Which One
.
Chapter 6
By: Oh AiLu © 2014
Main Cast: Oh Sehun & Luhan.
Genre: Romance.
-Genderswitch-
.
- AiLu -
.
Summary:
Sehun merasa semua yang tidak dimiliki kekasihnya ada pada diri Luhan. Jongin sangat menyukai Luhan dan sangat ingin menjadikan Luhan kekasihnya. Baekhyun selalu iri atas kemampuan Luhan dan mencoba menjadi diri seorang Luhan. Kyungsoo yang iri kepada Luhan karna seorang Jongin. Bagaimana dengan Luhan?
.
- AiLu -
.
Preview
.
Jongin mengacak rambutnya gusar, "Aku memang mencintai Luhan."
"Tapi, aku lebih mencintai secret admirer-ku."
.
- AiLu -
.
Balasan Review!
.
lalat-pucing: Haduh, pen namemu nak! Unyuh bingit. Jadi ini Cahayaanjanie ya? Akun baru ya? Baiklah. Btw, makasih buat semangatnya. Kamu juga semangat ya untuk review lagi.. Semangat!
BeibiEXOl: Makasiiih.. Ini memang reality sebenernya #curcol. Kaisoo beraksi? Kayak power ranger aja. Haduh, Yeol emang cuman nyempil dikit-dikit aja. Nanti deh saya usahain. Makasih ripiunya! Keep review loo
Oh Lu-Yan: Kalo mereka jadian, end dong ceritanya #upskeceplosan. Emang sih Jong nembak Lu cuma untuk manas-manasin Sehun. Tapikan yang tau cuma Luhan dan Jongin sendiri.
Guest 1: Jadian.. ya pada waktunya #ditabok. Mutusin Baek? Nanti deh chap 8, mungkin. Saya aja lupa fanfic saya sendiri.
bambielulu: Haduh, chingu, saya juga baru sadar. Luhan gak ada yang sukain lagi ya? Huhuhu, jadi sedih sendiri deh. Tapi tenang, chap ini ada cast baru! Bang Naga is comiiing. Tapi gak tau deh jadi siapa dia disini #smirk
NN: Haha, ngakak baca pen name kamu. Soalnya itu panggilan mama aku dari ayah aku. Emang, php semua. Mungkin Luhan terlalu cinta sama Sehun kali, Makanya mau aja di bawa-bawa. Trus si Jongin gak bilang kalo dia cuma pura2 sama Luhan, karna yaaa, Kyungsoo aja gak mau dengerin dia ngomong. Jdi mau gimana dong? Keep review yoo..
fivahlulu: Remaja labil? Huahaha. HunHan pasti bersama dan Baekki juga udah ada yang nungguin noh #nunjukchanyeol. Kip ripiu yaaa
niesha sha: Sehun cemburu kayaknya gak sekarang deh. Nanti, kayaknya. Haduh saya lupa. Pokoknya ada lah cemburunya. Atauuuu gak ada ya? #mikir. Kip ripiula pokoknya, masalah cemburu nanti bisa diatur. Keep review..
chenma: Iyanih chingu. Pas kubaca ulang, aku rasa emang kecepetan. Nanti deh aku perbaiki untuk seterusnya. Jongin gak tega mungkin, karna dia tau Luhan masih butuh dia. ChanBaek? Saya usahakaaaaaan, dan permulaan, di chap ini adaaa. Khusus untuk kamu #ciumtembok. Jadi kip ripiu yooo..
hunhan: Di akhir, Sehun ya sama Luhan. Gak mungkin saya tega misahin mereka. Soalnyaaaa... kan saya buat pairnya HunHan, kalo KaiLu, mungkin aja saya pisahin dengan tragis. HAHAHA #ketawasetan. Keep review...
rikha-chan: HunHan? Pada waktunya. Yaelah, si waktu kembali dibawa-bawa. Kasian yaa #ngawur. Ya, Baekhyun emang tau semua kok. Tapi dia memilih diam. Mungkin dia mau cepet kaya. Diam itu emas meeeen. Kip ripiu.
ichacha1294: Yoi brow. Bukan cuma nama, kisah kita juga ya? kekeke. Pada waktunya dia pasti keluar. Tenang aja, mungkin setelah chap akhir dia keluar. #dibakar
N. : Iya. Sehun belum bisa milih jalan nih. Dan tentang Yeol, Selamat, chap ini dia keluar lagi. Tapi cuma seiprit #bisikbisik. Kip ripiu!
parkminoz: Eh? Luhan sakit hati sama Sehun? Udah sebenernya, tapi, ya gitulah. Luhan emang dasarnya degil, tetep mau2 aja di ajak2 Sehun. Btw, kip ripiu..
yixingcom: Emang demi Luhan keknya #sambilmikir. Ya Tuhan.. ini ff gue apa gak sih, kenapa banyak yang kelupaan ya? Atau karna yang review... #ngelirik'yixing'com. Oke, Keep review yaaa
lisnana1: Udah di lanjuuutttt :D
ruixi1: Kaisoo emang udah mau bersatu, tapi HunHan... hah, miris gue. Maap ya, mereka tak akan bersatu. Di chap ini maksudnya :D. Keep review yaa
MeriskaLu: Haha, buru-buru amat neng. Pertama-tama Kaisoo dulu gimana, terus ChanBaek, yang terakhir HunHan Hahahaha #tertawaiblis. Kip ripiu loo
himekaruLI: Haduh makasih banget udah review yaa. Karna kamu, aku jadi inget, aku belum pernah bilang makasih sama yang Fav & Foll. Aku minta maaf #bow. Iyanih, saya juga baru nyadar kalo sekarang Luhan gak ada yang sayang-sayang lagi. Makanya chap ini saya keluarkan seseorang. Iya, Luhan sakit. Baek juga sakit. Sehun gak tau Luhan sakit, soalnya dia jugakan gak sekolah demi Baek. Dan makasih untuk doanyaaaaa. Amiin. Dan sekali lagi, makasih udah review. Keep review yaa
HUNsayHAN: Aku rasa sih, Luhan emang selingkuhan deh. Menurut kamu? #eh. Gak kok, Luhan disini gak selingkuhan, cuma jadi simpanan aja #plak. Kip ripiuuuu
Guest 2: Iyanih, Luhan sakit. Sehun gak jenguk, karna ya, dia gak tau kalo Luhan sakit. Karna Baek juga sakit, jadi Sehun ga pergi sekolah, makanya gak tau kabar Luhan. Sudah di lanjut nih. Reviewnya mana? -_-
Hany Kwan: Kamu suka Kaisoo? Kalo gitu aku usahain dibanyakin. Usahain loh yaa #plak. Ini sudah di lanjoot.
