Between Love and Mission
Author: Nacchan Sakura
Disclaimer: I DO- ..not own vocaloid.
.
.
.
Waiting is wasting for people like me.
Don't try to live so wise.
Don't cry 'cause you're so right.
Don't dry with fakes or fears,
'Cause you will hate yourself in the end.
(WIND – Akeboshi)
.
.
.
-Rin's POV-
.
.
"Len?"
Len berjalan pelan menuju arahku dan kini ia berada di depanku. Ia berbisik pelan, "Jangan menjauh dariku".
Cih, sampai harus ditolong dengan orang yang menjadi targetku sendiri, betul-betul memalukan.
Tapi entah kenapa, aku merasa lega. Dan kenapa sekarang..
Aku merasa ingin menangis?
"Kau pembunuh yang sedang terkenal itu, bukan?" Ucap Len dengan tenangnya
"Iya, aku orang itu." Jawab Luki dengan senyum yang—polos. Ia seperti anak kecil yang tidak memiliki dosa apapun.
Namun, hatinya busuk.
"Heh." Len hanya tertawa mengejek melihat reaksi Luki. "Sebenarnya aku ingin melaporkanmu ke polisi. Tapi sepertinya membunuhmu lebih menyenangkan."
Ternyata, sebuah pistol yang Len pegang kini—adalah pistol milikku yang tadi terjatuh karena diserang oleh Luki. Len mengarahkan pistol itu ke arah Luki yang masih berdiri disana dengan wajah tanpa emosi. Bahkan, ia tidak terlihat seperti ketakutan sedikitpun.
"Bye-bye." Len menarik pelatuk pistol itu sambil tersenyum dengan penuh kemenangan.
'BANG!'
"..Rin? Apa yang lakukan!"
Len terkejut saat melihat aku—sudah melindungi Luki dari peluru yang hampir saja mengenai jantungku itu. Untunglah, peluru itu meleset dan tidak mengenai aku ataupun Luki.
"Ja—jangan bunuh dia, Len! Dia.."
Bagaimanapun juga, dia tetap saja Luka.
Kalau Luki mati karena peluru itu mengenainya..
Itu berarti aku akan kehilangan Luka untuk selamanya.
"Dia.. dia adalah sahabatku! Percayalah, Len! Dia—dia sebenarnya tidak jahat! Dia hanya dikendalikan! Kumohon, Len, jangan.. bunuh dia.."
Butiran air mata mulai membasahi pipiku. Perasaan yang sangat sedih seperti ini.. baru pertama kali aku rasakan.
Ini pertama kalinya aku menangis lagi.
Semenjak ayah dan ibuku meninggal—aku sudah bertekad untuk tidak akan menangis lagi.
Lagipula, mana ada seorang pembunuh yang cengeng seperti ini?
"Rin..." Len menatapku dengan paras yang 'iba'. Ia menurunkan tangannya yang baru saja menarik pelatuk pistol berwarna silver itu.
'KLANG!'
Kini, suara sebuah pisau yang terjatuh ke tanah mulai terdengar. Dan saat kulihat ke arah suara itu..
"Luka-chan!" Aku melihat Luka sudah kembali disana, memegangi kedua kepalanya—seperti sedang merasakan sakit yang luar biasa. Tubuhnya berkeringat, dan kini ia sedang terduduk lemas.
"Rin-chan, lari! Selagi aku masih sadar—selagi aku masih bisa mengendalikan diriku! Cepat lari sebelum Luki kembali!"
"Ta-tapi.."
"LARI!" teriak Luka sekali lagi. Aku yang hanya terdiam di tempat pun—akhirnya ditarik oleh Len dan dibawanya pergi entah kemana.
Dan saat aku berlari, aku menoleh ke arah Luka sesaat. Ia masih menahan rasa sakit itu. Namun saat pandanganku akan Luka mulai menjauh.. aku dapat melihatnya.
Luki yang sudah mengambil alih tubuh Luka sekali lagi.
"Ke jalan ini!"
Len menarikku dan membawaku berlari ke tempat yang asing. Kami melewati banyak gang sempit, menaiki banyak tangga di sebuah gedung yang tak terpakai, dan akhirnya kami sampai di atap sebuah gedung tua.
"Setidaknya, untuk sementara kita aman.." Ucap Len di tengah nafasnya yang terputus putus.
"Tidak.. aku harus kembali.. aku harus menolong Luka-chan!"
