Elfjoy137 Present
KYUMIN FANFICTION
Bared To You
Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast
Rate : M
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan, ada beberapa tokoh OOC
DLDR
Please enjoy ^^
Remake Novel karya SYLVIA DAY 'Bared To You'.
Hak cipta terjemahan Indonesia : Gramedia
This is mature story. Don't Like? Just Don't Read !
P.M : All is Sungmin's POV
Ok. Let's check this out !
.
.
.
~JOYER~
.
.
.
.
BAB 5
.
Aku menderita sakit kepala hebat akibat alkohol pada hari Sabtu pagi dan berpikir aku memang pantas mendapatkannya. Walaupun aku membenci Kyuhyun yang bersikeras menegosiasikan seks, pada akhirnya aku juga mengikutinya.
Setelah mandi air hangat yang lama, aku berjalan ke ruang duduk dan melihat Donghae di sofa bersama netbook-nya.
"Selamat pagi, sunshine." Seru Donghae.
Sambil menggenggam kafein yang sangat kubutuhkan, aku bergabung dengannya disofa.
Ia menunjuk kotak diujung meja."Itu datang untukmu ketika kau sedang mandi."
Aku mengambil kotak itu. Aku pun membukanya, didalamnya terdapat botol kaca berwarna kuning bertuliskan 'OBAT MABUK' dalam warna putih, dan secarik catatan yang diikat dengan tali di leher botol yang bertuliskan 'Minum aku'. Kartu nama Kyuhyun tergeletak di atas kertas tidu yang menahan botol itu.
Aku melirik Donghae yang menatap botol itu dengan ragu.
"Bersulang." Aku membuka tutup botol dan meminum isinya tanpa berpikir dua kali. Rasanya seperti sirup obat batuk yang manis. Aku mengelap mulut dengan punggung tangan dan menutup botol itu kembali.
"Apa itu?" tanya Donghae.
"Ini obat penghilang sakit kepala karena mabuk."Jawabku.
Donghae mengambil kotak itu dan mengeluarkan kartu nama Kyuhyun. Ia membalikannya, lalu mengacungkannya padaku. Di bagian belakangnya Kyuhyun menulis 'Telepon aku' dan menuliskan serangkaian nomor.
Aku menerima kartu tersebut, dan mencengkeramnya.
Ketika Donghae mencoba mengulurkan telepon kepadaku, aku menggeleng. "Belum. Aku membutuhkan kepala yang jernih untuk berurusan dengannya, dan aku masih pusing."
Donghae menekan sebuah tombol di netbook-nya dan printer dari sisi lain ruangan mulai memuntahkan kertas-kertas. Lalu ia menutup komputernya, meletakkannya di atas meja kopi.
Aku melirik jam dan melihatnya menunjukkan jam setengah sebelas. "Kurasa aku harus bersiap-siap."
"Aku menyukai hari spa bersama ibumu." Donghae tersenyum, dan senyum itu menyingkirkan sisa-sisa suasana hatiku yang buruk. "Aku merasa seperti dewa ketika kita selesai."
"Aku juga. Seperti dewi penggoda."
Kami begitu bersemangat ingin pergi sampai kami turun ke lantai bawah untuk menunggu mobil dan tidak menunggu resepsionis menelepon kami.
.
.
.
Setelah menghabiskan jam-jam yang menyenangkan di spa, ibuku dan Donghae menurunkanku di apartemen, lalu mereka pergi berburu pakaian baru untuk Kangin. Aku memanfaatkan waktu sendiri itu untuk menelepon Kyuhyun. Bahkan dengan privasi yang benar-benar kubutuhkan, aku menekan nomor teleponnya enam kali sebelum akhirnya aku benar-benar menghubunginya.
Ia menjawab pada deringan pertama. "Sungmin."
Terkejut karena ia tahu siapa yang menelepon, otakku buyar sejenak. Bagaimana ia bisa menyimpan nama dan nomor teleponku dalam daftar teleponnya? "Eh.. hai, Kyuhyun."
"Aku sedang berada satu blok dari sana. Katakana pada bagian penerimaan tamu bahwa aku akan datang."
"Apa?" Aku merasa aku melewatkan sebagian pembicaraannya, "Datang kemana?"
"Ke tempatmu. Aku sedang membelok di sudut jalan sekarang. Telepon bagian penerima tamu, Sungmin."
Ia menutup telepon dan aku menatap telepon, mencoba mencerna kenyataan bahwa Kyuhyun akan segera bersamaku lagi . Agak bingung, aku menghampiri intercom dan berbicara kepada bagian penerima tamu, memberitahu mereka bahwa aku memang menunggu kedatangan Kyuhyun, dan sementara aku bicara, Kyuhyun berjalan ke lobi. Beberapa saat kemudian, ia sudah berdiri di pintu apartemenku.
Saat itulah aku teringat bahwa aku hanya mengenakan jubah sutra sepanjang paha, dan wajah serta rambutku sudah ditata untuk acara makan malam. Kesan apa yang akan di dapatkan Kyuhyun dari penampilanku?
Aku mengencangkan tali jubahku sebelum aku membuka pintu. Aku kan tidak mengundangnya untuk merayuku atau semacamnya.
Kyuhyun berdiri di aula pintu masuk untuk waktu yang cukup lama,matanya menatapku dari kepala sampai ke ujung jari kakiku yang baru mendapat manicure. Aku juga tercengang melihat penampilannya. Penampilan Kyuhyun.
