From U, Only U
.
KyuMin Fanfiction
.
Main Cast : Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Lee Hyukjae, Lee Donghae, Choi Siwon, Song(Lee/Cho) Qian, Kim(Cho) Heechul
Other Cast : Park Jungsoo (Teukie eomma), Suster Ahn.
Main Pair : My OTP "KyuMin" *wing*, Slight!KyuToria, HaeHyuk
Warning! Genderswith, OOC, Typo(s) bertebaran, EYD tidak sesuai, -newbie- author, dll
Disclaimer : KyuMin milik saya! *Titik tanpa Koma* :p
.
^^enJOY reading^^
.
(BGM : Super Junior Yesung – For One Day)
.
Chapter 5
.
Flashback
.
"Sungmin-ah!"
"Ne eomma?"
"Kemari sebentar."
Sungmin yang pada waktu itu baru berumur 13 tahun, hanya menatap tak mengerti saat yeoja yang dipanggilnya 'eomma' membawanya keruangan pribadi Kepala Asrama. Teuki eomma, selaku Kepala Asrama dipanti asuhan tempat Sungmin dibesarkan tersenyum lembut menangkap arti tatapan Sungmin.
"Ada yang ingin bertemu denganmu."
.
Ceklek
.
Sepasang suami istri yang semula tampak harap-harap cemas seketika terbangun dari duduknya untuk menyambut seseorang yang mereka tunggu kedatangannya sedari tadi.
"Sungmin-ah, kenalkan ini Tuan dan Nyonya Lee, ayo beri salam."
"Annyeonghaseyo, Sungmin imnida." Ujar Sungmin seraya membungkuk dengan senyum manisnya.
"Kau cantik sekali." Lirih Ny. Lee tersenyum haru, ia merasakan matanya memanas namun dengan sekuat tenaga ia menahan agar cairan bening tak keluar dari sana—setidaknya tidak dihadapan Sungmin saat ini.
"Gamsahamnida."
"Nah Sungmin, kami orangtuamu sekarang. Kau mau ikut kami, kan?" Satu-satunya namja disana bersuara, sang kepala keluarga Lee yang sangat terlihat berwibawa dimata Sungmin kini menampilkan raut lembutnya sebagai seorang ayah.
Sungmin sempat ingin menolak, karena sudah beberapa kali itu terjadi pada pasangan-pasangan orangtua sebelumnya yang ingin mengadopsinya. Namun untuk kali ini, entah mengapa ia menganggukkan kepalanya begitu saja, seperti ada dorongan dalam hatinya untuk sekali saja mencoba merasakan kasih sayang orangtua. Walau bukan dari orangtua kandungnya, setidaknya Sungmin merasa diinginkan.
Tidak seperti orangtuanya yang tega membuangnya begitu saja sesaat setelah ia dilahirkan kedunia. Sungmin tentu tahu tentang itu, Teukie eomma pernah menceritakan bahwa ia menemukan Sungmin kecil saat pusarnya masih terdapat ari-ari dan darah segar melumuri seluruh tubuhnya. Tapi Sungmin tak ingin mengingat lagi hal itu, setidaknya kini ia hidup dengan baik.
Tanpa terasa Sungmin telah menaiki mobil mewah milik keluarga Lee dengan duduk dihimpit oleh dua orang dewasa yang berstatus sebagai orangtuanya mulai saat ini. Seluruh anggota keluarganya dipanti asuhan mengantarkan kepergiannya dengan perasaan sedih karena kehilangan. Sungmin adalah salah satu anak yang amat disayangi oleh semua saudara-saudaranya disana, termasuk para pengurusnya. Kelembutan dan keceriaannya membuat siapapun yang berada disampingnya merasa nyaman.
Teukie eomma sendiri menangis terharu melepas kepergian Sungmin dengan orangtua 'baru'-nya, "Kebahagiaanmu sudah didepan mata, Sungmin-ah."
.
Satu-satunya bangunan termegah berdiri kokoh dikawasan perumahan elit yang baru saja dimasuki mobil yang membawa Tn. Dan Ny. Lee beserta 'anak baru'-nya. Mansion Keluarga Lee. Tn. Lee memiliki kawasan perumahan mewah pribadi yang hanya ditempati karyawan-karyawan khususnya. Mansion Lee sendiri terletak dipaling ujung, dekat sebuah pegunungan dengan pemandangan asri yang menjadi batas perumahan tersebut.
