'Heart string'

,

,

,

This is drabble AllxSehun

.

.

Warning : sama seperti warning-warning semestinya. Oh, juga GS di beberapa chapter.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Enjoy!

.

.

Chapter 4. –BaekHun.

.

.

Baekhyun tidak mengerti. Bagaimana bisa arsitek terkenal sepertinya memiliki kekasih seperti Sehun. Seorang superior menurutnya dan merupakan wanita paling tidak bisa ditebak dari seluruh wanita –bohong, Baekhyun Cuma kenal ibunya, beberapa sepupu dan teman SMA sekelasnya- didunia.

Mereka bertemu ketika Sehun masih menjadi maba dan dirinya yang telah berada di semester empat. Saat itu Sehun yang berbaris paling depan dengan ekspresi mengantuk menarik perhatian Baekhyun dari lantai dua. Tapi Baekhyun terlalu pusing dengan sketsanya hingga memutuskan untuk melupakan orang yang menarik baginya itu. tapi sialnya, semalam suntuk Baekhyun tidak bisa tidur hanya karena memikirkan si gadis.

Lalu di hari kedua, Baekhyun dan Chanyeol, teman perjuangannya dalam berbagai hal tengah selonjoran di tribun lapangan sepak bola setelah putus asa mengelilingi gedung sosial –yang demi apa besar sekali- dan tidak juga menemui dosen pembimbing mereka.

"Aku lelah." Keluh Chanyeol sambil mengipas ngipasi dirinya sendiri dengan daun jati(?) kering.

"Sama." Balas Baekhyun melirik Chanyeol yang masih asik dengan kipas murahannya, "Bagi sih." lanjut Baekhyun sambil berusaha menggapai daun jati milik Chanyeol.

Chanyeol refleks menjauhkan tangannya dengan ekspresi 'pantai please' yang menyebalkan.

"Cari sendiri, ini –Chanyeol mengibaskan daun jatinya dengan dramatis ke wajah Baekhyun- keajabian yang dikirimin Tuhan buat Park Chanyeol. Bukan buat Bubuk merica sepertimu."

"Kubakar koleksi majalah pornomu, Park." Geram Baekhyun.

Chanyeol mendengus dan berucap, "Dan aku tidak akan membantumu mendapatkan incaranmu itu."

Baekhyun sudah cerita ke Chanyeol tentang maba incarannya itu. Meskipun Chanyeol itu jorok, pelopor pornoaksi keseluruh asrama, bandar video bokep dan kontak cewek cewek cantik, Chanyeol itu kawannya sejak masih memakai popok.

Tentu saja Chanyeol akan membantu, selain karena sahabatnya, Baekhyun juga orang yang berada di urutan pertama jika Chanyeol butuh uang, tak terhitung utangnya kepada lelaki Byun itu. Dan tentu saja, Baekhyun itu jadi lumbung uang sekaligus lintah darat bagi seluruh penghuni asrama.

Pernah satu kali, Jongin si anak Teknik pinjam uang untuk membeli buku katanya, tapi tentu tidak ada yang percaya. Jongin itu sebelas dua belas dengan Chanyeol. Uang yang dipinjam tentu tidak akan digunakan untuk hal berguna seperti buku -Jongin dan hal berguna itu musuh bebuyutan- dan malah bersarang di dompet mas mas jualan CD bokep yang nangkring di depan kampus.

Nah, pas tanggal pelunasan, ceritanya Jongin tidak bayar. Baekhyun masih kalem, maklum, Jongin itu langganan lah kalau dengannya, baru telat satu hari juga. Tapi setelah satu minggu Jongin tidak memiliki itikat baik untuk memberikan saweran untuk Baekhyun, disitulah julukan lintah darat bekerja.

Pemuda Byun itu mengunjungi kamar asrama Jongin. Dengan membawa kamera, Baekhyun memfoto koleksi CD porno Jongin dan berniat melaporkannya ke dosen Wu yang juga adalah ketua kedisiplinan. Tidak ada yang ingin berurusan dengan dosen Wu, dan Jongin juga tidak.

