Cuplikan Chapter Sebelumnya:
Kimono hitam, haori putih dengan simbol salib dan lingkaran di punggung, rambut putih, mata merah, dan pedang yang selalu 'melukai' tubuhnya. Ia adalah Namikaze Yukki. Bisa dibilang, ia adalah shinigami yang bertugas di semua wilayah Dunia Shinobi.
Sekarang, Yukki sedang duduk di lobi rumah sakit sambil 'memotong-motong' tangan kirinya yang sedang memegang ponsel. Di rumah sakit ini, banyak sekali orang-orang yang berlalu-lalang, baik itu yang terlihat maupun yang sudah 'tak terlihat'.
Meski di rumah sakit ini ada beberapa roh plus, tapi Yukki tidak melakukan konsou pada roh-roh itu. Karena 'proyek' yang tertanam di dunia ini, ia tidak perlu melakukan hal merepotkan itu lagi. Dalam satu atau dua jam, roh-roh itu akan terkirim ke dunia sana dengan sendirinya.
Yukki masih menatap ponsel yang ada di tangan kirinya. Nama 'Sarutobi Asuma' terlihat jelas sekali di layar ponsel tersebut. Mungkin yang membuatnya mudah terbaca karena hanya nama tersebut yang ditandai warna merah.
"Diam dan menunggu selama berjam-jam. Apa situasi seperti ini yang menyebabkan seseorang merasa bosan?" gumam Yukki entah pada siapa.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya orang yang ia tunggu datang juga. Lalu Yukki bersiap-siap dan ia berdiri di tengah jalan. Sambil menusuk tubuhnya, Yukki berjalan tepat ke arah seseorang yang bernama Sarutobi Asuma.
"Siapapun yang sedang melihatku sekarang, mereka lupa kalau aku ada di sini," gumamnya pelan.
..
Rating: T
Genre: Adventure, Hurt/Comfort
Warning: OC, Death Character, Naruto/Bleach Fusion
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, Bleach milik Tite Kubo
Main Chara: Namikaze Minana (OC), Lucky (OC), Namikaze Naruto
Pembuat fic: Kuroki
..
Chapter 6: Kehilangan Jati Diri
.
-Di Rumah Sakit Konoha-
"Asuma-sensei, ayo cepat!" suruh murid perempuannya, Yamanaka Ino.
Sedangkan seseorang yang dipanggil Asuma hanya bisa menghela napas saat melihat muridnya yang terlalu ambisius.
'Beberapa jam lalu aku menyampaikan kata-kata terakhir sebelum meninggal. Namun entah bagaimana, aku berhasil selamat. Ya, aku sangat senang karena bisa selamat, tapi... fuuhh...' pikir Asuma.
Asuma benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi. Untuk menghilangkan stresnya, ia pun mengambil rokok yang ada di saku celananya. Namun saat ingin menyalakan rokoknya, Ino merampas rokok tersebut.
"Kau itu sedang terluka, Asuma-sensei! Dan lagi, kita sedang berada di rumah sakit! Jadi berhentilah melakukan kebiasaan burukmu ini!" omel Ino kesal.
"B-baiklah, baiklah. Aku mengerti," kata Asuma mencoba menenangkan Ino.
"Kalau mengerti, cepat ikuti aku!" omel dan perintah Ino. Lalu Ino jalan duluan di depan Asuma.
Asuma langsung menghela napas. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Ino akan mengkhawatirkannya seperti ini. Padahal lukanya sudah sembuh, tapi Ino tetap memaksanya untuk pergi ke rumah sakit.
Lalu tanpa sadar, kini Asuma melihat telapak tangan kanannya. 'Luka fatal itu lenyap tanpa bekas. Yang kutahu, hanya mereka berdua yang bisa melakukan hal itu. Tapi, Minana-san sudah meninggal 16 tahun lalu. Sedangkan Lucky adalah anggota Akatsuki. Lalu... siapa yang sudah menyembuhkan lukaku ini?' pikir Asuma yang masih bingung. "Ya, sudahlah," gumam Asuma entah pada siapa.
Setelah terdiam sebentar, Asuma kembali mengikuti Ino. Namun...
BRUK
"Aduh, maaf..." ujar Asuma spontan saat bahu kanannya menabrak seseorang. Ia juga spontan membungkuk pada orang yang baru saja ia tabrak.
"..."
Asuma mengangkat kepalanya. Namun saat melihat ke depan, ia tidak melihat orang yang ditabraknya. Bahkan saat melihat sekitarnya, tidak ada seseorang di sekitarnya dalam radius 50 cm.
"Apa hanya perasaanku saja?" gumam Asuma sambil mengelus bahu kanannya.
"A-su-ma-sen-sei!"
"B-baiklah," balas Asuma cepat. Tanpa memerdulikan apa yang baru saja terjadi, Asuma segera menyusul Ino.
-POV Minana-
-Di Training Ground 7-
Setelah menjalankan misi, aku mulai mengawasi seseorang yang baru saja kuselamatkan, yaitu Sarutobi Asuma. Hmph, harusnya aku sekarang bersama dengan Itachi-sensei, tapi karena ia sedang memberi laporan kepada Godaime Hokage, jadi apa boleh buat.
Sekarang aku berada di Training Ground 7. Dengan meminjam mata iblis Kuroi, aku bisa melihat keberadaan Asuma-sensei dengan sangat jelas. Asuma-sensei sekarang berada di Rumah Sakit Konoha. Meski semua lukanya hampir sembuh, tapi gadis pirang dari klan Yamanaka itu tetap memaksa Asuma-sensei untuk di periksa.
"Aduh, maaf..." Saat berjalan ke UGD, Asuma-sensei tiba-tiba berkata begitu. Lalu satu detik kemudian, ia sedikit membungkukkan badannya.
Aku benar-benar heran saat melihat Asuma-sensei yang seperti menabrak sesuatu itu. Lalu melihat Asuma-sensei yang spontan membungkukkan badannya, sepertinya Asuma-sensei yakin kalau dia menabrak seseorang, tapi...
"Siapa?" gumamku tanpa sadar.
Sejak tadi aku memerhatikan Asuma-sensei, tapi tidak ada siapapun orang mencurigakan yang berada di dekat Asuma-sensei. Bahkan aku tidak merasakan chakra lain di sekitar Asuma-sensei selain chakra Ino.
...
Beberapa jam kemudian, akhirnya Itachi-sensei datang. Aku memberitahunya hal janggal itu. Namun jawaban yang Itachi-sensei berikan itu... aku tidak ingat. Tidak, tepatnya, aku tidak mau mengingat penjelasannya itu!
"Apa kau dengar, Minana?"
Aku masih menutup kedua telingaku dengan tangan. Mendengar namanya saja sudah membuat tubuhku gemetaran seperti ini. Jujur saja, aku tidak mau mendengar nama itu lagi.
"Yang menabrak Asuma-san mungkin adalah han–"
"LA~LA~LA~LA~LA~LA!"
Padahal aku sudah menutup kedua telingaku, tapi entah kenapa aku masih bisa mendengarnya. Aaargh, kukira Itachi-sensei itu adalah orang yang rasional, tapi kenapa dia bisa yakin kalau yang menabrak Asuma-sensei itu adalah hantu?!
