Diingatkan! Kisah ini hanya untuk 18 ke atas! Mengandung unsur ryona+rape! Kalau pembaca masih di bawah umur, silahkan klik tanda 'x' di tab browser pembaca! Jika ingin tahu apa itu 'ryona' coba cek di Google. Sekali lagi saya ingatkan kisah ini untuk 18 ke atas! Terima Kasih :)
Karakter di fanfic ini adalah milik dari anime Digimon Frontier dan ada sebagian yang Saya buat sendiri untuk mendukung cerita.
6. Kejutan di Tahap Percobaan!
Sinar matahari pagi yang cerah melewati jendela kamar Kazemon dan Mervamon. Mereka berdua tertidur dengan nyenyak setelah melewati malam yang menggairahkan. Sebenarnya mereka tidak tertidur, mereka pingsan karena tenaga mereka yang terkuras habis untuk orgasme terus-menerus.
"Uggghhh..." Kazemon terbangun sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Sambil menggelengkan kepalanya, ia segera duduk dan bersandar di bantal yang sudah didekatkan ke tembok.
Kazemon melirik ke sebelah kirinya dan melihat Mervamon sedang tertidur pulas dengan posisi yang menggoda. Tangan kanannya dipakai untuk menutupi wajahnya, tubuhnya terlentang dan tidak tertutup pakaian sehelaipun. Payudaranya bergerak naik turun mengikuti nafasnya. Kedua kakinya yang mengangkang lebar membuat dirinya terlihat seperti pelacur murahan yang vaginanya siap dimasuki penis kapan saja. Kedua pahanya juga terlihat basah karena cairan vaginanya yang sepertinya terus mengalir keluar saat dia tidur.
Kazemon mengalihkan pandangannya dan meliaht dirinya juga tidak jauh beda dari Mervamon. Tubuhnya telanjang bulat, payudaranya yang besar dan menantang bergerak naik turun mengikuti nafasnya. Terlihat juga kedua putingnya masih mengeluarkan air susu dalam jumlah yang sedikit dan mengalir mengikuti bentuk payudaranya hingga menetes ke atas perutnya. Ia masih tidak tahu bagaimana caranya air susu itu bisa keluar dengan mudahnya.
Ia melihat semakin ke bawah dan menyadari bahwa vaginanya sudah basah kuyup dan membasahi seluruh kaki dan tempat tidurnya. Sepertinya disaat tidur, vaginanya terus mengeluarkan cairan yang banyak. Pahanya yang terkena sinar matahari terlihat mengkilap karena cairan itu.
"Guh..." Kazemon turun dari tempat tidur dan segera mencari bra dan celana dalamnya yang berserakan di lantai.
Kazemon menutupi tubuh Mervamon dengan selimut dan segera menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. Ia menggantungkan pakaiannya dan membasuh tubuhnya yang penuh dengan keringat, air susu, dan cairan vagina.
"Mmmmhhh.. Segar sekali..."
Ia membersihkan bagian dadanya terlebih dahulu dan menyisihkan sisa-sisa air susu di tubuhnya. Tangannya terus meraba bagian payudara dan perutnya. Saat tangannya mencapai vaginanya, Ia melihat dan menyadari bahwa vaginanya terasa begitu rapat.
Apa ini? Kenapa vaginaku begitu rapat? Seingatku, ini sudah melebar ketika Woodmon dan keempat Goblimon itu memperkosaku.
Kazemon mengambil posisi yang nyaman untuk memeriksa vaginanya. Dia duduk di lantai dan membuka kedua kakinya lebar-lebar. Jari tangan kanannya membuka lebar vaginanya dan memang benar, vaginanya kembali seperti semula. Tidak ada bekas luka karena pemerkosaan kasar yang dialaminya dulu. Setelah selesai mengecek vaginanya, Kazemon segera melepaskan tangannya dari vaginanya. Tapi, tangannya tidak sengaja menyentuh klitorisnya dan ia mendesah nikmat. Ia pun menyadari vaginanya kini juga menjadi lebih sensitif.
Ia begitu ingin menggesekkan tangannya di vaginanya. Sebelum tangannya menyentuh bibir vaginanya, terdengar suara Mervamon yang sedang mengetuk pintu kamar mandi.
"Kau di dalam, Kazemon?"
Kazemon yang terkejut segera melepaskan tangannya dari vaginanya, "I-iya.. Aku disini,"
"Baiklah kalau begitu. Cepatlah, aku tidak sabar ingin membasuh tubuhku, " Kata Mervamon.
Kazemon segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan memakai pakaiannya. Ia segera keluar dari kamar mandi dan melihat Mervamon yang mengkilat karena sinar matahari menyinari tubuhnya yang penuh dengan sisa-sisa cairan yang mereka keluarkan semalam.
