LAST! LONG CHAPTER


Sehun terdiam di sudut ruangan. Perasaannya masih kacau. Kepalanya pusing dan rasa sakit di hatinya tak kunjung membaik. Dua hari berlalu sejak ia mengetahui kebenaran menyakitkan itu. Kebenaran yang sukses membuatnya sakit hati dan rapuh. Tidak ada hal lain yang ingin Sehun lakukan lebih dari menghancurkan semua barang yang ada di dekatnya, Ia ingin sekali melampiaskan rasa marahnya yang selama dua hari terakhir ini ia pendam sendirian.

Sehun menekuk kakinya lalu memeluk kakinya erat. Memori tentang kejadian di apartment Luhan terus-terusan terulang di otaknya. Ia masih mengingat dengan jelas, betapa perih yang di rasakan hatinya ketika ia melihat apa yang ada di kamar Luhan. Tanda pengenal itu, kertas-kertas itu, foto-foto itu, semuanya. Juga kilatan panik di mata Luhan, Sehun masih mengingat semuanya dengan jelas. Seandainya Sehun kehilangan kendali, mungkin Ia bisa saja berjalan ke dapur lalu membunuh Luhan detik itu juga. Bagaimana tidak? Orang yang Sehun percayai selama ini, justru adalah orang yang ternyata membuat dirinya menderita. Sendainya Sehun kehilangan kendali, Mungkin tidak akan ada salahnya juga. Membunuh Luhan sebagaimana Luhan telah membunuh impiannya.

"Sial." Sehun mengumpat sambil memijat pelipisnya. Otaknya yang sedang kacau mulai membuat dirinya berfikiran yang aneh-aneh.

Sekarang ini Sehun sedang berada di studio, tempat dimana ia selalu berlatih dengan EXO. Dan sebenarnya, Ia bukanlah satu-satunya orang yang berada di sana sekarang. Member exo yang lainnya juga ada disana. Mereka hanya duduk melingkar, terdiam, dan saling merenung. Ya, hanya inilah kegiatan EXO akhir-akhir ini. Mereka berkumpul, tapi tidak untuk latihan. Melainkan merenung dan berfikir, bagaimana caranya agar mereka bisa lolos dari situasi mencekam ini.

"Sehun, kemarilah." perintah Joonmyeon. Leader EXO itu tidak tega melihat Sehun yang sedaritadi hanya duduk di sudut ruangan sambil merenung dengan tatapan kosong.

"Tidak. Aku disini saja." jawab Sehun singkat, dan membuat Joonmyeon menghela nafas.

Joonmyeon mengerti, Semua membernya memang sangat terpukul dengan kejadian ini. Dan terutama Sehun. Walau kelihatannya Sehun sangat pendiam, ceria, aneh, tapi di balik itu semua Sehun memiliki perasaan yang sangat lembut. Sehun adalah yang paling muda di EXO, biar bagaimanapun, Ini semua pasti sangat berat baginya. Tapi Joonmyeon tidak pernah melihat Sehun menangis di depannya. Bahkan saat kepala sekolah memberi tau soal keputusannya, Sehun hanya terdiam dan mendengus pelan. Sama sekali tidak menunjukan kesedihannya.

"Jadi," Baekhyun mulai membuka percakapan, "Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Ia menatap setiap member satu persatu, tapi tidak ada satupun yang buka suara.

Tentu saja. Semuanya bingung, tidak tau harus apa. EXO adalah satu-satunya harapan bagi mereka semua, tapi sekarang?

"Seandainya kita berjuang dari awal, apa mungkin semuanya akan kembali seperti semula?" kali ini Chanyeol berbicara.

Joonmyeon mengerutkan keningnya, "Berjuang dari awal? Apa maksudmu?"

Chanyeol mengangkat bahunya, "Ya, kau tau, seperti memulai dari awal. Memulai dari dasar lagi, kembali menjadi murid biasa dan mengulang tiga tahun—"

"Tidak mungkin." Sela Baekhyun langsung, "Itu tidak akan berhasil."

"Kenapa tidak?"

"Aku bahkan tidak yakin sekolah akan mempertahankan kita lebih lama lagi," Jongin menimpali. "Biar bagaimanapun, Kita sudah mencoreng nama baik sekolah."

Baekhyun dan Chanyeol terdiam. Lalu Jongin kembali buka suara, "Oh, maaf, koreksi. Maksudku, aku sudah mencoreng nama baik sekolah, bukan kita."

"Kau dan aku." Kyungsoo tiba-tiba menyela, "Aku dan Jongin yang salah, kalian hanya korban. Maaf.."

"Berhenti menyalahkan diri kalian seperti itu." kata Joonmyeon dengan nada lembut, "Ini hanya tantangan dari Tuhan. Tuhan ingin melihat sejauh mana kita bisa berjuang."

Sehun hanya terdiam mendengar percakapan hyung-hyungnya. Sejujurnya, Sejak awal Sehun tidak pernah menyalahkan Jongin atau pun Kyungsoo atas ini semua. Sehun sudah mengetahui semuanya, jauh sebelum kejadian ini terjadi. Sehun tau tentang sesuatu yang special di antara Jongin dan Kyungsoo. Dan kalau boleh jujur, Sehun sama sekali tidak keberatan dengan itu semua. Menurutnya, semua orang berhak untuk jatuh cinta. Pada siapapun, kapanpun. Karna cinta itu sendiri tidak datang dengan di rencanakan, bukan?

Sejauh ini Sehun merasa tidak ada yang salah dengan Gay. Well, tetapi memang tidak bisa di pungkiri bahwa setiap orang memiliki persepsinya sendiri atas masalah ini. Dan sepertinya, Lee songsaenim—kepala sekolah mereka—tidak dapat menerima kenyataan bahwa muridnya seorang Gay. Begitu pula dengan SM. Sehun bisa mengerti kenapa pihak SM langsung mencabut keputusan mereka untuk me-rekrut EXO begitu saja. Tentu saja, siapa yang tidak kenal SM? Artis-artis yang di keluarkan dari sana selalu jadi yang terbaik. Jadi tidak mungkin rasanya mereka me-rekrut EXO yang bahkan sebelum debut saja sudah berbuat ulah dengan gossip seperti ini. Mustahil rasanya SM mempertahankan mereka.

"Seandainya aku tau orang yang sudah menulis artikel di majalah itu. Mungkin aku akan mematahkan lehernya."

Sehun menoleh cepat mendengar perkataan Chanyeol yang di lontarkan dengan penuh rasa kesal yang di tahan. Seumur hidup Sehun, ia bersumpah tidak pernah melihat Chanyeol seserius itu sebelumnya.

"Jangan bicara sembarangan seperti itu. Jika kau melakukan itu, justru kau hanya akan memperburuk keadaan." Joonmyeon menasihati.

Baekhyun mengangguk, menyetujui perkataan Joonmyeon. "Hyung benar. Yah, Chanyeol, tenangkan dirimu sedikit. Sekarang yang harus kita lakukan adalah memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk, ya, setidaknya memperbaiki keadaan."

"Penjuru Empire sudah tau soal kasus ini. Kita tidak lebih dari sampah di mata mereka. Aku bersumpah aku tidak akan bisa memaafkan siapapun yang sudah menyebarkan gosip ini." Kata Chanyeol dengan nada tajam.

Sehun terdiam. Memang perasaannya masih sangat kesal, ia masih sangat kecewa pada Luhan. Tapi di satu sisi, setelah ia mendengar penjelasan Luhan waktu itu, rasanya egois jika Sehun terus menerus membencinya. Biar bagaimanapun, Luhan terdesak. Mungkin jika Sehun berada di posisinya, Ia akan melakukan hal yang sama.

Dan disini lah kekuatan cinta mulai beraksi.

Sejujurnya, Selama ini Sehun selalu mengaggumi sosok Luhan. Bahkan jauh sebelum Luhan datang ke Empire dan bertemu dengannya, Sehun sudah lebih dulu tertarik pada namja manis itu.

Dari kebiasaan Sehun meminum bubble tea setiap pulang sekolah di hari Rabu dan Jumat membawanya bertemu dengan Luhan. Sehun masih mengingat dengan jelas bagaimana pertemuan pertamanya dengan Luhan. Oh, bukan, bukan pertemuan pertama. Melainkan, pandangan pertamanya pada Luhan. Mengingat hanya dirinya yang menyadari keberadaan Luhan sementara Luhan tidak pernah merasa bertemu dengannya sebelumnya.

Hari itu seperti biasanya, setelah hari yang melelah kan di sekolah, Sehun berjalan menuju kea rah Cofioca yang notabenenya berada sejalur dengan arah pulang ke rumahnya. Sehun masuk ke dalam café bubble tea yang sudah tidak asing baginya itu. Ia di sambut oleh seorang gadis cantik menggunakan celemek berwarna pink yang tersenyum cerah ke arahnya. "Seohyun noona." Begitu Sehun biasa memanggil gadis cantik itu. Karna sudah sering datang ke cofioca, Sehun dan Seohyun sudah saling mengenal dan bisa di bilang cukup akrab. Setelah memesan bubble tea favoritnya, Sehun duduk di sebuah bangku yang letaknya tidak terlalu jauh dari meja kasir. Ia menyapu pandangan ke penjuru Cofioca, dan disanalah pertama kalinya ia mellihat Luhan.

Luhan duduk di sudut café bubble tea itu. Sendirian, hanya berkutat dengan laptopnya dan sebuah bubble tea berwarna ungu terdapat di mejanya. Sehun tidak tau sihir macam apa yang di gunakan Luhan, tapi tepat pada saat itu ia merasa sangat nyaman memandangi ciptaan Tuhan itu. Saat itu Sehun tidak tau siapa nama orang itu, berapa usianya, dimana ia tinggal, atau apapun, Sehun sama sekali tidak tau. Yang ia tau hanya sebuah perasaan aneh bergejolak pada dirinya setiap kali melihat orang itu. Dan sejak kejadian hari itu, Sehun mendapati dirinya menjadi lebih sering datang ke cofioca. Ia datang hanya untuk sebuah kemungkinan bertemu dengan Luhan. Karena Sehun menyadari satu hal,

Ia jatuh cinta pada pandangan pertama, untuk pertama kalinya.