"Tadi aku bertemu hantu anak kecil saat sedang menuju kemari. Awalnya aku tidak tahu kalau itu hantu karena penampilannya sama seperti anak kecil pada umumnya. Aku baru tahu itu hantu karena semua orang mengabaikannya dan di dada anak kecil itu ada sebuah rantai–"
"LA~LA~LA~LA~LA~LA~LA~LA~LA~LA~LA~LA!"
Aku menutup telingaku lebih erat lagi. Aku teriak lebih kuat lagi. Aku juga memejamkanmataku agar tidak bisa melihat gerak bibirnya. Hanya mendengar kata 'hantu' saja aku sudah ketakutan setengah mati. Lalu Itachi-sensei malah mendeskripsikan hantu yang pernah ia lihat. Aaarrgh!
"Fuuh, baiklah. Anggap saja itu hanya angin. Anggap saja yang menabrak Asuma-san itu hanya angin," kata Itachi-sensei pasrah. Bahkan ia sampai mengatakannya 2x.
Saat mendengarnya, aku membuka mata dan menurunkan tanganku. Aku senang sekali saat Itachi-sensei tidak lagi menyinggung lagi hal itu. Entah kenapa, aku sangat takut atau phobia sekali dengan yang namanya hantu, baik itu diriku, maupun Minana masa depan. Sepertinya di masa lalu atau di masa sebelumnya, sesuatu yang tak berwujud a.k.a hantu pernah melakukan sesuatu yang buruk padaku sampai aku trauma. Yah, meski aku sendiri tidak ingat. Tidak, aku bersyukur karena tidak mengingatnya.
"Aku sudah meminta izin Minato-san dan Kushina-san bahwa kau tidak akan pulang karena latihan bersamaku. Kita akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengawasi dan memastikan keselamatan Asuma-san. Jika sampai beberapa hari ke depan ia tidak terbunuh, kita mungkin bisa menyelamatkan semuanya dari Perang Dunia Shinobi ke-4 tanpa perlu mengorbankan siapapun," ujar Itachi-sensei.
Aku mengangguk mengerti. Lalu aku kembali melanjutkan pengintaianku. Karena kami akan mengintai di Training Ground 7, maka yang bisa mengawasi Asuma-san hanya aku. Karena di tubuhku ada segel hiraishin milik Tou-chan, maka Itachi-sensei harus terus berada di sampingku. Jika Tou-chan tiba-tiba mengaktifkan kemampuan sensoriknya dan Itachi-sensei tidak ada di sekitarku, yah, itu bisa menjadi masalah.
-End of Minana-
Sarutobi Asuma adalah salah satu shinobi yang diberi tugas untuk menangkap atau membunuh anggota Akatsuki yang menyusup ke Hi no Kuni. Meski sebelumnya ia dan timnya kalah telak dan hampir terbunuh, tapi misi tersebut belum dinyatakan selesai atau gagal. Asuma dan timnya juga belum di keluarkan dari misi tersebut.
Keesokan harinya, Asuma dan timnya berkumpul di suatu tempat untuk memikirkan strategi baru jika nanti bertemu dengan Kakuzu dan Hidan lagi.
Tapi...
Saat sedang menyusun strategi tersebut, tiba-tiba mulut Asuma mengeluarkan darah. Lalu darah mulai muncul dan membasahi dada, perut, kedua lengan, dan kedua kakinya. Shikamaru, Izumo, dan Kotetsu melotot tak percaya saat melihat hal itu. Saat melihat luka-luka Asuma itu, pikiran mereka langsung tertuju pada satu orang.
-Di Training Ground 7-
Minana yang melihat hal itu juga sangat terkejut. Ia sangat bingung dan terpukul saat melihat Asuma yang mati begitu saja. Minana bisa menduga kenapa Asuma bisa mendapatkan luka seperti itu. Tapi jika dugaannya itu benar, berarti informasi yang Minana masa depan berikan padanya itu salah.
"Tidak, dattebane! Informasi tentang kemampuan Hidan yang 'aku' kumpulkan itu benar! Kemampuan khususnya hanya akan aktif jika ia meminum atau menjilat darah target! Begitu ritualnya selesai dan warna tubuhnya berubah seperti semula, dia tidak akan bisa mengutuk targetnya lagi, dattebane! Kalau mau mengutuk Asuma-sensei lagi, harusnya dia menjilat darah Asuma-sensei lagi, tapi aku sudah menghilangkan darah Asuma-sensei yang menempel di senjatanya! Harusnya–"
PLOK
Ucapan Minana langsung terhenti saat Itachi menepuk pundaknya.
"Tenanglah..." ujar Itachi pelan. "Setelah melihat ingatan dirimu yang dari masa depan, aku tahu kalau informasi yang dia kumpulkan itu adalah benar. Jika ini memang bukan perbuatan Hidan, maka hanya satu hal yang pasti. Kematian adalah mutlak. Mungkin memang tidak ada cara untuk menyelamatkan seseorang dari kematian tanpa mengorbankan orang lain," lanjut Itachi.
'Bohong. Bahkan Ita-nii juga berpikir sepert itu,' batin Minana. Ia tak percaya saat Itachi mengatakan hal yang sama seperti Shisui dulu. "Kalau kematian adalah takdir yang mutlak, berarti kau akan mati, dattebane!"
Itachi langsung terdiam.
"Sasuke adalah orang yang membunuhmu, jadi sudah pasti kau tidak akan membunuh Sasuke agar bisa bertahan hidup, dattebane! Jadi–"
"Aku juga tidak mungkin membunuh orang yang tak bersalah hanya karena ingin hidup," potong Itachi sebelum Minana menyelesaikan ucapannya.
DEG
Minana menundukkan kepalanya. Ia tidak percaya kalau Itachi akan mengatakan hal seperti itu. Sesuatu mulai mengubah Minana masa kini.
"Sepertinya sekarang aku mengerti kenapa waktu itu Shisui memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri," lanjut Itachi.
"Oh, begitu..." gumam Minana datar.
Setelah mengatakan hal itu, Minana berjalan menjauhi Itachi.
"Terima kasih untuk semua yang kau lakukan, Ita-nii. Mulai sekarang, kau tidak perlu menjadi jounin pembimbingku lagi."
"Tunggu dulu. Aku tidak bilang kalau aku akan berhenti membantumu. Hanya saja..."
Mendengar kata-kata Itachi, Minana menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke arah Itachi.
"...Tidak mungkin melakakukannya hanya dengan kita berdua saja," lanjut Itachi.
"Lalu kau mau aku melakukan apa, dattebane?! Apa kau mau aku mengatakan kebenarannya pada semua orang?! Apa aku harus mengatakan apa yang terjadi di masa depan?! Jangan bercanda, dattebane! Setelah mengumpulkan bijuu dan membunuh Naru-nii-chan agar bisa kembali ke masa lalu, mana mungkin aku memberitahu hal itu pada mereka!"
DEG
"Membunuh Naruto dan mengumpulkan bijuu? Bukankah Naruto terbunuh karena jurus yang dilakukan Madara? Lalu yang selamat dari insiden itu adalah Kau, Lucky, dan para bijuu?" tanya Itachi yang tidak mengerti dengan ucapan Minana.
