Kegelapan hati setiap manusia terlihat.

Kedua sisi itu selalu ada namun tersembunyi.

Manusia… tiada yang sehat secara sempurna.

Manusia… menyimpannya jauh di dalam kelamnya hati.

Ia… sosok kelamnya.

.

..

..

Réamhaisnéis

(oracle/prophecy/ramalan)

A TAEKOOK's fanfiction.

AlphaDominantAbsolutePureBlood Taehyung x OmegaPureBlood Jungkook.

AlphaDominantPureBlood Hankyung x BetaPureBlood Heechul.

AlphaHalfBloodGuardian Jimin x BetaPureBlood Yoongi.

AlphaDominantPureBlood Namjoon x OmegaPureBlood Seokjin.

BetaPureBlood Hoseok.

Another cast? You can find it in the whole story.

Vampire life, Alpha Beta Omega Universe, MPreg.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

"Ngghhhsss… ahh yesshh… right therehh honeyyh… ummmh… yesssh…"

Desahan itu bersautan dengan bunyi daging yang saling berbenturan. Mengirimkan gejolak panas persenggaman kedua makhluk itu.

"Pump it up, bitch… make me boner…"

Jalang itu menuruti begitu saja ucapan pejantannya yang bahkan setelah sejam bersenggama dengannya tak juga 'keluar' jangankan 'keluar', mengeras saja tidak sempurna. Sementara si pejantan hanya memandang jengah, karena satu lagi jalang yang melayaninya tidak bisa juga membuatnya puas.

"Ah, menyebalkan." Geram si pejantan sebelum menarik rambut jalangnya itu dan membuat jalang itu menungging dengan kepalanya yang terbenam sepenuhnya pada bantal.

Pejantan itu kemudian melesakkan kejantanannya dengan kecepatan yang tak bisa dilihat oleh mata, membuat si jalang membelalak ngeri merasakan kecepatan persenggamaan mereka.

"Nggh… beh… be gentle with meh… unghhh… slowhh…" kata-kata yang terucapkan dengan terbata itu tak dihiraukan oleh si pejantan, jalang yang meminta pejantannya untuk bertindak gentle terhadapnya? Mimpi saja.

Dan si pejantan itu tanpa ampun kembali menggempur lubang longgar jalang itu, tak peduli jika nafas pasangan senggamanya mulai menipis. "Apa kau merasa sesak? Sampai ingin mati? Matilah…"

Perlahan, kuku di jari telunjuk si pejantan memanjang dan dengan perlahan juga kuku tajam itu menggores tubuh putih bersih di bawahnya, membuat goresan yang menganga itu mengeluarkan darah segar. Dan membuat pejantan itu menyunggingkan senyum meremehkannya sebelum kedua taring panjangnya menyesap darah yang dikeluarkan oleh luka goresan itu. Menyesap hingga tak ada satu tetespun darah yang tertinggal di tubuh jalang kesekian yang menjadi korbannya.

"Kau tidak bosan berdiri di sana?" mata elang itu menatap sosok yang berdiri di balkon kamar tempatnya menyantap jalangnya.

"Kau tidak bosan membunuh mangsamu dengan cara yang sama?" sementara sosok itu mengernyit jijik melihat tubuh yang tergeletak tak bernyawa di lantai itu. "Dan sudah kubilang! Cari matemu, pangeran bodoh! Jangan membuang tenagamu sia-sia dengan menyetubuhi jalang seperti mereka."

Kim Taehyung hanya bisa menyeringai sebelum kembali mengenakan pakaiannya, "Mudah bagi kau yang bahkan sudah bertemu matemu sebelum usia kedewasaanmu, Park Jimin."

"Serius Kim Taehyung." Ujar Jimin gusar. "Lebih baik kita kembali." Dan Park Jimin segera pergi dari tempat itu setelah melihat Kim Taehyung membakar bangkai jalang itu hingga habis dan tak berbekas.

..

..taekook..

..taekook..

..

Saat sampai di kediaman mereka, Yoongi sudah menanti mereka berdua lengkap dengan pandangan sinisnya. Taehyung yang melihat itu mendadak gugup, baginya… tatapan kakaknya itu sama mengerikannya dengan tatapan ibunya dan biasanya jika tatapan itu sudah dilancarkan maka kemungkinan untuk berbohong menjadi minus.

