私はあなたと、ここにいるよ。

(Watashi Wa Anata To, Koko Ni Iru Yo.)

All of characters are belongs to Masashi Kishimoto and the several unknown characters belong to mine.

But this story is belongs to mine.

.

.

.

.

.

oOo—

Pemuda yang sedari enam jam lalu hanya terbaring menatap langit-langit kamar kembali mendelik ke arah jam yang berada di meja sampingnya. Jarum pendeknya tepat menunjukan sudut siku-siku di angka tiga. Ia alihkan lagi badannya menyamping, memperhatikan lukisan bunga lili yang terpajang di dinding dekat lemari.

Ironis memang dengan pemuda yang terkenal sangat menyukai tidur itu akhirnya mengalami sesuatu yang bernama insomnia. Pikiran Shikamaru masih memikirkan sesuatu secara intens dan detil. Buktinya jika ia mendapat suatu hal atau pernyataan yang menganggu di kepalanya ia akan menghela napas.

Besok—tidak, pagi ini juga akhirnya ia harus kembali ke Konoha karena menurutnya 'misi' di Suna ini sudah selesai. Sebenarnya ia sudah sangat merindukan bau harum khas rumput bukit yang sering ia tiduri ketika memandang awan atau bahkan mendengar ocehan ibunya, mungkin. Tapi—entahlah, di salah satu sudut hatinya terdapat rasa tidak ingin meninggalkan tempat tergersang di Negara Angin ini. Entah juga apa penyebabnya, maka dari tadi ia hanya memikirkan penyebabnya itu.

Shikamaru memilih bangkit dari tidurnya dan duduk di kursi depan meja yang tak jauh dari tempat tidur. Ia ambil secarik kertas dari dalam laci dan pena bertinta hitam di atas meja. Tangannya tergerak menulis sesuatu dengan cepat. Yang sesekali kepalanya menggeleng, menulis suatu kata yang menurutnya salah.

Selesainya menuliskan beberapa paragraf di kertas itu, ia lipat lembaran itu menjadi lebih kecil. Ia hela lagi napasnya dan bangkit dari kursinya.

.

.

.

oOo—

.

.

.

Putri desa Suna itu terbangun dari tidurnya yang nyaman. Tanpa ada mimpi buruk yang berhari-hari lalu menghantuinya sehingga kini ia bangun dengan perasaan yang cenderung lebih tenang. Ia kerjap-kerjapkan iris hijau gelapnya untuk membiaskan cahaya matahari yang tak terlalu menyilaukan baginya, lalu melepas selimut putihnya untuk mengambil posisi duduk.

Kaki jenjangnya memijak lantai kayu yang terasa dingin kemudian menggerakannya menuju ruang tengah sekedar menyapa orang-orang yang berada di sana. Hatinya terasa sejuk pagi ini dilihat dari langkahnya yang santai setelah sampai di ruang tengah. Iris gadis itu berkeliling memperhatikan adik-adiknya yang menoleh ke arahnya dan mengucapkan salam selamat pagi.

"Mana Shikamaru? Dia belum bangun?" tanyanya santai mendudukkan dirinya di samping Kankurou.

"Nee-san, kau belum tahu?" Kankurou menoleh, mengerutkan kedua alisnya, "Dia kan—."

"Onii-san," sela Gaara menginterupsi, menatap dingin Kankurou seakan mengucapkan sesuatu, sehingga Kankurou menatap balik Gaara kemudian ganti menatap lagi kakak perempuannya.

"Tidak jadi, deh," Kankurou mengangkat bahunya, melipat kedua lengan di depan dadanya, menatap lurus. Pernyataan Kankurou barusan mengundang rasa ingin tahu Temari membumbung tinggi.

"Jelaskan," Temari berucap dingin menatap tajam kedua adiknya bergantian, "Jelaskan kapan Shikamaru pergi dan kenapa aku sampai tidak tahu."

Gaara dan Kankurou saling melirik kemudian bangkit bersamaan dari duduknya, meninggalkannya untuk menuju meja makan, "Aku menyuruh kalian menjelaskan, bukan malah pergi!" kini nada bicara Temari menaik.

