Disclamer : Masashi Kishimoto

Rating : M

Pairing : KakafemNaru

Genre : Romance, Humor garing, sedikit Hurt/comfort, dan sedikit angst (mungkin), AU

Warning : FemNaru, OOC tingkat berat, geje, typo gak pernah ketinggalan, alur cepat secepat kilat, gak nyambung, tidak sesuai EYD dan segala kekurangan lainnya.

Selamat membaca

.

.

.

"Ahhh~ Ga,,, Gaara." Terdenar suara desahan dari salah satu kamar. Terlihat dua remaja yang berbeda gender dalam keadaan telanjang tengah menyatukan tubuh mereka, peluh membanjiri tubuh keduanya.

"Saku." Kembali Gaara mencium bibir pink Sakura dengan kasar.

"eemmm~" Sakura membalasnya dengan baik, meski tidak bisa mengalahkan lidah Gaara. Tersenyum miring Gaara melepaskan ciuman tersebut dan langsung meningkatkan kecepatan gerakan tubuh bagian bawahnya.

"AAhhhh~ Gaaa,,, raa, kii,, mochi." Desah Sakura dengan kerasnya karena gerakan Gaara yang tiba-tiba. Tangan Gaara juga tak hanya diam saja, tangan pucat itu mulai membelai perut rata Sakuran dan semakin naik menuju payudara Sakura yang terasa pas ditangannya. Diremasnya payudara Sakura dengan sedikit kasar, ya Gaara sangat suka bermain kasar dan Sakura juga menyukai hal itu.

"Gaa,,, ra, aku ke,,luar… Ahhhhnnn~"

"Aku ju,,,ga Sakura."

Setelah mereka mencapai kenikmatan dunia, Gaara menjatuhkan diri di samping Sakura dan menghadapnya. Membawa Sakura dalam dekapanya kemudian menutupi tubuh polos mereka dengan selimut.

"Terimakasih, aku mencintaimu." Kemudian mencium kening Sakura.

"Heemm, aku juga mencintaimu Gaara." Balas Sakura sambil menyamankan diri dalam dekapan Gaara.

"Emm Gaara bolehkah aku bertanya?"

"Iya." Jawab Gaara yang mulai memainkan rambut Sakura.

"Apa yang terjadi pada Sasuke?" emerald itu memandang lurus pada jade yang menenangkan milik Gaara. Keningnya mengkerut tak suka saat Sakura menyebut nama Sasuke dalam pembicaraan ini.

"Apa maksud mu? Kenapa menanyakan Sasuke, apa kau masih menyukainya?" Tanya Gaara penuh selidik.

"Hahahaha" Sakura tertawa saat melihat tampang kekasihnya yang sudah sangat merah menahan marah, dan ini yang disukai Sakura dari Gaara. Hanya dihadapannya saja Gaara bisa melepas topengnya, terlihat sangat lucu dan menggemaskan bagi Sakura.

"Kenapa kau tertawa?" Gaara merasa bingung melihat tingkah kekasihnya itu.

"Aku tidak akan berpaling pada siapapun Gaa-kun, meski dulu aku sempat menyukai Sasuke. Tapi sekarang aku sudah memilikimu dan tidak mungkin tepatnya aku tidak bisa meninggalkan mu karena aku sudah sangat mencintaimu." Jelas Sakura panjang lebar sambil membelai pipi pucat Gaara.

"Ya aku tau itu, aku juga sangat mencintai mu. Dan kenapa tadi kau menanyakan Sasuke? Aku tidak suka jika kau membicarakannya saat kita selesai bercinta!" terang Gaara yang sudah bersikap normal.

"Maaf, aku hanya khawatir pada Sasuke. Semenjak Naruto sensei datang dan menjadi wali kelas kita, Sasuke terlihat aneh, dia selalu mencoba menarik perhatian Naruto sensei. Dan kemarin lusa aku melihatnya pergi menggandeng tangan Naruto sensei. Apa Sasuke jatuh cinta pada Naruto sensei?" raut wajah Sakura terlihat sangat khawatir.

"Shikamaru juga berpikiran sama dengan mu, bukannya malah baik jika dia bisa jatuh cinta lagi."

"Tapi aku dengar, Naruto sensei mamiliki hubungan khusus dengan Kakashi sensei. Itu yang memebuatku khawatir pada Sasuke."

"Biarkan Sasuke, jika dia membutuhkan bantuan kita, maka kita akan membantunya. Tapi untuk sekarang biarkan dia berjuang sendiri untuk mendapatkan apa yang dia inginkan."

"Kau benar Gaa-kun."

"Sekarang tidurlah, besok kita ada kelas."

"Baiklah, oyasumi Gaa-kun."

"Oyasumi moo." Dan keduanya mulai tertidur dengan saling memeluk satu sama lain.

.

.

.

Pagi yang sanagat cerah, burung burung berkicau dengan riangnya. Asrama tampak ramai ya hari ini sudah hari Senin, semua penghuni asrama melakukan kegiatan masing masing meski jam masih menunjukkan pukul 06.00.

Di sebuah kamar terlihat seorang laki-laki dengan model rambut bak pantat ayam dengan mata onxy yang indah. Wajahnya terlihat menahan emosi saat seorang yang berada disebrang sana memberikan informasi yang Sasuke minta.

"Informasi yang aku dapat, dulu mereka pernah berpacaran kurang lebih tiga tahun. Mungkin dia terlalu frustasi dengan apa yang telah kau lakukan kepadanya hingga dia mau mau saja berpacaran dengan si Kakashi itu." Kata Itachi mencoba menggoda sang adik tercinta.

