Hello My Love
.
.
oOo
.
.
Recognition
.
.
oOo
Happy Reading
Jisoo berjalan menghampiri Seokmin yang duduk sendirian. Tangannya terulur memeriksa suhu badan Seokmin dengan menempelkan punggung tangannya pada dahi dan sisi leher Seokmin.
"Apa masih pusing? Kalau masih sakit, istirahat saja."
Seokmin hanya terdiam menatap Jisoo dan segera ia menggeleng cepat. "Aku tidak apa."
"Beritahu aku kalau kepala kamu sakit, oke." Jisoo mengusap rambut Seokmin dengan lembut.
"Ayo semua! Masuk ke dalam bis!" Teriak Jonghyun mengomando semua anggotanya. Hari ini mereka akan menghadiri talkshow di salah satu stasiun tv. Jisoo dan Seokmin menurut dan langsung berjalan mendekati bis yang telah dipersiapkan untuk membawa semua anggota BEM.
Seokmin duduk terpisah dengan Jisoo. Minghao mencari bangku yang masih kosong. "Seokmin-ah, bisa geser?"
Seokmin yang duduk sendiri langsung menoleh dan mengedarkan pandangan dimana semua bangku telah terisi dan Minghao masih menunggu Seokmin agar bergeser.
"Aku mau dekat jendela." Ucap Minghao dan Seokmin mengalah mempersilahkan Minghao duduk. Jisoo melirik ke bangku belakang dimana Seokmin duduk.
"Hao-ya..." sapa Jisoo. Seokmin serta Minghao langsung menatap Jisoo.
"Bangku depan kosong, kamu bisa lebih leluasa melihat pemandangan." Bujuk Jisoo.
"Benarkah kosong? Tadi penuh."
"Tidak, masih kosong."
Minghao langsung berdiri dan Seokmin bergeser lagi agar Minghao keluar. Jisoo tersenyum dan langsung masuk kemudian duduk di tempat Minghao tadi, Seokmin tersenyum geli dan langsung duduk di sebelah Jisoo.
"Kamu jahat..." ucap Seokmin berbisik dan menggenggam tangan Jisoo.
"Biarkan saja." Ucap Jisoo tanpa menoleh ke arah Seokmin dan tak menolak saat tangannya digenggam erat oleh Seokmin.
"Kalau dia menangis, tanggung jawab ya." Bisik Seokmin.
"Pilih mana, dia menangis karena aku suruh pindah duduk atau aku yang menangis karena dia menggoda kekasihku?" Balas Jisoo dengan berbisik juga.
Seokmin tertawa geli dan mencolek ujung hidung mancung Jisoo. "Iya sayang..."
'Sayang?'
...
...
Flashback on
Sang ibunda sangat senang karena putranya sudah mau makan lagi sejak kehadiran Jisoo di rumah sakit.
"Kenapa kamu baru datang? Sejak kemarin ia sulit makan." Ucap sang ibunda Seokmin pada Jisoo.
Jisoo hanya terdiam dan mencari alasan, Seokmin menggigit bibirnya merasa cemas.
"Maaf kalau saya baru datang, sejak kemarin banyak acara." Ucap Jisoo bohong karena ia baru mengetahui Seokmin sakit saat Wonwoo memberitahunya hari ini.
"Oh, begitu. Tapi bibi senang kamu bisa menyempatkan datang. Tadi kenapa malu tidak memperkenalkan diri? Bibi tidak tahu kalau Seokmin sudah punya kekasih."
"Eh?" Jisoo membulatkan mata, Seokmin menepuk dahinya karena apa yang ia cemaskan benar terjadi. Sang ibu telah salah dan membuat Seokmin malu di hadapan Jisoo serta Wonwoo dan Mingyu yang melihat.
Mingyu dan Wonwoo hanya mengulum senyum menahan tawanya.
"Eh hehehe... iya maaf saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Hong Jisoo..." Jisoo membungkuk hormat saat memperkenalkan dirinya.
"Jisoo, nama kamu Jisoo. Cantik seperti orangnya. Kamu kenapa tidak bilang sudah punya kekasih hmm?" Ucap sang ibu beralih ke Seokmin. Seokmin hanya terdiam dengan raut wajah yang kebingungan.
"Ada apa ini?" Sang ayah Seokmin datang ke kamar.
"Ayah, ini Seokmin sudah mau makan. Ini kekasih Seokmin datang menjenguk namanya Jisoo." Sang ibu memperkenalkan Jisoo pada ayahnya Seokmin.
Jisoo hanya diam mematung bingung harus apa dan Seokmin semakin bertambah malu dengan menggigit selimutya.