Oh Juna93: Haduh gue juga galau sebenernya. Bukan gegara HunHan sih sebenernya, cuma gue cuma mikir aja, kapan ya ff ini selese, soalnya di chap yang terkahir aku ketik, HunHan belum juga bersatu loh. Haduh. Sori ya. Kyungsoo gak tega mungkin kalo pacaran sama Jongin, secara diakan gak tau kalo Jong-Lu cuma pura-pura. Kip ripiuuu
luhannieka: Ahh, gak cocok, masa nanti gue bilang "GILE LU EKA" kan gak enak. And btw juga, ngebangke itu apa yak? Apa itu makan bangke? Ato jadi bangke? Daaaaan, CEYE ini siapa?! #narikrambutsamperontok. Haduh kudet gua mah. Tetep review ya, gue mau beli sampo dulu, kebanyakan tadi rontoknyaa
ZiyuHaowen: Haduh gimana ya? Menurut pengalaman aku nii, ya akhirnya aku juga yang ngalah. Dan waktu itu aku deketnya sama 'Sehun' pas mereka lagi putus kok. Tapi emang dasar 'Baek'nya aja yang cengeng, pas tau, dia langsung nangis kejer gitu di kelas, mengundang belas kasihan orang. Kan aku jadinya yang jelek keliatannya. Yaudah, aku ngalah dan setelah cukup lama, mereka kembali balikan lagi. Haha, miris banget ya gue. Tiap hari liat mereka berduaan di bangku sudut. Sabar yaaaaaaa(eh?). Aku doain deh, kamu engga kayak gitu. Gimana ya, coba aja tanya sama 'Sehun', dia itu maksudnya apa sama kamu? Trus bilang semua kegundahan hati kamu, bilang kamu yang keliatan jelek di mata anak-anak sama dia. Gak papa kok, aku aja sampe maki-maki dia loh. So, kalo menurut kamu dan temen yang kamu mintai saran hubungan kalian ini gak baik, udah tinggalin aja. Itu aja sih.
luhan kerr: Iya nih. Memang awalnya udah nyoba di panjangin, tapi jadi bertele-tele kesannya. Gimana dong? Ga tau mau gimanain lagi. Terkesan kepaksa, mungkin Sehunnya tuh yang udah kebelet buat cepet-cepet disatuin sama Luhan XD Makasih sarannya brow, keep review yaaaa
.
- AiLu -
.
"Hun, aku ingin es krim."
"Hun, mana boneka pororonya?"
"Hun, apa kau sudah tidur?"
Sehun masih berusaha mempertahankan posisinya saat ini. Berbaring membelakangi Baekhyun yang masih setia merengek di belakangnya. Sungguh, mengurus gadis itu selama 1 minggu ini membuatnya cukup lelah. Tidak hanya lelah badan, dia juga lelah otak. Memikirkan permintaan gadis itu, dan harus mengabulkannya. Jika tidak, terjadilah pertumpahan air mata.
"Benar, kau sudah tidur?" tanya Baekhyun lagi sambil mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Sehun. Namun Sehun mencoba tetap diam. Dia mencoba beristirahat sekarang.
Baekhyun berhenti sejenak. Dia masih menimbang-nimbang apa Sehun memang sudah tertidur. Tapi melihat Sehun yang tak berkutik lagi sedari tadi. Dia-sedikit-yakin jika Sehun sudah tertidur.
Baekhyun mulai mencoba menggapai ponselnya yang berada di nakas sebelah Sehun. Yang tentu saja Sehun mengetahui itu. Dia hanya diam saja. Apa yang akan dilakukan gadis itu dengan ponselnya? Pasti dia ingin main games.
Tapi itu salah besar. Baekhyun malah sedang menekan beberapa nomor dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.
Tuuut Tuuut Tuuut
Panggilan belum tersambung, tapi Baekhyun masih berharap panggilan itu akan segera tersambung.
Sehun mulai tidak tenang ketika tak merasakan pergerakan apapun dari gadis di sampingnya. Dia sedikit menggeliat dan mencoba mendekat kearah Baekhyun. Dia tidak tahu jika Baekhyun sedang mencoba memanggil seseorang.
'Nomor yang anda tuju, berada di luar jangkauan.'
Baekhyun mendesah pelan dan mencoba menahan air matanya.
'Untuk meninggalkan pesan, tekan tombol 5.'
Pip
"Appa."
Sehun sedikit tersentak mendengar suara bergetar itu. Dia ingin berbalik, tapi dia tahu, Baekhyun tak akan melanjutkannya jika dia bangun sekarang.
"Ini aku." suara Baekhyun terdengar semakin bergetar. "Hiks, bogoshipo."
Jantung Sehun berdetak dua kali lebih cepat. Apa Baekhyun baru saja menangis?
"Appa~" Baekhyun kembali berbicara. "Aku sakit. Tapi tenanglah, Sehun berada di sini menemaniku." katanya. "Bagaimana kabar appa? Hubungi aku jika appa ada waktu."
Pip
Baekhyun menjatuhkan ponselnya begitu saja. Dia mencoba menutup mulutnya yang dia yakini sebentar lagi akan mengeluarkan isakan yang keras. Dia tidak mau mengganggu Sehun. Dia tak mau Sehun semakin kasihan padanya.
Namun apa yang diharapkannya sangat berbanding terbalik. Sekarang dia bahkan telah merasakan kehangatan sebuah rengkuhan pemuda pucat di sampingnya. Dia lega, tentu saja. Tapi dia takut perkiraannya benar. Dia takut Sehun bersedia menjadi kekasihnya hanya karna Sehun kasihan padanya. Dia tidak mau terlihat menyedihkan di depan Sehun. Dan membuat cinta yang ada di hati Sehun lambat laun hilang dan terganti dengan rasa kasihan yang kentara.
"Secepatnya." Sehun mulai membuka pembicaraan. "Aku akan membawamu menemui orang tuaku."
Baekhyun kembali menitikan air matanya. Didekapnya pemuda yang sedang merengkuhnya itu erat. Sangat erat, sampai dia yakin dia tak akan rela melepaskannya lagi.
"Aku percaya padamu." kata Baekhyun. Sehun melepaskan pelukannya dan mengecup dahi Baekhyun lama dan membaringkan gadis itu di sampingnya. Baekhyun yang memang belum rela melepas pelukan hangat itu, tetap memeluk Sehun dan membenamkan kepalanya di dada bidang pemuda itu.
Tik tik tik
Suara jarum terus berdenting, menyebar di seluruh ruangan khas seorang gadis. Menemani seorang pemuda yang masih terjaga, padalah jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
Sehun masih berfikir. Tak tahu mengapa kata-kata tadi melontar dengan lancarnya dari bibirnya, bahkan sebelum dia berfikir matang-matang tentang hal itu. Dia masih memikirkan bagaimana reaksi orang tuanya ketika mereka tahu tentang hubungannya dengan Baekhyun. Yeah, eommanya memang sudah tahu dan cukup merestuinya, itupun setelah mendengar cerita Sehun mengenai keadaan Baekhyun. Yang dia takutkan adalah appanya. Pria keras kepala dan tegas itu, dia tidak yakin dapat meyakinkannya.