Dengan linangan air mata, Jongin memboyong beberapa Cdnya dan melakukan transaksi dengan bandar paling terkenal di asrama, yaitu Chanyeol. Chanyeol yang merupakan pelopor pornoaksi sekaligus penggagas nobar film porno setiap malam jumat di kamar asramanya tentu membantu Jongin dengan membeli CD baru Jongin. setelah itu, masalahnya selesai.

Oh, pernah satu kali, Luhan yang juga nyerempet sifatnya Jongin meminjam uang Baekhyun, dengan percaya diri dia menyembunyikan Cdnya supaya Baekhyun tidak melakukan hal yang sama seperti Jongin. namun Baekhyun tetaplah Baekhyun, dia melambai lambaikan kwitansi peminjaman uang milik Luhan.

Bukan kwitansinya yang bikin takut, tapi keterangan dibawahnya. Luhan lupa kalau di kolom kwitansi pinjam uang milik Baekhyun, ada keharusan untuk mengisi apa yang dilakukan peminjam dengan uang yang dipinjam. Dan Luhan dengan bodohnya menulis, 'membeli bokep limited edition di abang Chen'

Lalu kembali lagi kejadian transaksi antara Luhan dan Chanyeol, sang bandar sejati.

Chanyeol menyetujui permintaan Baekhyun tentu bukan tanpa syarat, syaratnya cukup mudah bagi Chanyeol tapi bagai disuruh makan tiga puluh sapi dalam tiga menit bagi Baekhyun.

Syaratnya adalah merelakan seluruh, ingat seluruh, seluruh utang yang pernah Chanyeol buat. Chanyeol sih senang senang saja membantu, tapi kesempatan hanya datang sekali kan?

Baekhyun yang sudah merasa kepincut akhirnya menyetujui syarat laknat Chanyeol. Baginya, jika dia bisa mendapatkan gadis itu, bukan hanya utang yang direlakan, dia akan mentraktir Chanyeol steak setiap tiga jam sekali dalam sebulan.

"Iya iya!" Ucap Baekhyun sewot.

"Baek, aku akan memberitahumu langkah pertama." Ucap Chanyeo sambil mengusap keringat di dahinya.

"Apa?" Baekhyun masih sensi karena kepanasan.

"Pertama, kau itu harus memberikan kesan kepadanya. Kau harus menunjukkan kalau kau tertarik padanya. Berlaku agresif, gadis gadis biasanya akan merasa senang jika ada pemuda yang mengerjarnya."

Baekhyun mengangguk mengerti, "Lalu yang kedua?"

Chanyeol melirik kearah Baekhyun, seolah Baekhyun hanyalah upil jalanan yang berjuang sendiri selama sekian tahun untuk menyambung hidup. Chanyeol kembali mendongakkan kepalanya dan lanjut mengipasi lehernya sambil berkata, "Biar kupikirkan nanti."

Baekhyun mendengus kesal, masih dengan nafas ngos-ngosan, Baekhyun mengedarkan matanya untuk menangkap sosok maba yang kemarin ditemuinya. Dia mendesah kecewa saat tidak menjumpai gadis incarannya di kerumunan orang orang yang berbaris di lapangan.

Namun ketika matanya menangkap sosok yang berlari dari arah gerbang, senyumnya mengembang.

"Maaf sunbae, saya telat." Ucap orang yang tadi berlari, tak lain adalah incaran Baekhyun.

Baekhyun tentu mendengar suara khas dengan aksen cadel itu, dia duduk di bangku paling depan ngomong-ngomong.

"KAU ITU NIAT KULIAH TIDAK?!" teriak Luhan, begitu begitu dia itu anggota BEM.

"Niat sunbae, ini buktinya saya berangkat." Jawabnya.

"BERANI JUGA KAU MEMBANTAH!"

Gadis itu menggaruk pelipisnya, "Kan tadi sunbae tanya, jadi saya jawab." Cicitnya.

Seluruh maba yang berjejer bak salmon itu terkikik geli mendengar jawabannya.

"KAU SEHUN! KEN-"

"HOI LUHAN!"

Seluruh perhatian terfokus pada Baekhyun yang berdiri dari tribun, Chanyeol yang duduk disebelahnya merasa kikuk karena ketahuan menggaruk ketiaknya, dalam hati dia mengumpat pada Baekhyun, image kerennya hancur. Namun meskipun begitu dia tetap penasaran pada apa yang akan dilakukan Baekhyun.

