A SasuHina Fanfiction

(hanya sebuah fanfiction bersetting Canon jadi harap dimaklumi jika banyak hal yang tidak sesuai dengan Manga ataupun animenya)

a/n : Karena banyak yang menanyakan tentang romance SH, saya akan memberi peringatan terlebih dulu. Dalam Funomo mungkin tidak akan ada romance yang berlebihan dan akan mengalir seperti imajinasi saya. Karena itu saya meletakan romance pada genre kedua setelah adventure. Jadi jika reader mencari FF full romance saya beritahukan jika anda salah tempat. Mohon hargai apa yang saya pilih...sekian^^

Sudah saya edit, jadi silahkan dibaca ^^


Chapter 6 – Ninja Bayangan

::

Futari No Monogatari

SasuHina Fanfiction

Naruto © Masashi Kishimoto

::

Wajah penuh keringat bercampur debu terus menatap tak percaya dengan apa yang ada di depan sana. Rencana awalnya memang telah berhasil melumpuhkan pasukan pengambil pajak yang tak lebih dari sepuluh ninja, namun pasukan lain menyusul dengan jumlah yang sungguh di luar dugaan. Ninja-ninja bayaran lain berdatangan dan menyerang tanpa ampun. Sekuat tenaga Hinata melawan sekaligus bertahan dengan jurusnya, namun sial sebuah kunai yang teraliri elemen angin melesat cepat dan berhasil menembus pertahanannya yang kokoh. Sontak, membuat seorang pemuda yang diam-diam mengawasinya dari kejauhan mendecih dan mengeratkan kepalan tangannya kuat-kuat.

Awalnya Pemuda dengan surai raven yang kian memanjang itu hanya bermaksud untuk menonton, namun kali ini entah kenapa guratan cemas mulai nampak di wajah yang selalu berekspresi datar dan dingin itu. Meskipun telah beribu kali menyangkal pada akhirnya harus ia akui jika dirinya khawatir dengan keselamatan Hinata. Satu-satunya manusia berdarah Uchiha itu mulai merasa muak. Sejujurnya ingin sekali ia melompat turun dan membinasakan Toramaru beserta pasukannya dengan segera. Hanya saja, entah kenapa ia berpikir jika dirinya tak berhak campur tangan, gadis itu ingin membuktikan jika dirinya mampu dan karena itulah dengan tidak ikut campur adalah caranya untuk menghormati keputusan sang Hyuuga.

Tangan kiri Hinata bergerak untuk mengengam bahu kanannya yang mengeluarkan darah. Raut kesakitan terpampang jelas di wajahnya yang nampak mulai letih dan lelah. Nafasnyapun terengah. Sesaat ia melihat kearah penduduk yang telah menyerah di belakangnya. Hatinya terasa sesak, ia merasa tak berguna karena tak bisa melindungi mereka, bahkan ia tak bisa mengenggam kepercayaan yang telah mereka berikan pada dirinya.

Apalagi karena Toramaru yang dengan angkuhnya duduk diatas kuda itu hanya tersenyum senang dan menatap pertempuran dengan ekspresi yang terlihat menikmati 'tontonan' di depanya membuat kemarahan Hinata semakin menjadi-jadi. Ninja-ninja bayaran yang terus menyerang tak memberi peluang bagi Hinata untuk melakukan serangan. Hal ini akan lebih sulit karena ia harus melindungi penduduk dalam waktu yang bersamaan pula, karena bagaimanapun keselamatan penduduk menjadi perhatian utama baginya sekarang.

Tanpa diduga tiba-tiba seorang ninja berbadan kekar melesat cepat ke arahnya dan naas Hinata terlambat untuk membuat pertahanan ataupun menghindar. Tubuhnya terpelanting beberapa meter jauhnya, berguling-guling di atas tanah kemudian menghempas tanah dengan keras. Kesadarannya menghilang untuk beberapa detik, pandangannya kabur dan tubuhnya seakan remuk. Bahkan sekedar menggerakkan kaki dan tangannya untuk kembali bangkitpun masih tak bisa ia lakukan.

Turun dari Kuda hitamnya Toramaru berjalan mendekat, senyum meremehkan mengarah pada tubuh seorang 'gadis cantik pembuat onar' yang masih tergeletak di atas tanah. "Aku tidak tahu kenapa kau menyerang anak buahku dan ingin menghancurkanku. Tapi kau tahu, jika kau tidak mendalangi semua ini mungkin aku akan menjadikanmu sebagai permasuriku setelah aku berhasil melengserkan Raja nantinya." Katanya.

Ingin sekali Hinata berkata 'tak sudi' tetapi karena serangan terakir yang ia dapat telah membuat titik pergerakannya lumpuh sesaat. Untuk bersuarapun ia sudah tak bertenaga, sehingga diam dan mengutuki manusia di hadapannya ini dalam hati adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.

"Tapi sayangnya, karena kekacauan yang kau buat, aku terpaksa harus membunuhmu." Toramaru memandangi tubuh Hinata dari ujung hingga ujung. Gadis yang cantik pikirnya. Apalagi tubuhnya, teralu berharga untuk di sia-siakan. Tangan kanan Toramaru bergerak mengelus-elus pipi Hinata. "Tapi tenang saja cantik, sebelum aku mencabut nyawamu akan ku berikan kenikmatan dunia ini padamu!"

