Minna-san..
Hontou ne Gomenasai...
Mungkin agak telat ya updatenya? :'(
Ya, saya sedang dikerubungi tugas-tugas berat yang melakukan waktu lebih dari seminggu.
Pertama saya harus mengikuti olimpiade Matematika. Dan itu harus memakan wktu lama karena saya harus menghapal pelajaran kelas 1 dan 2 SMA plus Kalkulus juga..
Yah, saya kan baru kelas 1 SMA.. -,-
Apalagi, tugas Seni rupa yang menugaskan kita membuat Skenario sebelum membuat film perkelompok. Beuh, mantap emang..#plak!
Skenario, kebagian genre Horror dan itu menjadi berat bagi saya karena saya yang membuat skenarionya.#di rajuk oleh teman karena mereka tahu kalau saya maniak FF# i~i
Oke, stop curcolnya!
Dan sudah lama saya tak pernah membalas review dari para readers. :D
Yah, walaupun sekitar 36 review , saya akan tetap membalasnya.
Kiki RyuEunTeuk
Arigatou! XD
Nih sudah di update! :D
Gyuururu-kun
Arigatou atas review yang paling aku kangenin ini#paling panjang#! XD
Tak apa, saya memang penggila remy dulu. Jadi kebawa deh.. ;P#what?! Cewek-cewek?!
Namikaze myoko
Yosh! Akan saya lanjutkan! :D
Guest 1, 2, 3.
Arigatou.. ^_^
Sepertinya telat update ya.. ^_^'
Lily Purple Lily
Mungkin akan tahu alasannya di chapter ini.. :D
Ical
Fantasy itu bukan time travel aja kan?
Jika di warning saya tuliskan time travel, pasti ada. :)
Aurora Borealix
Akan saya kasih bocoran. Di kisahnya, alat itu memang tidak diberitahukan karena ini hanya flashback. Tapi, sebelum konoha hancur, mereka mempunyai alat yang dapat melacak para esper dewa. :D
Danial Dark
Heh Teme! Gak di sekolah, gak di fanfic kerjanya ngejekin Naruto mulu.. T,T
OhhunnyEka
Sepertinya, tak update kilat ya. ^_^'
Namikaze Nara
Karena banyak yang minta, akan saya ceritakan.
Mereka mempunyai sebuah alat.
Kekuatan Esper dewa saat itu belum ada/lahir. Mereka akan lahir saat bulan purnama tepat jam 12 malam. :)
Namikaze uchiha
Wah, tersanjung saya ada juga yang nungguin fic ini. :'D
AcaAzuka Yuri-chan
Yap. Disini kekuatannya belum lahir. ^_^
Yah, karena banyak yang memintanya, akan saya ceritakan.
Ore
Hontou?! :D
Arigatou. Maaf telat update. ^_^'
Maat Dragneel
Arigatou, pasti dilanjutkan! :D
AN Narra
Arigatou.. :)
Ani
Pasti! :)
Kyuubi is me
Wah, saya sudah menyangka akan ada yang mengatakan seperti itu. :P
Karena ini flashback, terpaksa saya cepetin.
Soalnya, pasti akan ada 4 chapter lebih karena flashback ini panjang. ^_^
Foxxel
Ya, sebenarnya saya juga tak tega hiks. U~U #what?!
Untuk melihat respon Temari, sepertinya, bukan chapter ini. :P
Satoshi 'Leo' Raiden
Oke! #pose jempol ala Lee#
Dhananjaya
Telat ya? (‾▽‾")
Uzumaki nyasar
Akan ketahuan kok di chap ini. :P
HikaHota
Telat ya? (‾▽‾")
Kunoichi. Syavira
Arigatou.. :D
Sepertinya, Telat ya? (‾▽‾")
NamikazeShely
Wah, tak apa.
Aku juga Naruhina lovers kok. :)
Dari cerita yang aku buat, ada pair Naruhinanya kok. :D
Ltn. Ryou. Misaki
Arigatou. ^_^
earlgreysan. bernvoureth
Akan saya ungkap kok.. :D
PohaciHaruno
Arigatou.. XD
Akan saya usahakan untuk menambah pair KakaTsunanya. :)
Guest
Arigatou..
Telat update ya? (‾▽‾")
nujeri29
Yup, tentu ada. :)
Guest
Nih sudah di lanjut. :)
Mendokusai144
Mungkin disini sedikit terobati.. #plak
hendrix. ngawi
Arigatou.. XD
Telat ya? (‾▽‾")
Chooteisha Yori
Wah, sepertinya kurang tepat. ^_^'
Guest
Hontou?!
Wah, Arigatou.
Sepertinya, tak bisa update kilat deh.. -,-'
Oke, review dari para readers sudah saya balas.. :D
So, back to the story..
"Kenapa, KAAAA-SAAANN!" berteriak. Bocah tersebut telah berteriak keras. Tak ayal, jika para tetua beserta guardiannya tersebut menyadari keberadaannya. Sang tetua bengis tersebutpun menyeringai iblis tatkala incarannya masih berada dijangkauannya. Iapun memerintahkan kepada bawahannya, sang guardian itu untuk membereskan Kushina sementara ia menangkap incarannya.