"JANGAN KERAS KERAS PADA GADIS INCARANKU!" teriak Baekhyun keras dengan senyumnya.

Semua melongo beberapa detik sebelum terdengar suara cie cie dari berbagai penjuru. Sedang si gadis hanya menunduk salah tingkah dengan pipi yang memerah.

Kemudian di hari berikutnya, Baekhyun mulai mendekati Sehun, mulai dari menyapanya setiap pagi, menemani ke kantin, menanyakan nomor telefon.

Chanyeol bilang langkah kedua adalah dekati incaranmu dengan caramu sendiri. Nah itulah yang membuatnya bertingkah seperti diatas. Baekhyun tidak tahu saja jika Chanyeol malas berpikir karena pusing film laknat apa yang akan mereka tonton bersama penghuni asrama malam jumat depan.

Dan akhirnya setelah tiga bulan mendekati Sehun, akhirnya Baekhyun diperbolehkan mengantar Sehun pulang di akhir pekan nanti.

Baekhyun bingung, tentang apa yang akan dia pakai, mobil mana yang akan dia bawa, parfum yang merek apa yang akan dia semprot bahkan pengharum mobil wangi apa yang akan dia gantung.

Chanyeol gemas, bagaimana tidak, Baekhyun hanya mondar mandir didepan kasurnya sambil komat kamit daripada segera menyiapkan diri.

"Baek, kau ini hanya akan mengantarnya pulang kerumah. Bukan untuk melamar atau untuk minta izin menghamilinya!" ucap Chanyeol akhirnya.

Baekhyun berhenti mondar mandir dan memelototi Chanyeol, "Ini seperti perkenalan tidak langsung kau tau!" ucapnya sebelum kembali ke mode mondar mandirnya.

Chanyeol mendengus dan meraih handphone Baekhyun untuk menelpon Key, penghuni asrama dua pintu dari kamarnya, menurut Chanyeol anak itu yang paling mengerti soal pakaian dari pada penghuni asrama yang lain. Ponsel Chanyeol tidak ada pulsanya ngomong-ngomong.

"Halo Key, kau bisa sedikit membantuku?" ucap Chanyeol.

"Oh, Chanyeol ku kira Baekhyun. Nomormu tidak ada pulsanya lagi? Oh kau memang kere."

"Ya ya ya aku memang kere, tapi dari orang kere inilah kau mendapat tontonan gratis setiap malam jumat." Balas Chanyeol pedas.

"Santai Chan, santai. Baiklah kau butuh bantuan apa?"

"Si lintah darat akan mengantar Sehun si incarannya pulang hari ini, dan yang dia lakukan hanya mondar mandir tanpa melepas satu helai benangpun dari tubuhnya untuk mandi dan melangkahkan kakinya menuju lemari lalu memilih beberapa ekor pakaian dan segera enyah dari kamar agar aku bisa dengan tenang memikirkan apa yang akan kita tonton malam jumat." Cerocos Chanyeol kesal. Dia sengaja mengucapnya keras keras agar Baekhyun tersindir, tapi makhluk itu lebih fokus pada langkah kaki bolak baliknya daripada suara Chanyeol.

"Baiklah aku akan kesana, oh ya, ngomong-ngomong memang kau sedang pusing tentang tontonan kita besok? Tenang saja Chan, kau beri bokep bebek dan kadal saja, anak anak juga doyan."

Chanyeol tertawa keras sebelum berucap kembali, "Kau benar Key, kau benar." Kemudian Chanyeol kembali tertawa.

"Bukankah kau baru dapat bonus dari abang Chen, lebih baik kau gunakan itu saja."

Chanyeol manggut manggut, "Ya, kau benar. Ngomong ngomong kapan kau akan kemari jika kau terus bicara." Ucap Chanyeol kesal.

"Ne, ne, hamba akan segera kesana, paduka."

"Cepatlah kemari wahai upik abu."

Setelah mendengar umpatan Key dan bunyi 'tut' Chanyeol akhirnya bisa bernafas lega. Apalagi setelah pintu asramanya diketuk, dengan ringan Chanyeol bangkit dari kasurnya dan membuka pintu. Keningnya mengernyit ketika tidak mendapati Key disana, melainkan Yixing si anak akuntansi yang suka ketiduran dimana mana.