"Aku senang datang kesini dan melihatmu seperti ini, Sungmin." Ia melangkah masuk dan mengunci pintu dibelakangnya. "Bagaimana perasaanmu?"
"Baik. Berkat dirimu. Terima kasih." Perutku gemetar karena ia ada disana, bersamaku, yang membuatku merasa nyaris…..pusing. "Pasti bukan itu alasanmu datang ke sini."
"Aku datang ke sini karena kau menunggu terlalu lama untuk meneleponku." Matanya terlihat gelap ketika menatapku, wajahnya yang tampan di bingkai rambut indah gelapnya. "Ya ampun. Kau terlihat cantik, Sungmin. Aku tidak pernah menginginkan sesuatu sebesar ini."
Hanya dengan kata-kata sederhana itu, aku berubah panas dan membutuhkan. Aku terlalu rapuh. "Ada keperluan mendesak apa sehingga kau kesini?"
"Pergilah ke acara makan malam advokat itu bersamaku malam ini."
Aku melangkah mundur terkejut dan senang mendengar permintaannya. "Kau akan pergi ke sana?"
"Kau juga. Aku sudah memeriksanya, tahu bahwa ibumu akan hadir. Ayo kita pergi bersama."
Tanganku terangkat ke leher, otakku terpecah antara merasa aneh karena ia tahu tentang diriku dan merasa cemas karena apa yang dimintanya dariku. "Bukan itu maksudku ketika kukatakan bahwa kita harus menghabiskan waktu bersama."
"Kenapa bukan?" Pertanyaan sederhana itu di selingi nada menantang. "Memangnya kenapa kalau kita bersama-sama menghadiri acara yang pada awalnya ingin kita hadiri secara terpisah."
"Ini bukan acara pribadi. Ini acara yang dihadiri banyak orang."
"Lalu?" Kyuhyun melangkah mendekat dan menyentuh sejumput rambutku.
Ada dengkuran berbahaya dalam suaranya yang membuat tubuhku bergetar. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang besar dank eras, dan aroma maskulin kulitnya. Aku jatuh dalam pesonanya, semakin dalam seiring waktu berlalu.
"Orang-orang akan menarik kesimpulan sembarangan, terutama ibuku. Dia sudah mencium statusmu yang masih bujangan."
Kyuhyun menunduk, menempelkan mulutnya ke kelukan leherku. "Aku tidak peduli apa yang dipikirkan orang-orang. Kita tahu apa yang kita lakukan. Dan aku akan mengurus ibumu."
"Kalau menurutmu kau bisa melakukannya," kataku terengah, "kau tidak mengenalnya dengan baik."
"Aku akan menjemputmu jam tujuh." Lidahnya membelai nadi yang berdenyut liar di leherku, dan aku luluh, tubuhku melemah sementara ia menarikku mendekat.
Tetapi aku masih berhasil berkata, "Aku belum menjawab ya."
"Tetapi kau tidak akan menjawab tidak." Ia menggigit dau telingaku. "Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya."
Aku membuka mulut untuk memprotes dan ia menempelkan bibirnya ke bibirku, mendiamkanku dengan ciuman basah yang menggiurkan. Lidahnya membelai pelan dan menggoda yang membuatku ingin merasakannya melakukan hal yang sama di antara kakiku.
Tanganku terangkat ke rambutnya, membelainya, menariknya. Ketika ia memelukku, aku melengkungkan tubuh, melengkung kedalam pelukannya.
Tepat seperti ketika di kantornya, ia membaringkanku ke sofa sebelum aku sadar ia memindahkanku, mulutnya menelan suaraku yang terkesiap kaget. Jubahku terbuka karena jemarinya yang cekatan, lalu ia menangkup dadaku, meremasnya dengan lembut dan berirama.
"Kyuhyun—"
"Shh." Ia mengulum bibir bawahku, jemarinya membelai dan menarik puncak payudaraku yang lembut. "Aku hampir gila menyadari dirimu telanjang di balik jubahmu."
"Kau datang ke sini tanpa—Oh! Oh, Tuhan…."
Mulutnya mengulum puncak payudaraku, gelombang panas itu membuat kulitku berkeringat.
Mataku beralih panik ke jam di atas kotak kabel. "Kyuhyun, tidak."
Kepalanya terangkat dan ia menatapku dengan mata onyx nya yang menyala-nyala. "Ini gila, aku tahu. Aku tidak –aku tidak bisa menjelaskannya, Sungmin, tapi aku harus membuatmu mencapai kenikmatan. Aku sudah sering memikirkannya selama berhari-hari."
Sebelah tangannya menggapai daerah diantara pahaku. Pahaku terbuka tanpa kenal malu, tubuhku begitu bergairah sampai aku merasa panas. Tangan Kyuhyun yang lain terus membelai dadaku, membuatnya terasa berat dan sangat sensitive.
"Kau basah untukku," gumamnya, matanya meluncur menuruni tubuhku ke tempat ia membuka diriku dengan jemarinya. "Kau juga cantik di sini. Lembut dan kemerahan. Hari ini kau tidak melakukan waxing ,bukan?"
Aku menggeleng.
"Syukurlah. Ku rasa aku tidak akan bisa melewatkan sepuluh menit tanpa menyentuhmu, apalagi sepuluh jam." Ia menyelipkan satu jari dengan hati-hati.
