Haiii… Kuro balik lagi. Akhirnya setelah UN berakhir. Kuro bisa kembali update dengan PDnya. Hahaa. Meski chapter kemarin banyak banget kesalahan ketik, saya harap kalian suka. Soalnya, saya kemarin sudah capek-capek ngetik sampe hamper 3000 word, ehh giliran mau dipublish malah lupa disave. T-T. Jadi Kuro dengan terpaksa dan sangat tidak rela harus kembali ngetik dengan jumlah word yang saya kurangi. Gomene ^^v
Ok, Special Thank's For :
Titan –miauw : Ahh, apa saya terlalu memainkan perasaan chara? *emang*.
MizuKaze Naru : Arigatou, udah bilang keren. Saya sungguh terharu. ^^-a
Hanafid : Ok, saya akan lanjut. Arigatou reviewnya!
Tsuki Nigatsu No Kinyoubi Natsu :Arigatou sudah bilang bagus. Saya masih belum terpikir apakah nantinya Naru bakal tetep di Old Konoha. Gak papa baru join. Tunggu saja kelanjutannya ya!
Kawaihana : so pasti saya lanjut, mumpung lagi mood.
Harpaairiry : Ganbatte mo!
.777 : Benarkah kurang panjang? Ohh, gomen. Lain kali saya coba panjangkan.
Raava Aluemda : Arigatou. Yokatta kalau suka. Sasuke sama Sakura? Oh, mereka hanya temen yang terlewat dekat sampai timbul cinta di salah satu pihak. Bingung ya? Saya juga bingung. *gampared*
Himawari Wia : Wah, kalo pingky itu mati, jadi nggak ada yang ngedukung Naru dong?
Asrto O'connor : Ahh, saya membuat Sasuke jadi ababil? Hoho, saya baru merasa. *tendang*
Yuichi : Arigatou, sudah mereview..
FISIKA : Ahh, ternyata banyak juga yang nanya hubungan Sasu sama Saku. Alasannya ada di chapter ini ya!
xxxSN : Sasuke sama Sakura hanya temen. Deteilnya ada di chapter ini.
Zyln : arigatou reviewnya.
Sasufemnaru : Ya.. mungkin sudah ada benih cinta yang numbuh antara Suke ma Naru.^^
Aisanoyuri : Nggak, yang jadi sasaran hanya Sakura.
At last, untuk semua yang udah mereview fic gaje ini, Arigatou gozaimasu.
.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
. NARUTO©Masashi Kishimoto
ROAD TO BLADE by Kuroi Sora18
Pair : SasuFemNaru slight SasuSaku
Rated : T or M ?
Warning : AU, Fem!Naru, abal , gaje, typo nyempil dimana-mana, and absurd.
Summary : Namikaze Naruto, seorang gadis berumur 16 tahun dari jaman modern harus terlempar ke masa lalu karena sebuah pohon sakura misterius. Di jaman Edo, dimana Naruto terdampar ia bertemu dengan Uchiha Sasuke, seorang samurai hebat berhati dingin namun juga pervert!"Siapa?"/"Kau sendiri siapa?"/"Sebentar lagi akan dimulai-"/"Jangan tinggalkan aku, Sasuke!"/"Gomen."/Rahasia dibalik tragedi Klan Uchiha perlahan terungkap.
.
.
.
.
ROAD TO BLADE
Chapter 6 : First Friend and Promise
By : Kuroi Sora18
" Ayolah Namikaze-san~"
Nampak raut wajah Rock Lee sudah seperti orang yang pasrah. Ia sejak 3 jam yang lalu terus mencoba membujuk gadis pirang yang sedang jongkok di depannya untuk berhenti menunggu aya –ehem- orang yang bernama Uchiha Sasuke itu. Yang dengan seenak rambut anehnya, meninggalkan Naruto sendirian.
" Daijoubu. Aku akan tetap disini. Sampai teme kembali."
Lee lagi-lagi menghela napas berat. Naruto benar-benar gadis berkepala batu. Hell no, apa dia tidak merasa jengah menunggu orang yang sudah meninggalkannya begitu saja?
Teuchi, paman pemilik kedai ramen itu juga tak henti-hentinya memsang wajah kasihannya. Bagaimana Sasuke, anak ayam kurang ajar yang telah Teuchi anggap sebagai kekasih Naruto bisa-bisanya meninggalkan gadis semanis Naruto sendirian tanpa berkata apa-apa.
" Naru-chan~ aku membuatkanmu ramen super lezat!" seru Ayame. Gadis berambut hitam itu juga tak henti-hentinya mencoba menghibur Naruto dengan membuatkannya semangkuk ramen. Kalau bermangkuk-mangkuk ramen, bisa rugi dia.
