GRAVITY
.
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
And OCs
.
ChanBaek (GS)
Romance, Hurt/Comfort
.
DON'T LIKE DON'T READ!
Happy Reading!
.
.
Chanyeol melonggarkan dasinya saat keluar dari ruang kepala rumah sakit. Ekspresi wajahnya sedikit mengeras sementara langkah kakinya telah terurai menelusuri koridor. Pria yang kali ini membiarkan dahi cemerlangnya tertutup rambut itu sesekali menunduk singkat sebagai respon pada beberapa medical staf yang menyapanya dengan ramah.
Meski sebenarnya suasana hatinya tidak dalam kondisi yang bagus, namun Chanyeol tetap tidak bisa menanggalkan sopan santun.
Pria itu masuk ke dalam ruangannya sebelum kemudian duduk di kursi kerja dan menyandarkan punggungnya di sana lantas membiarkan matanya terpejam seiring dengan helaan napas berantakan yang menguar di udara.
Emosi pria itu menjadi tidak stabil pasca mendapat teguran ringan dari kepala rumah sakit akibat kinerjanya yang terbilang menurun beberapa hari ke belakang.
Sebelumnya Chanyeol tidak pernah melakukan satu pun kesalahan atau mendapat sedikit pun teguran menyangkut perannya sebagai ahli medis. Semua orang tahu bahwa pria itu adalah sosok yang begitu professional dan hanya akan menjadi seorang dokter jika sudah menjejekkan kakinya di rumah sakit. Tanpa berperan sebagai orang lain. Tidak sebagai pria yang memiliki beragam persoalan pelik, tidak sebagai seorang kekasih yang akhir-akhir merasa wanitanya sedikit berubah, atau bahkan tidak sebagai seseorang yang untuk sepekan ke belakang dipusingkan oleh satu nama yang terakhir kali masih Chanyeol ingat lebih memilih pulang bersama orang lain ketimbang dirinya.
Si pria memijat dahinya cukup keras. Ia semakin yakin, kesalahannya bermuara di satu titik tersebut.
Sebenarnya Chanyeol sudah cukup mampu mengesampingkan dua hal pertama, namun tidak dengan yang satu itu. Sekeras apapun Chanyeol berusaha berkonsentrasi pada apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya, fokusnya tetap terbagi, benaknya terus bermain-main dengan memutar setiap adegan di mana wanita itu menolaknya secara terang-terangan.
Byun Baekhyun.
Mengapa rasa bersalah kian menjalar setiap kali Chanyeol merapalkan nama itu dalam benaknya?
Wanita itu benar-benar berbahaya.
Byun Baekhyun telah membuat Park Chanyeol yang terkenal mengutamakan profesionalitas untuk pertama kalinya mendapat teguran ketidakpuasan atas kinerjanya.
Dan Demi Tuhan, itu benar-benar memalukan.
Chanyeol masih setia memejamkan matanya erat ketika bunyi telepon tanda panggilan masuk berdering nyaring.
Tanpa melihat nama yang tertera di layar ponsel, pria itu menggeser tombol hijau sebelum akhirnya menempelkan benda pipih tersebut di telinga.
"Ini Omma, nak."
Suara wanita paruh baya yang begitu Chanyeol kenali sontak memenuhi indera pendengarannya.
"Hn." Sahut Chanyeol singkat.
"Tunggu, ada apa dengan nada suaramu? Kenapa kau terdengar tidak bersemangat?"
Sekali lagi Chanyeol memijat dahi sebelum kemudian membuka mata dan menegakkan posisi duduknya. "Aku hanya sedikit lelah. Ada apa, Omma?"
Terdengar gerutuan khas seorang Ibu di seberang sana, tentang bagaimana nyonya Park mencemaskan kesehatan putranya dan beberapa nasihat lainnya.
"Aku tahu, aku bisa menjaga kesehatanku sendiri. Memangnya dengan siapa Omma berbicara?"
"Anak nakal, Omma tahu kau seorang dokter! Tidak perlu menyombongkan diri seperti itu."
Chanyeol tersenyum kecil mendengar gerutuan sang Ibu untuk ke sekian kalinya. "Aku masih di rumah sakit, ada perlu apa Omma menghubungiku?"
Chanyeol tahu seharusnya ia tidak bertanya seperti itu, karena ia sadar Ibunya tidak selalu bersikap penuh sebagai seseorang dengan otoritas tinggi yang bahkan mampu memerintah ini dan itu terhadap putranya sendiri. Terlepas dari semua hal memuakkan tersebut, Chanyeol tahu wanita paruh baya itu tetaplah seorang Ibu yang kerap mencemaskan putranya.
Namun dari sekian banyak interaksinya dengan nyonya Park hanya beberapa momen saja yang ia dan wanita paruh baya itu lewati sebagai sepasang Ibu dan anak. Dan sisanya sudah dapat—
"Besok lusa keluarga kita akan mengadakan pertemuan dengan keluarga Byun untuk membicarakan perjodohanmu dengan Baekhyun ke tahap yang lebih lanjut."
—di tebak.
Chanyeol mengeratkan pegangannya pada ponsel, ekspresinya kembali mengeras sementara benaknya seolah kembali ditimpa beban yang teramat berat. Sejenak pria itu membuang napasnya sedikit kasar, "Konyol jika Omma tidak tahu aku sudah mempunyai kekasih." Lalu menukas dengan suara jengah.
"Dan akan lebih konyol jika kau lupa bahwa sampai kapan pun Omma tidak akan menyetujui hubunganmu dengan wanita itu." Balas sang Ibu di seberang sana.
Chanyeol nyaris menggebrak meja kerjanya.
"Kita sudah sepakat tidak akan lagi membahas hubungan tidak pentingmu itu. Jangan pernah berpikir untuk bisa lari dari perjodohan ini." Dan nyonya Park kembali dengan suara memerintahnya.
Napas Chanyeol semakin memburu sementara matanya sudah memerah marah.
Benar-benar bukan hari yang bagus. Semua persoalan pelik itu seolah telah berada di ambang batas dari yang mampu ia hadapi.
Chanyeol benar-benar muak.
.
.
Gravity
.
.
Kyungsoo baru saja menjejakkan kaki di luar gedung department store ketika satu pesan di terima olehnya.
From: Jongin
Arah jam 9
Butuh beberapa jenak untuk mencerna isi pesan yang diterimanya tersebut sebelum kemudian si wanita mengikuti instruksi. Kyungsoo menoleh pada arah yang dimaksud, lalu seorang pria yang tengah berdiri di depan sebuah mobil sembari melempar senyum berbahaya dan melambaikan tangan kearahnya dari jarak belasan meter.
Kyungsoo sempat mengernyit ragu sebelum kemudian memberi isyarat pada Jongin untuk menunggu.
