Ia berdiri, berjalan meninggalkan wanita itu

Kakinya tidak henti-hentinya bergerak

Sampai akhirnya ia berhenti

Tubuhnya bergetar hebat

Amarahnya memuncak

Ketika ia melihat dua orang yang sangat disayanginya

Terbaring berlumuran darah merah

.

Warning: TYPOS, OC, OOC (terutama Hinata), T Rate, kata baku-tidak baku.

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, OCnya milik readers yang mengirimkan.

This Story belong to Harashii

Chapter 6

TALES OF TAROTTIA

SEARCH: BEGIN!


Kedatangan Naruto membuat seisi kelas heboh. Tidak heran, baru beberapa hari pemuda itu menjadi anak baru malah sudah hilang begitu saja. Hampir semua orang di kelasnya melontarkan banyak pertanyaan kepada Naruto. Naruto mencoba membalas semua pertanyaan walau banyak jawabannya yang tidak serius. Hinata yang datang bersama pemuda berambut pirang itu mendengus kesal karena keributan yang diterimanya pagi ini.

'Harusnya cuekin saja kan bisa.' Batin gadis itu. Ia memutuskan untuk duduk di mejanya. Dia ambil sebuah buku pelajaran dan mulai sibuk berkutat dengan buku itu. Naruto yang sudah selesai menjawab semua pertanyaan itu menghampiri meja tepat disebelah Hinata.

"Fiuh! Akhirnya selesai juga!" Ujar Naruto sembari duduk di kursi.

"Orang popular sih beda ya? Kerjaannya meladeni fansnya." Kata Hinata.

"Elah mereka mah sih bukan fans, tapi orang kepo kurang kerjaan. Liat tuh, habis bertanya langsung pergi gitu aja! Kalau fans sih pasti setia dong!" Keluh Naruto. Hinata tidak membalas keluhan pemuda itu. "Ngomong-ngomong, kapan kita nyamperin Ichigo?" tanya Naruto.

"Kita akan mencarinya terlebih dahulu saat istirahat nanti. Lagian aku gak tahu dia kelasnya dimana juga." Jawab Hinata. Obrolan mereka berdua berhenti begitu Kurenai masuk ke kelas.

.

.

Saat istirahat siang…

Bel istirahat terdengar sangat indah di kuping Namikaze Naruto. Hati pemuda itu berbunga-bunga karena merasa senang akan bertemu ksatria lain. Berdirilah dia dari kursi yang didudukinya dan melihat Hinata.

"Hinata! Ayo kita cari info tentang Ichigo!" Ajak Naruto bersemangat.

"Oke, ayo." Jawab Hinata singkat sembari berdiri dari kursinya. "Tak ada tempat mencari info paling lengkap selain ruang dosen. Kita akan mencari kesana terlebih dahulu."

.

"Permisi, maaf menganggu." Ucap Hinata setelah membuka pintu ruangan dosen. Di ruangan itu, kebetulan hanya ada seorang dosen saja, Kakashi.

"Oh? Namikaze Naruto dan Hyuuga Hinata kan? Ada perlu apa kemari?" tanya Kakashi.

"Kakashi-sensei~ Kami datang kesini untuk menanyakan tentang seorang mahasiswa!" Jawab Naruto langsung ke intinya.

"Seorang mahasiswa? Siapa?"

"Ano, namanya Hitohoshi Ichigo. Kami ingin menanyakan kelas yang ia tempati saat ini." Kata Hinata.

"Hitohoshi Ichigo ya? Sebentar, saya cari dulu." Balas Kakashi. Pria berambut abu-abu itu mulai mencari data mahasiswa dari sebuah buku. Tidak perlu waktu lama, dia berhasil menemukannya.

"Hitohoshi Ichigo, mahasiswa fakultas hukum semester 4 yang berumur 20 tahun. Melihat mata kuliah yang diambilnya saat ini, kurasa ia ada di kelas H-1. Tidak jauh dari sini." Jelas Kakashi sembari membaca data tentang Ichigo.

"Ah begitukah? Ternyata dia kakak kelas ya. Kalau begitu terimakasih atas infonya, sensei. Itu sangat membantu sekali." Ucap Hinata sopan.

"Terimakasih sensei! Kalau begitu kami akan pergi sekarang!" Pamit Naruto.

"Eh tunggu! Kalian memang ada perlu apa dengan dia—" Mulut Kakashi (emang keliatan?) berhenti berbicara begitu melihat Hinata dan Naruto sudah hilang. "Dasar anak muda!"

.

