Uchiha Riri :Hmm.. Step Father yaa? Iiyaa nanti dilanjut lagi kok. Lagi nunggu antrian :Dv #TabokinAuthor :*

Lady Bloody : kkyaaaa~~ jujur akyuu belom mikirin endingnya siihh Naru Waifu

Sakura Uchiha Stivani, Hanazono Yuri, Nurul chan, Erna Can,Ito : udah lanjut niih. Makasiih yaa

: hhehehe, mau gak mau harus ituhh mahh. Apa mau langsung end ajaa nih ? :P wkwkwkkw

Tomato man : udah aku kira ada yang ripiu begini makasiih sebelumnya, aku jadi bisa menjawab. Buat kamu dan readers lain yang jug baca fict ini dan merasakan hal yang sama ini semua murni ketidak-sengajaan. Odes juga gak tau kenapa bisa disebut sama. Padahal pada saat nulis ini (Ini fict pertama odes di FB, saat itu odes baru gabung di grup FES dan belum sama sekali kenal FFN), jujur odes gak tau FuraHeart senpai tapi setelah dikasih tahu teman, dan odes baca, emang iyaa sih Love Me Again punya konsep cerita yang sama yaitu tentang BackBitting. Tapi odes bisa jamin dengan nyawa odes bahwa fict ini sama sekali tidak bermaksud meniru apalagi plagiat dari maha karya FuraHeart senpai. Apalah saya ini jika dibandingkan dengannya tapi odes akan berusaha memberikan yang terbaik. Yoosshhh~~

Guest : hehehhe, iiyaa sama-sama. Makasii udah berkenan baca dan ripiiuu

Ss : hehehehe, makin complicated deh jalan ceritanya. Jujur odes aja belom tempeehh gimana lanjutannya #JedotinPalaKeDadaItachi :*

TERIMAKASIH BANYAK ATAS DUKUNGAN DAN RIPIIUU KALIAN :D

Salam sayang selalu,

#BiniPertamaCanon Uchiha Itachi

0des

.

.

.

BE MINE ( PART VI)

Main Cast : Sakura Haruno x Sasuke Uchiha

Sub Cast : some character in "Naruto"

Disclaimer by Masashi Kishimoto

Rate : M

Category : Romance, hurt/comfort

Original "abal" story by me :Dv ( Odes )

.

.

Hooiii, terimakasih sudah mampir ke FanFic GaJe ana bal ini. Tanpa bermaksud meniru apalagi mengcopy karya besar Masashi Kishimoto Sensei, cerita ini lahir dari kegilaan sesaat otak saya saja. Buat saya menulis bukan sekedar hobby, menulis adalah saya. Dan saya hanya akan menulis apa yang memang harus (dan saya sukai) saya tulis.

Nb : begitu dirasa ceritanya gak cocok dengan kamu, gausah diterusin yaa bacanya :D. arigatou

(Adegan love hurts bertebaran dimana-mana! Yang nggak tega Sasuke disakitin, dilarang baca part ini! ) :Dv

-000000-

"Nii chan…" desah Sakura mengapa, rasanya sedih sudah lama kata itu tak meluncur dari bibir mungilnya.

"Sakura chan… kau kah itu? Kau dimana? Kau baik-baik saja?" berondongan pertanyaan ini tampak mengalir dari laki-laki diujung telepon sana. Membuat jantung gadis merah jambu itu berdetak cepat.

Kami-Sama… ini kah suara kakaknya? Kalau begitu mengapa sang suami selama ini selalu menyembunyikan mengenai keluarganya?

DRAP DRAP DRAP…

Suara langkah terburu-buru terdengar dari lorong.

"Sakura chan… hallo… Sakura chan… bicaralah kumohon!" suara itu terdengar panik. Sementara Sakura justru merasakan bibir dan lidahnya kelu sehingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

"Nii chan… aku…aku…."

PIPP PIIPPPPP~

Sebuah tangan merebut handphone itu dan mematikan teleponnya. Tangan milik suaminya. Uchiha Sasuke!

"Sasuke …" ujar Sakura takut-takut saat melihat sosok dihadapannya ini. Raut wajah tampan pemuda itu terlihat menegang dengan urat-urat bertonjolan di sekitar dahinya. Dia pulang untuk mengambil tas nya yang lupa dia bawa.

"Apa yang kau lakukan, Sakura ?" tanyanya dengan nada yang bisa dibilang bentakan kecil.

'A-a…aku..ak-aku…." Sakura gugup luar biasa saat sepasang onyx milik Sasuke menatapnya intens. Seolah ingin melumatnya. Melihat ekspresi ketakutan sang istri, Sasuke berusaha bersikap lunak meski kecemasan menghantui dirinya.

Mungkinkah gadis merah jambu itu sudah mengetahui semuanya? Marahkah dia? Bencikah padanya? Masih adakah kesempatan baginya untuk memperbaiki segala kesalahannya di masa lalu.

Sasuke melangkah maju. Mendekati gadis merah jambu yang telah resmi menyandang Nyonya Uchiha. Namun sang istri justru tampak menghindar menjauh.

"Ada apa Sakura ?" tanya Sasuke sambil duduk di tepian ranjang berukuran besar mereka. Bersebelahan dengan sang istri yang tampak enggan.

"Ap…apa yang sebenarnya terjadi? siapa aku ini? Milik siapa handphone itu? siapa gadis yang berada di dalam foto? Mengapa banyak sekali fotomu disana? Berondongan pertanyaan itu meluncur dari bibir mungilnya.

Sasuke tergeragap mendengar pertanyaan sang istri. Ekspresi ragu-ragu juga sikap sang suami yang enggan menjawab pertanyaan membuat Sakura kian meradang.

"Jawab Sasuke… jawab!" pinta gadis merah jambu itu. Emeraldnya melayangkan pandangan memohon.

"Kau tidak perlu tahu, Sakura. Itu tidak penting. Masa lalumu tidak penting, yang penting adalah masa depanmu bersamaku. Masa depan kita…" jawab Sasuke akhirnya setelah terdiam cukup lama. Dia memutuskan untuk tetap merahasiakan masa lalu mereka. Pemuda tampan berambut raven itu terlalu takut untuk kehilangan istri tercintanya.