"Selamat datang Sungmin-ah, ini rumahmu sekarang." Ujar Ny. Lee saat mereka turun dari mobil.
Sungmin tak dapat berkata apa-apa, mata bulatnya melebar lucu dengan mulut menganga. Tak percaya dengan yang ada dihadapannya. Ny. Lee terkekeh melihatnya, dengan sayang ia mengelus rambut panjang Sungmin.
"Ayo masuk!" ajak Tn. Lee. Namun belum sempat mereka melangkah, suara nyaring dan terkesan manja mengintreupsi.
"Eomma, Appa!" Seorang yeoja yang lebih mungil dari Sungmin dan berwajah oriental menghambur manja pada Tuan dan Nyonya Lee yang menyambutnya dengan senyum.
"Sudah pulang Qiannie chagi, bagaimana liburannya?" Tanya sang eomma. Namun yeoja mungil yang bernama Lee Qian itu tak menjawab, ia terlihat menatap Sungmin dengan pandangan intens dan terkesan sinis. "Ah Qiannie, kenalkan ini Sungmin. Karena dia lebih tua darimu, jadi kau harus memanggilnya eonnie." Ujar Ny. Lee lembut. Qian masih belum membuka suaranya sampai sang appa menambahkan.
"Dia adalah anggota keluarga Lee sekarang, anak sulung Appa dan Eomma. Dau kau anak bungsu kami—LEE QIAN!"
Tn. Lee berteriak marah saat Qian berlari begitu saja sebelum beliau menyelesaikan kalimatnya. Ny. Lee menghela nafas sabar, mengerti betul sifat sang anak yang begitu keras dan mungkin belum bisa menerima kehadiran anggota baru dirumahnya. Sementara Sungmin hanya bisa menunduk merasa bersalah atas kehadirannya yang membuat anak tunggal keluarga Lee tersebut marah.
.
Sebulan berlalu. Qian terlihat sudah mulai menerima kehadiran Sungmin sebagai kakak angkatnya, namun tak jarang sikap ketus dan sinis ia tunjukkan dihadapan Sungmin. Bahkan saat disekolah ia tak pernah sekalipun bertegur sapa dengan Sungmin. Mereka memang disekolahkan ditempat yang sama, Sapphire Blue School, salah satu sekolah Swasta elit di Seoul dan Sungmin satu tingkat diatas Qian.
Namun Sungmin tak begitu memusingkan hal itu, ia hanya fokus pada kedua orangtua angkat yang sangat dihormatinya, ia juga sadar diri dengan posisinya sebagai 'anak angkat' dikeluarga Lee. Walaupun begitu, Tuan dan Nyonya Lee tak pernah membeda-bedakan status mereka, kadang hal itulah yang selalu membuat Victoria marah dan merasa seperti dikesampingkan. Tapi kenyataannya Tuan dan Nyonya Lee mencoba bersikap adil tanpa memandang anak angkat atau anak kandung sekalipun.
.
Malam itu Sungmin merasa haus, karena kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Qian terletak dilantai atas, ia terpaksa harus turun kelantai dasar untuk mengambil air minum didapur. Saat kembali dari dapur, tak sengaja Sungmin mendengar tangisan lirih dari arah kamar yang terletak disisi tangga. Kamar sang Tuan dan Nyonya rumah. Karena merasa penasaran, ia memberanikan diri untuk mendekat, tanpa bermaksud menguping, ia mencuri dengar apa yang tengah diperdebatkan oleh Tuan dan Nyonya Lee.
"Apa kau yakin, yeobo?" Tanya Tuan Lee.
"Aku tak pernah seyakin ini." Lirih Nyonya Lee, suaranya bergetar seperti menahan tangis. "Kita sudah punya bukti, yeobo."
"Itu tidak cukup untuk membuktikan!" sanggah Tuan Lee.
"Lihatlah matanya yeobo, aku melihat mataku dimatanya."
"…"
"Dan…coba kau perhatikan—"
"Arra chagiya, tapi bagaimana dengan Qiannie?" Tanya Tuan Lee melembut.
"Aku akan tetap menyayanginya, walau ia 'berbeda' dengan Sungmin."