" Aku tidak lapar, nee-chan."
Ketiga orang itu pun hanya menghela napas –lagi- ketika melihat aura suram keluar dari tubuh gadis pirang itu. Naruto pasti sangat sedih sekarang. Betapa teganya Sasuke itu.
" Nee, Tou-san bagaimana ini? Naruto tidak juga berhenti untuk menunggu Sasuke." Bisik Ayame sambil memandang Naruto yang sedang jongkok sambil sesekali menorehkan jari telunjuknya di tanah. Memang gesturnya orang pundung.
" Hah~ gadis yang malang. Setelah ini aku pasti akan mencantumkan nama Uchiha Sasuke dalam daftar hitam pelangganku." Umpat Teuchi.
" Tak ku sangka, Uchiha Sasuke yang begitu ku kagumi begitu tega meninggalkan Namikaze-san sendirian, benar-benar tidak mencerminkan semangat masa muda!" seru Lee sok mendramatisir. Teuchi dan Ayame sweatdrop melihatnya.
Sementara Naruto, ia masih saja jongkok sambil menorehkan jari telunjuknya ke tanah. Bahkan ia sudah tidak peduli kakinya akan kram nantinya. Sebenarnya ia kecewa juga. Kenapa di saat menyenangkan, Sasuke malah pergi menginggalkannya begitu saja. Bahkan ia tidak mengatakan apapun sebelum pergi. Menyebalkan!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke terus berlari menuju Manshion Klan Haruno di Distrik 7, otaknya hanya berisi Sakura, Sakura dan Sakura. Ia begitu cemas memikirkan Sakura. Bagaimana keadaannya saat ini? Apa dia baik-baik saja? Apa dia selamat? Apa dia- terluka? Sasuke menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tidak boleh berpikiran macam-macam sebelum melihatnya sendiri.
[ Flashback ]
Semenjak tragedi Klan Uchiha itu berlangsung, Sasuke yang dulu adalah seorang anak yang manja dan imut, kini berubak 180 derajat menjadi anak yang pendiam dan dingin. Ia bahkan tidak memiliki teman di usianya yang sudah menginjak 7 tahun. Di usia itu seharusnya anak seusia Sasuke sedang gencar – gencarnya mencari teman. Namun yang menjadi obsesi Sasuke bukanlah mempunyai banyak teman tapi menjadi samurai hebat yang akan membalas dendam kematian seluruh anggota klanya. Ia juga bertekad untuk mencari kakaknya yang telah tega meninggalkannya sendirian.
Sore itu, Sasuke sedang duduk di pinggiran sungai sambil memandang mata hari tenggelam. Hal seperti ini sering ia lakukan ketika selesai berlatih pedang . Ini jauh lebih menyenangkan dan menenangkan ketimbang harus bermain dengan anak-anak yang lain. Karena prinsip Sasuke itulah yang membuatnya di jauhi karena anak-anak lain menganggapnya sombong. Tetapi ia tidak mengambil pusing soal itu. Teman membuatnya lemah. Itulah pemikiran Sasuke waktu dulu.
" Hei, Tora~ ayo cepat turun!"
Dahi Sasuke menyerngit ketika ada suara cempreng khas anak gadis menyambangi telinganya.
" Miaw… Miaw!"
" Ayolah, baka neko! Ini sudah sore. Aku tidak mau dimarahi Okaa-sama nanti."
Gadis cilik berambut merah muda itu mendengus keras. Ia menyesal membawa kucing gendut milik ibunya jalan-jalan. Ia memandang pohon Sakura di depannya . Haruskah ia memanjatnya? Oh oh oh~ salahkan saja gelar hime yang disandangnya. Kalau tidak, sudah sedari tadi ia memanjat pohon itu bak seekor monyet. Apa kata dunia? Mata emeraldnya menelusuri sekitarnya. Ia mencoba peruntungan, siapa tahu ada yang mau menolongnya. Dan, great! Sakura melihat sesosok bocah berambut hitam di pinggir sungai.
" Oi!"
Kini alis Sasuke menukik tajam. Siapa gerangan yang sudah merusak suasana heningnya yang agung (?).
" Oi, kau yang berambut aneh."
Dan sekarang giliran pelipis Sasuke berkedut-kedut. Sebutan macam apa itu? Mendengarnya saja sudah bias merusak telinganya.
Tak juga menoleh, Sakura malah jadi kesal sendiri. Makhluk sombong macam apa yang dipanggil dengan sebegitu kerasnya tak juga menoleh? Hari semakin gelap, namun kucing gendut ibunya tidak juga menunjukan gelagat akan turun. Apa bocah itu tuli? OH-
" Hey, kau yang berambut pantat ayam di pinggir sungai!" seru Sakura sekali lagi. Kali ini ia menambahkan julukukan baru untuk bocah itu. Dan-
Yeah! Berhasil! Sasukr menoleh cepat dengan wajah super angker.