Di depan kelas H-1 Fakultas Hukum

"YOOOOOOW! APA DIKELAS INI ADA SEORANG COWOK BERNAMA HITOHOSHI ICHIGO!?" Teriak Naruto tidak tahu malu. Hinata yang ada dibelakangnya menutup mukanya menahan malu melihat tingkah Naruto.

'Ga kenal, sumpah gak kenal!' batin gadis berambut indigo itu.

"Ssst! Jangan berisik! Tolong pelankan suaramu!" sambar seorang mahasiswi berambut hitam.

"Ugh, maafkan kami. Maksud kami berada disini kami ingin bertemu dengan mahasiswa bernama Hitohoshi Ichigo-senpai. Apa dia ada di kelas?" tanya Hinata dengan cepat.

"Hoo, iya memang berada di kelas ini. Tapi baru saja ia pergi." Jawab mahasiswi tersebut.

"Eh? Begitukah? Apa senpai tau kemana kah dia?" tanya Hinata kembali.

"Kurasa saat ini dia berada di tempat favoritnya! Di taman kampus fakultas kita. Biasanya kalau gak ada kerjaan Ichigo akan duduk disana ala orang galau gitu!" Sambar mahasiswi lainnya.

"Di taman kampus ya? Baiklah terimakasih infonya senpai! Kami pamit dulu." Ucap Hinata sembari membungkukkan badannya. Naruto yang tadinya asik sendiri disebelahnya terpaksa ikut-ikutan membungkuk berkat kiriman deathglare dari Hinata.

"Sama-sama, ngomong-ngomong, kalian ada perlu apa dengan Ichigo?" Tanya mahasiswi berambut hitam.

"Ada dehhh! Ayo kita cabut Hinata!" Ajak Naruto menarik tangan gadis bermata lavender itu. Dengan secepat kilat, keduanya menghilang (lagi) dari situ.

.

Di halaman kampus fakultas hukum…

"Kalau kita tidak salah dengar, Ichigo berada disini!" Celetuk Naruto.

"Ichigo-senpai bukan Ichigo! Dia itu kakak kelas kita tau!" Peringat Hinata.

"Bodo amat lah~ ntar kan bakal jadi teman seperjuangan aku ini!" Ujar Naruto cuek. Hinata cuman bisa menghela nafas melihat tingkah pemuda yang satu itu. Mata gadis itu mulai mencari keberadaan Ichigo. Taman fakultas hukum itu bisa dibilang sangat luas. Selain banyaknya pepohonan yang rindang, kebersihannya juga sangat terjaga. Disitu terlihat banyak mahasiswa/I yang mondar mandir ataupun duduk menikmati makan siangnya. Saat ini Hinata terkagum dengan pemandangan taman itu. Maklum, walau sudah beberapa bulan kuliah disini, ia tidak pernah mengunjunginya.

GRAB!

"Oiiiii~ bangun udah pagi!" Kata Naruto merasa dicuekkin. Tangan pemuda itu memegang tangan kanan Hinata yang sukses membuat Hinata kembali fokus pada tujuan sebenarnya.

"Iya iya. Sekarang, bisa tolong lepaskan tanganku?" pinta Hinata. Namun aneh, Naruto tidak menjawab apa-apa. Ia malah diam tidak bergeming sekalipun, "hei Naruto-san! Kok malah diam sih! Bangun udah sia—"

"Aku bisa merasakannya." Potong Naruto.

"Merasakan? Merasakan apa?"

"Aku bisa merasakan keberadaan Ichigo, Hinata! Tepat setelah aku memegang tanganmu, aku langsung tahu saat ini ia berada dimana! Ini ajaib Hinata! Kamu benar-benar memiliki kemampuan seperti itu!" Seru Naruto.

"Eh? Apa maksudmu?"

"Dia berada di dekat sini Hinata!" Tanpa menjawab pertanyaan Hinata, Naruto kembali menarik tangan gadis itu.

.

Di dekat pohon maple…

"Disini! Keberadaannya terasa sangat kuat disini!"

Saat ini, kedua orang itu berada di tengah pepohonan maple. Suasana disini sangatlah sejuk. Suara burung berkicau dengan sangat indah. Musim semi sangat mendukung keadaan disekitar sini. Daun-daun yang berasal dari pohon maple tersebut berguguran dengan pelan.

"… Entah kenapa aku merasa sangat tenang…" ucap Hinata.

"…" Naruto tidak membalas apa-apa. Mata birunya melirik keseluruh arah. Tapi nihil, keberadaan Ichigo tidak ditemukan dimanapun.