"Eh, Yixing ada apa? Nobarnya kan malam jumat, ini baru hari sabtu." tanya Chanyeol bingung.

"Masuk boleh?" tanya yixing kalem.

Yixing ini jika dibandingkan dengan penghuni asrama yang paling kalem. Tapi kadang kadang juga sama nyelenehnya. Pernah di saat malam jumat, setelah mereka selesai menonton. Yixing minta pinjam cd yang tadi diputer. Anak anak sih yakinnya yixing masih belum puas nonton, soalnya yixing juga ikutan teriak teriak frustasi bareng pas adegan puncaknya.

Setelah tiga hari cd Chanyeol tidak dikembalikan, si pemilik berinisiatif mengambilnya. Chanyeol itu termasuk bandar yang perhitungan. Dan ternyata! Cd itu bukan ditonton, malah digunakan sebagai pengganjal jendela!

Chanyeol rasanya pengen nyebur ke got. Itu bagaimana kalau cdnya jatuh pas ke kepala dosen Wu, bisa mati Chanyeol. Yixing sendiri seolah tidak paham dengan kelakuan Chanyeol yang teriak teriak sampai penghuni asrama ngumpul di kamarnya.

Karena mulut ember Chanyeol, semua penghuni jadi tahu kelakuan Yixing yang bisa menyebabkan mereka kehilangan tontonan gratis tiap minggu.

Akhir dari cerita ini adalah yixing yang dikeroyok masal.

Yixing kini telah rebahan di kasur Chanyeol. Chanyeolnya sendiri memilih berdiri, kalau kalau Key datang jadi dia tidak perlu susah payah bangun.

"Baekhyun kenapa tuh?" tanya Yixing sambil meluk guling.

"Jangan hirauin dia." Chanyeol melirik prihatin Baekhyun yang masih pada posisi keramatnya.

"Emang kenapa sih, xing?" tanya Chanyeol penasaran.

"Itu, Sehun udah nunggu di depan asrama." Ucap Yixing pelan terus tidur.

Chanyeol manggut manggut, "Udah sampai depan ternyata, eh, APAAN? UDAH DI DEPAN?!"

Chanyeol lari bak pedagang sapi ke kamar Key, pas dibuka Key ternyata masih pakai boxer motif chihuahua tanpa atasan, dengan apron hijau bergambar lemari chibi.

Chanyeol geram. Perasaan Chanyeol sudah dari tadi telepon, dan si makhluk ini masih sibuk sama penggorengan!

"Chan-chanyeol, tadi tiba tiba onew telepon katanya pengen ayam. Tau sendiri Onew itu paling bisa dipinjem alat masaknya, kalau dia marah, kita tidak akan bisa pinjam ke dia lagi." Key beralasan.

Chanyeol melangkah panjang panjang menuju Key, mencengkeram leher apron Key hingga si bocah tercekik sambil menggeretnya menuju kamar apartementnya.

"Sehun udah di depan asrama dan Baekhyun belum berhenti mondar mandir. Apalagi kau tidak sadar posisi sebagai penikmat kedermawananku! Kau ini lebih memilih alat masak daripada asupan gizi seminggu sekali, hah?!" sembur Chanyeol.

"Aku lebih milih program sehatmu, Chan!" setelah berseru, Key segera masuk ke kamar ChanBaek. Dengan telaten Key menepuk(re: menggeplak(re:memukul kencang(re:menjitak sampai puyeng))) kepala Baekhyun hingga si empu berteriak kesakitan.

"KEY! APA APAAN SIH!"

Key masih santai nyeret Baekhyun ke kamar mandi. Lalu terdengar suara 'byar byur', suara teriakan Baekhyun dan benda benda berjatuhan. Chanyeol menghela nafas tenang, setidaknya sahabat gilanya itu telah mendapat pertolongan ahli.

Baekhyun diseret oleh Key seolah dirinya karung berisi glonggongan(?) kentang. Baekhyun terjengkang kebelakang saat Key tiba tiba melepas pegangannya di leher kimono mandi yang dia pakai. Tau tau kaus biru cerah, jaket baseball biru tua dan celana jeans sudah nemplok indah di wajahnya.

