KAIHUN - Kekasih Suamiku Chapter 6 -

.

Oleh Juju JongOdult TeleportingWinds

.

KEKASIH SUAMIKU

.

REMAKE DARI NOVEL, BUKAN REMAKE DARI FF COUPLE LAIN.

.

KIM JONGIN

OH ( KIM ) SEHUN

KIM TAEOH

.

RATED T

.

MPREG

.

CHAPTER SEBELUMNYA

.

Ancaman yang dikeluarkan Jongin itu mengejutkan Sehun. Jongin serius, Suaminya itu bersedia bertarung memperebutkan hak asuh Taeoh. Hal itu tambah membuat Sehun tenggelam dalam penyesalan karena ketidak adilan yang dialami Jongin karena ia tidak mau bermurah hati membiarkan Jongin menghabiskan waktu bersama Taeoh.

" Tentu saja aku tidak menginginkan hal ini dibawa ke pengadilan. " Ucap Sehun dengan tegang. " Aku bersedia berkompromi. Apa tepatnya yang kau inginkan dariku? "

Seulas senyum dingin penuh kemenangan terukir di bibir tebal Jongin yang sensual. Raut wajahnya terlihat begitu tampan. " Penebusan. Yang kuinginkan darimu adalah penebusan. "

.

HAPPY READING

.

Kamar yang sebelumnya berantakan sekarang terlihat lebih kosong dibanding sehari sebelumnya, saat jasa pengangkutan datang untuk membereskan pakaian, mainan, buku dan barang barang kebutuhan anak yang akan dibawanya. Tawaran Jongin untuk menyediakan tempat tinggal lengkap dengan perabotan terpaksa Sehun terima.

Penebusan, itulah istilah Jongin atas utang yang menurutnya dimiliki Sehun padanya. Sehun benar benar terperanjat mendengar ancaman Jongin untuk mempermasalahkan hak asuhnya atas Taeoh. Saat Jongin menegaskan bahwa ia tidak akan segan menggunakan kejadian Taeoh berjalan seorang diri di jalan lalu terluka untuk membuktikan bahwa Sehun tidak layak menjadi orangtua asuh, membuat perasaan Sehun hancur dan saat itu juga ia harus menentukan pilihan menerima tawaran Jongin atau dibawa ke pengadilan.

Tak pernah ada kata kompromi bagi Jongin, Sehun mengakui hal itu dengan sedih. Bagi Jongin, pilihan yang ada hanya mengikutinya atau menentangnya. Ia tidak mengerti bagaimana kekesalan Jongin karena jarang bertemu Taeoh diungkapkan lewat hubungan seksual penuh nafsu yang dibiarkan Jongin terjadi di antara mereka. Mustahil suaminya itu menganggapnya menggoda. Tentu saja, Jongin adalah pria yang tidak mudah untuk dipahami atau di tebak. Yang lebih memalukan lagi, Jongin dengan tenangnya menyebutkan apa yang mereka alami itu hanyalah seks biasa. Benarkah itu? Atau itu sekedar apa yang Jongin coba percayai? Apakah mungkin gairah di antara mereka dapat berkobar kembali menjadi sesuatu yang dibangun pada dasar yang lebih kuat? Bahkan sebuah awal baru?

Sehun menggelengkan kepalanya, membuang harapan yang membuncah di pikirannya. Walau bagaimanapun, kepindahannya ke Seoul semata mata demi Taeoh agar bisa lebih dekat dengan Ayahnya. Akal sehatnya memaksa memberitahunya bahwa ia melakukan ini hanya karena ia ingin memberikan kompensasi pada Jongin atas dampak kehancuran pernikahan mereka terhadap hubungannya dengan Taeoh. Tapi pada saat bersamaan ia juga menyimpan harapan pada kata kata menjanjikan yang di ucapkan Jongin, bahwa mereka bisa bersahabat. Jongin akan kembali menjadi bagian dalam kehidupannya. Ia dapat bertemu kembali dengan Jongin, berkesempatan untuk berbicara dengannya dan mungkin saja pertentangan di antara mereka perlahan lahan dapat terselesaikan.

Sehun sangan mencintai Jongin sehingga ia bersedia menerima diri Jongin apa adanya dan bersabar. Apa yang ia harapkan hanyalah satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semua. Ia akan melakukan segalanya demi mendapatkan kesempatan untuk bersama Jongin lagi.