Minana memegang kepalanya. Ia jadi sedikit bingung setelah mendengar ucapan Itachi. Meski begitu, Minana mencoba mengabaikan dan membenarkan apa yang tadi ia ucapkan. "Naru-nii-chan mati karenaku! Lalu bijuu terkumpul di depan mataku! Bukankah intinya sama saja, dattebane?!"
"Tunggu dulu. Tenanglah, Minana. Yang ingin kukatakan adalah percuma saja kalau hanya kita berdua yang mengubah masa depan. Dulu Kau dan Lucky pernah mencoba mengubah masa depan dan gagal. Yang kita lakukan tidak ada bedanya dengan Kau dan Lucky lakukan dulu. Kalau kita teruskan, yang menunggu kita hanyalah kegagalan. Tidak ada salahnya jika–"
"Tidak bisa, dattebane! Aku tidak mau melibatkan Tou-chan, Kaa-chan, dan Naru-nii-chan!" potong Minana sebelum Itachi menyelesaikan penjelasannya. "Dan Ita-nii... kau tidak perlu lagi mengkhawatirkanku. Lebih baik sekarang kau ajarkan saja adik kecilmu bagaimana cara menggunakan Susano'o dengan baik dan benar. Soal kematianmu dan Perang Dunia Shinobi ke-4, aku akan mengurus semuanya," lanjut Minana. Kemudian Minana menghilang dari hadapan Itachi.
-Di Suatu Tempat-
Di suatu tempat yang sangat gelap. Bahkan sinar matahari tidak bisa masuk ke dalamnya. Meski begitu, di sana terdapat 2 orang yang sedang melakukan sesuatu. Dan meski di sana sangat gelap, tapi salah satu dari mereka bisa menciptakan suatu cahaya berwarna merah, meski cahaya tersebut hanya bisa menerangi area sekitarnya saja.
Kimono hitam, haori putih dengan tulisan 五di punggung, rambut putih, mata merah, dan pedang yang selalu 'melukai' tubuhnya. Dialah seseorang yang menerangi di tempat ini. Dia adalah Namikaze Yukki.
Jubah hitam dengan motif awan merah, hitai-ate dengan lambang Yugakure yang di coret, serta memakai kalung a.k.a jimat berbentuk segitiga terbalik di dalam lingkaran. Jubah hitamnya sedikit rusak karena pertempuran sebelumnya. Dia adalah seseorang yang bersama Yukki saat ini, Hidan.
"Kerja bagus," ujar Yukki tanpa ekspresi di wajahnya.
-POV Yukki-
Aku masih memerhatikan Hidan-kun 'hitam' yang sedang tiduran. Ia tiduran di atas simbol Jashin dengan sebuah tombak yang masih menancap di dadanya. Namun satu detik kemudian, tubuh 'hitam' Hidan-kun berubah seperti semula.
"Urusai! Jangan mengganggu ritualku!" gerutu Hidan-kun kesal. Lalu ia memejamkan matanya lagi dan mulai konsentrasi (?).
Saat melihat kemampuannya ini, aku jadi teringat dengan salah satu bount yang memiliki kemampuan yang sama dengannya. 'Jashin-sama' yang selalu disebut Hidan-kun... pasti bount itu yang mengarangnya.
Aku menyimpan zanpakutou-ku ke sarung pedang. Kemudian duduk di samping Hidan-kun. Aku sedikit menjauhkan tangan kiriku agar Hidan-kun tidak terkena cahaya merah ini (baca: hado #31). Karena di sini hanya ada aku dan Hidan-kun, aku tidak perlu terlalu waspada. Bahkan 'manusia' yang disebut Zetsu tidak ada di sini. Meski dia bisa menyembunyikan aura chakra-nya, tapi makhluk itu tidak bisa menyembunyikan reiatsu-nya.
'Ah, iya. Kalau tidak salah, Zetsu adalah 'orang' yang diperingatkan diriku yang dari masa depan, kan? Diriku (baca: Yukki masa depan) bilang... kalau Zetsu adalah orang yang mencuri salah satu alat di labku,' pikirku. Tanpa sadar, aku kembali mengingat masa lalu.
"Ngomong-ngomong, siapa orang yang sedang kubunuh ini?! Aku melakukannya tanpa bertanya karena ini adalah perintah langsung dari Ketua, tapi jika darah yang kau memberikan padaku adalah darah ayam atau semacamnya, akan kubunuh Kau!" ujar Hidan-kun dengan kasarnya.
Aku tidak mengerti. Lalu pada akhirnya, aku memutuskan untuk diam. Tapi jika aku tidak menjawabnya, dia pasti akan marah-marah lagi.
"Harus dijawab, ya?" Pada akhirnya, hanya ini kata-kata yang bisa kukatakan padanya.
Namun setelah mengatakan hal itu, Hidan-kun malah terlihat marah. "TENTU SAJA DIJAWAB, SIALAN! KALAU ADA ORANG NANYA YA DIJAWAB!"
Emosinya memuncak. Aku benar-benar tidak mengerti. Padahal aku sudah menuruti perkataannya, tapi kenapa dia masih marah? Ya, dia mungkin marah karena aku tidak menjawab pertanyaanya, tapi tadi dia yang menyuruhku untuk diam.
"Kau bilang jangan beri–"
"SUDAHLAH JAWAB SAJA!" potong Hidan-kun tambah kesal.
Sebelum dia tambah marah, aku menjawabnya. Tentu saja nada bicaraku masih sama seperti biasanya, meski itu bukan karena keinginanku sendiri. "Sarutobi Asuma. Shinobi yang kau siksa kemarin."
"HAH?!" teriak Hidan-kun spontan. Ia sangat terkejut saat mendengar hal itu. Seperti yang kuduga. "BOHONG! MANA MUNGKIN DIA MASIH HIDUP SETELAH MENDAPAT LUKA SEPARAH ITU!"
-Flash Back-
-Di Rumah Sakit Konoha-
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya orang yang kutunggu datang juga. Aku mengarahkan tangan kiriku ke Asuma. Kemudian menggerakkan zanpakutou yang sedang menusuk dadaku... bergerak seperti sedang menyayat dada, bahu kiri, lengan kiri, dan berakhir di telapak tangan. Aku melakukan ini agar aku siap siaga jika Minana tiba-tiba melakukan sesuatu diluar dugaanku. Setelah bersiap-siap, aku berdiri di tengah jalan.
"Siapapun yang sedang melihatku sekarang, mereka lupa kalau aku ada di sini," gumamku memastikan agar Minana, Ino, dan yang lainnya tidak menyadari keberadaanku.
Jarakku dan Sarutobi Asuma tinggal 50cm lagi. Karena aku masih mengangkat dan mengarahkan tangan kiriku, zanpakutou-ku lebih dulu menusuk pundak kanan Sarutobi Asuma. Satu detik kemudian, telapak tangan kiriku menyentuh bahu kanannya. Begitu dia menyentuhku, aku segera membuatnya lupa.
"Aduh, maaf..." ujar Sarutobi Asuma seraya membungkukkan badannya.
"Kau lupa kalau tanganku masih memegang pundakmu."
