Disklaimer: Haikyuu! dimiliki seutuhnya oleh Furudate Haruichi. Saya tidak memiliki apa-apa kecuali ide-ide yang saya tuangkan dalam tulisan ini, dan saya tidak mengambil keuntungan atau profit apapun dari tulisan ini.

.

.

Tsukuba, 16 November 2075

Kei terbangun pukul tiga, lebih pagi dari apa yang tubuhnya butuhkan. Ia masih belum terbiasa dengan perbedaan waktu antara Texas dan Tsukuba. Minggu lalu ia baru kembali dari Amerika setelah menjalani pelatihan singkat di Johnson Space Center, setelah lebih dari satu bulan menetap di sana (lagi), Kei perlu beradaptasi dengan cuaca dan tanggalan di Jepang.

Diam-diam, Kei menatap Shouyou yang tidur meringkuk di sampingnya. Diam-diam, Kei berhasrat untuk merengkuh Shouyou ke dalam sebuah pelukan erat, mencium setiap inci tubuhnya, membuatnya terlena dan enggan untuk pergi. Tetapi yang dilakukannya justru hanya diam di tempat, menatap helai rambut yang mencuat dari puncak kepala Shouyou. Lembaran itu menyala ditimpa cahaya lampu tidur. Ketika selimut Shouyou turun, Kei menariknya kembali hingga menutup bahu.

Ia bisa melakukan ini selamanya. Jika ia memiliki kesempatan.

"Jangan menatapku seperti itu," suara Shouyou yang lirih menghenyakkan Kei dari lamunan singkat. "Kau bisa membuatku salah paham,"

Kei meraih bahu Shouyou, memutar tubuh itu hingga menghadapnya. Di bawah cahaya temaram, mata Shouyou nampak indah dipayungi oleh bulu-bulu lentik yang mencuat dari tepi kelopak matanya. Hidung kecil itu nampak kesepian, Shouyou menggeligit ujung kukunya.

Kei meraih sebelah tangan Shouyou, mencium buku-buku jarinya. Ciuman yang diberikan Kei penuh akan adorasi cinta juga penyesalan yang ditabung selama bertahun-tahun.

"Tsukishima …"

"Kenapa kau datang ke sini?"

"Aku … ada tes untuk beasiswa di universitas Tsukuba,"

"Kapan?"

"Lusa,"

"Kau akan berkuliah di sini?"

"Kalau lolos,"

"Kita bisa tinggal bersama," Kei tersenyum tipis.

Shouyou menarik tangannya dari genggaman Kei, sebelah bibirnya berkedut. "Kita baru bertemu dan kau mengajakku tinggal bersama? Yang benar saja,"

"Ini bukan pertama kalinya kita bertemu,"

"Tetap saja,"

"Tetap saja apa?"

"Kau bercanda?"

"Aku serius,"

"Siapa kau?" pertanyaan itu membuat Kei bingung. "Kau bukan Tsukishima teman sekolahku dulu,"

"Kau sendiri, siapa? Setahuku Hinata tidak pernah memiliki aura pesimis seperti dirimu,"

"Aku juga punya sisi lain, tahu."

"Aku juga." Kei menggeser tubuhnya mendekat, mendaratkan ciuman di sudut bibir Shouyou. "Aku punya sisi lain,"

"Kau … dulu pernah bilang, kalau tidak akan pernah ada orang waras yang mau berkencan denganku,"

"Kemarin 'kan aku sudah bilang,"

"Bilang apa?"

Kei memutar bola mata, sejenak berdecak. "Aku juga tidak pernah bilang kalau aku waras. Aku tidak pernah waras, oke? Tidak pernah. Di hari kelulusan kau memukul hidungku sampai berdarah, lalu menciumku. Kaupikir, aku bisa jadi waras setelah itu? Yang ada aku tambah gila." Seloroh Kei panjang lebar. "Kalau kau berpikir aku mengatakan semua ini dengan sangat mendadak, kalau kau berpikir aku tengah mempermainkanmu, atau—yah, apapun … biar kujelaskan. Semenjak masuk institut ini—maksudku JAXA—aku baru sadar bahwa hidup manusia begitu singkat dan aku tidak cukup baik untuk membiarkanmu pergi dari hidupku, tertawa bersama orang lain, menikahi mereka, dan aku tidak ingin menyimpan rapat-rapat perasaan yang kumiliki selamanya. Dulu aku takut akan penolakan meskipun gelagatmu jelas—"

"Jelas?"

