Ttok tookk

"Aku mengantar pesanan frappuccino." Setelah terdengar ketukan, seseorang masuk keruangan itu.

"Letakkan saja dimeja" ujar Minseok.

Dengan hati-hati pegawainya itu meletakkan segelas fappuccino dan sepotong red velvet cake di atas meja.

"Bangun, Kim. Pesananmu sudah datang." Minseok menggerakkan kakinya mengusik Mingyu yang sudah hampir terlelap.

"Hmm.. Nanti akan aku minum Yoojung. Letakkan saja." Mingyu masih berusaha untuk terlelap lagi.

"Dia bukan Yoojung. Dia pegawai baruku. Wonwoo."

"WONWOO?" Mingyu terkaget. Terduduk seketika. Dipandangnya seseorang yang sedang berdiri memegang sebuah nampan. Seragam pegawai Frost melekat pada tubuh ramping itu.

"Eh? Mingyu?"

"Kenapa kaget begitu? Kalian kan satu sekolah. Aku pikir kalian sudah bertemu di bawah" Minseok menatap kedua pria muda yang saling bertatapan kaget.

Masalahnya Mingyu bukan sekedar kaget karena itu Wonwoo. Ya tapi karena itu Wonwoo dia jadi berkali lipat kagetnya. Duuhh Mingyu bingung. Canggung. Wonwoo memergokinya saat ada diposisi sangat mesra dengan orang lain. Apa yang akan dipikirkan Wonwoo? Jangan sampai dia salah paham. Kenapa Mingyu jadi takut Wonwoo salah paham?

"…"

"Minseok-oppa! Jongin-oppa dan Kyungsoo-oppa sudah berada di bawah. Dia juga mau minta ijin mengajak Wonwoo pergi makan malam" Yoojung berdiri di depan pintu ruangan pribadi Minseok.

"Baik. Kami akan segera turun. Wonwoo cepat berganti pakaian." Minseok menarik tangan Mingyu keluar ruangan.

"Eh, hyung tunggu. Bear-hyung kenal dengan Wonwoo? Bagaimana bisa?" Mingyu berusaha menyamakan langkah dengan Minseok.

"Tanya sendiri pada Jongin. Yoojung bawa frappuccino Mingyu turun." Minseok berucap pada pegawai wanita yang masih berdiri didepan pintu.

.

.

.

LOVELY STRANGER

Seventeen & EXO Fiction

Kim Mingyu & Jeon Wonwoo

Kim Jongin & Do Kyungsoo

.

.

Kim Noona (Ohnokai92)

.

.

.

"Jelaskan padaku bagaimana kalian semua mengenal Wonwoo?" Mingyu duduk dihadapan Jongin dan Kyungsoo. Tanpa basa basi sama sekali. Minseok duduk disamping Mingyu.

"Ternyata kau bukan saja amnesia tapi juga pikun. Kan sudah dibilang hyung membantu mencarikan pekerjaan orang yang sudah menolong hyung dari kecelakaan tempo hari. Dan dia bekerja di Frost." Jongin berujar dengan nada yang dibuat kesal.

"Yang menyelamatkan hyung itu Wonwoo? Hey, kau tidak menyebutkan namanya dari kemarin." Mingyu mencebik kesal.

"Kenapa kelihatan sepanik itu sih, Gyu? Wonwoo kan hanya bekerja disini. Apa salahnya? Kenapa tingkahmu seperti orang yang ketahuan selingkuh begitu?" kali ini Kyungsoo yang angkat bicara. Mingyu memang sering bertingkah berlebihan, tambah berlebihan lagi semenjak pulih dari kecelakaan. Tapi yang ini super berlebihan.

"Ah.. I-itu.. Aku cuma takut dia salah paham.." Mingyu sedikit memelankan suaranya. Lalu dengan menunduk malu-malu menyeruput frappuccino yang tadi dibawakan Yoojung.

Tiba-tiba Minseok terbahak. Dia mengingat sesuatu.

"Kau benar Kyung. Mingyu baru saja ketahuan selingkuh dengan ku.. Haha.." Mingyu melotot.

"Seokkie-hyung pelankan suaramu." Mingyu mendesis panik.

"Selingkuh bagaimana?" Jongin jadi penasaran.

"Tadi waktu Wonwoo masuk ke ruanganku, Mingyu sedang tidur dipangkuanku. Kau tau kan kelakuannya? Cucu bungsu keluarga Kim." Minseok menaik turunkan alisnya menggoda Mingyu.

