-Normal POV-

.

"Ini kesempatan terakhirmu, nona."

Kobaran api itu tampak menari-nari, melingkar, seolah membentuk sebuah penjara bagi wanita itu.

Ya, wanita itu.

"Aku tidak akan mengatakan apapun tentang Fugaku, juga tentang Chosokabe."

Namun sepasang manik silver itu tampak berkelap-kelip, ikut berkobar dengan bara api. Menatap lurus tanpa takut pada Daimyou yang berkuasa.

Walau dengan leher dan kedua tangan yang diikat. Terkujur dengan sangat hina.

Dengan luka siksaan di sekujur tubuhnya.

Walau bilah Ring Blade berada dalam jarak minus satu senti dari lehernya.

"Aku siap mati, Mouri Hiromoto."

Sepasang mata indah itu… tetap membara.

"Motonari, akhiri hidupnya."

Namun berakhir padam, seiring dengan sisi tajam Ring Blade menyayat lehernya.

.

"!"

Pria bersurai cokelat itu terhentak, terbangun dengan paksa dari tidurnya seiring dengan cahaya hangat yang menerpa kulit langsatnya. Nafasnya tersenggal-senggal, begitu memburu, dengan keringat dingin yang membasahi dahinya.

Motonari berada di kamarnya, bukan di tempat eksekusi.

Ah, rupanya itu mimpi.

Ia kemudian memijat keningnya secara perlahan, berusaha menghilangkan rasa sakit yang menusuk kepalanya akibat mimpi itu.

"Gadis itu…" gumamnya selagi sebelah tangannya mencengkram dada sebelah kiri, berusaha mengusir rasa pedih yang tiba-tiba datang, "Kenapa gadis itu bisa sangat mirip dengan 'dia'?"

Rasa pedih itu tiba, karena ia teringat pada 'dia'.

.

"Selamat pagi, Nari-chan~! Syukurlah akhirnya aku bisa melihatmu lagi." Mouri Okimoto menyapa adiknya dengan ceria, tepat saat Motonari memasuki singgasana ayahnya. Ia memang bermaksud untuk bertemu dengan sang ayah setelah cukup lama ia mengasingkan dirinya sendiri.

"Bagaimana keadaanmu, Motonari?" tanya Mouri Hiromoto begitu melihat putra bungsunya menampakkan wajahnya. Daimyou Chugoku itu kemudian memberi isyarat mempersilakan kedua putranya untuk duduk dihadapannya.

"Aku baik-baik saja, Chichi-ue, Ani-ue. Aku kemari ingin membicarakan sesuatu." ucapnya setelah ia memposisikan dirinya untuk duduk di sebelah kakaknya, sedangkan dua pria lainnya hanya melontarkan tatapan penuh pertanyaan.

"Kalau begitu, bicaralah."

"Ini… menyangkut soal wanita yang menjadi ahli strategi dan mekanis pasukan Chosokabe," Motonari berhenti sejenak, tanpa menghiraukan ayah dan kakaknya yang dibuat semakin heran oleh ucapan Motonari.

"Kenapa kau tiba-tiba membahas wanita itu?" tanya Okimoto.

"Aku melihatnya, Ani-ue," balas pria berkimono hijau itu dengan tatapan kosong, kedua tangannya yang gemetar mulai mencengkram celananya, "Aku melihat wanita itu di Osaka. Saat aku bertarung dengan Chosokabe, dia datang bersama Tokugawa Ieyasu."

Hening.

Seketika ruangan besar tersebut dipenuhi oleh semilir angin dingin yang menerpa leher mereka dengan lembut, juga perasaan buruk dengan tatapan ngeri dari Daimyou dan ahli strategi klan Mouri.

"Kau pasti sedang bermimpi, kau terlalu lelah saat pulang dari Osaka, Nari-chan–"

"Tidak, Ani-ue! Jelas aku melihatnya!" tukas Motonari. Wajahnya kini semakin menggambarkan rasa khawatir dan takut yang bercampur.

"Mungkin yang kau lihat itu saudari kembarnya?" kini Hiromoto angkat bicara, ikut berkomentar pada pernyataan putranya.

"Tapi yang aku tahu, klan Hosokawa sudah lama hancur, satu-satunya korban selamat hanya wanita itu. Dan dulu, Motonari sendiri yang memenggal wanita itu," sanggah pria berambut cokelat terang dengan mata berwarna hijau itu, kemudian ia menoleh pada adiknya, "Coba jelaskan apa saja yang kau lihat darinya?"