Dan apa yang terjadi dengan bocah malang itu?
Ya, ia masih berada dalam posisinya. Matanya telah bengkak karena terus-menerus menangis. Sayup-sayup ia mendengar suara langkah kaki menghampirinya. Hingga akhirnya, pandangannya mulai gelap dan tak sadarkan diri.
.
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto
Pair : Sakura x Naruto
Rate : T
Genre : Fantasy x Romance
Warning : TYPO,OOC,DLL
Don't like ? Do'nt Read!
Chapter 6 : Prison.
Disebuah kota, tepatnya di desa Suna. Seorang wanita bersurai pirang tengah berjalan beriringan dengan seorang gadis bersurai pirang pucat. Gadis itu bagai pinang dibelah dua dengan wanita disampingnya. Ia bersenandung pelan. Melihat-lihat taman yang berada diujung desa tersebut dengan sumringah. Sesekali ia melihat anak yang lebih tua darinya - yang tengah bermain dengan teman sebayanya-. Dilihat dari gerak-gerik anak tersebut, ia dapat menerbangkan suatu batu kerikil dengan jumlah banyak. Sedangkan salah satunya berpindah tempat dengan sangat cepat. Tak kasat mata.
"Kau ingin menjadi Esper ya Shion-chan?" perkataan dari sang ibu, sukses membuyarkan lamunan anak bersurai pirang pucat tersebut. Ia dongakkan paras jelitanya. Menatap sang ibu.
"Iya." jawab Shion sembari tersenyum kecil. Iapun melanjutkan kegiatannya melihat anak-anak tersebut yang sempat tertunda.
"Semoga saja kau dapat menjadi Esper ya!"
"Eh?!"
"Kau tahu? seseorang akan mengetahui jati dirinya Esper atau bukan apabila mereka telah berumur 8 tahun atau lebih. Dan jika diumur 20 tahun kau belum mendapatkan kekuatan Esper tersebut, berarti kau hanyalah manusia biasa." jelas sang ibu lembut. Mendengar itu, Shion hanya mengangguk-angguk mengerti. Namun, ada yang belum ia mengerti.
"Kenapa kekuatan Esper akan muncul saat kita berumur 8 tahun kaa-san? bukankah lebih baik dari lahir saja?" pertanyaan polos dari Shion itu membuat ibunya terkekeh geli.
"Shion-chan, memang kekuatan Esper itu telah diberikan oleh kita sejak kita baru lahir. Namun, anak yang baru lahir belum mampu menampung kekuatan besar itu. Ia butuh beradaptasi dengan tubuhnya hingga tubuhnya itu kuat menahan kekuatan Esper itu. Berapa lama kekuatan itu dapat menyesuaikan dengan tubuh kita tergantung dengan keadaan fisik kita. Oleh karena itu, kita tidak akan tahu kapan kekuatan itu akan muncul atau tidak dari tubuh kita. Hingga umur kita 20 tahun." penjelasan dari ibunya membuat Shion mulai menatap kagum kepada ibunya seraya mengangguk pelan. Kini, jelaslah sudah keingintahuannya mengenai Esper. Ia begitu mengidam-idamkannya.
Sekarang, usianya 9 tahun.
Dan masa penasarannya akan meningkat drastis. Dimana ia menunggu-nunggu kekuatan itu akan datang padanya atau tidak.
"Ayo kita pulang Shion-chan. Tou-san menunggumu."
oOoOoOoOoOoOoOo
Krieet..
Baru saja pintu megah nan mewah itu terbuka oleh kedua perempuan bersurai pirang, mereka sudah disambut oleh beberapa maid yang berjajar rapi sembari membungkkukkan tubuhnya hormat.
"Selamat datang Nyonya ..." sapa beberapa maid sopan. Disambut dengan anggukan wanita bersurai pirang tersebut.
"Apakah Tou-san sudah pulang?" tanya Shion kepada salah satu maid.
"Sudah ojou-sama." ya, jawaban itu membuat Shion langsung melenggang pergi. Meninggalkan ibunya dan beberapa maid lainnya.
.
.
.
.
"Tou-san!" teriakan melengking nan lantang itu sukses membuat sang pria dewasa itu terlonjak kaget. Hampir saja ia terjengkang dari kursinya. Ia menoleh keasal suara tersebut dan didapatinya putri semata wayangnya tengah berlari menuju kearahnya.
"Tou-san! bagaimana penelitiannya tou-san?! bagaimana?" rengek Shion manja kepada ayahnya. Sedangkan sang ayah hanya tersenyum melihat kedatangan putrinya.
"Shion-chan, mungkin kita sedang beruntung hari ini. Penelitian atas dasar 'Perubahan bulan' itu telah berhasil!" mendengar penuturan sang ayah, Shionpun tak dapat menahan kesenangannya lagi. Iapun langsung menghambur kepelukan sang ayah.
"Kau memang hebat Shion-chan! berkat kejeniusanmu, penelitian tou-san telah berhasil dan hasilnya memuaskan! tou-san yakin kau bisa menjadi Esper terkuat nak!" puji sang ayah kepada putrinya. Shionpun mulai menengadah. Menatap iris onix sang ayah. Iapun mengangguk kecil.