Wanita itu menekan speed dial di ponselnya hingga suara berat yang begitu ia rindukan terdengar di seberang sana.
"Kau di mana?"
"Astaga, apa aku lupa menjemputmu lagi?" Chanyeol menukas panik di seberang sana.
"Tidak, sayang. Aku hanya mau bilang tidak usah menjemput, aku ada janji dengan seorang teman." Sahut Kyungsoo sedikit ragu karena untuk ke sekian kalinya ia berbohong kepada Chanyeol, sebenarnya ia tidak memiliki niatan apapun dengan tidak berkata sejujurnya. Kyungsoo hanya takut mencemaskan Chanyeol yang entah mengapa akhir-akhir ini jadi sedikit berbeda yang mana Kyungsoo yakini mungkin kekasihnya itu terlalu disibukkan oleh tugasnya sebagai seorang dokter hingga kadang melupakan detail kecil seperti jam pulang kerja Kyungsoo dan mengakibatkan terlambat puluhan menit menjemput dirinya.
"Teman? Lagi?"
"Y-ya. Hei temanku sudah menunggu, tidak usah cemas aku bisa pulang sendiri nanti." Kyungsoo melirik kearah Jongin yang terihat mengetuk jam tangan kearahnya.
"Siapa temanmu itu? Bisa berikan nomor ponselnya? Jadi aku bisa menghubunginya jika ponselmu tidak aktif dan—"
"Chanyeol, aku akan baik-baik saja! Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil." Dan entah mengapa Kyungsoo tidak bisa menahan rasa kesal terhadap kekasihnya tersebut.
"Sayang kau tahu bukan itu maksudku. Aku hanya—"
"Mencemaskanku? Katakan itu beberapa hari ke belakang! Sebelum kau membiarkanku terkantuk-kantuk di depan gedung department store karena menunggumu menjemputku." Geram Kyungsoo dengan nada yang mulai meninggi.
"Kau tahu kesibukanku di rumah sakit tidak bisa diabaikan begitu saja, Do Kyungsoo." Desis Chanyeol dengan suara rendah di seberang sana.
"Ya. Maka dari itu berhenti mencemaskanku berlebihan jika kau saja belum cukup adil membagi waktumu." Sebenarnya Kyungsoo kesal dan marah, ia benci karena seolah kehilangan perhatian Chanyeol. Kyungsoo tidak bermaksud egois, namun selama ini ia sudah cukup mengalah pada kesibukan Chanyeol yang seakan menggeser posisinya sebagai prioritas utama kekasihnya tersebut.
"Hei ada apa?" Jongin yang sedari tadi memperhatikan Kyungsoo dari jauh tidak dapat lagi membendung rasa penasarannya dan memutuskan untuk menghampiri wanita itu.
Kyungsoo terperanjat hingga membuatnya memutus sambungan telepon secepat kilat saat suara Jongin terdengar di belakangnya.
"Apa ada masalah?" Jongin kembali bertanya.
Kyungsoo menelan salivanya kering, ia berusaha menetralkan debaran jantung yang sedari tadi memburu sebelum kemudian menggeleng pelan pada Jongin. "Tidak. Hanya persoalan kecil."
Jongin mengangguk samar. "Kau sudah makan?"
Kyungsoo kembali menggeleng. Hal yang membuat Jongin terkekeh karena merasa gemas jika Kyungsoo bertingkah seperti itu, lalu diusaknya rambut si wanita pelan.
"Mau makan apa?" Jongin mensejajarkan posisi tubuhnya dengan Kyungsoo, bertanya dengan nada perhatian sementara netranya sudah lebih dulu tertuju pada kedua bola mata Kyungsoo dengan melempar sorot hangat.
Sejenak Kyungsoo seperti lupa bagaimana caranya bernapas, karena lagi-lagi ia menyadari bahwa Kim Jongin benar-benar tampan. "Apa saja." Lalu menyahut setelah berhasil menyembunyikan kegugupannya.
"Baiklah. Ayo." Ajak Jongin sembari menautkan jemarinya pada jemari Kyungsoo lalu meninggalkan posisi menuju tempat di mana mobilnya terparkir.
"Sabuk pengamanmu, Kyungsoo." Jongin memperingati.
Kyungsoo menoleh setelah tersadar dari lamunannya, lalu melirik pada sabuk pengaman yang belum terpasang. Oh seharusnya ia sadar, pria di sampingnya saat ini bukanlah Park Chanyeol yang selalu siaga memasangkan sabuk pengaman untuk dirinya.
Jongin masih enggan menghidupkan mesin mobil, sebaliknya ia kembali melirik pada Kyungsoo karena merasa ada yang salah dengan wanita itu. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kau bisa ceritakan padaku? Apa ada masalah dengan kekasihmu itu?"
Jongin tahu Kyungsoo mempunyai seorang kekasih, karena wanita itu yang menceritakannya sendiri. Ya. Jongin bahkan masih ingat binar bahagia saat Kyungsoo menceritakan tentang kekasihnya itu kepadanya.
Bisa dikatakan hubungan Jongin dan Kyungsoo sudah semakin dekat karena intensitas pertemuan mereka beberapa hari ke belakang. Maka tidak heran jika Jongin tahu bahwa Kyungsoo mempunyai kekasih, wanita itu begitu terbuka kepadanya.
"Tidak, Jongin. Hanya sedikit salah paham saja, aku yakin kita akan berbaikkan setelah ini." Sahut Kyungsoo diiringi helaan napas berat.
"Jika seperti itu, kenapa kau terlihat tegang sekali? Percayalah semuanya akan baik-baik saja."
"Tapi tidak dengan Ibuku." Gumam Kyungsoo seraya menggigit bibir, menahan tangis.
Kyungsoo akhirnya tidak dapat lagi memendam bebannya seorang diri, Park Chanyeol terlalu tidak bisa diandalkan akhir-akhir ini sementara dirinya tidak dapat bercerita kepada siapapun perihal masalah berat yang dihadapinya saat ini. Mungkin hal itu yang memacu pertengkarannya dengan Chanyeol beberapa saat lalu.
Kyungsoo terlalu lelah, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa saat ini?
"Hei tenang.. Apa yang terjadi pada ibumu? Katakan padaku."
Kyungsoo mengusap jejak air mata yang beberapa saat lalu lolos dari pelupuknya. "Ibuku.. Dia masuk rumah sakit. Jongin, aku tidak tahu selama ini Ibuku sakit parah. Aku tidak tahu bahwa kabar baik yang selalu dia beritahu kepadaku adalah bohong." Dan tangis Kyungsoo kembali pecah. "Dia membutuhkan pertolongan saat ini dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku—"
"Jangan menangis, kumohon. Kau punya aku, kita teman 'kan? Aku pasti membantumu. Sekarang berhenti menangis." Jongin tidak kuasa untuk tidak memeluk Kyungsoo dan merapalkan kalimat menenangkan sementara wanita di dalam dekapannya semakin terisak keras.