Gaara mendelik melalui ekor matanya tanpa berbalik, "Sebaiknya nee-san cari tahu sendiri."

Kini ia benar-benar berada di ruang tengah sendiri selepas punggung Gaara yang menghilang di balik tembok ruang tengah. Pandangan kosongnya kini terganti dengan irisnya yang melebar diikuti dirinya yang bangkit dari duduknya, berjalan sedikit cepat menyelusuri lorong menuju kamar yang pernah ditempati Shikamaru. Ia buka cepat pintu itu dan mendapati tak ada seorangpun di kamar itu.

Temari berjongkok lemas di ambang pintu diselingi helaan napas kecewa. Secepat inikah ia meninggalkan Suna? Tanpa memberi salam perpisahan seperti biasanya, dan ia bahkan belum sempat mengomel ke Shikamaru tentang status barunya sebagai jounnin elite.

Berbeda dengan sebelum-sebelumnya yang ia akan berbincang-bincang ringan dengannya selama perjalanan menuju gerbang Suna, mengomentari pemuda itu tentang segala misi-misi yang dia selesaikan, dan berakhir di ujung gerbang dengan Temari yang tersenyum lebar, mengingatkannya kalau ia harus lebih giat dalam menjalankan misinya. Dengan tujuan dapat menjadi pemuda Konoha yang disegani.

Tapi saat ini malah perasaan tak nyaman mendera dada kirinya hingga ia harus memegangi bagian yang tidak enak itu diikuti napasnya yang naik-turun.

"Dasar bodoh!" umpatnya entah kepada siapa diruangan itu. "Bodoh!"

Umaru berjalan dengan membawa baki di kedua tangannya kebetulan melewati kamar tamu. Pelayan pribadi Temari itu terhenti dan berbelok ke arah tuannya yang tengah terduduk lemas di ambang pintu, menghampirinya, "Temari-sama, anda baik-baik saja?" pekik Umaru cemas.

"Umaru-san ... " ia meraih tangan Umaru dan menatap pelayannya dengan mata yang berkaca-kaca, "Dia bahkan tidak mengucapkan apa-apa padaku."

Umaru membantu tuannya untuk berdiri lalu mengajaknya duduk di tepian tempat tidur berukuran single, "Shikamaru-san tidak meninggalkan apapun? Maksud saya sebuah surat atau bingkisan?"

Temari menggeleng menunduk lalu terdiam sesaat. 'Orang macam Shikamaru mana mungkin memberikan hadiah,' batinnya mengingat 'kencannya' semalam. Tidak lama ia merasa mengingat sesuatu hingga kepalanya mendongak menatap Umaru seolah mengatakan 'sepertinya-aku-tahu'.

Gadis Suna itu mengacak-acak laci meja samping tempat tidurnya dengan tergesa namun tidak menemukan apapun. Ia beralih lagi untuk membalikan semua bantal yang tadinya tertata rapi, berharap menemukan sesuatu di balik bantal namun hasilnya tetap sama. Ia hampir menyerah dan terduduk di lantai bersandar kaki tempat tidur. Setelah melihat sesuatu terikat di tangan kanan boneka panda yang terpajang di sudut kamar tangannya meraih secarik kertas yang diikat melingkar di lengan kanan boneka dengan tali simpul itu dan membaca isinya dalam hati.

Iris hijaunya terlihat bolak-balik mengikuti arah bacanya dan mulutnya sesekali membuka lalu menampilkan senyuman. Tepat pada baris terakhir surat itu ia tampilkan senyumannya dan melepaskan wajahnya yang tadi terpaku pada surat.

"Bodoh, tidak romantis." Dengusnya di sela-sela senyumanya.

.

.

.

oOo—

.

.

.

"Kau yakin, nee-san?" tanya Kankurou khawatir menatap kakak perempuannya yang tengah membereskan barang-barang yang perlu ia bawa untuk ke Konoha, "Kalau kau mau, aku akan meminta Gaara mencabut misimu dan menyerahkannya pada yang lain."