"Lanjutkan, dan jangan bercanda kriput."

"Tapi aku serius tentang Naru-chan yang frustasi itu, setelah dia pergi ke Amerika pergaulannya sedikit berbahaya, dia tak lagi menjadi Naru yang polos seperti dulu. Dia suka pergi ke bar bersama teman-temannya, dia juga suka mabuk mabukan. Tapi hal itu tidak diketahui oleh paman Minato dan bibi Kushina, karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya." Itachi sangat serius saat mengatakan informasi itu, sebenarnya Itachi sangat prihatin dengan pergaulan yang Naruto ambil.

"Tapi setelah Naruto menjalin kasih dengan Kakashi, pergaulannya berangsur-angsur membaik. Dia tak lagi pergi ke bar, tak lagi minum minuman keras hingga mabuk. Untung saja ada Kakashi. " Nada Itachi sedikit riang saat mengutarakan hal itu.

"Seberapa jauh hubungan mereka?" Tanya Sasuke dengan sangat dingin, dia tidak suka ketika Itachi sedikit memuji Kakashi yang bisa mengendalikan Naruto.

"Humm, sepertinya cukup jauh, Kakashi juga sudah mengenalkan diri pada paman Minato jika dia adalah kekasih Naruto dan paman menyetujuinya. Mereka juga pernah beberapa kali melakukan hubungan sex, tentu saja tanpa sepengetahuan paman Minato. Sepertinya kau sudah kalah start Otuoto." Itachi tersenyum sambil membayangkan wajah Sasuke yang merah padam menahan amarah.

"Cih, diam kau keriput." Kata Sasuke menahan amarah.

"Kau seharusnya meminta maaf kepadanya Outoto." Nasehat Itachi yang langsung membuat Sasuke mengepalkan tangannya karena mengingat pembicaraannya dengan Naruto di taman.

"Sudah kulakukan, dia sudah memaafkan ku. Tapi hatinya masih tertutup untuk ku." Jelas Sasuke dengan raut wajah yang lembut.

"Dan sekarang apa yang akan kau lakukan?" Tanya Itachi, dia sangat tau watak sang adik. Sasuke tak akan diam saja melihat Naruto jatuh pada laki-laki lain selain dirinya. Sasuke sudah sangat terobsesi dengan Naruto.

"Aku akan merebut sesuatu yang seharusnya menjadi milikku." Kata Sasuke sebelum memutuskan sambungan dengan sang Aniki. Tanpa sepengetahuan Sasuke, Itachi yang berada di apartemen elitnya berdoa agar Naruto tetap selamat dan bahagia. Apapun yang direncanakan Sasuke adalah sesuatu hal yang buruk pikir Itachi.

Setelah sambungan dengan Itachi terputus, Sasuke langsung menghubungi sebuah nomer yang bertuliskan Zabuza.

"Bagaimana persiapannya?" Tanya Sasuke langsung.

"Saya sudah memutus remnya, sekarang kita hanya bisa melihat hasilnya." Jawab Zabuza di sebrang sana.

"Kerja bagus, akan kulunasi jika semua berhasih dengan lancar." Kata Sasuke

"Baik." Dan sambungan terputus.

"Ini akan menjadi peringatan pertama bagimu Hatake." Senyuman Sasuke mengembang menampilkan kesan bengis yang jarang terlihat.

(^O^)

Bel masuk berbunyi, itu menunjukkan sudah pukul 07.30 dan semua siswa dan siswi langsung berhamburan memasuki kelas masing-masing.

Sasuke sudah berada di dalam kelas sejak pukul 06.45, dia terlalu malas mendengar terikan fansnya dan beberapa alasan lainnya membuatnya berangkat lebih awal dari biasanya. Sasuke hanya diam dan terus mendengarkan lagu yang dia dengarkan lewat earphonenya.

Semua siswa siswi juga sudah berkumpul di dalam kelas dan berbincang dengan teman sebangkunya.

Srek

Pintu kelas digeser, menampakkan seorang wanita yang sangat cantik dengan aura yang berseri seri memasuki kelas.

"Ohayou anak-anak." sapanya dengan senyum yang terus merekah.

"Ohayou sensei." Balas semua serentak.

"Baiklah sekarang buka buku kalian halaman 45." Perintah Naruto dengan suasana hati yang sangat berseri seri.

"Sensei!"

"Ya ada apa Kiba?" Naruto bertanya karena Kiba mengangkat tangannya.

"Kenapa kau sangat berseri seri? Apa ada hal yang sudah terjadi padamu?" Tanya Kiba yang penasaran dengan guru barunya itu.

"Banyak hal yang bisa membuat semua orang merasa senang." Jawab Naruto yang masih membuat Kiba bingung.

"Apa anda dan Kakashi sensei resmi berpacaran?" Tanya Karin dengan senyum yang kemenangan.

Pertanyaan itu seketika membuat wajah Naruto memanas, disaat bersamaan wajah Sasuke terlihat semakin datar dan tangannya terkepal erat menahan emosi.

Melihat ekspresi kedua tokoh utama di kelas itu membuat seisi kelas ramai, ada yang senang karena Sasuke tak akan jatuh ke tangan Naruto, ada juga yang bersimpati pada Sasuke, dan banyak anak lelaki yang merasa patah hati.

"Ehem, jangan menyebar gossip nona Karin. Sekarang kita lanjutkan pelajaran kita." Kata Naruto untuk menenangkan suasana kelas.