Masih... Itu adalah kata yang kupakai. Kalau aku bilang 'kau lupa kalau tanganku pernah memegang pundakmu', maka dia akan lupa sepenuhnya kalau aku pernah memegangnya seperti ini. Dengan kata lain, kalau aku memakai kata pernah, Sarutobi Asuma tidak akan berhenti sejenak dan membungkuk seperti ini.
Melihat kesempatan ini, aku menggigit gagang zanpakutou-ku supaya tidak jatuh. Lalu dengan tangan kananku, aku mengambil suntikan kosong. Sebelum menyuntiknya, dalam hati aku bergumam, 'Saat aku mengambil darahmu dengan suntikan ini, kau akan lupa kalau sekarang aku pernah menyuntik dan mengambil darahmu.'
Darah Sarutobi Asuma aku ambil secukupnya. Setelah selesai, aku menyembuhkan luka kecil itu dengan refresh. Dia mau diperiksa. Kalau dokter melihat bekas suntikan itu, yah, masalahku bisa tambah runyam.
"A-su-ma-sen-sei!" panggil Ino.
"B-baiklah," balas Asuma cepat.
Aku sedikit menjauhi Sarutobi Asuma. Jika tadi aku menusuk telapak tangan kiriku, sekarang aku menusuk dadaku... kembali menusuk ke tempat semula (?).
Menusuk diriku dengan 'pedang ilusi'. Siapapun yang melihat hal ini pasti akan merasa aneh. Padahal sudah cukup dengan 1x menusuk tubuhku atau target dan menentukan apa saja yang perlu 'dilupakan'. Menusuk tubuh sendiri atau target selama 24 jam tidak akan memperkuat kemampuan zanpakutou-ku. Menusuk diri sendiri tanpa 'perintah' pun tidak akan membuat orang-orang melupakan keberadaanku.
Alasan kenapa aku selalu menusuk diriku sendiri... itu karena zanpakutou-ku tidak bisa dipakai dalam pertarungan. Dan lagi, zanpakutou-ku hanya akan aktif jika aku mengucapkan perintah yang harus 'dilupakan'.
Itu sebabnya aku... harus selalu 'menusuk' tubuhku sendiri dengan zanpakutou-ku. Jika zanpakutou-ku berada di sarungnya dan aku bertemu dengan shinigami dari Soul Society, aku akan langsung mati sebelum bisa melawan. Reijutsu tidak begitu berpengaruh jika lawannya sekelas kapten.
-End of Flash Back-
"BOHONG! MANA MUNGKIN DIA MASIH HIDUP SETELAH MENDAPAT LUKA SEPARAH ITU!"
Saat kubilang kalau itu adalah darah Sarutobi Asuma, dia mulai marah-marah lagi.
"Tapi sekarang dia sudah mati. Jadi harusnya kau tidak perlu sekesal itu," balasku. Kuharap kata-kata itu bisa membuatnya tenang.
"Tsk!"
Tapi sepertinya tidak.
Hidan-kun tidak bisa menahan emosinya lagi. Dengan posisi tiduran, ia menarik kabel logam yang menghubungkan sabit mata-tiga. Ia mengontrol dan mengarahkan senjata itu kepadaku yang masih duduk di sampingnya.
JLEB
Sabit itu datang dari samping kananku. Aku berhasil menangkap dan menahan sabit itu dengan tangan kosong. Meski bisa menahan, tapi tanganku terluka.
"Khu khu!"
Hidan-kun terlihat senang saat darah keluar dari tanganku.
'Anak bount ini kenapa? Kenapa dia malah marah-marah tidak jelas begini?' pikirku bingung. Pola pikir manusia itu benar-benar aneh. Aku benar-benar tidak paham.
Ya, sebenarnya aku tahu alasan kenapa Hidan-kun marah, tapi...
"Bahkan setelah tanganmu seperti ini, kau sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ekspresimu itu benar-benar membuatku muak!"
Setelah mengatakan hal itu, Hidan-kun bangun dari posisi tidurnya. Kemudian ia mencoba menarik sabit mata-tiga yang sedang kutahan. Supaya luka ditanganku tidak bertambah parah, aku melepas sabitnya. Setelah itu, Hidan-kun melompat menjauhiku. 'Senyum lebar' terus menghiasi wajahnya.
"Setelah aku memulai ritualku, apa ekspresimu akan tetap seperti itu? Khu khu!" lanjut Hidan-kun .
'Ah, aku mengerti. Jadi dia marah karena ekspresiku ini? Hmph, kenapa semua orang yang tentramennya tinggi selalu marah padaku dengan alasan yang sama? Dulu Tenrou dan Lucky. Lalu sekarang Hidan-kun. Hmph, aku begini bukan karena kemauanku sendiri.'
Hidan-kun menjilat darah yang ada di sabit mata-tiganya. Satu detik kemudian, tubuh Hidan-kun berubah menjadi hitam dan sedikit warna putih yang terlihat seperti tulang. Setelah selesai, ia menarik tombak yang masih menusuk tubuhnya. Dengan darah yang keluar dari luka itu, Hidan menggambar lagi simbol 'Jashin-sama'.
"Rasa sakit, ya? Lucky, Ryuuka, dan Tenrou tidak pernah memakai cara itu untuk memulihkan salah satu emosiku. Hmm, menarik. Baiklah, coba saja buat diriku berteriak kesakitan..." balasku. Tentu saja tidak ada intonasi dalam nada bicaraku.
JLEB
Hidan-kun langsung menusuk paha kanannya dengan tombak hitam. Dia... benar-benar tidak ada ampun.
'Ugh...'
Rasanya sakit sekali. Tapi, meski sakit begini, ekspresi di wajahku pasti akan tetap sama seperti tadi. Aku kesakitan, dan tidak ada yang mengetahui perasaanku ini.
"HAHAHA, BAGAIMANA RASANYA, SIALAN?! APA KAU MENIKMATINYA?!" teriak Hidan-kun sambil 'menikmati' rasa sakit dari lukanya sendiri.
'Hmph, anak bount ini sama sekali tidak punya sisi manusiawi. Kira-kira apa yang akan terjadi kalau aku memberitahu yang sebenarnya tentang Jashin, bount, dan diriku?'
Karena semua 'syarat' sudah terpenuhi, tubuh Hidan-kun 'terhubung' dengan tubuhku. Apa yang terjadi pada tubuh Hidan-kun akan terjadi juga pada tubuhku, begitupun sebaliknya. Ya, begitupun sebaliknya. Jika aku menusuk tubuhku sendiri, Hidan-kun juga akan merasakan hal yang sama, tapi aku tidak mungkin menusuk tubuhku sendiri. Bahkan jika kulakukan, itu tidak akan berpengaruh pada dirinya yang abadi.
Itu adalah kebenaran dari kemampuan tubuh Hidan-kun . Aku berani bertaruh kalau Hidan-kun sendiri tak mengetahuinya.
Ini sakit. Dan aku tetap tidak tahu caranya membuat ekspresi kesakitan.
"Cih, sepertinya masih belum cukup, ya?" desisnya pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.
Hidan-kun menarik tombak yang menusuk paha kanannya. Aku bisa menduga apa yang ingin ia lakukan, tapi aku... tidak menghentikannya. Padahal itu bisa saja membunuhku.
JLEB
Tanpa ragu, Hidan-kun menusuk perutnya sendiri... sampai tembus ke belakang. Aku langsung memegang perutku yang terluka... berharap itu akan menghentikan pendarahannya.
