Jadi... udah berapa abad ini fic Nana tinggalin...?

Sting : Udah... kira" 7 abad Na!

Nana : Woi Sting! Ngapain lu di sini?! Dan jangan panggil gua Na!

Sting : La? Kan kan pemeran juga di cerita ini! Dan nama lu emang Na, kan?

Nana : Na! Na! NA! Lu kira nama gue nanas apa?! #sewot

Sting : GYAHAHAHHAH! Nanas! *kabur sambil ketawa*

Nana : Sialan!

oke! Lupakan si Stinky itu!

Nana minta maaf untuk keterlambatan update chapter ini! Jujur banyak banget tugas di setiap minggu! Setiap minggu ulangan! Setiap minggu bikin makalah! Setiap minggu presentasi! #kok jadinya curhat?

Dan... terima kasih untuk reviewnya! ^^ Nana seneng banget!

Wokeh! Silakan lanjut kebawah! Nana mau ngejer Stinky dulu!

Happy Reading~


Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Is He Really That Nerd?

By Nnatsuki

Warning : AU, Typo(s), OOC, The Nerd Natsu.

Chapter 6

.

Kring…. Kring…. Kring…..

Bunyi alarm yang berhasil membuat pemuda berambut pink yang menyetel benda kecil bewarna merah di atas kepala tempat tidurnya itu bangun dan kembali ke dunia nyata setelah mengunjugi dreamland selama tujuh jam di alam yang hanya pemuda itu sendiri yang dapat mencapai dunia itu.

Kini di mulailah keseharian pemuda berambut pink bernama lengkap Natsu Dragneel ini.

Bangun pagi, sarapan, berangkat ke sekolah, mendengarkan penjelasan guru, membuat catatan, mengulang kembali pelajaran di perpus, makan siang, kegiatan klub, pulang.

Memang terdengar sangatlah biasa bagi semua orang, namun bagi Natsu kegiatan sekolahnya cukup membuatnya berharap seandainya dia bisa membuat waktu menjadi enam puluh jam dalam sehari agar dia bisa melepas lelahnya dengan berbaring dan tidur siang.

Well, kita semua tahu itu tak mungkin.

Lupakan harapan konyol itu dan hadapi saja hari ini!

Natsu bangkit dari tempat tidur King Size yang karena sangat empuk dapat membuatmu terlelap dalam satu detik (itu menurut di iklannya!).

Tanpa basa-basi mengenai kasurnya, pemuda itu melangkah ke kamar mandi, mencuci muka dan merapikan rambutnya yang sudah seperti benang berwarna pink super berantakan.

Mandi? Menurut Natsu, dia tak melakukan aktifitas berat saat malam hari sampai bangun, jadi untuk apa mandi? Hei! Dia bisa jamin tidak akan menghasilkan sesuatu yang dapat menusuk hidungmu! Kau tahu apa artinya, kan? Tak perlu di bahas lagi!

"Aye… "

Natsu menoleh ke arah pintu kamar mandinya, seekor kucing bewarna biru yang memasang wajah oh-tuanku-aku-sungguh-membutuhkan-kebaikanmu-untuk -memberikanku-sarapan.

"Ohayou Happy!" Sapa Natsu.

"AYE!"

"Ya… ya… berikan aku waktu untuk menggosok gigi! Aku bukan kau yang hanya gosok gigi sebulan sekali, itupun kalau aku bisa mengekangmu untuk tidak melarikan diri,"

"Aye! Aye!"

"Aku juga tahu kau itu kucing!" Balas Natsu jengkel. Jangan menganggapnya gila, kawan! Karena kedekatannya dengan kucing yang telah di peliharanya sejak kecil ini membuat Happy mengerti semua perkataanya dan begitupun Natsu.

Mungkin ini bisa menjadi bahan penyelidikan biologi yang bagus…

"Nah kucing rakus! Ayo!" Ajak Natsu setelah pembersihan giginya selesai. Wajah Happy berubah bahagia dan langsung berlari ke dapur mendahului Natsu, membuat majikannya tertawa akan tingkah hewan peliharaannya ini.

"Aye!" Ujar Happy menyuruh Natsu untuk lebih cepat.

"Sabar! Aku hanya punya dua kaki!" Jawab Natsu seraya membuka lemari pendingin dan membuka bagian 'Meat and Vegetable'. Lalu mengeluarkan sebuah ikan yang tersimpan rapat dalam tempat khusus agar bau ikan yang khas itu tidak menular ke makanan lain. Natsu langsung mengeluarkan ikan segar itu dan menghidangkannya di mangkuk khusus Happy.

"Nih!" Natsu membungkuk dan meletakkan sarapan kucing birunya itu. Dengan sigap Happy langsung menyerbu sarapannya.

"Nah, aku sarapan apa?" Jangan lupa kalau Natsu juga membutuhkan asupan pagi. Natsu kembali membuka pintu kulkasnya dan memeriksa apa yang bisa di jadikan mangsa hari ini.

Roti burger, daging burger, mayonase, saos tomat, beberapa sayuran….

Yup! Burger!

-000XXX000-

"Aye! Aye!" Seru Happy memberitahu Natsu untuk segera mengambil hand phone-nya yang tengah berbunyi akan pesan masuk yang di terima oleh benda kecil itu.

"Iya! Iya! Aku datang!" Jawab Natsu setengah berteriak dan berjalan cepat menuju dapur tempat dia meletakkan ponselnya. Acara berganti pakaiannya sedikit terganggu akan pesan masuk itu.

Natsu meraih handphone touch screen miliknya itu.

"Aye?" tanya Happy.

"Tak apa! Hanya pesan dari operator, kok!" Jawab Natsu sambil mematikan ponselnya dan kembali berjalan ke arah kamarnya yang di ikuti Happy dari belakang.

Dia membuka lemarinya, mengambil secara asal baju yang akan di kenakannya untuk ke sekolah.

Fiore Academy di bebaskan dalam hal berpakain, selama murid mengenakan pakaian sopan tentunya.

Namun tetap cara berpakain pemuda berambut pink ini akan membuat orang-orang berpikir apa pemuda ini menggunakan kalender empat puluh tahun yang lalu atau lupa sekarang abad keberapa.

Well, It's not his problem what people say!

Sebelum Natsu memakai sweater besarnya itu –yang kali ini berwarna hijau yang WOW!- Natsu tentu harus memakai kemeja terlebih dahulu.

Kemeja Natsu sangatlah normal, kemeja putih berlengan panjang yang ukurannya pas. Namun kemeja itu tertutup dengan sweater yang sanggup membuat orang berhenti berjalan dan memerhatikannya dengan wajah 'Ewwww!'.

Natsu pernah sekali lupa menggunakan sweater itu, alhasil dia harus di hukum karena terlambat masuk sekolah karena dia berbalik memutar mengabil sweater.

Natsu melepas kaus yang di kenakannya dengan menarik bagian punggung kaus ke atas hingga lepas dari tubuhnya dan di lemparkan ke tempat pakaian kotor yang agak jauh dari posisinya.

Kemudian di raihnya kemeja putih yang sudah di siapkan pemuda ini, tanpa kesulitan Natsu memakainya dan mengancing kemejanya dengan rapi.

Natsu menghadap ke arah cermin yang terletak tak jauh dari lemari pakaiannya, yang jumblah pakaiannya hanya bertambah empat kali setahun, bukan untuk mengecek penampilannya, namun mengecek apa bajunya sudah rapi atau belum.

Barulah Natsu menyadari akan rambutnya yang –seingatnya- sudah di rapikannya masih saja berantakan melawan gaya gravitasi.

Biarlah! Mau di rapikan berapa kali pun akan tetap amburadul!

Natsu langsung menyambar sweater spesialnya, berjalan tiga langkah untuk menyambar tas sekolahnya, kacamata spesialnya, jam tangan, handphone dan juga tak lupa, kunci mobil.

Yeah! Ready to face to face with school's building!

-000XXX000-

Syut!

Dengan mulusnya Natsu memakirkan mobilnya tanpa harus maju mundur.