Sehun tersenyum miris lalu menundukan kepalanya. Mengingat soal Luhan hanya membuat hatinya terasa semakin sakit saja. Orang yang ia cintai tega melakukan sesuatu yang Sehun tidak pernah bayangkan sebelumnya. Sehun bingung, entah ia harus memaafkan Luhan atau membencinya seumur hidup dan menjauh. Tapi rasanya tidak mungkin. Sehun tidak pernah bisa membenci orang yang ia cintai. Bodoh? Ya, mungkin. Sehun memang bodoh karna masih mencintai Luhan walau apa yang sudah Luhan perbuat benar-benar tidak bisa di maafkan. Tapi anehnya, ada sebagian dari diri Sehun yang justru mulai merindukan Luhan saat ini. Astaga, aku benar-benar gila. Batin Sehun.

Baekhyun menghela nafas berat, "Astaga, apa benar-benar tidak ada jalan keluar untuk masalah ini?!" teriaknya frustasi.

Sehun mendongak menatap wajah hyung-hyungnya yang tidak kalah frustasinya dengan dirinya. Kemudian ia menghela nafas. Setidaknya mereka harus tau. Rasanya tidak adil jika Sehun hanya mengetahui kebenaran ini sendirian. Biar bagaimanapun, hal ini menyangkut seluruh member EXO. Mereka berhak untuk tau.

"Chanyeol hyung," panggil Sehun dengan nada serak.

Bukan hanya Chanyeol yang menoleh, tapi semua hyungnya menoleh kea rah Sehun. Mungkin terkejut karena Sehun tiba-tiba bersuara. "Apa?" sahut Chanyeol.

"Jika kau tau siapa orang yang menyebarkan gosip ini, apa kau akan benar-benar mematahkan leher orang itu?"

Kening Chanyeol berkerut bingung mendengar pertanyaan aneh yang terlontar dari Sehun, "Apa maksudmu?"

"Ya.. Ku harap kau bercanda dengan perkataanmu itu."

Kali ini Baekhyun buka suara, "Apa yang sedang kau bicarakan, Sehun?"

Sehun menghela nafas, "Kalian tidak akan senang mendengar apa yang akan ku katakan."

"Tunggu," Joonmyeon menatap Sehun curiga, "Jangan bilang kau sudah tau siapa pelaku yang menyebarkan gosip itu?"

Sehun tersenyum miris. Oh, hyungnya yang satu ini benar-benar ahli dalam membaca fikiran Sehun.

"Benarkah?" Kyungsoo menatap Sehun penuh dengan rasa terkejut, "Kau serius Sehun?"

Sehun menghela nafas sekali lagi lalu akhirnya berkata, "Berjanjilah kalian tidak akan membunuhku setelah mendengar semuanya."


Luhan berdiri di depan cermin, melihat wajahnya sendiri yang terlihat sangat kacau. Wajahnya lesu, lingkaran hitam terlihat di sekeliling matanya, sama sekali tidak ada semangat hidup. Ia menghela nafas lalu membasuh wajahnya dengan air, berusaha memberikan sedikit kesegaran pada dirinya sendiri.

Dua hari berlalu sejak kejadian buruk itu terjadi. Sehun sudah mengetahui semuanya, dan sejak saat itu ia tidak pernah sekalipun menghubungi Luhan atau semacamnya. Tsk, Tentu saja, Siapa yang mau berbicara dengan orang yang sudah mengkhianatinya? Tidak akan ada.

Luhan mengeringkan wajahnya dengan handuk, lalu berjalan keluar dari kamar mandi dengan lemas. Ia berjalan melalui laptopnya yang ia biarkan menyala. Sudah 2 hari berlalu dan Sehun tidak pernah online di akun Skypenya. Sebenarnya Luhan sangat merasa bersalah pada Sehun—tentu saja, Sejak awal juga ia sudah merasa sangat bersalah. Tetapi Ia merasa jauh lebih bersalah karena Sehun mengetahui semuanya dengan sendirinya, Bukan dari mulutnya sendiri.

Luhan mendudukan dirinya di tepian tempat tidurnya, Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kecilnya dan membuka layar ponselnya. Luhan menekan layar ponselnya beberapa kali lalu terdiam. Layar ponselnya kini menunjukan foto seseorang, Seorang namja tampan yang sangat Luhan rindukan. Tentu saja Sehun, siapa lagi?

Namja berambut coklat itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Tidak bisa, Luhan tidak bisa terus-terusan seperti ini. Hanya duduk mematung di tempat tidur tanpa melakukan apa-apa, Sementara di luar sana entah mungkin saja EXO sedang tersiksa karnanya. Luhan harus segera melakukan sesuatu. Ya, tentu saja. Semuanya harus segera di selesaikan.

Sesulit apapun, seberat apapun resiko yang harus Luhan tanggung, Ia harus siap menghadapi semuanya. Harus.

Luhan menekan ponselnya beberapa kali, lalu menempelkannya di telinga. Setelah beberapa detik, Ia akhirnya berkata, "Yifan, kau di kantor?"


Luhan berdiri di depan gedung kantor redaksinya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia datang ke tempat ini, Rasanya sedikit aneh ketika ia kembali ke tempat ini sekarang. Setelah terdiam tidak jelas selama beberapa menit, Luhan akhirnya melangkahkan kakinya ke dalam gedung bertingkat lima itu.

Beberapa orang menyapa Luhan ketika berpapasan dengan namja itu. Bahkan Luhan harus beberapa kali berhenti sejenak untuk sekedar berbasa-basi. Orang-orang di redaksi ini memang sangat ramah padanya, Karna itu lah Luhan merasa nyaman bekerja di sini.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Akhirnya Luhan sampai pada tujuannya. Ia berdiri di depan pintu ruangan Yifan. Ya, Luhan berniat untuk meminta Yifan mencabut gosip tentang Kyungsoo dan Jongin yang ia tulis beberapa waktu lalu. Sebenarnya Luhan sendiri tidak yakin apa caranya ini akan berhasil atau tidak. Mengingat bagaimana semangat Yifan ketika mempublish gosip ini, serta bagaimana penjualan meningkat berkat gosip ini, rasanya tidak mungkin Yifan mau mengabulkan permintaannya. Tapi tidak ada salahnya mencoba, kan? Ya. Setidaknya Luhan harus mencoba.

Tok tok tok

Tangan kanan Luhan mengetuk pintu ruangan Yifan. Selang beberapa detik kemudian terdengar suara berat Yifan, "Masuk."

Luhan pun mengulurkan tangannya untuk membuka pintu ruangan tersebut. Ia sedikit menimbulkan kepalanya untuk melihat Yifan, namja ber wajah ke barat-baratan itu segera menoleh ketika melihat Luhan. "Oh, Luhan-ah! Masuk lah!" katanya ramah. Yang di panggil pun menurut dan segera berjalan masuk tanpa lupa menutup pintu.

Luhan membungkuk sedikit sebelum akhirnya duduk di depan Yifan, "Maaf aku mengganggu,"

"Ah, tidak, tidak. Sama sekali tidak. Ada apa? Ku kira waktu cutimu masih tersisa dua hari lagi?" tanya Yifan.

"Ya, memang, Aku kesini bukan untuk kembali bekerja," jawab Luhan, "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

Yifan menaikan alisnya, bingung melihat Luhan yang terlihat sangat serius, "Sesuatu? Apa?"

Luhan menghela nafas, Ia menelan ludah, lalu dengan ragu ia berkata, "Soal artikel tentang Jongin dan Kyungsoo exo.."

Kening Yifan berkerut mendengar perkataan Luhan, baru saja ia hendak mengatakan sesuatu tapi Luhan langsung berkata, "Aku ingin menarik artikel itu."

Mata Yifan membulat seketika, "Apa?!" nada bicaranya terdengar sangat terkejut, sukses membuat Luhan sedikit terkejut. Luhan memang sudah bisa mengira reaksi semacam ini dari Yifan, tapi tentu saja tidak terlalu berlebihan seperti ini.

"Apa maksudmu menarik artikel itu?" tanya Yifan bingung.

"Itu.." Luhan terdiam, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan maksudnya, "Artikel itu tidak berdampak baik pada EXO, maksudku-"

"Astaga, Luhan." Yifan memotong perkataan Luhan lalu mendengus. "Sudah berapa kali ku bilang padamu, pers dan netizen bebas berpendapat. Bagian mana yang tidak kau mengerti, huh?"

"Aku tau, tapi bukan itu maksudku," Luhan mengerang frustasi, "Kau tau, Kudengar EXO batal di rekrut oleh SM karna masalah ini. Aku merasa bersalah pada mereka."

Yifan menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan seulas senyuman heran kepada Luhan, "Luhan, Luhan.. Kau ini sangat aneh." gumamnya. "Maaf tapi aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu itu."

Semangat Luhan luntur seketika. "..Kenapa?" tanyanya dengan lemas.

"Menarik artikel itu sama saja seperti bunuh diri. Pihak EXO akan menuntut redaksi ini karna sudah menyebarkan gosip kurang mengenakan." jelas Yifan.

"Tapi.." Luhan terdiam, tidak tau apa lagi yang harus di katakannya. Benar apa kata Yifan, cara ini tidak akan berhasil.

"Lagipula," Yifan kembali membuka suara, "Bagaimana nasib EXO setelah berita itu keluar, memangnya apa urusannya denganmu?"

"Biar bagaimanapun aku yang menulis artikel itu. Tentu saja aku harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka karna aku."

Yifan menghela nafas, "Tapi mereka bahkan tidak tau siapa yang menulis artikel itu, kan?"