SING

Dalam hitungan setengah detik iris onyx itu berubah menjadi semerah darah seketika. Perkataan Toramaru memicu kemarahan fatal dari pemilik mata yang dengan tiba-tiba menghilang dari tempat persembunyian meninggalkan dedauan yang berguguran akibat pergerakannya yang teramat cepat.

"Singkirkan tangan kotormu darinya!"

Sebuah suara berat nan dingin membuat Toramaru menoleh kaget. Pasukan Toramarupun tak kalah terkejutnya, bagaimana bisa pemuda itu muncul di tengah-tengah mereka tanpa ada satupun yang menyadari dari mana ia datang. Dengan segera seluruh pasukan memasang kuda-kuda siap untuk menyerang, namun sebuah aba-aba lewat gerakan tangan kanan Toramaru yang terangkat seolah berkata untuk menahan serangan, membuat seluruh pasukan terdiam dan mematuhi perintah sang atasan. Tindakan yang benar-benar keliru.

"Siapa kau? Berani sekali kau berbicara seperti itu terhadapku, bocah?" Tanya sang tuan tanah seraya memandang dengan penuh keangkuhan. Kali ini Toramaru telah salah meremehkan lawan.

Sasuke hanya terdiam tanpa berniat mengatakan apapun. Manik rinnegan dan sharingannya terus mentap sang gadis yang terkulai tak berdaya di atas tanah. Jauh dalam hatinya ada rasa tak terima saat melihat keadaan Hinata yang demikian.

Hinata menyipitkan mata mencoba melihat dengan jelas siapa pemuda yang berhadapan dengan Toramaru. Seketika sebuah senyum tipis melengkung di bibirnya saat harapannya benar-benar di wujudkan oleh sang dewa. Ia merasa lega, amat sangat lega dan terharu sekaligus. Sasuke sudah berada disini sekarang, untuknya. 'Sasuke-kun, ku serahkan semua padamu.' Dan ia hanya cukup percaya jika semua pasti akan baik-baik saja.

"Oi. Apa kau cari mati bocah!" tanya Toramaru lagi saat pemuda berjubah hitam itu tak menjawab pertanyaannya, bahkan memandangnyapun tidak, beraninya. Sang tuan tanah Negeri Teratai itu mengerutkan alis heran, sesaat dia mengikuti kemana arah pandang pemuda di hadapannya ini. Toramaru menoleh mencari tahu, jadi gadis ini yang memicu kemarahanya?

"Jadi, dia kekasihmu?"

Entah kenapa pertanyaan Toramaru kali ini membuat sebuah perubahan di wajah pemuda berambut kehitaman. Kedua iris tak sewarna itu bergeser menatap ke arahnya tajam, meski mulut sang pemuda masih saja bungkam.

Senyum licik penuh hina kembali mengembang di wajah sang tuan tanah, jadi gadis itu benar-benar kekasihnya rupanya. Toramaru berencana untuk menjadikan Hinata sebagai boneka, memainkannya tepat di depan mata sang pemuda dan membuatnya bertekuk lutut menelan kesombongannya. Toramaru berbalik dan berlutut, tangan kanannya mulai bergerak hendak mencengkeram dagu Hinata, namun sebuah suara yang sarat amarah membuatnya berhenti seketika.

"Menjauh darinya atau kau akan mati!" Sasuke kembali memberi peringatan namun kali ini dengan nada yang lebih tajam.

Mendengar itu sang tuan tanah justru tersenyum licik, ikan yang sangat mudah untuk dipancing. Bukannya menuruti apa yang pemuda itu katakan, tangan Toramaru malah semakin mendekat ke wajah Hinata. sudah terbayang di benaknya akan semarah apa pemuda itu saat ia mencumbui gadisnya tepat di depan matanya, dan saat pemuda itu lengah pasukannya akan dengan segera membunuhnya. Namun semuanya justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang akan terjadi, tindakan mengumpan itu telah membuat Toramaru mengali kuburannya sendiri.

SRAT

Hinata menutup kedua matanya saat sesuatu berbau anyir terciprat mengenai pipinya. Darah mulai menetes deras bersamaan dengan potongan lengan kanan Toramaru yang tadinya mencengkram dagu Hinata kini terjatuh ke atas tanah begitu saja. Cairan merah yang tersisa menetes dari ujung pedang kusanagi sang pemuda. Rinnegan dan Sharinggan berkilat penuh amarah. Perasaan aneh mulai menguar saat ini di hatinya. Rasanya nyaris sama seperti saat ia melihat itachi dulu saat ia masih seorang bocah yang dikuasai dendam. Membunuh, yang ia inginkan hanya membunuh, membunuh pria yang telah lancang memperlakukan Hinata seenaknya.