Tapi dia kembali menatap wajah Baekhyun. Wajah yang menyimpan kesakitan selama beberapa tahun ini. Wajah yang terkesan angkuh tapi sangat rapuh. Wajah yang sudah dipandangnya sebagai adiknya sendiri. Dan dia sangat menyayanginya.
Sehun tahu semua masalah yang membelit keluarga Baekhyun. Mulai dari 4 tahun yang lalu, disaat perusahaan appa Baekhyun dinyatakan bangkrut total dan memiliki banyak hutang, terutama kepada perusahaan appanya. Sehun juga tahu saat eomma Baekhyun frustasi dan meninggal dunia karna stroke. Dan Sehun juga tahu, ketika appa Baekhyun terpaksa menikah dengan seorang janda kaya raya dan dengan sengaja meninggalkan Baekhyun seorang diri. Karna wanita itu sudah mempunyai seorang anak laki-laki dan dia tak menginginkan keberadaan Baekhyun. Yah, sangat ironis. Walaupun begitu, appa Baekhyun tak pernah absen mengirim uang setiap bulannya dengan jumlah yang tak bisa di bilang kecil. Namun, Baekhyun yang masih merupakan remaja labil waktu itu, tidak memerlukan uang dan lebih membutuhkan kasih sayang. Untunglah di saat itu ada Sehun yang bisa menahannya ketika dia berfikir untuk mencoba masuk ke dunia malam. Saat dia mencoba berkenalan dengan obat-obatan nakal yang diketahuinya dapat membuatnya melayang. Sehun juga ada saat dia hampir saja meregang nyawanya dengan modal sebuah silet kecil.
Sehun selalu ada di sampingnya. Membuatnya berfikir jika Sehun memang harus selalu berada di sampingnya. Kapan pun dan dimana pun. Dia bahkan berfikir jika Sehun adalah jodohnya. Yeah, sebelum mendengar cerita Sehun yang mengatakan jika appa Sehun mungkin tak akan menyetujui hubungan mereka. Sebenarnya bukan karna status Baekhyun dan appanya. Tapi karna appa Sehun tidak mau berurusan dengan nyonya Min, pemilik M-Corp. Seorang wanita licik dan penipu. Istri baru appa Baekhyun.
"Hun." gumam Baekhyun. Sehun segera tersadar dan membenahi posisinya agar Baekhyun merasa lebih nyaman.
"Aku disini."
Selalu disini.
.
- AiLu -
.
Pagi harinya, sebelum Baekhyun terbangun, Sehun pulang ke rumahnya. Dia ingin menemui orang tuanya dan membicarakan masalahnya saat ini. Dia sudah cukup berfikir tadi malam dan sudah memikirkan dampak-dampaknya. Dan tentu saja dia sudah memikirkan jalan lain jikalau orang tuanya tak merestui.
"Selamat pagi tuan muda."
Sehun hanya menunduk seadanya dan berlalu menuju lantai atas rumahnya. Namun baru saja ia ingin mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya, seorang maid datang menghampirinya. "Tuan dan nyonya sedang berada di Roma. Mungkin beberapa hari lagi sudah pulang."
Sehun menghela nafas kasar. Percuma dia datang kesini dan meninggalkan Baekhyun sendiri.
"Tuan muda tak sekolah?" tanya maid itu. Sehun menggeleng, "Aku masuk pada hari ujian semester saja." katanya dan berlalu darisana. Menuju rumah Baekhyun dan memilih untuk ijin beberapa hari lagi sebelum ujian semester diselenggarakan.
.
- AiLu -
.
Di hari yang sama.
Pemuda itu terus memperhatikan sebuah pintu kelas dari balik dinding lorong di sebrangnya. Memperhatikan bagaimana setiap orang saling berdesakan keluar kelas dengan berbagai macam ekspresi. Sampai pada orang terakhir, seorang gadis yang memakai kacamata tebal dan banyak buku di pelukannya.
Chanyeol-pemuda itu segera menghadang gadis itu dan membuatnya berjengit kaget dan hampir menjatuhkan buku-bukunya.
"Apa.. masih ada orang di dalam kelasmu?" tanya Chanyeol pelan. Gadis itu menggeleng takut. Kenapa? Ya, siapa yang tak kenal Park Chanyeol. Sang kingka juga anak dari kepala sekolah.
"Kau yakin?" tanya Chanyeol lagi. Gadis itu mengangguk.
"Apa Byun Baekhyun masuk hari ini?"
"Mm, dia tidak masuk hampir satu minggu ini."
"Apa yang terjadi dengannya?"
"Aku dengar dia sakit."
Chanyeol mengangguk paham dan membiarkan gadis itu pergi. Namun belum sampai beberapa langkah, Chanyeol kembali menahannya.
"Apa Oh.. Sehun juga tidak masuk?"
"Y-ya."
.
- AiLu -
.
Disinilah Chanyeol sekarang. Masih dengan seragam sekolahnya, dia langsung melesat menuju rumah bertingkat dua ini. Mengabaikan fakta bahwa mungkin saja Sehun berada di sini juga dan mungkin saja semua rahasia mereka akan terbongkar. Tapi, sekali lagi dia mengabaikan itu. Karna rasa khawatirnya lebih besar dengan segalanya saat ini.
Tok tok tok
Tak ada sahutan.
Tok tok tok
Chanyeol mencobanya sekali lagi. Namun tetap nihil. Tapi tak sampai 1 menit, sebuah gemaan langkah kaki membuatnya mengurungkan niat untuk beranjak. Dan terdengar sahutan sebelum pintu itu benar-benar terbuka.
"Sehun? Biasanya kau langsung ma-"
Baekhyun, gadis yang membuka pintu itu terdiam, begitu juga Chanyeol. Sampai beberapa detik kemudian, tubuh kecilnya langsung di terjang masuk dan direngkuh erat.
"Chanyeol.." lirih Baekhyun tak langsung membalas pelukan pemuda itu. Sampai tangan mungilnya terangkat, bukan untuk membalas pelukan pemuda itu, melainkan mendorongnya menjauh.
"Lepaskan." serunya sambil terus mendorong lengan Chanyeol menjauh. Namun nihil, pemuda itu sepertinya belum ada niatan untuk melepaskan rengkuhannya.
"Chanyeol!"
Pemuda itu melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Baekhyun yang memerah karna demamnya atau karna apapun itu. Mengusap pipi hangat itu dan mengecup bibir tipis itu beberapa kali.
"Kau tak bilang jika sedang sakit." kata Chanyeol. Sedangkan Baekhyun masih menunjukkan wajah merengutnya.
"Untuk mengingatkanmu saja ya, kita bahkan tak saling menukar nomor ponsel."
"Kalau begitu, berikan sekarang."
Baekhyun mendelik dan mendorong dada Chanyeol lebih kuat lagi, sehingga pelukan mereka terlepas.
"Lebih baik kau pergi dari sini Chanyeol."