Naruto menghadap papan tulis dan menuliskan beberapa hal yang penting untuk pelajaran kali ini. Tak sampai satu menit Naruto kembali dikejutkan dengan tingkah Sasuke yang tiba-tiba keluar kelas dengan menggeser pintu keras. Semua pandangan menuju ke pintu yang telah Sasuke lalui.

"Merepotkan." Shikamaru yang dari tadi tidur sekarang ikut melihat kearah Sasuke menghilang dan kembali tidur.

"Dia pasti sangat terpukul." Sai langsung mendapatkan tatapan penuh tanya oleh Naruto.

"Jangan melihatku seperti itu sensei, ini kenyataan."

Sakura terlihat cemas melihat kepergian Sasuke, pandangannya kemudian beralih pada Gaara. Seakan tau apa yang ingin Sakura katakan, Gaara langsung berdiri dan berkata pada Naruto.

"Sensei lebih baik anda menyusul Sasuke." Kata Gaara tenang sambil menatap lurus pada Naruto.

"Hemm kau benar, tapi kalian tidak boleh berisik. Kerjakan point A hingga C, setelah selesai kumpulkan pada Hinata dan Hinata letakkan buku itu di mejaku." Ujar Naruto sebelum keluar dari kelas.

"Ha'i sensei." Jawab mereka serentak.

Setelah Naruto keluar kelas, Sakura memandang Gaara dan berkata terimakasih. Seluruh penjuru kelas langsung mengerjakan tugas yang diberikan Naruto dengan tenang.

(^O^)

Naruto POV

Kemana aku harus mencarinya, aku tak mengerti apa yang dia pikirkan. Keluar disaat aku sedang mengajar, keterlaluan sekali dia. Awas saja kalau ketemu akan ku beri hukuman dia.

Pertama-tama ke ruang perawatan, mungkin dia disana. Hemm tapi kenapa dia keluar kelas yaa, apa aku mengtakan sesuatu yang menyinggungnya. Ah itu dia ruang perawatan.

"Permisi." Kataku sambil menggeser pintu berwarna putih itu, bau obat-obatan langsung masuk dalam indra penciumanku.

"Ada apa Naruto sensei? Apa anda butuh perawatan?" telihat Sizune sensei yang sedang sibuk menata obat obatan, pandanganku langsung tertuju pada 3 buah ranjang yang kosong, hah ternyata Sasuke tidak ada disini.

"Ah Sizune sensei maaf mengganggu, apa kau melihat Sasuke?" tanyaku langsung.

"Tidak, aku tidak melihatnya sama sekali."

"Terimakasih, kalau begitu aku akan mencarinya." Akupun mulai menutup pintu putih itu, tapi suara Sizune sensei menghentikanku.

"Kalau kau mencari seorang murid yang sedang membolos pelajaran, mungkin atap tempat yang sesuai." Kata Sizune sensei tenang sambil menata obatnya lagi.

"Terimakasih." Senyumku langsung mengembang mendengar saran dari Sizune sensei, setelah menutup pintu, aku langsung melangkahkan kaki menuju atap sekolah. Semoga dia disana, langkahku semakin cepat dan panjang, aku harus segera membawanya kembali ke kelas.

BRAKK

Kubuka pintu dengan kasar, "Sasuke, apa yang kau lakukan disini." Amukku pada Sasuke yang sedang berdiri didekat pagar, dia terlihat sedang mengamati seseorang.

Penasaran dengan apa yang dilihat Sasuke, aku pun langsung mendekatkan diri pada pagar dan ikut melihat kearah yang dilihatnya. Dan disana aku melihat sebuah mobil yang tak asing berjalan keluar gerbang KHS, itu mobil Kakashi, pandanganku langsung beralih pada Sasuke.

"Kenapa kau melihat Kakashi dengan tatapan seperti itu?" tanyaku penasaran dengan raut wajah Sasuke yang sedikit menyeramkan menurutku.

"Aku tidak suka sesuatu yang seharusnya milikku, dimiliki orang lain." Katanya dengan wajah yang semakin menggelap.

"Apa maksudmu Suke? Ah sebaiknya kita kembali kekelas." Sedikit tak nyaman dengan suasana yang suram ini, aku mencoba menarik lengan Sasuke agar mau mengikutiku untuk kembali ke kelas. Tapi tindakan ini sia-sia Sasuke tak bergerak seincipun dari pagar itu, dia tetap melihat kerah perginya mobil Kakashi pergi. Aku merasakan firsat yang sangat buruk.

"Ayo Suke, nanti kau akan tertingg-"

BRAKKK DUARRR

Perkataanku langsung tehenti dan pandanganku pengarah pada asal suara yang sangat keras tadi, terlihat kepulan asap muncul tak jauh dari sekolah. Dan arah itu adalah arah yang….

Naruto POV end

Naruto jatuh berlutut dengan pandangan kosong, bibir mungil itu sedikit bergetar.

"Tidak mungkin, tidak mungkin itu Kakashi." katanya dengan sangat pelan tapi masih bisa didengar oleh Sasuke.

Pendangan kejam dan penuh dengki itu tertuju pada Naruto, tak ada rasa kasihan atau sedih saat Sasuke melihat keadaan Naruto yang sekarang.

"Sudah kukatakan aku tidak suka jika sesuatu yang seharusnya milikku, dimiliki orang lain. Ingat Naru kau akan selamanya menjadi milikku, tidak ada orang lain yang bisa mengambilmu dariku, termasuk pria bodoh itu." Kata Sasuke dengan nada yang menusuk.

"Apa yang kau lakukan pada Kakashi?" tanya Naruto yang kini wajahnya dihiasi oleh lelehan air mata.