.
.
Gravity
.
.
Baekhyun kembali mencoba mengatur helaan napasnya yang memburu serta degup jantungnya yang berantakan saat ia mengikuti langkah kedua orang tuanya menelusuri lorong sebuah restoran Jepang.
Kaki telanjangnya berpijak pada kayu mahoni mengilat yang menjadi alas tempat di mana langkah itu semakin intens menuju ruang yang dikhususkan untuk para pengunjung vip.
Wanita yang kini memakai gaun berwarna pastel itu tampak mampu membius setiap orang dengan kecantikannya yang berlebihan.
Oh, Baekhyun harus berterimakasih kepada Luhan dengan kemampuan meriasnya yang luar biasa. Karena secara tidak langsung Luhan berperan penting dalam kesan pertama yang akan Baekhyun dapati dari kedua orang tua yang mungkin di masa depan akan menjadi Ayah dan Ibu mertuanya. Ya. Ini kali pertama Baekhyun bertemu secara formal dengan kedua orang tua Park Chanyeol.
Ahh, berbicara soal pria itu degup jantung Baekhyun semakin tak beraturan, karena mungkin beberapa detik lagi ia juga akan bertemu dengan pria yang tak ia lihat selama sepekan belakangan itu.
Salah satu staf restoran yang sedari tadi memandu langkah keluarga Byun tersebut berhenti di depan sebuah pintu dengan oranamen bergaya khas negeri sakura sebelum kemudian menggeser pintu tersebut untuk memberi akses bagi keluarga Byun masuk ke dalam ruang vip yang mana sudah di huni oleh tiga orang yang tak lain adalah keluarga Park.
Dan hal pertama yang Baekhyun jumpai ialah sepasang iris kelam beku yang tertuju kearahnya.
Oh, pria itu memang selalu sedingin itu.
Dan selalu terlihat setampan itu.
Baekhyun tidak harus menjelaskan detail dari penampilan Chanyeol seperti apa, karena jika pria itu sudah memamerkan dahinya yang cemerlang maka seluruh wajah dengan ketampanan tidak masuk akal itu akan memancar dengan sendirinya.
Ketampanan yang terkesan angkuh bukan?
Setelah bertukar sapa dengan keramahan yang penuh kepalsuan dari kedua orang tua masing-masing, Chanyeol dan Baekhyun duduk berhadapan, terlihat kaku, canggung dan pasif.
"Aku pikir kalian sudah sering bertemu, ada apa dengan ekspresi malu-malu itu?" Tuan Park bersuara seraya menuduh kearah Chanyeol dan Baekhyun dengan nada bergurau yang membuat yang lainnya tertawa.
Chanyeol mencetak senyum miring yang tidak kentara, tengah terkagum-kagum pada suasana hangat yang mereka ciptakan dengan penuh kepalsuan.
"Apa kabar anda baik, Ahjussi?" Tanya Baekhyun pada tuan Park dengan suara lembut dan terdengar begitu sopan.
Tuan Park kembali tertawa. "Ya. Orang tua ini baik-baik saja, nak. Meskipun terkadang sudah tidak mampu duduk terlalu lama di kursi presdir." Sahutnya dengan gurauan yang tentu saja ditanggapi lain oleh kedua orang tua Baekhyun.
Mereka tahu, tuan Park tengah menyombongkan diri.
"Anda harus menjaga kesehatan, Park sajangnim." Nyonya Byun bersuara seraya melempar ekspresi sedih dan cemas berlebihan.
"Ahh ya, orang tua ini memang sedikit sulit diatur, apa gunanya memiliki seorang anak dengan gelar dokter terbaik jika menjalani perawatan saja selalu menolak." Nyonya Park menyahut dengan masam, seolah tengah kesal kepada suaminya.
Lagi-lagi bersembunyi dibalik topeng angkuh dan sombong.
Baekhyun menunduk sementara Chanyeol masih menata kesabarannya kepada ulah setiap orang tua yang berada di ruangan itu, yang seolah tengah mempertegas otoritas masing-masing.
Benar-benar memuakkan.
Ralat. Sebenarnya tidak sepenuhnya memuakkan, karena fokus Chanyeol sudah terlanjur terbagi pada si wanita yang kini duduk di hadapannya, pada gaun pastel anggun yang dikenakannya, pada riasan wajah yang membuatnya tampak berjuta kali lebih cantik atau bahkan pada kegugupan yang terpampang jelas di wajah mungilnya yang lucu.
Setelah bersenda gurau diselingi tawa menggelegar dari tuan Byun dan juga tuan Park, akhirnya salah satu penguasa berotoritas tinggi itu memanggil beberapa pelayan untuk segera menyajikan makanan yang sebelumnya sudah dipesan.
Tak berapa lama, pintu ruang vip itu terbuka. Menampilkan beberapa pramusaji dalam balutan pakaian adat jepang yang begitu kentara.
Posisi duduk Chanyeol yang pada dasarnya menghadap langsung pada pintu membuat pria itu seketika menelan kering, kedua korneanya melabar, ekspresi terkejut sontak bergelayut di wajahnya sesaat setelah atensi itu bertemu pandang dengan sepasang mata bulat yang juga tertuju padanya dengan ekspresi yang sama terkejutnya.
Apa yang kekasihnya itu lakukan di sana?
Mengapa Kyungsoo berpakaian sama dengan beberapa pramusaji lainnya?
Otak Chanyeol masih mencoba mencerna berjuta skenario, sementara Kyungsoo sudah lebih dulu berlutut di depan para tamu vip tersebut.
Kini, Baekhyun pun sama terkejutnya. Wanita itu membagi tatap pada Chanyeol yang masih enggan berpaling dari Kyungsoo yang juga mulai menyadari kehadiran Baekhyun di sana.
Tangan Kyungsoo yang terulur menyajikan beberapa menu makanan itu bergetar hebat dan hal tersebut tak luput dari pengawasan nyonya Park yang pada awalnya juga tidak menyangka bisa bertemu dengan Kyungsoo di saat yang menurutnya begitu tepat.
"Apa sebaiknya Chanyeol dan Baekhyun langsung menikah saja? Saya rasa jika mereka bertunangan lebih dulu akan—"
Ucapan nyonya Park terinterupsi saat Kyungsoo dengan tidak sengaja menumpahkan sepoci arak yang hendak wanita muda itu taruh di atas meja saji dan akibatnya pakaian Chanyeol terciprat dan basah.