Semua pasukan Toramarupun mematung dengan perasaan takut yang mencekik lantaran aura iblis yang terasa kuat di atmosfir, bagaimana bisa pemuda itu memotong tangan Toramaru dan lagi-lagi tak ada satupun dari mereka yang melihat kapan pemuda itu bergerak. Sama halnya dengan sang pemilik tangan yang juga mematung seketika, matanya menatap tak percaya kearah potongan tangannya yang telah putus dari lengannya, sebuah teriakan yang teramat keras keluar dari mulutnya, saat rasa sakit mulai merambah kesadarannya.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN, CEPAT BUNUH DIA?" Teriak Toramaru dengan murka, namun tak ada seorangpun dari pasukannya yang bergerak. Masih belum menyerah dengan keangkuhan yang ia miliki, sang tuan tanah kembali berteriak geram. "KENAPA KALIAN DIAM SAJA BODOH. CEPAT BUNUH DIA!" Namun lagi-lagi tak ada yang bergerak. "AKU AKAN MEMBERIAKAN IMBALAN YANG BESAR JIKA KALIAN BISA MEMBUNUH BOCAH SIALAN ITU!"

Sebuah Lirikan dingin dari pemuda berjubah hitam cukup membuat pasukan Toramaru bertekuk lutut. Bukan karena menyerah tanpa menyerang hanya saja tanpa di sadari, semua pasukan Toramaru telah terjerat genjustu sang pemuda. Mengakhiri semuanya tanpa keributan, pilihan yang cukup bijak karena terlalu banyak penduduk yang akan melihat.

Tanpa pasukannya Toramaru bukanlah siapa-siapa, yang ia miliki hanya uang untuk mengendalikan anak buahnya. Hingga akhirnya sang tuan tanahpun sadar jika ia telah kalah. Toramaru menyerah.

::

::

Perlahan kedua kelopak mata yang membungkus sepasang iris bulan itu terbuka. Sakit dan perih adalah hal pertama yang ia rasakan saat kesadarannya kembali. Ia meringis menahan sensasi menyakitkan di seluruh tubuhnya. Pandangannya masih berkabut saat ia mencoba melihat sekeliling. Samar-samar dilihatnya seseorang berjalan mendekat, seseorang itu seolah mengatakan sesuatu di kejauhan tapi anehnya telinga Hinata masih belum bisa mendengar dengan jelas apa yang ia katakan.

Saat penglihatan dan pendengarannya kembali normal Hinata mendapati beberapa orang masuk ke dalam ruangan tempatnya berada. "Ojou-san. Bagaimana keadaan anda?" Perkataan senada di lontarkan beberapa orang yang kini mengerumuninya, namun Hinata masih terdiam seolah mengingat sesuatu yang sangat penting baginya.

'Sasuke-kun?'

"Takeshi-san. Dimana dia?"

"Dia?"

::

::

Mata onyx itu berkilat jingga kemerahan senada dengan gerakan api yang sedang menjadi obyek pandangannya. Suara percikan api yang membakar kayu membuat pemuda tampan ini betah berlama-lama hanya untuk merasakan kehangatannya. Seolah tak perduli dengan pandangan para penduduk yang beberapa saat lalu bertanya tentang siapa dirinya, Sasuke malah menjauh dan menyingkir hingga tepi hutan.

Kali ini, pergi dan meninggalkan gadis bermata bulan itu entah kenapa menjadi pilihan yang kurang bagus menurutnya. Kali ini juga dengan berat hati harus ia akui jika dirinya diam-diam memikirkan bagaimana keadaan gadis yang penuh luka itu. Ia khawatir. Sedikit menyesal kenapa ia meninggalkan Hinata pada penduduk dan tak mengurusnya sendiri. Harusnya ia kembali ke desa dan melihat sendiri bagaimana keadaan gadis itu, tapi lagi-lagi jiwa seorang Uchihanya justru bertindak sebaliknya.

"Sasuke-kun! Syukurlah kau masih ada disini!" Hyuuga Hinata muncul tiba-tiba dan berseru lega.

Sasuke terhenyak saat gadis yang diam-diam ia pikirkan muncul di hadapannya. Beruntung karena pemuda berdarah Uchiha ini benar-benar ahli dalam mempertahankan ekspresi datarnya. Iapun hanya melirik dengan ujung mata. "Bagaimana dengan lukamu?" tanya Sasuke saat Hinata kini tepat berada dalam jangkauannya tanpa menanggapi ucapan gadis bulan itu sebelumnya.

"Su-sudah lebih ba-ik." Jawab Hinata gugup karena pertanyaan yang sebenarnya sederhana itu entah kenapa menyematkan rasa senang dalam hatinya. Menanyakan keadaannya, bukankah itu artinya Sasuke peduli.

"Baguslah." Balas Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari api.

Setelah dialog singkat suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Hinata tak memilih beranjak, sebaliknya ia justru mengambil posisi duduk di samping pemuda yang lagi-lagi menyelamatkan nyawanya ini, menemaninya dalam diam, meskipun ia sendiri tak tahu kenapa ia memilih untuk tetap tinggal, mengabaikan rasa yang berdenyut di seluruh tubuhnya yang seolah menjerit meminta untuk diistirahatkan.

"Arigatou." Kata Hinata tiba-tiba memecah keheningan. Sasuke melirik ke arah gadis di sampingnya saat sebuah suara pelan namun terdengar jelas keluar dari mulutnya, setengah bertanya tentang maksud dari perkataan tersebut. "Terimakasih karena sudah datang menolongku." Lanjut Hinata kemudian.