Jisoo terpaksa tersenyum ke arah ayahnya Seokmin yang terus tersenyum menatap Jisoo dan mengangguk.
"Akhirnya, ada yang mau juga dengan anakku." Ucap sang ibu bangga dengan mengusap lengan Jisoo. Jisoo masih terus tersenyum dengan salah paham ini.
Mingyu dan Wonwoo semakin tidak tega melihatnya.
"Ya sudah, sebaiknya kita keluar saja. Biarkan mereka mengobrol." Ajak sang ayah dan istrinya menurut langsung keluar kamar meninggalkan 4 anak muda tersebut.
Semuanya terdiam setelah kedua orang tua Seokmin keluar kamar.
"Ggyu... antar aku ke kantor, aku harus antar surat dari kampus." Ucap Wonwoo memecah keheningan.
"Oh? Iya ayo... kami keluar dulu ya..." pamit Mingyu langsung buru-buru keluar kamar bersama Wonwoo.
Seokmin dan Jisoo masih terdiam.
"Maaf, nanti aku akan bicara pada ibu." Ucap Seokmin memecah keheningan.
"Ibu kamu persis seperti kamu. Orang yang penuh semangat." Jisoo berjalan mendekati ranjang Seokmin.
"Maaf membuat sunbae tidak nyaman."
Jisoo hanya tertawa mengingat kejadian salah paham tadi.
"Memangnya kamu belum laku?" Ledek Jisoo.
"Bukan aku yang tidak laku hanya saja aku ini tipe pemilih. Aku tidak sembarang bisa langsung jatuh cinta terhadap seseorang."
"Oh ya?" Jisoo semakin senang bisa meledek karena wajah Seokmin terlihat bersemu merah.
'Dddrrtt...dddrrttt...' ponsel Seokmin bergetar ada panggilan masuk Jisoo melirik begitu juga dengan Seokmin dan belum sempat diangkat sudah keburu terputus.
Ada notif 1 panggilan tak terjawab telah muncul di layar ponsel Seokmin dan otomatis screen saver menyala. Jisoo membulatkan mata, Seokmin semakin malu langsung menutup wajah dengan selimutnya.
Jisoo buru-buru meraih ponsel Seokmin dan menatap layarnya yang menampilkan foto dirinya yang diambil Seokmin secara candid.
"Ini kapan diambilnya? Kalau mau foto seharusnya bilang saja dan aku maunya harus terlihat cantik."
Seokmin masih terdiam bersembunyi dibalik selimut.
"Seokmin-ah..." panggil Jisoo manja, membuat Seokmin terkejut mendengarnya. Ia membuka selimut dan menatap Jisoo yang tersenyum malu dengan masih menatap ponselnya. Jisoo sudah duduk di pinggiran ranjang.
"Kamu secret admirer aku?"
Seokmin menegakkan tubuhnya. "Maaf, iya aku menyukaimu sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Dan aku semakin tergila-gila padamu."
Jisoo terdiam, ia tidak terkejut karena sebelumnya Seokmin sudah menyatakan isi hatinya saat mabuk.
"Lalu?" Jisoo menyerahkan ponsel ke Seokmin.
"Lalu? Ya... bagaimana ya? Aku sudah ketahuan begini, iya aku menyukaimu, aku mencintaimu, aku menyukai saat bersama kamu, aku senang saat kamu mencariku, aku senang bisa mengantar kamu pulang."
Jisoo hanya terdiam menatap Seokmin. "Lalu?"
Seokmin menarik nafasnya. "Ya, seperti itu, aku tidak tahu lagi. Aku berharap sunbae mau terima, tapi kalau tidak ya... memang nasib aku..."
"..." Jisoo hanya terdiam dan tampak berpikir, Seokmin masih menunduk malu.
"Aku mau..." ucap Jisoo lirih.
"Eh?" Seokmin mengedipkan matanya, dan terus menatap gadis di depannya.
"Hanya saja, apa kamu mau dengan aku yang lebih tua darimu?"
"Kenapa? Bagiku tidak masalah asal kita merasa cocok. Siapa yang berani berkata kasar masalah umur akan aku hajar."
Jisoo tersenyum geli, sosok pemuda di depannya terlihat bersemangat lagi tidak seperti orang sakit.
"Jadi? Kita?" Seokmin tersenyum malu dan Jisoo hanya mengangguk.
"Aku sadar saat kamu hujan-hujanan saat itu, kamu tidak marah karena aku terlambat datang, tapi kamu malah mencemaskan aku. Aku membaca semua pesan kamu, dan aku sangat terkejut saat Wonwoo mengatakan kalau kamu sakit. Aku menyesal, maaf." Jisoo menarik nafasnya.