Temari yang dari tadi membelakangi Kankurou berbalik, "Aku tahu. Tidak selamanya aku selalu ketakutan kalau harus pergi ke Konoha sendirian. Ini sudah tiga bulan berlalu!" Temari kembali melanjutkan aktivitasnya, mengepak beberapa pakaian.

Kankurou mendengus dan duduk di pinggiran tempat tidur, "Haah, bocah itu benar-benar sudah mempengaruhi otakmu, ya?"

Lagi-lagi Temari mendelik tajam, menyipitkan matanya, "Apa maksudmu dengan 'bocah itu' dan 'mempengaruhi otaku'?"

"Yaa ... maksudku mungkin bocah itu memberimu rayuan mautnya hingga kau mau dan rela menemuinya di Konoha," Kankurou mengendikkan bahunya santai lalu menyipitkan matanya, "Hei nee-san, kau sudah terkena rayuan—."

"Dia bukan tipe orang yang seperti itu!" gertaknya dengan nada tinggi. Berdiri tepat di depan Kankurou dengan berkacak pinggang, seolah Kankurou sedang dimarahi oleh ibunya, "Aku pergi ke sana untuk menghadiri rapat dan sudah kubilang jangan panggil dia dengan sebutan 'bocah' dia sudah dewasa!"

Secara tak langsung Kankurou terlihat seperti meringsut ciut ke bawah, dilihat dari wajahnya yang bertekuk menunduk memelas, dan mengerjap cepat matanya, "Nah, nee-san bahkan lebih membela laki-laki itu—."

Sebuah bantal dengan tepat melayang menuju kepala Kankurou, selanjutnya ringisan dari Kankurou terdengar. Temari hendak melempar bantal keduanya namun keburu Kankurou yang berlari keluar kamar sambil memegangi kepalanya.

Gadis Suna itu kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Memasukkan beberapa pakaian dan makanan instan ke dalam ranselnya. Pikiran gadis itu melayang lagi akan isi surat yang di tulis Shikamaru.

...

oOo—

...

"Shikamaru," panggil ibunya yang berjalan dari dapur dan beralih menuju ruang makan, duduk di depan putra semata wayangnya, "Kau ingat 'kan, besok hari apa?"

Shikamaru mengalihkan pandangannya dari nasi yang ada di mangkuknya tinggal setengah lalu menatap arah lain, "Aku ingat, kaa-san."

Ibunya yang kini tampak sering menampilkan raut sendu menghela napasnya, tetap memandang putra satu-satunya, "Sudah cepat sekali ya, ini sudah memasuki tahun kedua sepeninggal ayahmu."

Pemuda pewaris klan Nara satu-satunya itu kembali memandang nasinya yang sudah mendingin. Menampilkan raut sendunya yang jarang sekali ia tampilkan pada orang-orang—kecuali ibunya dan Temari. Pikirannya kembali memutar saat-saat dirinya terakhir kali berkomunikasi dengan ayahnya. Dan harus memaksanya melewati masa-masa suram sepeninggal ayahnya berbulan-bulan setelah perang dunia keempat itu berakhir bersama gadis Suna itu. Semenjak itulah Temari lebih sering berkunjung ke Konoha dengan alasan 'urusan pribadi Konoha'.

"Kau tahu 'kan, apa yang harus dilakukan seorang pewaris klan tunggal?" Ibunya mengambil napas panjang dan menyesap teh hijaunya, "Kau mesti—."

Pemuda itu bangkit, meninggalkan sarapan paginya yang tinggal setengahnya, menggantungkan kata-kata ibunya, hingga ibunya menoleh, "Mau kemana?"

Shikamaru tak menjawabnya dan malah berhambur menuju pintu keluar dari rumahnya.

Ia sangat tahu kelanjutan dari kalimat ibunya, sangat tahu. Ibunya bahkan sudah berkali-kali mengatakannya—mengingatkannya untuk segera mencari pewaris klannya.

Iya, pewaris klannya kelak.

Shikamaru menghembuskan napasnya lagi, menghentikkan langkahnya dan menatap awan putih yang tampak tipis-tipis di atasnya. Jangan salahkan siapa-siapa jika harus secepatnya mencari penerus klannya.