"Aku hanya memberikan sedikit salam padanya karena berani menyetuhmu. Jika kau masih dekat dengannya maka aku tak akan ragu lagi untuk melenyapkannya, agar kau tak bisa melihatnya lagi. Ingat itu Dobeku sayang." Wahajah yang semula dicengkram oleh Sasuke, sudah dilepaskan, dan Sasuke pergi menjauh dari Naruto. Tepatnya pergi meninggalkan Naruto sendiri.

Dengan tangan bergetar Naruto mencoba menghubungi ponsel Kakashi dan hasilnya nihil, dia masih tak percaya dengan apa yang Sasuke katakan padanya tadi.

Hingga Sizune muncul dari arah pintu dan memeluk Naruto. "Apa yang telah terjadi Naru?" tanya Sizune, hilang sudah sikap formal yang tadi mereka terapkan, yang terlihat adalah sikap teman yang saling mendukung.

"Kakashi,,,, Kakashi,,,, tolong dia." Kata Naruto yang masih menangis dalam pelukan Sizune.

"Ada apa dengan Kakashi?" tanya Sizune dengan bingungnya.

"Dia,,, dia,,, terluka."

Drerttt

Ponsel Sizune bergetar karena telfon masuk, dilayar itu tertera nama Tsunade sensei.

"Moshi moshi, ada apa sensei?" tanya Sizune

"Kakashi kecelakaan sekarang dia sudah berada di rumah sakit Konoha, tolong kau datang kesana untung mengurusi semua administrasinya." Dan setelah itu sambungan telfon terputus.

Mata Sizune membola saat mendengar berita itu, 'kenapa naruto bisa tau jika Kakashi mengalami kecelakaan, ada yang tidak beres' batin Sizune

"Kumohon,,, tolong dia."

Dengan cekatan Sizune langsung memapah Naruto menuju ruang perawatan agar Naruto bisa beristirahat disana, sedangkan dia akan segera pergi kerumah sakit.

.

.

.

"Kakashi, tolong gantikan aku dipertemuan tahunan kepala sekolah, aku malas untuk bertemu dengan Raikage." Perintah Tsunade pada Kakashi.

"Itu bukan alasan yang baik nona." Kata Kakashi yang tersenyum dibalik masker.

"Aku tidak butuh pendapatmu, dan segera pergilah." Perintah Tsunade lagi dengan nada yang sedikit meninggi, moodnya sedang buruk hari ini.

"Baiklah, saya akan pergi. Permisi." Kakashi pun pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah. Langkah lebarnya langsung menuju parkiran mobil dan segera mengendarainya menuju tempat pertemuan yang lumayan jauh.

Kakashi berjalan dengan kecepatan rata-rata, hingga sampai di permpatan lampu merah, dia mencoba mengurangi kecepatan dengan menginjak pedal rem. Tapi mobil tak bisa berhenti, ditambah dengan jalan yang sedikit menurun itu membuat kecepatan mobil sedikit naik.

Mungkin hari ini hari sialnya karena saat bersamaan terihat seorang ibu hamil yang tengah menyeberang jalan. 'ah aku benar-benar sial hari ini.' Batinnya. Dengan cepat Kakashi membelokkan mobilnya, menabrakkan mobil itu pada tiang lampu merah agar laju mobil itu berhenti dan meminimalisir adanya korban.

Bagian depan mobil Kakashi ringsek, kepalanya sempat terbentur kaca mobil. Orang-orang yang melihat langsung memanggil ambulan dan polisi untuk menolong Kakashi.

.

.

.

Banyak sekali orang yang bergerombol disana saling berdesakan melihat apa yang terjadi, suara ambulan pun membuat suasana semakin ramai saja namun menegangkan. Terlihat beberapa petugas keamanan mencoba mengeluarkan seseorang dari sebuah mobil yang risngsek menabrak tiang lampu merah.

Kakashi terlihat tak sadarkan diri, keadaannya sangat mengenaskan. Darah tak henti-hentinya mengalir dari kepalanya, begitupula dengan kakinya yang berlumur darah. Para petugas medis dengan cekatan langsung membawa Kakashi ke rumah sakit Konoha menggunakan ambulan.

Setelah Kakashi memasuki rumah sakit, Sizune datang. Dengan raut wajah yang sangat cemas dia memasuki bangunan yang penuh dengan bau obat-obatan itu, Sizune langsung menuju resepsionis dan bertanya tentang Kakashi.

"Dimana ruangan Hatake Kakashi?" tanya Sizune dengan tidak sabarnya.

"Maaf, apa anda kerabat tuan Hatake?" tanya wanita paruh baya itu dengan nada tenang agar Sizune tidak terlalu cemas.

"Ah, saya perwakilan dari tempatnya bekerja, saya yang akan mengurus semua administrasinya." Jawab Sizune.

"Baiklah, tuan Hatake sedang di ruang oprasi, silahkan tandatangan dulu disini untuk menyetujui oprasi ini."

"Baik, dan bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Sizune.

"Tuan Hatake mendapatkan luka yang cukup serius dibagian kepala dan kaki kanan. Selebihnya saya kurang tau." Jawab wanita paruh baya sambil membolak balikkan kertas laporang mengenai Kakashi.

"Terimakasih." Sizune melangkah menuju barisan kursi dan menduduki salah satunya.

"Semoga operasinya berjalan dengan lancar." Sambil menautkan kedua tangannya Sizune mulai berdoa untuk keselamatan Kakashi.

'Apa yang harus aku katakan pada Naruto, semoga dia bisa tenang dan tidak seperti tadi.' Batin Sizune, setelah itu dia melaporkan keadaan dan luka yang dialami oleh Kakashi pada Tsunade.