Sasuke kembali mengarahkan pandangannya ke arah api. Sejujurnya ia merasa kecewa dengan sikap keras kepala Hinata, yang selalu berpikir untuk menolong orang lain ketika dirinya sendiripun butuh pertolongan. "Lain kali jangan bertindak gegabah. Jika saja aku tak datang tepat waktu kau pasti sudah terbunuh." Meskipun ia juga merasa kecewa terhadap dirinya sendiri yang tak lekas menolong gadis itu lebih awal, setidaknya Hinata tak akan terluka separah ini. Namun lagi-lagi beralasan demi menghormati keinginannya, ia justru hampir membuat nyawa gadis Hyuuga itu melayang.

"Tapi aku yakin Sasuke-kun akan datang."

Perkataan Hinata kembali membuat dua manik tak sewarna itu melirik ke arahnya sesaat. "Bodoh!" Gumamnya pelan. "Bagaimana jika aku tidak datang?"

Hinata terdiam pandangannya kini juga terpaku pada sumber kehangatan di depannya. Sejenak ia mencerna pertanyaan Sasuke, tapi beberapa detik setelahnya bibir Hinata membentuk sebuah lengkungan. "Entahlah, hanya saja aku benar-benar yakin, jika Sasuke-kun... pasti menolongku." Kali ini lengkungan tipis itu berubah menjadi sebuah senyum, "Karena aku percaya, Sasuke-kun... pasti melindungiku"

Jika saja bukan karena gelap mungkin saat ini Hinata bisa melihat sebuah lengkung yang teramat tipis di salah satu sudut bibir Sasuke. Awalnya bungsu Uchiha ini sedikit tersentak dengan perkataan Hinata, hanya saja sebuah perasaan lega di hatinya tak bisa menahan gejolak otot-otot bibirnya untuk mengembangkan senyum. Dengan kata lain, Sasuke anehnya merasa senang atas apa yang ia dengar, meski akhirnya dalam hitungan detik ekspresi datarnya kembali menelan senyum tipisnya.

"Waktu itu aku hanyalah seorang gadis kecil, saat ku dengar para tetua membicarakan tentang pembantaian klan Uchiha." Tubuh Sasuke menegang ketika sadar tentang apa yang hendak gadis Hyuuga ini bicarakan, sejujurnya ia sedikit tak suka mengungkit tentang masa lalu kelamnya, tapi entah kenapa ia justru hanya diam dan mendengar.

"Aku melihatmu terdiam di kantor Sandaime Hokage, saat itu kau sama sekali tidak menangis. Tapi bagi ku, Sasuke-kun waktu itu... terlihat seperti mayat hidup. Kehilangan semua keluarga dan klan, itu pasti menyakitkan. Rasanya pasti lebih sakit dibandingkan saat aku kehilangan ibuku dan paman."

Sasuke masih bertahan dalam diam, onyx dan rinnengannyapun masih terfokus pada api meskipun sebenarnya ia memikirkan apa yang di katakan Hinata.

"Kau salah jika mengira tak ada yang mengerti tentang penderitaan yang kau rasakan. Meskipun tak ada yang mengatakannya, aku... bahkan semua penduduk Konohagakurepun tahu, seperti apa penderitaan yang kau rasakan. Kehilangan orang-orang yang berharga. Semua orang pasti tahu sesakit apa."

Kali ini peryataan Hinata berhasil menyita perhatian Sasuke dan membuatnya menoleh.

"Kau tahu, saat itu banyak orang yang ingin menolongmu, Hanya saja dirimu sendiri telah memasang dinding yang menjulang tinggi untuk menghalanginya. Mungkin kau tak ingin orang lain menganggapmu lemah tapi Jika saja waktu itu, Kau mau menerima uluran tangan orang lain, mungkin... semuanya akan berbeda." Lanjut Hinata.

Gadis ini...

Cih. Perkataan yang bahkan tidak benar-benar ia dengar. Semudah inikah mendobrak kesadarannya. Lagi-lagi seorang Uchiha Sasuke benci mengakuinya, tapi entah karena apa perkataan gadis itu terasa benar. Lagi-lagi gadis ini.

"Hinata!" Pangilan Sasuke membuat gadis bersurai indigo mengalihkan pandangan pada pemuda yang duduk di sampingnya.

"Perkataanmu waktu itu, aku... memikirkannya." Kata Sasuke tanpa menoleh ke arah Hinata.

"Eh?" Hinata mengerutkan dahi tak mengerti.

"Tentang perdamaian." Lanjutnya, "Sejak kecil yang ku tahu hanya menjadi kuat dan balas dendam, yang ku tahu hanyalah aku yang mengalami penderita dan aku selalu menutup mata akan penderitaan yang dialami orang lain, tanpa memperdulikan apapun. Termasuk penderitaanmu."

Saat Hinata memperhatikan, untuk pertama kalinya ia melihat pemuda ini berbicara tanpa amarah dan aura dingin darinya. Terlihat sendu memang, tapi melihatnya demikian membuat Hinata mampu merasakan apa yang mungkin Sasuke rasakan.

"Karena itu, tetaplah bersamaku!"

"Eh?" Hinata kembali memekik antara kaget dan binggung.