Tepat sasaran sekali kecurigaan Minseok. Memang itu yang Mingyu takutkan. Tapi apa benar dia terlihat seperti pacar yang sedang selingkuh?

"Maaf menunggu lama, Jongin-ssi, Kyungsoo-ssi." Wonwoo menghampiri meja dimana keempat pria Kim -tiga Kim satu Do- itu duduk. Berdiri di sisi meja bagian Jongin dan Mingyu duduk berhadapan. Mingyu sempat menyenggol lengan Minseok mengisyaratkan Minseok menutup mulut.

"Tidak masalah Wonwoo-ya. Panggil aku dan Kyungsoo dengan hyung saja. Kami berniat mengajak mu makan malam bersama dengan adikku Kim Mingyu. Kau kenal?" Jongin bersikap profesional. Padahal di benaknya sudah mati-matian ingin menggoda Mingyu. Persekongkolannya dengan Kyungsoo akan berjalan lancar pikirnya.

"Kalian kakak-adik?" Wonwoo tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.

"Benar. Aku dan Mingyu saudara kandung. Minseok-hyung adalah saudara sepupu kami. Dan Kyungsoo adalah kekasihku." Jongin menjelaskan rinci. Dia tidak mau Wonwoo bingung lagi.

Wonwoo hanya mengangguk.

"Wonwoo-ya.. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Topi yang kau kenakan.. Kau yang menolongku ditangga rumah sakit kan?" Jongin mengerutkan alisnya hingga bertemu. Saat ini Wonwoo sedang mengenakan sebuah topi berwana putih. Persis dengan topi milik pria bermasker tempo hari.

"Yang hampir jatuh menginjak bungkus roti?" Wonwoo menambahi. Membenarkan ucapan Jongin sebelumnya.

"Benar. Ya ampun aku berhutang nyawa dua kali padamu." Jongin tertawa senang dibalik percakapannya dengan Wonwoo.

Minseok menoleh ke Mingyu yang tiba-tiba mencengkram lengannya erat. Posisi Minseok dari tadi disamping Mingyu.

"Mingyu, kau baik-baik saja?" Minseok menatap Mingyu yang menunduk. Wajahnya menunjukkan kesakitan yang amat sangat. Remasan tangan Mingyu dilengan Minseok makin kencang. Tangan Mingyu lainnya dibawa ke kepala lalu meremas rambutnya.

Jongin, Kyungsoo dan Wonwoo menoleh panik.

"K-kepalaku.. Sa-sakit sekali.." Mingyu mendapatkan denyutan itu lagi. Bersamaan bayangan yang berputar berantakan.

Penglihatan akan Jongin yang terguling ditangga darurat rumah sakit bertimpa dengan penglihatan akan Jongin yang ditolong Wonwoo. Lalu penglihatan akan Jongin yang menyeberang jalan dan tertabrak mobil bertimpa dengan penglihatan akan Wonwoo yang menariknya hingga berguling. Menyelamatkan Jongin.

Kejadian yang sama persis seperti saat diruang kesehatan.

Jongin panik. Mingyu semakin meronta memegangi kepalanya. Bayangan tumpang tindih itu tidak kunjung berhenti.

Wonwoo tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi entah kenapa jatungnya jadi berubah nyeri saat melihat Mingyu kesakitan. Dia juga seperti merasakan kesakitan Mingyu tapi di bagian dada kirinya.

Minseok, Jongin dan Kyungsoo mencoba menenangkan Mingyu. Masih terus meronta. Seisi café dibuat panik. Bagaimana menghilangkan kesakitan Mingyu.

Wonwoo mengingat sesuatu.

Wonwoo mendekati Mingyu. Membuat tiga orang yang mengerumuni Mingyu menyingkir heran.

"Mingyu-ya.." Wonwoo menyebut nama Mingyu dengan lembut. Lalu menarik Mingyu dalam pelukannya. Melakukan hal yang sama seperti di ruang kesehatan.

Wonwoo mengusap lembut punggung Mingyu. Terus hingga Mingyu perlahan berhenti meronta.

Denyutan dikepala Mingyu berangsur hilang. Begitu juga denyutan yang dirasakan Wonwoo di dadanya. Tubuhnya menghangat nyaman dalam pelukan Mingyu.