.

.

.

Sasuke mamasuki kelas dengan wajah yang sangat cerah, berbeda dengan tadi saat dia meninggalkan ruangan berukuran sedang itu. Semua tatapan tertuju padanya sesaat setelah dia memasuki kelas, banyak yang bertanya tanya kenapa Sasuke tidak bersama dengan sensei mereka. Tapi mereka terlalu takut untuk menanyakannya, karena sekarang sebuah seringai terlihat menghiasi wajah tampannya.

Beberapa siswi yang sangat mengaguminya termasuk Karin sangat bersukur dan semakin menggilain Sasuke setelah melihat seringai menyeramkannya, sedangkan yang lain masih bertanya tanya kemana perginya Naruto sensei hingga sekarang belum kembali. Dan pertanyaan itu bisa tersampaikan saat Gaara menanyakannya pada Sasuke.

"Kenapa kau kembali kesini sendiri, kemana Naruto sensei?" tanya Gaara dengan tenangnya.

"Entahlah, aku tak bersamanya." Kembali seringai kejam itu tercetak jelas di wajah tampan Sasuke. Gaara merasakan firasat buruk hanya dengan melihat seringai Sasuke yang sekarang.

Setelah menjawab pertanyaan itu, Sasuke langsunng melangkahkan kaki keluar kelas dan menuju ke asrama.

"Kerjamu bagus, akan ku transfer sisa uangnya." Sasuke langsung memutus sambungan telofon itu dan kembali berjalan dengan angkuhnya.

'Ini baru awalnya Hatake, akan ku buat kau sangat menderita jika masih berani menyentuh wanitaku.' Rapal Sasuke .

(^O^)

Terlihat Naruto tengah terlelap diatas sebuah ranjang perawatan, keningnya sedikit berkerut dan keringat dingin membasahi dahinya.

"Kakashi." bersamaan dengan itu mata Naruto mulai terbuka memperlihatkan bola mata yang indah seperti langit cerah. Cairan bening itu meluncur begitu saja dari kedua mata Naruto, isakan yang memilukan lolos dari bibir tipisnya.

SREKK

Pintu putih itu terbuka menampilkan sosok sang kepala sekolah yaitu Tsunade dengan raut wajah yang tak bisa diartikan.

Tsunade memandang Naruto dengan penuh rasa bersalah.

"Bagaimana keadaan Kakashi nek?" pertanyaan itu langsung menohok Tsunade, dia tau Naruto pasti akan menanyakan hal itu padanya, tapi Tsunade tidak ingin melihat Naruto khawatir dan sedih ketika tau keadaan Kakasih yang buruk.

"Dia ,,, akan baik baik saja kan?" Air mata itu langsung jatuh begitu saja dari manik shappire itu.

"Kakashi, keadaannya cukup baik. Dia hanya butuh sedikit operasi." Jawab Tsunade dengan bohongnya.

"Berhenti membohongiku, hal itu semakin membuatku sedih nek." Bentak Naruto.

Tsunade memejamkan matanya sejenak, berat sekali jika harus jujur pada Naruto. "Dia sedang dioperasi, kaki kanannya patah dan dia mengalami gegar otak ringan." Detik itu pula suara tangisan Naruto pecah, dia terlalu syok dengan apa yang dialami Kakashi, ini semua kesalahannya karena tidak mengindahkan perkataan Sasuke. Naruto terus menyalahkan dirinya sendiri, Naruto menangis hingga pandangannya buram dan dia kembali pingsan. Dengan sigap Tsunade menangkap tubuh Naruto sebelum terjungkal, Tsunade menatap wajah Naruto dengan pandangan sendu.

"Jangan menangis lagi sayang." Bisik Tsunade.

.

.

.

Satu minggu kemudian

.

.

.

"Bagaimana keadaanmu hari ini Kakashi sensei?" tanya Yugao yang baru saja tiba dengan membawa sebuket bunga anyelir.

Mata Kakashi langsung tertuju pada rangkaian bunga yang dibawa Yugao untuknya, bunga itu mengingatkannya pada Naruto. Dulu Naruto sering membawakan bunga itu untuk hiasan dikamar Kakashi, ya itu dulu dan sekarang kemana perginya Naruto saat Kakashi tengah berbaring diranjang rumah sakit kenapa pula Naruto belum menjenguknya hingga detik ini, pikir Kakashi.

Setelah melewati operasi, Kakashi sempat tak sadarkan diri selama empat hari dan selama itu pula Naruta sama sekali tak mengunjungi Kakashi. Saat rekan dan atasannya menjenguk, Kakashi selalu bertanya kemana perginya Naruto sampai sampai tak sempat menjenguknya. Dan mereka hanya bisa bungkam, hanya Tsunade yang menjawab bahwa Naruto sangat sibuk dengan kelas XII B yang tengah mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.

"Sama seperti biasanya." Jawab Kakashi datar, dia terlalu malas jika yang menjenguknya adalah Yugao.

"Bagaimana dengan kaki mu?" tanya Yugao sambil mengupaskan apel yang ada dimeja.

"Sekarang sudah bisa berfungsi, tapi aku butuh tongkat kruk untuk berjalan."

Yugao mencoba menyuapi Kakashi apel tapi dengan cepat Kakashi mengambil sepotong apel yang ada ditangan Yugao dan memakannya. Dan yugao hanya tersenyum kecut dengan apa yang dilakukan Kakashi.

"Kau pasti akan segera sembuh Kakashi sensei." Kata Yugao tulus.

"Apa kau melihat Naruto sensei hari ini?" tanya Kakashi dengan nada penasaran.