"Seperti yang kau katakan, aku sama sekali tak tahu apa arti perdamaian. Jadi teruslah bersamaku, agar aku bisa belajar tentang arti pedamaian darimu?"

Mendengar Sasuke berkata demikian benar-benar terasa aneh bagi Hinata, hanya saja jauh dalam hatinya, ia merasa bahagia. Pertama kali dalam hidupnya ia menemukan tempatnya, dimana seseorang bisa menerima keberadaannya.

Hinatapun menjawabnya dengan tersenyum tulus, "Hai, tentu saja aku akan menemanimu Sasuke-kun." Katanya, "Lagipula itu sudah menjadi tugasku dalam misi ini bukan?"

Tugas? Misi?

Mendengar dua kata itu membuat senyum yang baru sedetik lalu mengembang di wajah Sasuke perlahan memudar, ia sedikit merasa terganggu. Memang benar, menemani perjalanannya adalah sebuah tugas yang di emban Hinata dalam misinya. Hanya saja...

"Istirahatlah!"

"Hai?" lagi-lagi Hinata mengerutkan dahi tak mengerti.

"Besok pagi kita harus segera bergegas. Jadi, istirahatlah!"

Hinata menatap Sasuke penuh tanya. Nada bicaranya kali ini terdengar sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Begitu pula dengan auranya yang seakan-akan tak menerima bantahan. "Hai." Kata Hinata pada akhirnya. Hinata berdiri, sesaat ia memperhatikan pemuda itu, iapun membungkuk untuk kemudian berlalu.

Sasuke memandangi kepergian Hinata dengan perasaan aneh. Menyuruhnya pergi sebenarnya hanyalah sebuah alasan karena melihat wajahnya saat ini entah kenapa membuatnya merasa tak suka. Tapi mengingat masih ada banyak hal yang harus ia cari dan temukan, menepisnya jauh-jauh apa saja yang ia pikirkan tentang gadis hyuuga itu merupakan hal yang ia rasa tepat untuk saat ini. Ya, Untuk saat ini cukup seperti itu.

::

::

"Ojou-san, anda benar-benar ingin pergi? Kenapa cepat sekali! Tinggalah lebih lama di sini, apalagi luka anda juga belum sepenuhnya pulih." kata tuan Takeshi mewakili penduduk lainnya saat Hinata berpamitan.

"Benar Onee-san, Kau bisa tinggal di rumahku jika mau, bersama kaa-san dan juga aku!" bocah berambut Raven memandang sedih ke arah Hinata saat orang yang sudah menjadi pahlawan bagi desanya itu hendak pergi, bahkan air matanya sudah menumpuk di ujung mata.

Hinata tersenyum, sedikit menunduk sembari menepuk puncak kepala bocah pemberani di hadapannya itu dengan lembut. "Gome Natsu, tapi ada seseorang yang lebih membutuhkanku." Natsu melirik dengan ujung matanya ke belakang punggung Hinata, dimana seorang yang berhasil mengalahkan Toramaru berdiri menunggu, dan dengan berat hati Natsupun mengangguk mengerti.

"Jika kelak ada orang yang berniat buruk pada desa, kau tahukan harus berbuat apa, Natsu?" ujar Hinata seraya tersenyum.

Natsu menyeka air matanya yang hampir menetes lalu mengangguk mantap. "Hm, aku pasti, akan melindungi desa ini, apapun yang terjadi." Bocah berambut raven inipun tersenyum lebar. Hinata sedikit tersentak, saat bocah di hadapannya ini sekilas mengingatkannya dengan Uzumaki Naruto, laki-laki yang hingga detik ini masih ia rindukan.

"Ayo pergi!" Panggilan Sasuke yang berdiri lumayan jauh membuat Hinata harus segera bergegas.

Sekali lagi ia memandangi penduduk desa Negeri Teratai, pandangan berbeda kini terlihat di mata mereka, bukan lagi pandangan pasrah dan putus asa melainkan pandangan yang penuh semangat untuk berjuang. Hinata menunduk sekali lagi berpamitan dan di balas dengan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya dari penduduk yang membungkuk kearahnya. Hinata kemudian berbalik mengekor Sasuke yang kini tepat berada selangkah di depannya. Desa ini pasti tak akan pernah ia lupakan.

"Tunggu ojou-san!" Suara dari tuan Takeshi membuat Hinata dan Sasuke berhenti dan menoleh. "Maaf sudah melupakan hal penting ini sebelumnya, tapi sebelum kalian pergi bolehkan kami mengetahui siapa nama kalian?"

Nama?

Hinata menatap Sasuke sebentar, seolah meminta pertimbangan. "Ka-kami berdua adalah..."

"Kage-nin. Kami berdua adalah Kage-nin." Ujar Sasuke memotong kalimat Hinata, membuat Hinata menatapnya penuh tanya.

"Kage... nin." Kata tuan Takeshi mengulangi.

Tanpa basa-basi Sasuke kembali melangkah pergi.