Kenapa?

Karena, hanya mobilnya yang sudah ada di parkiran khusus murid Fiore Academy ini.

Tentu saja! Lihat saja jam! Masih jam enam! Siapa yang datang ke sekolah sepagi ini kecuali Natsu?!

Tentu saja menghindari masalah dari anak-anak populer yang pasti akan merasakan tersaingi dengan Natsu yang –menurut mereka- levelnya sekelas ikan teri ini, mobilnya….

Yah… bukan keinginan Natsu untuk pergi dengan mobil, saat dia baru seminggu masuk sekolah setahun lalu, saat dia baru kelas satu, ayahnya bilang telah membelikannya mobil agar Natsu tak perlu naik bus ke sekolah, berhubung apartemen Natsu jauh dari sekolah.

Bagi Natsu, sebenarnya tak masalah harus naik bus, hitung-hitung bisa olahraga, tapi… apa yang sudah di hadiahkan kepada kita tentu akan kita terima, bukan?

Natsu cukup bernafas lega, tak ada seorang pun yang melihatnya turun dari mobilnya yang Oh-my-goodness!- ini.

Mungkin suatu saat orang akan menyadari, akan kedatangan Natsu yang di cap sebagai 'The School Nerd' ini yang sangat pagi, di tambah selalu hadirnya mobil WOW ini. Orang-orang akan menyadari bahwa Natsu mungkin membawa mobil itu, bukan?

Hei! Natsu isn't that fool!

Karena itulah, Natsu selalu menyendiri sampai jam tujuh kurang lima belas (kelas di mulai jam tujuh pukul) mempelajari pelajaran yang akan di bahas di kelasnya.

Menyendiri kemana? Atap sekolah!

Tempat itu tak pernah di datangin orang, karena itulah Natsu suka bersembunyi di sana, hanya teman-temannya yang tahu tempat yang telah di juluki Natsu's Heaven Place.

Karena ketenangan di tempat itu, di tambah angin yang berhembus menyengarkan, awan-awan yang terlukis jelas di langit, juga pemandangan matahari terbenam terbaik yang bisa di tangkap kameranya.

Dan juga…. Tempat yang pas untuk melepas benda kecil berkaca tebal yang sudah di pakainya selama setahu lebih ini.

Tanpa di sadarinya, dia sudah berada di depan pintu pemisah surga dunia miliknya seorang dunia.

Natsu memutar kenop pintu itu yang menyebabkan bunyi derit halus karena terbukanya pintu itu dari gaya yang di berikan oleh pemuda berambut pink itu.

Natsu langsung menutup pintu itu. Dia tak mau mengundang orang lain datang ke tempat privasinya ini.

Natsu langsung mengambil tempat paling nyaman, yaitu di mana dia dapat menyenderkan punggung dan kepala pinknya ke dinding. Lalu membuka tas punggungnya yang bewarna merah dengan motif sisik naga itu dan mengeluarkan buku apa saja yang tertangkap tangannya.

"Setidaknya aku bisa melepas dulu kaca mata ini sesaat, membaca dengan kaca mata setebal ini membuatku pusing juga… "

-000XXX000-

Teng! Teng! Teng!

Natsu tersentak kaget akan bel yang di bunyikan tiga kali tanda sudah saatnya murid-murid masuk kelas. Di tutupnya buku yang tengah di bacanya dan langsung berlari ke pintu yang jika pintu itu bisa bicara, dia akan berteriak-teriak memarahi Natsu yang hampir menerobosnya yang mungin akan meninggalkan luka mendalam.

Dengan kecepatan luar biasa, Natsu menuruni tangan yang berakhir di dekat perpustakaan.

Sial! Ruang kelasnya jauh dari perpustakaan! Bisa-bisa dia akan kena sembur hari ini oleh guru killer!

Setelah meloncati tangga terakhir, Nastu berbelok ke kanan, bersyukur tak ada orang lain saat ini, nafasnya tersenggal-senggal setelah berlari, beruntung dengan kemampuan larinya yang menakjubkan, kini dia telah sampai di ruang kelasnya, tepat sang guru killer itu tiba di depan kelas.

"Ah Natsu! hampir saja kau terlambat! Karena kau muridku yang paling menurut, akan kuberikan keringanan!" Ujar Gildarts-Sensei, Guru Matematika super mematikan yang berambut oranye tua yang di atur ke belakang ini.

"O-ohayou Sensei… " Sapa Natsu sambil mengatur nafasnya.

"Ya! Ohayou! Cepatlah masuk dan jangan lupa mengumpulkan tugasmu!" Perintah Gildarts-Sensei yang langsung di patuhi oleh Natsu.

Saat Natsu menggeser pintu kelasnya, kelas yang sangat ribut itu sempat terdiam namun kembali ricuh akan kedatangan siswa berambut pink itu.

"Woah! Dragneel! Datang juga kau?!"

"Kukira sudah tak ada muka lagi datang kemari!"

"Huh! Bikin mata rusak saja!"

"Benar-benar buat pencemaran kelas saja!"

Kalimat-kalimat tak bagus itu hanya di anggap Natsu sebagai salam pagi biasa, tanpa berniat membalas dia melangkah ke kursi yang posisinya pas untuk menyimak pelajaran dan mendudukinya.

Ejekan dari teman sekelasnya berhenti begitu semua murid menyadari kedatangan guru killer mereka yang berbadan tegap ini.

"Berhenti bicara, kumpulkan tugas kalian sekarang!"

Para murid meresponnya dengan desahan dan erangan malas, namun kembali diam setelah mendapat death-glare fenomenal dari Guru killer ini.

Untungnya, keributan mereka untuk Natsu tak di tangkap basah oleh Guru killer ini.

"Hei Dragneel! Berikan buku tugasmu!" Ancam seorang pemuda sambil menggebrak meja murid berambut pink itu.

"Sayang sekali… kau harus menerima nilai merah Straight!" Tegur Gildarts-Senesi. Pemuda itu hanya mendesis kesal.

"Awas kau nanti!" Ancam pemuda itu sambil melemparkan glare yang menurutnya dapat membuat si kutu buku ketakutan, justru sebaliknya, Natsu malah tengah berusaha untuk tidak tertawa.

Pemuda itu bernama Dan Straight, pemuda yang mungkin termasuk murid populer juga.

Kenapa mungkin? Karena pemuda berambut merah tua dan bermata magenta itu, terkenal bukan karena wajah.

Tapi karena kebiasaannya yang selalu mengajak seorang gadis yang menurutnya cantik (harus di akui, seleranya lumayan bagus) untuk menjadi pacarnya.

Bagi para murid populer, kebodohannya sangat menarik dan para siswi populer menggunakannya untuk bermain-main.

Too bad…. Dia tak menyadari. Justru itu membuat dagunya naik lima cm. menganggap dia telah menjadi siswa tenar. Tapi ada juga beberapa siswi mau menjadi pacarnya karena wajahnya yang –menurut mereka- cute.

Heck! Are they blind?

"Nah! Sekarang aku akan memberikan kalian test dadakan!"

Satu kalimat. Namun sama cetarnya dengan badai halilintar.

"Sensei! Kami kan belum belajar!"

"Yang benar saja, Sensei?!"

Para murid mengumandangkan protes. Tak setuju akan test dadakan dari Guru Killer ini. Semua murid tahu untuk menjawab soal dari Gildrats-Sensei lebih susah dari memindahkan gunung.

"Diam!" Para murid langsung menghentikan kicauan mereka, "Sudah kubilang dari awal semester, selalu bersiap karena aku akan sering memberikan test dadakan! Tidak ada komentar lagi! Siapkan alat tulis kalian! Simpan semua buku! Jika tak mau, silakan keluar dan bersiap menangis melihat nilai rapotmu kelak!"

Dengan ini, mereka semua hanya bisa berdoa agar di beri kemudahan dalam menjawab soal syang saaaaangat super itu.

"Jangan menyontek! Kalian tahu akibatnya jika menyontek, bukan?"