"HAHAHA, SEKARANG BAGAIMA–"
DEP
Gelap. Itulah yang terjadi pada tempat ini. Karena luka ini, aku sampai tidak konsen dan tidak bisa mempertahankan hado #31-ku.
"Cih, menyebalkan! Kenapa jadi gelap begini?! Apa kau mati?!" desis Hidan-kun kesal.
"Aku..belum..ma..ti.." jawabku terbata-bata... dan tanpa intonasi.
Padahal luka paha dan perutku sakit sekali, tapi nada bicaraku masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Padahal ini sakit sekali, tapi aku masih tidak tahu caranya menaikkan atau menurunkan nada bicaraku. Aku masih... tidak tahu...
Karena di sini terlalu gelap, aku kembali menciptakan cahaya merah dari hado #31. Sebenarnya dengan penglihatan mata iblis, aku tetap bisa melihat meskipun gelap, tapi sepertinya tidak adil kalau hanya aku saja yang bisa melihat di tempat gelap ini.
"Cih, wajahmu itu benar-benar menyebalkan. Apa kau ini tidak bisa merasakan sakit, huh?" tanya Hidan-kun heran begitu aku membuat cahaya lagi.
Aku terus menekan luka di perutku agar darah berhenti keluar. "Tentu saja ini sakit," jawabku datar.
Lagi-lagi emosi Hidan-kun langsung memuncak karena mendengar jawabanku. "KALAU SAKIT YA BILANG SAKIT ATAU TERIAK KESAKITAN, SIALAN! JANGAN DIAM SAJA!"
KALAU SAKIT YA BILANG SAKIT ATAU TERIAK KESAKITAN, SIALAN! JANGAN DIAM SAJA!
Entah kenapa, kata-katanya terngiang di dalam kepalaku. Jika dilihat dari sudut pandang yang lain, apa yang ia ucapkan barusan memiliki sisi positif. Meski kepribadian sangat buruk —jika dibandingkan dengan manusia—, sepertinya tidak ada salahnya jika aku mengikuti sarannya itu.
"Aw, sakit..." gumamku mengikuti sarannya. Dan tentu saja... intonasi nada bicaraku masih datar
"DASAR MENYEBALKAN!"
'Sepertinya... aku mengaplikasikan sarannya pada orang yang salah,' pikirku saat melihat reaksi Hidan-kun.
Hidan-kun mulai kehilangan akalnya (?). Dengan kasar, ia pun menarik tombak yang menusuk perutnya. Kemudian ia mengarahkan tombak tersebut ke dadanya.
"MATI SAJA KAU!" teriak Hidan-kun bersamaan dengan tombak yang melesat ke jantungnya.
'Oke, sepertinya cukup sampai di sini saja,' pikirku setelah melihat tindakan brutalnya.
Dengan mata iblis, aku meniru hiraishin level 4 milik Minana. Aku memindahkan tombak yang ada di tangan Hidan-ku ke tanganku yang satunya. Hidan-kun sangat terkejut saat menyadari hal itu. Lalu spontan, ia menatap ke arahku.
"Aku benar-benar tidak paham denganmu," ujarku datar.
Aku membuang tombak ini ke bawah. Lalu perlahan-lahan, lukaku di selimuti oleh air yang muncul entah dari mana. Beberapa detik kemudian, darah yang membasahi kimono dan haori-ku mulai menghilang, bersamaan dengan luka yang kualami. Lalu karena tubuhku dan Hidan-kun masih 'terhubung', luka di tubuh Hidan-kun juga ikut menghilang.
Setelah menyembuhkan luka dengan refresh yang kutiru, aku memindahkan Hidan-kun ke samping kananku dengan hiraishin level 4.
"Bakudo #4: Hainawa."
Setelah memindahkan dan menjauhkannya dari simbol Jashin, aku menggunakan hainawa. Cahaya muncul dari tangan kananku dan cahaya itu memanjang seperti tali. Lalu kugunakan tali itu untuk mengikat Hidan-kun. Begitu diikat, Hidan-kun tidak berontak. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba diam, tapi kupikir baguslah. Aku jadi bisa mengatakan beberapa hal tanpa perlu dimarahi balik.
"Kau bilang kalau lukanya sakit, bilang sakit. Aku sudah bilang sakit, tapi kenapa kau masih saja kesal? Ya, aku bisa mengerti kenapa kau jadi kesal, tapi... kenapa?"
"TENTU SAJA AKU KESAL, SIALAN! KAU BILANG SAKIT, TAPI MUKAMU TIDAK TERLIHAT SEPERTI ORANG YANG SEDANG KESAKITAN!"
Aku memiringkan kepalaku saat mendengar ocehan Hidan-kun. Aku tetap tidak paham. Kenapa hal itu bisa dijadikan alasan untuk membunuhku? Maksudku, kenapa Hidan-kun dan beberapa orang bisa benci dengan wajah tanpa ekspresi ini? Memangnya apa yang dilakukan wajahku pada mereka?
Yah, kalau Lucky... dengan bangganya dia pasti akan mengatakan, 'Fufu, mereka pasti kesal karena wajah tanpa ekspresi ini telah membuatku terlihat lebih tampan, nyahahahah. Mereka iri, nyahaha'. Mendengar hal itu, Tenrou pasti langsung menghajar Lucky dan mereka akan berantem seperti anjing dan kucing.
'Aku benar-benar tidak paham dengan pola pikir manusia. Dan lagi, kenapa aku jadi teringat masa lalu?'
Aku memutuskan melupakan pikiran-pikiran tak penting itu. Lalu fokus pada apa yang ada di depanku.
Aku menghilangkan hado #31 yang ada di tanganku. Karena ada cahaya kecil dari bakudou #4, aku tidak perlu membuat cahaya lagi. Lalu dengan tangan kananku itu, aku mengambil tombak Hidan-kun yang berada di dekat kakiku.
"Hoi, kau mau apa?"
Aku tidak menjawabnya. Setelah mengambil tombak, aku langsung menusuk jantung Hidan-kun.
"AAAAARRRRGHHH!"
Meski abadi, tapi Hidan-kun tetap kesakitan. Satu detik kemudian, tubuh 'hitam' Hidan-kun berubah menjadi seperti semula.
"Oh, jadi begini ya ekspresi orang yang kesakitan jika ditusuk," ujarku innocent.
Aku memerhatikan ekspresi kesakitan yang ia 'lakukan'. Kupikir ini mungkin bisa menjadi contoh jika aku nanti ditusuk lagi.
"KAU–"
"Begitu jantungmu hancur, kutukannya berakhir. Lalu disaat yang sama, semua lukamu akan sembuh, termasuk jantungmu yang hancur. Aku yakin kalau kau sama sekali tidak mengetahui hal itu," potongku sebelum Hidan-kun menyelesaikan ucapannya.
Karenanya, waktuku banyak yang terbuang. Padahal aku ke sini hanya karena ingin meminta bantuannya untuk membunuh Sarutobi Asuma, tapi akhirnya malah jadi begini. Yah, sebenarnya aku tidak keberatan, tapi... lupakanlah.