"Jangan, Bodoh!" Len menarik tanganku dan berbicara—bukan, membentak kepadaku. "Temanmu itu sudah menyuruhmu untuk pergi! Kalau kau kembali dan melihat kau akan disakiti pada akhirnya, dia hanya akan menjadi sedih!"
..Ya, Len benar. Kalau aku kembali ke tempat Luki sekarang.. mungkin saja aku akan terbunuh olehnya. Dan mungkin saat Luka sadar dan melihatku sudah tergeletak tanpa nyawa, ia akan menangis sekencang-kencangnya. Dan setelah itu, ia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri beribu-ribu kali.
"Lagipula, Rin.. apa yang sebenarnya terjadi? Tadi aku lihat sejenak, pembunuh itu berubah menjadi sosok perempuan.. apa dia manusia dengan dua kepribadian, atau semacamnya?"
"Dia.. sebenarnya.."
Aku menjelaskan semuanya kepada Len. Dari awal, sampai akhir. Dari A, sampai Z. Tanpa ada satu detail pun yang tertinggal.
"Jadi.. Luka Megurine—pemilik tubuh asli dari pembunuh itu adalah sahabatmu, dan juga kakak kembar dari sang pembunuh?" Aku mengangguk. "Sungguh cerita yang mengejutkan."
"Aku juga.. masih tidak bisa percaya.." Gumamku
"..Lalu, bagaimana dengan temanmu yang bernama Kaiko itu? Kau berpisah dengannya kan? Aku yakin dia pasti khawatir sekarang."
"Oh iya! Kaiko! Aku—aku harus ke tempatnya sekarang!" Aku hendak berdiri dan lari meninggalkan tempat ini, namun Len menarik tanganku—lagi.
"Sudah kubilang, jangan! Kau tidak tahu keadaan di luar sedang berbahaya? Sudahlah, sekarang, beritahu aku ciri-ciri Kaiko dan posisinya sekarang."
"Kaiko.. rambutnya berwarna biru tua pendek, saat ia pergi bersamaku, ia memakai mantel hitam dengan syal biru motif bunga.. ia ada di sekitar Shion Bakery sekarang." Jelasku
"Baiklah, aku mengerti."
Len mengeluarkan ponsel flip nya yang berwarna kuning dan menekan beberapa tombol di ponselnya itu. Nada-nada dari setiap tombol yang ia tekan berbunyi di tengah malam yang mencekam. Lalu terdengar suara telepon yang tersambung setelah nada-nada tombol itu berhenti.
Siapa orang yang dihubungi oleh Len?
"Halo, Mikuo? Aah, iya, aku berada di atap gedung bekas perusahaan mobil bersama Rin sekarang. Iya, tolong kesini, bawa gadis bernama Kaiko. Ia ada di sekitar shion bakery, rambutnya berwarna biru tua pendek, ia memakai mantel hitam dan syal biru motif bunga. Ya, terima kasih."
Len menekan tombol 'End' dan menyimpan ponselnya di saku jaketnya. Aku hanya menatapnya penuh tanya. Kenapa ia menelepon Mikuo?
"Aku tadi sebenarnya melihatmu berlari dari pembunuh itu." Ucap Len tiba-tiba, seakan dia habis membaca pikiranku. "Saat itu, aku sedang bersama Mikuo. Namun aku menyuruh Mikuo untuk mencari bantuan sementara aku mengejarmu."
"O-oh.." Jawabku, singkat.
"Rin, kau itu perempuan, apa kau tidak sadar hal seperti ini sangat berbahaya untukmu?"
Sejujurnya sih, tidak. Lagipula aku sudah sering mengalami situasi berbahaya. Aku juga sudah sering dikejar banyak polisi, kabur dengan lihainya, dan membunuh targetku tanpa meninggalkan jejak.
"..." Aku hanya diam. Aku tak mau—tepatnya, malas untuk mengatakan apapun. Yang kupikirkan sekarang.. hanya Luka.
Len hanya menarik nafas kesal saat melihatku menunduk tanpa menjawab pertanyaannya. "Rin, aku pacarmu. Kau itu milikku, dan kau harus menuruti perkataanku. Jawab aku."
"..Apa?"
Cih! Dia kan hanya BERPURA-PURA jadi pacarku saja, lagipula kita tidak pacaran sungguhan! Kenapa aku harus menuruti perkataannya, dan KENAPA IA SEENAKNYA BERKATA BAHWA AKU ADALAH MILIKNYA?
"Kita hanya pura-pura pacaran, Len. Dan tidak ada seorang pun yang tahu untuk saat ini. Jadi lihat kenyataan, Len. Aku. Bukan. Pacarmu."