"Mereka tau."

"Mereka tau?" Yifan bertanya dengan kening berkerut, "Bagaimana bisa? Namamu bahkan tidak terdapat di dalam artikel itu."

Luhan menghela nafas berat lalu menaikan bahunya, "Well, Mungkin lebih tepatnya, Salah satu dari mereka. Tapi aku yakin sekarang mereka semua sudah tau." gumam Luhan lemas. Membayangkan bagaimana reaksi member EXO lainnya jika Sehun menceritakan hal ini pada mereka membuat Luhan ingin mengubur diri hidup-hidup detik itu juga. Luhan terlalu takut untuk menghadapi kenyataan.

"Bagaimana orang itu bisa tau?" tanya Yifan dengan penuh rasa penasaran.

Tapi Luhan hanya membalasnya dengan gelengan kepala, "Ceritanya panjang. Yang jelas dia sangat kecewa padaku."

"Hm." Yifan menganggukan kepalanya mengerti, "Kelihatannya selama kau memata-matai mereka, tanpa sadar kau jadi sangat dekat dengan mereka?"

"Ya, kira-kira begitu." jawab Luhan pelan.

Yifan menghela nafas lalu mengetuk mejanya dengan jari telunjuknya. "Hm.. Pantas kau bersikeras untuk menghapus artikel itu."

"Aku di hantui rasa bersalah, kau tau." gumam Luhan, Ia terdiam sejenak, lalu perlahan wajahnya berubah berseri ketika ia menapatkan sebuah ide cemerlang.

"Oh, bagaimana kalau aku buat artikel baru yang mengkonfirmasi bahwa gosip tentang Jongin dan Kyungsoo hanya kesalah fahaman?"

Yifan menggeleng, "That won't work. Itu bukan ide yang bagus, Luhan."

"Kenapa tidak?"

"Bagaimana caranya kau bisa mengkonfirmasi itu? Datang menemui Jongin dan Kyungsoo lalu mewawancarai mereka? Lagipula itu bukan gosip, kan? Kau melihat sendiri dengan mata kepalamu apa yang di lakukan mereka berdua."

Luhan terdiam. Sial. Ia benci mengakuinya, tapi semua perkataan Yifan memang benar.

"Tapi," Yifan kembali buka suara, "Lain cerita jika Kyungsoo dan Jongin yang secara langsung mengkonfirmasi bahwa hal itu hanya kesalahfahaman."

Kening Luhan berkerut, "Maksudmu?"

"Yah.." Yifan menaikan bahu, "Seperti press conference, mungkin? Walau harus berbohong, tapi ini semua demi kebaikan mereka juga kan. Aku yakin mereka pasti mau."

Luhan termenung mendengar perkataan Yifan. Press conference? Itu bukanlah ide yang buruk. Dan Luhan juga memiliki beberapa teman wartawan yang bisa ia undang. Tapi..

"Apa cara seperti itu akan berhasil?" tanya Luhan ragu.

"Apa salahnya mencoba?" kata Yifan. "Kau mau bertanggung jawab, kan? Kalau gitu lakukan apapun yang kau bisa. Demi EXO."

Luhan menghela nafas lalu tanpa sadar menganggukan kepalanya. Tentu saja, Ini semua demi EXO, demi kebaikan mereka semua, Luhan harus menebus kesalahan yang sudah ia perbuat.

"Terima kasih banyak, Yifan!" Luhan bangkit dari kursinya, Ia menunduk hormat beberapa kali, "Kalau gitu aku harus segera pergi sekarang."

"Oh, Luhan!" Panggil Yifan ketika Luhan hendak meninggalkan ruangannya.

"Ya?"

"Ada hal penting yang harus kau lakukan terlebih dahulu."

"Eh? Apa?"

"Minta maaf pada mereka."

Luhan tersenyum kecil lalu mengangguk, "Ya. Tentu." Ia kembali pamit, lalu pergi meninggalkan ruangan Yifan.


Empire High School.

Sekolah itu terasa sangat asing bagi Luhan. Sudah beberapa minggu ia tidak mengunjungi sekolah ini, dan sekarang ia sepertinya sudah mulai lupa dengan denah sekolah yang besar dan mewah ini.

Luhan berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua. Dari semua hal yang pernah Luhan lakukan di sekolah ini, Hanya satu yang selalu ia ingat. Pertemuan pertamanya dengan Jongin ketika menaiki tangga dengan Joonmyeon. Disana pertama kalinya Luhan merasa senang karna ia tidak perlu repot-repot mencari member EXO karna mereka sendiri yang satu per satu muncul di hadapan Luhan.

Dan sesampainya di lantai dua, Luhan berbelok menuju ke suatu tempat yang ia tidak pernah lupa letaknya.

Kantin.

Kantin itu terlihat ramai seperti biasanya. Luhan mengedarkan pandangannya dengan sebuah senyuman tipis terbentuk di bibirnya. Masih teringat dengan jelas bagaimana ia mengobrol dengan semua member EXO untuk pertama kalinya waktu itu. Dan yang paling mengesankan adalah, Oh Sehun. Waktu itu anak itu datang dengan semangat dan memberi tau hyung-nya tentang obsesinya terhadap sebuah mesin boneka di sekolah itu. Luhan masih mengingat dengan jelas wajah bodoh Oh Sehun dan bagaimana member EXO yang lain menertawainya.

Bibir Luhan melengkungkan sebuah senyuman, mengingat semua hal itu membuatnya merasa kembali berada dalam masa itu. Luhan sadar sekarang bagaimana ia begitu merindukan segerombolan anak SMA yang selalu sukses membuatnya tertawa itu.

Luhan berbalik, lalu berjalan meninggalkan kantin. Tujuannya ke sini adalah untuk bertemu member EXO dan meminta maaf pada mereka. Tapi sampai saat ini Luhan tidak sedikitpun melihat kehadiran salah satu member EXO. Kemana mereka? Dimana mereka sekarang?

Luhan akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada seorang yeoja cantik yang sedang membaca buku di samping jendela. Dengan ramah wanita itu memberi tahu bahwa akhir-akhir ini EXO sering berkumpul dan menghabiskan waktu di ruang latihan mereka. Setelah berterima kasih, Luhan pun berjalan menuju ke ruang latihan yang di maksud. Luhan sudah tau dimana letak ruangan itu, Ia masih mengingat dengan jelas tempat favoritnya itu. Hanya di ruangan itu ia bisa melihat sisi lain dari EXO yang sukses membuatnya terkagum-kagum.


Luhan berdiri di depan pintu berwarna cream tersebut. Samar-samar ia bisa mendengar suara musik terdengar dari ruangan tersebut. Tidak salah lagi, EXO ada di dalam sana.

Tangan Luhan bergetar, jantungnya berdebar berkali-kali lebih cepat dari biasanya, tetesan keringat dingin mulai membasahi dahinya. Luhan bersumpah, seumur hidupnya, ia tidak pernah merasa se-gugup ini sebelumnya. Tiba-tiba saja perasaan takut memenuhi dirinya. Luhan ragu, haruskah ia masuk kedalam sana atau tidak.

Reaksi apa yang akan di berikan mereka?

Apa yang akan mereka katakan?

Dan...

Bagaimana dengan Sehun?

Luhan menelan ludah kasar. Ia memegang dadanya, berusaha mengontrol detak jantungnya yang tidak karuan, perlahan ia menarik nafas dan menghembuskannya. Setelah merasa sedikit lebih baik, Luhan akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut.

Tok Tok Tok

Selang beberapa detik setelah Luhan mengetuk pintu, Suara musik yang tadinya terdengar samar-samar kini tidak terdengar sama sekali.

Mereka mematikan musiknya?

Luhan menggenggam gagang pintu yang terasa dingin itu, lalu tiba-tiba terdengar seseorang berkata,

"Siapa disana?"

Deg. Jantung Luhan seketika kembali berpacu dengan kencang. Itu suara Joonmyeon. Tidak salah lagi, EXO di dalam sana dan mereka mendengar suara ketukan pintu barusan.

Dengan gerakan perlahan tapi pasti, Luhan memberanikan diri untuk membuka pintu tersebut.

.

.

.

"A-annyeonghaseyo.." Luhan berdiri di depan pintu dan membungkuk 90 derajat untuk menyapa EXO.

"oh!" suara Joonmyeon lagi-lagi terdengar. "Luhan hyung!"

Luhan kembali berdiri tegak lalu dengan susah payah menyunggingkan seulas senyum kepada Joonmyeon yang berdiri paling dekat dengannya sekarang. "H-hey, j-joonmyeon," sapa Luhan ragu. Ia melihat ke sekeliling, Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo dan Jongin sedang duduk di tengah ruangan, Sementara Sehun...

Sehun..

Namja itu berdiri agak mendekat dengan sudut ruangan tersebut. Ia memunggungi Luhan tapi matanya menatap Luhan tajam dari kaca besar pada dinding tersebut.

Mata Luhan bertemu dengan mata dingin dan tajam milik Sehun. Luhan bersumpah ia belum pernah melihat Sehun menatapnya dengan cara seperti itu sebelumnya. Entah kenapa hatinya terasa sakit seketika.

"Luhan hyung, sudah lama sekali kau tidak kesini!" suara Joonmyeon membuat Luhan mengalihkan pandangan.

"O-oh, ya, Aku sibuk akhir-akhir ini." jawab Luhan dengan seulas senyuman.

Kali ini Baekhyun berkata, "Sibuk? Ulangan semester di kampus, hyung?"

Luhan mengangguk, "Ya, bagaimana kau tau?"

"Hyung-ku seumuran denganmu, Jadi aku hanya menebak." gumam Baekhyun dengan senyum lima jarinya yang khas.

Luhan sedikit bingung dengan keadaan disini. Member EXO terlihat baik-baik saja dan bersikap baik padanya. Apa itu berarti, Sehun belum memberi tau mereka?