"Kau mencintaiku. Sudah jelas. Tidak usah menyangkal, aku tahu. Berhentilah berpura-pura, Hinata."

"Kau—"

"Dan demi Tuhan, berhenti menggigiti kukumu!" Kei menarik tangan Shouyou, membungkusnya dalam tangkupan tangan. "Aku takut penolakan. Ada kalanya kupikir kau menyukaiku, ada juga saat di mana aku berpikir kau sangat sangat membenciku. Aku ingin mengatakan bahwa 'aku mencintaimu' tahun lalu, saat kita bertemu di tempat kerjaku tapi aku tak cukup berani. Jadi, aku baru punya keberanian sekarang dan aku mohon, jawab pernyataanku yang ini. Kau bisa menolakku, jika memang itu yang kauinginkan. Damn, Hinata kau … harus membuat hidupku tenang."

Wajah Shouyou nampak seperti anak kecil yang diberitahu orangtuanya bahwa sinterklas itu hanyalah tokoh fiktif dan hadiah-hadiah yang disembunyikan di balik kaus kaki sebenarnya bisa dibeli dari toko.

"Kau … bisa bicara banyak,"

"Hinata, ayolah … kaupikir lucu melihatku stres karena hal ini?"

"Apa … apa yang harus kukatakan? Bertahun-tahun kupikir kau membenciku …"

"Kau memang menyebalkan, tapi aku tidak membencimu. Oke, biar kupermudah. Aku ingin menikahimu, kita bisa menikah di luar angkasa—Bulan, Mars, satelit-satelit Jupiter, terserahlah."

Shouyou tergelak, matanya basah. "Kau sinting. Kita berdua laki-laki, dan kita tidak akan pernah bisa menikah."

"Di luar angkasa tidak ada hukum yang berlaku, kita bisa menikah di sana."

"Tsukishima … aku tidak mengerti," Shouyou tertawa lagi, tetapi matanya belum menyiratkan kebahagiaan. Air yang menitiki pipinya masih serupa luka. "Kau sinting ya?"

"Ya, ya, ya, ya. Aku sinting."

"Kau sinting dan bisa bekerja di JAXA,"

"Tempat itu dihuni oleh orang-orang sinting, jomblo, pengkhayal, dan segala jenis manusia aneh di muka bumi ini."

"Kau yakin?"

"Jawab saja atau kupukul kau,"

Shouyou menggeser posisi tubuhnya sehingga kening mereka saling beradu. Kali ini ganti Shouyou yang menghujani Kei dengan ciuman, meskipun bibirnya bergetar. Kepala oranye itu kemudian terbenam di ceruk leher Kei, membisikkan sebuah kalimat di bawah telinganya. "Aku mencintaimu,"


Segala hal selalu terjadi di luar kendali dan praduga, itulah yang dikatakan Shouyou sesaat sebelum Kei memagut bibirnya untuk yang kesekian kalinya di pagi buta. Mereka mematikan lampu tidur, membiarkan cahaya langit membanjiri kamar. Kei menanamkan ciuman pada setiap jengkal tubuh Shouyou, lidahnya menjelajah tiap pori lelaki itu laiknya Shouyou yang menjelajah tiap jalan di Torono. Sejenak, ia tidak percaya dengan apa yang tengah dialaminya—dan ia yakin Shouyou pun demikian.

Seks bukan hal baru bagi Kei. Keperjakaannya telah lepas di SMA, dengan seorang gadis yang tak ia ingat namanya tapi selalu dibayangkannya sebagai Shouyou ketika mereka berhubungan. Ia tak ingin mengingat-ingat kenangan tidak penting; tidak ada yang lebih penting dalam pikirannya selain mendekap Shouyou dan memuntahkan segala cinta yang ia miliki hingga lelaki itu sesak.

"K-Kei …" Shouyou memanggil namanya di sela napas yang tersengal, mengirimkan listrik magis yang mengaliri aliran darahnya. "Kei … ah-kau … kau … menangis?" tawa Shouyou seperti afrosidiak bagi kei.