Mataku terpejam karena merasa rapuh berbaring telanjang dan di sentuh oleh namja yang mengenal yeoja dengan sangat intim karena mengenal aturan-aturan dalam waxing. Seorang namja yang masih berpakaian dan berlutut di lantai di sampingku.
Kyuhyun menarik tangannya keluar dan dengan lembut mendesak masuk lagi. Punggungku melengkung sementara aku merenggangkan tubuhku menerima dirinya. "Kapan terakhir kali kau berhubungan seks?"
Aku menelan ludah dengan susah payah. "Aku sibuk. Aku harus mengerjakan tesis, mencari pekerjaan, pindah rumah…"
"Kalau begitu, sudah lama." Kyuhyun menarik tangannya keluar dan mendesak masuk dengan dua jari. Aku tidak bisa menahan erangan nikmat ku. Namja ini punya jemari yang ahli, penuh percaya diri dan berpengalaman, dan ia mengambil apa yang diinginkannya.
"Apakah kau minum pil pencegah kehamilan, Sungmin?"
"Ya." Tanganku mencengkram pinggiran bantal. "Tentu saja."
"Aku akan membuktikan bahwa aku bersih dan kau juga akan melakukan hal yang sama, lalu kau akan membiarkanku bercinta denganmu."
"Ya ampun, Kyuhyun." Aku terengah-engah karena sentuhannya, pinggulku menggeliat tanpa malu ke jemarinya yang mendesak. Aku merasa akan meledak kalau ia tidak membuatku mencapai klimaks.
Aku tidak pernah merasa sebergairah ini seumur hidupku. Aku nyaris gila karena membutuhkan orgasme. Kalau Donghae masuk sekarang dan melihatku menggeliat-geliat di ruang duduk sementara Kyuhyun menyentuhku, kurasa aku tidak akan peduli.
Kyuhyun juga terengah. Wajahnya memerah karena gairah. Untukku. Padahal aku tidak melakukan apa-apa-apa selain merespons tanpa daya padanya.
Tangannya yang menangkup dadaku bergerak ke pipiku dan membelaiku. "Wajahmu merona. Aku sudah membuatmu malu."
"Ya."
Senyumnya nakal sekaligus senang, dan itu membuat dadaku tercekat. "Aku ingin merasakanmu mencapai puncak kenikmatan ketika aku menyentuhmu. Aku ingin kau merasakan diriku dalam dirimu, jadi kau berpikir tentang bagaimana rupaku dan suara-suara yang ku keluarkan ketika aku mendesakkan diriku ke dalam dirimu. Dan sementara kau memikirkannya, kau akan menunggu saat-saat aku melakukannya lagi, lagi, dan lagi."
"Aku akan memberitahumu semua cara bagimu untuk memuaskanku, Sungmin, dan kau akan mengalami seks yang meledak-ledak, liar, tanpa kendali. Kau tahu itu, bukan? Kau tahu bagaimana rasanya nanti diantara kita."
"Ya," desahku, mencengkeram payudaraku untuk meredakan rasa sakit di puncak payudaraku. "Kumohon, Kyuhyun."
"Shh….aku akan mengurusmu." Ibu jarinya membelaiku dengan gerakan melingkar lembut. "Tatap mataku ketika kau mencapai puncak kenikmatan untukku."
Jemarinya bergerak dalam irama tegas dan tidak terburu-buru.
"Berikan kepadaku , Sungmin," perintahnya. "Sekarang."
Aku mencapai kenikmatan sambil berteriak serak, buku-buku tanganku memutih karena mencengkram erat tepi bantal sementara pinggulku mendesak ke tangan Kyuhyun, tidak lagi merasa malu.
Tubuhku lemah sementara ia meluruskan kakiku dan masih terengah-engah ketika ia mendaratkan ciuman-ciuman di perut dan payudaraku. Ia lalu menarikku ke dalam pelukannya. Aku menempel lemah dan pasrah dalam pelukannya sementara ia mencium mulutku dengan ke kasaran terpendam, membuat bibirku membengkak dan menunjukkan betapa dirinya sendiri nyaris mencapai klimaks.
Ia merapikan jubahku, lalu berdiri, menatapku.
"Kyuhyun…?" ucapku lirih.
"Jam tujuh, Sungmin." Ia mengulurkan tangan dan menyentuh pergelangan kakiku, ibu jarinya membelai gelang kaki yang kukenakan untuk acara malam itu. "Dan jangan lepaskan ini. Aku ingin menidurimu sementara kau hanya mengenakan ini."
.
.
BAB 6
.
.
"Hei, Appa. Aku berhasil menghubungimu." Aku memperbaiki cengkeramanku di gagang telepon dan menarik bangku dari meja makan. Aku merindukan Appaku. "Apa kabar?"
Ia mengecilkan volume televise. "Lebih baik, karena sekarang kau menelepon. Bagaimana minggu pertamamu di tempat kerja?"
Aku menceritakan hari-hariku dari hari Senin sampai hari Jumat, melewatkan bagian-bagian tentang Kyuhyun. "Aku benar-benar menyukai atasanku, Hangeng," aku mengakhiri cerita.
"Ku harap keadaannya tetap seperti itu. Tapi kau harus memastikan kau mendapat waktu luang. Pergi keluar, bersikaplah seperti anak-anak muda lain, bersenang-senang. Tetapi jangan terlalu bersenang-senang."