"Tak akan." kata Chanyeol. Baekhyun terdiam menatap ke arah lain. Membuat Chanyeol kembali meraih jemari Baekhyun dan menggenggamnya. "Aku merindukanmu. Aku mengkhawatirkanmu. Aku, menginginkanmu."
Baekhyun masih terdiam menatap ke arah lain. Dan sekilas menoleh ketika merasakan punggung tangannya di kecup pemuda di depannya.
"Bisakah kau menerimaku bukan sebagai pelarianmu saja?" tanya Chanyeol lembut.
"Kau tau jelas, jika aku mencintaimu. Aku tulus. Tapi kau selalu menghiraukannya. Tak ada lagikah, tempat di hatimu? Sedikit saja buatku."
Chanyeol kembali menarik pergelangan tangan Baekhyun dan mengecup punggung tangannya berkali-kali, membuat gadis itu menoleh dan menatap Chanyeol miris.
Mungkin baginya, Chanyeol hanyalah pelariannya saat Sehun sedang tak bersamanya, ataupun Sehun sedang mengesalkan di matanya. Dia akan mengadu segalanya kepada Chanyeol. Dan selama ini, pemuda itu tak pernah marah jika Baekhyun menceritakan Sehun padanya. Pemuda itu hanya tersenyum hangat sambil membelai rambutnya lembut dan mengecup keningnya, mengatakan jika mungkin saja Sehun sedang dalam emosi yang kurang baik.
Tapi itu dulu, sebelum Chanyeol menyatakan perasaannya untuk yang pertama kalinya. Kini dia merasakan debaran aneh yang menjalar di setiap sudut hatinya ketika melihat pemuda itu tersenyum padanya bahkan hanya bertatapan matanya dengannya. Seperti saat ini.
Chanyeol tersenyum manis kearah Baekhyun yang sepertinya akan mengeluarkan air matanya sebentar lagi. Di usapnya pipi hangat itu beberapa kali lalu mulai menyatukan kening keduanya.
Baekhyun mengedipkan matanya, seiring terjatuhnya air mata pertamanya setelah beberapa hari ini. Baekhyun menyadari bahwa dia sekarang mulai mencintai pemuda yang berada di depannya ini. Namun, apa berharganya dia dibanding Sehun yang selama ini terus berada di sisinya. Pemuda itu hanya berperan di saat-saat tertentu saja. Tapi, tak dapat dipungkiri, di waktu yang hanya tertentu itu, pemuda itu bahkan berhasil membuat Baekhyun merasakan sensasi aneh yang tak pernah di dapatnya ketika berdekatan dengan Sehun.
Ibarat Sehun adalah payungnya selama ini. Chanyeol bahkan seperti coat panjang nan hangat yang bersedia menutupi seluruh tubuhnya.
"Baek.." lirih Chanyeol, sehingga deru nafasnya mengenai langsung bibir Baekhyun yang setengah terbuka.
Chanyeol masih berusaha mengusap aliran air mata dari sudut mata Baekhyun. Tak menunda bibirnya yang kian mendekat dengan milik gadis itu. Sampai sensasi aneh yang sialnya nikmat itu kembali menghimpiri keduanya. Sensasi yang sudah cukup lama tak dibagi berdua. Sensasi yang membuat Baekhyun menyadari perasaannya sendiri. Bahwa dia mencintai pemuda ini.
Namun, apa sudah dikata. Perjalanannya sudah sejau ini. Mana mungkin dia berbalik kembali hanya untuk mengambil sesuatu yang menurutnya adalah cintanya, dan meninggalkan Sehun yang bahkan sudah berada di ambang pintu dunia barunya. Tanpa teman, tanpa orang tua, dan tentu saja tanpa dirinya. Dia tak setega itu.
Tak butuh waktu lama, Baekhyun mengakhiri pagutan itu dan menggantinya dengan sebuah pelukan hangat.
"Pergilah Yeol. Jangan buat aku menyesali pilihanku ini." kata Baekhyun sesenggukan.
"Jika kau sadar kau menyesal, kenapa kau tak kembali denganku sekarang? Kau bahkan memutuskan kontak denganku sekarang. Apa yang terjadi? Kau tahu jika kau bisa bercerita semuanya kepadaku."
Baekhyun menggeleng, "Kau tak mengerti. Kau bahkan tak tahukan kenapa aku sebegitu tak maunya melepaskan Sehun selama ini.."
"Kalau begitu beritahu aku."
"Tidak sekarang, Yeol."
Chanyeol menghela nafas kasar. "Jadi kapan? Setelah aku melihat kalian bersanding di pelaminan? Tersenyum mengejek kearahku yang tak tahu apa-apa? Kau bahkan tega membuat Luhan yang selalu baik kepadamu menjadi tersiksa karna Sehun, Baek!" katanya dengan nafas yang menggebu-gebu. "Kau menyakiti 3 perasaan sekaligus. Aku, Luhan dan Sehun."
Baekhyun semakin mengeraskan isakannya. "Aku takut, Yeol. Apa salah, jika aku ingin egois sekarang? Aku.. hanya takut di tinggalkan lagi. Dan jika memang takdirku harus ditinggalkan, aku bersumpah takkan membiarkan orang itu adalah Sehun. Tak akan."
Chanyeol melepaskan pelukannya dan menatap Baekhyun tajam. "Kau.. berhak. Kau juga berhak mengusirku sekarang. Aku akan pergi jika begitu."
Baekhyun hanya terdiam di tempatnya ketika Chanyeol mulai memutar knop pintu rumahnya dan keluar dari sana. Dia masih terdiam karna mungkin saja sakit di hatinya telah memutuskan beberapa syaraf pergerakannya sehingga dia hanya bisa terpaku disana.
'Chanyeol..'
.
- AiLu -
.
Ujian kembali menyapa kelas unggulan setelah 1 minggu mereka tak melaksanakannya di karnakan festifal yang diadakan di sekolah. Ini merupakan hari terakhir dari ujian semester 2 mereka. Dengan wajah cemberut, Luhan memasuki ruangannya yang sebelumnya telah meninggalkan tasnya di loker depan kelas dan menghampiri tempat duduknya dan sedikit melirik ke arah belakang.
'Huftt, orang itu terlambat lagi.' batinnya. Luhan sebenarnya masih kesal terhadap Sehun. Sudah tak pernah menjenguknya, dan selama ujian ini, dia selalu terlambat dan akan menjadi yang tercepat mengumpul lembar jawaban. Membuat Luhan merasa kalau Sehun memang mulai menjauhinya. Ketika Luhan mulai masuk sekolah lagi, tepatnya pada hari pertama ujian, Luhan sudah dibuat bingung karna Sehun tak pernah mau berbicara padanya, bahkan saat mereka berpapasan saat meletakkan tas di loker ruang ujian.
"Baiklah-"
Tok tok tok
"Maaf, saem. Saya terlambat."
Terlihat Sehun dengan wajah lelahnya di depan pintu sambil menatap pengawas Jung datar.