"Ma-mafkan sa-saya.." Cicit Kyungsoo dengan suara bergetar menahan tangis. Dan sekarang ia menyesal karena menerima tawaran Jongin untuk bekerja sambilan di restoran milik temannya tersebut. Hanya karena ia membutuhkan uang lebih untuk biaya pengobatan sang Ibu yang saat ini terbaring lemah di rumah sakit.
Nyonya Park tersenyum puas penuh kemenangan.
Kyungsoo tidak asing dengan perasaan tersakiti, karena nyaris sepenggal usianya dihabiskan dengan menangisi kepahitan yang hidupnya alami. Namun ternyata semua itu tidak sebanding dengan apa yang ia alami saat ini. Tidak sepedih seperti sekarang ini.
"Bagaimana bisa restoran seelit ini memperkerjaan amatiran sepertinya?" Gumam nyonya Byun dengan nada sinis yang ia lontarkan pada kesalahan Kyungsoo. Meski sebenarnya ada perasaan aneh saat wanita paruh baya itu melihat Kyungsoo. Dimana nyonya Byun pernah melihat wajah tidak asing itu?
"Maafkan kesalahan staf kami, tuan dan nyonya. Dia masih baru." Salah satu manager yang sedari tadi menuntun para pramusaji yang dikhususkan untuk pengunjung vip tersebut memohon maaf dengan nada menyesal. Lalu mengisyaratkan kepada Kyungsoo untuk keluar dari sana.
Tidak ada yang tidak tahu dengan otoritas yang dimiliki oleh tuan Byun dan tuan Park. Kesalahan sedikit saja akan membuat restoran tersebut gulung tikar.
"Sekali lagi kami memohon maaf." Ujar sang manager untuk ke sekian kali sebelum kemudian berlalu setelah tuan Park mengibaskan tangan dengan gestur mempersilahkan untuk pergi.
"Saya permisi ke toilet." Chanyeol beranjak dari tempatnya, lalu berlari secepat kilat mencari keberadan Kyungsoo yang beberapa saat lalu hilang dari pandangannnya.
Baekhyun masih mematung dengan ekspresi terkejut luar biasa, dadanya dipenuhi rasa sesak. Bukan karena tatapan mencintai yang begitu dalam yang Chanyeol tujukan pada Kyungsoo beberapa saat lalu, melainkan pada ekspresi terluka yang jelas terpatri di wajah Kyungsoo.
Baekhyun tahu, ia bisa merasakan betapa hancurnya perasaan Kyungsoo saat ini.
"Ahh, sepertinya Park Chanyeol-ssi butuh bantuan. Saya akan menyusulnya." Baekhyun memohon ijin pada para tetua yang tengah sibuk menyantap makanan.
Mereka semua mengangguk setuju, karena mereka pikir Baekhyun akan melakukan pendekatan lebih terhadap Park Chanyeol.
.
"Dengarkan aku, Do Kyungsoo!" Chanyeol meraih pergelangan Kyungsoo dan menariknya wanita yang tengah menangis itu ke dalam pelukannya.
"Lepaskan aku, lepas!" Kyungsoo meronta hebat sembari memukul dada kekasihnya berulang kali.
"Ku-kumohon dengarkan aku!"
"Apa ini yang selama ini kau sembunyikan, huh?" Isak tangis Kyungsoo semakin menjadi.
Satu hal seolah semakin jelas, tentang tidak masuk akal kesibukan Park Chanyeol selama ini, tentang arti tatapan yang Chanyeol tujukan pada Baekhyun saat terakhir kali mereka bertiga bersama.
Dan lebih menyedihkan, Kyungsoo baru tahu bahwa mereka berdua sudah saling mengenal atau bahkan lebih buruknya mereka adalah dua orang yang akan terikat dalam suatu hubungan pernikahan.
Kyungsoo meronta kembali, sebelum kemudian menampar Chanyeol dengan cukup keras. "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini, Park Chanyeol." Ia masih saja tersedu-sedu saat suara pria lain terdengar.
"Kyungsoo?" Jongin menaikkan sebelah alis sebelum kemudian melangkah cepat saat mendapati Kyungsoo menangis.
Chanyeol tidak asing dengan suara itu, setelah menecerna lebih jauh ia ingat suara itu adalah suara yang terakhir kali ia dengar saat bertengkar dengan Kyungsoo di telepon sebelum kemudian kekasihnya itu memutus sambungan secara sepihak.
Siapa pria itu?
"Hei, apa yang terjadi?" Jongin menangkup wajah Kyungsoo, hal yang sontak membuat Chanyeol bereaksi.
"Siapa yang kau sentuh?" Chanyeol menghempas tangan Jongin dari kekasihnya.
Ekspresi Jongin mengeras. "Apa dia yang membuatmu menangis?" Alihnya lagi kepada Kyungsoo.
"Ikut aku, kita pulang." Chanyeol menarik tangan Kyungsoo cukup keras hingga membuat wanita itu merintih pelan.
"Jangan kasar seperi itu!" Balas Jongin sembari meraih tangan Kyungsoo yang lain.
"Siapa kau? Jangan ikut campur urusanku dan Kyungsoo." Geram Chanyeol yang sudah mengilatkan amarah mendalam di kedua bola matanya.
"Lepaskan aku, Park Chanyeol!" Kyungsoo berteriak masih diiringi tangis pecahnya.
Lalu beberapa detik setelahnya Kyungsoo berakhir di pelukan Jongin, meredam tangis di dada bidang pria itu.
"Do Kyungsoo." Chanyeol membeo tidak percaya atas penolakan kekasihnya.
"Bawa aku pergi dari sini, Jongin. Kumohon." Cicit Kyungsoo dengan suara lemah, seluruh tenaganya seolah terkuras habis.
"Baik, kita pergi dari sini." Sahut Jongin dengan menggandeng Kyungsoo dan melempar ekspresi sengit kepada Chanyeol.
Chanyeol memaki lalu meremas rambutnya frustasi. Ia berteriak pada dinginnya udara sebelum kemudian suara lembut yang entah mengapa terdengar memuakkan menyapa indera pendengarannya.
.
Baekhyun masih mencari keberadaan Chanyeol dan Kyungsoo. Ia tidak bisa membiarkan Kyungsoo salah paham dan membuat hubungan wanita itu dengan Chanyeol hancur. Baekhyun tidak ingin hal itu terjadi, ia tidak bisa menjadi satu-satunya alasan atas hancurnya hubungan Chanyeol dan juga Kyungsoo.
Wanita itu menjejakkan kakinya semakin jauh, lalu berbelok menuju halaman lain restoran saat mendengar teriakan diselingi tangis. Baekhyun memejamkan mata, lalu meremas dadanya.
Kyungsoo menangis, dan Baekhyun menyalahkan dirinya atas hal itu.
Wanita itu menggeleng pelan sebelum kemudian bertekad akan menjelaskan semuanya kepada Kyungsoo.