"Baumu seperti jalang, Tae." Ujar Yoongi. "Jalang mana lagi yang meninggalkan bau menjijikan di badanmu?"

Taehyung bergidik mendengar ucapan kakaknya, namun sedetik kemudian ia tersenyum dengan polosnya. "Hanya seorang siswi pertukaran yang haus belaian?" beritahunya dengan nada bertanya dan membuat kedua alis Yoongi bertaut. "Sudah hyung, aku ke atas." Dan Taehyung berlalu untuk kemudian masuk ke dalam ruangannya.

Jimin yang memperhatikan ekspresi sendu yang terukir di wajah Yoongi bergerak mendekat sehalus angin dan merengkuh pinggang Yoongi dengan lembut. "Ada apa sayang?" Tanya Jimin setelah mengecup pelipis Yoongi.

"Taehyung mulai meragu." Gumam Yoongi dengan suara pelannya. "Dia meragu."

Jimin kembali memeluk Yoongi dan membawa tubuh mereka berdua ke sebuah sofa nyaman, Jimin membawa Yoongi dan memeluk tubuh Yoongi di dalam rengkuhannya. "Meragu?" Tanya Jimin kemudian.

Yoongi bersandar di dada matenya, mencari perlindungan dari tubuh matenya. "Taehyung mulai meragukan keberadaan matenya, Jim." Yoongi meraih jemari Jimin dan meletakkannya di pipi pucatnya. "Dia mulai meragukan apakah pasangannya benar-benar ada untuknya."

Jimin menghela nafasnya, "Pantas saja dia berkata seperti itu…" Yoongi menatap Jimin dengan pandangan ingin tahunya. "Ia bilang, mudah saja bagiku yang sudah menemukan pasanganku bahkan sebelum usia kedewasaanku. Kurasa ia sudah putus asa dan menginginkan untuk segera memiliki pedamping."

"Seratus tahun lebih sudah terlewati bahkan setelah usia kedewasaannya dan kehadiran matenya masih belum terasa Jim. Aku takut karena keraguannya ini, ia takkan bisa melihat keberadaan matenya dan ia berputar terus disisi matenya tanpa tahu jika ia sebenarnya sudah berada dekat sekali dengan matenya."

Jimin semakin mengeratkan pelukannya, mengecup lembut puncak kepala Yoongi. "Semua akan ada waktunya, sayang. Semua akan ada waktunya seperti apa yang diramalkan oleh Réamhaisnéis, dan perasaan ragu yang dimiliki oleh Taehyung akan terhapuskan hanya oleh dirinya sendiri. Hanya ia sendiri yang bisa menentukan kemantapan hatinya, dan kita tak bisa melakukan apapun." Jimin membelai helaian rambut Yoongi dan tersenyum setelahnya. "Aku senang melihat sisi seorang Kim Yoongi yang ini, Kim Yoongi yang sangat menyayangi adiknya."

"Jangan mengejekku." Balas Yoongi dan menatap Jimin dengan wajah merengutnya. Membuat Jimin tersenyum manis dan kembali melayangkan sebuah kecupan di pelipis Yoongi.

"Siapa yang mengejekmu, sayang? Kau menunjukkan kasih sayang tak terkira untuk Taehyung dan selain membahagiakan, kau terlihat menggemaskan saat sedang menunjukkan rasa sayangmu. Dan ini pujian, karena Yoongiku begitu memukau dengan rasa sayangnya. Ah… jadi ingat, kau mirip sekali dengan eommonim. Kalian sama-sama memiliki rasa sayang yang memukau, mungkin itu yang membuat abeonim terpikat dengan eommonim." Sembari berujar, jemari Jimin tak berhenti memainkan surai halus Yoongi.

Membicarakan Yoongi yang penuh kasih sayang dan Yoongi yang bisa bergelung manja dipelukkannya ini membuat Jimin jadi teringat akan perjuangannya dulu untuk mendapati beta cantik namun berhati baja ini.

..

..taekook..

..taekook..

..

Jimin sedang duduk berdua dengan bocah sebayanya yang ternyata adalah seorang Putra Mahkota dari klan terkuat di tempat yang katanya sering menjadi tempat Putra Mahkota itu menghabiskan harinya di sana.