"Yah, aku sedikit terlalu bersenang-senang kemarin malam. Aku dan Donghae pergi ke kelab, dan aku terbangun dengan sakit kepala hebat."
"Jangan ceritakan padaku." Appaku mengerang. "Kadang aku terbangun dengan keadaan berkeringat dingin karena memikirkanmu di Seoul. Aku berhasil melewatinya dengan berkata pada diri sendiri bahwa kau cerdas dan tidak akan mengambil risiko, berkat dua orang tua yang mematri aturan0aturan keselamatan ke dalam DNA-mu."
"Itu benar," kataku sambil tertawa. "Aku jadi ingat… Aku akan mulai berlatih Krav Maga."
"Benarkah?" Jeda sesaat sementara Appa ku berpikir. "Salah seorang rekanku sangat menyukainya. Mungkin aku harus menyaksikannya dan kita bisa membuat perbandingan ketika aku pergi mengunjungimu."
"Appa akan datang ke Seoul?" Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku. "Oh, Appa, aku senang kalau kau bisa datang."
Ia terdiam sejenak lalu bertanya."Bagaimana kabar Eomma-mu?"
"Well… Eomma,dia. Cantik, mempesona." Dadaku sakit dan aku mengusapnya. Kupikir Appa ku mungkin masih mencintai Eomma ku. Ia tidak pernah menikah. Itu lah salah satu alasan aku tidak pernah memberitahunya apa yang terjadi padaku. Sebagai seorang polisi, ia pasti bersikeras mengajukan tuntutan dan skandalnya pasti akan menghancurkan Eommaku. Aku juga khawatir ia akan kehilangan rasa hormat terhadap Eommaku. Begitu Eommku tahu apa yang di lakukan putra tirinya padaku, ia meninggalkan suami yang membuatnya bahagia dan mengajukan tuntutan cerai.
Aku melirik jam, melihatnya sudah lewat jam enam. "Aku harus bersiap-siap sekarang. Berhati-hatilah saat bekerja, ya? Aku juga mencemaskan Appa."
"Pasti. Bye,Sayang."
Ucapan selamat tinggal yang tidak asimg itu membuatku begitu merindukannya sampai tenggorokanku terasa sakit. "Oh, tunggu! Aku akan membeli ponsel baru. Aku akan mengirimkan nomornya kepadamu setelah aku membelinya."
"Lagi?" Ucapnya heran.
"Ceritanya panjang dan membosankan." Ucapku. Kemudian aku kembali berkata, "Aku akan menelpon Appa lagi. Jaga dirimu."
"Seharusnya Appa yang mengucapkan itu, Sungmin sayang."
Aku tertawa sesaat sebelum mematikan telepon itu. Kemudian aku bergegas masuk ke dalam kamar dan bersiap-siap menghadapi malam ini bersama Kyuhyun.
.
.
.
"Kalung atau tanpa kalung?" Tanya ku kepada Donghae dengan memamerkan kalung perak yang ada di tanganku.
"Lupakan kalungnya," Kata Donghae. Lalu ia menyerahkan anting-anting kepadaku dan aku mengamati anting-anting sebesar lima sentimeter yang diberikan Eomma ku kepadaku pada ulang tahunku yang kedelapan belas. "Percaya padaku, Sungmin. Cobalah."
"Omong-omong, kau terlihat luar biasa." Ucapku setelah memakai anting-anting itu.
"Begitukah?" Ia mengerdipkan mata dan melangkah mundur memamerkan diri.
Dengan gayanya sendiri, Donghae bisa menandingi Kyuhyun. Donghae tidaklah sesempurna ini ketika aku pertama kali bertemu dengannya. Saat itu ia kurus kering. Tetapi aku tertarik padanya berusaha keras duduk disampingnya dalam terapi kelompok. Ia akhirnya mengajukan penawaran padaku dengan kasar, karena ia yakin bahwa satu-satunya alasan orang-orang berhubungan dengannya adalah karena mereka ingin tidur dengannya. Ketika aku menolak, dengan tegas dan tanpa ragu, akhirnya kami saling mengerti dan berteman baik. Ia adalah saudara laki-laki yang tidak pernah kumiliki.
Interkom berbunyi dan aku melompat kaget, membuatku sadar bahwa aku sangat gugup. Aku menatap Donghae. "Aku lupa memberitahu penerima tamu bahwa Kyuhyun akan kembali." Kataku.
"Aku akan menjemputnya." Ucap Donghae.
"Apakah kau tidak apa-apa semobil dengan Kangin dan Eomma ku?" Tanyaku.
"Apakah kau bercanda? Mereka memujaku." Senyumnya memudar. "Apakah kau ragu pergi dengan Cho itu?"
Aku menarik napas dalam-dalam, mengingat dimana aku tadi –berbaring bingung karena orgasme. "Tidak juga, tidak. Hanya saja segalanya terjadi begitu cepat dan lebih baik dari yang kuharapkan atau kuinginkan…"
"Aku menyelidikinya pagi ini dan mencetak hal-hal yang menarik. Ada di mejamu, kalau kau memutuskan untuk membacanya."