Ada denyut samar di kepala Baekhyun saat ia melihat Park Chanyeol tengah memaki sendirian di kegelapan malam.
"Di mana Do Kyungsoo-ssi?" Ujar Baekhyun dengan panik karena baru menyadari Kyungsoo tidak berada di sana.
Chanyeol tidak menyahut, justru melempar ekspresi dingin kepada Baekhyun.
"Aku tanya di mana Kyungsoo-ssi?!" Baekhyun semakin panik sementara denyut di kepalanya kian berulah.
"Untuk apa kau menanyakan keberadaannya, huh?" Desis Chanyeol terdengar menahan amarah.
"Aku harus menjelaskan semua padanya, dia hanya salah paham dan—"
"Apa kau pikir dengan itu bisa membuat semuanya kembali seperti semula?" Chanyeol semakin menekan nada suaranya hingga ke dasar. Memang sebenarnya ia tengah membutuhkan pelampiasan atas kemarahannya dan kekesalannya yang telah di ambang batas.
Baekhyun menunduk takut. Dia tidak pernah melihat Chanyeol semarah itu. "Ti-tidak seperti itu.. Ak-aku hanya.. berusaha—"
"Thats why you have to stop!" Dan Chanyeol tak mampu lagi membendung kemarahannya. Pria itu berteriak lantang pada Baekhyun.
Si wanita mendongak diiringi ekspres terkejut.
"Berhenti.. Berhenti berusaha!" Desis Chanyeol dengan nada yang seolah mengandung belati, menghantam ulu hati Baekhyun secara telak.
Si pria terengah sementara matanya sudah memerah basah, seolah tengah menunjukan betapa marahnya ia saat ini. Lalu sedetik kemudian ia menyadari bahwa perkataannya tersebut ialah fatal.
Satu tetes cairan bening lolos dari pelupuk mata Baekhyun. Dadanya kembali dipenuhi sesak, sebentuk perasaan yang timbul sesaat setelah matanya menangkap padangan yang Chanyeol tunjukan, seolah ia adalah parasit, seperti menegaskan bahwa Baekhyun benar-benar pengganggu.
Sorot yang lekat akan luka mendalam akibat perkataan Chanyeol sesaat lalu jelas terpampang di kedua bola mata Baekhyun. Wanita itu masih mematung di posisi sebelum kemudian tawa canggung keluar dari mulutnya.
Sebentuk reaksi yang tengah berusaha mati-matian menutupi luka di hatinya saat ini.
"Ahh, maaf karena aku terbiasa melalui semuanya dengan berusaha." Cicit Baekhyun masih diselingi tawa kaku, karena jelas ia tengah menahan tangis.
Tidak ada yang mampu Baekhyun lakukan selain berusaha, berusaha untuk tetap menjadi seorang anak yang dibanggakan oleh kedua orang tuanya. Berusaha menjadi seseorang yang berlapang dada atas semua kesulitan yang harus dilaluinya, atau bahkan yang terdengar paling konyol sekaligus menyedihkan adalah berusaha agar tetap mampu menghirup jutaan partikel udara yang sudah semakin sulit ia gapai.
Ekspresi Chanyeol melunak.
Apa yang telah ia lakukan?
Mengapa ia melampiaskan kemarahannya kepada Baekhyun?
Lalu perlahan sebuah rongga penyesalan menghuni di dalam hati pria itu.
"Umm," Baekhyun menggigit bibir bawahnya cukup keras untuk mengalihkan denyut nyeri yang memenuhi kepalanya. "Kalau begitu aku akan kembali ke dalam." Baekhyun berbalik sebelum membawa langkah pelannya.
Dapat Chanyeol lihat bahu sempit itu bergetar hebat.
Demi Tuhan apa yang telah ia lakukan?
Kembali, pria itu meradang, memaki furstasi pada keheningan malam.
.
Baekhyun tersenyum setelah duduk kembali di samping orang tuanya.
"Di mana Chanyeol, nak?" Tanya nyonya Park.
"Oh ya, mendadak rumah sakit menghubunginya. Sepertinya darurat, jadi dia memintaku menyampaikan maaf karena harus pergi." Sahut Baekhyun penuh perhatian.
"Anak itu! Dasar tidak sopan!" Gerutu tuan Park dengan suara pelan.
"Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan." Tukas Baekhyun yang sontak membuat semua mata tertuju padanya.
Wanita itu rasa ia memang harus melakukannya.
Dalam hati ia merapalkan doa agar Tuhan memberinya kekuatan saat ini. Karena apa yang akan ia katakan setidaknya akan menuai reaksi yang tidak menyenangkan dari semua orang.
Ya. Ia harus mengatakannya sekarang sebelum kesadarannya terenggut oleh denyut nyeri yang semakin menjalar di balik batok kepalanya.
.
.
Gravity
.
.
Dua minggu pasca pertemuan terakhirnya dengan Kyungsoo atau bahkan dengan Baekhyun, Chanyeol memilih tinggal di apartemen pribadinya. Demi menghindari hal-hal yang akan semakin membuatnya kalut.
Namun hal itu tetap tidak mempengaruhi aktifitasnya sebagai seorang dokter, Chanyeol tetap pergi ke rumah sakit dan menjalankan kewajibannya. Meski ia berkali-kali menolak untuk bertemu dengan Ibunya yang kerap datang ke rumah sakit.
Chanyeol juga sempat beberapa kali mengunjungi apartemen Kyungsoo namun ia tak mendapati kekasihnya itu berada di sana.
Sebenarnya di mana Kyungsoo berada saat ini?
Dan dari semua hal yang terbenam dalam benaknya akhir-akhir ini, yang paling mengganggunya ialah satu nama.
Byun Baekhyun.
Apa wanita itu baik-baik saja?
Chanyeol memejamakan matanya erat tatkala mengingat kejadian terakhir, yang mungkin adalah satu-satunya interaski penuh ketegangan yang pernah terjadi bersama Baekhyun.
Si pria meremas rambutnya kuat ketika ekspresi terluka yang wanita itu perlihatkan di balik tawa konyolnya kembali terngiang.
Demi Tuhan.
Chanyeol tidak bermaskud menyakiti hatinya, ia hanya merasa wanita itu sudah keterlaluan.
Ya. Wanita itu telah lancang masuk ke dalam hidupnya, memporak porandakan perasaannya, menjadikannya pengkhianat yang berpaling dari kekasihnya sendiri, dan merenggut segala konsentrasi Chanyeol.
Itulah alasan sebenarnya mengapa Chanyeol begitu marah waktu itu.
Tidak. Bahkan sekarang ia masih merasa begitu marah karena alasan yang benar-benar konyol.