"Buka baju." Perintah Key.

"Dih, apaan!" tolak Baekhyun.

"BUKA BAJU, WOY!"

Key menarik Baekhyun berdiri lalu merobek kimono mandi tebal itu menjadi dua. Chanyeol yang duduk di meja belajar melongo, Baekhyun shock, Yixing mah santai, dia kan masih tidur.

Key menyemprotkan parfum ke leher dan beberapa bagian tubuh Baekhyun sebelum berteriak lagi, "PAKAI BAJU, PAKAI SEPATU TERUS KELUAR! TIDAK BAIK MEMBUAT SEHUN MENUNGGU!"

Baekhyun kalang kabut memakai bajunya, meraih dompet dan kunci mobil. Dia hendak melangkah sebelum teriakan Key kembali menggema.

"RAMBUT! MASIH BASAH GITU MAU KELUAR! KAU INI TIDAK PENGALAMAN SEKALI."

Oke tahan Baek, kali ini aja. Key boleh bebas bentak. Ini juga karena Key yang membantunya. Ingatkan Baekhyun untuk segera menagih utang untuk beli selendang sutra. Tenang, Baekhyun.

Dengan kekuatan super Key berhasil membuat rambut Baekhyun kering dengan bonus pusing karena kepalanya diputar putar dalam balutan handuk pink busuk milik Chanyeol.

"PERGI SANA!" Key sepertinya punya bakat jadi bentakers deh, bukan screamers lagi.

"IYA INI JUGA MAU PERGI."

.

.

"Sudah menunggu lama?" tanya Baekhyun canggung. Karena kecerobohannya, dia merusak semua imajinasi kotornya semalam.

Sehun tertawa, suaranya membuat Baekhyun merinding kesenangan. "Tidak, tidak begitu lama seperti menunggumu menyatakan perasaan misalnya."

Baekhyun mengumpat dalam hati, di kode sekeras ini tentu membuatnya senang. Tapi masalahnya, Chanyeol belum mengatakan langkah ketiga, Baekhyun jadi paranoid sendiri jika dia tidak mendengarkan nasihat Chanyeol.

Tapi Baekhyun juga ingin menyatakan perasaannya. Demi apa Baekhyun itu benar benar kepincut pada Sehun. jika misalnya Sehun sekarang ngupil atau kentut sembarangan maka Baekhyun bisa menerimanya dengan senang hati. Karena Baekhyun yakin, dirinya sangat mencintai gadis yang duduk di jok mobil sebelahnya ini.

Masa bodoh dengan Chanyeol, yang penting Sehun bisa jadi pacarnya.

"Memang kalau aku menyatakan perasaan, kau akan menerimanya?" tanya Baekhyun jahil. Lampu merah membuat Baekhyun memelankan kecepatan dan akhirnya berhenti.

"Pesimis sekali." Sindir Sehun.

Baekhyun tertawa sambil menyisir rambutnya kebelakang. Rambutnya terasa lembut karena usapan sayang(re:jambakan) Key, yang melibatkan satu botol shampoo, dua dus kondisioner dan obat tetes mata untuk matanya yang perih. Setelah ini dia akan mengikut sertakan Key dalam rencana 'makan-steak-tiap-tiga-jam-selama-sebulan' miliknya. Oh Yixing juga, jika anak itu tidak memberitahu tentang Sehun yang telah menunggu, dia tidak akan berada disini bersama Sehun tentunya.

"Aku tentu tidak ingin ditolak, jadi aku tidak menerima penolakan okey? Mulai sekarang kau jadi kekasihku." Ucap Baekhyun ringan.

Sehun menatapnya tidak percaya, "Wah, ini tidak romantis sekali." Ucapnya sambil tertawa.

"Aku akan mengulanginya lagi dengan lebih romantis setelah kau kembali ke asrama." Ucap Baekhyun sambil tersenyum, kepalanya mendekat ke arah Sehun, berhenti tepat setelah hidung mereka bertemu.

Sehun memasang pose seolah berpikir, "Tidak, tidak perlu. Aku suka kau yang tidak romantis ini."

Baekhyun tersenyum kembali, wajah mereka semakin mendekat, merasakan hembusan nafas satu sama lain, bi-

TIIIITTT~

Dan suara klakson menggagalkan segalanya.