"Lalu, bagaimana hasilnya tou-san?" pertanyaan dari Shion membuat sang ayah menekan sebuah tombol didekatnya. Dan seketika, seluruh ruangan itupun menyala menjadi terang. Sangat terang.
"Berkat kemampuan kaa-sanmu yang Esper pysicokinesis level 6 dan tou-san yang juga Esper pysikometrer level 6, tou-san gabungkan DNA kaa-sanmu dan tou-san sendiri. Serta, beberapa bahan kimia lainnya. Hasilnya, membuahkan kekuatan baru seperti sintetis. Jika kekuatan sintetis ini diarahkan kepada bulan, maka bulan purnama akan bisa kita tunda maksimal 2 bulan." jelas sang ayah dengan nada bangga. Namun, ada rasa heran yang menyerang pada pikiran Shion. Iapun memberanikan diri untuk bertanya sesuatu kepada sang ayah.
"Tou-san, kenapa tou-san tak menginginkan bulan purnama?" ya, pertanyaan itu sukses membuat sang ayah terpaku. Seketika wajahnya berubah menjadi sendu.
"Kau tahu Shion-chan? saat tou-san hendak pergi keluar untuk menemui tetua desa kita, tak sengaja tou-san mendengarkan perbincangan antara tetua dan seorang guardian berseragam desa Konoha. Mereka berbicara bahwa The Queen of Esper akan terlahir di desa ini. Tou-san takut, sebab Queen itu menunjukkan seorang perempuan. Dan kekuatan Esper yang akan terlahir saat berumur minimal 8 tahun. Dan di desa ini juga, hanya ada beberapa anak yang dibawah umur 20 tahun-batas maksimal kekuatan Esper-. Salahsatunya-"
BRAK!
Betapa terkejutnya kedua ayah dan anak itu tatkala mendengar suara dobrakan pintu. Mendengar itu, Shionpun langsung bersembunyi dibalik tubuh sang ayah. Ketakutan.
"Sudah kuduga, ini akan terjadi." gumam sang ayah geram. Melindungi sang anak yang mungkin menjadi incaran mereka.
"Dimana Queen?" tanya pria itu dengan dingin. Ditangannya, tergenggam sebuah senapan yang sedikit membuat ayah Shion ketakutan.
"Shion-chan, larilah kearah belakang. Tempat rahasia yang dulu tou-san tunjukkan padamu." bisik sang ayah pelan. Mendengar itu, Shion hanya mengangguk pelan seraya berlari meninggalkan sang ayah. Beberapa dari pria sangar itupun tak hanya diam melihat incaran mereka kabur begitu saja.
"KEJAR DIA!" teriak sang pria paling depan diantara para pria tersebut. Sepertinya, ia adalah pemimpinnya.
Dan dengan teriakan dari sang ketua, beberapa pria yang diketahui seorang guardian itupun mulai berlari. Mengejar sang gadis bersurai pirang pucat itu.
Ayah Shionpun tak mau berdiam diri saja. Dia melangkahkan kakinya mundur dengan perlahan. Agar tak diketahui oleh pria dihadapannya. Iapun meraba tombol-tombol yang berada dibelakangnya. Saat tombol yang ia cari telah ia temukan, iapun menekan tombol tersebut dengan perlahan.
'Ini saatnya mencoba penemuan baruku' batinnya waspada. Mata hitam kelamnya masih tertuju kepada sang pria.
Sementara itu, Shion tetap berlari kencang. Menuju sebuah pintu rahasia yang dibuat oleh sang ayah. Tak mempedulikan kakinya yang telah membengkak akibat berlari. Iapun menekan tombol di dekat pintu tersebut sebagai password. Dengan sigap, ia memasuki pintu tersebut dan dengan cepat juga pintu tersebut mulai tertutup rapat. Banyak dari para guardian tersebut mengumpat kesal akibat tak dapat membuka pintu yang terbuat dari besi itu.
oOoOoOo
"Tak kusangka, The Queen of Esper adalah anak anda profesor." puji seorang lelaki yang berada dihadapannya dengan tampang sinis. Ia condongkan sebuah senapan kesayangannya tepat ke kepala ayah Shion.
"..." diam, tak ada yang dikatakan sepatah katapun oleh sang ayah. Ia hanya menatap tajam kepada pria dihadapannya.
"Katakan, dimana jalan keluar pintu rahasia itu?"
"Heh! tak akan kubiarkan anakku terbunuh! camkan itu!" alih-alih kesal dengan perkataan ayah Shion, sang pria itu hanya menyeringai mengerikan seraya menekan pelatuk senapan yang digenggamnya.
"Kalau begitu, takkan ada kesempatan untukmu bertemu dengannya lagi.."
DOR!
"ARGGHHH!"
"!?" mata aquamarinenya tak dapat menahan untuk terbelalak. Menangkap suara senapan diiringi sebuah teriakan familiar baginya yang membuat hatinya sakit.
Ayahnya, telah tertembak.