Setelah urusanku sudah selesai, aku menarik zanpakutou-ku. Kemudian 'melupakan' beberapa ingatan Hidan-kun tentang apa yang terjadi di sini. Namun ada 1 hal yang tetap akan diingat Hidan-kun..., yaitu haori putih dengan tulisan 五 di punggungku ini.
Setelah selesai, aku mengembalikan Hidan-kun ke sisi Kakuzu-kun dengan hiraishin level 4. Di Akatsuki ini, yang benar-benar tahu tentang diriku hanya Yahiko-kun saja. Bahkan Konan-san pun tidak tahu. Yah, mungkin karena ia memiliki reiatsu yang lemah. Dan setiap aku menemui Akatsuki, haori yang kupakai adalah haori dengan tulisan 五 ini.
...
Setelah 1 jam, akhirnya aku sampai di Konoha. Namun setelah aku sampai, handphone-ku berbunyi. Aku segera mengambilnya. Ada pesan dari Soul Society. Pesan itu berbunyi:
Roh Sarutobi Asuma. Aku ingin kau menahan roh itu di Dunia Shinobi selama satu bulan ke depan.
Saat membaca pesan itu, ada satu hal yang terpikirkan olehku. 'Satu bulan... sama seperti kematian Sarutobi Asuma saat di masa depan.'
Melihat pesan itu, aku jadi mengerti tentang 1 hal. Tidak peduli berapa kali dunia ini terulang, waktu hidup seseorang di dunia ini tidak bisa diubah. Bisa dibilang... bisa saja aku mengabaikan perintah Soul Society untuk membunuh Sarutobi Asuma, membiarkan Sarutobi Asuma hidup sampai bulan depan, lalu membunuhnya sesuai tanggal kematiannya. Aku bisa saja melakukan hal itu. Tapi jika kulakukan hal itu, mungkin kematian Sarutobi Asuma akan jadi terlihat tidak masuk akal.
...
Aku segera melakukan perintah Soul Society. Setelah beberapa detik melacak dan menemukan reiatsu Sarutobi Asuma, aku segera pergi ke tempatnya
Tidak butuh waktu lama, aku pun sampai ke tempat Sarutobi Asuma berada. Dia sekarang berada di rumah Yuhi Kurenai. Dia sedang berdiri di dekat pintu sambil memerhatikan Yuhi Kurenai yang sedang menyirami bunga.
Aku menepuk pundak Sarutobi Asuma. Spontan ia menoleh ke arahku. Bisa kulihat ekspresi terkejut di wajahnya. Mungkin dia sangat syok karena ada orang asing yang tiba-tiba bisa melihat dan menyentuhnya.
"Lucky? T-tidak, s-siapa kau?" tanyanya yang masih terkejut.
Entah sudah yang keberapa ribu kali aku dianggap sebagai Lucky.
"Yamanaka Yukki. Seorang shinigami," jawabku. Entah apa reaksinya saat aku menyebut namaku dengan nama Yamanaka.
"Hah?"
"Penjelasan lengkapnya nanti saja. Mau tidak mau, kau harus ikut dengaanku," pintaku tanpa intonasi nada bicara.
Sebelum ia menjawab, aku memindahkan dirinya dan diriku ke apartemenku dengan meniru hiraishin level 4.
...
Dalam sekejap, kami berdua sudah tiba. Begitu sampai, aku segera mencari sebuah gelang di lemari bajuku. Setelah menemukannya, aku memakaikan gelang itu pada Sarutobi Asuma. Gelang itu... gelang besi hitam. Gelang itu berfungsi untuk menahan roh plus agar tidak dikirim ke 'dunia sana'.
"Sebenarnya kau ini siapa? Kau bilang Yamanaka, tapi aku tidak tahu kalau Ino punya saudara atau keluarga sesuram dirimu."
Yamanaka. Klan yang anggotanya memiliki ciri rambut lurus berwarna kuning pucat dan mata berwarna biru pucat. Rambut kuning dan mata biru. Bukankah ciri-ciri itu mirip sekali dengan salah satu klan, marga, atau nama keluarga di desa ini? Meskipun milik Yamanaka sedikit lebih pucat?
Ya, Namikaze.
Sebenarnya anggota klan Yamanaka adalah saudara jauh dari klan Namikaze. Karena persilangan genetik, warna rambut dan mata anggota klan Yamanaka sedikit berbeda dari yang seharusnya.
Namikaze dan Yamanaka adalah saudara. Namun karena kejadian di masa lalu —tepatnya karena ulahku—, klan Yamanaka 'lupa' tentang Namikaze. Lalu seiring berjalannya waktu, nama Namikaze menjadi sangat asing di telinga klan Yamanaka.
"Bisa dibilang... aku adalah kakek buyutnya Ino," ujarku menjawab pertanyaan Sarutobi Asuma.
"Hah?"
'Reaksi normal dari manusia pada umumnya,' batinku.
CKLEK
Itu adalah suara pintu kamar mandiku. Mungkin karena aku sudah pulang dan datang dengan membawa seseorang, ia memutuskan untuk keluar dari sarangnya.
"K-kau... t-tidak mungkin! Kenapa kau ada di sini?! Bukankah harusnya kau sudah mati?!" ujar Sarutobi Asuma yang terkejut saat melihat orang itu.
Kalau menurut deskripsi ala Lucky, orang itu adalah shinobi berambut lurus panjang berwarna hitam. Dari belakang terlihat seperti gadis cantik yang imut-imut mengemaskan (?), namun kalau dilihat dari depan amit-amit mau muntah (?). Matanya seperti ular. Kalau ia menjulurkan lidahnya, lidahnya sangat panjang. Lalu kulitnya berwarna putih pucat. Dia memakai gelang besi hitam yang sama seperti Sarutobi Asuma dan juga memakai kalung merah seperti kalung anjing.
"Konnichiwa, Orochimaru-san," sapaku padanya.
"Kenapa ular ini ada di sini?!" tanya lagi Sarutobi Asuma. Nada bicaranya kali ini terdengar berat.
"Alasannya sama sepertimu," ujarku menjawab pertanyaannya. "Kau tidak perlu khawatir. Kau tahukan kalau dia sudah mati. Selama di tempat ini, kalian berdua tidak akan bisa keluar. Dalam wujud roh, kalian tidak bisa menggunakan chakra. Aku juga sudah menambahkan kalung merah itu agar dia tidak bisa memakai kekuatannya. Yah, bahkan tanpa kalung itupun, aku tidak yakin kalau dia tetap bisa menggunakan ninjutsu atau sebagainya. Tapi aku harus tetap waspada karena mungkin saja dia akan membunuhku," lanjutku.
"Memang apa alasannya? Kau belum memberitahuku."
Hari itu, aku menjelaskan beberapa hal pada Sarutobi Asuma tentang alasan kenapa ia harus berada di sini. Aku hanya memberi penjelasan secukupnya saja.
Dan tidak terasa, hari sudah malam.
-Keesokan harinya-
Pemakaman Sarutobi Asuma dilakukan hari ini. Banyak orang yang datang ke pemakaman ini. Bahkan Minana pun ikut datang. Dengan wujud shinigami ini, aku hanya memerhatikan pemakaman itu dari jauh. Aku... tidak punya kewajiban untuk datang ke pemakaman itu.
...