"Aku bisa merasakan kalau kamu orang yang tulus dalam mencintai seseorang. Walau kita belum lama kenal, tapi aku yakin kamu orang baik."
Seokmin hanya menunduk, merasa terharu setelah mendengar penilaian Jisoo untuk dirinya.
"Sudah cukup lama aku menutup diri, namun saat kenal denganmu, aku mulai membuka hati lagi. Aku juga ingin ada yang mencemaskanku walau sekedar bertanya sudah makan atau belum."
"Menyedihkan bukan? Dulu sebelum kenal denganmu, Seungcheol selalu memberi perhatian. Jisoo, aku bawa makanan dari rumah. Jisoo, kenapa wajahmu pucat? Lalu ia memberiku obat. Tapi semua berubah saat Seungcheol menjalin kasih dengan Jeonghan. Aku tahu diri, aku membatasi hubunganku dengannya."
Seokmin terus terdiam mendengar cerita dari Jisoo, ia menepati janji untuk menjadi pendengar.
"Hingga akhirnya ia mengatakan. Jisoo kamu berubah, kamu seperti orang lain. Kemana perginya sahabatku yang selalu tersenyum? Sejak saat itu, Seungcheol menjauhiku dan aku bertengkar hebat dengan Jeonghan." Jisoo menahan air matanya lagi, Seokmin terus mengusap punggung Jisoo menenangkan.
"Pada akhirnya, mereka berdua pergi dariku. Hingga akhirnya aku bisa kenal dengan seseorang lagi yang membuat pertahananku goyah. Aku sempat janji pada diri sendiri tidak mau berhubungan dulu sampai aku lulus kuliah." Jisoo menatap lurus ke arah Seokmin.
"Tapi aku tidak bisa... Lee Seokmin yang aku kenal seolah membuatku penasaran dan entah kenapa selalu ingin berada di dekatnya." Jisoo menutup ucapannya dengan tersenyum manis, Seokmin langsung menunduk malu karena wajahnya sudah terasa panas.
"Cepat sembuh..." Jisoo mengusap lembut kepala Seokmin. Seokmin langsung menatap Jisoo dan meraih tangannya untuk dikecup dan meremasnya. Jisoo hanya tertawa melihatnya.
Flashback off
...
...
Setelah mengikuti proses rekaman yang memakan waktu hampir setengah hari, acara telah selesai dengan sukses. Seokmin keluar ruangan terlebih dulu dengan beberapa anggota lain. Sementara Jisoo bersama teman-temannya ke toilet sebelum mereka kembali ke kampus.
Seokmin terdiam saat melihat sosok pemuda di depannya. Wen Junhui.
Jun melemparkan senyum pada Seokmin dan Seokmin membalasnya. "Apa kabar hyung?"
"Sepi, tidak ada yang membuat lelucon." Balas Jun dan langsung memeluk Seokmin dan menepuk punggungnya dengan erat.
"Maafkan aku Seokmin-ah..."
"Hmm..." Seokmin tersenyum dengan tangan mengepal dan sedikit meninju bahu Jun.
"Ada perlu apa kamu kesini hyung?"
"Aku mau jemput Minghao. Tadi dia kirim pesan minta dijemput."
"Memangnya dia tidak ikut bis kampus lagi?"
Jun hanya mengedikkan bahunya dan tak lama Minghao datang. "Sudah?" Tanya Jun pada Minghao yang terdiam dan hanya mengangguk.
"Aku duluan ya." Pamit Jun dan berjalan berdua bersama Minghao.
"hati-hati." Balas Seokmin.
Jun melirik Minghao yang masih terdiam, hingga bis datang mereka masih saling diam. Jun terus menatap Minghao saat di dalam bis.
"Kenapa? Ada yang kamu pikirkan?"
Minghao menarik nafasnya dan beralih menatap Jun. "Sepertinya mereka semua membenciku, aku salah apa?"
Jun tersenyum menatap gadis di sampingnya yang sedang galau. "Aku tidak, memangnya siapa yang membenci kamu?"
"Jisoo eonnie seperti selalu menghindariku akhir-akhir ini." Ucap Minghao dengan menunduk lemas.
"Mungkin dia sedang ada masalah."
"Entahlah..." Minghao berbalik dan langsung menatap keluar jendela. Jun hanya terdiam, ia tahu Minghao sedang tidak ingin diganggu.
Jun mengajak Minghao mampir ke kedai untuk makan malam. Ia paham pasti Minghao merasa lapar setelah melakukan syuting. Minghao lebih banyak diam tanpa berkomentar apapun, ia makan makanan yang Jun pesan tanpa protes.