"Ngomong-ngomong, Untuk apa hyung kesini? Bukankah tugas artikel Hyung sudah selesai?" tanya Joonmyeon.

"Oh- Itu- Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan kalian."

Luhan bisa melihat Sehun tiba-tiba berjalan menuju ke sudut ruangan, Ia mengambil sebuah ransel dan menyandarkannya pada bahu kirinya.

"Soal apa?" tanya Joonnyeon.

"Soal.." Luhan berhenti sejenak ketika melihat Sehun berjalan ke arahnya, "S-soal sesuatu yang penting. Bisa kita berkumpul di tengah dan membicarakan semuanya?"

"Oh, tentu!" Joonmyeon segera duduk di tengah ruangan, "Bagaimana kalau disini?"

Luhan baru hendak menjawab Joonmyeon ketika Sehun tiba-tiba meraih gagang pintu di samping Luhan dan hendak keluar, Tapi Luhan segera menahannya. "Yah. Kau mau kemana?"

Sehun menatap tajam tangan Luhan yang menggenggam lengannya, Dengan satu sentakan cepat, Ia melepaskan tangan Luhan dari lengannya, "Bukan urusanmu." jawabnya dingin. Sehun kembali mencoba meraih gagang pintu tapi Luhan segera menahannya.

"Jangan pergi."

"Diamlah, apa urusanmu denganku, huh?"

Luhan sedikit mendorong tubuh Sehun lalu dengan cepat merapatkan pintu tersebut dan menghalangi Sehun dengan dirinya. "Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian. Duduk dan dengarkan dulu."

Sehun mendengus, "Cih. Untuk apa? Aku sudah tau apa yang akan kau bicarakan." gumam Sehun, "Minggir." tambahnya.

"Tidak akan." Luhan menatap Sehun intens, "Setidaknya dengarkan aku sebentar saja."

"Tidak."

"Sehun-"

"Minggir."

"Tapi Sehun."

"Kau mau menyingkir atau—"

"Yah, Oh Sehun." kali ini Kyungsoo yang sedaritadi terdiam akhirnya bersuara. "Tetaplah disini sebentar."

Sehun menatap Kyungsoo selama beberapa lama lalu menghela nafas. Ia melirik Luhan tajam sekali lagi, Lalu akhirnya berjalan ke sudut ruangan dan berdiri disana sambil bersandar dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku.

"Kenapa berdiri disana? duduklah disini, Sehun." gumam Baekhyun.

Sehun berdecak, "Aish. Setidaknya aku mendengarkan." erangnya. Ia menatap ke arah Luhan, "Yah. Cepat selesaikan semua ini. Aku sibuk."

Luhan menelan ludah kasar. Melihat Sehun bersikap seperti itu padanya membuat hatinya terasa teriris. Sakit sekali. "Baiklah." Luhan akhirnya berjalan ke tengah ruangan, ia duduk di depan semua member EXO yang menatapnya bingung.

"Jadi, Apa yang ingin hyung bicarakan?" tanya Joonmyeon.

Luhan terdiam. Ia tidak tau bagaimana harus memulai semua ini. Luhan takut dengan reaksi yang akan di berikan oleh mereka semua nantinya. Terlebih lagi, Sepertinya Sehun belum memberitahu mereka, Pasti mereka akan sangat marah dan kecewa pada Luhan.

Tapi ini kenyataan. Sanggup atau tidak, Luhan akan menghadapinya. Ya, Harus.

Luhan menarik nafas, sebelum akhirnya berkata, "Maafkan aku."

"Maaf?" Baekhyun menatap Luhan bingung, "Maaf untuk apa?"

"Sebenarnya..." Luhan berhenti sejenak, mencoba mengatur detak jantungnya yang tidak karuan. Lalu melanjutkan, "Artikel tentang Jongin dan Kyungsoo. Aku yang menulisnya."

"Apa?!" Jongin menatap Luhan dengan mata membulat sempurna, "H-hyung- kau serius?"

"Yah, yah. Apa-apaan ini? Hyung, jangan bercanda." timpal Kyungsoo.

"Aku serius." kata Luhan, "Selama ini aku tidak pernah mendapat tugas untuk menulis artikel tentang anak-anak di sekolah ini dari kampusku." Luhan mulai menjelaskan.

"..Aku bekerja sebagai seorang jurnalis di salah satu merk majalah, dan aku mendapat tugas untuk menulis artikel tentang kalian." jelas Luhan, Ia sedaritadi hanya menunduk, tidak berani menatap satupun mata yang ada di depannya.

"Jadi selama ini kau diam-diam mencari informasi tentang kami?" kali ini Joonmyeon bersuara.

Luhan mengangguk pelan, "Y-ya.."

"Lalu soal Jongin dan Kyungsoo, Kau juga yang melakukannya?" Chanyeol bertanya dengan nada rendah yang terdengar mengerikan.

"Y-ya.."

"Astaga." Luhan bisa mendengar hampir seluruh member EXO mengerang dan menghela nafas kesal.

"Hyung, kenapa kau tega sekali?" gumam Joonmyeon kali ini. "Kenapa kau melakukan itu?"

Luhan terdiam, Dadanya mulai terasa sesak, Ia tidak berani memberi tahu member EXO yang sejujurnya, "Aku, aku punya alasan untuk itu-"

"APA KAU TIDAK TAU APA DAMPAKNYA UNTUK KITA, HUH?!" Bentak Chanyeol tiba-tiba, membuat Luhan bungkam dan terdiam ketakutan. "Apa kau tidak tau apa yang terjadi pada kita setelah artikel itu keluar, Huh?!"

"Chanyeol, tahan." Gumam Baekhyun. "Hyung, Jelaskan pada kami kenapa kau melakukan itu."

Luhan lagi-lagi menelan ludah, lalu mulai berbicara, "Ayahku.. Dia sakit dan butuh uang untuk biaya pengobatannya," Luhan berhenti sebentar ketika sebutir air mata jatuh di pipinya, Ia terisak, lalu kembali melanjutkan, "Bossku bilang, Jika aku mendapatkan berita bagus tentang kalian, aku akan mendapat bonus. Dan pada saat itu, kebetulan aku-"

"Apapun alasanmu, tetap saja itu sangat mengecewakan, hyung." potong Kyungsoo.

Luhan mengangguk sambil mengusap air matanya, "Aku tau, Aku tau itu." katanya. "Itulah sebabnya aku minta maaf pada kalian. Walau aku tau, sekalipun aku berkata seribu kali maaf, kalian tidak akan memaafkanku."

Joonmyeon menghela nafas berat. Sama seperti member EXO yang lain, pancaran kekecewaan terlihat jelas di wajahnya.

Luhan melirik ke arah Sehun, Namja tinggi itu hanya terdiam di tempatnya. Ia hanya memperhatikan Luhan dengan tatapan dingin dan wajah yang datar. Tidak ada sedikitpun terlihat niat untuk menolong Luhan untuk berbicara pada member EXO lainnya.

"Hyung, pergilah." gumam Chanyeol. "Aku muak melihatmu."

Luhan terpaku, dadanya seperti di remas dengan kencang sehingga ia terasa sesak, "Aku tau kalian sangat kecewa padaku, tapi—"

"Tapi semuanya sudah terjadi," potong Jongin. "Tidak peduli berapa kali kau mengatakan kata maaf, tidak akan ada yang berubah."

Luhan menatap Joonmyeon, satu-satunya orang yang ia anggap bisa di ajak untuk bicara baik-baik, lalu berkata, "Joonmyeon-ah, Aku punya cara untuk mengembalikan keadaan seperti semula."

Joonmyeon menghela nafas lalu menatap Luhan ragu, "Kau bukan dewa yang bisa memutar ulang waktu, hyung."

"Tidak." Luhan dengan cepat berkata, "Aku yang sudah menyebabkan semua ini, jadi aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku."

"Bukankah kau melakukan itu semua memang untuk pekerjaanmu? Oh, atau untuk uang, lebih tepatnya." gumam Chanyeol dengan nada menyindir. Luhan rasanya ingin sekali berteriak membela diri, tapi untuk saat ini, diam dan menerima semuanya adalah satu-satunya jalan terbaik.

"Aku sudah bersalah dengan kalian," kata Luhan. "Kumohon, beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Mungkin aku tidak bisa mengembalikan semuanya seperti semula, tapi setidaknya aku akan berusaha memperbaiki keadaan.

Tidak ada respon. Member EXO hanya terdiam menunduk tanpa bersuara. Sepertinya mereka semua masih tenggelam dalam kekecewaan mereka masing-masing.

Luhan menggigit bibir, Ia sangat takut dengan keadaan seperti ini. Keadaan dimana ia tersudut dan di banjiri oleh perasaan bersalah.

"Joonmyeon, kumohon, beri aku kesempatan," pinta Luhan dengan nada memohon.

"Entahlah, hyung." jawab Joonmyeon lemas. "Rasanya sulit untuk percaya padamu lagi."

Luhan mulai kehilangan kepercayaan dirinya, Ia pun menoleh ke arah member lain, "Baekhyun, kumohon, satu kali ini saja. Izinkan aku menebus kesalahanku pada kalian."

"Hyung, aku sudah terlalu kecewa padamu." gumam Baekhyun.

Luhan menggeleng lemas, "Tapi, Baekhyun-"

"Hentikan." kata Chanyeol tiba-tiba. Chanyeol yang sedaritadi terdiam kini menatap Luhan tajam, "Hentikan itu semua, hyung. Pergilah."

Luhan hampir tidak bisa mempercayai apa yang barusan di dengarnya. Nada bicara Chanyeol benar-benar menyakiti hati kecilnya. Luhan kecewa pada dirinya sendiri. Ia bahkan tidak di berikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya?

"Chanyeol, aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku kesini untuk menebus kesalahanku pada kalian."