"Dia seperti jiplakan wanita itu. Kulit gelapnya, surai pendek berwarna hitam, bahkan kedua matanya yang berwarna silver itu… hanya saja ia terlihat lebih muda, seperti berumur 17 tahun…" jelas Motonari, keringat dingin mulai membasahi sepanjang tulang punggungnya seiring dengan bayangan wanita yang dibunuhnya kembali menghantui pikirannya. Wajah dingin tanpa ekspresi itu kini semakin pucat, "Ch… Chichi-ue, Ani… ue… apa aku… apa aku sudah gila?"

Wajar saja jika Motonari menganggap dirinya gila. Siapa yang tak akan stress jika tiba-tiba bertemu dengan seseorang yang dibunuh oleh dirinya sendiri?

Okimoto kemudian mengambil langkah, mendekati adikknya yang ketakutan setengah mati. Ahli strategi klan Mouri itu membelai lembut punggung Motonari yang sedikit gemetar, kemudian berkata; "Sudahlah, kau harus menenangkan pikiranmu."

Motonari mengangguk pelan, kemudian berusaha berdiri pada kedua kakinya, "Chichi-ue, aku izin undur diri" ucapnya sebelum ia berjalan menuju pintu keluar, disusul dengan Okimoto yang juga mengikutinya.

.

"Apa kau akan pergi ke tempat itu lagi?"

Motonari menghentikan langkahnya, menoleh untuk menatap kakaknya sebentar, kemudian mengangguk pelan. Tanpa sepatah kata pun yang terdengar dari bibirnya. Okimoto tak dapat lagi menghentikan adiknya. Tidak setelah ia melihat tatapan mata yang penuh rasa sakit itu. Tatapan mata yang selalu dingin mengitimidasi itu kini terlihat sangat lemah.

"Baiklah, kalau itu bisa membuatmu lebih baik"

.

Pria berkimono hijau itu terus melangkahkan kakinya, membawanya pada satu tempat tertinggi di Chugoku. Tidak jauh dari tebing tinggi, dibawah pohon Sakura, sebuah pedang besar berdesain Excalibur ala Eropa menancap dengan gagah pada kulit bumi. Padahal sudah bertahun-tahun lamanya pedang bermata dua itu berada disini, namun lempengan pedang itu masih sangat mulus. Tanpa ada goresan sedikitpun. Seakan ada orang yang selalu mengelap bilah tersebut setiap saat.

Motonari meraih pedang dihadapannya, membelai refleksi wajahnya pada lempengan besi tersebut.

Namun yang ada di matanya bukanlah refleksi wajahnya, melainkan wajah wanita itu.

Wanita kuat dan pemberani yang pernah ia temui seumur hidupnya. Pemilik pedang besar ini.

Wanita yang berhasil menyentuh hatinya yang membeku.

Benaknya tak ayal lagi memainkan memori tentang wanita itu, memori dimana ia harus mendengarkan perintah sang ayah atau memilih mengikuti kata hatinya. Membuat putra bungsu klan Mouri itu kembali teringat akan penyesalannya, rasa sakit yang tak lekang oleh waktu, luka yang belum bisa ia sembuhkan sampai detik ini.

"Noir…"

Dan yang ia lakukan, hanya menghabiskan waktunya, merenungkan segala macam penyesalan yang muncul dalam hati terdalamnya didepan makam tempat wanita itu beristirahat untuk selamanya.

Destinasi akhir seorang pengikut setia pasukan Chosokabe, prajurit wanita bernama Hosokawa Noir.

"Apa kau kembali ke dunia ini… untuk menghukumku?"

.

.

.

Kastil Sunpu, Mikawa.

TRAKK! TRAKK!

Suara kayu yang beradu terdengar begitu menggema, memenuhi segala sudut arena latihan milik klan Tokugawa.

"Gerakanmu terlalu pelan!"

"Cari celah untuk menyerangku" seru Ieyasu sambil terus menghindar dan menahan serangan dari pedang kayu milik Noir dengan kedua knuckle-nya, sedangkan Noir terus melakukan serangan sambil mengkalkulasikan bagaimana agar dia bisa melumpuhkan Ieyasu.

Sudah hampir tiga minggu semenjak Noir berada di kastil Sunpu. Selama itu pula Ieyasu setia menemani Noir 'berlatih' untuk menjadi wanita zaman Sengoku; mulai dari adat dan budaya, masakan pada era sengoku, kesenian, bahkan seni bela diri. Itu semua untuk membantu Noir dalam bertahan hidup di zaman yang berbeda dengan tempat asalnya.