Aku tersenyum dan mengamati Donghae melenggang ke koridor. Pintu ditutup di belakangnya ketika aku berjalan ke ruang duduk kecil di samping kamar tidurku. Aku menemukan map berisi artikel-artikel dan gambar-gambar yang di cetakdi atas meja tulis. Aku duduk di kursi dan menenggelamkan diri dalam sejarah Cho Kyuhyun.
Rasanya seperti menyaksikan kecelakaan kereta api ketika membaca bahwa ia adalah putra dari mantan direktur perusahaan investasi sekuritas yang kemudian terkena kasus penipuan dana. Kyuhyun baru berusia lima tahun ketika ayahnya lebih memilih bunuh diri dengan cara menembak kepalanya daripada di penjara.
Oh, Kyuhyun. Aku membayangkan kondisi Kyuhyun yang masih kecil saat ayahnya bunuh diri, pasti sangat mengerikan bagi Kyuhyun dan ibunya.
Ibunya lalu menikah dengan Shim Kwangmin, eksekutif musik, dan memiliki dua orang anak lagi, Shim Changmin dan Shim Minji, tetapi sepertinya keluarga yang lebih besar dan keamanan finansial datang terlambat untuk membantu Kyuhyun menyeimbangkan diri setelah guncangan sebesar itu. Ia terlalu tertutup supaya tidak lagu menanggung luka emosional.
Dengan penasaran aku mempelajari wanita-wanitayang pernah di foto bersama Kyuhyun dan memikirkan pendekatan Kyuhyun tentang berkencan, bersosialisasi, dan seks. Aku menyadari bahwa mereka semua berambut coklat. Wanita yang paling sering bersamanya lebih tinggi dariku, lebih ramping, dan tidak montok.
"Jung Jessica," aku bergumam, dengan muram mengakui bahwa wanita itu memang cantik. Sikap tubuhnya memiliki kesan percaya diri yang kukagumi.
"Oke, sudah cukup lama," sela Donghae dengan nada geli. Ia berdiri di ambang pintu ruang dudukku, bersandar santai di bingkai pintu.
Aku tersenyum kepadanya, lalu aku keluar dari kamar tidur, berjalan menyusuri koridor ke ruang tamu. Aku berhenti di ambang pintu, mataku terpaku pada punggung Kyuhyun sementara ia berdiri di depan jendela memandang pemandangan kota. Posisi tubuhnya yang bersedekap menunjukkan keresahan, seolah-olah ia sedang kebingungan.
Ia merasakan kehadiranku, atau mungkin ia merasakan kerinduanku. Ia berputar, lalu bergeming. Aku mengambil kesempatan itu untuk mengamatinya, mataku menjelajahinya. Ia terlihat sangat berkuasa. Sangat tampan dan sensual sampai mataku perih hanya dengan melihatnya. Dan caranya menatapku….denyut nadiku melonjak.
"Sungmin." Ia menghampiriku, langkahnya anggun dan kuat. Ia meraih tanganku dan mengangkatnya ke mulut nya. Tatapannya sangat tajam –tajam dan panas.
Rasa bibirnya di kulitku membuat tangan ku merinding. "Hai." Sapaku.
Kilatan geli menghangatkan matanya. "Hai juga. Kau terlihat luar biasa. Aku tidak sabar ingin memamerkanmu."
Aku mendesah senang mendengar pujian itu. "Semoga saja aku bisa membuatmu bangga."
Kerutan samar menghiasi daerah di antara alisnya. "Apakah tidak ada yang tertinggal?"
Donghae muncul di sampingku, membawa selendang beludru hitam dan sarung tangan panjang. "Ini dia. Aku sudah memasukkan lipgloss-mu ke dompet."
"Kau memang yang terbaik, Donghae." Ucapku.
Ia mengerdipkan mata ke arahku –yang memberitahuku bahwa ia sudah melihat kondom yang ku selipkan ke dalam kantong kecil di bagian dalamnya. "Aku akan turun bersama kalian." Ucap Donghae.
.
.
.
Dua orang wanita sedang berdiri menunggu ketika pintu lift itu terbuka. Mulut mereka menganga saat melihat Kyuhyun dan Donghae.
"Ladies," Donghae menyapa mereka. Sebaliknya, Kyuhyun mengangguk singkat dan menuntunku keluar dengan tangan dibagian bawah punggungku, kulit bertemu kulit.
Aku meremas tangan Donghae. "Simpan satu dansa untukku."
"Selalu. Sampai jumpa nanti."
Sebuah limusin menunggu dipinggir jalan, dan si sopir membuka pintu ketika aku dan Kyuhyun melangkah keluar. Aku duduk disisi lain di dalam mobil dan merapikan gaunku. Ketika Kyuhyun duduk disampingku, pintupun tertutup. Lalu ia meraih tanganku dan membelai telapak tanganku. Aku melepaskan selendang, merasa terlalu panas untuk mengenakannya.
"Sungmin." Ia menekan tombol dan kaca privasi di belakang sopir pun terangkat. Setelah itu aku di tarik ke pangkuannya dan mulutnya menempel dimulutku, menciumku dengan ganas.
Aku melakukan apa yang sudah ingin kulakukan sejak aku melihatnya di ruang dudukku, aku menyisirkan tanganku di rambutnya dan balas menciumnya. Aku suka caranya menciumku, seolah-olah ia harus melakukannya, seolah-olah ia bisa gila bila ia tidak melakukannya.