Air matanya telah terhilir jelas diparas jelitanya. Gadis itu masih berlari. Walau tak sanggup menerima kenyataan bahwa ayahnya telah tiada. Saat sebuah pintu mengakhiri ruang rahasia tersebut, dibukanya pintu itu dengan perlahan. Dan sang gadis itupun terkejut kembali akibat pemandangan didepannya.
Sang ibu telah tergeletak tak bernyawa disertai beberapa maidnya. Rumah mewah itu telah terbanjiri darah. Menghasilkan bau anyir yang telah tercium oleh indranya.
Kakinya mulai bergetar. Tak sanggup untuk menopang tubuhnya kembali, iapun jatuh , tersungkur. Membuat air matanya kembali deras mengaliri pipi mulusnya. Bibirnya bergetar menahan tangis.
"Kaa-san?" ujarnya bergetar. Sorotan matanya terpatri jelas di paras cantiknya. Menampakkan sebuah ketidak kepercayaan apa yang dilihatnya.
Kejam. Hanya kata itu yang dapat mengungkapkan perasaannya.
"Kaa-san? KAA-SAAN!" Shion tak dapat mengendalikan emosinya lagi. Ia mendekati jasad ibunya seraya memeluknya erat. Ia menangis sejadi-jadinya hingga sebuah jarum telah menyengat kulitnya yang membuatnya kehilangan kesadarannya.
"Dengan ini, Queen telah tertangkap ..." ujar seseorang yang berada di belakang gadis bersurai pirang pucat itu seraya membawa Shion dengan bridal style.
.
.
~ oOOo ~
Sreegg!
Sebuah pintu khas jepang kuno telah terbuka. Menampakkan seorang anak lelaki beriris onix dengan senyuman ramah yang terpampang jelas di paras tampannya.
"Ada apa ayah?" ujar sang anak tersebut ramah kepada lawan bicaranya. Ya, dia telah berada di tempat kegemaran sang ayah. Ruang keluarga.
"Hasil laporan?" ujar sang pria yang diketahui ayah dari anak lelaki tersebut. Mendengar itu, anak tersebut mengangguk antusias. Ia berlari pergi meninggalkan ayahnya menuju kamarnya. Dibukanya pintu kamar tersebut dengan kencang dan segera ia meraih sebuah buku bersampul merah diatas sebuah meja belajar. Disana terpampang jelas sebuah nama. Uchiha Sasuke, ya. Itulah namanya.
"Ini ayah ..." sahutnya ceria. Disodorkannya sebuah laporan tentang pendidikannya di sekolah dasar itu kepada sang ayah. Sontak mata hitam kelam sang ayah menatap sebuah laporan tentang pendidikan putra bungsunya tatkala buku laporan tersebut telah berada digenggamannya. Hampir semua nilai yang didapat oleh sang anak adalah A+.
Namun, ada yang berbeda ...
Fugaku, -ayah Sasuke- mulai mengernyit heran.
A-?!
Brak!
Betapa terkejutnya Sasuke tatkala sang ayah membanting buku laporannya dengan keras. Iapun mulai meraih buku laporannya tersebut dengan enggan. Menatap sang ayah dengan ketakutan.
"Kau membuat ayah kecewa Sasuke." desisan tersebut bagaikan petir yang menyambar Sasuke. Mata kelamnya terbelalak lebar tatkala suara dingin itu telah melekat di indera pendengarannya.
Sontak ia menundukkan kepalanya, tak mau menatap iris onix sang ayah.
"Sudah ayah duga, kau tak bisa menjadi seperti Itachi."
DEG!
Kakaknya, selalu dibandingkan dengan kakaknya. Tak dapatkah sang ayah memujinya sekali saja?
"Sewaktu Itachi seumuranmu, dia telah mendapat nilai sempurna di semua pelajaran. A+. Dan kau tahu? berkat itu ia diangkat menjadi siswa SMP dan menjadi guardian di desa ini." jelas sang ayah datar. Menatap dingin putra bungsunya.
"Maaf ayah. Aku janji, aku akan meningkatkan prestasiku lagi." rutuk Sasuke pelan. Terselip nada penyesalan di perkataan yang ia ucapkan. Iapun mulai beranjak berdiri seraya melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Akan tetapi, sebuah perkataan dingin dari sang ayah membuatnya terpaku.
"Kau sudah berumur 9 tahun. Dan kau belum mendapatkan kekuatan Esper sekalipun? sedangkan Itachi, ia mendapat kekuatan Esper saat berumur 8 tahun. Ayah kecewa padamu. Sasuke ..." perkataan sang ayah tentang ini lebih menyakitkan dari perkataan sebelumnya. Tak ayal, jika ia mengangguk pelan seraya meninggalkan sang ayah. Tubuhnya bergetar. Menandakan ia tengah menangis. Sasukepun mulai berlari kecil menuju kamarnya. Mengunci pintunya dan kembali menyendiri.
xxxXXXXXXXXxxx
Sinar mentari pagi memaksanya untuk terbangun. Ia menggeliat pelan. Membuka iris onixnya dengan perlahan. Di wajahnya, masih terhias jejak-jejak air mata. Menandakkan bahwa ia tengah menangis semalaman. Dengan sigap, ia beranjak bangun dari tempat tidur. Membuka pintu kamarnya seraya bejalan menuju ruang makan.