"Ta-tapi…tapi Sasuke…" ujar Sakura terbata. Jika dia memang memiliki keluarga, kenapa Sasuke tak pernah menceritakannya. Malah seolah menutupi dan menjauhkan mereka.

"Tidak ada tapi-tapi lagi Sakura ! Ini perkataan suami mu…" tegas Sasuke. Itu adalah raut paling tegas yang pernah gadis merah jambu itu lihat di wajah suaminya. Membuat Sakura terdiam seribu bahasa.

-0000-

Malam sudah beranjak larut. Namun rasa kantuk belum menghinggapiku. Rasanya dulu juga begitu. Saat menunggui gadisku ini terbangun dari tidur panjangnya, rasanya aku tak rela memejamkan mata dan kehilangan saat pertama melihat emerald hijau jernihnya menatap dunia untuk kedua kalinya.

Namun kali rasanya berbeda. Meski rasa cemas tetap menghinggapiku, namun rasa cemas yang ini terasa lain. Gadisku memang sudah sadar dan bahkan sudah resmi menjadi istriku. Menjadi seorang Nyonya Uchiha. Namun masa lalu masih membayangi kami, berusaha merenggutnya dari sisiku.

Kupandangi wajahnya yang tengah tertidur pulas. Dengkuran halusnya, aturan nafasnya yang seirama dengan gerakan dadanya yang naik turun. Rasa bersalah menghinggapiku. Aku telah memisahkan gadis ini dari keluarganya. Aku memisahkan gadis ini dari masa lalunya. Aku memisahkan gadis ini dari sahabat dan kehidupan lamanya untuk menuruti keegoisanku memilikinya sepenuhnya.

Ku usap helaian soft pink nya perlahan. Namun Sakura tak bergeming. Tampaknya dia terlalu lelap dibuai mimpi.

Kejadian hari ini kuakui memang kecerobohanku. Meninggalkan tas pribadi dengan barang sepenting itu, semua adalah salahku. Sekarang gadis itu tampaknya mulai sedikit mengetahui dan mengingat masalalu yang selama ini aku sembunyikan rapat-rapat.

Keesokan paginya, hubungan kami tampak sedikit canggung. Sakura tampak segan dan berhati-hati denganku. Atau itu hanya bentuk dari protesnya karena aku tidak mau menceritakan soal handphone itu dan pemiliknya.

Bahkan saat kami sarapan pun gadis merah jambu itu masih saja menampilkan kecanggungannya. Membuat perasaanku menjadi tidak enak.

"Apa yang terjadi? mengapa sikapmu begitu pada suami mu?" tanyaku dengan nada sedikit naik saat gadis bersuai merah jambu itu hanya diam saja melihatku makan. Dia sama sekali tidak menyentuh makanan nya ataupun melayaniku seperti biasa. Emeraldnya menunduk. Enggan menatapku.

"Sakura …?!" panggilku. Namun dia masih enggan menjawab atau menatapku.

" Uchiha Sakura!" saat nada yang kugunakan naik 2 oktaf barulah dia mengedarkan pandangannya. Emeraldnya menatapku dengan balutan cairan bening yang tampak menggenang.

"Ada apa? Kenapa sikapmu seperti itu?" tanyaku lagi.

"Kenapa kau tidak ingin berbagi cerita padaku, Sasuke..?" istriku itu balik bertanya dengan suara lirih.

"Soal apa…?" tanyaku sambil memandang tajam ke arahnya. Segala persoalan ini membuat kepalaku sakit,

"Siapa Haruno Sakura..?!"

DEG

Gadis bersuai merah jambu itu, gantian menatapku tajam. Seolah emeraldnya tidak ingin kehilangan setiap perubahan ekspresiku. Tanpa sadar, wajahku yang kian menegang tertunduk.

"Siapa dia? Itu handphone miliknya kan? Lalu kemarin ada 2 orang temanmu yang datang kemari… mereka memanggilku Haruno Sakura. Apa maksudnya itu?!"

DEG~

2 orang temanku? Siapa? Apa mungkin Naruto dan Shikamaru? Tampaknya memang mereka, karena hanya mereka lah sahabat karibku dan orang yang memiliki akses masuk ke rumah utama klan selain seorang Uchiha.

Aku kehabisan kata-kata untuk menjawab berondongan pertanyaannya. Jantungku berdebar kencang hingga rasanya menyakitkan. Dia tidak boleh tahu… dia tidak boleh tahu… itu yang selalu ku ulang berkali-kali dalam hati.

Melihatku yang tak kunjung menjawab pertanyaannya membuat gadis merah jambu yang telah resmi menjadi istriku itu kesal dibuatnya.

"Apa yang sebenarnya kau coba sembunyikan dariku, Sasuke…?" tatapan penuh permohonan itu mengusikku.

"Aku tidak ingin membahas masalah ini lagi Sakura…"

"Kenapa…?"

"Karena tidak ada gunanya bagi kita. Tidak ada gunanya bagimu juga bagiku.."

Jawabanku itu rupanya tidak membuatnya puas.

"Baiklah… jika kau tidak mau memberitahu, aku akan mencari tahu sendiri. Aku akan ke Konoha!" tegasnya dengan raut marah. Wajahku kontan menegang seketika.

"APA?! " tanpa sadar, aku berteriak padanya.

"Tidak…kau tidak kuijinkan pergi kemanapun…!"

"Kenapa? Kenapa tidak?" raungnya tidak terima.

"Apa seperti itu kelakuanmu pada suamimu jika suamimu sudah berkata tidak, Sakura..?!" geramku sambil menggebrak meja. Gadis bersuai merah jambu itu tergeragap kaget dengan raut ketakutan. Onyxku menatapnya nyalang, dengan raut marah yang begitu terbaca.

"Sekarang juga…Masuk!" perintahku sambil mengatur nafas. Berusaha meredam amarahku yang tampaknya sudah memuncak.

"Ta-ta…tapi…" gadis yang telah resmi menjadi istriku itu masih menampakkan keberatannya.

"MASUK!" gelegar suaraku seketika membuatnya kaget dan takut. Cairan bening yang sejak tadi menggenangi emerald indahnya tumpah. Dengan gerakan kaku, dia meninggalkan meja makan. Masuk ke dalam kamar pribadi kami.

Aku memijit keningku. Kepalaku rasanya sakit dan mau pecah. Segera persoalan ini membuatku gila.