Baekhyun kembali ke posisinya dan melajukan mobil. Mukanya tertekuk masam membuat gadis yang telah resmi menjadi kekasihnya beberapa detik yang lalu tertawa.

"Baekhyun minggirkan mobilnya sebentar."

Yang diminta menatap Sehun bingung, bukankah rumah Sehun masih lumayan jauh?

"Ada apa?" tanya Baekhyun setelah menepikan mobilnya. Mereka berada di jalan yang sepi dengan danau di bagian kiri kanan.

"Sehun, mau kemana?" Baekhyun kembali bingung saat gadis manis dengan rok putih dan kaus biru itu melepaskan seat belt.

Tapi Sehun tidak menjawab, malah membuka pintu dan berjalan memutar menuju arah Baekhyun, dia membuka pintu.

Sehun tidak berniat membegalnya kan?

Pikiran aneh Baekhyun terhenti dan berganti dengan pikiran kotor saat Sehun dengan santai duduk mengangkang di pangkuannya setelah menutup pintu. Tangan kekasihnya itu melingkar di sekeliling leher.

"Bagaimana kalau ciuman selamat?" tanya Sehun dengan tampang dibuat sepolos mungkin.

Tanpa menjawab, Baekhyun bergerak mencium kekasih barunya.

Oh, apakah mereka bisa melakukan 'this and that' di mobil seperti salah satu film yang pernah ditontonnya?

Yang pasti setelah itu, mobil sport warna biru metalik milik Baekhyun bergoyang tak karuan.

.

.

"Kau itu keras kepala sekali sih."

Baekhyun mendesah mendengarkan dumelan Sehun. Wajar dong jika Baekhyun mengeluh pada kekasih, ralat calon istrinya sendiri.

"Bukan salahku, sayang." Bela Baekhyun yang tengah berbaring di ranjang.

Sehun duduk di tepi ranjang, tangannya menyentil pelan pipi Baekhyun.

"Tentu saja salahmu, kau pikir menangani empat konstruksi rumah itu seperti membeli barang dengan kartu kredit gendutmu itu? empat konstruksi, Baek, empat." Ucap Sehun tidak percaya.

Baekhyun merengut, "Aku kan harus mencari nafkah untuk biaya pernikahan kita."

"Ya Tuhan, seberapa besar sih pernikahan yang akan kita lakukan? Uang di rekeningmu sudah sangat banyak dan tidak akan habis hanya untuk pernikahan kita, sayang."

Sehun gemas sendiri. Gaji Baekhyun sebagai Arsitek itu sangat banyak ngomong ngomong. Dan pemuda itu tetap mencari nafkah untuk biaya pernikahan? Sehun sebenarnya tidak masalah, toh itu keinginan Baekhyun. Tapi jika sampai pemuda itu jatuh sakit seperti ini kan dia juga tidak tega.

"Aku sudah bilang, kita juga bisa pakai uangku dan-"

"Tidak Sehun, aku yang menikahimu, aku yang akan bertanggung jawab terhadap semuanya." Baekhyun kembali ke mode keras kepalanya.

"Baiklah, tapi kau ini tidak bisa diberitahu. Kalau kerja itu difikirkan dampaknya, mentang mentang aku dokter bisa merawatmu lalu kau bisa seenaknya begitu." Omel Sehun.

"Hanya jika aku sakit kau bisa perhatian seperti ini padaku." Bela Baekhyun dengan nada memelas.

Sehun hanya menghela nafas, "Kalau mau diperhatikan seperti ini ya kau harus sembuh lalu tunggu tanggal untuk jadi suamiku, baru aku urus, aku perhatikan. Kalau baru kekasih kan artinya kau bisa mengurus dirimu sendiri."

"Baiklah maafkan aku, aku terlalu memforsir tenagaku." Baekhyun akhirnya mengalah. Tidak tahan jika harus marahan dengan kekasih manisnya yang satu ini.

"Aku tahu kau membencinya tapi kau harus meminumnya, sayang." Ucap Sehun geli sambil mengeluarkan beberapa pil obat dari botol.

