarang kembali membuka tirai pintu kaca balkonnya. Tidak terkejut jika Baekhyun masih dalam posisi berdirinya, walau tanpa buku sketsa-nya. Kyungsoo merasa Baekhyun seperti menunggu Kyungsoo untuk menceritakan segalanya.

Dalam waktu bersamaan, mereka sama-sama membuka pintu balkon, dan keluar dari sana.

Kyungsoo menggantungkan handuknya di leher, "Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan Luhan."

Baekhyun menyengir,

"Hohohoho.."

"Aku serius!" Kening Kyungsoo mengerut, "Tiba-tiba dia datang memberiku jaket, dan tanpa sadar aku mengatakan segalanya soal perasaanku ke Jongin sembari menangis."

Baekhyun mengangkat alis, "Kau menangis?"

"Tidak!" Geleng Kyungsoo, baru menyadari apa yang baru saja ia nyatakan. Kemudian dirinya langsung berbalik arah, berniat untuk kembali masuk kamar.

"Do Kyungsoo, ada apa?"

Suara Baekhyun yang terdengar khawatir itu, segera menghentikan langkahnya.

Kyungsoo terdiam sejenak, lalu menghela napas.

"Sebelumnya Jongin hanya menghampiriku," Kyungsoo menoleh ke belakang, "Dan menceritakan soal hubungannya dengan Soojung akhir-akhir ini merenggang, ia meminta bantuanku, bagaimana caranya memperbaiki hubungan yang sedang diambang rusak seperti itu."

"Memangnya Jongin kenapa?" Baekhyun mendelik, menginginkan jawaban yang lebih spesifik.

Kyungsoo memutar badannya,"Ia melihat Soojung dengan pria lain, Kakak kelas, Minhyuk. Kemarin Jongin menegur Soojung soal itu, tapi Soojung malah marah, dan mereka bertengkar."

"Kalau Soojung marah, berarti teguran Jongin benar dong?"

"Entahlah, itu bukan urusanku, yang penting Jongin dan Soojung akan baik-baik saja."

"Kemudian kau menangis, dan Luhan datang padamu begitu saja?"

Kyungsoo mengatupkan bibirnya, ketika mendapati pertanyaan Baekhyun tadi.

"Aku keceplosan mengatakan namamu." Celetosnya seketika.

Baekhyun menaruh dua tangannya di atas pagar balkon, "Oh? Kau pikir aku yang menghampirimu?"

"Begitulah," Kyungsoo mengalihkan pandangannya, "Silahkan meledekku."

"Maafkan aku, soal kenyataannya dia bukan aku."

Kyungsoo kembali melirik pada Baekhyun yang berkata demikian; Baekhyun memandang si perempuan sedari tadi, pemuda itu menarik sebelah gulungan baju lengannya. Ia menurunkan pandangannya, seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu bagaimana harus merangkai kalimatnya.

"Tidak perlu minta maaf." Tukas Kyungsoo.

Perempuan dengan rambut sebahunya itu kini menaruh handuknya di atas kepala, "Aku ingin istirahat."

"Aku tidak menghancurkan dindingmu kan, Kyungsoo?" Tanya Baekhyun tiba-tiba.

Kyungsoo memberi senyuman tipis, "Kau membuat pintu pada dinding-dindingku."

"Kuncinya di mana?"

"Ada di kau." Kedik Kyungsoo.

Respons simpel dari perempuan itu membuat Baekhyun melebarkan senyumannya, "Mari kita bicarakan suatu hal yang membuatmu nyaman."

Kyungsoo menyilangkan tangannya di dada, lalu mengangguk mengerti.

"Seperti membicarakan soal apa rencana dendamku padamu, karena kau pernah mendorongku sampai jatuh dari atap sekolah?"

"Kukira kau sudah lupa soal itu." Baekhyun tertawa renyah.

"Tidak semudah itu, Byun Baekhyun."

"Dendam apa yang ingin kau lakukan padaku?"

Kyungsoo mengetuk keningnya, "Entahlah, bagaimana dendamku ditukar dengan rasa penasaranku?"

"Boleh." Ujar Baekhyun menopang dagunya, menunggu apa yang akan Kyungsoo katakan selanjutnya.

Gemuruh yang ditemukan dari gendang telinga mereka berdua, membuat Kyungsoo harus memindahkan penglihatannya ke arah suara itu berada. Argumen dari dua orang yang berasal dari rumah Baekhyun, membuat anggapan Kyungsoo semakin yakin. Jika orangtua Baekhyun tengah beradu mulut di lantai bawah.

Sampai suara bantingan pintu terdengar jelas di telinga, dan mata Kyungsoo mendapati Jessica sekarang sedang mengenakan mantelnya dengan air mata menghiasi wajahnya; Berjalan keluar dari lokasi rumahnya, dan pergi dari rumah.

Ketika Kyungsoo kembali melihat ke depan, Baekhyun ternyata masih menatap Kyungsoo.

Sama sekali tidak berniat untuk memindahkan tatapannya, untuk melihat kondisi orangtuanya. Seakan Baekhyun sudah mengerti apa yang terjadi, dan bosan dengan apa yang harus ia terima setiap hari.