Diambilnya sebuah kotak dari dalam sakunya lalu mengambil batang tembakau yang setia menemaninya jikalau pikirannya sedang runyam. Shikamaru ambil lagi pemantik dari kantung jaket jounninnya, menyalakan rokok itu dan menghisapnya hingga terlihat asapnya membumbung tinggi.

.

.

.

oOo—

.

.

.

Gadis bersurai pirang itu menyipitkan matanya untuk melihat sebuah gerbang yang sudah muncul di hadapannya. Gerbang utama Konoha yang sudah muncul di pelupuk matanya bertanda sebentar lagi ia akan tiba. Gadis itu merapatkan kedua bibirnya dan melanjutkan langkahnya.

Selama tiga hari perjalanan Suna-Konoha tidak henti-hentinya ia membaca surat dari Shikamaru di pikirannya. Senyum juga terkadang masih ia tampilkan jika mengingat surat itu.

*coret* Untuk Temari.

Seperti yang kau tahu aku memang tidak pandai dalam hal berbicara secara langsung *coret* maka dari itu aku menulis surat ini untukmu.

Maaf kalau aku harus pergi sepagi ini—mungkin kau membacanya saat hari sudah menjelang siang— aku benar-benar harus meninggalkan Suna, dilihat dari kondisimu yang kembali normal dan tugas-tugas akademiku yang sepertinya sudah memanggil-manggilku.

Untuk yang tadi malam, ya, aku memang hendak mengajakmu *coret* makan malam—atau yang kau kira semalam. Adik-adikmu pasti sudah mengerti itu dan janganlah terlalu sering mengomel pada adik-adikmu.

Maaf juga aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal dan itu cukup menguntungkanku agar tak terkena omelanmu tentang status jounninku dan misi-misiku.

Kurasa tiga bulan lagi di Konoha akan menggelar rapat hubungan antar Negara luar dan kuyakin kau pasti akan datang. Kau harus datang, ingat itu!

Yah, baiklah suratku ini memang terlalu panjang, eh? Kuyakin kau akan bosan membacanya, aku tahu itu.

Catatan: jika kau tiba, kutunggu di kedai dango biasa. Aku akan mengajakmu—*coret* makan siang.

Benar-benar cara yang kurang romantis jika mengajak seorang gadis berkencan.

.

.

oOo—

.

.

"Oh, nona Temari, anda sudah tiba?" sapa Kotetsu ramah, lalu bangkit dari duduknya. Temari segera menyerahkan dokumen untuk masuk desa yang langsung diurus oleh Kotetsu, "Kukira rapat itu berlangsung empat hari lagi."

"Ya, memang benar, Kotetsu-san. Aku ada sedikit err—urusan pribadi dengan seseorang disini."

"Sepertinya aku tahu," seru Izumo yang baru muncul dengan semangat, "Si laki-laki Nara itu kan?"

Kedua alis Temari terangkat menatap Izumo yang juga menatapnya dengan menyanggah dagunya, "T—tidak juga, sih."

"Haah, padahal hubungan anda dan Shikamaru 'kan, sudah tersebar luas di pelosok desa," sindir Kotetsu memberi Temari sebuah dokumen. Nadanya seolah-olah Kotetsu adalah seorang pembawa berita membuat Temari mengernyit aneh. Sebuah perempatan seperti muncul di dahi Temari kini.

Ia tertawa kecil dipaksakan, "Ah, kurasa kami hanya dekat saat ada urusan antar desa saja 'kok." Temari beranjak pergi dari pos itu dan mengucapkan salam pada dua penjaga gerbang utama desa itu. Dirasanya sudah cukup jauh dari pos itu, ia kembali mengehala napasnya, dan mengerucutkan bibirnya. Ternyata gosip yang sangat tidaklah benar itu bukan di Suna saja yang tengah hangat-hangatnya, tapi di Konoha juga tengah mengalaminya.

oOo—

"Heh, gadis merepotkan," sapa seseorang dari arah belakangnya hingga ia menoleh cepat. Dan dialah pemuda yang sudah membuatnya menunggu di kedai ini selama setengah jam, "Sudah lama?" Shikamaru mengendikan alisnya.