Sehun mengerjapkan matanya yang dibasahi oleh air mata, sekali lagi ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamarnya untuk terakhir kalinya lalu ia cepat cepat turun. Sebuah mobil akan segera menjemputnya dan Taeoh jadi ia harus bersiap siap.

Setelah sampai di bawah Sehun melihat Luhan yang melangkah keluar dari dapur sambil memegang segelas air.

" Jadi, kau tetap akan melakukan ini semua? Kau akan tetap menuruti apa kata Suamimu sombongmu itu? " Tanya Luhan sinis.

Sehun menegang. " Ya. "

" Aku tidak percaya kau membiarkannya membodohimu lagi. " Luhan memandang Sehun dengan raut muak. " Kim Jongin hanya menggoyangkan tali layaknya seorang pemain boneka dan kau langsung melakukan apa yang ia inginkan !"

" Bukan seperti itu, Luhan. " Ucap Sehun dengan lembut. Ia akan menjelaskan dengan tenang agar Kakaknya itu mau memahami dari sudut pandangnya. " Jongin ingin lebih sering bertemu dengan Taeoh dan ia berhak mendapatkan kesempatan itu. Jongin dan Taeoh ternyata sangat dekat, melihat kedekatan mereka bedua membuatku sadar bahwa Jongin juga sama pentingnya seperti diriku dimata Taeoh. "

Luhan mendecih. " Jadi, kau melepaskan pekerjaanmu lalu pindah ke Seoul hanya karena alasan sepele itu? "

Sehun menunduk malu karena tuduhan Kakaknya itu, ia mencoba menyibukkan diri dengan kotak kandang Jock. " Ini bukanlah hal sepele. Mungkin aku melakukan ini semua hanya karena aku berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah kuperbuat. "

" Mengapa kau tidak mengakui kebenarannya, Sehun? Kau masih memiliki perasaan terhadap Jongin, bukan? Dan kau sebenarnya sedang berusaha menyesuaikan diri dengan keinginannya, berharap ia akan menerimamu kembali. " Ucap Luhan.

" Well, seandainya memang itu alasanku. Itu masalahku bukan masalahmu. " Balas Sehun dengan sedikit kasar.

Luhan melongo. Ia tidak menyangka Adiknya itu akan berkata seperti itu. " Apa kau tidak punya rasa malu, Sehun? Atau harga diri? "

Sehun memikirkan pertanyaan itu. Karena rasa malu dan harga dirilah, ia meninggalkan pernikahannya dua tahun lalu. Waktu itu, ia mendengarkan nasihat Luhan dan pergi meninggalkan Jongin tanpa mau mendengarkan satu penjelasanpun dari Jongin. Namun kali ini ia tidak ingin sembarang menerima omongan Luhan. Dulu ia telah melakukan kesalahan besar, jadi sekarang ia ingin memperbaiki hal itu. Jongin memang bukanlah suami yang sempurna tapi saat mereka bersama ia merasa sangat bahagia. Kehidupan tanpa kehadiran Jongin sangatlah datar dan menyedihkan.

" Bajingan egois yang kaunikahi itu pasti sangat senang karena kau jatuh dalam pesonanya lagi !" Ucap Luhan dengan nada menghina.

Sehun menatap Luhan dengan dahi berkerut. " Kenapa kau sangat membenci Jongin? "

Rona merah menjalar di tulang pipi Luhan. Ia menggelengkan kepala. " Aku tidak menyukai dirinya. Aku hanya tidak suka dengan cara dia memperlakukanmu, itu saja. "

Sehun tidak terlalu bisa menerima alasan yang diberikan Luhan, ia masih tetap bingung kenapa Kakaknya itu begitu membenci Jongin.

" Mungkin aku tahu satu dua hal mengenai Jongin yang akan mengejutkanmu. " Lanjut Luhan.

" Apa... Apa maksudmu? " Suara Sehun terdengar cemas.

Tin.. Tin.. Tin...

Sehun menoleh ke jendela luar dan melihat mobil jemputan untuknya sudah datang. Tapi Sehun kembali memandangi wajah Kakaknya. " Apa maksudmu dengan perkataanmu itu? " Ulangnya.