" Akhirnya kau menoleh juga!" Sakura mulai melangkah menuruni pinggiran sungai.
" Siapa yang kau sebut 'rambut pantat ayam' ?" Tanya Sasuke dingin.
Ditanya seperti itu, Sakura malah nyengir dengan polosnya.
" Tentu saja kau,"
Sasuke mendengus.
" Kau juga berambut aneh."
" Eh?"
" Rambutmu seperti kembang gula."
TWITCH. TWITCH. Dahi Sakura tercetak dengan jelas urat kemarahannya. Namun mengingat tujuannya memanggil bocah di depannya membuatnya harus tenang ~ dan sabar ~
" Ahaha, yah~ rambutku memang unik."
" Itu lebih cocok disebut aneh."
Senyum Sakura langusung pudar seketika. Ah sudahlah~
" Uhum, ano bisakah kau menolongku?" Tanya Sakura Sambil tersenyum manis.
" Hn, aku tidak mau." Sasuke berkata datar sambil melirik kearah Sakura yang sedang menundukan wajahnya sambil memancarkan aura keunguan. Ah, sepertinya rasa kasihan telah mengalahkan segalanya.
" Hn. Aku akan menolongmu."
Sakura langsung terlonjak senang. Wajahnya berbinar cerah di tengah suramnya sore itu.
" Hounto ni?"
" Hn. Apa yang ha-"
" ARIGATOU!"
Ucapan Sasuke terpotong oleh ucapan terima kasih dari Sakura. Sakura yang melihat Sasuke hanya berdiam diri saja akhirnya menyeret Sasuke menuju pinggiran jalan.
" Hora (lihat) ! Ada kucing ibuku di atas pohon. Bisa kau mengambilkannya untukku?"
Sasuke memandang pohon Sakura di depannya dari bawah ke atas. Ya, kira-kira tingginya 5 meter. Ia akan menyelesaikannya dengan cepat. Itung-itung untuk latihan ketangkasan tubuhnya. Dan dengan sigap, Sasuke memanjatnya.
" Wah sugoi desu! Kau memanjat cepat sekali. Seperti monyet saja!"
Sasuke kembali menoleh ke bawah ketika ia dengan seenaknya di katai monyet.
" Urusai! Mau ku ambilkan tidak huh?"
Sakura tersenyum lebar.
" Gomene. Tolong ambilkan ya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
." Shika-maru?"
Sasuke berhenti berlari ketika di tengah perjalanan ia malah bertemu dengan calon suami Sakura di perbatasan Disrtik 7 dan 8. Shikamaru yang merasa namanya di sebut pun menoleh. Dan ia mendapati Sasuke sedang berdiri di belakannya sambil mengatur napasnya yang tersendat-sendat.
" Kau? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Shikamaru sambil menguap.
" Apa kau bawa kuda?"
" Memangya untuk apa?"
Sasuke memandang intens Shikamaru yang berada sepuluh langkah di depannya.
" Apa kau sudah tahu, Klan Haruno diserang."
" Hmm. Sudah. Kenapa?"
Sasuke memandang intens Shikamaru sekali lagi. Kenapa Shikamaru terlihat tenang-tenang saja? Padahal keluarga calon istrinya diserang.
" Kau sudah kesana?"
" Ya~"
" Bagaimana dengan Sakura?"
Shikamaru melirik Sasuke sekilas, lalu menghela napas. Tidak tahan juga dengan ekspresi kepo yang ditampilkan Sasuke.
" Kau ikuti aku!"
Shikamaru berbalik dan berjalan menuju salah satu rumah yang berderet di sepanjang jalan. Sementara Sasuke mengikutinya dari belakang. Setelah sampai di salah satu rumah tradisional Jepang itu, Shikamaru dan Sasuke masuk kedalamnya.
" Sebenarnya apa yang kita lakukan disini? Aku sedang- "
Ucapan Sasuke serasa berhenti di tenggorokan ketika melihat Sakura- gadis yang ia khawatirkan sedang duduk di futon dengan perban melilit bahunya.
" Sasuke-kun? Kenapa kau disini?" Tanya Sakura.
" Mendokusai~ aku yang mengajaknya kemari."
Shikamaru lah yang akhirnya menjawab pertanyaan Sakura. Mata kuacinya melirik kearah Sasuke yang masih terdiam di samping kirinya.
" Siapa yang menyerang manshion mu?"
Akhirnya Sasuke bersedia membuka mulutnya. Meski yang ditanya bukanlah keadaan Sakura melainkan siapa penyerang manshion Klan Haruno.