"Ya, dan seperti biasa dia terlihat sangat sibuk dengan kelasnya." Dusta Yugao, semua staf sudah dibungkam oleh Tsunade agar tidak mengatakan keadaan Naruto yang sesungguhnya pada Kakashi. Untuk Yugao sendiri, dia juga tidak mau jika Kakashi hanya memikirkan Naruto.

"Oh sepertinya dia sangat betah di kelas itu." Kakashi cukup lega mendengar perkataan Yugao.

"Apa kau merindukan sekolah?" tanya Yugao pada Kakashi.

"Mungkin, aku merasa sangat bosan berada disini." Dan setelah itu ruangan yang didominasi dengan warna putih itu menjadi senyap, mereka terlalu larut dalam pemikiran mereka sendiri.

.

.

.

Naruto POV

Sudah seminggu Kakashi belum kembali dari rumah sakit, kata nenek Kakashi tak sadarkan diri selama empat hari. Itu membuatku sangat sedih, aku ingin menemuinya melihat wajah tenangnya. Tapi aku tidak bisa melakukannya, Sasuke kembali mengancam jika aku menemui Kakashi di rumah sakit, maka nyawa Kakashi kembali terancam. Aku tidak mau Kakashi celaka karena diriku.

"Dobeku sayang~" panggilan yang tak asing ini, aku langsung berbalik dan menemukan Sasuke tengah berjalan menuju kearahku yang berada didekat pagar pembatas atap.

Tatapan dan raut wajah itu sungguh membuatku tak nyaman, tubuhku langsung bergetar saat mata kami saling beradu.

"Aku mencarimu kemana -mana." Nada lembut itu meluncur begitu saja dari mulutnya dan dengan cepat dia memeluk tubuh mungilku.

"Jika mau pergi bilang padaku, aku tak suka kau tiba-tiba menghilang dari pandanganku." Peluknya semakain erat.

"Sasu, lepaskan aku takut akan ada yang salah paham." Cicitku, aku takut dia akan marah karena penolakanku.

"Tidak akan ada yang salah paham, kau milikku. Tidak akan ada yang berani mengganggu kita, akan ku pastikan hal itu." Katanya dengan penuh penekanan. Membuat tubuhku semakin gemetar dalam pelukannya.

Sasuke yang hangat sekarang sudah hilang tergantikan oleh sosok Sasuke yang sangat teropsesi pada diriku, Uzumaki Naruto. Kukira setelah tak bertemu bertahun tahun dia akan berubah menjadi Sasuke yang hangat lagi, ternyata aku salah.

"Jangan pernah meninggalkanku lagi Dobe, aku tidak mau kau tinggal sendiri lagi." Bisiknya tepat ditelingaku.

"Kau akan baik baik saja Suke, tanpa dan adanya diriku." Balasku sambil menguap rambutnya pelan.

"Mereka akan mencoba memasukkanku lagi kerumah sakit jiwa jika kau meninggalkanku lagi Dobe. Tetaplah bersamaku." Isak Sasuke, tak kusangka jika dia sempat mengalami masa sulit seperti itu.

"Tenang aku bersamamu Suke." Maaf Kashi, sepertinya Sasuke lebih membutuhkan ku.

Naruto POV end

Sasuke yang semula terisak kini terdiam, membuat Naruto bertanya-tanya.

"Akhhh~" sebuah rintihan lolos dari bibir mungil Naruto setelah Sasuke dengan cepat menjilat dan menghisap leher Naruto hingga meninggalkan bercak merah kebiruan.

"A,,,pa yang kau lakukan Suke?" tanya Naruto yang mulai mendorong Sasuke.

"Hanya menandai kepunyaanku." Jawabnya santai. Sekarang suasana hati Sasuke berubah dengan cepat. Naruto menyadari hal itu dan mulai bertanya-tanya, apa Sasuke sudah gila? Pikir Naruto. Dia harus mencari tahu apa yang terjadi pada Sasuke.

.

.

.

Setelah kejadian diatap kemarin, Naruto mulai mencari informasi tentang kondisi mental Sasuke, dimulai dengan bertanya dengan pada teman teman dekat Sasuke seperti Gaara, Shikamaru, Neji, Sai, dan Kiba, tapi hasilnya nihil. Mereka tak pernah melihat keanehan pada diri Sasuke.

Tak berhenti disitu Naruto mencoba menghubungi Itachi Uchiha yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri. Dan sekarang disinilah Naruto berada, sebuah café minimalis dengan secangkir cappuchino hangat.

Melirik jam ditangan kirinya, sudah lebih 10 menit dari jam yang telah disepakatinya dengan Itachi. "Hulf" Naruto memalingkan wajahnya melihat jalanan yang tak terlalu ramai, dan tak lama pintu café terbuka menampilkan sosok yang Naruto tunggu.

"Maaf aku sangat terlambat." Sesal Itachi yang langsung duduk diseberang Naruto.

"Ini hari minggu Nii-san, jangan sibukkan dirimu pada tumpukan kertas itu, kau juga butuh hiburan dan istirahat." Kata Naruto mulai menasehati Itachi.

"Hahaha, aku tau Naru." Itachi memanggil seorang pelayan dan memesan secangkir kopi hitam.

"Baiklah, sekarang apa yang ingin kau ketahui tentang Sasuke?" Tanya Itachi langsung pada intinya.

"Apa yang terjadi setelah aku pergi keluar negeri?" tanya Naruto dengan raut wajah yang sangat serius.