"Lalu memangnya kau bisa apa?! Memutar kembali waktu, huh? Atau mengemis pada Lee songsaenim untuk mengizinkan kami tampil di showcase, huh?!" nada suara Chanyeol kembali meninggi. Chanyeol benar-benar terlihat marah dan mengerikan.

Kyungsoo yang berada di sebelah Chanyeol segera menahannya, "Tahan, Chanyeol. Tahan." gumamnya. Ia lalu menoleh ke arah Luhan, "Pergilah, hyung."

Luhan menggeleng, "Tidak bisa, Kyungsoo, Aku—"

"Luhan."

.

.

.

Luhan terpaku ketika sebuah suara rendah yang terdengar agak serak menyebut namanya. Perlahan ia menoleh ke sumber suara. Oh Sehun. Namja itu menatapnya dengan tatapan dingin dan datar.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sehun datar.

"e-eh?" Luhan mengerjap beberapa kali, mencoba kembali menyadarkan dirinya. "Aku- aku akan- menebus kesalahanku."

Sehun mendengus, "Bodoh." katanya, lalu melanjutkan, "Maksudku, dengan cara apa?"

Luhan menghela nafas, Ia lega karna akhirnya di beri kesempatan untuk berbicara mengutarakan idenya. "aku akan meminta izin pada Lee songsaenim untuk mengadakan press conference di sekolah ini."

"Apa?" Sehun mengerutkan keningnya, "Press conference?"

Luhan mengangguk, "Ya! Aku punya seorang teman, dia adalah wartawan. Aku bisa memintanya untuk mengundang wartawan dari berbagai media untuk press conference ini."

Joonmyeon yang sedari tadi diam-diam mendengarkan, menoleh ke arah Luhan, "Lalu apa yang akan kita bicarakan di press conference itu?"

"Tentu saja kalian akan membicarakan soal gosip yang menimpa Jongin dan Kyungsoo, Kalian-"

"Yah." Jongin tiba-tiba memotong, "Maksudmu kau menyuruh kami berbohong? Biar bagaimanapun, artikel yang kau tulis itu adalah kenyataan."

Luhan terdiam sebentar, Lalu tersenyum tipis, "Jongin-ah, aku tau ini pasti akan sulit. Tapi untuk saat ini, kurasa kita harus melakukan ini. Hanya ini satu-satunya cara agar nama kalian bisa kembali bersih di mata publik." gumam Luhan.

Jongin terdiam. Seperti sedang memikirkan sesuatu, kemudian ia menghela nafas, "Tapi tetap saja."

Luhan mendekat ke arah Jongin lalu menepuk pundaknya, "Untuk saat ini, Hubunganmu dengan Kyungsoo tidak boleh tercium oleh siapapun di luar sana. Yang terpenting sekarang, nama EXO harus kembali bersih." kata Luhan, berusaha meyakinkan Jongin. Ia berhenti sebentar lalu melanjutkan, "Aku tau, biar bagaimanapun, ini semua salahku."

Luhan menatap setiap member EXO satu persatu sambil berkata, "Aku akan menolong kalian. Bagaimanapun caranya. Aku akan bertanggung jawab. Jika kalian setuju dengan ide ini, aku akan langsung mengurus semuanya. Yang kalian perlu lakukan hanya menyipkan diri."

Joonmyeon dan yang lain masih terdiam. Tidak tau harus berkata apa. Mungkin mereka masih ragu, kurang yakin apakah mereka bisa melakukan semua ini atau tidak.

Luhan kembali buka suara, "Demi keberhasilan kalian. Ini semua demi kalian juga. Aku yakin, kalian tidak ingin berhenti sampai disini saja, kan?"

"Hyung," Baekhyun kali ini buka suara, "Apa kau yakin cara ini akan berhasil?"

Luhan tersenyum dan mengangguk, "Tidak ada salahnya mencoba, kan?"

Joonmyeon menatap member EXO lainnya, lalu tanpa berkata apa-apa mereka semua menganggukan kepala, memberi isyarat bahwa, Ya, mereka setuju dengan ide Luhan.

"Baiklah, kalau gitu kita coba cara ini." gumam Joonmyeon pada akhirnya, membuat mata Luhan berbinar bahagia. Belum sempat Luhan mengatakan sesuatu, Joonmyeon kembali berkata, "Tapi kau bertanggung jawab penuh atas semua ini, hyung. Kami tidak mau di repotkan oleh apa-apa lagi."

Luhan mengangguk yakin, "Tentu saja! Kalian tidak perlu khawatir. Aku akan mengurus semuanya. Yang kalian perlu lakukan hanya menyiapkan diri kalian!" gumam Luhan semangat.

Joonmyeon mengangguk, "Ya, itu pasti, hyung."

Luhan tersenyum bahagia, lalu tanpa basa-basi, ia memeluk Joonmyeon dengan erat, "Terima kasih banyak!" Luhan melepaskan pelukannya, lalu ia bangkit dan berkata, "Kalau begitu aku akan segera mengurus semuanya sekarang." Ia membungkukan badannya lalu pamit dan segera keluar dari ruangan tersebut.

Joonmyeon menghela nafas. "Yah. Semoga saja berhasil."

"Aku kurang yakin," gumam Baekhyun pelan. Chanyeol menghela nafas berat lalu berkata, "Aku hampir gila."

Sementara Sehun hanya mendengus, ia menunduk, lalu perlahan sebuah senyuman tipis terbentuk di bibirnya.


Luhan tidak pernah mengira bahwa ternyata meminta izin untuk melakukan press conference di Empire High School sangat sulit. Kepala sekolah, yaitu Lee songsaenim—beliau sepertinya sudah terlalu kecewa dengan EXO. Ketika Luhan menyebut-nyebut soal EXO, Lee songsaenim berubah menjadi cuek dan terlihat sedikit kesal.

Lee songsaenim sepertinya sudah tidak perduli dengan EXO, ia bahkan berkata akan mengeluarkan EXO dari sekolah tersebut. Luhan sempat merasa takut untuk berbicara lebih jauh, tapi mengingat bagaimana ia harus menebus kesalahan yang telah ia perbuat, Luhan terus mencoba membujuk Lee songsaenim.

Setelah mengalami perdebatan yang cukup panjang, Akhirnya Lee songsenim bersedia untuk memberikan satu kesempatan bagi EXO untuk menjelaskan semuanya. Beliau memberi izin melakukan press conference di sekolah.

Waktu yang di tetapkan adalah hari minggu, Kurang lebih 5 hari lagi. Luhan segera menelfon salah satu temannya, Kim Jongdae, yang merupakan seorang wartawan dari sebuah media yang cukup terkenal di Seoul. Luhan meminta Jongdae untuk datang pada acara Press Conference tersebut, Dan Jongdae menerima dengan repond yang sangat baik. Bahkan tanpa diminta, Jongdae berkata ia akan membawa wartawan dari media lainnya untuk mengikuti acara press conference tersebut. Mereka bilang gosip tentang member EXO sedang menjadi pembicaraan hangat akhir-akhir ini, Jadi ketika Jongdae mendengar permintaan Luhan ia langsung menerima tawaran tersebut begitu saja.

.

.

.

Dan hari dimana press conference di adakan pun akhirnya tiba. Acara tersebut di laksanakan di ruang auditorium Empire High School. Beberapa wartawan dari berbagai media menyiapkan kamera serta alat tulis mereka. Jumlah mereka cukup banyak, sukses memenuhi hampir 1/4 dari ruangan yang cukup besar tersebut. Para wartawan di tempatkan di barisan depan, Dekat dengan meja serta kursi dimana member EXO akan berbicara nantinya.

Sementara selain wartawan, beberapa fans juga diizinkan untuk menghadiri press conference tersebut. Luhan sengaja melakukan ini, Agar selain wartawan, para fans EXO juga mendengar secara langsung pernyataan dari EXO. Tidak banyak yang diizinkan masuk, hanya sekitar lima puluh orang, tapi mereka sudah cukup berisik.

Press conference di mulai tiga puluh menit lagi, Member EXO masih bersiap-siap di salah satu kelas yang letaknya tidak jauh dari auditorium. Luhan mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Hey." sapanya pada semua member EXO yang sedang bersiap-siap.

"Oh, hyung." Joonmyeon menoleh dan tersenyum, "Apa di sana sudah ramai?"

Luhan mengangguk, "Ya. Wartawan dan fans sudah memenuhi ruangan itu." jawab Luhan. "Sebentar lagi press conference dimulai, kalian siap, kan?"

Joonmyeon dan yang lain mengangguk pelan, "Ya, tentu, hyung." gumam Joonmyeon.

Luhan tersenyum dan menepuk pundak Joonmyeon, "Jangan gugup, santailah." Ia menoleh ke arah Jongin dan Kyungsoo, "Kalian juga, Bersikaplah sewajarnya."

Kyungsoo mengangguk dan tersenyum kecil, "Ya, hyung." jawabnya, Sementara Jongin hanya terdiam, Terlihat sangat gugup.

Luhan tersenyum sekali ke arah Kyungsoo, lalu matanya berpindah ke arah lain.

Oh Sehun.

Ia menatap Sehun yang juga sedang menatapnya, Luhan menyunggingkan seulas senyum kecil, tapi Sehun justru membuang wajahnya. Menolak untuk melihat Luhan lebih lama lagi.

Luhan bisa menerima sikap Sehun yang masih dingin padanya. Ia mengerti perasaan anak itu. Jadi Luhan berusaha bersikap biasa saja. "Kalau gitu, Aku keluar dulu. Semangat!" gumam Luhan lalu keluar dari ruangan EXO.

"Baiklah," Joonmyeon menghela nafas lalu mengedarkan pandangan ke arah semuam ember, "Kita bisa melakukan ini, kan?"


Akhirnya member EXO satu persatu memasuki ruangan press conference. Teriakan dari fans fans remaja wanita mereka mulai terdengar, membuat suasana terdengar seperti dalam konser. Kilatan blitz dari kamera para wartawan ikut membuat suasana semakin ramai.