Mervamon segera masuk ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya. Beberapa menit kemudian, dia keluar dan segera merapikan kamar yang sangat berantakan akibat ulahnya bersama Kazemon. Belum sempat mereka merapikannya, terdengar pintu kamar yang diketuk.
"Apa kalian sudah bangun?" Terdengar suara Dokter Mayu dibalik pintu, "Aku masuk, ya."
Belum sempat Kazemon dan Mervamon menjawabnya, pintu kamar sudah dibuka oleh Dokter Mayu, "Selamat pa—"
Dokter Mayu terkejut melihat keadaan kamar itu yang sangat berantakan, "Ehh!? Apa yang terjadi?"
Kazemon dan Mervamon menjelaskan kejadian semalam kepada Dokter Mayu.
"Sepertinya aku harus memeriksa tubuh kalian sekarang juga..."
Kazemon dan Mervamon menyetujui hal itu.
"Baiklah, kutunggu kalian di ruanganku, segera rapikan kamar ini, bahaya jika Rin mengetahuinya hihihi..." Kata Dokter Mayu sambil meninggalkan kamar.
Kazemon dan Mervamon merapikan kamar dengan cepat dan segera menuju ruangan Dokter Mayu. Disana, Dokter Mayu sedang mempersiapkan alat-alat dan obat-obatan yang akan dipakai untuk memeriksa mereka berdua. Ruangan itu cukup luas, terdapat beberapa lemari untuk obat dan untuk peralatan.
"Oh, silahkan duduk," Kata Dokter Mayu yang saat ini sedang mencampur obat-obatan, "Aku sedang mempersiapkan obatnya. Kalian tunggu sebentar sambil melihat-lihat,"
"Mmm.. Dokter, kira-kira obat apa yang akan kau buat?" Tanya Mervamon.
"Dari gejala yang kalian ceritakan tadi, aku mencoba membuat obat untuk menangkal aphrodisiac biasa."
"Mengenai percobaannya..." Belum selesai Kazemon bertanya, Dokter Mayu sudah memotongnya.
"Mengenai percobaannya, aku akan meggunakan benda ini," Kata Dokter Mayu dengan riang sambil mengeluarkan sebuah kuas lukis yang berbentuk bulat lancip dari kantongnya.
"Eh? Kuas?" Kata Mervamon.
"Ya, kuas. Tujuanku adalah untuk mengukur dan membandingkan seberapa besar rangsangan yang kalian terima saat kalian sedang terangsang secara alami dan terangsang akibat efek ramuan atau apalah itu sebutannya. Hal ini kulakukan agar aku tahu apakah obat ini akan bekerja atau tidak dan juga seberapa besar dosis yang cocok untuk kalian berdua."
"Lalu, bagaimana caranya kau dapat membedakan ketika kami terangsang secara alami dan terangsang akibat ramuan itu?" Tanya Mervamon dengan nada yang tidak yakin.
"Oh, mudah saja. Aku hanya tinggal memutar beberapa koleksi terbaikku," Kata Dokter Mayu sambil menunjuk satu kotak yang penuh dengan kaset porno.
"Oh, kau wanita yang nakal, Dokter." Mervamon menggodanya dengan senyum nakal.
"Seorang dokter juga mempunyai kesenangannya sendiri." Dokter Mayu membalas senyum nakal Mervamon.
Kazemon yang tidak tertarik dengan obrolan mereka berdua, mulai bertanya, "Apa yang akan kau lakukan dengan kuas itu?"
"Yaah... Simpel saja, aku hanya menggosokkan ini ke daerah sensitif kalian."
"Tapi, bukankah akan lebih mudah jika kami... Umm... Melakukannya sendiri?"
"Maksudmu bermasturbasi? Kau akan mengikuti turnamen, ditonton banyak orang, lalu mendadak ramuan itu bekerja dan kau akan bermasturbasi di tengah pertarungan? Jangan bercanda." Kata Dokter Mayu dengan nada mengejek.
Kazemon terdiam dan hanya terdengar suara tawa dari Mervamon.
"Dokter benar Kazemon." Kata Mervamon yang melanjutkan tawanya.
"Huh!" Kazemon memalingkan wajahnya dari Mervamon.
"Anggap saja ini juga latihan untuk melawan nafsumu," Kata Dokter Mayu. "Kau harus menahan keinginan untuk bermasturbasi saat bertarung dan juga saat aku merangsang kalian, berusahalah untuk menahan orgasme selama mungkin."