Aku mengulum lidahnya, setelah tahu betapa ia menyukainya,setelah tahu betapa aku menyukainya, betapa hal itu membuatku merasa ingin mengulum bagian tubuhnya yang lain.
Tangannya meluncur di punggungku yang telanjang dan aku mengerang, merasakan desakan kejantanannya di pinggulku. Aku mengubah posisi duduk diatas pangkuannya, menyingkap rokku dan mengingatkan diriku untuk berterima kasih pada Eommaku atas gaunnya –yang memiliki belahan yang sangat praktis. Dengan lututku di kedua sisi pinggulnya, aku memeluk bahunya dan memperdalam ciuman. Aku menjilat mulutnya, menggigit bibir bawahnya, membelai lidahnya dengan lidahku …
Kyuhyun mencengkeram pinggangku dan mendorong ku menjauh. Ia bersandar dikursi, lehernya terdongak menatap wajahku, dadanya naik-turun."Apa yang kau lakukan padaku?"
Aku menggerakkan jariku menuruni dadanya, jemariku menelusuri otot perutnya, otakku membayangkan bagaimana penampilannya dalam keadaan telanjang. "Aku sedang menyentuhmu. Menikmati dirimu. Aku menginginkanmu, Kyuhyun."
Kyuhyun mencengkeram pergelangan tanganku, menghentikan gerakanku. "Nanti saja. Kita sedang beradadi tengah-tengah Seoul."
"Tidak ada orang yang bisa melihat kita."
"Bukan itu masalahnya. Ini bukan waktu atau tempat yang tepat untuk memulai sesuatu yang tidak bisa kita selesaikan selama berjam-jam. Aku sudah nyaris gila gara-gara siang ini." Katanya.
"Kita hanya perlu memastikan kita menyelesaikannya sekarang."
Cengkeraman tangan Kyuhyun mengencang menyakitkan. "Kita tidak bisa melakukannya di sini."
"Kenapa tidak?" Lalu sebuah gagasan mengejutkan terbersit dalam benakku. "Apakah kau belum pernah berhubungan seks di dalam limusin?"
"Belum." Rahangnya mengeras."Kau?"
Aku memalingkan wajah tanpa menjawab, melihat kendaraan dan para pejalan kaki berlalu lalang di sekitar kami. Kaca jendela yang gelap menghalangi pandangan mereka ke dalam limusin.
Aku menggesekkan pinggulku ke tubuhnya. Napasnya mendesis di antara giginya yang mengertak.
"Aku membutuhkanmu, Kyuhyun," kataku dengan suara terengah. "Kau membuatku tergila-gila."
Ia melepaskan pergelangan tanganku dan menangkup wajahku, bibirnya di tempelkan erat ke bibirku. Aku mengulur tangan ke bagian depan celana panjangnya, melepaskan dua kancing untuk menggapai menegang.
"Aku membutuhkan ini," bisikku di bibirnya. "Berikan kepadaku."
Ia mengerang, suaranya terdengar tersiksa sekaligus erotis. Aku meremasnya dengan lembut, sengaja menyentuhnya dengan lembut. Ia begitu keras, seperti batu, dan panas. Aku menggerakkan tanganku menyusuri tubuhnya dari bawah ke atas, napasku tersekat ketika ia gemetar karena sentuhanku.
Kyuhyun mencengkeram pinggulku, tangannya meluncur naik ke balik pinggiran gaunku sampai ibu jarinya menemukan celana dalamku yang berwarna merah dan berenda. "Tubuhmu sangat manis," gumamnya di mulutku. "Aku ingin membuka dirimu dan menjilatmu sampai kau memohon untukku."
"Aku akan memohon sekarang, kalau kau mau." Aku membelainya dengan satu tangan dan meraih dompetku dengan tangan lain, membukanya, dan mengambil kondom.
Salah satu ibu jarinya menyelinap ke balik pinggiran celana dalamku, menyentuh bukti gairahku. "Aku nyaris belum menyentuhmu," bisiknya, matanya berkilat-kilat menatapku di kursi belakang limo yang remang-remang, "tapi kau sudah siap untukku."
"Aku tidak bisa menahan diri."
"Aku tidak ingin kau menahan disi, Sungmin." Ia mendesakkan ibu jarinya ke dalam tubuhku, menggigit bibir bawahnya ketika aku merenggangkan tubuhku tanpa daya. "Itu tidak adil karena aku tidak bisa menghentikan apa yang kaulakukan padaku."
Aku membuka bungkusan itu dengan gigiku dan mengulurkan kondom kepadanya."Aku tidak pintar memasangnya."
Tangannya mencengkeram tanganku. "Aku melanggar semua aturanku bersamamu."
Nada suaranya yang rendah dan serius mengirimkan semburan kehangatan dan kepercayaan diri dalam diriku. "Aturan dibuat untuk di langgar."
Aku melihat seberkas giginya yang putih, lalu ia menekan tombol di panel di samping dan berkata. "Teruslah mengemudi sampai aku menyuruhmu berhenti."
Pipiku memanas. Lampu mobil lain menyinari kaca jendela yang hitam, dan meluncur melewati wajahku, memperlihatkan rasa maluku.
"Astaga , Sungmin," erangnya sambil memasang kondomnya dengan tangkas. "Kau membujukku melakukan seks di dalam limusinku, tetapi wajahmu memerah ketika aku berkata kepada suoirku bahwa aku tidak ingin diganggu sementara kau berhubungan seks denganku?"