Para petugas mencoba menenangkan para fans agar suara member EXO yang sedang berbicara bisa terdengar lebih jelas.

Joonmyeon berbicara, Ia menyapa seluruh wartawan serta para fans yang ada disana. Sejauh ini semuanya berjalan dengan baik, Joonmyeon bisa berbicara dengan lancar dan tanpa masalah. Ia mulai membicarakan maksud dan tujuan dari di adakannya press conference ini, dan para wartawan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan terhadap dirinya.

Luhan hanya bisa memperhatikan. Ia berdiri di salah satu sudut, memperhatikan member EXO yang sedang sibuk menjawab setiap pertanyaan yang di lemparkan oleh para wartawan. Ia merasa lega karna member EXO terlihat sangat profesional. Mereka semua tau bagaimana mengontrol ekspresi wajah serta nada bicara mereka. Pemilihan kata yang tepat saat menjawab pertanyaan dari para wartawan juga menambah kesan santai pada member EXO. Mereka tidak terlihat tegang.

"Kami minta maaf, karna kami semua kekacauan ini terjadi, kami benar-benar minta maaf." gumam Jongin setelah membicarakan tentang gosipnya dengan Kyungsoo. Beruntung foto yang Luhan ambil pada waktu itu tidak terlalu jelas, jadi Jongin bisa mengatakan bahwa foto itu adalah editan atau semacamnya.

Satu jam setengah berlalu, Press conference selesai dengan hasil yang melegakan. Para wartawan mempercayai bahwa semua yang terjadi hanyalah ke salah fahaman, Para fans juga sudah mendengar secara langsung dan merekamempercayainya dan terus mendukung EXO. Bahkan ketika EXO pamit untuk undur diri para fans tidak henti-hentinya berteriak memberikan semangat untuk mereka.

Satu persatu fans dan wartawan keluar dari ruangan tersebut. Luhan tersenyum puas melihat hasil yang di dapatnya. Semua berjalan lancar tanpa masalah. Kini Luhan yakin, Nama EXO sudah kembali bersih di mata publik.

Baru saja Luhan hendak pergi menemui EXO, ketika matanya menangkap sosok Lee songsaenim di salah satu sudut auditorium. Sepertinya beliau juga menyimak press conference tadi. Ketika Lee songsenim hendak pergi, Luhan segera menghampirinya.

"Songsaenim, tunggu!" teriak Luhan yang berlarian ke arah Lee songsaenim.

Lee songsaenim menoleh, lalu menghela nafas, "Press conference yang kau minta sudah di jalankan, apa lagi yang kau inginkan?"

"Bagaimana pendapatmu? Sekarang jelas, kan? Semuanya hanya kesalahfahaman." gumam Luhan dengan nafas sedikit terengah-engah.

"Ya. Lalu?"

Luhan menelan ludah, lalu menghela nafas, "Lalu? Apa songsaenim tidak ada niat untuk kembali mengizinkan EXO tampil di showcase?"

Lee songsaenim terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku masih ragu."

"Oh, ayolah, songsaenim, kau tau betapa berbakatnya mereka. Bukankah sayang jika mereka di biarkan begitu saja? Biar bagaimanapun, sekolah ini sudah mendidik mereka selama tiga tahun, kau tidak mungkin menyia-nyiakan kerja keras mereka begitu saja, kan?"

Lee songsaenim terlihat berfikir sejenak. Lalu beberapa menit kemudian ia menghela nafas, "Baiklah.."


Luhan berlarian dengan penuh semangat menuju ke ruangan dimana EXO berada. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ia memasuki ruangan tersebut dengan cepat.

"Astaga, hyung, kau mengejutkanku!" gumam Joonmyeon yang berada paling dekat dengan pintu dan di kejutkan dengan kehadiran Luhan yang tiba-tiba.

"Maaf, maaf. Aku terlalu bersemangat." kata Luhan. Jeda sebentar, lalu ia kembali berkata, "Kalian sangat hebat tadi, Aku tidak tau kalian bisa bicara selancar itu."

"Yah. Hyung kira kami ini apa? Anak bayi?" kata Baekhyun.

Luham terkekeh, "Tapi aku senang karna nama kalian sudah bersih sekarang."

"Ya.. Sepertinya kami harus berterima kasih padamu, hyung." gumam Kyungsoo.

Luhan mengibaskan tangannya, "Tidak, tidak. Kalian lupa? Ini adalah tanggung jawabku atas apa yang sudah aku lakukan." katanya. "Oh, ngomong-ngomong, Aku ada kabar bagus untuk kalian!"

"Kabar bagus apa?" tanya Baekhyun.

Luhan tersenyum dengan semangat, lalu ia berkata dengan suara lantang, "Lee songsaenim mengizinkan kalian tampil di showcase!"

"w-woah- hyung, kau serius?!" respon Joonmyeon langsung.

"Yah! Hyung! Kau- yang benar?!" timpal Baekhyun.

"Hyung tolong katakan padaku kau tidak bercanda." gumam Jongin menambahkan.

Reaksi setiap member EXO membuat Luhan ingin tertawa rasanya. Mereka benar-benar lucu. "Aku tidak becanda!" tukas Luhan. "Tadi aku bicara dengan Lee songsaenim, dia bilang kalian bisa tampil di showcase!"

"Astaga, ini benar-benar ke ajaiban!" gumam Chanyeol semangat.

"Dan kalian tau apa?" Luhan berhenti, lalu melanjutkan, "Lee songsenim bilang, Ia akan mengundang pihak SM untuk menonton showcase tersebut. Dan kalau kalian tampil dengan baik, kalian bisa kembali di rekrut oleh SM!"

"Oh, god! Ini benar-benar hebat!" Tukas Baekhyun antusias. "Astaga aku benar-benar senang! Joonmyeon hyung, semuanya kembali seperti semula!"

"Hyung, Mungkin kita harus merayakan semua ini?" tanya Sehun, Ia tidak terlalu terlihat bersemangat, Tapi Luhan bisa melihat dengan jelas kilatan kebahagiaan di mata anak itu.

"Tentu, Sehun! Makan-makan di rumahku malam ini!" teriak Joonmyeon semangat dan diiringi sorakan meriah dari member lainnya.

"Dan Luhan hyung, tentu saja kau harus ikut!" tukas Baekhyun.

Luhan tersenyum dan mengangguk, "Tentu!"

"Wohooo! EXO saranghajaa!" Jonmyeon dan yang lain mulai bersorak gembira. Mengekspresikan betapa bahagia mereka atas apa yang terjadi saat ini.

Sementara Luhan hanya bisa tersenyum haru. Ia bahagia. Ia senang. Ia lega karna akhirnya semuanya bisa kembali seperti semula. Ia lega karna perasaan bersalah yang menghantuinya kini sudah meluap tak berbekas. Luhan senang bisa memperbaiki kesalahannya.

Diam-diam Luhan melirik ke arah Sehun. Namja itu hanya tertawa bersam hyung-hyungnya yang sibuk bersorak dan bergerak tidak jelas dengan penuh keceriaan. Lalu kemudian ia sadar sepasang mata memperhatikannya, Sehun menatap ke arah Luhan. Luhan tidak bisa mengalihkan pandangannya, ia tetap menatap mata Sehun, dan pipinya memanas serta detak jantungnya berdetak tidak normal.

Kemudian Sehun tersenyum ke arah Luhan.

Dan Luhan tidak tau bagaimana menangani ribuan kupu-kupu yang menari di dalam perutnya.


Malam itu member EXO serta Luhan makan dengan puas di rumah Joonmyeon. Berbagai macam makanan yang di hidangkan sukses di lahap habis oleh mereka. Entah lapar atau bagaimana, tapi mereka dapat menghabiskan seluruh makanan itu sambil bercakap-cakap. Mereka bercanda dan tertawa bersama tanpa mempedulikan waktu yang semakin lama semakin larut.

Jam menunjukan pukul 11 malam. Karna waktu sudah terlalu larut, mereka semua memutuskan untuk menginap di rumah Joonmyeon. Rumah itu besar dan memiliki banyak kamar tamu, Jadi bukan masalah untuk mereka.

Sehun, Chanyeol, Baekhyun, dan Jongin masih sibuk bermain xbox di kamar Joonmyeon sementara Kyungsoo sudah tertidur pulas di kamar yang lain. Luhan sendiri berada di balkon yang berada di samping ruang tv di lantai dua. Ia hanya terdiam disana, memandang langit gelap kota Seoul dimalam hari sambil merasakan angin dingin yang berhembus.

Luhan sangat menyukai keadaan seperti ini. Tenang, damai, dan nyaman. Hati yang senang, serta perut penuh. Luhan menyukai semua ini. Ia tidak pernah merasa seringan ini sebelumnya. Seperti tidak ada lagi beban hidup yang ia tanggung.

"Hey, hyung." Joonmyeon tiba-tiba datang dan berdiri di samping Luhan. "Belum tidur?"

Luhan menggeleng pelan, "Belum. Aku suka disini, udara dan pemandangannya bagus."

"Ini juga salah satu tempat favoritku di rumah ini." kata Joonmyeon, lalu menambahkan, "Udara disini selalu terasa sejuk baik di pagi atau malam hari."

Luhan mengangguk, "Ya, benar." gumamnya menyetujui perkataan Joonmyeon. "Oh, ngomong-ngomong, dimana yang lain?"

"Kyungsoo sudah tidur, sementara yang lain masih sibuk bermain game di kamarku."

Luhan tertawa kecil mendengar jawaban Joonmyeon, "Astaga, mereka benar-benar tidak bisa menjadi dewasa."

"Ya, begitulah.." Joonmyeon terkekeh.

Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Sibuk dengan fikiran masing-masing dan membiarkan angin malam berhembus mengisi kesunyian di antara keduanya.