"Hoi, sekarang bisa kah kau lepaskan tanganmu dariku?" pinta Hinata.

"Oh iya ya! Hahaha maaf!" Naruto melepaskan pegangan tangannya. Aneh. Begitu ia melepaskan tangannya dari Hinata, sekarang ia tidak bisa merasakan keberadaan Ichigo.

"Baiklah, ayo kita teruskan pencarian—"

"STOP HINATA!" Sambar Naruto.

"Apalagi sekarang? Kalau kita tidak cepat-cepat mencari Ichigo-senpai, waktu istirahat akan habis!" Balas Hinata.

"Aku harus memegang tanganmu lagi Hinata! Hanya dengan itu, aku bisa merasakan keberadaan Ichigo!" Jelas Naruto sebelum Hinata pergi.

"Benarkah? Kamu serius?"

"Dua rius! Entah kenapa begitu aku memegang tanganmu, aku merasakan keberadaan Ichigo. Aku tahu betul saat itu ia berada dimana!"

"Hmm? Aku mendengar ada namaku di percakapan kalian. Ada perlu apa denganku?" Kata suara seorang pemuda dari arah belakang Hinata dan Naruto. Dua orang sejoli itu melihat kearah belakang mereka. Hinata langsung menyadari siapa pemuda itu. Berambut biru dengan mata berwarna biru pula. Pemuda itu membetulkan kacamatanya dan tersenyum tipis. Dia adalah Hitohoshi Ichigo. Salah seorang dari duabelas ksatria.

"Naruto-san, dia orangnya! Dia Hitohoshi Ichigo yang kita cari! Ciri-cirinya sekarang ini sama persis dengan yang kutemui waktu itu… Naruto-san?" perkataan Hinata terhenti begitu melihat Naruto menangis. Seorang Namikaze Naruto, si tukang rusuh (menurut Hinata) menangis.

"Akhirnya aku menemukan satu orang… setidaknya satu orang…" gumam Naruto. Entah kenapa, Hinata sangat ingin menghapus air mata pemuda itu. Menyuruhnya untuk berhenti menangis.

"Menemukan? Ano… apa salahku sampai membuatmu menangis?" tanya Ichigo malah jadi tidak enak hati.

"Ah tidak tidak! Dia hanya sedang error saja hari ini jadi tiba-tiba menangis!" bantah Hinata. Gadis itu dengan terburu-buru menghapus air mata Naruto. "Ssst! Berhentilah menangis. Aku tau kamu terharu menemukan rekanmu. Tapi kalau menangis begini dia malah tidak enak hati jadinya!" Bisik Hinata di telinga Naruto. Mendengarnya, Naruto mengangguk dan mengambil nafas. Pemuda itu berhasil menghentikan tangisannya.

"Ahahaha… begitukah? Hum, kalau begitu langsung saja. Kenapa kalian menyebut namaku? Kalian ada perlu denganku?" tanya Ichigo lagi.

"Benar. Kemarin, senpai sempat mencariku kan? Ada perlu apa denganku? Rasanya tidak mungkin sekali kalau senpai mencariku hanya untuk melihatku saja!" Jelas Hinata.

"Eh? Tapi itu benar adanya kok." Jawab Ichigo singkat.

"Kalau begitu, apakah kamu mendengar sebuah suara sebelumnya?" Kali ini Naruto yang bertanya.

Duk!

Hinata menyenggol Naruto pelan, "Dia itu kakak kelas! 'Senpai' bukan 'kamu'!"

"Tidak apa-apa kok Hinata-san. Sebelumnya kamu siapa ya?" Ichigo menunjuk pada Naruto.

"Sampai lupa memperkenalkan diri! Namaku Namikaze Naruto." Kata pemuda berambut pirang itu memperkenalkan dirinya.

"Senang bertemu denganmu, Naruto-kun." Ujar Ichigo sembari menyunggingkan senyumnya."Kalau begitu langsung saja. Benar apa katamu, Naruto-kun. Lusa kemarin, aku sempat mendengar sebuah suara aneh. Suaranya tidak begitu jelas, jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Namun esok harinya, beberapa menit sebelum aku bertemu dengan Hinata-san, aku mendengar sebuah suara yang mengatakan, 'Dia ada disini. Dia sedang kebingungan. Carilah dan lihatlah keadaannya.' dan entah kenapa, instingku mengatakan aku harus pergi mencari seseorang. Saat itu lah aku berjalan menuju kelas Hinata-san dan pada akhirnya bertemu denganmu. Aku pikir, kamulah seseorang itu. Begitulah kira-kira."