Itachi sangat enggan untuk menceritakan masa-masa kelam seorang Uchiha Sasuke, tapi dia juga tak bisa menolak permintaan wanita di depannya ini, yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.

Setelah pesanan Itachi datang, Itachi dengan berat hati menceritakan semua tentang apa yang terjadi pada Sasuke. Tentang depresi Sasuke dan orang tuanya yang sangat khawatir akan keadaan Sasuke.

"Emm Nii-san boleh aku bertanya sesuatu?"

"Ya silahkan." Jawab Itachi sambil meminum kopinya.

"Apa Sasuke pernah akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa?" tanya Naruto dengan raut wajah serius.

"Hah, hal itu tidak akan terjadi selama masih ada aku yang memperhatikannya Naru." Jawab Itachi ringan.

"Dia membohongiku." Bisik Naruto yang tak bisa didengar oleh Itachi.

"Naru, tolong maafkan adikku yang brengsek itu. Dia tak bermaksud seperti itu, dia hanya tak bisa mengontrol emosinya." Pinta Itachi sambil menundukkan kepalanya.

"Aku sudah memaafkannya sejak dulu Nii-san, nasi sudah menjadi bubur. Tak ada yang perlu disesali lagi." Jawab Naruto dengan sebuah senyuman tulus untuk Itachi.

"Aku senang kau telah memaafkannya. Dia terlalu mencintaimu hingga tidak bisa berpikir dengan jernih jika sudah menyangkut tentang dirimu."

"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan si Hatake itu?" tanya Itachi, membuat wajah Naruto memerah malu.

"Nii-san tau dari mana?" tanya Naruto penasaran

"Aku tau segalanya Naru, jika itu menyangkut adik perempuanku." Goda Itachi.

'Tapi kau pasti tidak tau apa yang dilakukan Sasuke pada Kakashi, Nii-san' pikir Naruto sedih, tapi senyuman itu terus mengembang agar Itachi tak terlalu khawatir.

"Naru jika Sasuke melakukan sesuatu yang diluar batas kewajaran, ceritakan padaku, jangan pernah berpikir untuk menyelesaikannya sendiri." nasehat Itachi, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius.

"Ha'i Nii-san." 'aku tak ingin merepotkanmu.'

(^O^)

Setelah pertemuannya dengan Itachi, Naruto langsung kembali keasrama karena langit yang semula cerah terlihat menggelap, menandakan akan turun hujan.

Drett

Hp Naruto bergetar menandakan adanya sebuah pesan masuk.

From: U. Sasuke

Datang kekamarku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.

Dengan cepat Naruto membalasnya

From: Dobe

Apa itu penting? Aku lelah, besok saja aku kekamarmu.

Melihat kalimat itu Sasuke merengut tak suka.

From: Sasuke

Sangat penting, kau harus segera kesini. Aku membutuhkanmu, apa sekarang kau bersama Hatake? Apa aku perlu membuatnya terluka agar kau mau menurut?

From: Dobe

Baiklah, aku akan segera kesana.

Senyum mengerikan itu terpampang jelas pada wajah tampan Sasuke.

Setelah kecelakan Kakashi, Naruto selalu menuruti semua permintaan Sasuke. Hal ini karena Sasuke yang terus mengancam akan mencelakai bahkan tak segan-segan membunuh Kakashi jika Naruto tak menuruti perkataannya.

(^O^)

Membutukan waktu kurang lebih 15 menit untuk Naruto sampai di KHS, dengan cepat Naruto langsung menuju kamar Sasuke. Mengetuknya beberapa kali hingga pintu terbuka menampakkan Sasuke dengan senyuman yang terlihat ramah. Tapi bagi Naruto itu senyuman yang mengerikan.

"Okaeri."

"Emmm, ta… tadaima." Naruto mulai memasuki kamar Sasuke dan tanpa sepengetahuan Naruto, Sasuke mengunci pintu kamarnya.

"Minumlah, aku membuatkanmu coklat panas. Di luar pasti sangat dingin." Sasuke menyerahkan segelas coklat hangat pada Naruto, kemudian berjalan ke jendela dan melihat keadaan diluar.

"Terimakasih" Naruto meminum coklat panas itu sedikit demi sedikit.

"Badai."

"Eh…?" Naruto memandang Sasuke.

"Akan ada badai." Terang Sasuke

"Oh." Sasuke berjalan mendekati Naruto yang sudah duduk diranjang Sasuke, memperhatikan setiap gerak gerik Naruto saat meminum coklat.

"Apa yang ingin kau tunjukkan padaku Sasu? Aku lelah, aku ingin segera pergi ke kamarku." tanya Naruto yang mulai risih dengan pandangan Sasuke yang terasa menelanjanginya.

"Tidurlah disini." Kata Sasuke dingin.

"Tapi-"

"Sudah kubilang TIDURLAH DISINI." Bentak Sasuke membuat Naruto takut.

"Ba… baiklah." Naruto mulai menaiki ranjang Sasuke dan menarik selimut hingga batas lehernya. Sasuke terus mengamati Naruto, yang diawasi sendiri merasa risih tapi tak berani menegur Sasuke. Naruto terus berpikir agar bisa keluar dari kamar Sasuke hingga tanpa Naruto sadari dia terlelap dan terjatuh pada alam mimpi. Hal ini membuat Sasuke tersenyum puas. Obat tidur yang dia masukkan ke coklat panas Naruto bekerja.

"Jangan pernah membantahku lagi." Sasuke mencium kening Naruto sangat lama dan posesif.

.

.

.

JJGGGLLEEERRR

Terdengar suara Guntur yang sangat keras hingga membangunkan Naruto dari tidurnya, mencoba menyesuaikan matanya dengan kondisi kamar yang gelap.