"Hyung," Joonmyeon kembali membuka suara. Yang di panggil menoleh, "hm?"

"Seharusnya kau berterima kasih pada Sehun." Kening Luhan berkerut mendengar perkataan Joonmyeon, "Berterima kasih?"

Joonmyeon mengangguk, "Ya." ia tersenyum kecil, lalu berkata, "Sebenarnya, waktu kau mengaku bahwa hyung yang menulis artikel itu.. Kami sudah tau."

Kali ini mata Luhan membulat sempurna, "Kalian tau?" tanyanya bingung, "T-tapi- kalian sangat marah padaku waktu itu- kalian juga—"

Joonmyeon tertawa melihat reaksi Luhan, "Akting kami bagus, kan?"

"Astaga. Apa-apaan kau ini," gumam Luhan heran.

"Yah, sebenarnya, kami juga tidak sepenuhnya akting. Tentu saja kami marah padamu, hyung." gumam Joonmyeon, "Tapi kami tidak memarahimu dengan parah karna seseorang melarang kami untuk melakukan itu."

Luhan menaikan alisnya, "Seseorang?"

Joonmyeon menaikan bahunya, "Tentu saja, Sehun, siapa lagi?" jawabnya enteng. Ia lalu melanjutkan, "Aku tidak pernah melihat Sehun seperti itu sebelumnya. Dia menjelaskan pada kami alasanmu melakukan semua itu. Saat pertama kali tau, tentu saja kami semua sangat marah. Kami bahkan berniat untuk melabrak hyung saat itu juga."

Luhan terdiam mendengarkan cerita Joonmyeon. Selang beberapa detik, Joonmyeon kembali melanjutkan, "Tapi Sehun menahan kami. Ia menjelaskan dengan detail tentang alasanmu melakukan hal itu. Dia lah orang yang mati-matian membelamu, hyung. Dia tidak ingin kami melakukan sesuatu padamu."

Entah kenapa, mendengar cerita Joonmyeon membuat jantungnya berdebar tidak normal. Astaga, ini benar-benar aneh.

"Sehun meminta pada kami untuk tidak berlaku kasar padamu. Dia bilang dia sendiri juga belum bisa memaafkanmu waktu itu. Dan akhirnya kami menunggu sampai kau mau mengatakan dengan jujur pada kami."

"Tapi.." Luhan kembali mengingat-ingat ketika ia mengaku pada member EXO, Sehun terlihat sangat cuek padanya waktu itu.

Seolah-olah bisa membaca fikiran Luhan, Joonmyeon berkata, "Sehun sebenarnya peduli denganmu. Dia hanya tidak ingin menunjukannya padamu." jelasnya. Melihat Luhan yang masih terdiam, Joonmyeon kembali menambahkan, "Dia bahkan mengancam kami seandainya kami menyentuhmu sedikit saja."

Luhan menaikan alisnya, "Apa?"

"Yaa, begitulah. Dia tidak ingin kau terluka sedikitpun. Dia bilang.." Joonmyeon berdehem, lalu bergaya meniru Sehun, "Hyung, Satu kali ini saja, turuti permintaanku. Jangan sentuh Luhan, apapun yang terjadi. Jangan sakiti dia, seberapa marahpun kalian, jangan lakukan apa-apa. Kalian boleh memarahinya atau membentak, Asal jangan menyakiti dia sedikitpun."

"Oh, Astaga.." Luhan tertawa melihat bagaimana Joonmyeon meniru Sehun dengan sangat sempurna, "Kau serius dia mengatakan itu semua?"

Joonmyeon mengangguk, "Ya!" Joonmyeon kembali seperti semula. "Aku belum pernah melihat dia seperti itu sebelumnya. Dia sudah sangat dewasa sekarang." gumam Joonmyeon.

Luhan tersenyum. Entah mengapa, mendengar bagaimana Sehun menghawatirkan dirinya membuat Luhan senang. Ada rasa bahagia yang bergejolak di dalam dirinya ketika mendengar cerita Joonmyeon barusan.

"Ini sudah malam," suara Joonmyeon membangunkan Luhan dari angannya, "Lebih baik kau tidur, Hyung."

Luhan mengangguk, "Hm. tentu. Kau juga harus masuk dan tidur," gumam Luhan sambil sedikit merenggangkan lengannya.

"Aku masuk sebentar lagi."

Luhan mengangkat bahunya, "Baiklah, aku duluan." Luhan berbalik dan hendak berjalan masuk, tapi tiba-tiba Joonmyeon kembali membuka suara, "Oh, hyung!"

Merasa terpanggil, Luhan berhenti dan menoleh ke arah Joonmyeon, "Ya?"

"Kurasa Sehun menyukaimu."

Luhan mengerjap beberapa kali.

Sehun..

Apa?


Sehun melempar joysticknya frustasi. Sementara Jongin bersorak gembira. "Haha Sehun, kau masih saja payah!"

Ejek Jongin pada Sehun yang baru saja kalah bermain game dengannya.

Sehun sudah terlalu lelah, jadi ia kehilangan fokusnya untuk bermain game. "Sudahlah, lupakan. Kau hanya beruntung aku sedang lelah." gumam Sehun membela diri.

"Alasan di tolak, tuan Oh Sehun. Aku tau kau payah."

Sehun menjitak kepala Jongin dengan jengkel sementara Jongin hanya bergumam tidak jelas. "Aku mau tidur," pamit Sehun singkat, lalu berdiri dari tempatnya dan keluar dari kamar Joonmyeon.

Kedua kaki jenjang Sehun melangkah pelan, Sehun menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Perasaannya sudah jauh lebih baik sekarang. Semua masalah sudah teratasi dengan baik, dan Sehun kembali mendapatkan semangat hidupnya yang sempat meluap hilang beberapa hari lalu.

Sehun melangkah melewati ruang tv, Ia menoleh ke arah balkon dan melihat seseorang disana. Siapa yang berada di luar malam-malam begini? fikir Sehun. Ia menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangannya, "Oh, Joonmyeon hyung?"

Suara Sehun cukup keras hingga terdengar oleh orang yang berdiri di balkon tersebut, Joonmyeon berbalik menatap Sehun, "Yah! Apa yang kau lakukan disana, huh?"

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu." gumam Sehun, "Sedang apa hyung diluar sana malam-malam begini?"

"Hanya mencari udara segar," jawab Joonmyeon, lalu menambahkan, "Yah! Pergi tidur! Ini sudah terlalu larut."

"Aish, bawel sekali." keluh Sehun, "Baiklah, aku duluan hyung," pamit Sehun, lalu melanjutkan jalan menuju ke kamarnya.

Sehun ingat ia meletakan tasnya di kamar yang terletak di samping kamar dimana Kyungsoo tidur, Ia pun melangkah menuju ke kamar tersebut. Tidak sampai lima menit kemudian, Sehun sudah sampai di depan sebuah pintu berwarna coklat. Tidak salah lagi, ini kamarnya. Sehun pun membuka pintu dan segera masuk kesana.


Awalnya Sehun bersikap biasa saja, ia membuka pintu tersebut, melangkah masuk, dan kembali menutup pintu. Sampai akhirnya ia mengangkat wajahnya, dan betapa terkejutnya ia melihat Luhan berdiri tidak jauh darinya.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

"L-luhan?" suara Sehun memecah keheningan.

Luhan mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya berkata, "O-oh, hey, Sehun." sapanya dengan canggung.

Sejak tadi keduanya memang belum berbicara banyak. Merekan tidak benar-benar mengobrol berdua. Mereka lebih sering berkumpul dan mengobrol sama-sama, Jadi ketika mereka hanya berdua sekarang, suasana canggung memenuhi keduanya.

"Kau tidur disini?" tanya Sehun, dan mendapat respon anggukan dari Luhan. "I-iya." jawab Luhan gugup.

"Oh." Sehun memandang sekeliling kamar tersebut. Hanya ada satu kasur berukuran besar disana. Apa itu artinya... Ia akan berbagi kasur dengan Luhan? Astaga ini benar-benar buruk.

Luhan mengerjap beberapa kali, lalu berkata, "Kau juga tidur disini?"

Sehun mengangguk, "Ya."

"Ooh." Luhan tersenyum kaku lalu melirik ke arah tempat tidur, "Kalau gitu, kau bisa tidur di kasur, dan aku akan tidur di sofa."

"Yah. Apa-apaan kau ini." Sehun berjalan mendekat, "Kau tidur di kasur, biar aku yang tidur di sofa." gumam Sehun lalu mendudukan dirinya pada sofa yang berada di salah satu sisi kamar tersebut.

Luhan tersenyum, Ia tiba-tiba teringat kata-kata Joonmyeon dan jantungnya lagi-lagi mulai berdetak tidak beraturan.

"Kau.. baik-baik saja?" tanya Sehun, melihat Luhan yang hanya terdiam.

"eh?" Luhan mengerjap lalu tertawa canggung, "Ya, ya, aku tidak apa-apa."

Sehun menatap Luhan selama beberapa detik lalu menghela nafas. Ia berdiri dari sofa lalu melangkah mendekat pada Luhan, "Luhan," panggilnya ketika ia sudah berdiri tepat di depan Luhan.

Luhan sedikit mendongakan kepalanya untuk menatap Sehun. Ya, perbedaan tinggi badan antara Sehun dan Luhan membuat Luhan malu pada dirinya sendiri. Tapi ia tidak terlalu mempedulikannya sekarang, Satu-satunya yang menarik perhatian Luhan adalah sepasang bola mata indah milik Sehun yang menatapnya dengan lekat dan damai.

"Terima kasih," gumam Sehun, membuat kening Luhan berkerut bingung, "Untuk apa?"

"Semuanya." jawab Sehun, "Terima kasih sudah melakukan semua ini."