Tuan Takeshi menatap Hinata sedikit tak puas dengan jawaban seorang pemuda yang telah berhasil memenjarakan Toramaru itu. Namun saat Hinata tersenyum kemudian membungkuk dan pergi berlalu, tuan Takeshi mengerti dan menghormati keputusan mereka berdua. Siapapun mereka yang jelas mereka adalah pahlawan bagi Negeri Teratai. Dan mereka adalah Ninja bayangan.

::

::

Hinata menghentikan langkahnya tiba-tiba, spontan iapun terdiam dan menajamkan pendengarannya. Sasuke yang berjalan tak jauh di depannyapun ikut berhenti ketika suara langkah kaki Hinata tak lagi terdengar. Ia berbalik dan mendapati gadis itu terlihat serius. Pandangan Hinata bergerak ke arah kanan, sekali lagi ia memasang telinganya baik-baik tanpa sadar jika Sasuke memperhatikan.

"Kau ingin menolong mereka?"

Sasuke bertanya tiba-tiba seolah tahu benar apa yang ada di pikiran Hinata, membuat gadis yang 2 hari terakhir ini kembali menemani perjalanannya tersentak dan meluruskan pandangan ke arahnya, tapi kemudian menunduk. Hinata mengeratkan gengamannya antara ragu, takut dan bingung. Lantas akankah ia mengurungkan niatnya untuk menolong. Tapi bukankah Sasuke sudah memberinya penawaran. Tidak, bagaimana jika itu hanyalah sebuah pertanyaan.

"Tolong!"

Suara yang samar-samar kembali terdengar. Hinata menoleh ke arah datangnya suara meminta tolong dari ke jauhan. Tidak, ia tidak bisa membiarkannya dan pergi begitu saja. "A-aku, akan menolong mereka!" Hinata mencoba untuk berani. "Sasuke-kun, kau.. tu-tunggulah disini. Aku, akan segera kembali!" Tanpa mendengar persetujuan Sasuke, Hinata langsung berlari ke sisi bukit tempat suara itu berasal. Meninggalkan pemuda Uchiha dengan ekspresinya yang sulit diartikan. Gadis itu, lagi-lagi bertindak gegabah.

Begitu Hinata sampai di balik bukit ia mendapati seorang wanita paruh baya nampak mengerang kesakitan tergeletak lumayan jauh dari tempat kekacauan terjadi. Spontan Hinata berlari menghampiri.

"Bibi, apa yang terjadi?" Tanya Hinata.

"No-nona? Tolong selamat-kan Hime. Kumohon!"

Meski awalnya tak mengerti, pada akhirnya Hinata mengangguk kemudian menempatkan sang bibi ke tempat yang aman. Mungkin bibi itu adalah seorang pelayan yang mengingangan dirinya untuk menyelamatkan sang tuan putri. Dengan langkah mantap Hinata berlari ke tempat kekacauan terjadi, tetapi baru setengah jalan sebuah suara yang sangat familir baginya terdengar dan menghentikan langkah cepatnya.

"Bodoh!"

Suara itu, sontak membuat Hinata berhenti dan menoleh, tapi sedetik setelahnya ia merasakan tepukan mantap di bahunya bersamaan dengan angin yang tiba-tiba berhembus ke arahnya. Sasuke, entah sejak kapan telah berdiri tepat di sampingnya.

"Kau kira aku bisa menunggu tanpa melakukan apapun, lucu sekali!" setelah mengatakan itu Sasuke kembali menghilang dan saat Hinata menoleh, pemuda itu telah menerjang tempat kekacauan. Sebuah senyum terbentuk di bibirnya, ia sendiri tak tahu kenapa ia tersenyum tapi yang jelas, ia tahu sikap Sasukelah yang telah membuatnya demikian.

Bertarung bersama sang Hyuuga di sampingnya, Sasuke rasa hal kecil ini adalah pilihan yang cukup tepat untuk saat ini. Pilihan kecil yang tanpa ia sadari akan membawa pengaruh besar bagi dirinya dan juga hidupnya kelak.

::

::

Melewati hari demi hari dan masalah demi masalah bersama sang Hyuuga membuat sikap acuh dan tak peduli perlahan-lahan memudar dari daftar perangai buruk sang Uchiha. Meskipun hal itu tak akan sepenuhnya lenyap dan tak akan pernah lenyap karena ia adalah seorang Uchiha. Tanpa disadari Sasuke atau tidak, akhir-akhir ini ia tak pernah bisa membiarkan gadis Hyuuga itu bertindak sendirian, yang pada akhirnya membuat dirinya terpaksa campur tangan dengan masalah orang lain yang di temuinya sepanjang perjalanan.

Onyx dan rinnegannya bergerak ke arah kanan saat gadis besurai indigo tengah tertidur di dekat api unggun yang ia buat. Sebagai seorang bangsawan Sasuke rasa nasib Hinata tak begitu bagus menurutnya, ada sedikit rasa kasihan dan tak tega saat wajah gadis itu terlihat begitu lelah. Tapi inilah buah yang dia pilih saat mengikutinya.

Menghadapai banyak bahaya dan bahkan bersisian dengan kematian. Dalam keadaan yang mendesak terkadang Sasuke berpikir untuk menyuruh Hinata kembali ke Konoha, tempat yang lebih aman dan layak untuk gadis sepertinya. Tapi untuk suatu alasan yang Sasuke sendiri tak tahu kenapa, gadis itu masih harus tetap bersamanya. Untuk sedikit lebih lama lagi.