Lagi-lagi aku membuatnya menangis. Sudah sejak dulu, yang bisa kulakukan padanya adalah memberinya airmata. Sebenarnya apa yang sudah kulakukan? Apa aku salah? Aku hanya ingin mempertahankannya, menjadikannya tetap hanya milikku. Menjauhkannya dengan masa lalu yang akan merenggutnya dari sisiku.

TRULLUUTRULUU~~

Handphone ku berdering nyaring. Tertera nama sahabat karibku, Shikamaru Nara di layar. Aku pun segera menjawab panggilannya.

"Hn…"

"Sasuke? Kau dimana? Ada yang harus kita bicarakan..!" nada suara mahasiswa dengan nilai ujian masuk sempurna itu terdengar panik. Padahal selama ini, diantara aku dan si baka 'Dobe' Uzumaki Naruto, dialah yang paling santai.

"Dirumah… apa ada masalah?" tanyaku masih memijit keningku yang terasa sakit. Ada apalagi ini?

"Ya... Cepatlah datang! Aku tunggu kau di rumahku… " KLIK. Telepon di putus. Bahkan sekarang sahabatku itu justru menambah rasa sakit di kepalaku. Ada masalah apa lagi? Apa ada hubungannya dengan kedua sahabatnya itu yang telah bertemu Sakura?

Sebelum aku pergi, aku meminta maid kepercayaanku, Ayame san untuk mengunci pintu kamar dan tidak membiarkan siapapun masuk dan menemui gadis berhelai merah jambu itu kecuali aku

"Maafkan aku, Sakura…" desahku pelan tepat di depan pintu kamar kami yang telah terkunci rapat.

-000-

Kediaman klan Nara berada di pinggiran Konoha. Melewati hutan yang nampak asri di pinggiran kota besar yang selalu ramai dengan geliat aktivitas modern nya. Klan Nara merupakan klan yang terkenal memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata. Bahkan ayah Shikamaru, Shikaku diangkat menjadi kepala riset obat-obatan oleh rumah sakit Konoha yang dikepalai Haruno Tsunade, Ibu dari Sakura.

Setelah ku parkir sedan sport hitamku, aku melenggang masuk ke dalam rumah. Melewati hamparan tanaman yang luas. Hobi Shikamaru Kaa-san adalah berkebun. Tidak heran halamannya terawat dengan berbagai jenis tanaman. Dari mulai tanaman hias sampai tanaman obat-obatan untuk keperluan riset sang suami.

Ini juga sudah seperti rumahku sendiri. Karena itu, saat melihat rusa-rusa peliharaan keluarga Nara, aku bisa langsung mengetahui bahwa ada anggota yang baru bergabung. Karena jumlahnya bertambah 2 ekor sejak saat terakhir aku kemari.

Shikamaru dan Dobe tampaknya sudah mengantisipasi kedatanganku. Mereka langsung menyambutku dan membawaku ke kamar pribadi Shikamaru, tempat kami biasa berkumpul. Pintu geser langsung ditutup secara perlahan setelah mereka memastikan tidak ada satupun orang yang akan mendengar pembicaraan kami.

"Ada apa?" tanyaku dengan raut bingung dengan sikap mereka yang tidak biasa. Terutama raut wajah Naruto. Baru kali ini aku melihatnya begitu tegang.

"Kau… Sakura chan…kau dan Sakura chan… arrrrggghhh… aku tidak bisa bicara. Kau saja…" si baka Dobe itu bahkan sampai terbata berbicara. Namun mendengarnya menyebut nama istriku, aku sudah mengetahui kelanjutannya.

Shikamaru memandang sebal ke arah Naruto. Padahal tadinya pemuda kuning itu yang paling semangat untuk bertanya padaku.

"Begini Sasuke… kemarin…kami ke rumahmu. Dan kami…bertemu…. Haruno Sakura…" ujar pemuda berambut nanas itu berhati-hati. Matanya menelisik setiap perubahan di wajahku.

"Kalian sudah mengetahui rupanya…" desahku akhirnya. Tak ada lagi gunanya menyembunyikan hal ini dari mereka. Hal yang selama ini aku tutup rapat-rapat dari kedua sahabat karibku itu.

"Huwaaaa…jadi itu benar? Kau yang menemukan Sakura chan?" tanya Naruto dengan raut antusias yang kelihatan bahagia. Aku menggeram ke arahnya.

"Jangan memanggil istriku dengan panggilan chan, Dobe…" ujarku sambil memelototinya galak. Raut terkejut yang tergambar jelas diwajah mereka pasti akan membuatku tertawa terbahak seandainya saja kepalaku tidak sedang pusing seperti sekarang ini.

"Eeehhh?! Ap…APAA?!" teriak Naruto kencang. Pemuda kuning itu sampai lupa kalau kami sedang bersembunyi disini.

PLAK

"Baka…Baka! Baka…!" omel Shikamaru sambil memukul kepala sahabatnya itu. Naruto meringis, antara kesakitan, kaget dan geli.

"Apa maksudmu Sasuke?" tanya pemuda berambut nanas itu, mengalihkan tatapannya padaku.

Kupamerkan sekali lagi anting yang menghiasi kedua telingaku. Kusibak helaian raven yang menutupi daun telingaku. Memperlihatkan kembali pada mereka dari jarak dekat. Anting berbentuk S dan U. S melambangkan nama istriku, Sakura. U untuk marga klan kami, Uchiha.

"Oh Kami-Sama…" desah Naruto dengan gaya berlebihan. Aku tau awalnya sahabat karibku itu memang menyukai Sakura. Mereka telah saling mengenal sejak kanak-kanak. Karena keluarga mereka cukup dekat. Hanya saja mereka tidak pernah berada di satu sekolah yang sama. Baru saat di tingkat Universitas ini mereka bertemu kembali.

"Kau menikahi Haruno? Kenapa?" tanya Shikamaru. Seolah tidak memperdulikan pemuda kuning di sebelahnya yang heboh berlebihan dengan berguling-guling kesana-kemari.

"Tentu saja karena aku mencintainya…" jawabku tegas. Kedua temanku itu memandangku seolah aku adalah alien yang sudah dicuci otaknya. Tentu saja karena Uchiha Sasuke yang mereka kenal selalu acuh dan membenci setengah mati gadis merah jambu itu.

"Jadi… selama ini Haruno bersamamu? "tanyanya lagi. Aku menjawabnya dengan anggukan singkat.