Alasan yang membuat Gildarts-sensei di takuti, siapa yang katahuan menyontek akan di robek kertas ulangannya detik itu juga dan tuganya tidak akan di terima selama seminggu.

"Kerjakan dengan tenang! Soal yang kuberikan selalu mudah!" Timpal Gildarts-Sensei sambil membagikan kertas soal kepada muridnya dengan berkekeling, sekaligus mengecek adakah murid yang masih berani berbuat jurang.

Well… soalnya memang mudah. Menjawabnya yang susah.

"Sekarang, MULAI!"

Welcome to the Hell!

-000XXX000-

"Gila!"

"Lama-lama Gildarts-Sensei akan membuatku sakit jantung!"

"Soal macam apa itu?! Di buku paket saja tak pernah ada soal semacam itu!"

"Benar-benar!"

Kini setelah melewati suasana paling menegangkan pagi ini, mengerjakan soal test yang ini, lebih susah dari mengukur diameter bumi dengan jengkal.

Hanya beberapa murid yang tampak tenang dan tidak stress akan nilainya seperti yang lainnya.

Tentu saja salah satunya adalah Natsu Dragneel.

Bagi Natsu, soal-soal tadi sama seperti soal yang di kerjakannya sebagai latihan, bahkan baginya hanya seperti menyantap sarapan pagi.

"Hei! Loke-Sensei datang!" Seru seorang siswa yang berada di depan pintu, sontak satu kelas langsung kembali ke tempat duduk mereka dan bersiap untuk pelajaran kedua hari ini.

"Halo~ Selamat pagi!" Sapa seorang pria berambut oranye berkacamata yang membawa buku datang memasuki kelas.

"SELAMAT PAGI, LOKE-SENSEI!" Jawab para siswi dengan kekuatan sembilan oktaf –Wow!-.

Berkat kedatangan Loke-sensei, kini Suasana yang mencekam berubah menjadi berbunga-bunga, namun hanya berefek kepada para siswi.

Loke Celeste, Guru Kimia sekaligus Play-Boy paling terkenal di Fiore Acadmey. Sure, dia mempunyai Face Prince yang tinggi. Tapi godaan mautnya yang sanggup membuat siswi terlena terkadang terdengar eewww…

Tapi setidaknya dia tidak seburuk muridnya, meskipun Play-Boy Loke-Sensei tak pernah membuang perempuan seenaknya. Dia hanya menjadikan para gadis sebagai teman –tapi mesra-. What a gentleman!

Namun sekarang penyakit Play-Boy miliknya mulai sembuh karena dia telah bertunangan dengan Aries-sensei, sahabat kecilnya yang juga Guru Biologi yang baru pindah kemari tiga bulan lalu.

Namun tetap saja dia tak pernah kehilangan kharisma dan selalu menggombal.

"Nah anak-anak! Apa kalian siap mencampur cinta kita pada pagi hari ini?"

"SIAP!" Jangan lupa hanya para siswi yang menjawabnya.

"Bagus. Perlu aku ingatkan lagi, pelajaran Kimia tidaklah sulit. Jangan langsung menyerah begitu melihat Buku Kimia, karena apa yang kita pelajari adalah hasil dari perpaduan cintaku kepada murid-muridku yang super ini!"

"KYAAAAAA! BAIK, LOKE-SENSEI!"

Para siswa hanya mendengus keras sambil menyembunyikan ekspresi ingin muntah mereka dengan buku.

Pertama, sakit perut karena soal yang WEEWW! Sekarang, sakit perut karena gombalan yang EEEWWW!

Welcome to the second Hell!

-000XXX000-

Teng! Teng! Teng! Teng!

Bel yang di bunyikan empat kali, istirahat!

Semua siswa langsung berubah ceria mendengar bel istirahat ini, sedangkan para siswi malah cemberut karena berakhirnya pelajaran Kimia hari ini.

"Sayang sekali, kita cukupkan pelajaran hari ini dan akan melanjutkannya di lain hari. Don't forget I always love you my beautiful students!" Ujar Loke-Sensei berkedip genit sebelum meinggalkan kelas.

"Yah… jangan pergi Loke-Sensei!"

Natsu menghela nafas lega. Mendengarkan gombalan Loke-sensei membuat telinganya pedih. Mungkin dia perlu mengecek ke dokter THT nanti.

Natsu bangkit dari kursinya. Dengan beberapa buku di tangannya pemuda berkacamata botol itu melangkah keluar kelas.

"Hei Dragneel! Mau kemana?! Pergi bertapa ke perpustakaan?!" Seru Dan yang di sambut tawa teman-temannya. Natsu tak mepedulikan ucapan tak sopan pemuda magenta itu.

Namun dalam hati…

'Lebih baik bertapa di perpus daripada punya otak udang sepertimu!'

Natsu menutup pintu geser kelasnya. Dia kemudian berjalan ke tangga untuk ke lantai satu.

"Hei Natsu!" Natsu menoleh ke sumber suara yang sangat di kenalnya.

"Jellal? Juvia?" Jellal dan Juvia tersenyum. Kedua pemuda dan gadis beambut biru ini satu kelas. Begitu juga dengan Gray dan Erza.

"Ada apa Natsu? Wajahmu seperti habis menahan muntah?" Tanya Jellal out of the blue.

"Yah …. kalian tahu… Pelajaran Loke-Sensei…. " Jellal dan Juvia berdecak mengerti.

"Pantas! Juvia pikir Natsu-san belum sarapan," Timpal Juvia. Mereka bertiga menutuni tangga bersama menuju ke tempat loker murid berada.

"Syukurlah Loke-Sensei akan menikah akhir tahun ini, jadi tabiat Play-Boy-nya bisa hilang." Tambah Jellal.

"Tapi sepertinya agak susah, kau tahu sendiri seperti apa Loke-Sensei," Ujar Natsu.

Mereka semua mengenal Loke-Sensei secara pribadi. Mereka jugalah yang memberitahu Loke-Sensei untuk bekerja di sini tepat saat tahun ajaran baru di mulai, saat mereka baru kelas satu, karena guru Kimia sebelumnya telah pensiun. Mereka juga murid pertama yang mendapat undangan pesta pertunangannya dengan Aries-Sensei.

"Banyak siswi yang menangis mendengar berita pertunangan Loke-Sensei loh!" Ujar Juvia.

"Tapi tetap saja mereka masih setia," Tambah Jellal.

Percakapan mereka berhenti ketika mata ketiganya melihat seorang pemuda berambut raven dan gadis berambut scarlet tengah berjalan menuju ke loker agak jauh di depan mereka.

"Gray! Erza!" Panggil Natsu. Mereka berdua menoleh dan tersenyum melihat teman-temannya lalu berjalan mendekati ketiga murid itu.

"Gray-sama!" Seru Juvia sambil menghanyutkan diri dalam pelukan kekasihnya.

"Halo Erza, have a nice day?" Jellal mengecup sayang kening Erza.

"Woi! Woi! Get a room!" Seru Natsu membuat kedua pasangan itu menghentikan aktifitas share-our-love dan hanya membalasnya dengan cengir kuda.

"Jangan khawatir Natsu! Sebentar lagi-"

"Natsu!"

Keempat temannya memberikan cengiran kepada pemuda berambut pink yang meng-glare cengiran mereka dan berbalik untuk menyambut gadis blonde yang tengah berlari ke arahnya.

"Hei Luce! Hati-hati nanti-" Sebelum Natsu sempat menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu melempar buku yang di bawanya ke belakang dan berlari menangkap tubuh mungil Luce sebelum jatuh mencium lantai koridor.

"Hei! Sudah kebilang-" Ekspresi kesal Natsu berubah saat melihat wajah ketakutan temannya ini.

"Natsu! Tolong!"

Sebelum Natsu sempat meminta keterangan lebih jelas, dua orang siswa datang ke arah Natsu dan Lucy.

"Hei pengecut! Lepaskan gadis kami!" Gertak mereka ke Natsu, namun sebelum kedua pemuda itu bisa berkata lebih, Jellal dan Erza sudah berada di depan Natsu dan Lucy memagari pandangan mereka dari kedua sahabat itu.