Konyol karena entah mengapa Chanyeol perlu melihat wajah itu, ia ingin mendapati senyuman yang kerap berhasil menukar fokusnya. Chanyeol ingin menemuinya, ingin mengatakan bahwa Chanyeol benar-benar marah karena ingin menemuinya dengan teramat sangat. Bahwa Chanyeol menyesal, bahwa pria itu ingin meminta hukuman atas semua perkataannya yang menyakitkan.
See?
Bukankah wanita itu benar-benar sudah keterlaluan membuat Chanyeol segila itu?
Satu nada pesan masuk membuyarkan lamunan Chanyeol yang sedari tadi berdiri menghadap kaca besar apartemennya. Sebenarnya Chanyeol ingin mengabaikan, karena entah sudah berapa puluh pesan dan panggilan yang masuk ia biarkan terbengkalai. Namun begitu melihat nama pengirim pesan yang baru saja masuk, Chanyeol tidak bisa begitu saja mengebaikannya.
From: Kris Hyung
Aku perlu membicarakan sesuatu dan aku akan sangat berterimakasih jika kau datang ke rumah sakit sekarang.
Ada dengan Kris?
Mengapa isi pesannya terkesan begitu penting?
Chanyeol menghela napas berat sebelum kemudian berpaling dari jendela kaca raksasa dan menyambar coat lalu keluar dari apartemen menuju lantai basement.
Chanyeol benar-benar tidak bisa menahan rasa penasarannya, karenanya ia melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi demi bisa sampai di rumah sakit tempat Kris bertugas dengan cepat.
Setelah menempuk jarak yang cukup jauh, pria itu keluar dari mobil dan berjalan di sekitar lantai basement rumah sakit sebelum kemudian memasuki elevator menuju lantai di mana ruangan kerja Kris berada.
Chanyeol memang kerap hilir mudik ke rumah sakit tersebut, entah untuk urusan pribadi atau menyangkut pekerjaannya. Karenanya ia sudah begitu akrab dengan medical staf yang berada di bangsal tempat Kris bertugas.
"Selamat siang, dokter Park. Ada yang bisa saya bantu?" Salah satu petugas administrasi menyapa Chanyeol dengan ramah.
Chanyeol menunduk singkat. "Saya sudah ada janji dengan dokter Wu."
"Ahh ya, beliau sedang berada di instalasi radiologi. Mari saya antar."
Chanyeol mengangguk sebelum akhirnya mengekori dari belakang.
"Dokter Wu ada di dalam, silahkan masuk." Ujar sang petugas sembari menuding pada ruang operator sesaat setelah sampai di tempat yang dituju.
"Terimakasih." Tukas Chanyeol yang lalu membiarkan dirinya masuk.
Kris menyambutnya, namun atensi Chanyeol telah dulu tersita pada sesosok wanita yang berada di seberang ruang operator yang kini dipijaknya.
Tubuh mungil itu terbaring dan dikelilingi oleh alat-alat pembangkit radiasi yang beberapa kali menyinari keseluruhan tubuhnya.
"It's already been one week." Kris bersuara meski enggan melemahkan atensinya dari Baekhyun di seberang sana.
Chanyeol melirik pada Kris.
"Aku tidak tahu apa yang merasukinya sehingga memaksa ingin menjalani kemoterapi dan bahkan bersedia melakukan terapi radiasi. Meski begitu aku sangat bersyukur akan hal itu."
"How much weight she has lost?" Tanya Chanyeol dengan suara parau, ulu hatinya sudah semakin sesak melihat kondisi Baekhyun saat ini.
Seolah ada ada luka tak kasat mata di balik tulang rusuknya.
"Lumayan banyak, bisa kau lihat sendiri keadaannya." Kris menjeda kalimatnya untuk sekedar memberi intruksi pada ahli radiologi yang sedari tadi bersamanya. Dan setelahnya ia kembali beralih pada Chanyeol. "Dia mengalami begitu banyak kesulitan karena baru memasuki tahap awal kemoterapi. Maka dari itu aku menghubungimu. Kau tahu? Tidak banyak orang yang dia kenal selain Luhan, kau dan aku. Aku akan mengesampingkan pertanyaan tentang apa hubungan yang kalian miliki, karena yang paling penting saat ini dia membutuhkan dukungan moril dari orang-orang yang dikenalnya. Karena aku sudah membicarakan hal ini kepada Luhan dan dia selalu tutup mulut perihal orang tua Byun Baekhyun."
Ada sunyi yang memenuhi atmosfer. Pandangan Chanyeol masih lekat pada wanita yang beberapa hari terakhir begitu ingin ia temui. Dan tentu saja Chanyeol tidak akan membiarkan wanita itu menghilang dari pandangannya, terlebih setelah ia mendengar penuturan Kris.
"Sudah selesai?" Tanya Kris pada ahli radiologi yang dijawab dengan formal. "Segera emailkan hasil laporannya secepatnya."
"Aku akan mengantarnya kembali ke kamar. Kau bisa mengunjunginya nanti malam." Tukas Kris pada Chanyeol sebelum kemudian keluar dari ruang operator.
.
.
Chanyeol tidak pulang, atau untuk sekedar melangkahkan kaki sedikit lebih jauh dari kamar inap Baekhyun saja ia enggan. Pria itu masih setia menunggu malam tiba, meski sesekali ia mencoba mencuri lihat dari celah pintu, penasaran sekaligus mengkhawatirkan kondisi Baekhyun.
Kemoterapi memang bukanlah suatu hal yang dapat diputuskan dengan mudah, namun Chanyeol yakin Baekhyun bisa melewati semua efek samping yang diakibatkan oleh penggunaan zat kimia ataupun obat-obatan yang bertujuan membunuh sel-sel kanker. Meski hati Chanyeol kembali tercubit melihat wajah pucat itu, melihat selang-selang mencuat dari pergelangan tangan si wanita yang terakhir kali ia lihat tidak sekecil itu.
Baekhyun kehilangan banyak berat badan, salah satu efek samping yang paling umum dari kemoterapi sendiri adalah kehilangan nafsu makan.
Dan Chanyeol yakin Baekhyun mengalaminya.
Tuhan. Wanita itu benar-benar mengalami masa-masa yang begitu sulit, satu hal yang membuat rasa bersalah Chanyeol kembali terasa.
"It's okay, B. Aku di sini, muntahkan jika benar-benar terasa mual."
Terdengar suara wanita lain di dalam kamar inap Baekhyun, seorang wanita yang mungkin bernama Luhan yang sempat Kris ceritakan.
Chanyeol mengepalkan kedua tangan menyaksikan bagaimana Baekhyun dengan segala upayanya menahan sakit, menahan tangis, dan mencoba agar tetap terlihat kuat.
Demi Tuhan.