"Oh Tuhan, tidak Sehun. aku bisa sembuh tanpa benda benda aneh itu." pinta Baekhyun sambil memandang ngeri ke arah pil warna warni di tangan Sehun.

"Kalau mau sembuh, kau harus minum ini sayang." Begini nih kalau Baekhyun sakit, rewelnya setengah mati. Apalagi ketakutan Baekhyun meminum obat obatan, itu merepotkan.

"Tidak."

"Ish, kau ini niat menikah denganku tidak sih, dinasehatin tidak bisa, kerja terus tanpa istirahan, kalau sudah sakit tidak mau minum obat. Kau ini sengaja sakit kan supaya tidak jadi menikah denganku." Ucap Sehun jengkel. Meski dalam hati dia tertawa setan, Sehun sudah memiliki ide untuk membuat Baekhyun meminum obat.

"TIDAK! Te-tentu saja tidak! Aku sakit dan menikah denganmu tidak ada hubungannya, demi Tuhan, Sehun!" pekik Baekhyun, dia tidak ingin Sehun salah paham dan membatalkan pernikahan.

"Lalu ini apa? Kau itu tidak pernah sayang padaku kan? Makanya kau sengaja sakit supaya aku khawatir, kau suka kan melihatku khawatir? Oh, terima kasih tuan Byun."

Sehun beranjak dari kasur sebelum tangan Baekhyun menggenggam jemarinya erat. Sehun memandang Baekhyun yang menatapnya tersiksa, "A-aku akan-"

"Kau akan apa?" tanya Sehun. dia menahan senyum karena merasakan kemenangannya. Akhirnya, tuan Byun si lintah darat itu takluk pada siasatnya.

"Minum." Cicit Baekhyun pelan.

"Apa? Aku tidak mendengarnya." Sehun sengaja mengucapkannya agar Baekhyun kesal.

"Aku akan meminumnya puas kau?"

Baekhyun sebal, Sehun sudah mempermainkannya. Meskipun itu juga untuk kebaikannya, tapi Baekhyun tidak bisa menerima jika itu berhubungan dengan pil warna warni mencolok yang merusak mata –menurutnya-

"Nah itu baru calon suamiku."

Dan akhirnya di kamar apartement itu hanya terdengar suara jeritan Baekhyun karena satu buah pil tersangkut di tenggorokannya.

Poor Baekhyun.

.

.

Sehun tengah menenggelamkan diri dengan setumpuk laporan di meja kerjanya. Jam prakteknya telah usai tapi laporan ini menggunung di mejanya karena tiga hari tidak diselesaikan. Salahkan saja Baekhyun yang menungganginya habis habisan setelah sembuh sebagai balas dendam insiden tersangkutnya pil di tenggorokan Baekhyun.

Hell, itu bukan salahnya. Salah Baekhyun saja yang payah menelan pil. Mengingat Baekhyun saja sudah membuatnya sebal. Gara gara ulah Baekhyun, Sehun susah berjalan selama tiga hari, dan selama tiga hari itu, Sehun menjalankan mode ngambeknya.

Baekhyun menelpon tidak diangkat, Baekhyun mengunjungi apartementnya juga tidak dibuka. Sampai sampai Sehun mengubah kode akses masuk aprtementnya karena kesal pada Baekhyun.

"Dokter Sehun, ada pasien." Ucap seorang perawat kepada Sehun setelah mengetok pintu dan membukanya.

"Tapi jam praktekku sudah selesai." Ucap Sehun bingung.

"Ini pasien penting, dokter." Perawat itu kembali berkata pada Sehun namun dengan raut seolah berkata 'eciecieciee'

"Baiklah, biarkan dia masuk." Putus Sehun akhirnya. Dia merapikan mejanya dari tumpukan laporan yang berserakan saat mendengar pintu dibuka dan langkah kaki mendekat ke arah meja kerjanya.

Sehun masih menunduk membereskan alat tulisnya saat mengatakan, "Apa keluhannya."

"Hatiku sakit saat kau tidak mau menemuiku."

Sehun refleks mengangkat pandangannya dan menemukan Baekhyun berdiri di depan meja kerjanya. Sehun refleks berdiri.

"Aku merindukanmu." Ucap Baekhyun pelan. Kentara sekali kalau pemuda itu memang merindukan Sehun. tapi Sehun masih kesal pada Baekhyun sih.