"Mereka tidak 'berbeda', bukankah kau yang selalu menekankan hal itu?"
"Ya, tapi Sungmin tetap 'berbeda'…karena walau bagaimanapun—dialah anak kandungku."
DEG
Sungmin berdiri kaku, gelas ditangannya nyaris lepas dan pecah bila saja ia tak memegangnya dengan erat. Tubuhnya bergetar hebat, jantungnya bedegup kencang, dadanyapun terasa sesak dan matanya memanas. Dan saat ia memalingkan wajah kearah sampingnya, seketika cairan bening meleleh saat foxy-nya bersibobrok dengan foxy lain yang balik memandangnya tajam.
.
Esoknya, tak ada yang berubah. Tuan dan Ny. Lee bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, begitu pula dengan Sungmin. Ia mencoba bersikap seperti biasa, namun sesekali matanya menangkap raut datar yeoja mungil disamping sang eomma. Bahkan saat sang eomma menawarkan beberapa makanan yang tersaji dimeja makan, Qian tak bergeming sedikitpun. Namun entah mengapa hal itu tak membuat Ny. Lee sedih, karena sudah terbiasa diperlakukan seperti itu setiap pagi—tentu setelah kehadiran Lee Sungmin.
Namun kali ini berbeda, terselip kesedihan dari raut datar itu, Sungmin melihatnya. Mungkin karena perasaanya yang begitu sensitif, Sungmin bisa merasakan apa yang tengan Qian rasakan.
"Chagiya, pagi ini Eomma dan Appa harus pergi ke Jepang." Tuan Lee memulai percakapan pagi itu.
Tak ada jawaban, baik dari yeoja mungil bergigi kelinci maupun dari yeoja mungil berwajah oriental itu. Namun setelah lama terdiam, salah satunya mecoba membuka suara.
"Berapa lama?"
"Tergantung pekerjaan Min-ah. Bisa saja seminggu, atau mungkin sebulan." Sang eomma menjawab pertanyaan putri sulungnya.
"Apa kita…tak akan merayakan natal dan—tahun baru bersama?" sambung Sungmin kembali, kali ini ada nada ragu bercampur kecewa dikalimatnya.
"Aigooo~ yeobo, aku hampir lupa."
"Mianhae chagi, tapi ini mendesak sekali. Kalian tak apa kan hanya merayakannya berdua saja?"
Dreeet
Suara kursi yang digeser pelan menginterupsi perkataan Tn. Lee, tanpa mengeluarkan suaranya Qian berlalu dari meja makan itu, membuat tiga orang yang melihatnya keheranan. Sedetik kemudian pandangan Sungmin meredup, mengerti betul dengan kekecewaan Qian, karena iapun merasakannya.
Bagaimanapun hari natal hanya tinggal menghitung hari, Sungmin begitu berharap bisa berbagi kebahagiaan bersama keluarga barunya. Selain itu, Sungmin juga berharap kebahagiaan itu ia rasakan dihari spesialnya. Tahun baru bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Namun sepertinya itu hanya harapan semu, karena sekarang Tuan dan Nyonya Lee telah berada didalam pesawat untuk menempuh perjalanan menuju Jepang.
.
Satu hari menjelang natal. Pagi itu sepi, hanya satu dua pelayan yang berkeliaran dimansion besar Lee. Sarapan pagi telah berjejer rapi diatas meja makan, namun Sungmin tak menemukan Qian. Itu pemandangan yang sudah biasa, karena semenjak Tuan dan Nyonya Lee pergi ke Jepang Sungmin tak pernah sarapan bersama dengan Qian. Qian lebih memilih membawa bekalnya double untuk sarapan dan makan siang disekolah, kemudian berangkat sekolah lebih awal diantar oleh supir pribadi Tuan Lee. Sementara Sungmin akan berangkat pada jam biasa dengan diantar oleh supir yang memang biasa mengantarnya dan Qian kesekolah.
Panggilan seorang kepala maid menginterupsi langkah Sungmin menuju mobil yang akan mengantarkannya kesekolah. Ada telepon dari Ny. Lee di Jepang sana, seketika Sungmin tersenyum cerah.
"Yeobeoseyo, eomma?"
"Sungmin-ah!" Sungmin terkekeh mendengar suara nyaring sang eomma.