Wanita itu tengah kesakitan. Dia tidak baik-baik saja, namun mengapa ia menyembunyikan semua itu? Mengapa Baekhyun senang sekali bersembunyi di balik senyuman kepura-puraannya?
Chanyeol sudah tidak mampu menahan beban tubuhnya yang seolah kehilangan tenaga, lututnya seakan luruh, ia tidak kuat lebih lama menyaksikan penderitaan Baekhyun. Dan entah sudah berapa jam atau lamanya pria itu duduk di kursi koridor karena menunggu malam tiba.
"Permisi, Park Chanyeol-ssi?"
Pria itu menengadah, mata lelahnya bertemu pandang dengan sepasang mata rusa yang menelitinya dengan sorot yang bisa dikategorikan tidak terlalu ramah.
"Ya?" Chanyeol melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan lalu seketika beranjak dari kursi, ia hendak meraih knop pintu kamar inap Baekhyun namun Luhan telah lebih dulu menginterupsi dan mengajak untuk berbincang beberapa jenak.
"Apa aku bisa mempercayakan Baekhyun kepadamu malam ini?"
"Kau bisa mempercayakannya padaku setiap saat jika perlu." Sahut Chanyeol dengan yakin.
Namun tidak dengan Luhan, wanita itu tersenyum remeh, seperti menegaskan bahwa ia sangsi dengan ucapan Chanyeol tersebut. "Jangan berbicara seolah kau mampu menepati ucapanmu tersebut."
"Maaf?"
Luhan menghela napas lelah, satu detik berikutnya ekspresi wajahnya menunjukan kesedihan yang mendalam. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian terakhir kali, tapi apapun yang telah kau katakan pada Baekhyun benar-benar membuatnya kesulitan. Maaf untuk mengatakan ini tapi dia benar-benar tertekan luar biasa saat tuan dan nyonya Byun mengusirnya dari rumah hanya karena dia membatalkan perjodohan kalian."
Chanyeol mencoba mercerna ucapan Luhan lebih jauh. Oh tidak, tapi ia tengah berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia dengar itu salah.
Melihat ekspresi terkejut yang Chanyeol lemparkan mau tak mau membuat Luhan berasumsi bahwa pria itu tidak mengetahui perihal Baekhyun yang membatalkan perjodohan mereka.
"Ya. Malam itu Baekhyun membatalkan perjodohan kalian secara sepihak. Dia tidak ingin menjadi parasit di antara hubunganmu dengan kekasihmu." Luhan sudah mulai berkaca-kaca. "Meskipun Baekhyun tahu resiko yang harus dia tanggung, karena menurutnya bukanlah hal asing jika dia diperlakukan tidak baik oleh orang tuanya, dan lagipula itu bukan pertama kalinya dia diusir dari rumah."
Chanyeol masih bungkam seribu Bahasa, dan satu hal tengah sadari betapa egoisnya ia selama ini.
"Tapi bukan itu masalahnya, Park Chanyeol-ssi." Luhan terisak pelan. "Baekhyun itu sakit, dia tidak setegar seperti yang terlihat. Dia tidak sekuat seperti yang selalu coba ditunjukannya. Dia sendirian dan kesulitan."
Luhan mencoba mengendalikan dirinya. "Aku tidak meminta atau menuntut apapun darimu selain memohon dukunganmu untuk Baekhyun. Karena seperti yang Kris bilang dia membutuhkan orang-orang terdekatnya saat ini. Karena orang tuanya terlalu tidak bisa diandalkan."
Mendengar kedua orang tua Baekhyun yang Luhan sebutkan membuat tangan Chanyeol kembali terkepal erat.
"Kau bisa menemuinya sekarang. Aku dan Kris sengaja menyarankanmu bertemu dengannya ketika dia sedang tidur, karena aku tahu betul dia akan menolak mentah-mentah bertemu denganmu jika dia merasa terlihat menyedihkan."
"Terimakasih." Sahut Chanyeol tanpa mampu berkata lebih, semua yang Luhan lontarakn telah menyita kosa katanya secara telak. Chanyeol tidak tahu harus mengatakan apa, karena rasa sesal sudah lebih dulu menguasai dirinya.
Tangan pria itu terulur pada pintu lalu menutupnya pelan sesaat setelah ia berada di dalam. Dan benar saja, Baekhyun tengah terlelap di sana.
Chanyeol duduk di kursi samping ranjang, tangannya terulur menggenggam jemari Baekhyun dengan amat hati-hati. "Maafkan aku." Bisiknya sembari memohon ampun, membawa tangan Baekhyun di depan wajahnya lalu menciumnya berkali-kali.
Chanyeol sudah tidak bisa menahannya lagi, air matanya lolos begitu saja dari pelupuk. Hatinya benar-benar sakit saat ini.
Mengapa ia dan Baekhyun bertemu dalam keadaan sesulit ini?
"Maafkan aku." Kembali Chanyeol bergumam dengan suara pelan penuh penyesalan. "Maaf karena sudah menempatkanmu dalam kesulitan. Maaf karena sudah menyakiti hatimu."
Chanyeol sadar bahwa posisi Baekhyun sama sulitnya dengannya.
Wanita itu hanya seseorang yang tidak tahu menahu dan terpaksa harus terjebak di antara hubungan Chanyeol dengan Kyungsoo.
Seharusnya Chanyeol tahu bahwa Baekhyun juga berada dalam posisi yang sulit, terkekang oleh keinginan orang tuanya sementara di sisi lain wanita itu tidak akan tega menghancurkan hubungan yang Chanyeol rajut bersama Kyungsoo.
"Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau mengorbankan dirimu sendiri?"
Ya. Dan seharusnya Chanyeol tahu bahwa Baekhyun adalah tipikal orang yang akan mementingkan kebahagiaan orang lain ketimbang dirinya sendiri.
Baekhyun masih setia terpejam, hanya terdengar suara dari elektrokardiogram yang menyahuti setiap perkataan Chanyeol.
Hingga beberapa saat jemari Baekhyun bergerak pelan, hal yang sontak membuat Chanyeol yang sedari tadi menunduk mengangkat kepalanya.
Baekhyun mengernyit dalam tidur. Seolah memberitahu bahwa ketika tengah terlelap pun beban yang ia tanggung terus mengikuti.
Chanyeol mengulurkan tangan lalu mengusap puncak kepala Baekhyun dengan pelan, namun yang didapatinya bukan Baekhyun yang semakin terlelap melainkan kelopak mata yang perlahan mengerjap karena merasa tidurnya terganggu.
Baekhyun membuka matanya pelan, lalu mencoba menajamkan atansi untuk mengenali lebih jauh sosok pria yang saat ini berada di sampingnya. Wanita itu masih bungkam meskipun ia telah menyadari bahwa Park Chanyeol lah pria yang tengah mengecupi punggung tangannya itu.