Mungkin juga, sebagai wujud pengungkapan perasaannya pada Noir? Pikir Ieyasu. Senyum pun terukir di wajah tanpa ia sadari—

BUGH!

"Aghh!" tiba-tiba sesuatu yang padat menghantam sisi perut bagian kanannya, refleks tangannya memegang perut yang terkena serangan dari Noir.

"Aku berhasil menyerangmu, Ieyasu-san~!" seru gadis tersebut dengan riangnya, seolah ia baru saja melakukan Home Run dalam sekali pukul. Sedangkan Ieyasu sendiri berusaha untuk tersenyum walaupun ia tak bisa berhenti meringis kesakitan. 'Lumayan juga tenaganya' batinnya.

Noir pun tersadar akan sesuatu, "Kau baik-baik saja, Ieyasu-san?" tanyanya dengan nada khawatir, "Lagipula, sepertinya Ieyasu-san kurang fokus tadi. Apa ada masalah yang sedang dipikirkan?"

"Ah, bukan apa-apa kok" Ieyasu berbohong dibalik senyum lembutnya, mana mungkin ia mengatakan langsung kalau tadi ia sedang memikirkan Noir?

"Ieyasu-sama, ada surat untuk Anda." sebuah suara feminim menginterupsi keduanya, "Terimakasih." Ieyasu mengangguk kemudian mengajak Noir untuk kembali ke kastil.

.

.

Selagi itu, di sebuah kapal besar yang menghadap kaki langit.

Sosok punggung yang tegap itu tampak menikmati cahaya oranye yang menerpa kulitnya. Satu-satunya mata yang ia miliki tak dapat terlepas dari penampakan matahari yang perlahan menuruni singgasananya, tepat tenggelam ditelan kaki langit.

Senja, membuat Motochika kembali teringat pada Noir. Yah, dirinya memang sedang merindukan gadis nyasar itu.

"Aniki…"

Pemimpin klan Chosokabe itu membalikkan tubuhnya tepat sebuah suara familiar menginterupsinya.

"Ada apa?" pertanyaan singkat tersebut ditujukan pada tiga anak buahnya yang berdiri dibelakangnya.

"Aniki, kau serius akan menjemput gadis itu?" tanya salah seorangnya, membuat Motochika mengerutkan alisnya tersebab pertanyaan tersebut bermakna keragu-raguan. Ia menatap tajam ketiga anak buahnya.

"Kenapa memangnya? Dia tanggung jawabku! Aku sudah berjanji untuk membawanya kembali padaku!"

"Jika begitu, berarti Aniki… kau sudah menyerah mencari Aneki?"

Kali ini Motochika tak dapat berucap. Tatapan tajam tersebut luntur tergantikan oleh tatapan sayu, seiring dengan rasa nyeri yang menyengat dadanya.

Ya, selama ini Motochika terus berusaha untuk percaya bahwa 'dia' masih hidup. Semenjak hilangnya 'dia' saat kapal Fugaku diserang oleh Toyotomi Hideyoshi.

Ia tak dapat menemukan wanita itu, dimanapun.

"Entahlah."

Deck kapal kini semakin sunyi, ketiga anak buah Motochika pun ikut membisu, seolah ketiganya mengheningkan cipta atas hilangnya salah satu pengikut setia klan Chosokabe.

Bukan hanya Motochika, bukan hanya para awak kapal Fugaku, namun seluruh rakyat Shikoku PUN mempertanyakan dimana keberadaan-'nya'.

"Kita tetap menuju Mikawa, jangan putar haluan." ucapnya begitu melangkahkan kaki menuju ruangannya, tanpa menghiraukan respon dari ketiga anak buahnya.

Sudah tiga tahun lamanya…

Sudah tiga tahun lamanya hati itu terasa kosong. Namun atas kehadiran Noir dalam hidupnya, hati yang sepi itu kembali terisi. Melihat wajah Noir seolah membawa 'dia' kembali padanya. Seolah ia telah menemukan separuh jiwanya yang melayang.

Namun di sudut hati yang terdalam, semua ini salah, Noir BUKANLAH 'dia'.

Tapi mengapa baru sekarang ia begitu haus akan dirinya, lubuk hati terdalamnya menginginkan Noir menjadi miliknya seorang.

Ia pun tak dapat menahan senyum tipis kala hatinya telah jatuh pada sebuah konklusi…

'Rupanya… aku memang jatuh cinta.'