::

::

Sebuah senyum senang mengembang saat ia menemukan tumbuhan obat yang ia cari. Hidungnya mengendus daun berwarna keunguan itu untuk memastikan, dan kedua sudut bibirnya kembali terangkat saat apa yang ia cari telah ia dapatkan. Ia tersenyum geli saat tahu jika daun obat beraroma khas yang susah payah ia cari di Konoha dan menjadi misi pentingnya ternyata menjadi barang dagangan di desa kecil ini.

"Paman. Aku ambil semuanya?" katanya menunjuk barang yang ia maksud.

"Ini nona?" iapun menerima barang yang ia beli setelah penjual membungkusnya dalam keranjang. "Oh ya, sebagai bonus karena nona sudah membeli banyak, ini bunga untuk anda nona?"

"Untukku?" ia tersenyum dan menerimanya dengan senang hati. "Terimakasih paman." Bunga kecil dengan warna biru yang indah, forget-me-not.

"Cinta sejati."

"Hai?" ia mengerutkan dahi, menatap paman penjual dengan sedikit heran atas apa yang diucapkannya.

"Hanakotoba dari bunga Wasurenagusa adalah Cinta sejati." Kata paman penjual, "Semoga nona dan orang yang anda cintai, bisa bersama selamanya." lanjutnya.

"Hm, terimakasih paman." Namun wajah gadis itu tiba-tiba berubah sendu. "Tapi... orang yang aku cintai sedang melakukan perjalanan yang jauh sekarang." Yah, memang tidak seharusnya ia mengatakan hal pribadi pada orang yang baru ia temui tapi apa daya perasaanya terasa sudah tak tertahan.

"Kalau begitu saya doakan semoga nona bisa bertemu dengan orang yang nona cintai dengan segera. Sama seperti yang dikatakan bunga Wasurenagusa, karena yang mencintai tak akan pernah melupakan." Kata penjual sembari tersenyum tulus.

Kali ini ucapan paman penjual sedikit melegakan hatinya. Iapun tersenyum. "Terimakasih atas doanya paman dan terimakasih untuk bunganya, permisi." Iapun menundukkan kepalanya untuk kemudian berbalik dan berlalu.

Sepanjang jalan gadis itu memandang bunga wasurenagusa yang ada di tangannya dengan pikiran merawang. Untuk satu alasan, hatinya mendadak merasakan kerinduan yang teramat dalam. "Cinta... sejati." Ia kembali mengumam tentang bahasa bunga yang ia pegang. Sejujurnya ia tak terlalu yakin apa laki-laki itu adalah cinta sejatinya. Tapi sejauh ini ia telah menjaga perasaannya, menjaga kesetiannya untuk seorang yang bahkan ia sendiri tak pernah tahu bagaimana perasaaan laki-laki itu terhadapnya.

BRUK

Bunga wasurenagusa di tangannya terjatuh, saat seseorang yang tergesa tak sengaja menabrakanya."Maaf nona!" seru pria itu sembari berlalu saking tergesanya. Gadis bersurai merah jambu menghela nafas memaklumi. Ia melihat ke bawah, mencari dimana bunga wasurenagusanya terjatuh. Namun saat ia hendak mengambilnya, segerombolan anak-anak yang tengah berlarian tanpa sengaja menginjaknya.

Ia memekik saat melihat bunganya menjadi rusak karena terinjak. Entah mengapa perasaannya mendadak resah. Apa yang sebenarnya terjadi? Sebuah perasaan aneh tentang 'cinta sejatinya' tiba-tiba terlintas di pikirannya. Ia mengeleng-gelengkan kepalanya menepis apa yang muncul di benaknya. 'Ini hanya bunga, tidak ada yang perlu dipikirkan.' Batimnya. Dengan segera gadis itu memungut bunga 'cinta sejatinya' dan memasukannya ke dalam keranjang bersama daun obat lainnya bermaksud untuk bergegas pulang.

"Eh byakugan, benarkah?"

Baru beberapa langkah ia berjalan sebuah percakapan dua orang pria paruh baya menarik perhatiannya. Iapun berhenti dan memasang pendengaran baik-baik.

"Benar, tidak salah lagi. Aku yakin mata itu adalah byakugan?"

"Gadis yang menolongku kemarin?"

"Benar. Gadis itu."

Gadis dengan byakugan. Hinatakah?

Sudah 2 bulan dirinya tak bertemu rekan sejawatnya itu. Satu informasipun tak pernah ia dengar. Sedikit heran tentang misi rahasia apa yang sebenarnya Hinata lakukan. Akan tetapi bukankan akan melanggar peraturan jika ia menemui ninja yang sedang melakukan misi rahasia tanpa seizin Hokage? Tapi tak ada salahnya bukan jika ia hanya menemui teman lamanya dan menanyakan kabar saja? Tanpa berpikir dua kali ia berjalan menghampiri kedua pria yang membicarakan tentang gadis byakugan.

"Permisi paman."

Kedua pria itu berbalik dan memasang wajah penuh tanya. "Ada apa nona muda?"