"Sakura chan memang sejak dulu mencintaimu. Tidak heran dia langsung mengiyakan waktu kau mengajaknya menikah. Bahkan sampai melupakan kekhawatiran keluarganya…" ujar Naruto. Lagi-lagi lupa menyelipkan suffiks chan di belakang nama istriku. Membuatku –lagi-lagi- harus memelototinya.

"Dia hilang ingatan.." jawabku sambil menundukkan pandangan.

"HAHH? Bagaimana bisa?" tanya Naruto kaget. Pemuda itu bergeser mendekatiku.

"Aku mendorongnya dari tangga kantin, malam saat Neji senpai bertunangan. Dia terjatuh dan koma sejak saat itu. baru seminggu ini dia siuman dan aku memutuskan untuk menikahinya…" jawabanku membuat keduanya saling berpandangan.

"Jadi kau… selama ini…" bahkan Naruto pun tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Wajahnya menyiratkan kebingungan yang nyata tentang rahasia yang selama ini aku sembunyikan dari mereka berdua.

"Ya…. Maafkan aku…" jawabku sambil menundukkan kepala. Lalu kurasakan sebuah lengan merangkul pundakku erat.

"Kau seharusnya memberitahu kami Teme… memangnya kau menganggap kami apa sampai tidak menceritakan kejadian ini pada kami? Apa kami bukan sahabat yang baik bagimu?" bisik Naruto tepat di telinga. Walau rasanya menggelikan mendengarnya bicara bijak begitu, namun aku terharu juga mendengar perhatiannya padaku.

"lalu bagaimana reaksi Sakura saat melihat kami? Apa dia tidak menanyakannya padamu?" tanya Shikamaru.

"Tampaknya dia mulai curiga tentang masalalunya. Tapi tidak akan ku biarkan itu terjadi…" jawabku dengan raut tegang.

"Sekarang masalahmu bukan hanya Sakura… tapi juga Gaara senpai…" ujar Naruto. Kalimatnya sedikit menyentakku. Apa mungkin kakak semata wayang Sakura juga sudah mengetahui keberadaan adik kesayangannya itu?

"Gaara senpai sedang melakukan pencarían intensif terhadap Sakura cha~… aahhh maksudku pada Sakura. Ayahku yang memimpin penyelidikannya. Jadi langsung ditangani oleh kepolisian pusat Konoha. Kau tahu kan, kalau sampai kau tertangkap atas tuduhan penculikan dan penyekapan Sakura, semua bisa gawat…"

DEG

"Dari yang kucuri dengar, Tsunade Ba-san dan Jiraiya Ji-san meminta investigasi kilat. Sakura harus ditemukan dalam waktu kurang dari sebulan…" sambung pemuda kuning itu lagi.

"Ini pasti ada hubungannya dengan pesta kelulusan Gaara senpai… kudengar dia ingin bertunangan di pesta kelulusannya itu…"

"Dengan siapa…?" tanyaku kaku.

"Aku tidak tahu… tapi pasti Gaara senpai ingin Sakura hadir di pesta dia adalah adik kesayangan senpai… satu-satunya saudara yang dimiliki…" jelas Naruto lagi.

"Kembalikan lah Sakura secepatnya, Sasuke… sebelum masalah lebih gawat lagi…" saran Shikamaru. Onyxku seketika menyambarnya.

"Dia istriku! Tidak akan kuserahkan pada siapapun…!" tegasku dengan tatapan nyalang. Wajahku mengingatkan pemuda berambut nanas itu kapan terakhir kali ekspresi begitu murka tergambar di wajah tampanku.

"Ta…tapi… masalahnya…" Naruto langsung membungkam mulutnya, dan memilih untuk tidak melanjutkan kata-katanya saat dilihatnya onyx ku menatapnya tajam.

"Apa…Haruno…sekarang…"

"Dia tak mungkin kemana-mana… dia sudah kukunci dikamar dengan pengawasan ketat Ayame san. Tak kan kubiarkan dia pergi dari sisiku. Takkan kubiarkan…" ucapanku, raut tegang yang tergambar jelas di wajah tampanku membungkam sahabat-sahabat karibku hingga tak ada komentar yang keluar dari mulut mereka.

-000-

Sudah lama aku tak datang kesini. Tidak sejak aku memilih untuk tinggal di rumah utama klan Uchiha. Ini adalah mansionku. Mansión pribadiku yang berada di tengah pusat kota. Dengan latar belakang keluargaku, tak mengherankan aku memiliki segala fasilitas mewah ini. Tempatnya pun berada di kawasan elit Konoha bersebrangan dengan Universitas tempatku menimba ilmu.

Aku rebahkan tubuh lelahku di ranjang. Hari ini terasa sangat panjang bagiku. Aku merindukan istriku. Aku rindu tatapan sepasang emeraldnya yang teduh, aku rindu mendengar tawa kecilnya, aku rindu dengan aroma cherry yang menguar dari tubuhnya setiap kali kami bercumbu mesra. Aku merindukan semua itu.

Tapi hari ini aku putuskan untuk tidak pulang ke rumah. Aku butuh waktu untuk sendiri. Aku butuh waktu untuk memikirkan hubungan kami juga tentang masa lalu yang menghantui.

Apakah aku harus jujur padanya dan mengakui segala perbuatanku di masa lalu? Mampukah dia memaafkan segala kesalahanku itu?

Aku buka laci meja yang berada tepat disamping ranjang tidurku. Kukeluarkan buka note bernuansa pink cerah dari dalam sana. Ini adalah buku catatan yang selalu dibawa Sakura kemana-mana sejak awal menginjakan kakinya di jenjang perguruan tinggi.

Buku berwana pink yang serupa dengan helaian rambutnya ini menjadi saksi bisu, bagaimana dia menyimpan perasaannya padaku selama 2 tahun ini. Bagaimana dia jatuh cinta padaku, dan bagaimana perasaannya saat aku memperlakukannya dengan buruk sejak setahun belakangan saat aku menjalin hubungan dengan Karin.

Semua tertulis rapi disini…

11 feb-

Oh Kami-sama…

Pemuda itu mencuri perhatianku.

Wajahnya yang tampan, helaian ravennya, tatapan matanya yang tajam.

Siapakah dia?