" Tidak usah dipikirkan, Hun. Aku hanya asal bicara saja. " Luhan mengerang, ia bergerak melewati Sehun untuk membukakan pintu bagi sopir. " Mengapa kau selalu menganggap serius semua ucapanku? "

Sehun menghela napas, ia lalu mengambil Taeoh yang sedang duduk di kursi bayi lalu menggendongnya dan mulai berjalan keluar. Bahkan saat melambaikan salam perpisahan kepada Kakaknya, Sehun masih saja sulit melupakan perbincangan tak mengenakkan tadi. Mungkin Luhan memang mengetahui beberapa hal mengenai Jongin yang tidak diketahuinya sebagai istri.

Sehun menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan rasa penasarannya atas perkataan Luhan tadi. Ia tidak akan mengulangi hal yang sama lagi, langsung mempercayai perkataan orang lain.

.

.

Saat ia sudah sampai di Seoul, Sehun benar benar terkejut dengan rumah yang diberikan oleh Jongin. Jongin memberikannya rumah di hunian eksklusif Seoul. Karangan bunga yang cantik menyambutnya di lorong masuk rumah yang tampak indah. Setiap kamar yang ada tertata dengan rapi. Ranjang bayi Taeoh sudah terpasang di kamar anak. Bahkan dapurpun sudah dipenuhi makanan.

Kring... Kring... Kring...

Sehun terperanjat mendengar bunyi dering telepon. Ia sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab panggilan telepon itu.

" Berikan pendapatmu yang sejujurnya, " Ucap Jongin tanpa salam sambutan.

Nada suara Jongin yang menggoda membuat sekujur tubuh Sehun dijalari kebahagiaan dan ia memegang gagang telepon itu layaknya gagang itu adalah tangan Jongin. " Ini rumah yang sangat bagus... Tapi rumah ini sangat besar dan terlalu mewah. "

" Para pelayan sudah diatur untuk datang pada jam jam tertentu dan mereka akan mengurus semua pekerjaan rumah tangga. " Lanjut Jongin.

" Itu terlalu berlebihan, Jongin. Aku bisa mengurusnya sendiri. " Sehun mencoba meyakinkan Jongin.

Di ujung lain telepon, Jongin mengernyit. Ia mengingat kembali semua kekacauan setelah bulan madu mereka, saat Sehun berusaha meyakinkannya dengan mengatakan ia mampu mengerjakan semua urusan rumah tangga. Kenyamanannya selama ini hilang digantikan oleh serangkaian kejadian karena Sehun tidak mengerti akan perawatan rumah yang baik. Pernah sekali alarm kebakaran menyala karena Sehun lupa mematikan oven. Kulkas sering kali kosong atau diisi oleh makanan yang sudah berjamur dan terkadang Sehun lupa dimana meletakkan setelan jas Jongin setelah selesai mencuci dan melipatnya. Jadi ia menumpuk kemeja bersih di kantor agar ia bisa mengenakan pakaian yang pantas saat bertemu klien.

" Aku khawatir kau tidak punya pilihan, Sehun. Para pelayan dan rumah sudah jadi satu paket. Emm, ngomong ngomong, jam berapa Taeoh mandi? "

Entah kenapa mendengar Jongin bertanya jam mandi Taeoh membuat Sehun senang. " Jam tujuh. "

" Baiklah, aku akan datang. " Balas Jongin.

Jongin menutup telepon dan bersandar kembali di mejanya dengan perasaan puas. Taeoh, Putranya berada di Seoul begitu pula Sehun. Yang satu tidak mungkin aku dapatkan tanpa lainnya, pikir Jongin santai. Seulas senyum licik perlahan membingkai mulutnya yang sensual. Semua berjalan sesuai rencananya.

.

.

Sehun bermaksud mengganti pakaian dengan yang lebih bagus sebelum Jongin datang. Ia menghabiskan siang itu dengan memilih baju yang cocok sambil mengatur ulang kamar anak sesuai dengan keinginannya lalu bermain dengan Taeoh. Dari sedikit pilihan yang ada, ia memutuskan untuk memilih pakaian yang paling sederhana. Hal terakhir yang ia inginkan adalah meningkatkan kecurigaan Jongin bahwa ia sengaja berdandan demi pria itu.