Sikapnya yang mendadak bergurau membuatku sangat menginginkannya. Aku memegang bahunya untuk menyeimbangkan diri, berlutut, mengangkat diriku, dan menempatkan diriku di puncak kejantanan Kyuhyun. Tangannya terkepal di pinggulku dan aku mendengar suatu yang robek ketika ia menyentakkan celana dalamku. Suara mendadak dan gerakan kasar ini membuat gairahku melambung tinggi.
"Pelan-pelan saja," katanya dengan suara serak, mengangkat pinggulnya untuk mendorong celana panjangnya ke bawah.
Kejantanannya membelai daerah di antara pahaku ketika ia bergerak dan aku merintih, begitu mendamba. Ia menegang ketika aku mencengkeram tubuhnya dan memosisikannya, menyelipkannya ke dalam tubuhku. Aroma gairah kami terasa tajam dan lembap di udara, campuran menggoda dari gairah dan feromon yang membangkitkan setiap sel dalam tubuhku. Kulitku memanas dan tergelitik, payudaraku berat dan sensitif.
"Ya ampun, Sungmin," ia terkesiap ketika aku menurunkan tubuhku ke tubuhnya, tangannya meregang gelisah di pahaku.
Aku menerima lebih banyak dirinya, membiarkan Kyuhyun meluncur lebih dalam. Aku menarik napas dalam-dalam, merasa tubuhku terbuka begitu lebar.
Kyuhyun menempelkan telapak tangannya di bagian bawah perutku, ia menyentuhku dengan ibu jarinya dan mulai menekankan jarinya dalam gerakan melingkar lembut. Tubuhku menegang, membuatnya masuk lebih dalam. Aku membuka mata dan menatapnya dari balik kelopak mataku yang berat. Ia terlihat begitu tampan berbaring di bawahku dalam balutan tuksedonya yang anggun.
Lehernya di tengadahkan, kepalanya di desakkan ke sandaran kursi seolah-olah ia sedang berusaha melawan ikatan yang tak terlihat. "Ah, ya ampun," cetusnya, giginya mengertak. "Klimaksku akan luar biasa."
Keringat bermunculan di kulitku. Aku begitu basah dan panas sampai aku meluncur di tubuh Kyuhyun dengan mudah, sampai aku nyaris menerima keseluruhan dirinya. Teriakan terkesiap meluncur dari mulutku sebelum aku berhasil menerima tubuh Kyuhyun. TUbuh Kyuhyun mendesak begitu dalam sampai aku nyaris tidak tahan, memaksa diriku bergerak dari kiri ke kanan, mencoba meredakan sedikit rasa sakit yang muncul. Tubuhku menggelenyar di sekeliling tubuh Kyuhyun, meremas, gemetar di ambang puncak kenikmatan.
Kyuhyun menyumpah dan mencengkeram pinggulku dengan tangannya yang bebas, mendesakku mencondongkan badan ke belakang sementara dadanya naik turun karena tarikan napasnya.
Karena sangat menginginkan Kyuhyun, aku pun menempelkan mulutku ke mulutnya, jemariku mencengkeram akar rambutnya yang basah karena keringat. Aku menciumnya sementara aku menggerakkan pinggulku, menikmati sentuhan ibu jarinya.
Di tengah-tengah semua itu, aku kehilangan kendali, naluri primitifku mengambil alih sampai tubuhku memegang kendali sepenuhnya. Aku tidak bisa memusatkan perhatian pada apapun selain keinginan besar untuk berhubungan seks.
"Nikmat sekali," ucapku lirih, tersesat dalam diri Kyuhyun. "Kau terasa… ah, ini terlalu nikmat."
Dengan kedua tangannya, Kyuhyun menuntun iramaku, memosisikanku hingga tubuhnya membelai bagian yang lembut dan mendamba dalam diriku –titik sensitifku. Sementara tubuhku menegang dan gemetar, aku menyadari bahwa aku akan mencapai puncak kenikmatan hanya dengan itu, hanya karena desakan ahli Kyuhyun dalam tubuhku. "Kyuhyun."
Kyuhyun menangkup bagian belakang leherku sementara orgasme meledak dalam diriku, di mulai dengan getaran nikmat dari dalam tubuhku yang makin lama memancar keluar sampai sekujur tubuhku gemetar. Ia mengamatiku hancur lebur, menatap mataku sementara aku ingin memejamkan mata. Terpengaruh karena tatapannya, aku mengerang dan mencapai puncak kenikmatan yang lebih hebat daripada yang pernah kualami, tubuhku tersentak karena nikmat.
"Sialan, sialan, sialan," erangnya, mendesakkan pinggulnya ke tubuhku, menarik pinggulku ke bawah untuk menerima desahannya yang keras.
Aku mengamatinya dengan takjub, ingin melihat apakah ia akan mencapai klimaks untukku. Matanya liar karena membutuhkan, tidak lagi fokus ketika kendali dirinya runtuh, wajahnya tampan terlihat berkerut saan dirinya berada di ambang batas.
"Sungmin!" Ia berteriak liar penuh kenikmatan, pelepasan keras yang membuatku takjub. Tubuhnya gemetar, raut wajahnya melembut sejenak dan dipenuhi kerapuhan tak terduga.
Aku menangkup wajahnya, menyapukan bibirku di bibirnya menenangkannya sementara semburan napasnya yang pendek membelai pipiku.