"Ne eomma." Jawabnya manja.
"Eomma ada kabar bagus untukmu."
"Apa itu eomma?"
"Eomma dan Appa bisa mengambil waktu libur satu minggu untuk merayakan hari natal dan tahun baru bersama kalian di Korea."
"Jinjjayeo?" Tanya Sungmin tak percaya.
"Ne. sebentar lagi Appa-mu menyelesaikan meeting terakhirnya, lalu kami akan segera ke bandara dan mengambil penerbangan menju Seoul siang ini juga."
"Tapi eomma…"
"Wae?" Nyonya Lee tampak heran mendengar sanggahan Sungmin.
"Apa tidak apa-apa? Cuaca sedang tidak stabil dimusin dingin ini…"
"Tidak akan chagi, percayalah…ini hadiah untuk kalian. Terutama untukmu…"
Sungmin tersenyum haru mendengarnya, rasa khawatir yang tadi melandanya lenyap tiba-tiba saat mendengar jawaban sang eomma.
"Gomawo eomma, jeongmal gomawo…"
.
Sungmin berlari sekuat tenaga saat turun dari mobil. Bukan karena ia kesiangan, namun karena ia ingin segera menemui seseorang yang harus mengetahui kabar—yang menurutnya—membahagiakan. Senyumnya merekah kala melihat siluet sang adik yang sedang menikmati sarapan paginya bersama teman-teman sekelasnya.
"Qi-annie!" Panggil Sungmin ragu, ia memberi jeda untuk menstabilkan nafasnya. "Eomma dan Appa akan pulang hari ini, kita akan melewatkan malam natal bersa—"
"Aku tak peduli."
DEG
"Qiannie…"
.
Lantunan do'a menggema diseluruh penjuru kota Seoul pada malam itu, tak terkecuali dikawasan perumahan mewah milik keluarga Lee. Namun sang kepala keluarga dan Nyonya rumah belum menampakkan dirinya setelah hampir satu hari penuh menempuh perjalanan dari Jepang ke Korea.
Sementara kedua putrinya terlihat tak begitu menikmati malam ini. Seperti Lee Qian yang telah memasuki alam mimpi diranjang king size-nya dengan headphone yang masih bertengger disela-sela telinga kanan dan kirinya. Sungmin masih terjaga, menunggu kedatangan kedua orangtuanya sambil menikmati malam penuh hikmat diatas balkon kamarnya. Tak ada ritual menghias pohon yang selalu ia lakukan dipanti asuhan bersama seluruh anggotanya seperti tahun lalu, karena saat ia pulang dari sekolahnya pohon natal yang sudah terhias menyambutnya disisi ruang tamu.
"Benarkah? Lalu bagaimana korbannya, apa ada yang selamat?" Samar-samar Sungmin mendengar percakapan para pejalan kaki yang melewati halaman rumahnya.
"Sepertinya tak ada, semuanya tewas."
Sungmin merasakan firasat buruk menghampirinya, dua nama yang terlintas dipikirannya, "Eomma, Appa…"
"Apa kau tahu itu penerbangan darimana?"
Kini dadanya berdegup kencang menunggu jawaban yang akan terlontar dari orang itu.
"Kalau tidak salah—dari Jepang menuju Seoul."
Tak terbendung lagi, Sungmin tak dapat menahan airmatanya mendengar kenyataan pahit itu.
.
Flashback end
.
From U, Only U
.
Pagi yang cukup cerah dimusim dingin ini, matahari menampakkan cahayanya kesetiap penjuru tempat dinegeri ginseng itu. Semua orang berbondong-bondong ingin menikmati kehangatannya, seperti para 'penghuni' dirumah sakit yang terletak dipusat kota itu. Sekedar menyegarkan pikiran dari bau obat-obatan menyengat yang seakan menjadi 'santapan' mereka tiap harinya. Lee Sungmin, pasien yang sudah ditetapkan menjadi salah satu 'penghuni' disana hanya berdiam diri ditaman rumah sakit itu selama dua jam lebih. Dengan beralaskan rumput hijau ia duduk menekuk kakinya, panas terik tak ia hiraukan seolah ditantang ke-eksistensisannya. Sedangkan pasien lain yang memperhatikannya hanya menatap heran. Bagaimana yeoja itu bisa bertahan dari teriknya matahari selama itu? Dua jam atau lebih tak jadi masalah untuk Sungmin walau berada dibawah panas terik matahari, karena ia sama sekali tak merasakan panas atau hangatnya.