Pemakamannya berlangsung sampai sore hari. Begitu pemakamannya selesai, aku kembali ke apartemenku.
...
TOK TOK TOK
Seseorang mengetuk pintu apartemenku. Mendengar hal itu, aku menyuruh Orochimaru-san dan Asuma-san untuk bersembunyi di kamar mandi. Setelah mereka bersembunyi, aku membuka pintu.
CKLEK
Yang datang adalah Ino... Yamanaka Ino. Gadis berambut pirang ini datang membawa makanan. Aku sedikit heran. Tidak biasanya ia datang ke sini dengan membawa makanan.
"Boleh aku masuk?" pintanya.
Aku menggeleng pelan, pertanda melarangnya masuk.
"Begitu, ya?" balasnya sedikit lesu.
"Kalau begitu, boleh aku tanya sesuatu?" pintanya lagi. Sebelum aku menjawab, dia sudah mengajukan pertanyaannya. "Apa Asuma-sensei... sudah pergi ke dunia sana?"
Aku mengangguk pelan. "Iya, aku sudah mengirimnya ke dunia sana," jawabku dengan nada datar. 'Terkadang kebohongan bisa menyembuhkan kesedihan seseorang. Lucky yang bilang begitu.'
"Begitu, ya? Arigatou, Yukki-san," ujarnya. Sepertinya ia sudah menanyakan hal yang mengganjal pikirannya.
Setelah ia pergi, aku segera menutup pintu dan mengunci pintu.
Aku memberitahu mereka kalau dulu aku adalah anggota Klan Yamanaka. Aku terbunuh, kemudian menjadi shinigami.
Ya, benar.
Identitas kalau aku adalah shinigami yang bertugas untuk membunuh hollow dan mengirim orang mati ke dunia sana. Aku memberitahu hal itu pada kepala keluarga klan Yamanaka, Yamanaka Inoichi. Aku tidak keberatan jika Inoichi memberitahu hal itu pada anggota keluarganya yang lain termasuk anaknya sendiri. Selama ia dan anggota keluarganya yang lain tidak membocorkan informasi tentangku pada orang luar (baca: bukan klan Yamanaka), bagiku itu bukan masalah. Tentu saja aku sudah memberitahu akibatnya jika membocorkan hal itu pada orang lain.
Klan Yamanaka yang sekarang hanya terdiri dari 15 orang saja, kecuali diriku. Klan Yamanaka memang tidak sebesar klan Hyuga atau Uchiha. Bahkan jika dibandingkan dengan semua klan yang ada di Konoha, kekuatan tempur Klan Yamanaka adalah yang terlemah. Dan karena mereka lemahlah... aku sengaja menyisakan 15% anggota dari keseluruhan anggota Klan Yamanaka yang dulu. Berbeda dengan Klan Namikaze yang hanya kusisakan 1% saja.
Yang ingin kukatakan adalah Klan Yamanakalah yang menjamin identitasku di desa ini. Meski bukan klan yang besar, tapi Yamanaka memiliki pengaruh yang cukup besar bagi Konoha. Kau tahu? Aku tidak bisa menetap di Konoha selamanya jika hanya mengandalkan zanpakutou dan alat-alatku untuk memanipulasi ingatan.
-End of Yukki POV-
Nara Shikamaru, Akimichi Chouji, Yamanaka Ino, dan Hatake Kakashi. Sama seperti yang di masa depan, mereka adalah tim yang akan mengeksekusi Kakuzu dan Hidan. Tim Yamato yang beranggota Namikaze Naruto, Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, dan Yamato juga akan ikut membantu dalam eksekusi Kakuzu dan Hidan, tapi setelah Naruto menyempurnakan Rasen Shuriken-nya.
...
Shikamaru berhasil mengalahkan Hidan dengan menguburnya hidup-hidup. Dan Naruto berhasil mengalahkan Kakuzu dengan jurus barunya, meski tangannya sedikit terluka karena jurus tersebut. Alur dan hasil pertarungan sama dengan yang di masa depan. Mungkin yang berbeda hanya tanggal kejadiannya saja.
...
Setelah pertarungan Kakuzu dan Hidan, Itachi menemani dan mengajari Sasuke tentang Mangekyo Sharingan. Itachi melakukannya bukan karena perintah Minana. Ia melakukannya karena ini adalah pilihan terbaik agar adiknya bisa menjaga diri sendiri saat Perang Dunia Shinobi ke-4. Tentu saja Itachi tidak memberitahu Sasuke tentang masa depan. Karena segel yang Minana pasang di tubuhnya, Itachi tidak bisa membocorkan informasi masa depan pada siapapun.
...
Sejak pertengkarannya dengan Itachi, Minana hanya duduk diam di kamarnya. Minana bilang kalau ia tidak mau menjadi shinobi Konoha lagi. Naruto dan Kushina sangat bingung dengan perubahan yang terjadi pada Minana. Berkali-kali Kushina mencoba menanyai memarahi, membujuk, dan sebagainya agar Minana mau membicarakan masalahnya, tapi Minana tidak pernah menjawabnya. Bahkan Minana pernah tidak bicara selama 2 minggu saat tahu kalau ayahnya pergi bukan karena misi dari Hokage, melainkan pergi bersama Jiraiya.
Seiring berjalannya hari, Naruto dan Kushina mencoba mengembalikan keceriaan Minana. Dan itu berhasil, tapi di saat yang sama, mereka gagal. Minana memang kembali ceria dan tertawa, tapi itu bukan keceriaan yang sebenarnya. Naruto dan Kushina tahu kalau itu hanya pura-pura.
Kakak dan Ibunya mencoba untuk mengembalikan keceriaannya. Karena lelah selalu 'diusik', ia memutuskan untuk ceria dan tertawa, tapi itu hanya jika berada di depan mereka. Begitu berada di kamar atau sendirian, ia kembali menjadi Minana yang diam. Naruto dan Kushina juga pernah bertanya pada Minana kenapa murung seperti ini. Karena selalu ditanya begitu, Minana hanya menjawab, "Aku tidak mau berakhir seperti orang yang bernama Sarutobi Asuma itu."
Naruto dan Kushina ingin marah saat Minana menganggap kalau kematian Asuma adalah sia-sia. Namun mereka berhasil menahan amarah itu. Melihat Minana yang semakin hari semakin murung, Kushina tidak tahu harus berbuat apa.
...
Kushina mencoba menanyakan apa yang terjadi kepada Itachi. Namun bukannya memberitahu, Itachi malah terus-menerus membungkuk dan meminta maaf. Melihat Itachi yang terus begitu, Kushina tidak bisa menanyakannnya lebih jauh lagi.
...
Semakin hari, Minana semakin terlihat seperti 'boneka'. Ia hanya duduk, makan, mandi, dan tidur. Bahkan aktivitasnya itu dibantu oleh Kushina.
Suatu hari, Kushina membelikan Minana es krim. Lalu mengajaknya ke taman. Saat mengetahui maksud ibunya, dengan datarnya Minana berkata, "Minana tidak apa-apa, dattebane. Kaa-chan tidak perlu repot-repot begini. Minana hanya ingin sendiri. Minana hanya butuh waktu untuk berpikir. Kaa-chan dan Naru-nii-chan tidak perlu mengkhawatirkan Minana, dattebane."