"Sungmin." Ia melingkarkan lengannya ke sekeliling tubuhku dan mendekapku erat-erat, menempelkan wajahnya yang lembap ke lekukan leherku.
Aku tahu benar apa yang dirasakannya. Rapuh. Terbuka.
Kami tetap seperti itu untuk waktu yang lama, berpelukan, menyerap guncangan susulan yang muncul. Ia menoleh dan menciumku dengan lembut, belaian lidahnya di dalam mulutku memenangkan emosiku yang liar.
"Wow," desaku, terguncang.
Mulutnya melengkung. "Ya."
Aku tersenyum, merasa bingung dan seolah melayang-layang.
Kyuhyun menyapu helai-helai rambut lembap dari pelipisku, ujung jarinya membelai wajahku dengan takjub. Caranya mengamatiku membuat dadaku terasa sakit. Ia terlihat tercengang dan….berterima kasih, matanya hangat dan lembut. "Aku tidak ingin menghancurkan momen ini."
Karena aku bisa mendengarnya tergantung diudara, aku pun mengucapkannya. "Tetapi…..?"
"Tapi aku harus menghadiri jamuan makan malam. Aku harus memberikan pidato."
"Oh." Momen itupun hancur.
Aku mengangkat diriku dengan kikuk dari tubuhnya, menggigit bibir ketika merasakan dirinya meluncur keluar dari tubuhku. Gesekan itu saja sudah cukup untuk membuatku menginginkan lebih.
"Sialan," katanya kasar. "Aku menginginkanmu lagi."
Ia menangkapku sebelum aku bergerak menjauh, mengeluarkan sehelai saputangan entah dari mana dan mengelap bagian bawahku. Tindakan itu sangat intim, nyaris seintim seks yang kami lakukan tadi.
Kemudian aku duduk di kursi disampingnya dan mengeluarkan lipgloss dari dalam dompet. Aku mengamati Kyuhyun dari cerminku sementara ia melepaskan kondom dan mengikatnya. Ia membungkus kondom itu dengan tisu, lalu melemparnya ke tempat sampah yang di sembunyikan dengan cerdik. Setelah merapikan diri, ia menyuruh sopir melaju ke tempat tujuan kami. Lalu ia duduk bersandar di kursi dan menatap ke luar jendela.
Seiring setiap detik yang berlalu, aku merasa ia menarik diri, hubungan di antara kami semakin jauh. Aku mendapati diriku meringkuk di sudut kursi, jauh darinya, meniru jarak yang kurasakan muncul di antara kami. Semua kehangatan yang tadi kurasakan berubah menjadi rasa dingin, membuatku kedinginan dan kembali menyampirkan selendang ke sekeliling tubuhku. Ia tidak bergerak sedikitpun sementara aku bergerak-gerak di sampingnya dan menyimpan cerminku, seolah-olah ia bahkan tidak menyadari aku ada di sana.
Tiba-tiba saja, Kyuhyun membuka bar dan mengeluarkan sebuah botol. Tanpa menatapku, ia bertanya, "Brendi?"
"Tidak, terima kasih." Suaraku lirih, tetapi sepertinya ia tidak menyadarinya. Atau mungkin ia tidak peduli. Ia menuangkan minuman untuk dirinya sendiri dan meneguknya.
Merasa bingung dan tersinggung, aku mengenakan sarung tanganku dan mencoba memikirkan apa yang salah.
.
.
To Be Continued
.
.
Annyeong ^^
Mian baru update /.\
Ada yang nunggu? Ngga ya? TT_TT
Aku hadir dengan Bab 5+6, kenapa dua bab? Karena dibukunya bab 5 sedikit, jadi aku tambahin. Semoga bacanya gak bosen dan puas ,
Ini udah panjang kan? Yaiyalah 2 bab TT_TT
UAS aku tinggal 1 hari, do'ain ya semoga nilainya bagus ^^
Just it ^^
Big Thanks To:
Heldamagnae , Love Kyumin 137 , Rly. , abilhikmah , kyuxmine , Kyuminsimple0713 , Frostbee , TiffyTiffanyLee , dewiktubagus , OvaLLea , Tika137 , PumpkinEvil , HaeHar , siganteng , Hana , kyumin sefi , babyChoi137 , Cywelf , HeeKyuMin91 (Tenang, Siwon udah taken kok ^^), parkhyun , Rinda Cho Joyer , asdfghjkyu (Donghae cowok tulen kok, dia udah tau orientasi seks Donghae. Kan Kyuhyun nyari informasi tentang Sungmin termasuk orang-orang di sekitarnya ^^) , PaboGirl , pinkKYUMIN , farihadaina (Leeteuk sakit apa? Trauma. Kenapa? Tunggu aja ya ^^) , Nuralrasyid , Gyeomindo , 99 , kyumin , fariny , bunyming , BTY , ChoLeeKyuMin , pinzame , miadevi137 , kyuminJoy137 and Guest. (Yang di cetak tebal adalah reviewer di BAB 3 yang baru masuk dan reviewer BAB 4 ^^)
Walaupun review nya makin lama makin sedikit, tapi aku berterima kasih banget buat kalian, khusunya yang sudi untuk me-review ^^
Buat yang namanya belum tercantum diatas, maaf ya, mungkin review nya belum masuk u.u
Thank You So Much :*
And keep REVIEW ~~