"Taetae, Yoongi hyung malah ya cama Jimin?" Tanya Jimin setelah termenung lama.

Taehyung yang masih asik menenggak darahnya itu memandang Jimin dengan tatapan bingungnya. "Yoongi hyung gak malah kok, Yoongi hyung malu…"

"Kenapa malu? Kan Yoongi hyung pakai baju?" Jimin kecil memiringkan kepalanya tanpa sadar mencoba berpikir kenapa beta cantik itu malu padanya.

"Hmmm, mungkin kalena Jimin tampan? Makanya Yoongi hyung malu?" gumam Taehyung membuat Jimin tersenyum manis karena dipuji tampan.

"Jimin tampan?" Tanya Jimin dengan riangnya, namun keriangan itu hilang mendengar jawaban bocah di depannya.

"Iya tampan, tapi cetelah appa telus Taetae telus Jimin!" dan rasa-rasanya Jimin ingin memukul kepala Putra Mahkota di hadapannya yang tersenyum dengan polosnya itu.

..

..

Jimin yang saat ini berusia sepuluh tahun itu hanya bisa memandangi sosok beta indah namun angkuh yang sedang berlatih dengan Permaisuri di sebuah tanah lapang itu dengan tatapan memuja.

Sudah delapan tahun Jimin tinggal dengan keluarga utama klan terkuat ini, dan selama delapan tahun ini Jimin selalu mendambakan sosok indah itu mau tersenyum padanya. Namun yang selama ini ia dapati hanya tatapan sinis saja. Dan sialnya, sosok indah itu menjelma menjadi semakin indah saja saat memasuki usia kedewasaannya. Di usia kedua puluh tahunnya, pangeran sulung itu semakin bersinar dan semakin menawan. Mata sendunya semakin menarik hati Jimin kecil, kurva indah yang melengkung angkuh dan selalu memakinya itu juga terlihat semakin menawan. Di atas itu semua, Jimin kecil merasa perbedaan mereka juga terasa semakin besar. Jimin yang belum memasuki usia dewasanya masih saja dianggap bocah oleh Yoongi. Usianya yang sama dengan pangeran bungsu membuat pangeran sulung hanya menganggapnya seperti adiknya saja. Terlebih, melihat kekuatan pangeran sulung yang sekarang… hati Jimin semakin mencelos karenanya.

"Yoongi!" suara teriakan Permaisuri itu memecahkan semua lamunan Jimin. Dalam sedetik yang terasa lama itu Jimin melihat segalanya, bongkahan tanah yang terlingkupi kekuatan Permaisuri Heechul mengarah brutal ke Yoongi dan Yoongi yang teramat terkejut hanya bisa melihat bongkahan itu datang kepadanya tanpa bisa melakukan apapun. Permaisuri yang bergerak cepat itupun kalah cepat karena iapun sempat terhenti untuk terkejut. Dan Jimin dengan pandangan fokusnya segera saja mengarahkan kekuatan perisainya pada Yoongi dan melindungi Yoongi dari bongkahan itu dengan perisai peraknya. Dan Raja Hankyung pun tepat menyelamatkan Permaisuri yang mencoba menyelamatkan Yoongi, menjauhkan Permaisurinya ke tempat aman agar terhindar dari akibat hantaman perisai Jimin dan bongkahan batu itu.

"Yang Mulia!" prajurit bergerak mendekati pemimpin klan yang melindungi Permaisuri dengan badannya itu setelah efek hantaman perisai Jimin dan bongkahan itu selesai terjadi. "Panggil penyembuh!" teriak prajurit itu memerintah bawahannya agar segera memanggil penyembuh kala melihat luka yang tercipta di punggung pemimpin mereka.

Sementara itu Hankyung tidak mempedulikan lukanya dan mencoba bangkit untuk melihat keadaan putranya yang ternyata aman tanpa luka, lalu memandang teduh pada belahan jiwanya yang sedikit terguncang. "Aku tak apa-apa, kau tak usah cemas."