"Ada yang bisa kami bantu? Mungkin ruang BP bisa kita jadikan tempat menyelesaikan masalah," Ungkap Jellal lengkap dengan glare mematikan dari Erza.

"Cih!" Kedua siswa itu pergi berlari ke arah yang berlawanan.

"Luce, kau tak apa-apa?" Tanya Natsu lembut, melihat kejadian tadi dia paham, Lucy di kejar oleh kedua orang itu untuk di ajak bermain bersama mereka.

"Maaf aku merepotkanmu… " Gumam Lucy yang masih gemetar ketakutan sambil memeluk Natsu kuat.

"Lucy, kau tak apa? Beritahu aku nama dan kelas mereka, biar kuberi sedikit pelajaran!" Desis Erza geram melihat apa yang kedua orang itu perlakukan kepada temannya.

"Jangan khawatir Luce, kami tak akan membiarkanmu di sentuh orang-orang seperti itu lagi," Ujar Natsu sambil membelai rambut indah Lucy menenangkan gadis yang kini tengah terisak ketakutan dalam pelukannya.

Damn that bastards!

"Kau tahu Natsu, setidaknya kau punya alasan yang bagus untuk melempar buku ke arahku yang sayangnya buku yang paling tebal itu menimpa kakiku." Ungkap Gray yang membawakan buku-buku Natsu yang tebalnya cukup membuat orang sakit kepala hanya melihatnya.

"Well.. sorry dude," Ringis Natsu.

"No prob! Lucy tak apa-apa kan?" Tanya Gray ikut mencemaskan Lucy yang masih belum berhenti menangis.

"Lucy-san, Juvia mohon berhentilah menangis, Juvia tahu ini masih berat bagi Lucy-san tapi terus menangis seperti ini juga tak baik," Ucap Juvia lembut sambil menyodorkan sapu tangannya ke arah gadis blonde yang mulai mengangkat kepalanya pelan-pelan membuat teman-temannya berdesah lega.

"Maaf… aku terlalu cengeng…. " Gumam Lucy seraya menerima sapu tangan Juvia untuk menghapus air matanya.

Teman-temannya tersenyum lembut, "Tak perlu malu, Lucy. Aku mengerti, kelakuan yang kau dapatkan tak bisa di maafkan! Biar kulaporkan ini!"

"Jangan Erza! Tak perlu membesarkan masalah ini!" Cegah Lucy.

"Lucy! Ini sudah masalah besar! Mereka menginjak harga dirimu sebagai wanita!" Bela Erza.

Lucy menggeleng, "Aku mengerti, tapi aku sudah memaafkan mereka, aku tak ingin membuat masalah yang dapat menyusahkan mereka, jadi kumohon Erza!"

Erza menghela nafas panjang, "Baiklah… aku akan tutup mulut untuk masalah ini, tapi ingat Lucy! Jika mereka atau orang lain melakukan lagi hal seperti ini, aku tak akan tinggal diam!"

Lucy tersenyum lembut, "Terima kasih, Erza."

"Sama-sama. Sudah seharusnya teman membantu," Erza membalas senyum Lucy sama lembutnya.

"Baiklah, kita lupakan kejadian tadi. Lucy, kau mau bergabung dengan kami untuk istirahat bersama?" Tawar Jellal.

Lucy menganguk, "Tentu saja! Terima kasih sudah mengundangku! Dan Natsu… maaf aku sudah… " Lucy tak melanjutkan kalimatnya karena semburat malu menghiasi pipinya.

Natsu terkekeh pelan, "Tak masalah Luce!"

Jujur. Natsu sangat salut akan kebesaran hati Lucy. Jika Lucy meminta Erza untuk menghajar dua orang brengsek itu, Natsu dengan senang hati akan membantu.

This girl is truly an Angel.

"Ohya, kenapa aku tak pernah melihat kalian berada di kantin sekolah saat istirahat?" Tanya Lucy. Sengaja untuk mengganti topik.

"Ah! Kami selalu menghabiskan waktu istirahat di atap sekolah, sekalian belajar bersama karena tempatnya tenang dan sangat sejuk," Jawab Jellal mewakili sahabatnya.

"Atap sekolah? Aku baru tahu ada tempat seperti itu?" Tutur Lucy polos.

Erza merangkul tangan Lucy, "Makanya lebih baik berteman dengan kami, bukan?"

Lucy tersenyum manis, "Ya! Lebih bermanfaat daripada harus mengelilingi mal untuk mencari baju!"

Juvia bersorak kecil sambil merangkul tangan Lucy yang satunya, "Juvia senang mempunyai teman sebaik Lucy-san!"

Ketiga gadis yang cantiknya bak malaikat ini tertawa dan berjalan berbarengan, membuat semua murid yang berpas-pasan dengan mereka akan berhenti sebentar untuk mengetahui sebab mereka tertawa dan mengangumi para dewi ini.

Sedangkan ketiga pemuda yang mereka tinggalkan di belakang tengah tersenyum lembut masing-masing kepada… yah… kita semua tahu kepada siapa.

"Sepertinya kalian lupa kalau kita harus menukar buku dulu di loker," Jelas Jellal yang mengikuti ketiga sahabat ini bersama Natsu dan Gray.

"Loh! Bukannya kalian yang harusnya takut? Bisa-bisa kami lupa untuk bagian kalian!" Goda Erza yang membuat kedua mata cokelat tua kekasihnya membulat dan mulai terlihat panik.

"Bagian? Bagian apa?" Tanya Lucy bingung.

"Setiap kami istirahat, Erza dan Juvia akan membawakan bekal untuk semua dan menyantapnya sambil belajar di atas sekolah," Jelas Natsu yang sudah sampai di sampingnya.

"Ohya! Kebetulan aku masak terlalu banyak tadi pagi! Aku berniat untuk memberikannya pada kalian!" Ungkap Lucy sambil menyatukan kedua telapak tangannya!

"Bagus! Bagianku semakin banyak!" Sorak Natsu.

"Dasar… " Gumam Erza menggeleng-gelengkan kepala.

"Tapi… kenapa kalian berdua membela-belakan untuk membuat bekal?" Tanya Lucy.

"Makanan di kantin tidak sehat! Jika ketiga tuan ini makan makanan itu setiap hari, bisa-bisa mereka kena penyakit kurang gizi!" Seru Erza membuat ketiga tuan itu cengir kuda mendengarnya.

"Gray-sama, Natsu-san, Jellal-san dan Erza-san tinggal di apartemen yang sama, tapi hanya Erza-san yang memasak makanannya sendiri, mereka bertiga selalu makan di luar," Tambah Juvia kepada Lucy.

"Hei! Jika kalian makan makanan luar yang tidak sehat, bisa-bisa kalian kurang gizi nanti!" Seru Lucy ikut kesal.

"Karena itulah aku dan Juvia selalu membawakan bekal, setidaknya mengurangi pola makan tak sehat tuan-tuan ini," Ketiga tuan itu hanya bisa menghela nafas pasrah, lagi-lagi mereka mendapat ceramah pagi soal pola makan dari Ketua Komite Kedisiplinan ini.

"Kalau begitu mulai besok aku juga akan menyumbang bekal!" Ujar Lucy.

"Eh? Apa tidak menyusahkanmu Lucy?" Tanya Erza.

Lucy menggeleng, "Tentu tidak! Kita kan teman!" Jawabnya mantap sambil tersenyum manis.

Erza ikut tersenyum, "Baiklah kalau begitu, mohon bantuannya!"

"Hihi! Bisa-bisa kita butuh dana lebih banyak nih!" Kalimat Juvia membuat ketiga tuan ini ketakutan.

"Tunggu! Masa karena Lucy ikut bukan berarti kami harus-"

"Oi Gray awas!"

"Huh? Apa mak-"

Dak!

Belum sempat Gray bertanya apa maksud warning dari Natsu, kepalanya sudah membentur lemari loker dengan indahnya. Mengukir sejarah baru dalam lembaran kejadian lucu di sekolah.