Ia mati rasa.
Tubuhnya tak merespon apapun suhu yang menerpanya, entah apa yang terjadi, mungkinkah karena kebekuan hati yang melandanya kini?
Sungmin tak tahu.
"Ya Tuhan Sungmin-sshi, anda kemana sa—Ommona~!"
Suster Ahn, suster yang ditunjuk Siwon untuk mendampingi Sungmin selama proses rawat inapnya merasa lega menemukan pasiennya yang menghilang sejak dua jam lalu. Namun rasa lega itu lenyap seketika setelah melihat keadaan Sungmin yang 'mengenaskan'. Wajah putih pucat dengan aliran air yang tak berhenti dipipi chubby itu, namun tak terdengar satu isakanpun dari bibir plump-nya. Dengan panik Suster Ahn meminta siapa saja disekitarnya untuk membantu mengangkat pasiennya yang seperti mayat hidup itu.
"Eomma, Appa..Mianhae…" Lirih Sungmin sebelum kehilangan kesadarannya.
.
"Ayolah Min, satu suap saja"
"…"
Lee Hyukjae, sudah setengah jam yang lalu terus membujuk sahabatnya untuk sekedar mengisi perut kosongnya. Namun tak sedikitpun Sungmin menurut, bahkan hanya untuk membuka mulutnya. "Kau tak menyayangi anakmu?"
Masih tak ada jawaban, seakan tuli Sungmin tak menghiraukan bujukan yeoja bergummy smile itu hingga Hyukjae hanya bisa menghela nafas frustasi. Suara pintu yang terbuka membuat Hyukjae menoleh, dilihatnya Donghae yang datang dengan sekeranjang buah segar ditangannya. Hyukjae mengerutkan dahinya kearah keranjang buah tersebut, seakan mengerti, Donghae menjelaskan bahwa ia mengingat cerita sang eomma, wanita hamil sangat menyukai segala jenis buah-buahan yang terasa asam dilidahnya, karena itu dapat mengurangi rasa mual yang dialaminya. Donghae menduga Sungmin menolak makan karena morning sick-nya itu, namun Hyukjae segera menepis presepsi itu. Karena Sungmin tak terlihat seperti wanita hamil pada umumnya, yang merasakan mual setiap waktu.
"Lalu, apa dia mau makan?" Hyukjae hanya menjawab dengan gelengan lemah. Dan keduanya hanya bisa menatap prihatin dengan keadaan sahabat mereka.
"Apa sudah ada kabar dari Kyuhyun?"
"Entahlah, dia benar-benar melepas tanggung jawabnya begitu saja. Aissshhh~"
Kyuhyun menghilang sejak satu minggu yang lalu. Donghae mendapatkan email dari sahabatnya itu untuk menjalankan perusahaannya sementara ia tinggal tanpa memberitahukan kemana ia pergi. Awalnya Donghae tak menerimanya karena ia merasa tak berhak atas itu. Namun saat teringat ayah Kyuhyun yang telah tiada begitu mempercayakannya, kalau bukan padanya, pada siapa lagi Kyuhyun meminta bantuan? Dan sebagai sahabat ia mengerti betul kekalutan yang menimpa Kyuhyun saat ini. Dengan berat hati ia menyetujui permintaan sahabat evil-nya itu, namun dengan syarat Kyuhyun tak terlena dengan 'kebebasan'-nya hingga melalui batas.
Selain itu, Kyuhyun juga menceritakan keadaan istrinya yang tengah mengandung—yang katanya—adalah benih Kyuhyun. Donghae tak percaya tentang itu, karena Donghae tahu betul perangai Lee Qian, ia akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya. Donghae yakin anak yang dikandung Qian bukan anak Kyuhyun dan hingga kini Sungmin belum mengetahui tentang hal ini, bahkan Hyukjae dan Siwon sekalipun tak Donghae biarkan mengetahuinya. Karena diam-diam Donghae menyelidikinya sendirian dan sebenarnya ia sudah tahu jawabannya, namun ia simpan rapat-rapat rahasia itu sebelum Kyuhyun kembali.