"Maafkan aku Yang Mulia, karena kecerobohanku aku hampir melukai putra kita dan juga melukai dirimu." Mata Heechul memandang miris pada luka belahan jiwanya. Dan saat penyembuh itu datang, Heechul baru bisa beranjak pada putranya yang terlihat sedang meremat kemeja putih bocah Naofa di hadapannya. Heechul tersenyum singkat dan memutuskan untuk kembali pada belahan jiwanya membiarkan putranya dengan bocah Naofa itu dan kembali lagi nanti untuk meminta maaf pada putranya.

..

..

Tepat setelah efek hantaman itu selesai, Jimin melesat menghampiri Yoongi yang masih terkejut. Jemari Jimin menyentuh lembut pipi Yoongi yang seketika terduduk lemah karena akhirnya ketegangan itu hilang saat ia sadar Jimin sudah berada di hadapannya. "Sudah tak apa, Pangeran. Semuanya sudah aman." Ucap Jimin, dan tiba-tiba saja kepala Yoongi bersandar lemah di bahu Jimin.

Jari pangeran sulung yang meremat lengan kemejanya itu memberitahukan Jimin bahwa pangeran sulung itu masih terkejut dan ketakutan. Jadi Jimin mengarahkan sebelah lengannya untuk merengkuh pelan kepala bersurai dark brown itu ke dalam rengkuhannya. Membisikan kata-kata penenang dan membuat pangeran sulung merasa aman terlindungi. "Tak apa, pangeran. Aku akan berada di sisimu untuk melindungimu." Janji Jimin pada Yoongi.

..

..

Semenjak saat itu, penilaian Yoongi terhadap Jimin berubah. Bocah itu… entah mengapa tidak terlihat seperti bocah lagi di mata Yoongi. Pelukan hangatnya, kata-kata penenangnya membuat Yoongi tanpa sadar akan terus dan terus merona ketika memandang penerus guardian itu.

Dan parahnya! Yoongi hanya bisa termenung saat ia kembali ke puri setelah lima bulan pergi untuk urusan klannya. Yoongi merona parah saat disambut oleh sosok Park Jimin yang telah mencapai usia kedewasaannya sebulan yang lalu. Tubuh tan seksi dengan balutan otot yang sempurna itu menguarkan aura dominan sejati. Yoongi yang selama ini turut tumbuh dengan Naofa kecil itu memang memperkirakan bahwa Park Jimin akan memiliki tubuh yang memikat karena Jimin sangat menyukai melatih tubuhnya. Namun yang tak Yoongi perkirakan adalah, aura dominan yang dikeluarkan tubuh tan itu serta mata tajam yang memandangi Yoongi dengan binar menawan itu… membuat Yoongi ingin melontarkan tubuhnya dan menghambur ke dalam pelukan seorang Park Jimin.

'Hyung, I'm here too.' Dan panggilan nista Taehyung di kepalanya membuat Yoongi berpaling sengit ke adiknya. 'Aku mengerti tubuh calon matemu memang menggiurkan, tapi kau memiliki adik tampan yang sudah lima bulan tak kau lihat yang juga memiliki tubuh yang sempurna.'

Meski kesal, mau tak mau Yoongi membenarkan ucapan Taehyung. Adiknya, bocah nakal yang gemar menghilang itu kini menjadi semakin tampan. Tubuh ramping khas kaum bangsawannya menunjukkan keangkuhannya. Tubuh ramping yang menyimpan kekuatan gila itu akan membuat siapa saja tergila-gila. Bidang bahu adiknya yang terlihat semakin kokoh dan wajah yang semakin dan semakin tampan.

'Kau benar, adikku memang tampan…' aku Yoongi pada Taehyung. Keduanya saling menukar senyum yang hanya mereka berdua yang mengerti dan membuat si guardian itu melenguh kesal.

"Terkadang aku iri dan ingin mendengar ucapan mereka berdua." Ujar Jimin dan diangguki dengan semangat oleh Permaisuri Heechul.

"Benar! Aku juga penasaran apa yang kedua saudara ini bicarakan dan bahkan mereka rahasiakan dariku. Yoongi sudah berhenti mengatakan apa yang mereka bicarakan saat Taehyung sudah pandai berbicara. Rajaku, aku merindukan kedua pangeran kecilku." Rajuk Heechul dan berjalan diiringi dengan kekehan kecil Hankyung terhadap belahan jiwanya.

..

..