"Maaf."

Satu kata keluar dari bibir Baekhyun, Kyungsoo mendelik,

"Aku tidak mengatakan apa pun."

"Ini bukan keluargaku yang sebenarnya," Singkat Baekhyun, "Aku berasal dari Panti Asuhan, di Andong."

Kyungsoo mengangguk, "Oke."

"Sampai sini, kau sudah kaget?"

Mendapati Baekhyun sepertinya berekspektasi Kyungsoo untuk memasang ekspresi shock; Kyungsoo langsung memasang tampang (sok) kagetnya, "Ya ampun, kau diadopsi?"

Baekhyun terkekeh garing,

"Ahahah, manis sekali."

"Lalu?" Kyungsoo memiringkan kepalanya ke samping.

Baekhyun mendengus, "Aku diadopsi ketika umurku masih lima tahun, kami pindah ke Busan sampai aku lulus SD, karena pekerjaanku."

"Dan kembali ke Andong, ketika menduduki bangku SMP, di mana kau bertemu dengan Soojin." Lanjut Kyungsoo, mencoba memperjelas.

Baekhyun tersenyum,

"Masa SMA di sana, hanya membuatku teringat akan Soojin, jadi soal peluang Ayahku pindah kerja ke Seoul, benar-benar kesempatan untuk melupakannya."

"Kau gagal." Tukas Kyungsoo, dan tentu dibalas anggukan lagi oleh Baekhyun.

"Karena ada orang yang seperti Soojin, tepat di hadapanku."

Kyungsoo memutarkan bola matanya, "Bilang aku seperti Soojin lagi, akan kulempar buku Harry Potter-ku pada mukamu."

Si pemuda bertepuk tangan singkat,

"Hei, kau mengoleksinya? Aku suka series itu."

Kyungsoo mengibaskan sebelah tangannya, memutuskan untuk tidak menggubris omongan Baekhyun barusan. Baekhyun terdiam, sembari masih melihat Kyungsoo,

"Cepat atau lambat orangtuaku yang sekarang, sepertinya akan bercerai."

Kyungsoo melirik ke arah lain, "Oh ya?"

"Karena Ayah telah membuat surat perceraian kemarin malam, tak sengaja kutemukan di atas meja kerjanya."

Penjelasan Baekhyun barusan, membuat Kyungsoo kembali menatapnya, "Tak sengaja, dan kenapa kau bisa di ruang kerjanya?"

"Oke, aku memang iseng saja masuk ke dalam sana, dan menemukan surat itu."

"Ibumu tahu?"

"Sebentar lagi."

Kyungsoo menarik handuknya yang berada di atas kepala, "Apa kau akan pindah?"

"Entahlah," Kedip Baekhyun, "Jangan memasang tampang seperti itu, aku tahu kau akan merindukanku."

Si perempuan tertawa pendek, "Jika jarakku pendek denganmu, aku akan meninjumu."

"Maksudmu, menciumku?" Baekhyun memperlebar senyumanya; Kyungsoo mengalihkan perhatiannya, dan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada Baekhyun.

Kyungsoo baru mengenalnya, dan baru-baru ini Baekhyun pindah ke sebelah rumah. Kemudian cepat atau lambat, Baekhyun akan pindah lagi? Yah, itu masih Hipotesis. Kyungsoo tidak bisa meyakinkan perumpamaannya itu seenaknya, lagipula kenapa ia harus begitu memikirkannya?

"Bagaimana dengan Kakakmu?" Tanya Kyungsoo seketika.

Baekhyun memanyunkan bibirnya, "Belum pulang akhir-akhir ini, sepertinya ia juga tidak betah dengan pertengkaran Ibu dan Ayah."

Kyungsoo membuka bibirnya sedikit,

"Jadi ini.."

"Benar, sudah berkali-kali, lebih dari belasan kali, mereka bertengkar."

"Begitu."

Keheningan menyelimuti situasi mereka; Bukan berarti Kyungsoo tidak nyaman soal itu, entah kenapa Kyungsoo mengingat momen-momen seperti ini, entah di mana. Kyungsoo mengeringkan rambutnya lagi dengan handuk, lalu menoleh pada Baekhyun yang kini melihat ke samping.

"Bagaimana denganmu, Kyungsoo?"

Kyungsoo mengerutkan keningnya, tidak mengerti pertanyaan Baekhyun diarahkan ke mana. Sampai suatu umpama muncul di kepala. Benar, Baekhyun telah cukup terbuka dengannya; Kyungsoo pun sepertinya memutuskan untuk melakukan hal yang sama.

"Ayahku," Jeda Kyungsoo, "Aku tidak pernah melihatnya, semenjak aku lahir."

Baekhyun menatap Kyungsoo heran, "Apa maksudmu?"

"Aku tidak pernah mengenal Ayahku, Byun Baekhyun." Kata Kyungsoo, memperjelas.

Saat itu juga si pemuda mengulum senyumannya,

"Menarik."

Kyungsoo tersenyum tipis, "Kau orang pertama yang tidak memasang tampang kasihan, ketika aku mengatakan hal itu."