.
.
.
.
"Itachi, ada yang ia ingin ayah sampaikan padamu."
Tep!
Suara sang ayah membuat pemuda raven itu terhenti di depan pintu. Entah kenapa, kakinya tak dapat ia langkahkan. Membeku seketika.
Dan ia putuskan, untuk mendengarkan percakapan antara ayah dan kakaknya dari luar. Yah, walaupun tak sopan.
"Ada apa ayah?" tanya sang kakak tenang kepada ayahnya tersebut. Menatap sang ayah dengan iris onixnya.
ingin ayah sampaikan padamu."
"Kau adalah anggota guardian. Bahkan tetua sekalipun menjadikanmu tangan kanannya. Maka dari itu, kau harus membanggakan ayah. Jadikanlah tugasmu itu sebagai tujuan utamamu. Korbankan semuanya jika kau terpaksa menjalankan suatu tugas yang harus mengorbankan nyawa sekalipun." tutur sang ayah datar. Namun, terselip nada perintah dan begitu tegas.
"Iya ayah." balas Itachi tenang. Kembali menyantap sarapannya yang sempat tertunda.
Tak mau berlama-lama lagi diluar, Sasukepun segera membuka pintu ruang makan dan segera mendudukkan dirinya tepat di samping sang kakak. Ia tersenyun lembut tatkala sang kakak tersenyum kepadanya. Iapun menolehkan kepalanya kearah belakang. Kearah ibunya memasak.
"Ohayou gozaimasu, otouto~" sapa sang kakak ramah. Dibalas dengan senyum manis dari Sasuke.
"Ohayou, baka aniki!" ejek Sasuke yang sukses membuat Itachi mendelik kesal. Melihat itu, Sasuke hanya terkikik geli. Iapun mencuri pandang kepada sang ayah yang menatapnya dengan tajam.
Akhirnya, ia tak mampu menatap lagi mata hitam kelam sang ayah.
~:~:~:~:~:~:~:~:~:~
Satu jam telah mencukupi waktu untuk sarapan pagi bagi keluarga Uchiha. Dengan sigap, Sasuke mulai beranjak dari kursi seraya melesat pergi ke kamar mandi. Bersiap untuk berangkat ke sekolah. Setelah semua telah siap, pemuda raven itupun berpamitan kepada orang tuanya dan hanya dibalas oleh ibunya saja. Ayahnya, jangankan mengeluarkan suaranya, menoleh kearahnya sajapun tidak.
Dan sekali lagi, Sasuke hanya dapat menghela nafas pasrah.
"Sasuke-chan, apakah ada Itachi-san?" sontak suara lembut khas wanita tersebut memaksa Sasuke untuk menengadah. Ternyata, salah seorang guardian -teman Itachi- tengah bertanya kepadanya. Sasukepun langsung menolehkan kepalanya kebelakang seraya memanggil sang aniki. Menampakkan Itachi yang telah siap dengan baju khas guardiannya.
"Ada apa?"
"Ada misi untukmu.".
Sasuke hanya mengernyit heran tatkala mendengar percakapan antara sang kakak dengan temannya. Tanpa menunggu waktu lagi, iapun segera berlari menuju sekolahnya. Meninggalkan percakapan antara kakaknya dan teman kakaknya.
Namun, itu adalah suatu kesalahan besar.
"Apa?! Esper dewa telah lahir?" tanya Itachi tak percaya. Sementara temannya itu hanya menganggukan kepalanya. Mengiyakan.
"Ya. Dan misi ini adalah misi yang langsung dari tetua. Mau dengar?"
"Ya. Apa misi itu?" Mendengar pertanyaan dari Itachi, seketika teman Itachi tersebut mulai menyeringai.
"Membunuh The Jack Of Esper di desa ini ..."
.
.
XoXoXoXoXoXoXoX
Langkahnya mulai terdengar. Mengalun lembut dengan simfoni-simfoni alam. Sesekali, ia bersenandung kecil. Menandakan ia telah bergembira di hari ini. Sembari merangkul sebuah ransel, ia genggam sebuah kertas ulangan yang bernilai A+ tersebut. Pemuda raven itu membayangkan reaksi apa yang akan didapatinya ketika sang ayah melihat kertas ulangan ini. Dan semoga saja, ia dapat melihat senyuman sang ayah, walau hanya sekali saja.
Krieettt..
"Itadaimaaa!" serunya riang. Namun, tak ada yang menjawab sapaan dari pemuda raven itu. Sasuke hanya mengernyit heran.
"Ayah? ibu?" aneh. Tetap tak ada jawaban dari kedua orang tuanya itu. Biasanya, jika mentari hampir terbenam - senja -. Ayahnya telah pulang dari kerjanya. Sedangkan ibunya selalu berada dirumah. Menunggunya, dan memberikan senyum jika ia telah pulang dari sekolah.
Cklek!