"Jam berapa sekarang? Ah aku harus segera kembali kekamarku." Gumam Naruto yang melihat jam ditangannya menunjukkan pukul sembilan malam.

"Sepertinya aku terlalu lama tidur, kepalaku terasa pusing. Sasuke kau dimana?" Naruto duduk diranjang Sasuke sambil melepas jam tangannya dan memasukkannya kedalam tas. Naruto mulai berdiri mencari keberadaan Sasuke, tapi Naruto tak menemukannya. Dengan hati hati Naruto mencoba membuka pintu kamar Sasuke tapi pintu itu terkunci, dengan tak sabar Naruto kembali mencoba membuka pintu tapi tak ada hasilnya.

Naruto merasakan lengan kokoh memelukknya dari belakang membuatnya sedikit tersentak.

"Kau mau kemana?" tanya Sasuke dingin sambil meniup-niup telinga Naruto

"A… aku harus kembali kekamarku Suke." Jawab Naruto yang mencoba melepaskan diri dari lengan kokoh Sasuke.

"Mulai sekarang kamar ini juga kamar mu Dobe." Jawab Sasuke yang mulai menjilati leher jenjang Naruto.

"Sa… suke, hentikan. Kau tidak boleh melakukan itu." Tolak Naruto mencoba menjauhkan dirinya dari Sasuke.

"Aku sudah lama menahannya Dobe." Bisik Sasuke tepat ditelinga Naruto dengan suara rendah penuh gairah.

"Tidak, ini salah, kau tidak boleh melakukannya Suke." Jerit Naruto yang sudah terlepas dari dekapan Sasuke.

"Tidak ada yang salah, kau milikku. Aku berhak melakukan apapun padamu." Kilatan marah terlihat dimata Sasuke membuat Naruto takut.

"Kita guru dan murid, Suke. Kita tak bisa melakukannya. Dan aku bukan milikmu lagi Suke." Kata Naruto tenang.

"Jangan pernah memungkiri itu Naruto, jika tidak maka aku tak akan segan-segan membuat Hatake sialan itu tidak bisa melihat dunia ini lagi." Ancaman Sasuke sangat bisa membuat Naruto menjadi penurut.

Kini Naruto hanya bisa diam dengan air mata yang mengalir dari kedua mata beningnya. Sasuke mulai mendekatinya dengan seringai tipisnya, menghapus air mata yang keluar dari mata beningnya.

"Jangan pernah membantahku Naruto, jadilah penurut." Kini Sasuke mulai menanggalkan semua pakaian Naruto dan pakainnya sendiri.

"Kau sangat indah sayang." Puji Sasuke, membuat air mata Naruto terus mengalir dengan sedikit isakan.

"Hiks,,, kau kejam Suke." Gumam Naruto dalam tangisannya.

Sasuke menuntun Naruto menuju ranjangnya, mengurungnya dengan lengan kokohnya. Mulai mencumbunya dari leher dan terus turun hingga pada bagian tubuh Naruto yang sangat sensitive.

'Maafkan aku Kashi, maafkan aku.' Rapal Naruto dalam hati, air matanya tak henti-hentinya turun dari kedua bola mata beningnya.

Dan saat Sasuke memasukkan penisnya dengan kasar, Naruto menjerit kesakitan, tapi lebih sakit lagi hatinya. Naruto melihat wajah Sasuke, raut wajah itu, sama dengan raut wajah ketika keperawanannya diambil paksa. Naruto benci Sasuke yang seperti ini, dia hanya bisa menangis karena tak bisa melakukan apa apa.

"Naruto, kau sangat sempit sayang. Aku jadi ingat saat mengambil keperawanmu dulu." Rancu Sasuke.

Naruto hanya diam dalam tangisnya, tubuhnya terlalu lelah untuk bisa melawan Sasuke sekarang. Hingga pada ronde kedua Naruto tidak sadarkan diri, membiarkan Sasuke berbuat semaunya pada tubuhnya.

TBC

Terimakasih untuk semua yang telah mereview, follow dan favorit fic ini.

Maafkan akane yang telah lama mengupdate fic ini, karena inspirasi sudah sangat jarang datang pada akane. Jadi jadwal updatenya nunggu inspirasinya datang dulu.

Dan gak kerasa sekarang akane sudah semester 7 jadi harap maklum jika updatenya sangat sangat lama. #curcoldikit

Oh ya tenang aja akane gak bakalan nelantarin fic ini, akan terus berlanjut tapi yaaa updatenya agak lama hehe.

Jujur di chap 6 ini akane gak dapat fell nya sama sekali dan menurut akane alurnya aneh, belum lagi pas ngetik chap ini, adik akane ngerecokin terus.

Untuk pairnya,,,, akane gak bakat buat nyembunyiin apapun. Yap pairnya Kakafemnaru, Sasuke cuma buat selingan aja hehehe. Kadang akane suka banget lihat Sasuke yang sangat teropsesi sama Naru sampai kek gitu.

Terimakasih banyak untuk:

Ani nur inayah, azhuichan, suki, Jonah Kim, Za666, Novee Chaniago27, 3nd4h, Aoi Hikari kenzou, Jessica, YuRhachan, .11, pedofillgila, choikim1310, Kyutiesung, yuki akibaru, ayanara47, Rizuki Ramdhani, Rin Naoko UchiNami, Aiko Vallery, Loki of Evil God, sivanya anggarada

Maafkan akane yang terlalu malas untuk membalas satu persatu yaaa. Semoga kalian tetap menyukai fic yang aneh ini.