Karena Baekhyun yakin itu hanya mimpi.
"Mimpinya benar-benar terasa nyata." Gumam si wanita dengan suara serak sembari membelai wajah Chanyeol. "Tuhan mengabulkan doaku, meskipun hanya dalam mimpi." Baekhyun tersenyum samar sementara jari telunjuknya sudah lebih dulu bermain-main, entah itu mengukur seberapa panjang alis si lelaki atau seberapa tinggi hidung mancungnya.
Chanyeol bangkit dan sejurus kemudian mencondongkan tubuh, mengecup kening si wanita.
"Hm? Is this real?" Tanya Baekhyun dengan hati-hati sementara suaranya mulai bergetar.
Jika Park Chanyeol di hadapannya benar-benar nyata maka Baekhyun akan sangat takut.
Ia tidak ingin terlihat semenyedihkan ini di depan Park Chanyeol.
Sekali lagi, Chanyeol mengecup kening Baekhyun. Menenangkan wanita itu dari perasaan takut yang mulai terlihat mendominasi gestur tubuhnya.
Demi Tuhan. Melihat Baekhyun ketakutan seperti itu membuat Chanyeol kembali ditimpa perasaan menyesal mengingat ia telah meneriaki wanita itu dengan kasar tempo hari.
Dan Baekhyun sadar bahwa pria itu benar-benar nyata. Tak ada yang mampu ia lakukan selain membuang wajah, melirik kearah lain dan sebisa mungkin menyembunyikan wajah pucat pasinya dari jangkauan atensi Chanyeol.
Si pria duduk di samping tubuh Baekhyun, tangannya terulur menarik wajah Baekhyun dengan gerakan pelan."Hei.."Tukasnya sembari menatap lembut pada wanita yang terbaring di hadapannya.
Baekhyun menggigit bibir bawah. "It's embarrassing. Please don't look at me." Cicitnya sambil sesekali menekan bagian belakang kepalanya pada bantal, mencoba menyembunyikan helaian rambutnya yang memang beberapa hari terakhir telah rontok cukup ekstrim.
Chanyeol menggeleng. Membelai wajah Baekhyun penuh perhatian sementara netranya masih melekat pada iris basah si wanita. Seolah tengah memberitahu bahwa tidak ada yang harus wanita itu tahan atau sembunyikan, dia tidak sedang berada diatas panggung sandiwara atau tengah mencoba membodohi semua orang. "Kau tahu? Aku tidak peduli seperti apa dirimu terlihat sekarang." Si pria menukas, memberi jeda. Ia terdiam cukup lama, mengamati wajah mungil yang belakangan ini berputar di otaknya. "Kenapa kau membatalkannya, hum?" Lanjutnya bertanya setelah didera rasa penasaran yang teramat dalam.
Baekhyun mengerjap pelan, tengah menikmati bagaimana tangan Chanyeol membelai wajahnya. "Demi kebaikan kita semua. Aku tidak ingin melukai perasaan siapapun."
"Tapi kau melukai perasaanku, apa kau tahu?" Tukas Chanyeol dengan sungguh-sungguh.
Baekhyun kembali mengerjap, tidak mengerti. "Benarkah?"
Chanyeol mengangguk. "Anggap saja aku gila, tapi aku benar-benar tidak ingin perjodohan kita batal. Lalu apa yang akan kau lakukan untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu?"
"A-apa yang sudah kulakukan?" Baekhyun beringsut.
Satu reaksi yang memberi kesempatan bagi Chanyeol untuk ikut berbaring di sampingnya sebelum kemudian menjadikan lengan kokohnya sebagai bantal bagi si wanita.
"A-pa yang kau lakukan, Chanyeol-ssi?" Cicit Baekhyun.
"Aku tanya apa yang akan kau lakukan untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu, hum?" Chanyeol mengusakkan hidungnya pada puncak kepala Baekhyun.
"Hei, ki-kita sedang apa?" Tanya Baaekhyun polos.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku."
Tubuh Baekhyun semakin menegang, ia tidak tahu harus berbuat apa sementara geraknya telah terkunci oleh dekapan Chanyeol.
Astaga. Apa yang sedang pria itu lakukan?
"Aku masih menunggu jawabanmu."
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Apa aku melakukan kesalahan?" Gumam Baekhyun dengan suara pelan, berharap si pria tidak mengetahui kegugupannya.
"Kau tidak sadar bahwa kau sudah membuatku gila belakangan ini?" Bisik Chanyeol setengah mendesah.
Baekhyun bergidik karena merasa geli telinganya diterpa helaan napas Chanyeol. Lalu setelahnya ia merintih saat denyut di kepalanya kembali terasa.
"Sakit?" Tanya si pria tanpa repot-repot menyembunyikan perasaan cemasnya.
Baekhyun mengangguk. "Sakitnya jadi lebih sering setelah menjalani kemoterapi."
"Percaya padaku, kau pasti sembuh." Tukas Chanyeol meyakinkan.
"Benarkah?"
"Hm." Si pria mengangguk.
"Tentang membuatmu gila, aku tidak mengerti. Mengapa aku membuatmu gila?" Baekhyun masih mematung di dalam dekap Chanyeol tanpa mengalihkan atensinya dari deretan kancing kemeja yang dikenakan si pria.
"Aku sendiri tidak tahu. Tapi kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu itu."
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Baekhyun yang tanpa sadar membiarkan jari telunjuknya menghitung kancing kemeja Chanyeol.
"Bagaimana jika menikah denganku?"
Dengan begitu aku bisa membawamu pergi jauh dari jangkauan kedua orang tuamu.
Dengan begitu mereka tidak akan memperlakukanmu semena-mena lagi.
Dengan begitu kau bisa membagi penderitaanmu kepadaku.
Gerakan telunjuk Baekhyun berhenti tepat di kancing teratas, lalu matanya beralih pada kedua iris kelam yang menatapnya dengan sungguh-sungguh. Baekhyun kira itu hanya gurauan namun ia tak sedikit pun menemukan lelucon dari apa yang tersirat di kedua bola mata si pria.
Chanyeol mempersempit jarak, mensejajarkan posisi tubuhnya dengan Baekhyun lalu menatapnya penuh arti. "Menikahlah denganku, Byun Baekhyun-ssi." Tukasnya seraya menarik tengkuk Baekhyun dan melahap bibir si wanita yang terkesiap kaget.
.
.
.
TBC
.
.
.
AN:
Thor TBC nya tanggung. Ciye mau bilang gitu ciyeeee :v
Anyway aku lebih suka dipanggil Raisa deh daripada thor/min. Aku kan bukan superhero dan mimin uugghhh T~T
Ciyeee yang ngarep nemu yang ena ciyeeee wkwkwk :v
See you next chapt!
CHU~ :*