Jongin, Kyungsoo dan Minseok dibuat diam tak percaya. Wonwoo hanya memeluknya, Mingyu bisa tenang. Tadi juga Jongin memeluk Mingyu. Tapi..

"Terima kasih.. Lagi." ucap Mingyu setelah pelukan mereka terlepas. Wonwoo hanya mengangguk lalu mundur beberapa langkah sambil menunduk.

"Apa yang terjadi sebenarnya?" Jongin bertanya dengan nada khawatir.

"Aku tidak tau.. Sudah dua kali aku begini. Kepalaku sakit sekali." Mingyu bingung sendiri bagaimana menjelaskan pada ketiga hyungnya.

"Tapi sekarang sudah tidak apa-apa kan?" Kyungsoo menampilkan gurat cemas yang kentara.

"Aku baik-baik saja. Berkat Wonwoo" dan keajaibannya. Batin Mingyu.

.

Mingyu, Wonwoo, Jongin dan Kyungsoo akhirnya makan malam disebuah restoran pasta mewah. Wonwoo merasa sangat canggung berada di antara ketiga pria itu awalnya. Tapi Mingyu dan Kyungsoo bersikap sangat baik. Membantu Wonwoo berbaur. Sekarang mereka menjadi dekat dan berteman.

Wonwoo banyak bercerita tentang keluarganya di Busan dan juga adiknya yang sedang dalam masa pemulihan. Dan akhirnya juga Wonwoo tau bahwa Kim Jongin adalah pemilik Kim Corp. Bukan sekedar pegawai biasa.

Wonwoo merasa naik kasta bisa berada di lingkungan keluarga Kim. Tapi menyadari itu juga membuatnya menjadi rendah diri. Dia bukan apa-apa.

Wonwoo bukan dari kalangan elit seperti keluarga Kim, tapi juga tidak bisa dibilang keluarga miskin. Ibunya menjalankan usaha yang sukses di Busan. Hanya saja di Seoul Wonwoo hanya hidup berdua dengan adiknya. Biaya hidup di Seoul juga berbeda jauh dengan di Busan. Mau tidak mau Wonwoo jadi harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan. Dia juga masih berhutang mengganti ponsel Hansol.

-Wonwoo berjalan menghampiri meja dimana mereka makan. Ia baru saja kembali dari toilet. Berniat duduk kembali di kursinya. Tapi tanpa sengaja dari samping seorang pelayan yang membawa senampan besar gelas dan piring kotor ditangan tergelincir….-

"Aku permisi ke toilet dulu" Wonwoo bangkit dari kursinya. Mingyu menatapnya. Tiba-tiba saja Wonwoo ingin buang air kecil. Mereka -Mingyu, Jongin dan Kyungsoo- masih menikmati makan malam mewah ala Eropa di meja.

Wonwoo ke toilet setelah mendapat anggukan dari Jongin dan Mingyu. Cuma sekitar sepuluh menit, Wonwoo berjalan kembali ke meja mereka.

Mingyu mengamati gerak gerik Wonwoo saat berjalan. Lalu tanpa terkendali menoleh ke arah samping Wonwoo berjalan. Pelayan yang sama. Nampan dan gerakan yang sama. Pelayan itu tergelincir. Nampan berisi gelas dan piring kotor itu melayang. Melayang kearah Wonwoo.

Secara spontan Mingyu berlari. Menarik Wonwoo kedalam pelukannya. Memunggungi nampan yang melayang hingga semua terjatuh. Beberapa gelas kaca mengenai punggung Mingyu.

Pranggg

Dan sisanya berserakan dilantai menjadi kepingan kaca.

Wonwoo mendongak. Ditatapnya Mingyu yang sedang memeluknya erat. Wonwoo tau sedetik lalu dialah yang akan dihujani puluhan kaca itu. Tapi Mingyu menyelamatkannya.

"Terima kasih Mingyu-ya.." Kata-kata itu terdengar ditelinga Mingyu sebelum hitam menyapa matanya. Mingyu jatuh pingsan di pelukan Wonwoo.

.

.

.

To be continued

.

.

.

Cuma mau kasih kata kunci untuk cerita ini.

"Yang merubah takdir itu Wonwoo"

/kemudian tertawa nista/

Chap 5 memang pendek. Sengaja. Karena harus dipotong sampai disitu supaya feel-nya dapet. Lagian saya ga update lama kan? Jadi impas lah ya.. /tertawa nista lagi/

Salam,

Kim Noona

Sat, 20th August 2016