Mata gadis itu mengikuti arah Shikamaru yang mengambil duduk di depannya dengan pandangan datar, "Ya, tidak lama. Hanya setengah jam—atau lebih?" ia seruput sedikit ocha hangatnya.

Pemuda itu menguap dan segera meminum ocha yang ada di depannya, ocha milik gadis itu yang baru seteguk ia minum. Pemuda itu kemudian memanggil seorang pelayan dan memesan dango untuk dua porsi, "Kukira kau akan tiba besok."

"Memang."

Dialog anatara keduanya kembali terhenti setelah seorang pelayan datang membawa pesanan mereka berdua. Keduanya tetap memakan dango masing-masing dengan keheningan yang mengikat mereka berdua tiga puluh menit lebih kedepan.

Selesainya mereka makan siang di kedai, keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari penginapan. Shikamaru tentunya beralasan harus melaksanakan tugas pribadinya selama ia berada di Konoha; menjadi tour guide pribadi gadis Suna itu. Keduanya berjalan menyusuri jalanan Konoha yang tampak ramai siang ini. Hawa sejuk karena angin yang terus menerus berhembus mengiringi keheningan mereka berdua.

Semenjak perang dunia keempat itu, beberapa tempat di Konoha memang mengalami perubahan besar-besaran yang signifikan. Kentara sekali dengan banyak bangunan yang hanya terdiri dari kayu cokelat tak bercat yang masih terlihat alami. Dan juga terlihat beberapa bangunan yang belum sempat direnovasi, hanya terdiri dari puing-puing.

"Ah! Kakaknya Gaara!" seru seorang pemuda dari arah belakang, membuat keduanya menoleh dan berbalik badan. Si pemuda berambut pirang cerah terlihat berlari menuju ke arahnya diikuti seorang pemuda berambut hitam membuntutinya. "Ah, benar. Kau ini kakaknya Gaara. Bagaimana kabar Gaara? Apa masih sibuk?"

Gadis itu mengerjapkan matanya cepat mendengar kalimat beruntun pemuda keturunan Uzumaki itu, "Dia baik-baik saja. Oh, Gaara menitipkan salam untukmu."

"Benarkah? Salam balik kalau begitu!" ujarnya semangat dengan cengirannya, menaruh kedua lengannya di belakang kepalanya. Sedetik kemudian cengiran itu menghilang digantikan dengan tatapan menyelidiknya dan jari telunjuk yang bergantian mengarah ke Shikamaru dan Temari, "Nah-nah, kalian tertangkap basah sedang berkencan!"

Keduanya kompak menghela napas dengan menutup kedua matanya sesaat, "Terserah apa katamu saja," ujar Shikamaru yang berkacak pinggang.

Sai yang sedari tadi terdiam mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul biru laut dari sakunya dan terlihat membolak-balikkan halamannya, "Menurut buku yang diberikan dari Kakashi-sensei, jika ada pria dan wanita yang mengatakan 'terserah saja' atau hanya diam saat di tanya kencan dan kedua pipi mereka yang memerah, itu berarti mereka memang sedang menjalin hubungan yang serius."

Naruto berkacak pinggang dan mendecak mengejek menanggapi kalimat dari buku konyol Sai, "Sudah kubilang singkirkan buku-buku idiot dari Kakashi-sensei itu!"

Sai terlihat mendongak, menampilkan wajah bingung polosnya, "Naruto, kau ingat kan dengan janji Sakura untuk bertemu di gedung Hokage untuk datang secepatnya—."

Mata biru cerah Naruto melebar diikuti tangannya yang menangkup pipinya, "HUAA! Kenapa kau tidak bilang dari tadi, Sai! Ayo, aku tidak mau terkena jitakkan Sakura untuk yang keseratus kalinya. Aku pergi dulu—ttebayo!"

"Sampai jumpa Shikamaru dan kakaknya Gaara," Sai tersenyum hambar ,ikut berlari mengikuti Naruto.

Temari tetap menatap kepergian Sai dengan heran, juga Shikamaru, "Kupikir ia tahu namaku."