"Dasar! Makanya lihat-lihat saat jalan!" Tegur Erza sambil menggelengkan kepala.

"Hihi! Gray-sama tidak apa-apa?" Juvia terkikik di sela-sela tawanya. Kejadian lucu yang di alami pacarnya tidak bisa untuk di lupakan begitu saja.

"Sayang aku tak membawa kamera… " Gumam Natsu.

"Sehatusnya kau membantuku, Baka!" Geram Gray mendengar komentar kejam sahabatnya.

"Salahmu sendiri sampai terbentur, Gray!" Jellal ikut melontarkan komentar kejamnya. Membuat seorang Gray Fullbuster diam memutih di tempat karena komentar jahat dari kedua sahabatnya ini. Membuat ketiga gadis yang melihatnya meringis kasihan akan nasibnya.

"Ya sudahlah… lupakan saja kejadian tadi Gray!" Ucap Natsu dan Jellal bersamaan, meninggalkan Gray yang menatap kedua sahabatnya dengan mulut terbuka lebar.

"Kalian berdua… awas nanti!"

-000XXX000-

"Ayolah Gray-sama! Jangan ngambek lagi dong!"

Kini keenam sahabat ini berada di atap sekolah, menikmati bekal yang di bawa oleh ketiga gadis cantik ini, demi menyelamatkan gizi ketiga pemuda ini.

Gray tidak membalas kalimat Juvia, dia masih menatap tajam Natsu dan Jellal yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing dengan Lucy dan Erza.

Sedangkan kedua pemuda yang mendapat glare dari si Fullbuster, tidaklah merasa takut.

"Jellal cobalah Strawberry Cake buatanku!" Titah Erza. Jellal menelan ludah memandang kue buatan kekasihnya itu.

Masih ingatkan? Erza bukanlah gadis yang pintar mengenai masalah dapur.

"Ba-baiklah… " Jellal membuka mulutnya, membuat Erza menyuapinya sesendok kecil kue maut itu.

Hasilnya…

Wajah tampan Jellal kini berubah warna menjadi ungu.

"Ada apa Jellal?! Apa karena terlalu enak jadi kau tak sanggup berkata-kata? Ini minumlah air dulu!" Erza memberikannya sebotol air minelar yang langsung di sambut oleh Jellal.

Erza… Erza… jelas-jelas Jellal tak bisa bicara karena kuemu terlalu 'Luar biasa'!

Well… kita doakan Jellal supaya cepat sembuh dan biarkan dia beristirahat sebentar.

"Natsu! Sini kau juga harus mencobanya!" Seru Erza hendak mengeksekusi Natsu dengan kuenya.

"Eh? Anu Erza… aku sedikit batuk pagi ini… jadi tidak boleh makan makanan manis dulu! Uhuk! Uhuk!" Jawab Natsu sambil berpura-pura batuk.

Hihi! Good job Natsu!

"Benarkah? Apa boleh buat… " Erza berpaling ke arah Gray, membuat pemuda berambut raven itu gemetar.

"Eh! Anu Erza… aku-" Belum sempat Gray memberikan alibinya, Erza sudah mencekoki kue membunuh miliknya.

Alhasil? Tak sadarkan diri.

"Aku pergi dulu! Ada yang harus kuurus di ruang BP!" pamit Erza meninggalkan Natsu, Lucy dan Juvia yang masih diam akan kejadian tadi.

Erza… sudah membuat kedua pemuda malang pingsan, dengan kejamnya meninggalkan korban ketamakan kuenya.

"Ju-Juvia akan ke ruang UKS untuk mencari sesuatu untuk mengobati Gray-sama dan Jellal-san!" Juvia pergi meninggalkan kedua insan ini setelah lima menit kepergian Erza.

"Mereka berdua pingsan… " Ucap Lucy.

"Ya… " Jawab Natsu.

"Selalu begitu? Setiap memakan masakan Erza?"

"Selalu begitu!"

"Apapu itu?"

"Apapun itu!"

"Natsu…?"

"Ya…?"

"Selamat… karena tidak menjadi korban… "

"Terima kasih… "

-000XXX000-

Natsu Dragneel tengah memasuki kelasnya. Syukurlah Jellal dan Gray bisa kembali sadar berkat obat rekomendasi dari Aries-Sensei, Aries-Sensei juga kurang percaya mereka berdua pingsan akibat memakan kue buatan Erza yang lebih berbahaya dari racun ular King Cobra.

Natsu memandangi seisi kelasnya.

Ada yang tengah menggosipi cowok keren, ada yang tengah melihat-lihat majalah remaja yang baru terbit hari ini, ada yang tengah menggoda gadis lain, ada yang tengah mencari-cari jawaban untuk tugas, ada yang sibuk mengotak-ngatik hand phone-nya dan masih banyak lain.

Well typical student…

Natsu berjalan pelan menuju mejanya, menarik kursi dan menduduki kursi untuk satu orang ini. Di bukanya tas punggung yang di gantungnya di samping meja dan mengambil sebuah buku tebal yang berjudul…

'Seribu Satu Soal Olimpiade Matematika'

Oh my… Natsu…

Natsu mendorong kaca matanya yang sedikit melorot dan membuka halaman 235, di dalam buku itu sudah di siapkannya pensil untuk mengerjakan soal-soal yang –menurutnya- menantang itu.

Tanpa kesulitan, tangan kanan Natsu menuliskan jawaban dari soal yang panjangnya 15 cm, dalam waktu…. Satu menit?

Natsu tersenyum puas melihat hasil pekerjaanya, di baliknya halaman buku tebal yang menyakitkan mata itu. Soal kedua, sama seperti soal pertama, tak membuat Natsu meleleh mengerjakannya.

Dan dalam waktu tujuh menit, sudah ada lima soal olimpiade yang di kerjakan oleh pemuda berambut pink itu.

Baru saja Natsu akan berpindah menantang soal berikutnya, sebuah suara hasil sebuah tangan memukul meja terekam di telingganya.

"Hoo… sedang berlatih, Dragneel?" Natsu berdecih pelan. Lagi-lagi ada orang yang tak punya kerjaan datang menggangunya.

"Pantas saja kacamatamu bisa setebal itu, buku yang kau baca tidak ada bedanya dengan kaca mata bututmu itu!" Sorakan dan gelak tawa menyambut kalimat kasar dari Dan Straight. Namun belum sanggup memecah konsentrasi Natsu dalam mengerjakan soal-soalnya.

"Heh? Pura-pura tak dengar, Dragneel?!" Dan mendatangi meja Natsu dan merebut paksa bukunya.

"Hoo… kumpulan soal olimpiade? Ingin menjadi anak rajin, eh Dragneel?" Tanya Dan dengan seringai yang super menyebalkan.

"Straight-san. Tolong kembalikan bukuku. Aku memerlukannya," Ucap Natsu dengan nada datar.

"Kau mau benda bodoh ini kembali? Baiklah… tapi… " Dan menunjuk ke arah bawah, "Bersujut dulu padaku!"

Sorak-sorak memenuhi kelas ini, ejekan terlontar bebas dari mulut para murid tak tahu aturan ini. Seringai Dan semakin melebar akan dukungan dari teman-teman sekelasnya.

Tapi itu semua belum cukup karena yang di ejek sama sekali tidak terlihat takut, berkeringat pun tidak.

"Dan-san… menahan buku itu tak akan memberikan keuntungan apa-apa padamu," Ucap Natsu.

"Oh! Tentu ada! Ini!" Dan melempar buku itu tepat di wajah Natsu, membuat tawa kesenangan menggelegar di dalam ruangan itu.

"Kau sungguh payah, Drganeel!"

"Berani menentang perintah Dan-kun?! Kau pikir kau itu siapa, huh?!"

"Dasar pecundang!"

"Konyol!"

Natsu hanya diam. Tak terlihat tertarik untuk membalas semua perbuatan tak terpuji dari Dan. Dia kembali meletakan bukunya di atas meja dan kembali mengerjakan soal.