Beberapa minggu kemudian...
Minato dan Jiraiya kembali ke Konoha. Namun itu hanya sebentar. Mereka kembali hanya ingin berpamitan dan meminta izin Godaime Hokage untuk pergi ke Amegakure. Setelah mendapatkan izin, mereka berdua mulai menyiapkan senjata dan kebutuhan lainnya untuk melawan pemimpin Akatsuki.
Lalu keesokan harinya... saat pagi-pagi buta. Setelah menyiapkan semuanya, Minato dan Jiraiya berkumpul di depan gerbang utama desa. Kushina dan Godaime mengantar kepergian mereka berdua. Namun saat ingin berangkat, Minana tiba-tiba berlari ke arah mereka.
"Tou-chan!" panggil Minana.
"Y-yo!" balas Minato sedikit gugup sambil menggaruk kepala belakangnya.
Begitu Minana sudah berada di depannya, Minato berjongkok... mencoba menyamakan tingginya dengan Minana.
"Tou-chan mau kemana?" tanya Minana pelan. Matanya berkaca-kaca, seperti ingin menangis.
"Tou-chan harus pergi ke suatu tempat bersama Jiraiya-jii-chan," jawab Minato sambil tersenyum.
"Hoi, Minato. Tolong jangan perlakukan aku seperti kakek-kakek. Dasar Kepala Durian," gerutu Jiraiya saat mendengar percakapan Minana dan Minato.
"TIDAK BOLEH!"
Minato sedikit tersentak saat Minana membentaknya. Namun, Minato mengerti kenapa Minana seperti ini. Lalu ia mengelus kepala Minana. Minana sedikit menunduk saat ayahnya melakukan hal itu.
"Gomen, tapi Tou-chan harus pergi," balas Minato pelan.
Minana menggeleng pelan. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat. "TIDAK BOLEH, DATTEBANE! Hiks..." teriak lagi Minana. 'Tidak boleh, dattebane! Tidak boleh! Kalau Tou-chan pergi, Tou-chan aka mati! Jangan pergi! Aku mohon, Tou-chan, hiks..!'
Air mata mulai membasahi pipi Minana. Melihat hal itu, Minato mengusap air mata Minana, seraya berkata, "Gomen, Minana. Tou-chan harus pergi."
Setelah mengatakan hal itu, Minato kembali berdiri. Kemudian Minato dan Jiraiya memberi salam perpisahan sebelum pergi. Begitu selesai, mereka berdua menghilang dari hadapan Kushina, Tsunade, dan Minana.
"Kuso-oyaji!" desis Minana.
Mendengar hal itu, refleks Kushina mencengkram kepala Minana. Ucapan Minana berhasil membangkitkan (?) mode akai chishio no habanero dalam diri Kushina. "Kau bilang apa?"
Minana hanya diam. Ia masih menundukkan kepalanya. Lalu satu detik kemudian, tiba-tiba pedang hitam muncul dari tangan kanan Minana. Kemudian seekor naga hitam keluar dari pedang tersebut.
'Persetan dengan takdir kematian! Persetan dengan paradoks waktu! Akan kubunuh semua anggota Akatsuki, dattebane! Jika itu memicu munculnya musuh baru, akan kubunuh juga musuh baru itu! Akan kuhabisi mereka semua! Tidak akan kubiarkan Tou-chan, Kaa-chan, Naru-nii-chan, dan Hentai-sannin mati, dattebane! Akan kuselamatkan mereka semua meski harus kehilangan jati diriku sebagai Namikaze Minana!'
-Di Tempat Minato dan Jiraiya-
Minato dan Jiraiya sedikit bingung dengan apa yang sudah terjadi. Padahal beberapa detik yang lalu mereka berada di gerbang utama desa, tapi sekarang mereka sudah berada di suatu hutan. Setelah berpamitan, mereka memang berencana untuk pergi, tapi Jiraiya tahu kalau ini bukan karena hiraishin yang dilakukan Minato.
DEG
Tiba-tiba tempat ini dipenuhi oleh aura membunuh. Atmosfir di tempat ini terasa sangat sangat berat. Entah kenapa, aura membunuh ini membuat Minato dan Jiraiya kesulitan untuk berdiri, bahkan untuk bernapas saja kesusahan.
"Bakudo #4: Hainawa."
Minato langsung berbalik saat mendengar suara dari belakangnya. Tapi suatu cahaya berbentuk tali mengikat dirinya dan Jiraiya. Tali cahaya itu berasal dari tangan seseorang yang sedang duduk bersandar di bawah pohon. Orang itu memiliki ciri rambut berwarna putih, mata merah, serta memakai kimono hitam dan haori putih.
"Carruaje del trueno, puente de una rueca. Con la luz, divide esto en seis..."
Serangan pria itu belum selesai. Ia mengatakan sesuatu yang tidak Minato dan Jiraiya mengerti.
"...Bakudou #61: Rikujoukourou."
Setelah mengatakan hal itu, tali cahaya yang mengikat Minato dan Jiraiya mulai berubah bentuk. Tali cahaya itu berubah menjadi 12 balok cahaya. Satu detik kemudian, masing-masing 6 balok cahaya tersebut menghantam Minato dan Jiraiya. Meski cahaya itu hanya menghantam dan mengikat bagian tengah tubuh mereka, tapi mereka juga tidak bisa menggerakkan bagian tubuh yang tidak terkena balok cahaya tersebut.
'Apa ini? Kenapa aku tidak bisa menggunakan hiraishin?' batin Minato sedikit panik.
Setelah memastikan kedua targetnya tidak bisa bergerak, 'pria putih' itu bangun dari posisi duduknya. Sambil berjalan mendekati Minato dan Jiraiya, ia menarik pedang yang ada di pinggang kanannya.
"Selama ini aku selalu diam dan sengaja membiarkanmu pergi bersama Jiraiya-san untuk mencari informasi tentang Akatsuki, tapi kali ini berbeda, Minato-kun. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi ke Amegakure. Kau tidak boleh mengganggu kematian Jiraiya-san."
.
.
Bersambung . . .
A/N: Chapter 6... done. Yo, Reader-san, kita ketemu lagi (?). Nih, chapter 6-nya. Bagaimana rasanya setelah membaca chapter ini? Apa Reader-san menyukainya? Apa alurnya terlalu cepat? Apa word-nya kurang banyak? Soalnya beda 1k sama chapter kemarin-kemarin :3
Oke, selagi menunggu jawaban Reader-san, Kuroki akan menjawab beberapa review yang belum sempat Kuroki balas.
..
Yuukasa: Hajimemashite, Yuukasa-san. Terima kasih untuk dukungannya dan karena sudah membaca ff ini sampai sekarang. Nih lanjutannya. Apa Yuukasa-san suka? XD
..
Jika ada bagian yang membuat Reader-san bingung, katakan/tanyakan saja. Selama jawabannya bukan spoiler, akan Kuroki jawab *plak*
Jika ada bagian yang salah atau semacamnya dalam ff ini, katakan saja. Karena Kuroki hanyalah manusia binasa (?) yang tak luput dari kesalahan.
Kuroki minta maaf kalau ada kata yang membuat Reader-san tersinggung. Arigatou karena sudah mau mampir kesini. Jaa ne #BOOF