Bahkan saat Jun membersihkan sudut bibir Minghao dengan tisu, sang gadis tidak menolaknya. Jun benar-benar seperti seorang kakak yang sangat menjaga adiknya.
"Ge..."
"Hmm... kenapa?" Jun menghentikan langkahnya saat berjalan berdua menuju rumah Minghao.
"Kamu benar mau kembali ke China setelah lulus nanti?"
"Hmm... entahlah, aku belum yakin. Kenapa?"
Secara perlahan Minghao memeluk Jun dan terisak meluapkan kesedihan. "Kalau kamu pergi, nanti aku dengan siapa lagi?"
Jun tersenyum dan mengusap lembut punggung gadis di depannya.
"Teman kamu kan banyak."
"Tapi tidak ada yang sebaik kamu Ge... aku pikir kalau aku bisa akrab dengan Mingyu, aku bisa sedikit melupakan kamu..."
Jun melepas pelukan dan sedikit membungkuk, ibu jarinya mengusap lembut air mata Minghao yang mengalir.
"Mingyu sudah punya kekasih..."
"Aku tahu..."
"Seokmin juga sudah semakin dekat dengan Jisoo noona..."
"Sepertinya begitu..."
"Tapi kamu masih punya aku..."
"Tapi kamu kan mau pergi Ge... nanti yang urus toko dan restoran keluarga kamu siapa?"
Jun tersenyum dan kembali memeluk Minghao. "Aku tidak akan kemana-mana, masih ada kakakku yang lain disana."
"Benar?" Minghao menengadahkan kepalanya menatap pria tinggi di depannya.
"Kalau kamu melarang aku pergi, aku akan tetap disini."
Minghao tersenyum menatap Jun. Jun mencium kening Minghao dengan lembut. "Wo ai ni."
Minghao tersenyum geli. "Kenapa baru mengatakannya?"
"Apa kamu menunggunya?"
"Tentu saja... aku takut kamu terus menganggap aku sebagai adik tapi akhirnya aku tahu sendiri jawabannya."
"Tunggu! Kamu mengujiku?"
Minghao tertawa dan Jun hanya melongo. "Bukankah kamu menyukai Mingyu?"
"Memang, siapa yang tidak tergoda dengan Mingyu yang tampan, dia punya segalanya dan masa depan yang cerah."
"Lalu?"
"Lalu aku sadar, aku tidak dapat memilikinya karena ada pria yang lebih baik, yang lebih menyayangiku apa adanya. Tuhan Maha Adil."
Jun tertawa dan tangannya mengusap lembut kepala Minghao dengan gemas. "Jadi sikap kamu yang seolah menghindar dariku?"
"Aku hanya belajar, apa aku bisa sendiri tanpa bantuanmu? Selama ini aku selalu minta tolong padamu, tapi ternyata... aku masih membutuhkanmu Ge..."
"Setiap aku ada masalah, kamu selalu ada, walau ragamu tak ada tapi nama kamu selalu melintas entah dari pikiranku atau orang di sekeliling yang selalu menyebut namamu."
"Kamu tidak ada maksud juga dengan Seokmin kan?" Jun masih penasaran.
"Hmmm entahlah tapi dia sangat baik walau terkadang terlihat bodoh." Ucap Minghao dengan terus tersenyum menatap Jun.
"Tapi kamu tetap yang terbaik Ge..."
Wajah Jun merona hebat dipuji oleh Minghao. Jun masih merasa gemas dengan semua yang diucapkan Minghao padanya.
"Mau aku gendong sampai depan rumah?" Jun bersiap memberikan punggungnya.
"Let's fly captain!" Minghao menyambut senang dan langsung memeluk leher Jun.
"Pegang yang kuat ya, sebentar lagi kita akan lepas landas." Ucap Jun dan bersiap menggendong Minghao sampai depan rumahnya.
"Okay!" Minghao bersorak senang saat Jun menggendongnya hingga depan rumahnya.
"Wan an..." (selamat malam). Jun tersenyum dengan melambaikan tangannya pada Minghao setelah mengantar gadis itu tepat persis di pintu rumahnya.
"Xie xie..." balas Minghao dengan tersenyum manis pada Jun. Jun pulang ke rumahnya yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Minghao dengan terus tersenyum. Hatinya merasa sangat senang karena kini status Jun dimata Minghao telah berubah.
oOo
Apa yang dilakukan oleh seorang gadis saat ia merasakan jatuh cinta? Minghao merubah penampilannya. Rambutnya yang biasa ia ikat asal kini ia rapihkan serta sedikit memotong poninya dan ia juga mengikatnya ke samping serta membiarkan poninya jatuh secara alami.