"Hhmm, kau selalu terlambat, Sehun. Masuk."
Sehun pun berjalan menuju bangkunya. Mengabaikan lirikan gadis yang berada di bangku ke tiga paling ujung, tepat di depan bangkunya. Bukannya dia menghindari gadis itu, tapi.. Dia mempunyai alasan lain. Dia takut, jika dia kembali berinsteraksi dengan gadis itu, dia akan berubah pikiran lagi.
.
- AiLu -
.
Ujian sudah berjalan selama 1 jam, sisa waktu tinggal 1 jam lagi untuk menyelesaikan 2 mata pelajaran yang sedang di ujiankan hari ini. Terlihat Sehun sudah mulai menyusun kembali perlengkapannya. Setelah semua perlengkapannya rapi, diapun hendak beranjak dari bangkunya, tapi ada sesuatu yang seakan menahannya untuk tetap berada di sana.
Pandangannya pun terpatok menuju 2 lembar jawabannya. Terlihat beberapa nomor yang tak diisinya sama sekali. Bukan hanya satu atau dua, tapi dia bahkan tak mengisi 40 nomor dari 100 soal yang ada. Tak ada penyesalan sama sekali dengan kekurangan jawabannya di ujian hari ini, karna menurutnya itu sepadan dengan hasil belajarnya, mengingat dia yang tak pernah fokus dengan buku yang dia baca, dan setiap satu jam sekali, dia akan menyempatkan untuk menelpon rumahnya, siapa tahu, orang tuanya sudah pulang dari perjalanan bisnis mereka.
Biasanya, Sehun masih bisa melihat Baekhyun yang sempat belajar di pagi harinya, namun dia tak bisa melakukan itu. Setelah dia mengantar Baekhyun ke sekolah, diapun akan kembali menuju rumahnya dan memastikan apakah orang tuanya sudah sampai. Dan itulah alasan satu-satunya sehingga dia bisa terlambat setiap pagi.
Drrt drrt
Ponselnya bergetar. Itu adalah panggilan dari nomor telepon rumahnya. Dengan diam-diam, diapun segera mengambil headsetnya di saku dan memasangkannya ke ponselnya. Dan diapun menerima panggilan itu.
"Yeobseyo, tuan muda. Saya rasa tuan dan nyonya akan segera sampai disini. Pesawat mereka baru saja landing di bandara Gimpo."
Pip
Sehun memutuskan sambungan dan kembali memasukkan headsetnya ke dalam saku dan berniat untuk pergi. Namun sesuatu kembali menahannya, ketika pandangannya teralihkan kepada sebuah bahu sempit yang terlihat lesu di depannya. Dia kembali berfikir keras, apa dia harus berbicara kepada Luhan untuk yang terakhir kalinya?
Ya, dia perlu. Jika dia tak ingin menyesal nantinya. Diapun menepuk bahu itu pelan, namun tak ada respon dari Luhan. Dia terlihat masih sibuk dengan lembar jawabannya dan mengabaikan Sehun. Sehun kembali menepuk bahu itu dan kini sedikit keras, namun Luhan kembali mengabaikannya.
"Lu."
Jantung Luhan berpacu 5 kali lebih cepat dari biasanya. Hanya saja, dia tak menyangka akan mendengar suara bass kekanakan itu lagi. Tapi dia tak bergeming, dia tak ingin berbalik dan melihat Sehun menatapnya. Dan membuatnya kelepasan memeluk pemuda itu erat. Dia tak mau.
"Luhan." kata Sehun lagi sambil menepuk bahu Luhan berkali-kali. "Aku hanya ingin-"
"Oh Sehun, bawa lembar jawabanmu kesini dan keluar sekarang juga."
Sehun mendengus pelan dan beranjak dari tempat duduknya. Meletakkan lembar jawabannya di atas meja pengawas dan beralih menuju loker di depan kelas, berniat mengambil tasnya. Tapi sebelum itu, pengawas Jung kembali berseru, "Tinggalkan tasmu dan berdiri di luar sampai jam ujian selesai. Dasar anak nakal."
Sehun menghela nafasnya dan menuruti perkataan pengawas itu.
Sedangkan Luhan sedang gelisah di bangkunya. Bukan karna ada soal yang tidak dia ketahui jawabannya, tapi karna dia merasa bersalah. Karna dirinya, Sehun jadi dikeluarkan dari kelas. Diapun berdiri dari tempat duduknya.
"Permisi, saem. Sebenarnya Sehun tidak salah. Dia tadi hanya meminta penghapusnya yang saya pinjam. Tapi saya mengabaikannya karna tadi sedang mengerjakan soal." jelas Luhan yang tentu saja berbohong.
"Tapi, dia sudah berbuat keributan di ruangan ini. Apapun alasannya, dia harus keluar."
Sekarang seluruh pasang mata yang berada di ruangan itu kembali mengarah kearah Luhan.
"Tapi, saem. Bukankah dia membuat keributan karna saya juga. Jadi saya rasa saya juga harus keluar dari ruangan, saem."
Pengawas Jung manatap Luhan datar. "Bawa lembar jawabanmu dan keluar."
Luhan mengangguk kecil dan beranjak dari bangkunya. Diapun kembali memperhatikan lembar jawabannya yang belum terisi penuh. Diapun membungkuk hormat dan keluar dari ruangan itu.
'Setidaknya aku sudah menyelesaikan pelajaran matematika.' batinnya.
Luhan pun keluar dari ruangan itu dan berhenti di daun pintu. Dia kembali menimbang, apakah dia harus menemui Sehun dan meminta maaf, atau hanya keluar dan diam saja. Dan keputusannya jatuh pada pilihan yang pertama.
"Sehun." panggilnya lembut, sambil menghampiri Sehun yang sedang duduk di kursi panjang sambil menundukkan kepalanya. Sehun mulai mendongak menatapnya.
"Maafkan aku. Karna aku, kau tadi-"
Perkataan Luhan terhenti ketika merasakan Sehun yang tiba-tiba bangkit dan merengkuh tubuhnya. Luhan hanya diam, menikmati perlakuan Sehun yang dirasanya adalah yang terakhir yang akan dia dapatkan. Entahlah, instingnya berkata seperti itu.
"Sehun-"
"Berhentilah meminta maaf. Kumohon." kata Sehun. Luhan mengangguk dan mulai membalas pelukan Sehun. Tapi tak berselang lama, Sehun malah melepaskan pelukannya dan menatap Luhan sendu. "Ikut aku."
.
- AiLu -
.
Disinilah mereka, di atap gedung sambil memandang lingkungan sekolah yang masih terlihat sepi, mengingat waktu ujian masih tersisa banyak ketika mereka dikeluarkan tadi.
"Hun-"
"Aku menyukaimu."
Luhan membulatkan matanya tak percaya. Apakah Sehun sedang bercanda?
"Aku menyukaimu" kata Sehun. "Sejak dulu."
Luhan masih terdiam. Tapi ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. "Sejak kita bertemu di sekolah pada malam ujian masuk unggulan?"