Tampak beberapa pasang mata tengah memandang Natsu iba, yang dapat di rasakan oleh Natsu, membuat kepala pink Natsu menoleh dan melihat tujuh orang tengah terdiam di sudut kelas, mereka melemparkan senyum kau-baik-baik-saja?, yang di balas oleh Natsu dengan senyuman ya-terima-kasih.

Walau rata-rata murid di kelas Natsu berada adalah para murid populer, tapi tetap ada murid yang normal dan tidak mengikuti aliran sesat murid populer itu.

"Minna! Ultear-sensei sedang menuju ke kelas kita!" Seru salah satu murid. Warning dari salah satu anggota kelas membuat semua murid langsung menuju ke meja mereka masing-masing. Natsu menyimpan buku matematikanya dan di ganti dengan buku pelajaran yang di ajar Ultear-sensei, Sejarah.

Tepat detik kemudian, pintu kelas terbuka menampilkan seorang wanita cantik berambut hitam sepanjang pinggang dengan mata hitam menatapi satu-satu muridnya. Di tangannya dia menjinjing sebuah tas dan sebuah globe dia bawa dengan menaruhnya di antara pinggang dan tangannya.

"Selamat pagi, anak-anak!" Sapa Ultear-sensei.

"Selamat pagi sensei!" Para murid membalas sapaannya.

"Bagus! Karena kalian semua tampak ceria, maka saya akan mengandakan quiz untuk kalian, silakan maju ke depan bagi yang namanya saya panggil!"

Dua bola mata para murid membesar sebesar bola kasti.

Ulangan… lagi…?!

Welcome to the third hell!

-000XXX000-

Natsu menghela nafas panjang, tangannya merapikan buku Sejarahnya. Jujur dua kali melakukan ulangan di hari yang sama cukup menguras tenaganya.

Sudah tiga puluh menit quiz berjalan, hanya Natsu yang dapat menjawab pertanyaan dari Ultear-Sensei dengan sempurna.

Soal-soal Ultear-Sensei juga meliputi pelajaran yang telah lalu dan tak di pungkiri para murid akan lupa lupa ingat. Di quiz ini, Ultear-Sensei akan menujukkan sebuah negara di globe dan meminta murid untuk menjelaskan apa saja sejarah negara itu.

"Dragneel-san! Karena hanya kamu yang sudah selesai, silakan keluar kelas dan kembalilah dalam waktu satu jam mendatang," Ujar Ultear-Sensei tersenyum lembut.

Natsu menganguk, "Terima kasih, Sensei! Saya permisi," Natsu membungkuk dan berjalan keluar kelas.

Klak! Pintu kelas tertutup di belakang Natsu. Senyum lebar terbentuk di wajahnya yang tersembunyi di balik kaca mata tebalnya.

Satu jam bebas dari pelajaran Sejarah!

Bukannya dia membenci pelajaran Sejarah, tapi jujur Natsu cukup kesulitan dalam menghapal pelajaran ini. Untunglah dia dan Gray, yang juga mempunyai masalah yang sama dalam Sejarah, mendapat pelajaran khusus dari Juvia yang cukup ahli dalam pelajaran ini.

Rrr…. Rrr…..

Natsu merongoh kantong celananya. Di ambilnya pondselnya yang bergetar memberitahukannya ada sebuah pesan masuk.

From : Gray Fullbuster

Oi! Apa pengertian dari dinamika?

Kening Natsu berkerut membaca pesan dari Gray. Tumben Gray bertanya kepadanya?

To : Gray Fullbuster

Dinamika adalah bagian ilmu fisika yg berhubungan dng benda yg bergerak dan tenaga yg menggerakkan.

Kalian ada ulangan?

Tepat sepuluh detik kemudian, (Natsu akui Gray memang mempunyai kecepatan mengetik yang luar biasa) balasan Gray datang.

From : Gray Fullbuster

Sangkyu! Ulangan dadakan dari Laxus-Sensei… sungguh luar biasa!

Natsu mendengus keras membaca pesan Gray. Rupanya bukan hanya dia saja yang mendapat musibah ulangan dadakan.

Natsu memutuskan untuk tidak membalas pesan Gray, pasti pemuda berambut raven itu sudah buru-buru menyimpan ponselnya karena takut ketahuan.

Rrr… Rrr….

Pemintaan bantuan lagi?

From : Erza Scarlet

Natsu! Apa pengertian dari momentum?!

Natsu sweat dropped membaca pesan Erza. Bahkan Erza pun kesulitan dalam menjawan soal yang –Natsu jamin- sanggup membuat kepalamu meledak.

To : Erza Scarlet

Momentum adalah besaran yang berhubungan dengan kecepatan dan massa suatu benda, sehingga membentuk bektor.

Rrr…. Rrr…

Whoa! Cepatnya Erza mengetik pesan!

From : Erza Scarlet

Terima kasih! Aku janji akan mentraktirmu Strawberry Cake!

Soalnya teori semua! Sial!

Well Erza, tanpa kau beri Strawberry Cake pun, Natsu tetap akan membantumu!

Natsu kembali menyimpan ponselnya. Tadinya dia berniat mendatangi kelas Gray dan Erza, namun melihat mereka tengah bertarung melawan monster bernama 'Soal Ulangan dari Laxus-Sensei' jadi niat itu di urungkan.

Rrr…. Rrr….

Ya ampun…

From : Jellal Fernandes

Pertanyaanku : Apa itu Ikatan Hidrogen?

Pertanyaan Juvia : Siapa penemu sistem periodik yang pertama?

Natsu… hanya bisa menggelengkan kepalanya.

To : Jellal Fernandes

Jawabanmu : Ikatan hidrogen adalah sebuah interaksi tarik-menarik (dipol-dipol) antara atom yang bersifat elektronegatif dengan atom hidrogen yang terikat pada atom lain yang juga bersifat elektronegatif.

Jawaban Juvia : Dmitri Ivanovich Mendeleev.

Rrr… Rrr….

Like Boyfriend, Like Girlfriend! (If you get what I mean)

From : Jellal Fernandes

Sangkyu! Loke-Sensei lagi badmood! Soalnya susah setengah mati!

Natsu kembali menggelengkan kepalanya. Biasanya Loke-Sensei adalah guru yang paling baik dalam memberikan soal ulangan. Tapi jika dia sedang ngambek… bersiaplah!

Natsu berjalan tak tahu arah. Sedikit bersyukur dengan guru-guru yang tak menyadarinya tengah berkeliling lorong kelas di saat jam pelajaran berlangsung.

Rrr… Rrr…

Gosh!

From : Lucy Heartfilia

Gray bilang kau sedang tidak ada ulangan. Boleh aku datang ke kelasmu? Aku baru saja selesai ulangan Biologi.

Ah! Akhirnya dia mendapat teman sesame nasib!

To : Lucy Heartfilia

Biar aku yang datang ke kelasmu, Luce!

Senyum kembali terlukis di wajah Natsu. Entah sejak kapan, setiap mendengar atau membaca kata 'Lucy', sesaat dadanya terasa hangat seperti baru saja meminum teh panas.

From : Lucy Heartfilia

Baiklah, kalau begitu temui aku di atap sekolah!

Tanpa ragu Natsu membalas pesan Lucy.

To : Lucy Heartfilia

Aye!

Tanpa menunggu aba-aba, Natsu segera melesat ke arah perpustakaan (ingat perpustakaan itu dekat dengan tangga menuju ke atap sekolah!). Dia menaiki tangga sempit itu dengan langkah ringan, tidak saat pagi tadi.

Natsu membuka pintu yang akan membawanya ke atap sekolah, di sana Lucy tengah berdiri menatap cakrawala yang bertahtakan awan-awan lembut yang mungkin, jika kita bisa memakannya, akan lebih lembut dari marshmallow.

"Yo Luce!" Sapa Natsu membuat Lucy tersentak dan menoleh ke arahnya.

"Natsu!" Lucy berlari kecil ke arahnya. Natsu tak bisa untuk tidak memberikan grins terbaiknya kepada gadis blonde ini.