Tapi ternyata ia tidak sempat mengganti celana hitam lebarnya dan kaus ungunya karena Taeoh yang merengek tidak suka dengan makanan yang disajikan oleh Sehun.

Kulkas memang penuh dengan makanan tapi sayangnya tidak ada satupun makanan kesukaan Taeoh. Sehun lalu membuatkan roti panggang dan telur rebus tapi suasana hati Putranya sudah memburuk, jadi Taeoh terus membuang roti panggangnya ke Jock.

" Jangan lakukan itu, Taeoh sayang, " Desak Sehun untuk yang kesekian kalinya, ia berusaha terdengar tegas. " Taeoh, ayo cepat habiskan telurmu, Mommy mau berganti pakaian. "

Taeoh tetap mengabaikan Sehun, ia terus mengulurkan rotinya ke arah Jock.

" Tolong, Taeoh sayang. Jangan lakukan itu. " Sehun memohon, ia menatap sekilas ke arah jam dan mengerang penuh frustasi karena Jongin akan tiba sebentar lagi.

Tangan Taeoh menyenggol pinggiran nampan dan tanpa sengaja rotinya terjatuh. Jock langsung menyambar roti tersebut dan berlari, membuat Taeoh berteriak tidak percaya. " Punyaku !" Jeritnya dengan suara melengking.

.

.

Jongin masuk ke rumah dengan kunci yang dimilikinya, ia memiliki bayangan sempurna mengenai kehidupan mereka bila Sehun tidak menghancurkan pernikahan mereka. Impiannya mengenai keluarga terdiri dari Istri anggun yang tersenyum dan Putra yang tersenyum lebar menyambut kedatangannya saat ia pulang ke rumah, dan mengucapkan " Selamat datang, sayang. " padanya. Namun, impian itu terhapus karena suara berisik, gabungan antara gonggongan anjing dan jerit tangis seorang anak.

Jongin tidak siap dengan pemandangan rumah yang jauh dari kenyamanan yang menunggunya di dapur. Ia melihat Putranya sedang menggeliat marah di lantai.

" Taeoh, hentikan !" Perintah Jongin dengan penuh otoritas.

Seketika itu keheningan yang menegangkan merebak. Taeoh dengan terkejut memutar kepala dan menatap bingung Ayahnya dengan kedua matanya yang berwarna kecokelatan.

" Ya, ampun, kau datang terlalu cepat !" Tuduh Sehun dengan keterkejutan yang tidak bisa ia tutupi. Ia secara otomatis berusaha merapikan rambutnya yang berantakan. Ia merasa sangat jelek saat berhadapan dengan Jongin yang tampak tampan dan maskulin.

" Ini sudah lewat pukul tujuh, Sehun. " Jongin memberitahu. " Kenapa Taeoh menangis? "

" Aku terlambat memasakkan makanan kesukaannya jadi ia merajuk. " Jawab Sehun. Ia berdiri tegak dan menarik napasnya.

Jongin memperhatikan dada Sehun yang naik turun saat pria itu menarik dan menghembuskan napas. Kaus tipis yang digunakan Sehun memperlihatkan putingnya yang menegang di balik kaus tipis itu. Seketika itu juga gairah melanda Jongin.

Tiba tiba Jongin merasa panas pada tubuhnya. Ia berjuang melawan kuatnya respon yang ditimbulkan Sehun pada tubuhnya karena ia berencana untuk tetap tenang pada kunjungan pertama ini. Namun dengan kecepatan yang mematikan, akal sehatnya terasa menguap dan digantikan oleh gairah yang harus dipuaskan saat ini juga. Tangan Jongin seperti memiliki pikiran sendiri, langsung memeluk pinggang Sehun.

" Apa... Apa yang kaulakukan, Jongin? " Tanya Sehun gugup.

" Jangan berbicara satu katapun, Hun. Buka mulutmu untuk hal yang lain, Sayang. " Perintah Jongin.

Jari jari panjang Jongin menjelajah tubuh Sehun seperti memberi tanda kepemilikan dan tubuh Sehun bergetar saat tangan Jongin yang lain menyelinap ke balik punggungnya, membuatnya makin mendekat ke tubuh panas Jongin. Getar kenikmatan mengalir dalam perutnya dan gairah membakarnya.