"Kau. Adalah. Pacarku." Jawab Len dengan sinis. "Atau setidaknya, aku akan membuatmu menjadi pacar sungguhanku suatu hari."
Suaranya untuk sesaat—terdengar... Seductive di telingaku. Semburat merah muncul di wajahku saat Len tiba-tiba berjalan mendekatiku sambil menatapku lurus. Aku membalas tatapan matanya sambil merespon langkahnya—tetapi, menjauh. Yap, aku berjalan mundur teratur dengan indahnya.
Langkahku terhenti saat sebuah tembok menahan tubuhku. Len kini berada di depanku dan meletakkan satu tangannya di tembok yang dekat dengan pundak kiriku. Matanya masih menatapku. Dan senyuman liciknya masih terhias di wajahnya.
"A—Apa?" hanya satu kata itu yang bisa aku ucapkan. Tentu saja, memangnya apalagi yang bisa aku katakan?
"Kau manis." Ucap Len, singkat. "Kau tahu, kalau aku bisa memilikimu seutuhnya, aku pasti akan menjadi lelaki yang sangat beruntung."
Wajah Len mendekat. Mendekat. Mendekat. Mendekat. MEN-DE-KAT. Tubuhku seperti terpaku pada tembok di belakangku ini dan kakiku seperti terpaku ke tanah. Aku tak bisa bergerak dan hanya diam saat wajahnya semakin mendekat—tidak, SUDAH SANGAT DEKAT dengan wajahku.
Apa yang akan ia lakukan sebenarnya?
'Guits'
Lalu aku merasakan sepasang tangan mencubit kedua pipiku. Aku pun membuka mataku dan melihat Len yang sedang tersenyum lebar sambil menahan tawa sambil melihat wajahku.
Apa. Maksudnya. Ini.
"Pfft, wajahmu yang campur aduk itu lucu sekali!" Len pun akhirnya tertawa, dan ia masih belum melepaskan cubitan tangannya di pipiku. "Tenang. Aku bukannya mau menciummu. Mungkin ciuman pertamamu akan kuambil lain kali saja kalau waktunya tepat~" Len menjulurkan sedikit lidahnya dengan tampang yang mengejek.
Kesal? Tentu saja. Sangat, sangat kesal. Aku. Sangat. Kesal.
Aku butuh pistolku tadi. Aku tak butuh informasi darinya, aku akan membunuhnya. Sekarang.
"Hahudnya aha hih!" Ucapku dengan kata-kata yang sangat tidak jelas karena kedua pipiku masih ditarik, dan membuat Len tertawa semakin kencang.
Len akhirnya melepaskan tangannya dari pipiku dan melanjutkan tawanya. Kekesalanku semakin menjadi.
Tetapi tanpa sadar, aku memperhatikan Len—yang sedang tertawa sekarang. Mulutnya tersenyum lebar, suaranya yang tertawa seperti terbebas dari segala beban hidupnya. Matanya sedikit mengeluarkan air mata karena terlalu banyak tertawa. Wajahnya—betul-betul polos bagaikan anak kecil. Entah kenapa, aku tersenyum tipis melihatnya.
"Ternyata seorang Yakuza bisa juga tertawa seperti ini.." Ucapku tanpa sadar. Dengan cepat aku menutup mulutku, dan Len berhenti tertawa karena satu kata yang aku ucapkan.
"Apa.. katamu tadi?" Len menoleh dan wajahnya sekarang sungguh berbeda dengan wajahnya tadi. Wajahnya begitu gelap. Matanya dingin. Dan wajahnya datar—mirip dengan wajahnya yang aku lihat di foto.
'Kuso! Kenapa aku malah keceplosan!' umpatku di dalam hati. Aku sibuk mencari alasan di otakku. Sementara Len hanya diam dengan tatapan dinginnya yang mengarah kepadaku.
"Rin... tadi.. kau bicara apa?"
"A— tidak, itu- aku—"
'Tap'
Sebuah suara langkah kaki terdengar, dan suara itu spontan membuatku dan Len menoleh dengan cepat.
Luki.
Dia ternyata bisa mengejar kami.
"Ternyata kau disini ya, nona muda. Berpacaran di atas gedung dengan kekasihmu?" Luki tertawa datar. Ia menjilat pisau tajam yang tadi hampir saja membunuhku. Bisa terlihat, ia seperti mahluk yang sudah haus akan darah.
"Kalau begitu, ayo kita teruskan permainan ini, nona muda."
.
.
.
~To be Continued~