Untuk pakaian, ia tetap menjadi dirinya sendiri. Walau terkesan tomboy tapi ia mulai memadu padankan pakaian yang ia punya agar terlihat modis. Skinny jeans dipadukan dengan kemeja yang ukurannya agak longgar di tubuhnya, ia masukkan bagian depan dan bagian lengan ia gulung sedikit. Tak lupa sneakers yang nyaman untuk kakinya.
Ia juga mulai sedikit memakai make up walau tidak tebal. Setelah rapi, ia segera keluar kamar untuk menemui Jun yang sudah menunggunya pagi ini. Mereka berangkat ke kampus berdua.
Jun hanya terdiam saat menatap Minghao, dan entah mengapa jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya.
"Kenapa?"
Jun tersadar dan wajahnya mulai bersemu merah, ia menggaruk tengkuknya karena merasa malu. "Ni zhen piao liang." (Kamu cantik sekali).
Minghao tertawa lepas mendengarnya, Jun memberikan telapak tangannya dan segera Minghao meraihnya. Berjalan berdua bergandengan tangan menuju halte bis. Saat di bis, Jun tak bosan terus memandang wajah Minghao.
Jun terus menjaga Minghao dari keramaian penumpang lainnya saat akan turun dari bis.
"Kamu sudah sarapan?"
"Belum, tadi ibu pagi-pagi sudah pergi bekerja." Jawab Minghao pelan.
"Mau makan di kantin?"
"Tak usah nanti saja, setelah kelas pertama selesai."
Jun membuka tasnya dan memberikan sebungkus roti kacang merah pada Minghao. "Makanlah, isi perutmu."
Minghao mengangguk dan langsung menerimanya, ia langsung memakan roti tersebut sambil berjalan menuju kampus.
Langkah keduanya berhenti saat sebuah motor sport melintasi mereka menuju tempat parkir. Jun hanya tertawa dan menggelengkan kepala saat melihatnya. Ia tentu hafal siapa yang barusan lewat, apalagi Jun melihat di motor itu bukan seorang saja tapi 2 orang.
Jun mendekati si pemilik motor dan Minghao masih terus berjalan bersama dengan masih terus mengunyah rotinya.
"Jisoo eonnie!" Teriak Minghao seolah tak percaya melihat Jisoo yang baru melepas helmnya.
"Oh Hao-ya!" Ucap Jisoo malu-malu sambil menyerahkan helm pada Seokmin.
"Eonnie, tumben naik motor. Mobilnya kenapa?"
"Aaah... itu, agar lebih cepat saja naik motor."
Minghao mengangguk tanpa menaruh curiga. "Ge, haus... aku lupa bawa air."
"Ayo, beli di kantin." Ajak Jun dan Minghao mengangguk langsung berjalan lagi bersama Jun. Tangan Minghao bergelayut memegang tali tas selempang Jun.
"Mereka terlihat akur." Ucap Seokmin, Jisoo mengangguk menyetujui.
"Gyu, mau kemana?" Sapa Jun yang melihat Mingyu tergesa.
"Oh, hyung. Aku mau ambil jas Wonwoo yang tertinggal di mobil. Hallo Hao!"
"Hai Gyu!" Balas Minghao setelah suapan terakhir rotinya.
"Ya sudah, aku duluan ya." Pamit Jun.
"Oh, iya hyung." Ucap Mingyu heran melihat kebersamaan Jun dan Minghao. Mingyu terus memandang ke arah pasangan yang baru jadian semalam itu.
"Lihat apa?" Seokmin menepuk bahu Mingyu dan sontak membuat Mingyu terkejut, Jisoo hanya tertawa geli melihatnya.
"Itu mereka..."
Seokmin dan Jisoo kompak mengedikkan bahunya. Mingyu merogoh saku celananya karena ada sesuatu yang bergetar.
"Iya sayang... sebentar yaaa tunggu yaaa..." Mingyu panik, langsung berlari menuju mobilnya. Seokmin dan Jisoo hanya terdiam melihat Mingyu yang langsung berlari tanpa pamit.
"Selesai kuliah mau kemana?" Tanya Seokmin pada Jisoo.
"Hmm entahlah... di markas juga sedang sepi belum ada kegiatan."
"Mau nonton?" Tawar Seokmin dan Jisoo tampak berpikir, pada akhirnya ia mengangguk dan tersenyum.
oOo
Mingyu mengundang kedua sahabatnya makan-makan di restoran ayam. Sebenarnya ia ingin merayakan dengan membuat pesta kecil untuk Wonwoo yang telah diterima magang di rumah sakit. Maka Seokmin mengajak Jisoo dan Jun mengajak Minghao.