Sehun menatap mata Jongin, saat pria itu menundukkan wajah lalu menyatukan bibir mereka. Lidah Jongin menjelajahi mulut Sehun dengan penuh gairah, saliva mereka berdua mengalir di sudut sudut bibir Sehun.

" Nyaahhhh... Eeummhh... " Erangan penuh respon keluar dari mulut Sehun. Lututnya terasa lemas dan saat Jongin mendekap tubuhnya erat erat, ia bergelayut pada pria itu.

" Woww... " Sehun berkata penuh dengan kekaguman saat Jongin melepaskan ciuman panas mereka. Napasnya terengah engah saat mendapati gairah Jongin yang sangat maskulin dan berani tertuju untuknya.

Tatapan mata Jongin yang menjanjikan kesenangan sensual menghunjam Sehun. " Aku akan selalu bisa menyenangkanmu, Hun dan aku akan selalu... "

Tangan kecil menarik celana Jongin. Jongin melongok ke bawah dengan mimik terganggu. Tapi saat menyadari seseorang yang telah menganggunya itu adalah Putra kesayangannya yang sudah ia lupakan sepenuhnya tadi. Jongin tersenyum melihat Taeoh berusaha berdiri dan berusaha mendapatkan perhatian kedua orangtuanya.

" Taeoh memang Putra kebanggaanku, ia tidak suka di abaikan sama sepertiku. " Jongin melepaskan pelukannya pada tubuh Sehun lalu mulai menggendong Taeoh. " Taeoh, sayang, pemilihan waktumu sangat buruk untuk menganggu kesenangan Ayah dan Ibumu. "

Sehun merasa limbung dengan jarak di antara mereka. Sesaat kemudian, Sehun memerah malu mengingat respon berlebihan yang ia tunjukkan pada Jongin. Ia lalu berusaha menghindari tatapan Jongin. Jongin hanya menciumnya dan ia merasa melayang. Jongin berpikir ia pasti haus seks atau putus asa atau bisa juga Jongin berpikir kalau ia sangat bergairah.

Karena baru mengungkapkan pernyataan cintanya dua hari yang lalu, Sehun berpendapat cara terbaik bersikap di depan Jongin adalah bersikap secara bersahabat dan santai.

Sehun menggelengkan kepalanya menghapus pikiran pikiran aneh di otaknya. " Waktunya mandi, " Seru Sehun. Ia berjalan melewati lorong dan menaiki tangga, membiarkan Jongin mengikutinya.

.

.

Jongin menunggu dalam diam, ia merasa seperti penganggu sementara Sehun menyalakan air dan mengambilkan piyama untuk Taeoh. " Memandikan anak memang peristiwa biasa tapi kuakui aneh rasanya berada disini bersama kalian berdua. " Ungkap Jongin.

" Coba lakukan ini tujuh hari dalam seminggu, kujamin rasa aneh itu akan hilang. " Ucap Sehun sambil tertawa simpul.

" Seberapa sering aku diperbolehkan datang untuk menemui Taeoh? " Tanya Jongin.

Sehun menaikkan alis mata sambil menatap Jongin. " Setiap malam kalau kau mau. Aku tidak akan melarangmu untuk datang lagi. Aku tahu kau ketinggalan banyak hal mengenai pertumbuhan Taeoh dan aku ingin menebusnya. "

" Kau baik sekali. " Jongin bertanya tanya apakah ini cara Sehun untuk meluluhkan hatinya kembali.

" Aku... Aku dulu tidak dengan sengaja melakukan itu, Jongin. Bukan maksudku untuk melarangmu bertemu Taeoh. Aku hanya merasa sangat sulit untuk melepaskan Taeoh bahkan untuk beberapa jam saja. " Sehun mengakuinya dengan lelah. " Aku tidak tahu betapa tidak adilnya tindakanku itu untukmu sampai kau membuatku memikirkannya minggu ini. "

" Apa ada syarat tertentu yang harus kulakukan agar aku bisa selalu bertemu dengan Taeoh tanpa adanya halangan? "

" Tidak, tidak ada syarat, Jongin. " Sehun meyakinkan, ia sakit hati melihat pandangan curiga Jongin untuknya.

Jongin tersenyum lalu membungkuk untuk membantu Sehun memegangi Taeoh agar tetap diam sementara Sehun berusaha membuka pakaiannya. " Biarkan aku membantumu. " Ucap Jongin.