Dan keheranan dari semua kejadian tersebut seakan terjawab saat sang pemuda raven itu membuka ruang keluarga yang gelap gulita itu.
DEG!
"?!"
Betapa terkejutnya Sasuke saat membuka pintu tersebut, pemandangan mengerikan telah menyambutnya. Ya, ayahnya telah tergeletak tak berdaya. Darah telah membanjiri seluruh lantai disekitar tubuh sang ayah. Juga, sang ibu yang tergeletak tak berdaya tengah menindih tubuh sang ayah yang sedang terkelungkup.
Sontak kedua matanya terbelalak tak percaya tatkala melihat sang kakak yang tengah berdiri tegak dengan kedua pisau dimasing-masing genggamannya. Cairan kental merah tersebut terus mengalir dari besi tajam itu hingga telak jatuh ke lantai. Menimbulkan noda-noda merah di lantai putih nan bersih tersebut.
"Kakak? ke, kenapa?" tanya Sasuke terbata. Sungguh, ia takut. Bahkan sangat takut jika ia menatap mata hitam kelam sang kakak yang begitu dingin. Seketika sang kakak mengalihkan pandangannya kepada sang adik.
"Mereka melarangku ..."
"Melarang apa kak?!"
"Untuk membawamu. The Jack Of Esper." betapa terkejutnya Sasuke tatkala mendengar penuturan dari sang kakak. Seketika, ia berteriak kepada sang kakak.
"Lalu?! kenapa kau sampai membunuh mereka karena melarangmu untuk membawaku kak?! mereka itu-"
"Kau ingat apa yang diucapkan ayah saat kau tengah menguping?" tanya Itachi dingin. Membuat Sasuke kembali mengingat apa yang orang tua mereka katakan.
Jadikanlah tugasmu itu sebagai tujuan utamamu. Korbankan semuanya jika kau terpaksa menjalankan suatu tugas yang harus mengorbankan nyawa sekalipun.
Sang pemuda raven itu menelan ludahnya. Memegang handle pintu dengan sembunyi-sembunyi. Matanya masih tertuju ke kedua jasad orang tuanya. Jujur, ia ingin menangis sejadi-jadinya. Tetapi, akan lebih baik melaporkan ke masyarakat desa terdahulu.
Namun, usahanya gagal.
Ckrek! Ckrek! Ckrek!
Sial! ia terus mengumpat tatkala pintu tersebut enggan untuk terbuka. Sedangkan Itachi yang melihat aksi itupun hanya menyeringai dingin.
"Jangan pernah meremehkanku otouto." desis Itachi tajam. Menatap sang adik dengan sorotan mengerikan.
"..." diam, hanya diam yang dapat Sasuke respon. Ia terlalu sibuk mengutak-atik handle pintu yang tak kunjung terbuka. Perlahan namun pasti, air mata telah keluar dari kedua pelupuk matanya. Isakan-isakan kecil telah keluar dari bibir mungilnya. Ia sedikit menggeram ketika ia tahu bahwa usahanya untuk membuka paksa pintu tersebut adalah sia-sia.
Menyerah dengan semua ini, Sasukepun jatuh tersungkur. Air matanya telah nengalir deras di wajah tampannya. Tanpa sadar, iapun menutup kedua kelopak matanya. Kesadarannya telah hilang sepenuhnya. Dan akhirnya, ia jatuh terbaring di lautan darah ayah dan ibunya.
OoOoOoOoOoOoOo
Kedua mata saphire tersebut telah terbuka dengan perlahan. Menatap langit-langit yang dipenuhi oleh debu. Sedikit ia dudukkan tubuhnya dari tidur berbaringnya. Pemuda yang diketahui bernama Naruto tersebut mulai menoleh kearah kiri dan kanan. Mendapati seorang gadis pirang pucat dan seorang pemuda tengah terduduk sembari menekkukkan lututnya. Sedikit isakan-isakan kecil dari keduanya telah terdengar oleh indra pendengarannya.
Iapun menatap kearah depan dengan sendu.
Menatap jeruji besi yang telah mengurungnya dan kedua anak tadi.
Sebegitukah jahatnya orang-orang itu pada mereka?
Apa salah mereka?
"Kaa-san,,, hiks,,, Tou-san,,, hiks." sontak Narutopun menoleh ke arah kanan. Menatap sang gadis pirang yang tengah menangis tersedu-sedu. Menyebut kata-kata tersebut berulang-ulang.
"Ibu. Ayah." Sama,Narutopun menoleh kearah kiri dan didapatinya sang pemuda tengah menangis terisak.
Dan dengan ini, Naruto tahu apa penyebab mereka menangis.
Mungkin, itu juga telah dialaminya. Akan tetapi, ia hanya kehilangan sang ibunda. Ayahnya telah meninggal sejak ia berumur 3 tahun. Namun, tetap saja menyakitkan.
"Mungkin, kita sama-sama kehilangan orang tua kita ya." sontak kedua anak itu langsung menoleh kearah bocah pirang itu. Namun, Naruto mencoba untuk tersenyum.