.

.

Satu-persatu para pengikut Tokugawa bubar meninggalkan aula tempat mereka biasa makan malam beserta pemimpin klan Tokugawa.

Yang tersisa di aula kini hanya Ieyasu dan Noir. Memang, sebelumnya Ieyasu meminta agar Noir tidak segera meninggalkan ruangan setelah makan malam selesai. Ada hal penting yang perlu ia sampaikan… terkait dengan surat yang ia terima sore tadi.

"Ieyasu-san," Noir yang pertama angkat bicara, memecahkan keheningan diantara mereka, "Ada yang mau kamu bicarakan?"

Namun Ieyasu tak dapat membicarakan hal tersebut secara frontal.

"Tidak, aku hanya ingin mengobrol berdua denganmu." balasnya disertai senyum hangat, sedangkan yang diajak mengobrol sedikit menunduk tersipu malu. Sekali lagi, ruangan hening, kecuali perasaan kikuk yang mendominasi.

"Noir, apa kamu… merindukan Motochika?"

Pertanyaan tersebut berhasil membuat Noir mengangkat kepalanya. "Umm… sedikit."

'Sedikit…' kedua manik cokelat terang tersebut memancarkan kesedihan atas fakta bahwa Noir lebih merindukan sahabatnya… walau sedikit.

"Ngomong-ngomong, soal itu… Motochika sedang dalam perjalanan menuju Mikawa untuk menjemputmu." Ieyasu berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, "Kamu… masih marah padanya?"

"Entahlah, Ieyasu-san…"

Ieyasu mengangguk, "Begitu…"

"Ieyasu-san, apa di dunia ini… ada 'diriku' yang lain?"

Ieyasu menoleh seraya mengerutkan kedua alisnya, tidak paham dengan maksud pertanyaan Noir, "Maksudmu?"

"Ishida Mitsunari… Mouri Motonari… Sakai Tadatsugu-san… juga kamu, Tokugawa Ieyasu… kalian juga ada di duniaku, bahkan kalian berempat cukup dekat denganku. Tapi… apa ada 'diriku', Hosokawa Noir yang lain di dunia ini?" kini wajah itu terangkat, manik silver itu menatap lurus pada pria di depannya.

Sejujurnya Ieyasu cukup berat untuk menjawab pertanyaan tersebut, tapi…

"Ada."

"Dia… seperti apa? Diriku yang ada di dunia ini, seperti apa?"

"Dia adalah pengikut setia klan Chosokabe. Dia adalah prajurit wanita yang terkenal cukup tangguh di beberapa klan lain, bahkan klan Mouri. Namun bukan hanya ketangguhannya, keahliannya dalam mekanisasi mesin serta loyalitasnya pada klan Chosokabe yang sudah menyelamatkannya pun bernilai sangat tinggi. Tidak sedikit klan yang menginginkan prajurit setia seperti dia,"

Ieyasu berhenti sejenak, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk membuka kisah pahit yang terjadi tiga tahun yang lalu.

"Namun saat pasukan Toyotomi menyerang Chosokabe ditengah laut, sekitar tiga tahun yang lalu, kapal Fugaku tenggelam… begitu juga dengan Motochika. Beberapa awak kapal yang selamat berhasil menyelamatkan Motochika, namun mereka tidak bisa menemukan dia."

Noir sedikit terhentak tepat pria didepannya mendekatinya, membelai lembut surai pendeknya hingga pipi kanannya berkali-kali. Sepasang iris cokelat muda tersebut menatap lembut. Penuh simpati.

"Hal itu sangat menyakiti hati Motochika. Berbulan-bulan ia melakukan perjalanan, mengarungi lautan, mendatangi semua daratan, meninggalkan seluruh rakyatnya demi mencari dia."

Ieyasu tersenyum pedih pada Noir, mengingat rasa sakit akan kehilangan orang yang dicintai, itu dirasakan oleh Motochika.

Dan Ieyasu semakin tersadar, bahwa DIA juga akan merasakan hal yang sama, karena orang yang telah membuatnya jatuh cinta akan kembali pada pelukan pria lain. Tak lama lagi.

Namun, itulah risiko jatuh cinta.

"Kembalilah ke kamar, istirahat yang cukup. Hari ini kamu sudah banyak latihan." ucap pria tersebut, kedua tangannya dibawa menangkupkan kedua sisi wajah Noir.