28 feb-

Akhirnya aku mengetahui namanya, dia adalah Uchiha Sasuke. Bungsu dari klan Uchiha yang terkenal itu. Tapi bukan karena itu aku jatuh cinta padanya…

14 March-

Kau ingin tau kenapa aku jatuh cinta padanya? Karena wajah tampannya? Bukan…

Karena latar belakang keluarganya? Juga bukan…

Saat pertama aku melihatnya, dia sedang menolong anak kecil yang nyaris tertabrak mobil mewahnya. Dia turun dan merangkul anak itu lalu menggendongnya agar berhenti menangis. Bagiku itu pemandangan yang sangat indah…

5 May-

Hari ini aku memberanikan diri menyapanya. Melawan segala rasa gugup dan takutku. Balasannya sungguh membuatku melayang. Senyuman manis terkembang di wajah tampannya. Kami-Sama, apakah aku sudah di surga?

20 May-

Gaara Nii bilang akhir-akhir ini aku makin rajin mmeperhatikan penampilanku. Tentu saja, aku ingin terlihat cantik dimatanya. Di mata pemuda pujaanku. Uchiha Sasuke.

16 June-

Aku dengar dari Naruto kun, dia penggila buah tomat. Uugghh,, padahal aku benci tomat. Tapi nanti aku akan mencoba membuatkan masakan tomat spesial untuknya.

25 June-

Kemarin Kaa-san pulang. Aku memintanya mengajariku resep membuat nasi goreng khas keluarga kami, keluarga Haruno yang terkenal lezat itu :D. Besok aku akan membuatkan nasi goreng tomat untuknya. Tunggu aku, Sasuke kun :*

26 June-

Mengapa rasanya berdebar begini. Rasanya jantungku mau melompat keluar saat sepasang onyxnya menatapku. Padahal dia hanya menatapku biasa. Akhirnya, aku tak berani memberikan bekal masakanku dan hanya ku taruh mejanya saja. Semoga dia suka dan mau memakannya.

3 July-

Apa aku sudah bilang bahwa dia memakan bekalku? Rasanya sungguh menyenangkan. Aku akan semakin rajin membawakan bekal untuknya.

21 July-

Akhir-akhir ini Gaara NiI semakin curiga aku menyukai seseorang. Aku tidak mau berbohong pada kakakku. Jadi aku mengaku saja. Aku menyukai Uchiha Sasuke. Tapi, kenapa wajah Nii chan seperti tidak suka?

7 Aug-

Tampaknya dia sakit. Wajahnya pucat. Semoga jus tomat buatanku bisa membuatnya merasa lebih baik.

14 Aug-

Hari ini di meja nya tertulis, siapa kamu? Mungkin kau penasaran yaa siapa yang selama ini diam-diam memperhatikanmu? Itu aku Sasuke… itu aku. AKU! Kau bisa dengar?

25 Aug-

Tampaknya aku makin menyukaimu, pemuda pujaanku. Kuharap, engkau bisa menjadi cinta sejati. Takdirku. Menjadi seseorang yang bersamaku. Till death do us apart ~

10 Sept-

Aku dengar kau sedang dekat dengan seorang gadis yaa Sasuke kun? Siapa dia? Aku cemburu…

18 Sept-

Hari ini menyebar berita yang paling tak ingin ku dengar. Katanya kau sudah menjalin cinta dan resmi berpacaran dengan Karin…

Sasuke kun… andai kau tahu betapa hancurnya hatiku sekarang L

28 Sept-

Apa ini? Apa maksudnya?

Kau menyangka Karin yang selama ini diam-diam memperhatikanmu? Yang selama ini diam-diam memberikan segalanya bagimu?

Kau salah Sasuke kun.. kau salah!

10 Oct-

Aku tahu semua ini terjadi karena aku pengecut. Aku hanya bisa menjadi bayang-bayang bagimu. Aku hanya bisa memperhatikanmu dalam diamku. Meskipun aku ingin berteriak hingga semua orang tahu bahwa aku menyukaimu, aku tetap tak mampu mengatakannya. Maafkan kelemahanku ini, Sasuke kun…

Kuharap kau berbahagia dengannya.

22 Oct-

Kau tau, apa yang paling menyakitkan bagiku? Itu karena aku harus melihatmu bersama gadis lain, di depan mataku L

1 Nov-

Karin menemukan buku ini! Aku memang sempat ceroboh dan menghilangkan buku ini. Ternyata gadis itu yang menemukan. Gadis itu akhirnya mengetahui bahwa aku lah yang selama ini memperhatikan kekasihnya…

11 Nov-

Ada apa ini? Mengapa kau bersikap begitu dingin padaku. Meskipun memang sejak dulu kita tak banyak bicara, tapi pandanganmu tak pernah seperti ini padaku. Ada apa Sasuke kun? Apa aku melakukan kesalahan?

23 nov-

Akhirnya… aku mengetahui mengapa kau bersikap begitu dingin padaku. Semua karena kekasihmu kan? Karena Karin bilang sesuatu yang buruk tentangku? Sasuke kun… aku tak seperti itu. aku bukan ingin menghancurkan hubungan kalian. Meski setiap hari aku harus menanggung sakit hati melihatmu bersamanya, tapi jika untuk kebahagiaanmu, aku rela menanggungnya.

2 Dec-

Kau membentakku di depan umum hanya karena Karin tidak suka melihatku. Kau ingin aku enyah untuk menjaga hati kekasihmu? Baiklah Sasuke kun…

17 Dec-

"Pergi dari hadapanku!" kau berkata padaku seperti itu hari ini. Kau tau, kata-katamu seperti memintaku untuk mati saja…

28 Dec-

Aku melihatnya mencium bibirmu…

Aku tidak rela namun tak ada yang bisa kulakukan. Kau miliknya. Bukan milikku.

01 Jan-

Tahun baru. Apakah ini berarti neraka ku akan terus berlanjut? Entahlah~~

Aku hanya berharap neraka ini segera berakhir.

18 Jan-

Kalian merayakan anniversary kalian. Aku hanya bisa mengucapkan selamat dari kejauhan. Selamat Sasuke kun… semoga kalian berbahagia …

31 Jan-

Gaara Nii bilang akhir-akhir ini aku murung. Dan untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, aku berbohong padanya. Maafkan aku Nii chan… aku tahu kau akan membenci Sasuke kun jika tahu dia membuatku bersedih. Aku tidak ingin kau membenci orang yang ku cintai..