Tanpa sadar Donghae menyeringai mengingat 'penemuan hebat'-nya, Hyukjae bergidik ngeri mendapati seringai jahat dari wajah innocent kekasihnya untuk pertama kali.
"Kau kenapa Hae?"
"Eh? Aniyo."
Dan Hyukjae hanya mendengus mendapat jawaban yang tak memuaskan itu, sementara Donghae telah memasang kembali senyum childish andalan-nya. =_=
.
-From U, Only U-
.
"Kandungan anda baik-baik saja. Namun karena ini masa rawan, saya sarankan sebaiknya anda lebih menjaga kondisi tubuh anda Ny. Cho. Jangan terlalu banyak memikirkan hal yang berat dan makan yang teratur." Cho Heechul terlihat antusias mendengar 'wejangan' untuk sang menantu dan calon cucunya dari dokter kandungan. Sedangkan Lee Qian—atau mungkin Cho Qian—terlihat acuh tak acuh, namun sesekali hanya mengangguk kecil sekenanya. Ia merasa resah dan ingin cepat-cepat meninggalkan rumah sakit ini.
Setelah berpamitan, Heechul dan Qian segera meninggalkan ruangan dokter kandungan tersebut. Gerutuan Heechul terhadap sang anak—Cho Kyuhyun—yang menghilang sejak dua minggu yang lalu mewarnai perjalanan mereka menuju apotek rumah sakit untuk menukar resep obat dari dokter, dan Qian hanya tersenyum kaku menanggapinya, ia masih merasakan keresahan dihatinya.
Ini memang sudah dua minggu berlalu sejak Kyuhyun pergi, tepatnya setelah perdebatannya dengan Sungmin dirumah sakit—dan dengan sang istri dirumahnya. Seperti biasa Qian akan membangunkan Kyuhyun pagi sekali diruang kerjanya untuk segera pindah ke ranjang king size mereka sebelum Heechul membangunkan mereka untuk sarapan. Ruang kerja yang tepat bersebelahan dengan kamar mereka dan terdapat pintu yang menghubungkan dua ruangan itu memudahkan Kyuhyun untuk mengelabuhi ibunya seolah ia dan sang istri tidur didalam kamar dan ranjang yang sama. Namun pagi itu Qian tak menemukan Kyuhyun diruang kerjanya, dan sebaris pesan singkat seakan memberikan jawabannya.
'Aku ada perjalanan bisnis untuk beberapa hari.'
Namun bukan itu yang jadi keresahan Qian sejak tadi, ada hal yang lebih ia khawatirkan saat ini. Dan sepertinya kekhawatiran itu semakin menjadi kala ia melihat sang mertua menghentikan langkah mereka secara tiba-tiba dengan tubuh yang menegang. Diikutinya arah pandang sang mertua tepat pada objek yang menjadi kekhawatirannya—atau mungkin ketakutannya.
"Eo-eomma, waegurae?" Dengan tergagap ia berusaha bersikap tenang.
"Aa-aniyo. Kau duluan saja chagi, eomma ingin ke toilet sebentar."
Qian tahu betul itu hanya alasan saja, "Mau aku temani?" Tanyanya berbasa-basi.
"Tidak usah, eomma tak akan lama." Heechul memberikan senyum terbaiknya pada sang menantu.
"Arrasseo." Qian segera berlalu dari hadapan mertuanya dengan jantung yang berdetak kencang. Ia tak benar-benar pergi sebenarnya, bersembunyi dibalik tembok yang tak jauh dari sana adalah hal yang paling tepat untuk melihat apa yang sebenarnya akan dilakukan mertuanya.
.
From U, only U
.
Kyuhyun mendengus jengkel ketika dua orang yang amat dihormatinya menolak mentah-mentah permintaan bantuannya. Disinilah Kyuhyun tinggal sekarang, disebuah bangunan sederhana dipusat kota Seoul tanpa diketahui siapapun—kecuali sang tuan rumah. Sepasang suami-istri yang merupakan saudara sepupu dari keluarga eomma-nya. Yesung dan Ryeowook.
"Ayolah Kyu, kau itu sudah dewasa. Jangan hanya mengandalkan noona-mu." Yesung tampak terlihat kesal terhadap adik ipar-nya tersebut.