Yoongi yang terduduk bersandarkan pohon besar di hadapannya menjadi pemandangan indah untuk Jimin. Jemari lentik yang membalik halaman buku yang sedang dibacanya itu membuat Jimin penasaran bagaimana rasanya melingkupi jari-jemari itu. Guguran daun kecoklatan itu menambah keindahan sosok pangeran sulung yang nampak cemerlang dikelilingi oleh warna musim gugur yang indah itu.

Dengan langkah perlahannya, Jimin menghampiri Yoongi. Membiarkan Yoongi menyadari kehadirannya dengan perlahan. Menunggu Yoongi mengangkat pandangannya dari buku bacaannya dan menatap manik abu-abunya yang menunggu manik amethyst indah itu kembali memerangkapnya.

Selama ini Jimin memang seperti itu, ia tak mau mendekati Yoongi dengan agresif. Ia selalu menjaga jarak dan memperhatikan Yoongi dengan baik, saat ia rasa Yoongi bisa menerima kehadirannya baru Jimin akan mendekat dan itupun dengan perlahan.

Dan saat seperti ini, saat mata indah seindah untaian wisteria itu menatap kedua netra abu-abu milik Jimin, naluri itu kembali menggelegak… naluri yang selama ini Jimin abaikan. Naluri yang muncul saat kedua netra mereka bertatapan. Naluri memiliki dan mengklaim belahan jiwa mereka.

"Kim Yoongi… aku menginginkanmu sebagai pasanganku."

Kalimat sederhana yang dikeluarkan dengan geraman rendah itu membuat sekujur tubuh Yoongi bergetar. Dan pada saat itu Yoongi tahu, bahwa begini rasanya didominasi bahkan oleh aura calon pasangannya.

"Kim Yoongi… aku ingin memilikimu karena aku mencintaimu."

Pandangan tajam milik Jimin itu membelah masuk dan membuat sekujur tubuh beta Yoongi meremang. Dan pada saat itu Yoongi tahu, bahwa ia juga menginginkan alpha guardian di hadapannya.

"Ya… aku juga mencintaimu, aku ingin dimiliki olehmu dan aku juga menginginkan kau menjadi pasanganku."

Akhirnya Yoongi mengakuinya. Akhirnya kata-kata yang selama ini ditahan oleh Yoongi keluar juga. Akhirnya… Yoongi mengungkapkan keinginan terbesarnya untuk dimiliki oleh alpha guardian yang saat ini menunduk dan mengecup keningnya.

Alpha guardian yang beralih mengecup lembut bibir merah darah Kim Yoongi. Alpha guardian yang mengelus lembut perpotongan leher Yoongi. Alpha guardian yang menancapkan taringnya di perpotongan leher Yoongi dan menandai Kim Yoongi sebagai milik Park Jimin.

"Anggh…" desis Yoongi saat panas itu menggelegak di tubuh Yoongi. Kedua tangan Yoongi bergerak meremas helaian hitam Park Jimin begitu intimnya menikmati kegiatan yang Jimin lakukan di lehernya.

Saat Jimin bergerak menjauh dari leher Yoongi, meninggalkan jejak kemerahan di sana, Jimin menyatukan keningnya dengan Yoongi yang masih menggeliat merasakan panasnya sentuhan Jimin. "Sekarang giliranmu," ujar Jimin memberikan celah pada perpotongan lehernya untuk Yoongi gigit.

Pendar amethyst itu berubah semakin terang, sama saat Jimin menandai Yoongi tadi. Yoongi mendekat dan menancapkan taringnya pada perpotongan leher Jimin. Semakin dalam taring itu masuk, semakin kuat bercampurnya aura mereka dan panas itu semakin menggelegak di tubuh keduanya.

Jimin mengangkat tubuh Yoongi, membiarkan Yoongi duduk di pangkuannya sementara Yoongi masih asik menyesap harumnya tubuh Jimin sekaligus membiarkan wangi tubuhnya turut bersatu dengan Jimin.

"Sudah, Yoongi." Ujar Jimin membuat Yoongi menjauh dari leher Jimin dan menatap Jimin dengan pandangan tak percaya. "Jika kita lanjutkan lebih jauh, kita bisa saling bersenggama di taman ini. Dan aku tak menginginkannya, aku menginginkan penyatuan kita di tempat yang layak setelah kita memberitahukan berita ini pada keluargamu." Jimin mengelus helaian yang menutup kening Yoongi.