Sedangkan balasan darinya hanya berupa anggukkan, kemudian mereka beranjak, masih dengan kedua tangan Ieyasu yang berada di kedua sisi wajahnya.

"Selamat malam." bisiknya sambil tersenyum dengan tatapan lembut.

Noir membalas senyum tersebut, "Selamat malam, Ieyasu-san."

.

Noir merebahkan tubuhnya pada futon selagi kepalanya kembali memutar ucapan Ieyasu di aula tadi.

'Sepertinya… Motochika benar-benar mencintai wanita itu' batinnya, seketika dadanya terasa sedikit nyeri atas pernyataannya sendiri. Tidak lama kemudian, Noir berakhir memejamkan kedua matanya.

.

Kabut putih bak tirai yang menghalangi perlahan mulai menipis, menampakkan siluet pemandangan yang sebelumnya belum pernah dilihatnya.

Sejujurnya Noir tak tahu dirinya berada dimana. Dan pertanyaan tersebut semakin menjadi-jadi tepat dihadapannya, pemandangan yang dapat didefinisikan dengan kata terpampang dengan jelas.

Rumput, hanya padang rumput yang luas, dengan langit sebiru laut yang membisu.

Ia mulai melangkahkan kakinya begitu sepasang matanya menangkap siluet seseorang yang berdiri membelakanginya.

Kaki itu terus melangkah.

Hingga keduanya berhenti radius minus lima meter, tepat dibelakang sosok wanita yang lebih tinggi darinya, mengenakan haori bermotif lavender, serta surai hitam pendek yang tampak menari-nari beriringan dengan hembusan angin.

"S…Siapa…?"

Dan sepasang manik silver tersebut bertemu dengan dua bola mata silver yang juga berkelap-kelip terpantul cahaya. Sosok itu mengembangkan senyumnya,

"Hosokawa Noir..."

.


.

Hai minna~

Seperti biasa yah, saya update nya lama, maafkan hamba dan terimakasih bagi readers setia yang tetap menunggu update-an fanfict ini *bow*

Yosh! Mari langsung saja kita balas review~

Dheyuko Chacha/Chacha Rokugatsu/Sanada Yuu Chacha: Halo Chacha-san, makasih loh yaa masih setia mampir ke fanfict ini~

Weeeh sampe salto kebelakang gitu, ajarin dong! XD

Eak eaaaaaakk cintah trapezium (?) antara Ieyasu, Noir, dan Motochika makin menjadi-jadi aja nih~ Hayooo Noir mau pilih siapa? XD

Noir: kok tanya gue? Yang bikin cerita kan situ!

Hmm… alhamdulillah ada yang suka sama chapter sebelumnya, emng hal apa sih dari chapter sebelumnya yang bikin doki-doki? XD

Makasih udah review yaa~

LoliMon-san: Iya nih, si Ieyasu saking kepikirannya sama Noir sampe kedejot, gimana kalo lagi perang coba? Ck ck ck Ieyasu suka alay ah!

Ieyasu: YANG ALAY SIAPA?! NGACA! Kan situ yang bikin ceritanya! *ngamoks*

Ampun, yas… selow…

Motochika: oh, oke deh, gue gk marah lagi demi ketamvanan wajahku Bv *langsung selfie sambil bergaya sok ganteng*

IeyasuNoir: *mual berjamaah liat ke-narsis-an Motochika* calon artis instagram nih si Momot *sweatdrop*

Makasih udah review yaa~

Asyifaanas13: Jiaaah ada yg kasian juga sama si Motochikampet :v

Motochika: Plis, hentikan sebutan 'Motochikamret' itu Cha!

Hehe kalau begitu, terimakasih banyak, jadi tambah semangat nulisnya XD

Makasih yaa Syifa-chan~

Akihime Sayaka: Memang sejak awal rencananya dibuat cinta segitiga, tapi cuma selewat, soalnya nanti masih ada persoalan yang lebih dalam dan pastinya peranan Ieyasu sudah habis.

Oh iya, tadinya saya mau bikin Author insert biar author nya aja yang nikah sama Ieyasu *dipentung Ieyasu* tapi gak jadi, takut dibilang alay wkwkwkw

Motochika: belum bikin author insert juga udah alay elu mah!

Noir tetep sama Motochika gk yaa? Apa Sayaka-san menemukan jawabannya di chapter ini?

Makasih ya Sayaka-san udah mampir ke fict saya :3

.

Terimakasih juga bagi yang sudah mampir ke fict ini, silakan review bagi yang berkenan.