" Pa.. Pa.. " Tangan Taeoh menjangkau baju Jongin.

" Taeoh akan membuat bajumu basah. " Sehun memperingatkan.

Jongin melepaskan jas lalu mengendurkan dasi. " Tidak masalah. "

Sehun takjub melihat Jongin dengan mudahnya memeriksa panas air sebelum menurunkan Taeoh ke dalam bak dengan penuh kelembutan dan percaya diri. " Aku rasa kau pasti pernah memandikan anak kecil setidaknya sekali. "

" Ya, aku pernah memandikan anak sepupuku. " Jongin mengakui.

Sehun sangat terkejut. " Aku tidak pernah menyangka kau memiliki ketertarikan yang besar dengan anak anak. "

" Aku dulu tidak memiliki ketertarikan sedikitpun pada anak anak tapi setelah Taeoh lahir entah kenapa aku jadi menyukai anak anak. " Jongin mengalihkan pandangannya ke arah Sehun. " Kadang saat aku tidak bisa bertemu dengan Taeoh, aku mengunjungi sepupuku dan bermain bersama keponakanku. "

Tenggorokan Sehun terasa kering, saat ia membuka mulut tiba tiba Taeoh menghempaskan air mengenai wajahnya dan mengalihkan perhatian mereka.

" Apa kau ingin aku pergi? " Tanya Sehun canggung, ia berpikir kehadirannya tidak diperlukan dan bahkan menganggu.

" Untuk apa kau pergi? Saat ini Taeoh lebih bahagia dengan keberadaan kita bersama. Lebih baik kau tetap berada disini. "

" Main... " Taeoh menyurungkan kapal mainannya ke tangan Jongin.

Jongin dan Taeoh bermain main dengan kapal mainan. Mereka membuat kapal itu timbul dan tenggelam. Taeoh sangat senang melihat kedua orangtuanya memandikan dirinya.

Sehun terpesona dengan apa yang sedang ia lihat. Jongin dengan riang bermain tanpa malu malu dan terkena cipratan air sampai basah kuyup tanpa mengeluh. Senyum dan tawa yang membahana semakin menegaskan bukti nyata bahwa Taeoh dan Jongin memiliki hubungan yang erat.

Senyum penuh kebanggaan menghiasi raut wajah tampan Jongin saat Putranya mengulurkan lengan minta diangkat dari air. " Ia luar biasa. Taeoh memang anak yang sangat membanggakan. "

Karisma tegas yang ditimbulkan senyum itu serta pancaran emosi hangat yang tidak ditutup tutupi dalam mata Jongin membuat hati Sehun luluh. " Aku juga berpikiran sama denganmu, Jongin. " ia mendekati bathup, sambil membawa handuk.

Jongin memperhatikan Sehun yang sedang memakaikan handuk di tubuh anak mereka sambil tersenyum. " Kau tahu, Sehun. Kau pasti sudah hamil saat kita berdiri di altar jika aku tahu betapa menyenangkannya menjadi seorang Ayah. "

" Benarkah? " Sehun merona merah. Terlintas dalam pikirannya, seandainya dulu Jongin mengatakan hal itu saat ia hamil, mungkin saat ini mereka tidak akan berpisah.

" Kau juga merawat Taeoh dengan baik. " Jongin mengakui penuh penghargaan.

Sehun tidak siap menerima pujian dari Jongin dan hal itu membuat wajahnya tambah merona. Sambil melirik ke arah Jongin, Sehun merasa ia tidak bisa bernapas dan melayang bahagia.

Tapi lamunan bahagianya terganggu karena terdengar suara bel rumah berbunyi.

" Ehmm, aku akan melihat siapa yang bertamu. " Dengan keengganan yang jelas terlihat, Sehun mundur dan berjalan keluar. " Aku hanya sebentar. "

Sehun tergesa gesa menuruni tangga, pikirannya terpusat sepenuhnya pada Jongin. Sikap dingin dan kebencian Jongin terhadapnya mulai berkurang. Tidakkah hal itu membuktikan bahwa keputusannya untuk pindah ke Seoul tepat? Pengorbanannya terbayar, Jongin tersenyum kepadanya, memuji dirinya. Mereka juga tidak berdebat mengenai apapun lagi. Dengan senyum cerah menghiasi wajah, Sehun membuka pintu depan.