"Aisshhh~ Hyung, kau berisik!"
"Yak!" Yesung berniat menjitak kepala bocah evil itu, namun urung saat sang istri menahan lengannyanya lembut. "Aissshhh~"
"Kyuhyun-ah, benar kata Hyung-mu. Kau sudah dewasa, hanya perlu menjelaskannya baik-baik, eommoni pasti akan mengerti."
"Tidak, eomma tak pernah mengerti aku." Lirih Kyuhyun. "Kalau appa masih ada, ia pasti akan mendukungku." Lanjutnya dengan nada sedih.
Ryeowook iba melihatnya, seketika ia melirik pada sang suami, "Oppa, eotteokhae?"
"Aissshhh~ Ya sudah bocah evil, aku mengalah."
"Jinjjayeo?" Tanya Kyuhyun tak percaya, Yesung menjawab dengan dengungan samar. Kemudian terkekeh kala mendapat pelukan ciuman mesra dari sang istri.
"Gomawo Oppa…"
"Gomawo Hyung, Noona." Kyuhyun tersenyum tulus saat ini, membuat sepasang suami itu ikut tersenyum.
.
"Chagiya, aku merindukanmu."
Seperti malam-malam sebelumnya, Kyuhyun akan menyendiri dikamar tamu itu dengan hanya diterangi oleh cahaya lampu duduk. Selembar poto seseorang yang amat ia cintai menjadi temannya sebelum menuju alam mimpi yang juga diisi oleh sosok yang ada dipoto tersebut.
"Bagaimana kabarmu disana?" Suaranya bergetar menahan tangis, lelah dengan semua ini, tapi ia tak boleh kalah sebelum mewujudkan mimpinya. Berharap kebahagiaan akan segera menghampirinya bersama sosok itu.
"Lee Sungmin. Tolong bertahanlah dan jaga dirimu, aku akan secepatnya kembali. Dengan kebahagiaan yang selalu menghampiri kita."
"Aku mencintaimu."
.
From U, Only U
.
Pagi ini Sungmin meminta Suster Ahn membawanya kebalkon rumah sakit untuk melihat pemandangan kota Seoul dimusim dingin. Suster Ahn sempat menolaknya karena ia ingat betul pesan sang dokter untuk tidak membiarkan Sungmin keluar dari kamarnya, lagipula Sungmin bisa melihat itu dari jendela kamarnya tanpa harus keluar. Namun Sungmin punya banyak cara untuk membuat siapapun menuruti keinginannya. Ia membujuk dengan cara menerima suapan Suster Ahn untuk pertama kalinya yang membuat Suster paruh baya itu tersenyum lega, walau hanya beberapa suapan namun cukup untuk memberi warna samar dikulit putih pucat itu.
Dan disinilah Sungmin sekarang, duduk manis diatas kursi roda dibalkon luar rumah sakit dengan selimut tebal ditubuhnya. Suster Ahn pamit sebentar untuk menyiapkan keperluan operasi pertamanya tiga hari mendatang. Mengingat itu, Sungmin merasakan matanya kembali memanas memikirkan kenyataan buruk yang akan menimpanya atau bayinya jika operasi itu sampai gagal. Sekelebat bayangan sang adik yang memintanya untuk berjuang membuat nafasnya tercekat, dadanya bergemuruh menangkap arti permintaan itu. Sang adik meminta Sungmin bertahan hanya hingga anak yang dikandung Sungmin lahir kedunia, selanjutnya, adiknya takkan peduli dengan keadaan Sungmin yang akan meregang nyawa saat itu juga ataupun secara perlahan karena penyakit dan tekanan batinnya.
Sungmin tak habis pikir dengan perlakuan sang adik terhadapnya. Belum cukupkah ia mengambil namja yang begitu berarti dihidupnya? Karena ia takkan pernah memiliki namja itu selamanya, izinkanlah ia memilki keturunannya sebagai gantinya.
"Lee Sungmin?"
Sungmin menghapus airmatanya kasar dan segera mendongak untuk melihat seseorang yang memanggilnya dengan nada ragu. Seketika ia membulatkan matanya begitu menangkap sosok mertua sang adiknya-lah yang kini menatapnya dengan pandangan sayu.
"Eomma~?"
.