"Kau juga, bodoh." Ia bergerak keluar masuk tubuh Shouyou, meladeni setiap tetes nafsu yang bergolak dalam dirinya.

Barangkali, ia memang bodoh karena bisa merasa begitu bahagia setiap Shouyou menyerukan namanya—Kei. Atau mungkin sedikit sadis, karena ia senang mendengar tangis dan racau yang lepas tanpa kendali dari tubuh Shouyou meskipun ini adalah kali pertama mereka melakukan seks. Kei tidak bisa berbohong kalau ia merasa ngilu saat berada di dalam tubuh Shouyou beberapa menit lalu, karena sempit, karena daging-daging itu mencengkram salah satu bagian tubuhnya terlalu kuat. Demi Tuhan, laki-laki ini baru terkena demam beberapa jam lalu dan kini mereka berdua malah larut dalam seks yang memabukan.

Shouyou menarik leher Kei mendekat, ia menyelipkan wajahnya di antara lekuk bahu Kei dan melenguh sejadi-jadinya saat ia orgasme. Kei meninggalkan ciuman di leher Shouyou, membuat permukaan kulit itu dititiki noda biru yang pucat. Ia bisa melihat jutaan bintang yang menabrak satelit dan jatuh berhamburan saat ia keluar di dalam tubuh Shouyou.

"Terima kasih," bisik Kei.

Shouyou tertawa, tangannya meraup helai-helai rambut Kei. "Terima kasih juga,"


Shouyou melirik jam yang terpasang di dinding kamar. Pukul Sembilan pagi dan di sampingnya Kei masih tertidur pulas. Shouyou meraih wajah itu, melepas kacamata bingkai hitam dan menaruhnya di atas kepala ranjang. Ketika berguling, pinggangnya ngilu dan kepalanya terasa diisi bulu-bulu unggas, tapi dengan biji mata yang jadi seberat bola-bola boling, berusaha mendesak keluar dari lubang matanya.

"Kei," Shouyou memanggilnya, mengusap pelan pipi lelaki itu dan memberi kecupan ringan di garis jambangnya. "Kei,"

Kei menggerutu, "Apa?"

"Kau tidak bekerja?"

"Hah?"

"Kau tidak bekerja?"

"Oh-" mata Kei mengerjap. "Tidak,"

"Kenapa?"

"Ya … pokoknya tidak,"

"Kau mengingau?"

"Hah? Tidak, tidak. Hari ini aku libur dulu, kemarin malam aku sudah minta izin dan bilang kalau pacarku sakit."

"Apa?"

"Apaaa?" tanya Kei balik dengan gerutuan di pangkal tenggorokan. "Kalau aku bilang saudaraku sakit, mereka tidak akan percaya. Kakakku juga bekerja di JAXA—meskipun beda divisi."

"Kau bilang pada mereka kalau aku adalah pacarmu bahkan sebelum aku jadi pacarmu?"

"Yah … 'kan sekarang sudah jadi, ya sudahlah. Kenapa kau harus meributkan hal seperti ini sih?"

"Tapi ini sudah jam sembilan, aku harus mengabari keluargaku kalau ponselku hilang. Aku tidak mau mereka cemas dan berpikir yang tidak-tidak,"

"Aku baru tidur satu jam …" Kei mengembuskan napas berat. "Kalau kau mau pakai ponselku, pakai saja. Pinnya 86577. Kalau kau mau mandi, kamar mandi ada di sebelah kamar ini. Kalau kau mau makan, ada roti gandum di meja makan. Well … you can use everything you want. Bangunkan aku pukul dua belas,"

"Boleh aku pakai sabun dan sampomu?"

"Ya,"

"Aku tidak suka roti gandum … bisa aku pakai ponselmu untuk memesan makanan dari luar?"

"Ya, Shouyou … ya…"

"Ah, tapi kautahu … um … dompetku dijambret jadi, bisa aku pakai uangmu?"

"Argh … demi hukum heliosentris, ya. Dompetku ada di meja ruang tamu."

Shouyou hendak beringsut menuju kamar mandi ketika Kei mencekal sebelah tangannya selama beberapa detik.

"Kau boleh pakai apapun tapi … jangan pergi ke mana-mana" katanya. "Uh … nanti kau demam lagi,"

Shouyou tersenyum, hal ini masih terasa janggal baginya. "Oke,"