Shikamaru mengendikkan bahunya kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Keheningan kembali mengekang keduanya cukup lama. Temari memilih angkat bicara.

"Kita mau kemana?" tanyanya tetap memperhatikan jalanan.

"Ke tempat ayahku," balasnya yang juga tetap tidak menoleh. Temari memilih diam setelah mendengar jawabannya. Ia sangat tahu tempat yang akan ia tuju kini, "Bukankah kita harus membawa sesuatu?"

"Tidak usah, itu akan merepotkan," ia mengambil jeda, "Ayahku pasti sudah senang kalau aku sudah membawamu."

"Maksudmu?"

Shikamaru terlihat mengelus tengkuknya, "Yaa, kurasa ayah akan merasa senang jika aku membawa seorang err—penerus klannya," ucapnya yang kini mendadak seperti merasakan ribuan kupu-kupu terbang di perutnya.

Kaki Temari terhenti diikuti langkah Shikamaru yang juga terhenti di depannya beberapa meter. Mereka terhenti tepat di depan sebuah hutan kecil tengah desa, yang hanya beberapa meter lagi mereka akan sampai di tempat pemakaman shinobi. Langkah Temari terhenti namun tidak dengan pikirannya yang masih memikirkan kalimat Shikamaru barusan. Ia terdiam, berpikir sekaligus merasakan angin sejuk yang berhembus ke arahnya membawa beberapa helai dedaunan bau khas rumput. Pandangannya tetap terfokus pada punggung Shikamaru yang masih membelakanginya.

"Apa ini artinya kau—."

"Ya, aku memang memilihmu menjadi penerus klanku, pendampingku," ucapnya tanpa menoleh. Kali ini nadanya terdengar serius dilihat dari kepala Shikamaru yang menegak, membuat Temari tak sadar berjalan perlahan menuju Shikamaru dan menggenggam tangannya yang menganggur. Membawa genggaman itu lebih erat disertai pandangan Temari yang sepenuhnya lurus menatapnya. Angin kembali berhembus seenaknya di antara mereka.

Cukup lama Temari hanya menatapnya, seperti mencari sesuatu di irisnya yang kecokelatan. Namun di detik berikutnya ia tersenyum lembut dan mendekatkan dirinya untuk memeluk pria itu seraya meresapi wangi maskulin khas pria. Angin yang kian berhembus membuat efek ketenangan dalan rengkuhannya. Shikamaru yang sejenak tertegun bereaksi perlahan menggerakkan tangannya untuk menggapai punggung gadis itu, merengkuhnya dengan menaruh dagunya di atas pundak Temari.

"Jadi ... bagaimana? Kau mau menolongku melanjutkan klanku?" ucapnya melepaskan pelukan gadis itu tapi tetap tangannya merengkuh pinggang ramping Temari, "Menjadi pendamping seumur hidupku, menjadi wanita yang selalu memarahiku, menjadi wanita pertama yang akan membangunkanku setiap hari, dan menjadi ibu bagi raja-rajaku kelak?"

Lidahnya kini terasa kelu setelah mendengar pernyataan—atau pertanyaan dari bibir Shikamaru. Seulas senyum dibarengi tetesan air mata terjatuh menelusuri lekuk wajahnya. Gadis Suna itu kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Shikamaru, mempertemukan bibirnya dengan bibir pemuda itu, memberikan ciuman yang lembut melebihi lembutnya angin yang masih menyapunya.

"Baka. Kau belajar dari mana dengan kata-kata itu, huh? Terdengar ganjil." Sindir Temari seraya memukul pelan lengan Shikamaru. Shikamaru hanya tersenyum kecil dan kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Kini gantian Shikamaru yang mendekatkan wajahnya pada Temari.

Hal pertama yang dilakukan insting Temari adalah menutup kedua matanya, dan menaruh tangannya di bahu Shikamaru. Sementara Shikamaru tetap menaruh tangannya di pinggang rampingnya. Keduanya tetap mempertahankan posisi itu dengan memejamkan mata selama beberapa detik hingga Temari melepaskan bibirnya perlahan seraya membuka mata. Senyuman itu tetap terpajang diwajahnya diikuti senyum simpul yang kini perlahan muncul di wajah tampan pemuda itu.