Yoongi yang tadinya ingin protes namun ia urungkan saat mengerti alasan Jimin. "Aku mengerti." Ucap Yoongi.

Jimin mengelus kening Yoongi, menatapi kening itu dengan pandangan sendu.

"Kenapa?" Tanya Yoongi yang merasakan perubahan emosi Jimin dengan mudahnya saat ikatan itu sudah terjalin.

"Mendiang ibuku dulu memiliki tanda ikatannya di keningnya dekat dengan pelipisnya, sepasang sayap perak kecil yang indah. Aku masih mengingat bentuknya, dan itu akan indah sekali jika tanda itu juga tersemat di sini." Ujar Jimin sembari mengecup kening Yoongi.

Setelahnya, mereka berdua memasuki puri dan melaporkan pada kedua orang tua Yoongi bahwa saat ini mereka berdua telah terikat dan tinggal menunggu penyatuan saja. Hankyung tersenyum menanggapi itu semua, Naofa kecil yang sedari dulu melindungi putranya itu memang tipikal menantu idaman Hankyung. Sementara Heechul yang memang gemas melihat penolakan Yoongi dulu terhadap Jimin memekik girang karena pada akhirnya Naofa kecil itu kini telah bersanding dengan Yoonginya. Ah, Park Jimin di usia kedewasaannya yang akhirnya bisa menaklukan hati Yoonginya. Sementara Taehyung? Ia hanya terkekeh melihat wajah kakaknya yang tertunduk malu. Mereka kembali berkomunikasi di kepala mereka, menimbulkan geraman jengkel Park Jimin.

"Serius pangeran bungsu, kalau bisa aku sudah melarang kau berbicara di kepala dengan Yoongi hyung sedari dulu."

Taehyung makin terkekeh geli. "Aku hanya mengucapkan selamat, Jimin bodoh." Balas Taehyung dengan nada jenakanya. "Selamat untukmu yang pada akhirnya bisa menaklukan kakakku yang manis tapi angkuh ini. Dan selamat untuk kalian yang akan melakukan proses penyatuan sekarang juga. Aku tadi sudah menyulap kamar dengan pemandangan terindah di paviliun tenggara untuk kalian berdua begitu melihat Yoongi hyung mengalungkan lengannya di kepalamu." Dan Taehyung tertawa kencang sekali melihat kakaknya yang menatapnya sinis sedangkan sahabatnya yang hanya bisa tersenyum mengucapkan terima kasih akan ketanggapan sahabatnya.

Dan saat matahari terbenam, pangeran sulung generasi kesebelas klan Rialóir dengan keturunan guardian itu melakukan penyatuan manis dan menggelora mereka tanpa henti hingga pagi menjelang ditemani gaungnya nyanyian alam. Dan malam itu juga, Jimin mendapatkan keinginannya… sepasang sayap perak mungil itu tersemat di pelipis kiri Yoongi. Menandakan jika Kim Yoongi dan Park Jimin adalah satu. Menandakan jika salah satu di antara mereka tiada, mereka akan musnah karena merana. Menandakan jika mereka berdua adalah sepasang kekasih yang takkan terkekang waktu.

..

..taekook..

..taekook..

..

"Kau membicarakan umma, aku jadi merindukannya. Sebenarnya pasangan tua itu kemana? Sudah sebulan dan mereka masih belum kembali. Menurutmu apa yang mereka lakukan?" Yoongi menatap kedua iris abu-abu Jimin yang berkilat menenangkan.

"Ya, menurutmu apa yang pasangan tua ini lakukan, pangeranku?" dari arah belakangnya Heechul dan Hankyung berjalan menghampiri putranya.

Yoongi terkejut dan menatapi Jimin dengan pandangan menuduhnya. "Kau sudah tahu umma ada di sana?! Dan umma!" rajuk Yoongi.

"Oh astaga pangeranku sejak kapan menjadi semanis ini?" Hankyung terkekeh geli melihat pangeran sulungnya yang merajuk itu. "Maafkan pangeranku ya Jimin ah,"

Jimin hanya tersenyum geli sebelum menjawab, "Tak apa, abeonim. Yoongi yang menggemaskan seperti ini adalah kesayanganku."