"Kau sedang apa , Luce? Melihat langit sendirian begitu," Tanya Natsu penasaran.

"Hanya kagum aku bisa melihat langit secantik ini dari atap sekolah!" Jawab Lucy ceria sambil tersenyum manis. Dalam hati Natsu turut senang melihat sahabatnya gembira.

"Ohya! Kau mau teh hangat, Natsu?" Tanya Lucy sambil berjalan menjauhi Natsu menuju ke tempat yang teduh dan dapat menyenderkan punggungmu ke dinding.

Atau lebih tepat, tempat yang di tempati Lucy adalah tempat biasa yang di pakai Natsu saat dia datang di pagi hari.

"Kau dapat dari mana teh hangat, Luce?" Natsu mengikuti Lucy menuju ke tempat favoritnya.

"Aku beli di kantin! Tiba-tiba ingin minum teh saja," Jawab Lucy. Tangannya sibuk menuangkan teh ke dalam gelas kecil khusus untuk minum teh. Natsu duduk di sebelah Lucy dan menyenderkan punggungnya ke dinding.

"Silakan Natsu," Lucy menyodorkan gelas yang telah terisi teh itu.

"Terima kasih," Natsu menyeruput tehnya. Hangat.

"Aku akan kembali ke kelas satu jam lagi," Tutur Lucy.

"Sama," Jawab Natsu singkat.

Hening. Masing-masing individu ini tidak berusaha membuat topik baru. Entah apa yang tengah mereka pikirkan.

"Hoaamm…. " Lucy menguap, membuat Natsu menoleh ke arahnya.

"Kau tidak tidur semalam?" Tanya Natsu.

"Aku tidur larut. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan chapter terbaruku!" Mata cokelat Lucy berbinar. Natsu terkekeh kecil melihatnya, jika sudah membicarakan soal menulis, mata Lucy akan berbinar senang seperti tadi.

Sruuk!

Kepala Lucy terjatuh pelan ke bahu kanan Natsu. Tubuh Natsu menengang sesaat. Bingung ingin berbuat apa.

"Aku ngantuk sekali… " Gumam Lucy, "Jika kau mau tambah, ambil saja sesukamu, Natsu… aku… ingin tidur sebentar… "

Setelahnya Lucy tak lagi bicara apa-apa, karena dia telah di antarkan ke negeri mimpi yang penuh warna.

Natsu tertegun melihat Lucy yang tertidur di bahunya. Wajah damainya membentuk senyuman manis, sepertinya dia tengah bermimpi indah.

Natsu tersenyum lembut melihat pemandangan indah ini. Dia letakkan gelas tehnya yang sudah habis. Di posisikan tubuhnya untuk lebih nyaman, tangan kirinya mendorong pelan sisi kanan kepala Lucy agar lebih dekat kepadanya.

Tanpa ragu, Natsu melepas kaca mata. Senyum lembutnya terus terbingkai di wajahnya yang, kali ini, tanpa kaca mata yang menutupi.

"Mimpi yang indah, Luce… "

Sungguh. Natsu sangat berharap bisa menghentikan waktu untuk memotret momen manis ini.

-000XXX000-

Tanpa kita ketahui, di saat jam menunjuk ke angka 11.29, seorang pemuda tengah berada di sebuah restoran, pemuda itu bisa di pastikan masih seorang siswa, yang harusnya kini berada di sekolah.

Nyatanya… pemuda itu malah duduk-duduk santai di kursi empuk restoran mahal itu dengan seorang gadis cantik yang tengah memeluknya manja.

"Sting-kun~" Panggil gadis itu manja. Pemuda berambut blonde bernama Sting itu menoleh ke arah gadis cantik itu yang mengeratkan pelukannya.

"Ya sayang?" Sting mendekati wajah gadis itu dan memberikannya ciuman singkat. Gadis itu terkikik senang.

"Habis ini kita mau kemana~?" Tanya gadis itu dengan nada manis yang di buat-buat. Dia mengedip-ngedipkan matanya genit.

"Soal itu… kita lihat nanti," Jawab Sting menyeringai. Gadis cantik itu terkikik senang dan mencium pipi kanan Sting.

"Aku akan membetulkan make-up sebentar, tunggu di sini ya, sayang~" Gadis itu bangun dari kursinya dan mengedip jahil.

Sting terkekeh sambil mengambil cangkir kopinya. Tujuan utamanya pagi tadi memang ingin pergi sekolah, tapi begitu mata elangnya itu menangkap seorang gadis cantik yang tengah menunggu bus untuk pergi ke sekolah… well forget about school!

Lumayan juga, dia mendapat mainan baru setelah mainan lama dia buang kemarin.

Rrrr…. Rrrr….

Panggilan masuk. Sting berdecak kesal dan mengambil ponsel yang Nerada di dalam kantung celananya.

"Halo?"

"Sting-san. Aku sudah menumukan siapa orang yang membentakmu kemarin dari telepon Hearftilia-san!"

Mata Sting membesar sesaat, "Benarkah? Siapa orang brengsek itu?!"

"Natsu Dragneel,"

Mata Sting semakin melebar mendengar nama yang di sebutkan.

"Hoo… begitu! Baiklah! kerja bagus!" Sting mematikan ponselnya. Dia berdiri dari tempat duduknya, Sting mengeluarkan sebuah dompet dari kantung belakang celananya dan melemparkan beberapa lebar uang di atas meja.

Sting keluar dari meja dan melangkah keluar restoran.

"Sting-kun!"

Sting menoleh malas saat gadis yang tadi bersamanya mendatanginya dan langsung merangkul lengannya.

"Sting-kun~ kau mana kemana?"

"Tinggalkan aku!" Gertak Sting sambil melepas paksa rangkulan tangan gadis itu.

"Sti-Sting-kun! Kenapa kau tiba-tiba berubah?"

"Maaf saja! Aku tak ada lagi urusan denganmu! Sekarang pergi dari hadapanku! Aku muak melihat wajah jelekmu!" Sting berjalan keluar restoran itu. Langsung berlari menuju moilnya.

Sting membanting keras pintu mobilnya. Menghidupkan mobilnya dan langsung memlesat meninggalkan restoran itu.

Mata biru Sting berkilat marah,

"Kau akan membayarnya, Dragneel!"

~To be Continue~


Wah! Wah! Sting! Lu bener" play boy cap kuda!

Sting : lah! Kan elu yg nyuruh gua berpean kayak gitu! |:

Nana : Iyaya... karena itu gua pingin tonyok elu!

Sting : -"

Nana rasa... bagian akhirnya rada" gaje...

Sting : Udah sebulan nggak nulis sih! Makanya yg rajin update tuh!

Nana : JANGAN CERAMAHIN GUA! PIKIRIN AJA NASIB LU ENTAR!

Sting : *pundung, takut ngeliat Nana marah*

Akhrnya pergi juga deh tuh bocah... okedah! Bales review dulu~

Xx-RedSky-Dragneel-xX : Daddy! XDD Natsu emang yg keren sedunia! Hihihi! Pastinya dong! :p Aih~ Arigatou Daddy! Nana coba update lebih cepat! Thx for the review!

AN Narra : Jangan sampe meleleh Narra-san! Nanti Nana minta Gray yg membetulkan! :v eh? Yang bener Fairy Tail... -a Fairy Tale beda lagi artinya... Nonton aja! Habis itu pasti jatuh cinta sama Natsu!#promosi Hai! Thx for the review!

Akiko Nagato : Aki-chan! *boleh aku panggil begitu?* Ah! Biasa aja kok! Hai! ini udah ada lanjutannya! Pasti! Thx for the review!

.bs : Arigatou! T.T Nana usahakan.. Thx for the review!