Sehun menggeleng. "Aku memang tak menyukaimu pada pandangan pertama. Tapi, aku menyukaimu saat kau menangis dihadapanku." jedanya. "Kau adalah orang tercantik yang pernah aku lihat jika sedang menangis."
Luhan tersenyum malu, "Saat aku melupakan buku tugas kimiaku?"
Sehun mengangguk. Dia kembali mengalihkan pandangannya kearah lapangan basket yang berada di bawahnya. Tapi kemudian, dia kembali menatap Luhan lembut, membuat gadis itu ikut menoleh dan tersenyum. "Aku masih hutang pertanyaan padamu disaat aku berkunjung ke rumahmu bersama eomma."
Luhan mengangguk.
"Kalau begitu." kata Sehun. "Apa kau menyukaiku?"
Luhan terdiam sejenak, menatap mata Sehun yang cukup menyejukkan, tapi menyiratkan rasa ketidakrelaan. Luhan mengangguk ragu. Sehun menghela nafasnya berat, semakin berat rasanya jika dia mengingat dia akan meninggalkan gadis ini.
"Lebih dari Jongin?" tanya Sehun lagi. Luhan kembali berfikir.
"Aku tak akan menjawab, saat itu aku juga hanya memberikan satu pertanyaan. Itu tak adil." kata Luhan. Sehun terkekeh pelan, "Kau kan bisa bertanya lagi padaku."
Luhan kembali berfikir dan tersenyum lembut kepada Sehun, "Aku memang menyukai Jongin. Dia baik, pengertian, lucu dan selalu ada di sampingku." jelas Luhan. "Tapi aku lebih menyukaimu." katanya sambil menunduk malu. "Jongin memintaku menjadi pacarnya karna dia tak mau melihatku terus-terusan sakit hati karna kau dan Baekhyun. Dan kejadian di lift itu, kami tak benar-benar berciuman. Dia sangat menjagaku. Aku juga-"
Luhan kembali menghentikan perkataannya ketika Sehun kembali merengkuhnya erat. Seakan tak membiarkan Luhan pergi dari sisinya. Hei, sebenarnya siapa yang akan pergi disini?
"Maaf jika aku mengatakannya terlambat." kata Sehun. "Saranghae, dengan seluruh hatiku aku sungguh mencintaimu. Saranghae, maaf, jika suatu saat akan mengecewakanmu. Saranghae, dan aku harap ini bukan terakhir kalinya aku mengatakan kalimat itu."
Genangan air mata sudah menganak sungai di kedua pipi Luhan dan Sehun. Luhan lega, akhirnya selama ini perasaannya tak bertepuk sebelah tangan. Tapi, apakah ia benar-benar lega ketika mengetahui alasan Sehun sebenarnya ketika membawanya kesini?
Sehun kembali melepaskan pelukannya dan mulai mendekatkan wajahnya kearah luhan. Menempelkan bibirnya diatas bibir pink pucat Luhan dengan lembut. Hanya menempel. Membiarkan aliran air mata yang terasa asin di indra pengecap masing-masing, entah air mata siapa. Dan perlahan Sehun menjauhkan dirinya dan kembali menatap Luhan yang masih menutup matanya. Diapun tersenyum dan mengecup kedua kelopak mata itu.
"Aku berharap ini bukan yang terkahir." kata Sehun. "Aku berharap masih bisa melihat wajahmu, wajah berfikirmu."
Senyum Luhan seketika luntur ketika menemukan sesuatu yang janggal di perkataan Sehun.
"Aku berharap aku masih bisa merengkuhmu kapanpun."
"Aku berharap masih bisa mengatakan 'Selamat bekerja nona Lu' padamu suatu saat nanti."
"Masih bisa melihat wajah menangismu seperti saat ini. Menangis bahagia karnaku.."
"Aku berharap masih bisa berada di sisimu. Yeah, berharap."
Luhan menatap Sehun sendu, "Kenapa kau mengatakan itu? Kau sudah memilikiku sekarang. Dan jangan coba-coba untuk pergi."
Ya, itu memang benar. Sehun juga mempunyai pemikiran yang sama dengan Luhan. Tapi, dia lebih dulu mempunyai janji kepada Baekhyun untuk tak meninggalkannya.
"Aku minta maaf." gumam Sehun.
Luhan menatap Sehun cemas, "Jadi, kau benar-benar akan pergi?"
Sehun hanya menatapnya sendu.
"Kau tak boleh pergi Sehun. Katakanlah aku egois, tapi aku hanya menginginkanmu di sisiku. Aku mohon."
Sehun menggeleng pelan. "Aku minta maaf." hanya itu yang dapat di sampaikannya ketika bibirnya kembali menyapu bibir Luhan dan sedikit melumatnya. Merasakan sensasi untuk yang pertama kali baginya, begitu pula dengan Luhan.
"Aku minta maaf."
Dengan begitu Sehun melepaskan rengkuhannya, melepaskan segala berat di hatinya, dan berjalan pergi meninggalkan Luhan yang masih menangis terisak. Hanya bisa memandang punggung Sehun yang kian menghilang di depannya. Dia mengira ini adalah awal dari segalanya. Tapi dia salah, karna ini merupaka akhir dari segalanya.
Luhan merosot jatuh dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kembali terisak lebih keras, berharap Sehun kembali dan ikut membawanya.
"Mmm, chogiyo."
"Apa kau baik-baik saja? Maksudku..."
Luhan mendongakkan kepalanya dan menatap pemuda itu. Pemuda tinggi dengan wajah perpaduan. Berdiri di depannya dengan baju kasual-kaos hitam dibalut kemeja kotak-kotak berwarna merah tua dan jeans biru tua-dengan sebuah kamera DLSR di tangan kanannya.
Luhan menatap pemuda itu bingung, membuat pemuda itu langsung tersenyum kikuk.
"A-aku tidak mengintip. Sungguh. Hanya saja," jeda pemuda itu sambil mencari kata yang pas untuk kalimatnya. "Aku yang lebih dulu sampai di sini untuk mengambil gambar sekolah kalian untuk dibuat iklan dan tidak sengaja melihat kau dan, kekasihmu? Ya, begitu." katanya sambil terkekeh hambar. Luhan masih terdiam memandangi pemuda itu.
"Nuguseyo?" tanyanya. Pemuda itu tersenyum lega. "Aku seorang fotografer." katanya. "Ah, maksudku namaku Kris." kata pemuda itu sambil menyodorkan tangan kirinya yang tak terpakai. Namun seketika dia kembali tersadar dan memindahkan kameranya ke tangan kiri dan menyodorkan tangan kanannya.
Luhan sejenak menatap tangan pemuda itu ragu, tapi perlahan dia mulai menggapainya. "Aku... Luhan."
.
- AiLu -
.
Setelah mengantar Baekhyun pulang, Sehun segera berangkat menuju rumahnya dan menemui kedua orang tuanya.