Kedua pasangan itu tertawa merdu dan tersenyum manis, tanpa menyadari sang pangeran bungsu yang menatapi mereka dengan iri. Pangeran bungsu yang mulai meyakini mungkin sampai akhir hayatnya dia akan sendiri karena ia mungkin saja takkan memiliki pasangan.

..

..taekook..

..taekook..

..

"Ummmmaaa~" sosok putra sulung yang hangat bagaikan mentari pagi itu datang menyeruak ke kamar orang tuanya mengabaikan fakta usia kedewasaannya dan bertingkah teramat manis dan ceria.

"Kim Hoseok." Tegur Namjoon mengingatkan putra sulungnya agar tidak meribut.

"Maaf appa, habisnya Hoseok rindu adik!" ujar Hoseok dan melirik sosok bulat menggemaskan yang sedang menikmati darahnya di pangkuan sang bunda. "Hihi, Kookie yah!" panggil Hoseok dan berlari menuju adiknya yang baru terlahir semalam.

Sementara Namjoon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan putra pertamanya yang begitu enerjik. Seokjin yang masih asik membantu putra bungsunya menikmati darah itu hanya bisa tersenyum melihat putra sulungnya menghampiri adiknya dengan begitu semangat. "Padahal 'kan Hoseok hanya pergi setengah jam lalu dan Hoseokku sudah merindukan adik?" Tanya Seokjin saat melihat putranya mulai memainkan jemari adiknya.

"Ung! Kookie manis sih umma, Kookie juga bulat seperti marshmallow, lihat pipinya saat meminum darah? Astaga, appa… kenapa omega harus semanis Kookie dan umma?" ujar Hoseok dan menimbulkan semburat malu di pipi Seokjin sedangkan Namjoon hanya bisa terkekeh geli.

"Karena keindahan adalah nama lain omega, putra nakalku!" ujar Namjoon sembari mengacak surai rambut Hoseok. "Kau kemana tadi, nak?" Tanya Namjoon kemudian.

"Memeriksa sesuatu, appa." Ekspresi ceria itu langsung berganti dengan wajah yang serius serta kernyitan di dahinya. "Aku merasakan keberadaan vampire lain, namun mereka berhasil pergi."

"Tapi kau terlihat santai nak?" Tanya Seokjin yang mengamati wajah serius Hoseok namun sebenarnya terlihat begitu santai.

"Umma tahu ya? Ung, tak ada yang perlu dikhawatirkan, vampire ini akan bertemu dengan kita lagi nanti…" ucap Hoseok dengan nada mengambangnya menandakan jika yang berbicara saat itu adalah Hoseok dengan kekuatan Réamhaisnéisnya. "Omega kecil… takdir besar mengikuti langkahmu dimulai saat usia kedewasaanmu." Tambah Hoseok lagi masih dengan lantunan suara yang halus dan menerawang, pertanda Réamhaisnéis kembali berbicara melalui Kim Hoseok pemegang setengah kekuatan suci Réamhaisnéis sekaligus kakak dari omega kecil yang menatapnya dengan oniks kelamnya.

..

..taekook..

..taekook..

..

TBC

..

..taekook..

..taekook..

..

AKU MATI EMPAT KALI GEGARA WINGS! AAAAAAAA! YANG TERBARU KENAPA LOGO SYUB SAMA CHIM2 MUSTI DIGABUUUUUUUUUNG? AAAAAAAA!

Maaf gabisa santai, kuyakin kalian juga ga santai.

Duuh, akhirnya chapter ini kelar juga. Chapter penuh perjuangan dengan penulisan yang dicicil kala hati mati berkali-kali.

Thanks banged buat penyemangatkuuuu, glow-rie sayangs, itu adegan MinYoon tuh mirip chat kita~ thanks juga isi ramalan babynya walau belum kumasukin ke sini, dedek emesh leenamarui yang setia nungguin aku. Pun dengan readers yang masih setia dan penasaran nungguin debay keluaaar~ debay officially keluar di chapter ini~ lagi nenggak darah tuh! Digendong mamih terus diramal abang Hoshiki~

Udah deh aku mau balik mati lagi!

BYE!

..