Seokmin dan Jisoo mengulum senyum karena saat ini mereka melihat Mingyu dan Wonwoo duduk berhadapan dengan Jun dan Minghao.
Awalnya Mingyu merasa canggung, Minghao pun mulai peka, ia lebih banyak menunduk dan menempel pada Jun. Jun yang seolah mengerti selalu mengajak Minghao bercanda agar Minghao lebih rileks.
Mingyu hanya tertawa melihat pasangan di depannya, sementara Wonwoo hanya terdiam menatap Mingyu yang tertawa sendiri.
"Kenapa?" Mingyu langsung terdiam setelah Wonwoo melirik tajam.
"Tidak, hanya saja aku mulai risih dengan poni kamu. Besok kamu rapihkan." Wonwoo mengusap rambut Mingyu yang terlihat berantakan.
"Ini kan model."
"Aku tidak suka."
"Iya besok aku potong, nanti aku kirimkan fotonya untuk bukti." Ucap Mingyu gemas dengan menempel pada Wonwoo.
"Ehem!" Seokmin berdehem seolah menginterupsi agar Mingyu berhenti karena pesanan telah datang. Seorang pelayan membawa seporsi ayam goreng dan 3 gelas bir, tak ketinggalan 1 teko besar berisi air mineral.
Makan ayam goreng tanpa bir terasa hambar bagi ketiga sahabat tersebut, namun tidak untuk para gadis.
"Sedikit saja sayang, ya boleh ya..." Mingyu memohon agar ia bisa minum bir.
"Tapi kamu nanti harus mengemudi." Omel Wonwoo.
"Sedikit saja... tidak akan membuatku mabuk sayang. Aku hanya mabuk karena kamu saja."
Seokmin dan Jun hanya tertawa melihatnya, memang mereka akui kalau Mingyu tipe yang kuat minum.
"Wonwoo-ya, kasihan dia." Ucap Jun sambil terkekeh geli, sebagai hyung tertua ia mencoba membantu.
"Sedikit saja ya! Awas!" Wonwoo menatap dengan tajam dan membuat yang lain bergidik ngeri melihat tatapan Wonwoo.
"Iya madam..." ucap Mingyu lembut, Wonwoo masih melirik tajam dan Mingyu terkekeh geli bisa meledek kekasih cantiknya.
"Jisoo eonnie, juga boleh pesan." Ucap Wonwoo.
"Ah, tidak Wonwoo. Aku tidak bisa minum." Tolak Jisoo halus.
"Dia tidak biasa minum bir, tapi kalau wine... boleh..." Ucap Seokmin dengan nada meledek dan Jisoo langsung mencubit gemas merasa malu bersembunyi dibalik bahu sang kekasih. Yang lainnya tertawa senang melihatnya.
"Wonwoo eonnie, apa aku boleh tambah jus?" Ucap Minghao mencoba mengakrabkan diri.
"Pesanlah, silahkan." Balas Wonwoo dengan ramah.
Ini memang pesta untuk Wonwoo tapi sebagai pria sejati, Mingyu yang harus membayar semuanya. Semuanya tampak menikmati makan ayam goreng bersama yang diselingi canda tawa keenam muda-mudi tersebut.
Setiap pasangan ada cara tersendiri yang memperlakukan kekasih hatinya. Seperti Mingyu yang sejak akan makan, ia memanjakan Wonwoo dengan mengikat rambut panjangnya agar tidak mengganggu saat makan dan sesekali menyuapi bagian daging ayam pada Wonwoo.
Lain lagi bagi pasangan Seokmin dan Jisoo, mereka tampak lebih tenang dibanding yang lain. Mereka tenang makan sendiri-sendiri tanpa suap-suapan. Namun, tangan kiri Jisoo yang tidak terbungkus sarung tangan plastik tampak tenang dalam genggaman tangan Seokmin.
Karena keduanya hanya memakai sarung tangan plastik untuk tangan kanan saja, sementara tangan kiri mereka di sembunyikan di bawah.
Jun dan Minghao juga tampak sangat menikmati. Sesekali Jun memberi perhatian saat Minghao makan dengan berantakan, Jun langsung sigap membersihkan bekas sisa tepung yang menempel pada sudut bibir Minghao.
1 porsi ayam kurang, mereka tambah lagi.
"Kenyang sekali..." ucap Seokmin senang setelah mereka menghabiskan 2 porsi ayam goreng. Jun melirik ke arah Seokmin dan tertawa.
"Ayo, kita pulang." Ajak Mingyu setelah selesai membayar, semuanya langsung berdiri bersiap pulang.