"Dimana eomma dan appa?" tanya Sehun setibanya dia sampai kerumahnya. Para pelayan masih terdiam dan memilih menunduk. Membuat Sehun sedikit emosi dan berniat ingin memukul mereka semua, sebelum seorang pria paruh baya dengan seorang wanita terlihat di ujung tangga.
"Hun, kau sedang apa? Ayo siap-siap." kata Sungmin sambil menuruni tangga.
"Aku mau berbicara sesuatu." kata Sehun dengan wajah datarnya. "Aku-"
"Nanti saja berbicaranya. Nanti keluarga Lu menunggu kita terlalu lama."
Sehun mengerutkan dahinya. Ada apa dengan keluarga Lu?
"Keluarga Lu?" tanya Sehun. Akhirnya Sungmin dan Kyuhyun sampai di lantai 1 dan tersenyum hangat kearah Sehun.
"Tentu saja. Kami ingin menjodohkan kalian berdua." kata Sungmin terlihat senang. "Berterimakasihlah kepada eomma. Kalau eomma tidak menceritakan perihal masalahmu dengan putri keluarga Lu, appamu tak mungkin kepikiran tentang hal ini."
Sehun menatap kedua orang tuanya sendu. Kenapa baru sekarang? Setelah dia berjanji kepada Baekhyun. Kenapa?
Sehun memang bersyukur dengan rencana kedua orang tuanya ini. Tapi dia tidak boleh egois dengan mementingkan kesenangannya saja. Ada Baekhyun disana yang sedang menunggu kedatangannya.
"Kenapa? Jangan bilang kau mau menolak?" terka Sungmin. "Bukankah kalian sudah tertarik satu sama lain?"
"Tapi eomma, aku harus berbicara dulu kepada kalian." kata Sehun. Sungmin menggeleng pelan. "Bicarakan disana, oke? Segera bersiap dan datang secepatnya."
Sehun diam. Dia tak bisa memikirkan apapun lagi. Hampir saja pertahanannya runtuh ketika berdua dengan Luhan tadi. Dan sekarang apalagi?
Tapi walaupun begitu, dia memilih pergi ke lantai atas, kamarnya. Mengganti baju dan berangkat menggunakan mobil sport hitamnya.
.
- AiLu -
.
Luhan sudah siap dengan gaun panjang berwarna putihnya. Keluarganya dan keluarga Sehun sudah mengobrol sedari tadi, tapi belum ada tanda-tanda kehadiran Sehun disana. Berbeda dengan kondisi-menyedihkannya-tadi, sekarang Luhan bahkan terlihat yang paling bersinar saat ini. Senyum terus mengembang di bibirnya. Tentunya setelah mengetahui perihal pertemuan ini dari eommanya.
'Jadi tadi itu hanya akting Sehun saja? Agar aku terkejut begitu ketika melihatnya datang dengan stelan bagusnya dan memintaku untuk menjadi pendampingnya. Ah, dia memang yang terbaik.'
"Ah, sabar ya, Luhan. Eomoni rasa Sehun masih di perjalanan." kata Sungmin yang mungkin menyadari sikap Luhan yang terus menoleh kearah lorong yang menuju ke pintu utama. Luhan hanya tersenyum dan mengangguk.
"Maaf nyonya." kata seorang pelayan yang baru sampai di ruangan itu. "Tuan muda Sehun sudah datang."
Tap tap tap
Langkah kaki itu semakin jelas terdengar. Dan tak sampai satu menit dari suara itu, orang yang ditunggu-tunggu sudah sampai di depan lorong.
"Annyeonghaseyo."
Luhan tersenyum sangat manis ketika mendengar suara bass kekanakan itu. Tapi perlahan senyumnya memudar, berganti dengan wajah bingungnya.
Ada seorang gadis yang bersembunyi di belakang badannya. Ya, Sehun membawa Baekhyun. Baekhyun terlihat tak enakan, terlihat dari dirinya yang hanya menunduk dalam dan meremas lengan baju Sehun kencang.
"Baekhyun." ucap Luhan tanpa suara. Dia mengalihkan pandangannya kearah Sehun yang menatapnya tajam, tapi tak lama Sehun yang terlebih dulu memutuskan kontak mata mereka.
Apakah...
"Aku kesini bukan untuk menghadiri acara perjodohan ini." katanya. "Aku kesini ingin mengatakan kepada eomma dan appa bahwa aku sudah mempunyai kekasih."
Luhan tertegun sejenak.
Semua orang yang ada di sana terkejut bukan main, kecuali Luhan. Dia hanya tersenyum lembut juga miris kearah Baekhyun yang memandangnya sungkan. Membuat gadis itu ikut tersenyum tipis.
'Kau terlalu percaya diri, Luhan. Sudah pasti Sehun lebih memilih Baekhyun daripada dirimu.'
"Eomma tadi bilang jika aku ingin berbicara, bicarakan disini saja. Dan sekarang aku sudah bicara. Aku sudah mempunyai kekasih, namanya Byun Baekhyun. Dan aku menolak perjodohan ini."kata Sehun tegas. Sungmin dan Kyuhyun bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum tipis kearah orang tua Luhan.
"Kami permisi sebentar."
Dengan itu, orang tua Sehun menyuruh Sehun untuk ikut dengan mereka menuju taman yang terdapat di tengah-tengah bangunan rumah Luhan dan mengobrol bertiga, tanpa Baekhyun yang tadi sudah di suruh menunggu di halaman depan oleh Sehun.
"Apa yang barusan kau katakan Oh Sehun?" tanya Kyuhyun. "Kau menolak perjodohan ini? Oke, itu tak terlalu menjadi masalah. Tapi, dengan putri keluarga Byun itu? Kau sedang bercanda?" tanya Kyuhyun sambil menatap putra satu-satunya dengan tajam. Tapi Sehun tak gentar, dia kembali menatap Kyuhyun dengan pandangan yang sama. "Aku tak bercanda dan benar, dia memang putri dari keluarga Byun."
Plak
Kesabaran Kyuhyun habis. Pipi kiri Sehun sudah memerah karna tamparan keras itu.
"Kau sudah tau bagaimana riwayat hubungan keluarga kita dengan keluarga mereka. Tapi kenapa kau masih berani seperti ini?" kata Kyuhyun dengan suara lantang. Sehun tersenyum miring, "Apapun keputusan appa, aku akan tetap bersama Baekhyun."
"Kalau begitu keluar dari rumah. Aku takkan sudi menampung gadis macam dia dan anak pembangkang sepertimu." kata Kyuhyun. Sungmin menatap suaminya tak percaya. "Yeobo." lirihnya.
"Jangan bawa apa-apa dan aku akan menyita seluruh fasilitasmu!" teriak Kyuhyun. Sehun menatap appanya sengit. "Baiklah jika itu maumu tuan besar Oh. Aku terima." kata Sehun dan beranjak pergi dari tempat itu.