Hanara VgRyuu : He? He? He? Review Hana-san kan Nana bales di chappy 4? #Panik!Panik!Panik! Huweeee... jangan nangis! T0T Nana ikutan nangis nih! Okedeh! Desember! :D waduh! Jangan galau lagi! -_- Boleh! *ngasih pemukul baseball ke Hana-san* Sting : Oi! Ah! Oke! Nana usahakan! Haiii! Thx for the review!

lavender bhity-chan : Arigatou! XD Hiks... maaf Nana nggak bisa update cepet.. T.T Hueee!Jangan teriak"! Nanti suara Lave-san ilang! Thx for the review!

Lacie Helra-Chan : La-chaaaan! :D Whoa! Whoa! Sabar La-chan... sayangnya belum! Nana mau menunda kematiannya! #emang bisa?!Bisa dong! Wkwkwkwkwk! Nana udah pesen batu nisa kok! Tolong datang ke pemakamannya ya La-chan !:D Salam buat Lennymu! Sting : Wuah! Rambutnya kuning! Nana : rambut lu juga kuning... Thx for the review!

a first letter : Hai! Thx for the review!

otakugirl321 : hihihi! Cuma neesan yg menyadarinya! XD Iya! Kayaknya lebih enak liat Juvia yg kalem kayak gini! ;) oke! Lagi dalam proses! Thx for the review!

Guest : Hiks... Nana usahakan update cepet! T.T Thx for the review!

Rin Fullbuster : Arigatou! Hiks... hiks... ampuni Nana... *ngambil kotak tisu yg udah di siapin Sting* Nana merasa bersalah sudah update lama... T0T Hontouni Arigatou! Nana akan berjuang lebih keras! Thx for the review!

Kaoro Dragneel : Haiiiiiiii! Arigatou! Nana sayang Kaoro-san! Arigatou! Thx for the review!

HikaruHitachiin : Arigatou! Hai! Nana nggak akan mau lagi dapet nilai jelek! :D Arigatou atas nasehatnya! . Thx for the review!

santika widya : hai! Nana usahakan update lebih cepat! Hihi! Nanti kita akan tau! xD Hai! Arigatou! Thx for the review!

Erza Dragneel : Douita! ;) Nana seneng Erza-chan seneng! *peluk balik Erza-chan* hihi! itu games Nana sama temen satu eskul Nana! xD Jadi copas aja deh! #dasar! Nana bingung sih! Mau bikin games yg gampang, tapi menarik! Ya udah pake aja! xD Hihi! sabar ya! Masih agak lama! #mungkin? Hai! Aye sir! Thx for the review!

Resya Valentine : Nana nggak bisa.. #gomen! Thx for the review!

NicolePrude11 : Arigatou! hehe! Nggak juga kok! pelan" Tapi pasti kita baka; tau siapa sih Natsu ini! xD Hai! Sama"! Thx for the review!

Ayane75 : Nana nggak ngehajar Stinky kk! Adegan itu Nana simpan utk terakhir! #evil smirked identitas Natsu masih agak lama Nana bongkar! Thx for the review!

Wirna : Aye! Nana usahakan update lebih cepat! Arigatou ne! Thx for the review!

Mushi kara-chan : Aye sir! :DD EH? belum kok! Tenang aja Mushi-san! Wokeh! Tapi masih Nana tahan bentar NaLunya! xDD Thx for the review!

stillewolfie : Wolfie-san! xD hihi! Gimana yaaa... Nana masih pingin bermain-main dulu nih! :| Nanti Stinky akan keluar dgn sendirinya! Kita emang sehati, Wolfie-san! #high five perlu Nana ngiket Stinky buat mempermudah penyiksaan Wolfie-san? Stinky : Nana jaaaaaat! Hihi! Nana juga nggak tau kenapa Nana hobi bikin beginian! Nanti kapan" Nana sama Natsu ah~~ Yah... kalo soal itu... hore! #sorak akhirnya typo berkurang! hihih! Thx for the review!

Ryuuzaki-san : Hihi! Nggak papa! :D hehe! Maaf ya! Nana masih merasa belum pas buat ngebongkar identitas Natsu! thx for the review!

Vin'DieseL No Giza : Hai?

nshawol566 : Bella-neeeeee! hihi! AA Natsu marah! #kabur hmmm... ngomonginnya di PM aja deh! XD hiks... hiks.. maafkan kohaimu ini Bella-nee... Nana juga pengen update cepet... T,T tapi daku rupanya tidak bisa mewujudkannya.. Sting : Na! Lu pake bahasa apa tuh? -_-" Aye sir! Thx the review!

siriuslight : Nana jawab sekaligus aja ya! :D hehe! Arigatou! Nana setuju! Kebanyakan cerita NaLu itu Lucy baik hati bak putri raja, tapi Nana baca fic tentang Lucy yg jahat, Nana nggak suka! Aye! Sebenarnya, Natsu di cap 'nerd' dengan alasan utama karena bajunya itu Sirius-san! hihi! GrUvia pairing no.2 favorit Nana! XDD hihi! Arigatou! Hoho! Hampir benar! Belum ada yg tahu rahasia terbesat Nana utk fic ini :v #selamat! Natsu ketua kelompok fotrografi! Thx for the review!

Tia Ikkimaza-chan : Hihi! memang panjang banget.. -_- I'm sorry... I can't have fast update... #deep bowed But. I'll try that! Thx for the review!

Aden L kazt : Arigatou! Nana usahakan cepet update! Thx for the review!

matsumoto s4m4 : Nana nggak bisa... tapi Nana usahain! Thx for the review!

Karyuu no tekken : Hihi! Nanti kita lihat siapa Natsu itu! Thx for the review!

.7 : Hai! Thx for the review!

Makoto Kyouko : Hai! Arigatou! Thx for the review!

lavender sapphires chan : Konbawa Lavender-san!:) Boleh! ^^ Kalo gitu... Lavender-san! oh! Nana tahu! XD Hihi! Arigatou! Nana seneng! Punya tambahan temen satu iman (?) dalam mennyiksa Stinky! xD hehe! bagus deh.. Nana sama Stinky selalu berantem! Hai! Arigatou! Thx for the review!

Guest : Hai! Nana usahakan! ^^ Thx for the review!

justweirdo : Nana juga nggak tau... :/ Nanti juga kita semua akan tau! ^o^ hihi! Nana juga! Sabar ya! Thx for the review!

Ren : hmmm... Nana juga belum pasti kapan mau membongkar identitas Natsu Ren-san... Aye! Arigatou! XDD Thx for the review!

Keiko Haruno : Hmmmm... kita liat aja nanti ya? Thx for the review!

refaa : Arigatou! Thx for the review!

Bagas : Maaf Nana terlambat.. T.T Thx for the review!

reff : Hai! Thx for the review!

Done! Nana tahu apa yang mungkin di pikirin minna, "Ini fic udah berapa bulan nggak diupdate?!", "Apaan sih author ini?! nggak bertanggung jawab!"

Nana tahu ini fic udah lumutan, bahkan mungkin jika kita cek di miskroskop, akan kita lihat beberapa protista, bakteri, jamur, atau mungkin virus?! #bawaan biologi

Untuk itu minna, jika selanjutnya Nana updatenya lebih telat dari yg sekarang, Nana minta maaf. Nana tahu sebagai author harusnya Nana lebih bertanggung jawab. Tapi Nana juga punya tanggung jawab yg nggak bisa di tinggalin!

Jadi Nana minta maaf nee... minna! *deep bow*

Mungkin... Nana akan update cepet

Mungkin... Nana akan update lebih lama...

Mungkin... Nana juga bisa berakhir hiatus!

Tapi yg terakhir itu semoga nggak jadi! Nana usahakan untuk yg pertama! :)

Sebagai permintaan maaf karena update lama, Nana akan menge-post fanfic one-shot NaLu!

Udah jadi setengah! Tinggal di kit lagi kok! :D

Nana sungguh berterima kasih untuk semua yg mendukung Nana! Nana sampe nangis baca review kalian semua... T.T

Sting : Sekarang aja lu udah nagis Na!

Nana : Diem lo! Dasar kepala jagung!

Sting : What! Kepala jagung?! o.O

Nana : Udah sana pergi!

Akhir kata...

Mind to keep the review?

Matta nee~~