"Tapi, jika kita terus menangis. Pasti orang tua yang telah mengorbankan nyawanya demi kita tak mau melihat kita menangis karenanya. Maka dari itu, cobalah tersenyum untuk orang yang kita sayangi." perkataan bijak dari Naruto itu seakan membangkitkan semangat kedua anak tersebut. Merekapun mencoba tersenyum walau jejak-jejak air mata masih terlihat jelas di paras masing-masing.
"Aku Shion/ Sasuke salam kenal." salam mereka kepada Naruto disertai senyuman manis di paras masing-masing.
.
.
Uzumaki julianti-san
.
.
.
Brak!
Betapa terkejutnya ketiga calon Esper dewa itu tatkala jeruji besi tersebut dibuka dengan keras. Menyebabkan bunyi dobrakan yang teramat kencang. Tanpa babibu lagi, salah seorang guardian konoha itu menghampiri ketiga bocah yang belum menjadi Esper dewa tersebut seraya menjambak rambut pirang pucat Shion. Mau tak mau, Shion merintih kesakitan.
"KYAA!"
"LEPASKAN SHION!" teriak Naruto dan Sasuke secara bersamaan. Mencoba melepaskan genggaman tangan kekar dari rambut sang gadis. Walaupun mereka baru berkenalan 1 jam yang lalu. Gadis itu sudah dianggap sebagai teman bagi mereka. Karena mereka adalah teman yang senasib- diceritakan oleh Sasuke bahwa mereka adalah Esper dewa-. Dan oleh karena itu, mereka tak mau teman mereka dilakukan seperti layaknya 'hewan'.
"Ukh!"
"LEPASKAN SHION ATAU-"
"Physics"
Syut!
DRUAK!
Kejadian tadi begitu cepat. Tak dapat ditangkap oleh penglihatan sekalipun. Naruto yang sempat melawan sang guardian naas tertabrak dinding hingga membuatnya tak sadarkan diri. Shion telah dipaksa keluar walaupun ia tetap memberontak. Sasuke terus menyadarkan Naruto dari jatuh pingsannya. Hingga akhirnya, sang gadis bersurai pirang pucat itu telah keluar dengan paksaan
.
.
Bruk!
Tubuh mungil gadis itu telah terbanting menyakitkan. Ia tak bisa menggerakkan kedua tangannya karena terikat sempurna oleh sebuah tali. Hal itu juga berlaku untuk kedua kakinya yang terikat sempurna. Ia hanya meringis pelan tatkala tubuh mungilnya dijatuhkan begitu saja. Rambut yang selalu terawat dan selalu indah dipandang mata kini telah kusut dan rusak.
Sret!
"Ukh!"
Sang gadis telah dipaksa mendongak. Membuka iris lavendernya dengan perlahan.
"Huh! berkat ayahmu yang brengsek itu. Bulan purnama tak jadi datang hari ini. Beruntung di hari ini sampai bulan purnama kau tak bisa dibunuh." desis pria paruh baya, Homura itu dengan tajam. Iapun menatap iris lavender tersebut dengan pandangan mengintimidasi.
"Kapan bulan purnama itu akan tiba?"
"Ukh! aku tidak ta-"
"BOHONG!" bentakan dari sang pria paruh baya tersebut membuat Shion terbungkam. Sang pria paruh baya itupun menyuruh salah satu guardiannya dan dibalas dengan anggukan guardian tersebut. Iapun segera menghampiri Shion seraya menangkupkan lengannya ke kepala Shion.
"Physics"
Sret!
"Urgh!"
"Bagaimana?"
"Sekitar, 2 bulan lagi." pernyataan dari sang guardian tersebut sedikit membuat Shion terkejut. Sepertinya, sangguardian itu adalah Esper pysikometrer.
"2 bulan ya ..." gumam Homura pelan. Dan seketika, seringaian telah tampak di wajah tuanya.
"Antarkan gadis monster ini ke penjara kembali. Kumpulkan semua penduduk desa Konoha untuk menyaksikan hukuman mati para Esper dewa." titah Homura tegas. Para guardian itu hanya mengangguk mengiyakan seraya membawa Shion kembali ke penjara.
OoOoOoOoOoOo
"Rin!" panggilan itu sedikit membuat sang gadis bersurai coklat itu tersadar dari lamunannya. Ia tolehkan kepalanya ke asal suara dan didapatinya Obito tengah menghampirinya.
"Anata naze desu ka?" tanya Obito khawatir. Tak biasanya sahabatnya yang dominan selalu ceria ini terlihat murung.
Seketika pandangan Rin menjadi sendu.
"Naruto-kun ..." lirihnya pelan. Sontak pandangan Obitopun menjadi sendu. Ia tahu. Bahkan sangat tahu jika Rin itu menyukai Naruto.
"Anata doko desu ka Naruto-kun? anata ogenki desu ka? dare ni kikeba ii no desu ka?" gumaman dari Rin terdengar seperti lirihan bagi Obito.
"Tenanglah Rin-"
"Bagaimana aku bisa tenang Obito?! dia sudah tak pernah masuk sekolah. Di rumahnyapun tak ada. Aku khawatir ,,, hiks ,,, Obito ..." isak tangis telah keluar dari bibir mungil Rin. Ia mendekap erat tubuh Obito. Melihat Rin seperti ini, mau tak mau Obito ikut besedih. Iapun menerawang menatap langit seraya memohon sesuatu.