12 Feb-

Hari ini hujan deras turun. Aku tau kamu tidak membawa payung. Makanya kuberikan payungku padamu. Aku? Aaahh kau tidak usah mengkhawatirkan gadis yang kau benci~

18 Feb-

Hari ini aku membuatkanmu manisan tomat. Aku membuatnya penuh doa agar kau selalu sehat dan bahagia. Tapi yang kau lakukan sungguh kejam! Apa salahku sampai kau menghancurkan manisan tomatku? Manisan itu kubuat dengan hatiku. Menghancurkannya sama saja kau menghancurkan hatiku…

28 Feb-

Hal yang paling menyakitkan adalah saat orang yang kau cintai…. Membencimu.

10 Aug-

Sudah lama aku tidak menggoreskan kisahku disini. Maaf, bukan aku lupa padamu, buku diary ku. Aku hanya merasa tak ada yang perlu kuceritakan padamu tentang hari-hariku. Aku tidak ingin berbagi kisah sedih. Aku tidak ingin kau juga merasakan kepedihan yang aku rasakan.

6 bulan yang terasa bagaikan di neraka…

Aku benci ada disini, aku benci melihatnya setiap hari mengikutimu, berada disisimu, bermesraan denganmu…

Bolehkah aku cemburu? Tidak. Karena kamu miliknya.

Tapi tak tahukah kau Sasuke kun, bahwa kau salah orang? Bahwa orang yang selama memperhatikanmu bukan dia.

Dia menyuapimu dengan bekal yang kubuat. Dia akui itu buatannya. Dia menjelek-jelekanku di depanmu. Dia mengadu padamu bahwa aku mengganggunya. Dia membuatmu membentakku. Dia membuatmu memandangku hina.

Tapi pernahkah aku marah? Atau melawan? Atau mengatakan yang sebenarnya? Tidak. Aku hanya diam. Karena dalam diam, aku tekan semua amarahku, rasa cemburuku, rasa sakit hatiku sampai alam bawah sadar. Semua demi kebahagiaanmu

Tapi aku tak mampu menahan tangis dalam tidurku…

Sakit…

Rasanya terlalu sakit…

Apa kau juga tahu rahasia apa yang kututupi –sekali lagi- darimu?

Aku tahu kekasihmu yang sangat kau cinta itu menduakanmu. Dia berselingkuh dengan lelaki lain di belakangmu.

Sasuke kun, karma itu ada. Dan selalu seperti itu.

Tapi mampukah aku membencimu?

Ku tutup helaian kertas berwana merah muda itu. kuhela nafas, panjang dan berat. Entah mengapa, setiap kali membaca ulang diary milik gadis yang kini telah resmi menjadi istriku itu, hatiku terasa bagai disayat sembilu. Perih dan sakit.

Gadis itu memang telah banyak menanggung derita atas perilaku burukku padanya. Semua kulakukan hanya untuk menyenangkan Karin. Menyenangkan gadis yang tega mengkhianati cinta tulusku. Gadis yang selama ini menipuku dalam cinta palsunya. Dia memang jahat, tapi aku juga terlalu bodoh.

Dilembar belakang notes itu, terdapat fotonya bersama keluarganya. Mereka terlihat bahagia dan harmonis. Sakura memang beruntung. Selama ini selalu dikelilingi orang-orang yang mencintainya. Pantas saja perlakuan burukku padanya membekaskan memar trauma.

Ku pejamkan mataku, meski rasa kantuk sama sekali tidak menghinggapiku. Aku harus mengambil keputusan. Aku harus melakukan sesuatu.

Dan aku putuskan untuk berbicara jujur pada istriku itu.

-0000-

TRUULLUUULUU~~ TRRUULLUULUU..

Tanganku menggapai kesana kemari. Mencari handphone ku yang terdengar memekik nyaring. Mataku belum sepenuhnya terbuka. Rasanya berat sekali untuk membuka mata saat aku baru saja memejamkannya.

"Hn…" jawabku singkat dengan suara kantuk yang terdengar jelas. Berbanding dengan keriuhan yang terdengar di ujung telepon sana.

"Tuan Muda Sasuke… Tuan Muda Sasuke…." cicit suara itu. getar kepanikan terdengar jelas. Membuatku mampu membelalakan mata seketika.

"Ayame san… ada apa?" tanyaku dengan nada tegang.

"Tuan Muda… Nona Haruno… Nona Haruno…" bahkan maid kepercayaanku yang selalu bersikap tenang itu pun terdengar sangat panik dan ketakutan sehingga aku bertambah gelisah.

"Ayame san! ADA APA!?" tanpa aku sadari, aku membentaknya. Ini pertama kalinya aku menggunakan nada seperti itu padanya. Aku terlalu kalut untuk berpikir jernih.

"Nona Haruno… berusaha bunuh diri Tuan Muda!" susah payah, maid kepercayaanku itu akhirnya bisa berbicara. Tanpa sadar bahkan tanpa aku komando, tubuhku segera meresponnya dengan berlari secepat kilat. Menuju mobil ku yang kuparkir di garasi dalam.

Kupacu mobilku. Melesat kilat bagaikan kuda hitam yang menerjang jalanan yang masih tampak lengang. Tampaknya masih terlalu pagi bagi warga Konoha kebanyakan untuk beraktifitas.

Susah payah, ditengah gemetar yang melanda tanganku, diantara keresahan dan kecemasan serta ketakutan yang aku rasakan, aku menelpon kedua sahabatku. Meminta mereka segera menyusulku ke rumah utama klan Uchiha. Terlalu kalut, tak kuceritakan alasan detailnya pada mereka. Hanya aku bilang butuh bantuan keduanya.

Saat sampai di halaman rumah, aku berlari, melesat bagai busur panah menuju tujuannya. Kamar pribadiku.

Kulihat disana Ayame san memeluk tubuh lemah istriku. Gadis merah jambu itu tampak terluka di bagian keningnya. Luka yang menganga dan tak berhenti mengucurkan darah segar.

Tubuhku bagai tersengat listrik melihatnya, melihat gadis yang kucintai dengan keadaan seperti itu. Aku segera berlari menyongsongnya dan mengambil alih tubuh lemah gadis bersuai merah muda itu dati pelukan maid kepercayaanku.