"Maaf sebelumnya karena sudah tidak sopan menguping pembicaraan kalian. Tapi ada hal yang ingin aku tanyakan pada paman?" katanya sambil terus mengenggam keranjang dengan kedua tangannya.

"Silahkan, jika ada yang bisa kami bantu!"

"Dimana paman melihat gadis byakugan yang paman temui itu?"

::

::

Gadis berirish kehijauan mempercepat langkahnya saat penginapan yang di maksud mulai terlihat. Sebuah senyum mengembang karena ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Hinata. Mendadak Ia menghentikan langkah ringannya ketika mendapati Hinata nampak keluar dari penginapan.

"Hinata!" ia berseru gembira sembari melambaikan salah satu tangannya tinggi-tinggi. Membuat gadis yang bersangkutan membulatkan mata tak percaya dan terkejut sekaligus.

"S-sakura-chan!"

Sakura berlari menerjang tubuh Hinata dan memeluknya erat dengan keranjang yang masih melekat di tangannya. "Hisasiburi! Bagaimana keadaanmu Hinata?" katanya gembira.

"A-aku, baik-baik saja." Balas Hinata ketika Sakura melepas pelukannya seraya tersenyum kikuk. "A-apa yang kau lakukan disini?" tanya Hinata.

"Oh, ini. Tsunade-sama menyuruhku untuk mencari ini." jawab Sakura sambil menunjukan sekeranjang dedauan obat pada Hinata. Sakura menautkan alisnya saat wajah Hinata nampak mengeluarkan ekspresi cemas yang berlebihan. "Ada apa Hinata?" Sakura bertanya binggung.

"Eum... Etto, Na-naruto-kun wa?" Satu hal yang Hinata cemaskan, dimana ada Sakura besar kemungkinan Naruto bersamanya.

"Naruto? Oh, dia mendapat misi lain mencari jamur obat di Hutan sebelah timur bersama Sai." Jawab Sakura.

"Yokata!" Hinatapun menghela nafas lega.

"Ne, Kau merindukan Narutokan, Hinata?" goda Sakura.

"Ie, bukan begitu Sakura-chan!"

Di sisi lain pemuda Uchiha nampak tengah mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan mencari sesosok gadis yang telah meninggalkan penginapan terlebih dulu. Ia menyipitkan mata ketika melihat gadis itu tersenyum di ambang pintu, seolah sedang bergurau dengan seseorang di luar sana. Dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya Sasuke mendekat, sebenarnya ia tak terlalu suka jika Hinata terlalu akrab dengan orang asing, untuk beberapa alasan hal itu bisa saja menjadi sebuah bahaya baginya.

"Apa yang kau lakukan? Kita harus segera bergegas!"

Tubuh Sakura menegang seketika, saat seseorang yang amat sangat ia rindukan muncul di hadapannya. Begitu juga dengan Sasuke, meskipun air mukanya tak menunjukan keterkejutan sedikitpun. Meski demikian Sakura tak lantas menyambut pertemuannya dengan pemuda Uchiha itu dengan bahagia ataupun menghambur kepelukannya. Ada satu hal yang terasa janggal.

'Apa yang kau lakukan? Kita harus segera bergegas!'

Sekali lagi Sakura mencerna kata-kata yang di ucapkan Sasuke beberapa detik yang lalu. Kata-kata itu? Sasuke dan Hinata? Mungkinkah?

"Sasuke-kun, Hinata-chan. Apa yang sebenarnya terjadi?"

::

::

::

TBC


Maaf karena update yang begitu lama hingga berbulan-bulan dan maaf jika chapter ini masih banyak kekurangan (bagaimanapun saya masih pemula yang sedang belajar untuk menulis). Meski demikian saya pastikan jika 'FUNOMO' masih saya kerjakan dan saya pastikan tidak akan Discontinue. Tapi saya juga tidak janji bisa update segera. Jadi, mohon pengertiannya...

Nb : Tidak menerima protes ! (untuk up kilat^^)

Dan... Terimakasih sudah setia mengikuti fic ini. Hontou ni arigatou...


Terimakasih untuk reader yang sudah bersedia me-review di chapter 5 :

Minkyu, Oh Byul, Arcan'sGirl, Shita Yukaris ELF, Kim Sohyun, Hnisa Sahina, hyacinth uchiha, elsaindri, Green Oshu, Miss lily lavender, Mishima, Mey, kaila wu, Nurul851 II, CallistaLia, siskap906, yuni, Hina4lyfe, Ihfaherdiati395, sasuhina69, hyuga hime chan RJN, NurmalaPrieska, ChintyaRosita, cintya cleadizzlibratheea, NN, onyxlave, Enjelita923, yassir2374, AI, Linevy Hime-chan, hyuga ashikawa, HinaTama, Asyah Hatsune, Ade854, Agnesia margaretta, Lady JulliAnna, lastrisihaan, wiendzbica732, flo, Hisami-chan, semangka manis, Reza Juliana322, ppkarismac, Rapita Azzalia, ayuwida ax12, Salsabilla12, Higurashi HimeKA, miss kyubi, Name Sitiardi and lyly night.

Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk reader yang sudah mem-favorite & follow fic ini.

Dan terimakasih sudah membaca^^

Mind to Review...

-03/30/2016-

Dan_