Sehun terkejut saat melihat Yifan melangkah masuk ke beranda. " Yi.. Yifan, ya ampun, aku tidak berharap kau datang saat ini. Dan bagaimana kau bisa tahu aku tinggal disini? "

" Apa kau lupa kalau kau meninggalkan pesan dimana kau tinggal sekarang? Aku berangkat secepat mungkin setelah membaca pesanmu. Apa kau tidak terlalu tergesa gesa, Sehun. Kau harusnya lebih matang lagi memikirkan kepindahanmu. " Ucap Yifan.

Sehun sedikit tidak senang mendengar nada suara Yifan. Seolah olah ia hanyalah anak umur empat tahun yang harus selalu dibimbing. " Dalam situasi seperti ini, aku tidak punya banyak waktu dan pilihan, Yifan. "

" Kuharap kau meneleponku untuk mendiskusikannya terlebih dahulu sebelum menyetujuinya, " Yifan mengeluh singkat. " Niat mu memang bagus, kau ingin memperbaiki hubunganmu dengan Ayah Taeoh dan agar Ayah Taeoh lebih memiliki hubungan yang erat dengan Taeoh. Tapi kau juga harus memikirkan masa depanmu juga jangan hanya masa depan Putramu. Well, kau tidak mungkin bisa sekaligus melakukan keduanya tapi setidaknya, well, bagaimana aku menjelaskannya. " Yifan berusaha menjelaskan sejelas mungkin layaknya antar teman.

" Wajar bila pengakuan pria bodoh di tabloid itu membuka luka lama untukmu, tapi kau tidak bisa berbuat lebih lagi. Kau tidak bisa pindah begitu saja karena ingin mendekatkan Putramu dengan Ayahnya. Kalian sudah bercerai jadi tidak ada yang bisa kau lakukan. " Lanjut Yifan.

Sehun merasa sedikit pusing dengan perkataan Yifan. " Secara teknis kami belum bercerai. "

" Aku tahu kau butuh waktu untuk mengenyahkan Kim Jongin dari pikiranmu. " Yifan merapatkan bibir tipisnya. " Aku tidak bodoh, Sehun. Tapi aku juga tidak merasa cemburu, aku orang yang pragmatis. Sebelum Kim Jongin kembali kedalam kehidupanmu ini lagi, hubungan pertemanan kita sudah memasuki tahap baru. Aku berencana melamarmu begitu kau mengantongi surat cerai di sakumu. Tapi kejadian baru baru ini menghalangi hal itu, lamaranku untukmu jadi tertunda. "

Sehun terpana mendengar pernyataan Yifan, ia tidak menyangka Yifan ingin melamarnya. " Yifan... Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak... "

" Ini bukan saat yang tepat untuk memberikan jawaban, " Sela Yifan tidak sabar. " Hanya saja, penting bagimu untuk tahu bahwa pernyataan yang kukatakan barusan ada pada masa depanmu. Aku menghargaimu dan menyayangimu serta kita bekerja sama dengan sangat baik. Aku memang tidak tahu banyak mengenai anak anak tapi aku akan berusaha sebisa mungkin menjadi Ayah tiri yang baik bagi Putramu. "

Sehun merasa tenggorokannya tercekat. Ia tersentuh dan merasa selama ini buta karena tidak menyadari perasaan Yifan padanya. " Sudah berapa lama kau jatuh cinta padaku? " Tanyanya dengan nada menyesal.

" Oh, tidak. Aku tidak jatuh cinta padamu, Sehun, aku tidak terbawa emosi sejauh itu. " Yifan tertawa terbahak bahak mendengar pertanyaan itu.

Sehun terpaku. " Oh... Kalau begitu mengapa kau ingin menikahiku kalau kau tidak jatuh cinta padaku? "

" Aku merasa kehadiranmu menyenangkan. Kau bukan type yang menuntut dan kau punya otak yang luar biasa dan well, ku akui kau memang sangat manis. " Ungkap Yifan antusias. " Ibuku juga menyukaimu. Tapi kalaupun Ibuku tidak suka padamu, aku akan tetap melamarmu tapi hal itu akan mempersulit kehidupan kita. "

Gumpalan emosi di tenggorokan Sehun terasa menyesakkan. Tentu saja, Yifan tidak mencintainya. Tak ada seorangpun yang mencintainya kecuali Taeoh, Putranya sendiri. Seharusnya ia menyadarinya dan tidak mengatakan pertanyaan bodoh itu pada Yifan.