'Naruto. Lekaslah kembali.'
.
.
.
.
Naruto menatap buku diary itu dengan sendu. Sudah beberapa minggu ia dikurung, namun tak memperusak keindahan buku diary itu.
Tak sadar saat ia tengah belari menyelamatkan diri, ia masih merangkul ranselnya yang didalamnya terdapat buku diary itu. Saat ia membuka sampul buku tersebut, Naruto sedikit terkejut tatkala sebuah bolpoin telah melekat manis ditempat yang sudah disediakan.
Aku ingin kau menulis semua kegiatanmu di buku diary ini.
Deg!
Terbesit kata-kata Rin saat Rin memberinya buku ini. Cepat-cepat ia meraih bolpoin itu dan menulis kegiatannya.
"Naruto-kun, Sasuke-kun ..." belum beberapa lama ia menulis, sebuah lirihan terdengar dari sang gadis bersurai pirang pucat itu. Keduanya menoleh menatap sang gadis itu.
"2 hari lagi, bulan purnama akan tiba." sungguh, tak bisa diungkapkan lagi bagaimana sedihnya ketiga calon Esper dewa itu. Mereka mulai menunduk. Merutuki hari lusa yang mungkin akan mengakhiri hidup mereka.
Tak lupa warga yang banyak berdatangan. Ingin menyaksikan terbunuhnya Esper dewa yang mitosnya akan menghancurkan dunia ini. Sebagian besar dari warga tersebut bersorak riuh gembira. Tak sabar menunggu hari esok yang akan mendamaikan seluruh desa. Walau keputusan ini bisa dibilang keputusan sepihak, toh mereka tak peduli. Mereka sudah menyiapkan bermacam-macam argumen jika warga kota Tokyo menanyakannya kepada mereka. Dan tepat bertanggalkan 12 Desember, adalah hari yang ditunggu-tunggu bagi warga desa Konoha ini. Tak lupa beberapa guardian dari desa lain juga ikut berdatangan.
.
oOoOoOoOo
.
.
"Yap! sudah jadi!" seru Shion sumringah. Membuat kedua pemuda yang tengah melakukan aktivitas masing-masing menoleh kepada Shion.
"Aku membuat gembok kunci ini sukar dibuka. Yah, mungkin hanya 2 jam saja gembok ini dapat bertahan." suara Shion semakin pelan di akhir kata. Isak tangis sedikit keluar dari mulut mungilnya. Seakan mengerti, Sasuke dan Narutopun menghampiri sang gadis itu untuk menghiburnya.
"Shion ,,,"
"Hiks, aku takut. Aku takut Sasuke-kun, Naruto-kun. Hiks, ayah dan ibu telah tiada. Dan sekarang? kita akan dibunuh. Hiks, kejam. Hiks, sangat kejam ,,," tangisan Shion telah membuncah sepenuhnya. Meninggalkan kepedihan dan keperihan yang menyayat hati. Sementara Sasuke dan Naruto hanya diam tak bergeming. Tak tahu harus melakukan apa. Menunggu ajalkah?
Sepertinya iya.
Atau tidak?
Semoga saja tidak, jika kami-sama tak keberatan untuk menolong mereka.
.
.
Hidden Leaf village, 12 Des 10. 00 pm.
.
.
Tempat eksekusi telah ramai oleh penduduk desa. Hampir, tidak! ralat! Semua warga desa telah berdatangan dan berbondong-bondong mengunjungi tempat eksekusi.
Sedangkan di tempat para calon Esper dewa berada, Naruto telah menggenggam sebuah buku diary kesayangannya dan mulai menulis di buku tersebut. Mungkin, ini hari terakhirnya untuk menulis. Ya, 1 jam lagi, para guardian itu akan menemui mereka dan,
Mengeksekusi mereka ...
TBC
Huwaa! Sangat minta maaf! O
Janjinya flashback bakal kelar di chapter ini. Tapi, banyak yang meminta untuk menceritakan kisah Shion dan Sasuke.
Niatnya sih tadinya gak bakal diceritain. :|
Tapi karena banyak yang meminta. Hah.. Jadi dipotong lagi deh.. #||| pundung
Oke! Buat yang nunggu adegan fighting di cerita ini, Chapter depan ada sedikit bagian fightingnya kok! :D
So, inilah cuplikan dari chapter 7!
Next Chapter...
The King Of Esper
Para warga berlarian kabur. Panik. Itulah yang dirasakan mereka sekarang.
"PHYSICS!"
Namun, sebuah tebing besar menghalangi mereka.
"MATILAH KALIANN!"
The Queen Of Esper
Ia menatap kedua pistol dikedua genggamannya. Namun, pandangannya teralihkan kepada kedua guardian yang tengah berlari menyerangnya.
"Fire ..."
DOR! DOR!
The Jack Of Esper
Trang!
Kedua katanapun beradu. Mempertemukan kedua saudara yang saling membenci.
"Halo ... Baka aniki."
Mind To Review?