"Mingyu, Wonwoo, terima kasih. Bye..." pamit Jun mewakili. Wonwoo dan Mingyu tersenyum dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Ayo masuk." Ajak Seokmin dan yang lainnya menurut masuk ke dalam mobil Jisoo.
"Seokmin-ah, kamu tidak mabuk kan?" Bisik Jun, karena ia khawatir Seokmin akan melakukan kesalahan yang sama dimana ia menabrak mobil saat mengemudi dalam keadaan mabuk.
"Tidak, aku masih sadar hyung."
"Ini berapa?" Jun memperlihatkan telapak tangannya mencoba mengetes.
"Lima."
"Siapa kekasihmu?"
"Hong Jisoo."
"Hei, kalian sedang apa?" Ucap Jisoo karena penasaran dengan yang sedang dibicarakan Seokmin dan Jun.
"Ayo hyung, tenang saja." Seokmin meyakinkan Jun kalau ia baik-baik saja. Seokmin duduk di belakang kemudi dan Jisoo di sebelahnya serta Jun dan Minghao di bangku penumpang belakang.
Wonwoo menyetel radio selama perjalanan pulang, Mingyu ikut bernyanyi bersama Wonwoo. Sepanjang jalan mereka beradu suara agar tidak bosan selama di perjalanan.
Merasa lelah, Wonwoo menyender dengan nyaman dan dadanya naik turun mengatur nafas. Mingyu melirik dan tertawa melihatnya.
"Gyu..."
"Hmm kenapa?" Jawab Mingyu melirik sekilas.
"Aku merasa ada yang aneh dengan teman kamu." Ucap Wonwoo mulai serius.
"Siapa? Aneh bagaimana maksudnya?" Mingyu mengecilkan volume radionya.
"Sejak kita sampai di restoran, Minghao terlihat ketakutan saat menatapku." Wonwoo menatap Mingyu lurus.
Mingyu tertawa dan pandangannya mulai tidak fokus takut Wonwoo marah. "Hanya perasaan kamu saja sayang, mungkin dia pemalu. Kamu lihat sendiri kan tadi dia dengan Jun hyung seperti apa."
"Gyu... aku bukan mengalami hal ini sekali..."
Mingyu menghentikan mobilnya dan langsung menatap Wonwoo. "Dengar sayang, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Minghao. Jadi, buang semua rasa curiga kamu."
"Tapi sikap dia aneh, beda dengan Jisoo eonnie." Wonwoo menatap lurus pemuda di depannya.
"Mungkin karena kamu belum akrab dengannya, sudah jangan dipikirkan lagi." Mingyu bersiap akan melanjutkan perjalanan.
"Gyu..."
"Kenapa lagi?"
"Cium aku dan katakan kamu akan selalu setia."
Mingyu tertawa geli mendengar permintaan kekasih cantiknya. "Kamu mau minta cium saja harus menginterogasi aku dulu." Detik selanjutnya Mingyu mendekatkan wajahnya dan melumat habis bibir ranum Wonwoo, ia melupakan saat ini sedang berada di pinggir jalan dan suasana yang sepi sangat mendukung.
"Ada hal yang kamu sembunyikan Gyu..." Wonwoo melepas ciumannya.
Mingyu berubah tegang, ia takut Wonwoo mengetahui hal yang sebenarnya mengenai Minghao. Wonwoo memang tipe pencemburu namun sejak dulu Wonwoo selalu diam dan akan memperlihatkan sisi dinginnya saat marah.
"Apa sayang? Tidak ada yang aku sembunyikan, aku jujur padamu..."
"Ini yang kamu sembunyikan, dia sudah mengeras." Wonwoo tertawa terbahak-bahak menunjuk ke arah celana Mingyu yang terlihat menggembung.
Mingyu hanya menelan ludahnya karena ditertawakan. Wonwoo masih tertawa geli.
"Ayo, ini sudah malam. Ayahku sudah menelepon terus."
Mingyu menurut langsung tancap gas lagi melanjutkan perjalanan. Wonwoo masih saja tertawa, Mingyu hanya tersenyum dan mengucap syukur kalau Wonwoo tidak tahu.
"Hei-hei sudah berhenti... nanti kalau aku keluarkan senjataku pasti kamu menangis kesakitan."
"Uwu... takut..." Wonwoo menempel pada lengan Mingyu. Mingyu tersenyum dan mencium puncak kepala Wonwoo di sela mengemudi.
Sementara di mobil yang ditumpangi Seokmin dan yang lain mengalami sedikit gangguan lalu lintas.
"Ada apa ini? Kenapa banyak mobil polisi?" Tanya Seokmin penasaran.
"Apa ada kecelakaan?" Jawab Jisoo.