"Maafkan aku." Ucap Baekhyun lagi.

Sehun hanya memandangnya sejenak lalu melangkah menuju jendela kaca di sebelah meja kerjanya. Matanya melihat orang orang dibawah yang terlihat kecil sebelum merasakan kehangatan di punggungnya dan lengan yang melingkari perutnya.

"Kau menyebalkan." Ucap Sehun akhirnya luluh. Dia menyandarkan punggungya ke dada Baekhyun, mencari posisi yang nyaman.

"Maafkan aku, Sayang. Aku benar benar lepas kendali." Ucap Baekhyun menyesal. Kepalanya tenggelam ke ceruk leher Sehun sambil menyesap aroma khas calon istrinya ini.

"Gara gara kau aku harus lembur hari ini."

"Aku akan menemanimu disini hingga kau selesai sebagai permintaan maaf."

Sehun berbalik dengan senang, "Sungguh?"

"Tentu." Baekhyun terkikik melihat binar di kedua mata Sehun.

"Ah, aku mencintaimu." Ucap Sehun sambil memeluk Baekhyun kembali.

Baekhyun tersenyum senang. Sepertinya dia bisa mempraktekkan sesuatu hasil dari reuninya bersama Chanyeol dan penghuni asrama saat kuliah pagi tadi. Apalagi dia sangat merindukan kelinci kecilnya ini. tidak sia sia dia bertemu dengan orang orang tidak waras itu.

Sehun melepas pelukannya tiba tiba dan memelototi Baekhyun yang masih membayangkan hal hal kotor antara dia, Sehun dan adik kecilnya.

"Baekhyun kau menggunakan celana itu lagi." Ucap Sehun kesal sambil menunjuk skinny jeans yang dipakainya.

"O-oh Sehun aku lupa. Aku ada reuni dengan teman kulliah dan aku-"

"Kau tau kan sudah berapa kali aku bilang jangan menggunakan celana ketat! Itu bisa merusak sperma, aku tidak mau anakku kelak bodoh mesum dan jorok seperti Chanyeol."

Sehun itu sedikit jengkel dengan Chanyeol, setelah dia mengetahui kalau Chanyeol itu bandar porno dari temannya, Taehyung. Pasti Chanyeol yang membuat Baekhyun menjadi mesum, itu pikirannya.

"Bagaimana kalau kita buktikan sekarang, apa anak kita akan bodoh mesum jorok seperti Chanyeol."

Sehun gelagapan, apalagi saat Baekhyun melangkah kepadanya pelan seolah dirinya singa yang perkasa dan Sehun hanya kelinci kecil yang tersesat ke kandangnya.

"Baekhyun, kau baru m-minta maaf loh." Sehun gugup sendiri. Meski sudah enam tahun pacaran bak kredit mobil dan akan menikah beberapa bulan lagi, menghadapi Baekhyun dalam mode ganasnya benar benar tantangan bagi Sehun.

"Kita menikah masih dua bulan lagi, bagaimana jika kita membuktikannya saat itu?" Sehun mencoba menghindar yang malah membuatnya terpojok diantara dinding dan Baekhyun.

"Aku akan mengajukannya hingga minggu depan, yang penting sekarang, ayo buat anak."

"BAEKHYUN!"

-end-

Umaigat. Omaigot.

Ini apa?

Entah ini apa.

Ini tumben banget aku ngetik langsung jadi. Biasnya harus mengalami proses yang namanya males dulu baru kelar. Tapi gara gara aku update sarbio kemaren, otakku nggak bisa berhenti mikir ono ene unu tentang fanfic fanfic selanjutnya.

Iya sih, ngalir kalo di otak mah, tapi tangannya pegel juga hoho.

Makasih review, fav, foll nya di ff ini atau di sarbio. Aku bakal berjuang supaya tulisanku jadi semakin baik dan enak dibaca.

Oh, aku bayangin Baekhyun di Monster. Rambut si mak cabe kan berdiri manja jadi keliatan menly(?)

Mohon kritik dan sarannya^_^

Bisa nggak aku dapet 20 review baru aku lanjut? Bisa ya ya ya? Makasih #maksa.

Oke akhir kata.

Mind to review?