Luhan tertawa kecil, "Hey, kau lupa? Aku hanya bertanggung jawab atas apa—"

Perkataan Luhan terhenti ketika Sehun tiba-tiba menarik dirinya ke dalam pelukan Sehun. Luhan terbenam dalam pelukan erat Sehun yang erat dan nyaman. Sebuah pelukan yang sukses membuat pipi Luhan memanas dan ia mendadak tidak bisa melakukan apapun.

"Jangan mengatakan hal itu lagi. Aku senang semua ini terjadi," gumam Sehun pelan sambil mengelus kepala Luhan lembut.

Perlahan Luhan tersenyum dalam dekapan Sehun, Ia menggerakan tangannya dan memeluk Sehun, "Oh Sehun.."

"Hm?"

"Aku sudah dengar semuanya dari Joonmyeon, Tentang kau yang sudah memberitau mereka sebelum aku berkata jujur."

Sehun tersenyum, "Oh, soal itu.. lalu?"

Luhan sedikit merenggangkan pelukannya, tangannya masih melingkar pada tubuh Sehun dan tangan Sehun masih mencengkram kedua bahunya lembut. Luhan menatap Sehun, "Kenapa kau baik sekali padaku? Padahal aku sudah sangat mengecewakanmu waktu itu."

Sehun mengelus pipi Luhan lembut, "Bukankah sudah jelas?"

"Hm?" Luhan memiringkan kepalanya tidak mengerti.

Sehun tersenyum gemas melihat wajah Luhan yang sangat imut, Ia mendekat ke arah Luhan lalu berbisik, "Itu karna aku menyayangimu."

Blush.

Luhan yakin pipinya sudah semerah tomat sekarang. Detak jantungnya yang memang selalu berdetak tidak normal ketika ia berada di dekat Sehun kini semakin menjadi-jadi. Ribuan kupu-kupu menari menggelitik di dalam perut Luhan.

"Jangan main-main, Oh Sehun." gumam Luhan sambil tertawa kecil.

"Apa aku terlihat seperti sedang bermain-main, hm?" Sehun menatap kedua mata Luhan dengan lekat, lalu kembali berbisik, "Aku jatuh cinta padamu, Luhan."

Dan detik itu juga Luhan bisa merasakan dirinya tidak pernah sebahagia itu sebelumnya. Karna Luhan tau, ia sendiri juga sangat mencintai Sehun. Dia sudah sangat jatuh cinta pada Sehun dan setiap detail tentang dirinya.

Luhan tidak tau harus bicara apa. Ia hanya mengelus pipi Sehun lembut dengan ibu jarinya, Lalu perlahan ia berjinjit dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Sehun hingga akhirnya..

cup.

Sebuah kecupan singkat mendarat pada bibir manis Sehun. Luhan tersenyum setelah memberikan kecupan tersebut, kemudian berkata, "Aku ingin melihatmu tampil dengan baik di showcase nanti."

Sehun mengangguk yakin, "Tentu saja." jawabnya. Sehun merangkup wajah Luhan dengan kedua tangannya lalu perlahan mendaratkan kecupan manis pada dahi Luhan.

Luhan tersenyum lalu kembali membenamkan dirinya dalam pelukan hangat penuh cinta Oh Sehun.


Showcase di adakan satu bulan kemudian. EXO berhasil tampil memukau pada showcase tersebut dan sukses membuat pihak SM kembali merekrut mereka untuk menjadi trainee.

Tidak lama setelah kelulusan member EXO, mereka menandatangani kontrak dengan pihak SM. Dan mulai saat itu hari-hari baru dengan status mereka sebagai trainee pun dimulai.

Latihan, latihan, dan latihan. Itulah makanan member EXO sehari-harinya. Mereka di latih agar matang dalam segala hal. Vocal, dance, dan yang lainnya. Ada saat dimana mereka menyerah karna hari yang sangat melelahkan, tapi mengingat bagaimana mereka sudah berjuang keras hingga sejauh ini membuat mereka kembali bersemangat menjalani semuanya.

Tiga tahun penuh perjuangan pun berlalu. Pihak SM menjadwalkan EXO untuk debut dalam waktu sebentar. Jadwal latihan semakin padat menjelang debut, Mereka mulai melakukan berbagai photoshoot dan syuting untuk teaser mereka. Setelah satu bulan di promosikan, akhirnya EXO resmi debut pada bulan April. Showcase pertama mereka sukses besar dengan habisnya 200.000 tiket dalam sekejap. Nama EXO melambung tinggi hanya dalam sekejap mata.

Jadwal EXO yang semakin padat setiap harinya membuat Luhan dan Sehun semakin memiliki sedikit waktu untuk bersama. Terlebih lagi Sehun sekarang adalah seorang public figure yang banyak di kenal orang. Fans EXO tersebar dimana-mana sehingga menyulitkan Sehun untuk diam-diam pergi dengan Luhan atau semacamnya.

Seperti saat ini, sudah kurang lebih dua bulan Luhan dan Sehun tidak bertemu. Sehun sibuk dengan jadwalnya, sementara Luhan sedang berada di Beijing sekarang. Luhan pulang sebentar karna ia merindukan kedua orang tuanya. Meskipun berada jauh dari satu sama lain, Sehun dan Luhan selalu menyempatkan waktu untuk sekedar bertukar pesan atau telfon. Bahkan jika ada waktu, mereka melakukan video call di malam hari.

Hari ini acara Music Bank spesial akhir tahun akan di tayangkan. EXO tampil dalam acara tersebut, Jadi Luhan menyempatkan dirinya untuk melakukan streaming melalui laptopnya. Ia ingin sekali melihat penampilan EXO, walau hanya melalui layar kaca. Ia ingin melihat penampilan Sehun.

Baru saja Luhan membuka link streaming yang ia dapat dari salah satu fans EXO di twitter, ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi dan nama Sehun muncul disana. Dengan cepat Luhan menyambar ponselnya dan meletakanya di telinga.

"Sehunie!" tukas Luhan semangat, membuat Sehun tertawa di ujung sana. "Hey, Lulu."

Luhan tersenyum mendengar suara Sehun. Astaga, ia benar-benar merindukan anak itu. "Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja, kan?" tanya Luhan.

"Tentu, Aku sehat, Kau tau bagaimana Joonmyeon hyung selalu memaksaku minum vitamin setiap harinya."

Luhan tertawa, "Ah, benar juga. Aku tidak perlu khawatir."

"Dan kau sendiri?"

"Aku baik-baik saja." jawab Luhan. Matanya sibuk memandangi layar laptopnya yang kini sudah mulai menampilkan Live streamingnya.

"Kau sibuk? Sedang apa?" tanya Sehun.

"Aku mau menonton acara Music Bank spesial akhir tahun, oh— hey, kau tidak siap-siap? Kau tampil dalam acara itu kan?"

Sehun tertawa di ujung sana, "Apa kau selalu streaming setiap kali EXO tampil dalam acara musik?" gumam Sehun, menghiraukan pertanyaan Luhan.

"Tidak selalu, tapi kali ini aku sangat ingin melihatmu. Kau tau kita sudah hampir dua bulan tidak bertemu, Apa kau tidak tau aku tersiksa karnamu, huh?" gumam Luhan frustasi.

Lagi-lagi Sehun tertawa di ujung sana, "Uhm.. Jadi kau benar-benar merindukanku, hm?"

"Aish. Tentu saja!" erang Luhan.

"Baiklah, kalau gitu.. Hm.. Asal kau tau saja, Acara yang kau tonton itu tidak live. EXO sudah melakukan pre-recording untuk acara itu dua hari yang lalu."

Luhan menaikan alisnya, "Oh, benarkah?" Ia melirik ke sudut layar laptopnya, ah, benar juga, tidak ada tulisan live disana. "Lalu dimana kau sekarang?"

"Hm.. Kau bilang kau merindukanku, kan?"

"Ya.. lalu?"

"Kenapa tidak coba lihat keluar jendela?"

Luhan terpaku untuk beberapa saat. Apa katanya?keluar jendela?

Luhan segera melesat ke arah jendela, menyibakkan gordennya dalam satu gerakan cepat, dan melihat ke luar.

"Astaga.." Luhan tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat sosok Sehun berdiri di bawah lampu jalanan, Ia bersandar pada tiang lampu, sebelah tangannya menggenggam ponsel sementara sebelahnya lagi di angkat untuk menyapa Luhan.

"Tunggu disana!" tukas Luhan, lalu segera melesat keluar dari kamarnya. Dengan perasaan bahagia yang meledak-ledak dalam dirinya, Luhan berlari semangat untuk menghampiri Sehun. Otaknya sudah berencana untuk memeluk Sehun dengan erat, karna ia sangat merindukan sosok yang sangat ia cintai itu.


"Tidak ada perjuangan yang sia-sia." – Oh Sehun, Only Hope.

The end.


OMG

ALHAMDULILLAH AKU AKHIRNYA NYELESAIN FF INI AAAAAAAAAAAAAA SENENG BANGET

INI CHAPTER PANJANG BANGET. MUNGKIN KALIAN BISA BACA INI SAMPE BOSEN. ASAL KALIAN TAU INI SAMPE 29 HALAMAN WORDS. WOW

Aku mau minta maaf karna lama update. Chapter ini aku edit terus, ya ga srek lah, ya ini lah, ya itu lah. Tapi akhirnyaa.. phew finally ini berhasil di selesaikan.

Aku mau ngucapin banyak terima kasih sama kalian yang udah nge fav, follow, dan mengapresiasi karya aku dengan review. Makasih banyak udah sabar nunggu ff aku sampe selesai. Makasiihhh banyak. Aku cinta kalian muah muah

Dan dengan berakhirnya ff ini, maka FF aku abis ;")

Tapi tenang, aku udah ada ide untuk ff baru kok. Dan pastinya HUNHAN DONGGG WOHOOOOOO

Okay, so, see you on the next one, my lovely readers.

Neomu saranghaeee! Khamsamida, arigatou, thank you, xiexie, terima kasih!