"Aku lebih kasihan dengan Ayahmu, yang tidak mendapat kesempatan untuk melihat putrinya yang tumbuh cantik." Ucap Baekhyun; dan Kyungsoo pun terkekeh kecil.

"Lebih dari Luhan?"

"Oh, Luhan masih menang."

Kyungsoo mengangkat bahunya, seraya tersenyum, "Terserah saja."

"Tapi apa kadang kau penasaran dengan rupa Ayahmu?"

"Aku pernah bertanya pada Ibu, dan Ibu hanya mengatakan kalau dia pria yang baik," Ujar Kyungsoo, "Entahlah, Ayahku sekarang bisa saja seorang pemadam kebakaran, Astronot, Pekerja bank—"

"Atau Arsitek." Potong Baekhyun, dan Kyungsoo hanya mengangguk pada perkataannya tadi.

Kyungsoo kembali melanjutkan kalimatnya, "Namun, keluargaku sekarang hanyalah Ibuku. Dan itu sudah lebih dari apa pun, aku sangat menyayanginya."

"Jangan lupa kalau suatu hari nanti aku akan bergabung dengan keluargamu."

Sambaran ucapan dari Baekhyun itu membuat Kyungsoo mendelik, "Maksudmu?"

Baekhyun menunjuk ke dirinya sendiri; kemudian telunjuknya di arahkan pada Kyungsoo,

"Namamu, dengan margaku."

Dan Kyungsoo menggeleng cepat, "Tidak akan terjadi, Byun Baekhyun."

Si pemuda memasang tatapan sedihnya,

"Oh ayolah, kau menyadari bagaimana dirimu memandangku?"

"Buram."

Jawaban Kyungsoo membuat Baekhyun mendramatisir ekspresinya, "Ouch.."

Kyungsoo menahan tawanya,

Kemudian ia berbalik dan melambaikan sebelah tangannya,

"Selamat malam, Baekhyun."

Baekhyun mengangguk, "Selamat malam, bunga putih."

Si pemuda masih memperhatikan Kyungsoo yang kini menutup pintu balkonnya, menutup tirai; dalam hitungan satu menit, lampu kamar si perempuan kian dimatikan.

Baekhyun pun masuk ke dalam kamar, melakukan hal yang sama.

Hanya saja, Baekhyun belum ada niatan untuk mematikan lampu kamarnya.

Pemuda itu berjalan mendekati meja belajarnya,

Dan menatap sebuah bingkai foto yang memperlihatkan seorang perempuan dengan seragam sekolah; tersenyum lebar dengan rambut cokelat panjangnya itu berkibar.

Baekhyun segera mengambil bingkai foto itu, dan menaruh ke dalam laci meja belajarnya.

Lalu mengusap mukanya sendiri, mencoba menahan frustasi yang kini Baekhyun alami.

.

.

.

.

.

투비컨티뉴


A/N

Haihai!

Jadi sebenernya apa yang Baekhyun sembunyiin? Masa iya ia udah sepenuhnya jujur sama Kyungsoo? Ya saya gatau juga sih. Kaga ding. Wkwk.

Soal pairing, masih tetep saya bingung mau bagaimana; dan like i said, romance bukan berarti harus-terusan memenuhi suatu cerita dengan momen pairing yang diinginkan. Saya lebih suka alur realistik,ya yang kayak dunia nyata aja, misal saya suka sama orang, terus masa saya harus ketemu orang itu selalu dna ngobrol, kan kesannya gimana gitu, di dunia nyata.. ya nggak kayak gitu juga kan? Wkwk yaa pemikirannya bisa dilanjutkan sama kalianlah, pasti kalian kebayang kalau soal dunia percintaan 'yang nyata' itu seperti apa. Lagipula saya tetep berkutat dengan konsep 'kehidupan', meski agak susah disirat ya untuk beberapa pembaca.. Oh! Ada yang request chanbaek, apa saya bakal nulis cerita tentang chanbaek? Jawabannya, adalah tidak. Alasannya simpel, karena saya nggak demen official pairing wkwk, bisa dilihat di status profil saya, dan yep, selera saya itu bener-bener aneh, dan berbeda dari umumnya, jadi maaf sebelumnya ya. Terus soal Kyungsoo x Everyone, sedapatnya saya membaca cerita dengan konsep seperti itu, dominan pasti di discontinued, dan saya ngga mau cerita saya berakhir seperti itu, saya paham sepertinya penulis kehabisan ide dan stuck di beberapa titik dalam cerita. Saya sendiri memasangkan kejadian Kyungsoo dengan beberapa pria, bukan berarti saya menjodoh-jodohkannya, lihat saja ke sananya akan bagaimana hehe.

Terima kasih telah berkenan untuk membaca Notes nggak mutu dari saya, saya berharap pengertian besarnya dari para pembaca; Review kalian tentu saya selalu baca, dan hargai. Untuk silent readers, kalian boleh keluar sekarang, dan berikan pendapat kalian terhadap cerita ini. Still, terima kasih yang masih berkenan membaca sampai chapter ini dengan berurutan, terima kasih!

See you on the next chapter!

Sincerely, Dathan.