"Apa yang terjadi!?" teriakku panik. Bahkan rasa takut yang begitu nyata membayang, membuat suaraku terdengar seperti cicitan burung yang kelaparan.

"Saya minta maaf Tuan Muda… Nona Haruno… Nona Haruno sejak kemarin tidak mau makan apapun. Jadi tadi saya bermaksud mengantarkan sarapan untuknya. Namun… Nona Haruno… sudah… sudah… Nona Haruno sudah…" wajah Ayame san terlihat pucat pasi. Pucat seputih kertas. Tampaknya dia terlalu takut karena melihat keadaan gadis bersuai merah jambu yang telah resmi menyandang nama Uchiha itu.

"Panggil dokter!" teriakku lagi. Ayame san segera beranjak dengan langkah cepat namun gerakannya kaku. Aku langsung menggendong tubuh Sakura dan membaringkannya di ranjang.

Helaian merah mudanya tampak bercampur dengan darah segar yang terus mengucur keluar dari keningnnya. Tampaknya gadis itu sengaja membenturkan kepalanya ke tembok.

"Sakura chan… Sakura chan… jawablah sayang!" pintaku lirih dalam kepanikan yang menjerat. Gadis itu tampak sayup-sayup menatapku. Meski pandangan dari sepasang emeraldnya sudah tak fokus lagi.

"Sakura chan…kenapa kau lakukan ini? Kenapa!?" histeris, aku guncang tubuhnya saat matanya akan terpejam. Tak akan ku biarkan. Tak kan ku biarkan emerald hijau teduh itu menutup lagi untuk kedua kali. Aku takkan sanggup menanggung rasa bersalah lagi padanya, Kami-Sama…

Bibir nya tampak lemah menggumamkan kata yang tak bisa kudengar. Kata itu sudah terlebih dulu tersapu angin sebelum aku mengetahuinya. Lalu apa yang paling ku takutkan terjadi. Emerald indah itu menutup, untuk kedua kalinya.

"SAKURAAAAA….!"

-0000-

Ruangan ini sempurna sebagai ruang penyiksaan bagiku. Batinku menjerit. Hatiku tertatih menuju alam kesadaran. Rasanya semua di sekitarku menjadi gelap dan aku kehilangan arah.

Aku terlalu syok untuk mengingat apa yang terjadi. Pandangan mataku terkunci, pada sosok gadis yang terbaring lemah tak berdaya di depanku ini.

Aku bahkan tak ingat bagaimana caranya aku bisa sampai disini. Di rumah sakit Konoha tempat kedua orang tua istriku ini bekerja. Rasanya semua hanya tampak berlalu bagai sekelebat bayangan bagiku.

Kedua sahabatku berada disisiku. Selalu menemaniku. Baru kali ini aku melihat raut begitu serius dan tegang dari Uzumaki Naruto. Temanku itu tampak sama cemasnya denganku. Sejak tadi yang dilakukannya hanya berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan tempat Sakura harus mendapatkan pertolongan awal.

Sedangkan Nara Shikamaru, meski tampak duduk tenang di sampingku, tapi dia menyilangkan kedua tangannya di pangkuan. Tanda yang selalu dilakukannya bila sedang berpikir keras.

Ini bukan hanya soal keadaan gadis merah jambu yang sedang terbaring lemah disana. Tapi ini juga tentangku. Karena masalah hilangnya Sakura telah menyebar ke seluruh Konoha.

Trapp trappp trap…

Kulihat sosok yang kukenal selama ini hanya dari mulut ke mulut. Sakura no Tou-san. Jiraiya-Sama.

"Kau Uchiha Sasuke? ada yang harus kita bicarakan…!" itu adalah raut paling tegas yang selama ini aku lihat di wajah seorang pria.

Aku merasakan kelegaan yang sarat saat keluar ruangan itu. Kedua orangtua Sakura mau mendengar penjelasanku. Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. aku berbicara jujur tentang apa yang terjadi. apa yang sudah kulakukan padanya.

Memang pada awalnya mereka tak terima putri kesayangan mereka aku perlakukan secara buruk. Namun mereka mencoba memahami situasinya. Lalu mungkin, satu kalimat penutupku ini yang mampu membuat mereka sedikit lebih tenang.

"Aku tahu, apa yang sudah ku lakukan padanya di masa lalu, semua hanya kesalahan. Karena itu, ijinkan aku menebusnya, dengan seumur hidup yang aku miliki. Aku berjanji akan membahagiakan putri kalian . menjadikannya satu-satunya permaisuriku. Menjaganya apapun yang terjadi…" pintaku tulus. Mendengar perkataan ku itu, raut tegang di wajah dokter berambut putih dengan dandanan nyentrik itu sedikit melunak.

Begitu pula dengan paras cantik wanita paruh baya yang duduk tenang disamping disamping Sakura no Tou-san itu. Tsunade dono pun dapat melihat kesungguhan di dalam ucapanku.

Karena itu mereka mengijinkanku untuk berada di kamar perawatan Sakura. Menunggui istriku itu untuk dapat melihat dunia lagi. Agar aku dapat merasakan kembali keteduhan sari sepasang emerald indahnya.

Aku genggam tangannya. Erat. Seolah tak ingin berpisah lagi. Dan berharap tak ada lagi yang memisahkan kami. Aku bisikkan di telinganya kata-kata cinta. Juga harapan agar dia membuka matanya. Karena aku tak sanggup bertahan sendirian di tengah duka yang mendera.

Aku jatuh tertidur. Masih dengan tangan kami yang saling bertaut. Hingga kurasakan gerakan pelan di ujung jemari gadis merah jambu itu.

Kontan, aku langsung menyambar tombol panggilan darurat. Sehingga Tsunade dono dan Jiraiya-sama berbondong-bondong datang ke ruangan putri mereka.

"Ada apa Sasuke?" tanya Tsunade dono cemas. Raut wajah mengingatkanku pada Kaa-san.

"Ta…tadi…tangannya bergerak…" uapku terbata. Onyxku lekat menatap ke arah gadis merah jambu yang tengah terbaring itu. Lalu benar saja, kelopak matanya bergetar pelan. Dan emerald hijau itu akhirnya berpendar di udara.

Tatapannya sayu dan lemah. Seolah mengabsen orang-orang di sekitanya.