"Jadi mengunjungi ayahmu?" tanya Temari di sela-sela senyum bahagianya.

Shikamaru mengendikkan bahunya, "Tentu, aku harus mengenalkanmu."

Pasangan yang baru saja merasakan yang namanya—orang-orang sering menyebutnya di mabuk asmara itu berjalan beriringan, dengan Shikamaru yang menggamit erat telapak tangan kiri gadis itu, seakan-akan bisa terlepas dari genggamannya kapan saja. Sementara gadis itu menaruh kepalanya diantara bahu pemuda di sampingnya.

Mereka terhenti pada sebuah pusara tepat di tengah taman pemakaman itu dengan batu nisan yang masih putih mengkilap menampilkan nama siapa yang berada di bawahnya. Keduanya mengambil posisi berjongkok di depan nisan itu dan menggamit kedua telapak tangannya, mengirimkan doa sembari memejamkan kedua mata mereka di dalam keheningan.

Temari terlebih dahulu membuka matanya dan mendelik ke Shikamaru yang masih memejamkan matanya. Cukup lama ia memandang wajah tenang pemuda itu, seolah ia akan tenggelam ke dalam raut ketenangan pemuda itu. Hingga sebuah tetesan air mata muncul perlahan di pelupuk. Tersentak, Temari dengan reflek perlahan memeluk kepala pemuda itu lembut hingga menempel pada dadanya, Shikamaru bahkan dapat merasakan degup jantung gadis itu yang makin cepat.

"Beliau pasti akan sangat bangga memiliki seorang putra yang dewasa sepertimu," gumamnya seraya melepaskan pelukannya. Gadis itu berdiri lagi meninggalkan Shikamaru dan kembali berjongkok di depan sebuah pusara tepat di samping pusara ayah Shikamaru. Ia lakukan lagi kagiatan berdoanya yang cukup lama lalu bangkit berdiri lagi, berjalan menuju nisan bertuliskan 'Hyuuga Neji' yang tak jauh dari pusara ayah Ino yang baru dikunjunginya untuk berdoa, lalu bangkit lagi di depan nisan itu.

"Aku bangga pada mereka," ucapnya seraya menggenggam tangan Shikamaru yang menghampirinya, "Rela gugur demi melindungi orang-orang yang ada di sekitarnya—bahkan melindungi orang-orang yang mereka tidak kenal."

Shikamaru tetap terdiam memandang nisan pualam yang ada di depannya, kemudian beralih menatap Temari yang masih memandang nisan itu. Sedetik kemudian pandangan mereka bertemu, seperti menyampaikan pesan terselubung diantara mereka. Kini giliran Shikamaru yang mengambil tubuh Temari dalam rengkuhannya, membiarkan gadisnya meresapi aromanya di dadanya.

"Shikamaru..." seorang pria paruh baya yang tubuhnya seakan-akan transparan memanggil nama pemuda itu. Shikamaru tersentak kaget melihat bayangan ayahnya yang berdiri tidak jauh di depannya menatapnya dengan senyuman. Pria paruh baya itu terlihat mengangguk disela senyumannya kemudian menghilang terbawa cahaya siang yang menyilaukan.

Ia taruh lagi kepalanya menyentuh rambut pirang Temari yang terbawa angin. Menyisakan beberapa anak rambut yang menempel wajahnya.

Kini, hatinya yang terdahulu merasa kosong karena kehilangan sosok ayah, tapi mulai hari ini tempat kosong di samping ayahnya telah diduduki oleh gadis yang ia anggap 'wanita paling merepotkan'. Hanya menyisakan sedikit tempat bekas ayahnya yang tak terlalu meninggalkan lubang besar dihatinya.

To Be Continued—

.

.

.

Chapter depan omake *.*)/

.

.

.

.

.

Hontou-hontouni Gomenasai karna baru apdet T_T . Author bener2 sibuk—sampe lupa password akun—. Hontouni Gomenasai, minna-san... /deepbow