" Aku senang Ibumu menyukaiku, " Gumam Sehun datar.

" Ibuku dan aku memang memiliki selera bagus yang sama. " Yifan lalu memeriksa jam tangannya. " Aku khawatir tidak bisa tinggal lebih lama. Aku sudah berjanji mengunjungi temanku selagi berada di Seoul. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Kuharap saat aku menghubungimu lagi kau sudah memberikan jawaban terbaik atas lamaranku. "

Saat Yifan menahan pintu lorong agar tetap terbuka untuknya, Sehun bertanya tanya apakah ia perlu berterima kasih karena Yifan telah melamarnya, sebab sepertinya menyakitkan tidak mengatakan apa apa, tapi ia mendengar dirinya malah berkata. " kau tahu... Jongin berada disini sekarang. Ia ada di atas bersama Taeoh. Apa kau ingin bertemu dengannya? "

" Kurasa tidak. " Yifan berkata parau, pandangan matanya menarik perhatian Sehun lambat lambat ke arah seorang pria yang sedang menuruni tangga.

" Dimana Taeoh? " Tanya Sehun pada Jongin dengan gugup, menyadari bahwa Jongin telah melepas dasi dan jasnya. Selain rambut hitamnya yang berantakan, Jongin tetap terlihat berwibawa dan tenang seperti biasanya.

" Tertidur lelap di ranjangmu. " jawab Jongin sambil mengamati Yifan dengan muram. " kau pasti Yifan. "

" Prof. Wu Yifan. " Yifan mengulurkan tangan ke arah Jongin.

" Haruskah kau pergi begitu cepat? " Tanya Jongin. " Apa kau tidak mau mengobrol dan minum teh dulu denganku? "

Yifan melangkah keluar sedikit terburu buru. " Sayangnya aku tidak bisa tinggal untuk mengobrol denganmu. Aku ada janji lain dan sepertinya aku sudah sedikit terlambat dari temu janjiku. "

Yifan melambaikan tangan pada Sehun saat ia melangkah pergi.

" Apa yang ia lakukan disini? " Desak Jongin tajam begitu pintu tertutup.

Sehun terdiam selama beberapa saat. " Yifan datang kesini untuk mengatakan bahwa ia berniat untuk menikahiku. " Sehun mengakui dengan lemah.

" Ha... Lucu sekali, Oh Sehun. " Sahut Jongin tidak terkesan.

Kemarahan entah muncul darimana dan Sehun meraung marah. " Apa kau sulit percaya bahwa ada pria lain yang cukup menghargaiku untuk menjadikanku pasangan hidupnya? "

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Maaf kalau chapter ini sedikit membosankan.

Well, ada review yang bilang dia males nungguin nih FF karena lama.

Eehhmm, kehidupan ku bukan hanya didunia FF aza sayang, tapi aku juga punya kehidupan nyata senyata nyatanya. Real life, dan itu lebih penting. Dan aku udah berusaha buat update cepet buat FF ini karena alhamdulillah selalu melebihi target reviewnya. Lagian aku gak mpe berbulan bulan juga baru post chapter selanjutnya.

Tapi yah, sudahlah, gak maksa juga kok ke kamu. Kalo gak suka, well, gak usah dibaca plus ditungguin daripada kamu capek hati trus liat review kamu juga aku jadi capek hati liatnya. Salam sayang aza buat kamu.

Makasih banyak buat yang selalu setia review, kekeke bolehkan kasih target review lagi. Review lima belas lebih aku bakalan lanjut.

Oh ya boleh promosi FF sendiri kan? Silahkan baca dan review FF baru punyaku judulnya ' Don't Disturb '

Summary : Sehun yang sibuk syuting meminta Jongin agar tidak mengajaknya bercinta bahkan tidak diperbolehkan untuk menghubunginya selama ia syuting. Apa Jongin bisa memenuhi permintaan Sehun? atau Sehun yang malah melanggar permintaannya?

SALAM KAIHUN HARD SHIPPER.

JUJU JONGODULT