" Ini ulah Orochimaru. Ia ingin kau kembali ke timnya. Makanya ia menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuh pembawa informasi untukmu yang tak lain adalah Sakura."
Shikamaru memandang intens Sasuke yang hanya memasang pandangan bersalah pada Sakura.
" Maafkan aku, Sakura. "
" Daijoubu! Ini hanya luka kecil. Aku bersyukur waktu itu Shika ada di manshion."
" Mendokusai. Saat pembunuh itu berhasil menebas Sakura di bahu, aku datang ke kamarnya. Oh, ada yang ingin kutanyakan padamu, Uchiha."
" Apa?"
" Kau kenal Shimura Sai? Menurut pembunuh bayaran itu yang menyuruh mereka adalah dia."
Tangan Sasuke mengepal erat.
" Dia, tangan kanan Orochimaru."
.
.
.
.
.
" Jangan tinggalkan aku, Sasuke!"
Sakura berteriak sambil berlari mengejar Sasuke. Sasuke yang di panggil pun akhirnya menoleh.
" Kau mau pergi kemana? Jangan tinggalkan aku."
" Gomen." Sasuke hanya bisa berkata maaf. Sebenarnya ia sangat berat meninggalkan distrik kelahirannya juga teman pertamanya – Sakura.
" Boleh aku ikut bersamamu? Aku janji aku tidak akan cerewet . Aku janji akan melakukan apa yang kau mau. Aku janji – jika aku….
-bersamamu."
Air mata Sakura turun dengan deras menuruni pipi Sakura. Ia tidak bisa kehilangan sahabat sekaligus cinta pertamanya. Namun Sasuke hanya menatap datar Sakura. Ia tidak boleh menjadi lemah. Jika menangis karena hal kecil seperti perpisahaan ia tidak akan bisa membalas dendam kematian seluruh anggota Klannya. Juga dia harus tegar jika ingin menemukan kakaknya- Itachi.
" Tetaplah disini. Jangan ikuti aku."
Sasuke membalikan badan dan bersiap melanjutkan langkahnya yang tertunda.
" Sasuke-kun, aku berjanji akan membantumu menemukan Itachi. Aku ingin tetap bersamamu."
Langkah Sasuke terhenti tepat di langkahnya yang ke sepuluh.
" Aku pasti kembali, temui aku tujuh tahun dari sekarang di Hutan Hayashi."
Mata emerald Sakura berbinar cerah.
" Hountou?"
" Hn."
" Aku pasti menunggumu, Sasuke-kun."
[ Flashback End ]
.
Ayame memangdang langit sore dengan wajah yang tak berminat.
" Ah, suramnya hari ini~" celetuk Rock Lee dari arah dapur. Sementara tangannya sibuk mencuci mangkuk ramen. Sebenarnya ia bukan bekerja di Ichiraku Ramen, tapi karena ada insiden 'dompet tertinggal' , ia harus mencuci bergunung-gunung mangkuk ramen kotor untuk membayar 5 porsi ramen yang dipesannya tadi.
" Berhentilah mengeluh, Lee!" Ayame berkata garang.
" Tega sekali~ Oh, bagaimana dengan Namikaze-san?"
Ayame menghela napas untuk yang kesekian kalinya.
" Gadis itu keras kepala sekali. Ia sudah seharian ada di depan kedai. Tapi ia tidak juga merasa lelah."
" Apa yang seharusnya kita lakukan? Dia bisa sakit kalau seperti itu."
" Huh, apa boleh buat."
Hening.
BRUK.
Ayame dan Lee memandang horor kearah gadis berambut kuning yang sekarang berganti pose dari jongkok menjadi tertelungkup. Naruto akhirnya merasa lelah.
" Naru-chan / Namikaze-san!"
Ayame dan Lee berlari tergopoh-gopoh menghampiri Naruto.
Bagaimana keadaan Naruto?
' Teme, jangan tinggalkan aku.'
...
TbC dengan PDnya.
Hahaaaa~ gajenya~ Ntah kenapa Kuro kok bisa menulis Flashback segaje ini? Aduh niat mau bikin panjang , tapi nggak jadi hehe ^^ *gampar*. Yah, kesibukan yang padet lagi- lagi jadi alasan Author. Juga entah mengapa ide yang kemarin banyak yang lewat jadi hilang lagi alias lupa dengan watadosnya. Ada yang berniat menyumbangkan ide?
Juga, Arigatou untuk onxyshapierblue yang udah nge PM saya. Maap ya, baru bisa update. Terimakasih juga untuk yang udah bersebia membaca fic gaje saya…. Tanpa kalian, Aku galau~
Terakhir,
Review, Please?