"Sebenarnya suara siapa itu?" tanya Hinata.

Sebagai jawaban, Ichigo menggelengkan kepalanya, "Sampai saat ini aku tidak tau itu suara siapa."

"Aku tau itu suara siapa!" Seru Naruto, "itu adalah suara dari The Magician!"

"The Magician? Kamu sedang membicarakan tentang dongeng 12 ksatria kan?" Balas Ichigo.

"Bagian dongengnya salah tapi bagian duabelas ksatrianya benar! Yang berbicara padamu adalah suara dari The Magician! Berarti kamu memang sudah menyatu dengan The Magician!" Jelas Naruto.

"Naruto-san… pembicaraanmu makin melantur…" Kata Hinata.

"Aku tidak melantur, Hinata! Untuk apa aku melantur?" Balas Naruto tidak terima. Ichigo hanya bisa menyerngitkan alisnya tanda kalau dia kebingungan.

TENG TENG TENG

"Pembicaraan kita akan berhenti sampai disini. Kuharap kita bisa melanjutkannya nanti setelah pulang dari kuliah. Aku masih penasaran dengan apa yang kamu katakan tadi. Nanti jelaskan padaku ya? Kita akan bertemu di kantin nanti sore. Sampai jumpa!" Pamit Ichigo dengan rasa penasaran. Pemuda berambut biru itu pergi dari situ.

"Dia sudah pergi. Sebaiknya kita pergi juga." Ujar Hinata. Ia mulai berjalan dari situ.

Naruto terdiam sebentar, dan pada akhirnya mengikuti Hinata.

.

'HAHAHA! Kau itu bodoh ya!'

.

Sekitaran pohon maple itu sepi begitu bel yang menandakan waktu istirahat sudah habis berbunyi. Tidak ada siapa… siapa? Tidak. Ada orang. Dua. Mereka bersembunyi diatas pohon. Mereka memakai topeng putih.

"The Magician sudah ditemukan! Waktu pemusnahan telah tiba!"

"Kau benar. Waktu dimana kita bisa balas dendam akhirnya tercapai."

To Be Continued


Harashii: Sepertinya ini chapter terpendek yang pernah saia buat? Well akhirnya kedua pasangan itu mulai berinteraksi dengan ksatria lainnya. Disini misteri kembali bertambah. Akan saia beri hint:

Dongeng 12 ksatria yang diceritakan di Konoha berbeda dengan kenyataannya.

Itu saja mungkin hehehe. Bagi yang ingin menebak monggo. Oh ya dari sini saia open buat para pemilik OC yang ingin mengirimkan latar belakang para OCnya.

Saia ingin menjelaskan tentang sistem perkuliahannya. Sebagai pelengkap saja tentunya takutnya ada yang bingung. Kuliah di Konoha University terbagi jadi tiga rumpun ilmu, yaitu:

Rumpun Ilmu Kesehatan: Kedokteran, Ilmu Keperawatan, Kesehatan Masyarakat, dan Farmasi.

Rumpun Ilmu Sains dan Teknologi: Ilmu Komputer, Teknik Elektro, dan Arsitektur.

Rumpun Sosial dan Humaniora: Ilmu Hukum, Ekonomi dan Bisnis, Akuntansi, Hubungan Internasional, Seni, Bahasa dan Sastra, Ilmu Komunikasi, Psikologi, dan Sejarah.

Tentunya semuanya berbeda gedung yang menyebabkan Konoha Univ itu sangat besar. Sampai-sampai masing-masing fakultas punya bis sendiri. Oh ya itu terinspirasi dari sebuah univ di Indonesia dan kedua ala-ala saia sendiri hahaha *ditendang*. Jadi saking luasnya disini sampai-sampai ada bis khusus kalau mau pergi dari fakultas ke fakultas lainnya. Disediakan juga sepeda.

Sejauh ini julukan yang sudah terisi: The Devil, The Moon, The Fortune, The Hermit, The Star, The Magician, The Lovers, The Sun, The Justice.

Julukan yang BELUM terisi (masih dibutuhkan): The Strength, The Priestess.

Note: The Priestess haruslah seorang perempuan.

Mungkin itu saja yang bisa saia tuliskan.

Terimakasih buat dukungan dari review, favorite, follow, ataupun silent reader. Saia senang sekali.

Hope you enjoy the stories!

See u later~

(Don't forget to review and fav and follow wkwk, terima kritikan dan saran. Flame kelaot aje)