"Sehun!" panggil Sungmin, dia hendak mengejar sang putra, tapi sang suami keburu menahan tangannya. "Biarkan dia belajar berfikir lebih dewasa dan tak membuat keputusan gegabah seperti ini." kata Kyuhyun dingin.
"Tapi dia anakmu, Kyu. Putramu satu-satunya." kata Sungmin dan melepaskan diri dari kukungan tangan sang suami.
Sementara itu.
Baekhyun terlihat mondar-mandir di halaman luas itu. Dia terus saja menggigiti kuku jarinya seiring air matanya yang terkadang jatuh. Dia sedang bingung sekarang, jangan sampai keluarga Sehun hancur karnanya. Tapi jika itu tak terjadi, itu berarti Sehun tidak akan bersama dengannya. Apa dia egois? Ya, tentu. Tapi dia juga membutuhkan seseorang yang rela menyayanginya, satu saja. Dan itu sudah pasti Sehun. Hanya dia. Tapi... Apa itu benar?
"Baek."
Baekhyun berbalik dan hendak tersenyum karna dia mengira yang datang adalah Sehun. Namun yang berada di depannya adalah gadis yang selama ini merupakan gadis yang tergolong sebagai rivalnya, dalam mendapatkan Sehun.
"Lu." lirih Baekhyun. Melihat wajah sendu Luhan, Baekhyun tiba-tiba merasa bersalah. Dia tak tahu darimana datangnya perasaan itu, tapi dia sangat-sangat merasa bersalah. "Maaf, karna aku perjodohan kalian dibatalkan."
Apakah benar ini dirimu, Byun Baekhyun?
Luhan tersenyum dan kembali menghampiri Baekhyun. "Apa yang kau bicarakan? Justru disini akulah yang merupakan seorang 'pengganggu'. Kalian bahkan sudah menjalin hubungan selama 4 tahun, dan aku dengan tidak berperasaannya datang di tengah kalian sekarang. Maafkan aku." kata Luhan.
Baekhyun mengangguk, "Tak apa, yang penting sekarang Sehun telah memilihku. Dan kami akan pergi berdua setelah ini." kata Baekhyun membuat Luhan mengerutkan dahinya. "Pergi?" tanyanya. Baekhyun mengangguk, "Sehun yang bilang. Dia sudah yakin jika appanya tak akan menerima hubungan kami, makanya dia sudah menyiapkan semua." jelas Baekhyun.
Oh, Luhan tahu sekarang. Arti kata 'meninggalkan' yang disebutkannya tadi. Ini bukan mengenai meninggalkan tentang perasaan, tapi disini Sehun juga akan pergi meninggalkannya, tak hanya meninggalkan perasaannya. Dia tahu sekarang.
"Tapi... Kemana? Bagaimana sekolah kalian?" tanya Luhan prihatin. Baekhyun mengangkat bahunya. "Sehun juga tak tahu akan kemana. Yeah, walaupun aku harus bekerja part time sambil sekolah, aku bersedia. Asal bersama Sehun." kata Baekhyun. "Dan mungkin kami akan pindah sekolah. Ke sekolah yang lebih murah."
Dengan itu Luhan menarik Baekhyun ke dalam pelukannya. Dia baru sadar jika Baekhyun memang gadis yang tepat bagi Sehun. Dia mau melakukan apapun demi Sehun. Yeah, walaupun tidak dengan sepenuh hati, Luhan sudah merelakan Sehun pergi, dengan Baekhyun.
"Baek, kita pergi sekarang." kata Sehun sambil menarik Baekhyun dari rengkuhan Luhan. Mereka pun berjalan meninggalkan Luhan yang masih terdiam disana.
"Sehun, berhenti Sehun."
Terlihat Sungmin yang sedang mengejar Sehun dari belakang. Luhan yang melihat itu mencoba menahannya. Bukan apa-apa, Luhan takut wanita paruh baya itu kenapa-napa jika berlari seperti itu. Luhan juga menatap punggung Sehun yang kian menjauh, dia bahkan mengabaikan panggilan eommanya sendiri.
Dan Luhan membenci itu.
"Yak! Oh Sehun!" teriak Luhan. Tapi Sehun belum berhenti berjalan dan hampir sampai ke gerbang rumah Luhan. Luhan masih merengkuh Sungmin-yang sesenggukan-dengan tangan kanannya.
"Kau boleh saja meninggalkanku seperti ini, Sehun." teriak Luhan lagi. "Tapi tidak dengan eommamu."
"Eommamu Sehun!" teriak Luhan. Dan benar saja, Sehun perlahan berhenti dan berbalik. Dia menatap Luhan dan Sungmin datar.
"Maaf eomma, tapi aku tak bisa tetap tinggal." katanya. Sungmin mengangguk mengerti. "Eomma mengerti, Sehun. Tapi, eomma mohon temui harabeojimu." kata Sungmin. Sehun mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya keluar dari gerbang itu, meninggalkan mobil sportnya di parkiran rumah Luhan.
"Lu, terimakasih." kata Sungmin. "Dan maafkan Sehun."
Luhan tersenyum sambil memeluk Sungmin.
"Kau gadis yang baik. Eomoni sangat berharap kau yang akan menjadi putri eomoni kelak.." lanjut Sungmin. Luhan masih tersenyum. "Aniyo eomoni. Baekhyun pantas untuk Sehun. Dia gadis yang baik." jelas Luhan.
Sungmin mengangguk. "Ya, eomoni harap juga begitu."
Luhan tersenyum. "Yakinlah pada Sehun," katanya. "Dia bisa memilih."
THE END
.
.
.
.
.
.
.
Becanda deh. Masih TBC kok :D
Oiya, buat infromasi aja nih. Author di ff ini ada 2 orang yaaa. Yang biasa remake itu kakak aku, dan yang lainnya ff buatan aku. Jadi, biar lebih akrab, manggil chingu aja gimana? Soalnya aku rada risih kalo di panggil eonnie. Berasa tua -_-. Tapi kalo yang lahirnya line 99 ke bawah, haaaah, gak papa deh.
Oiya, kalo ada yang nanya, 'Sehun kemana pas Chanyeol dateng?'. Jawabannya, diakan lagi pergi ke rumahnya untuk nemuin ortunya. Itu aja sih aku rasa.
Makasih banyaaaaak juga sama yang udah favorite dan follow fanfic aku. Maaf sebelumnya kelupaan #maklumpikun. Saya juga berterimakasih buat sider ato kata halusnya adalah peminggir(?). Makasih deh buat semuanya. Mumumu~
Big Thanks to:
lalat-pucing, BeibiEXOl, Oh Lu-Yan, Guest 1, bambielulu, NN, fivahlulu, niesha sha, chenma, hunhan, rikha-chan, ichacha1294, N. , parkminoz, yixingcom, lisnana1, ruixi1, MeriskaLu, himekaruLI, HUNsayHAN, Guest 2, Hany Kwan, Oh Juna93, luhannieka, ZiyuHaowen, luhan kerr.