"Nyonya Cho Qian!" Dengan gerakan slow motion, Cho Qian menoleh pada suara yang memanggilnya dengan nada sinis.
"Atau—
Victoria Song?"
DEG
"Kau?"
.
.
.
TBC
.
.
.
Assalamu'alaikum…
Annyeooonggg~ From U, Only U is back! :D
Masih adakah yang menunggu fic ini? #nggaaaaaaakkkkkkkkkk
Mianhae atas keterlambatannya… #bodooooooooooooooooo
Heheheee…akhirnya saya lanjut juga fic ini. Masih dengan kekurangan dan ke-ancurannya, cerita yang gaje bin aneh bin ngelantur, kek sinetron, deelel, tapi saya nekat publish chap 5 ini, semoga diterima dengan baik #bow
Niatnya mau dipublish kemaren lusa, bertepatan sama tahun baru n' ultahnya Uri Aegyo King. Cuman karena belum beres yaaah diundur aja.
Walopun terlambat, saya mau ngucapin "Happy Birthday" buat Lee Sungmin, "Bu(bi)nny-nya" Cho Kyuhyun…makin langgeng ya Jenggg! #geplakked :D | makin tua makin cute, panjang umur, sehat selalu, sukses selalu, selalu segalanya pokonya. Amiiinnn…
n' "Happy New Year" buat seluruh ELF (KMS terutama) yang ada di Indonesia dan diseluruh dunia. Senang menjadi salah satu bagian dari keluarga ini, ini tahun baruan pertama saya bareng ELF dan KMS lhooo~ #gakadayangnanya xD
Udah ahh bacot mulu, saatnya bales review-nya… :D
Oom. Komariah. 921 : Kayanya sih emang gitu cingu :3
Loupeu : Ampyuuuuunnnnn *ngumpetdiketekKyu* xD
Baby Kim : Maunya sih gitu cingu, tapi gimana caranya? #frustasi xD
Wah nekat nih ampe nyulik Ming, pengen c evil murka, eoh?
HeeYeon : Selamat datang(?) cingu, ini next chap-nya..semoga suka
kasygirl : Ming cuman pengen ngelindungin dirinya sendiri sama anaknya -mungkin- xD
Minimi : tenang cingu, gakk usah esmosi…ada aku disini! #Lah? Kagak nyambung! xD
Cho Kyuri Mappanyukki : Yupz, semua masalah ada jalannya.. #sok bijak xD
Chiikyumin : Happy end ya? Aku usahain deeehhh xD
Margareth Pumpkins : Selamat datang(?) disini cingu, ini udah dilanjut..semoga suka ya
Guest : Aku gak niat nyiksa Ming cingu~ *merengek(?)*
KyuMing137 : Ini udah dilanjut
hyuknie : Tar dijelasin dichap depan ya
cho han kyo 137 : Semua pertanyaan cingu udah kejawab dichap ini
evilMinMin : Aku gak bisa update kilat cingu, mian. Tapi semoga suka ya sama chap ini
Park Min Rin : Rate ya? Hehe aku emang sengaja pindahin kesini(?), ia dia adeknya Ming cingu xD
rinyeol : kkk~ soal rate, sepertinya ini T to M cingu. NC? Tergantung cerita sama cast-nya aja deh yah #lirik KyuMin xD
Monnom : Trus anak siapa donk cingu, kalo bkn anak Kyu?
kara : Waduh jangan disantet ahjumma-nya! Kalo dia tewas(?) siapa yg bkalan gantiin buat jadi cast di FF ini? Happy end? Gakk janji :D
Vhentea : Gak jelas maksudnya?
thiafumings : Jahatnya ada alesannya kok, tenang aja gak bakalan berat(?). iia, mungkin Ming karna lagi galau ajah xD
ellays : Selamat datang(?), ceritanya bagus? Masih sih?! *blushing* xD uda dilanjut nih~
Kyuhyuniar : Makasi saengie, ini uda dilanjut. Aku gak nyiksa Ming kok~ aku kan sayang dia #pouting *plakk*
.
Tak henti-hentinya saya mengucapkan terimakasih untuk yang telah menyempatkan diri meng-klik kotak Review dan memberi saran kritik yang membangun. Soal bashing, yah saya jadiin pelajaran ajah buat lebih baik kedepannya.
Last,
Review juseyong?