"Hmm, ditunggu saja. Kita juga sulit putar balik." Ucap Jun menenangkan, sementara Minghao hanya terdiam karena kekenyangan ayam goreng.
"Jeonghan?" Ucap Jisoo lirih.
"Hmmm siapa?" Seokmin menoleh ke arah Jisoo.
"Bbuukankah itu Jeonghan?" Jisoo membulatkan matanya berharap ia salah lihat dengan seorang gadis yang terlihat menangis saat digiring polisi untuk masuk ke dalam sebuah van.
"Benar! Itu Jeonghan noona!" Ucap Seokmin membenarkan penglihatan Jisoo. Jun ikut penasaran dan melihat seorang yang ia kenal juga.
"Siapa? Jeonghan siapa Ge?"
"Seniorku, anak ekonomi juga." Jawab Jun.
"Kenapa dia?" Jisoo berubah menjadi cemas dengan menggigit jarinya.
"Maaf pak, ada apa ya?" Tanya Seokmin pada seorang pria yang melintas.
"Sedang ada operasi narkoba di klub malam. Banyak yang tertangkap." Jawabnya pada Seokmin.
Seokmin langsung menoleh ke arah Jisoo yang wajahnya mulai terlihat tegang.
"Maksudnya, Jeonghan noona tadi itu tertangkap?" Tanya Jun.
Jisoo melepas seatbeltnya dan bersiap akan keluar dari mobil, dengan cepat Seokmin menahannya.
"Mau kemana?"
"Sepertinya dia butuh bantuan, kamu tidak lihat tadi dia sangat ketakutan." Ucap Jisoo dengan suara bergetar.
"Tetap tenang, kita belum tahu pasti beritanya. Kalau kamu keluar, bisa-bisa kamu ikut tertangkap juga." Ucap Seokmin dan Jisoo langsung terdiam, Seokmin mengusap tangan Jisoo untuk menenangkan.
Jun dan Minghao hanya saling pandang tidak berani berkomentar. Tak lama mobil kembali berjalan.
oOo
Seokmin langsung tertidur begitu sampai di rumah. Ringtone ponselnya terdengar nyaring membuat tidurnya terusik. Dengan malas ia mengecek ponselnya dan melihat nama Jisoo di layar ponselnya.
"Iyaaaa..." sapa Seokmin dengan suara berat dan sangat mengantuk.
"Seokmin-ah... hiks..."
Seokmin langsung tersadar mendengar Jisoo menangis. "Kamu kenapa?"
"Aku harus bagaimana... Jeonghan barusan meneleponku, dia memintaku untuk menjemputnya..."
Seokmin mengecek ponselnya untuk melihat jam. "Sayang, ini jam 2 pagi. Besok saja ya kita kesana."
"Aku tidak bisa tidur lagi... dia menangis padaku minta tolong..."
"Iya tapi ditahan hingga esok oke? Besok pagi aku langsung jemput kamu ya..." Seokmin berusaha menenangkan Jisoo, ia masih sangat mengantuk.
"Tapi..."
"Sekarang kamu tidur saja, semoga Jeonghan noona tidak apa-apa. Besok kita jemput dia oke."
"Kalau begitu, kamu kesini saja sekarang, aku tidak bisa tidur..."
"Ya sudah, tunggu ya! Nanti kalau aku sudah sampai aku telepon." Seokmin langsung memutus telepon dan bersiap untuk ke apartemen Jisoo.
Tak peduli ia belum lama pulang ke rumah, kini ia mengendap-endap keluar rumah lagi dan langsung tancap gas.
'Ayah, ibu maafkan putramu ini. Berawal dari mabuk alkohol hingga berkenalan dengan seorang Hong Jisoo, kini putramu masih mabuk asmara...'
.
.
.
TBC
Annyeong...
Happy fasting bagi yang menjalankan ya... semoga kalian diberi kesehatan, kelancaran dalam menjalankannya hingga hari kemenangan. Aamiin...
Cast trio hello-nya sudah menemukan kebahagiaan sendiri nih... ga berasa... hehe... Untuk penyelesaian masalah antara Jun dan Seokmin kenapa sangat simple? Aku sudah bertanya sama temen cowo dan menurutnya saat temannya meminta maaf ya sudah urusan selesai.
Repiu kalian tetap aku tunggu... mmuach... buat sider... mmuach juga deh...
Happy belated birthday Mockaa17 yang kemarin ultah, wish you all the best ya...
Special thank's to :
Mockaa17 / Tyna89Meanie / Moon Vibes / Kyunie / marinierlianasafitri / yjmeans13 / LittleOoh / wortelnyasebong / rizka0419 / Cha KristaFer / beanie / jeononu
17 Mei 2018