"Tou-san… Kaa-san…" ucapnya lirih. Matanya menatap kedua sosok orangtuanya itu lekat. Begitu pula mereka. Seolah saling menumpahkan rindu yang selama ini terpendam di dada.

"Saku..! Sakura putriku…" isak tangis Tsunade dono seketika mewarnai ruangan. Wajah terharu Jiraiya sama juga menambah suasana sedih disana.

"Dimana Gaara Nii…?" tanyanya lagi. Tampaknya dia belum menyadari keberadaanku dan justru menanyakan kakak semata wayangnya.

"Nii san sedang dalam perjalanan kemari. Dia baru saja dari luar kota. Jadi kau sabar yaa…" jawab Tsunade dono sambil menenangkan putri semata wayangnya. Dia sangat mengetahui bagaimana tergantungnya bungsu keluarga Haruno itu pada sang kakak kesayangannya.

Aku berdebar. Berharap cemas. Aku ingin emerald itu menatapku. Merasakan hadirku disini.

"Siapa dia? Apa yang dia lakukan disini?" tanya Sakura. Nadanya berubah histeris. Aku terpaku. Apakah dia hilang ingatan lagi? Dan kini tidak mengenaliku? Tidak Kami-Sama… kumohon tidak…

"SIAPA DIA?!" jerit Sakura histeris. Melihat gelagat putrinya, Jiraiya-sama memintaku keluar ruangan untuk sementara.

"Tunggulah diluar…" pintanya sambil menutup pintu

-0000-

Aku seperti terombang ambing di lepas pantai, padahal beberapa saat sebelumnya aku sedang berjalan santai, menikmati debur ombak dan kicau burung. Lalu aku meras atiba-tiba terhempas, ke pulau tanpa tepi.

"Sakura menolak mengingatmu, Sasuke…" ucapan Jiraiya-sama itu sontak menyentakku. Membuat hatiku perih seolah diiris pisau berkarat.

"Apa dia hilang ingatan lagi?" tanyaku dengan raut cemas.

"Tidak… dia mampu mengingat yang lainnya. Hanya tentangmu yang tampak di lupakannya…" jelas Ayah Sakura itu dengan wajah seolah meminta maaf.

"Mungkin sulit baginya untuk memaafkanmu sekarang, karena itu, biarkanlah dia tenang dulu…" saran Jiraiya-sama. Namun aku menolaknya. Aku tidak mau kehilangannya lagi.

Aku menerobos masuk ke ruang perawatannya. Dan menemukan gadis itu tengah menatap kea rah langit-langit. Diam. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

"Sakura chan…" panggilku sambil berjalan mendekat. Gadis itu tampak menoleh dengan raut tak suka padaku.

"Apa yang kau lakukan disini? Pergi…!" usir gadis itu.

"Tidak. Aku tidak akan pergi kemanapun…" jawabku langsung. Membuat dahi gadis merah jambu itu berkerut tanda tak suka.

"Apa maumu?" tanya Sakura lagi. Emeraldnya menantang onyxku, nyalang. Dan sarat akan kemarahan.

"Kau bohong kan soal lupa padaku...?"

"Ya…" jawaban singkat dan terkesan meremehkan itu meluncur dari bibir manisnya. Dengan nada yang tak pernah kudengar sebelumnya.

"Kenapa?"

"Karena Sakura yang dulu sudah mati… Sakura yang dulu mencintaimu sudah tidak ada lagi! Kau yang membunuhnya, UCHIHA!" teriakan itu kontan membuat lututku lemas. Hingga aku jatuh bersujud di lantai.

"Maafkan aku, Sakura…" ucapku terbata dan lirih. Ucapannya tadi seolah menamparku. Menampar harga diriku sebagai lelaki.

"Minta maaf atas apa yang telah kau lakukan padaku? Minta maaf karena telah mendorongku jatuh dari tangga? Tidak semudah itu Uchiha…" jawabnya sinis. Emeraldnya enggan menatapku. Seolah aku ini begitu hina.

"Kumohon… maafkan aku Sakura…! Pintaku lagi. Kali ini sambil bersimpuh, bersujud dihadapannya. Kukorbankan semua harga diriku sebagai lelaki, harga diriku sebagai pewaris klan Uchiha hanya untuk mendapat pengampunannya.

Namun gadis bersuai merah jambu itu bahkan tidak melirikku sama sekali. coba kugapai tangannya, menggenggamnya. Namun dia menepis tanganku seolah jijik padaku.

"Jangan coba menyentuhku!" sengitnya langsung . wajahnya tampak sangat marah

Kau tahu Sakura, seumur hidupku, aku tak pernah memohon. Tapi untukmu, aku dua kali memohon. Aku memohon pada Tuhan untuk kesembuhanmu. Dan kali ini aku kembali memohon. Untuk mendapatkan maafmu, istriku…

Aku tak punya daya untuk bangkit. Aku tak punya tenaga untuk bertahan. Penolakan gadis itu terasa menohokku langsung.

GREK

Pintu kamar perawatan terbuka. Dan sosok tampan berambut semerah darah datang menyeruak masuk.

"Sakura chan… Yokatta ne~…" Gaara senpai tampak memeluk erat dan mengecup singkat luka di kening lebar sang adik kesayangan yang telah kembali. Betapa lega dirinya gadis itu telah ditemukan.

"Nii chaaann…" Sakura balas mendekap erat kakak semata wayangnya itu wajahnya terlihat berbinar bahagia. Sakit rasanya melihat gadis itu jauh lebih berbahagia dengan lelaki lain disbanding denganku.

Aku hanya terpaku menatap mereka berdua. Rasanya aku berada di dunia yang berbeda dengan keduanya.

"Apa yang kau lakukan disini, Uchiha?" tanya Gaara dengan pandangan sedingin es. Tatapannya galak menatapku, seolah ingin melumatku hidup-hidup.

"Aku…hanya menunggui istriku yang sedang sakit…" jawabku singkat dengan suara parau. Namun ekspresi terkejut yang terlukis di wajah tampan sedingin es kakak semata wayang istriku itu seolah aku baru saja memberinya pukulan telak.

"Istrimu…." Sahut pemuda dengan helaian semerah darah dengan nada tercekat. Begitu pula raut wajah gadis cantik berhelai merah jambu yang telah resmi menyandang nama Uchiha itu.

TO BE CONTINUE