Kazemon dan Mervamon mengangguk. Bersamaan dengan itu, Dokter Mayu yang sudah mempersiapkan semuanya, segera mengambil satu kaset porno itu dan memasukkanya ke pemutar kaset.
"Bersiaplah. Buka pakaian kalian,"
Kazemon dan Mervamon segera melepas pakaian mereka dan berbaring di atas tempat tidur. Dokter Mayu memutar TV ke arah tempat tidur dan mengambil remote.
"Dokter, bagaimana caranya kau merangsang kami bersamaan?" Tanya Kazemon.
"Ah iya! Aku sampai lupa." Dokter Mayu keluar ruangan dan kembali tak berapa lama kemudian.
"Ini bantuan yang kita perlukan," Kata Dokter Mayu sambil menggandeng tangan Rin yang jelas kelihatan kalau ia masih mengantuk.
Rin menguap dan berkata, "Apa sarapan sudah siap?"
Dokter Mayu mencubit pipinya, "Hei, sadarlah. Kita sedang melakukan percobaan."
"Oh! Aku ingat!" Wajahnya yang mengantuk kini mulai terlihat segar. Dia berlari ke meja Dokter Mayu dan mengambil dua kuas.
"Bagus, ayo kita mulai!"
Dokter Mayu segera memutar kaset porno itu dan muncul lah adegan-adegan vulgar. Wajah Kazemon dan Mervamon mulai memerah melihat video itu. Tanpa disadari, kaki mereka sudah terbuka lebar dan memperlihatkan vagina mereka.
"Ingat, tangan kalian tidak boleh bergerak dan menyentuh daerah sensitif kalian," Kata Dokter Mayu, "Baik, Rin ayo kita mulai,"
Dokter Mayu mulai mendekati Mervamon dan Rin mulai mendekati Kazemon.
Kazemon dan Mervamon mendesah dan mengerang kenikmatan ketika dua ujung kuas yang halus itu menyentuh kedua puting payudaranya. Wajah mereka semakin memerah karena rangsangan itu. Setiap gesekkan membuat kedua puting mereka semakin mengeras.
"Aaahhhhnnn... Ahh... Ahhh..."
Sensasi dari kuas-kuas itu menjalar hingga ke seluruh tubuh mereka, membuat mereka menggeliat karena kenikmatan yang mereka rasakan. Tangan mereka hanya bisa meremas selimut yang ada di atas tempat tidur. Tubuh mereka kadang terangkat dan melekuk ke atas. Di balik kenikmatan tersebut, mereka berdua juga melawan untuk tidak menyentuh tubuh mereka dan menahan orgasme.
"Mmmmppp... Ahhh... Nnhhaaahhh..."
Sudah lima menit berlalu dan kedua puting mereka masih menjadi objek percobaan Dokter Mayu. Desahan mereka berdua saling bersahutan dengan desahan yang dikeluarkan dari TV. Tubuh mereka mengejang berusaha sekuat tenaga untuk tidak orgasme.
"Yosh! Sepertinya bagian ini sudah cukup," Kata Dokter Mayu sambil menyeka keringatnya dan melepaskan kuas itu dari payudara Kazemon dan Mervamon, "Kalian hebat juga bisa menahannya selama ini."
Tidak ada jawaban dari mereka, hanya terdengar desahan dan suara nafas mereka yang kelelahan. Kazemon merapikan rambutnya yang berantakan dan melihat vaginanya yang sudah basah kuyup. Begitu juga dengan Mervamon, keadaannya tidak jauh berbeda dengan Kazemon.
"Baiklah, sekarang buka kaki kalian lebar-lebar,"
Kazemon dan Mervamon segera melakukannya tanpa berkata apa-apa.
"Ini adalah bagian tersulitnya. Persiapkan diri kalian," Dokter Mayu menaruh satu kuas di salah satu puting payudara Mervamon dan satu kuas di atas vaginanya. Hal itu juga diikuti oleh Rin.
"Kau siap Rin?" Rin mengangguk, "Kalian siap? Baiklah, kita mulai!"
"Nnnghiiii! Hyaaaahhh! Ahhhh..." Kedua Digimon itu begitu terkejut karena kuas yang halus itu mendadak menyentuh bibir vaginanya yang saat ini sedang sangat sensitif.
"Wow! Reaksi yang mengejutkan." Kata Dokter Mayu.
"Mmmmpphh... Dokter... Pelan-pelan... Ahhhh..." Kata Mervamon sambil meremas selimut dengan erat.
"Ooohhh... Rin... Ahhhhhh..." Kazemon mulai menggigit bibirnya.
Suara Kazemon dan Mervamon memenuhi ruangan Dokter Mayu yang luas dan tanpa disadari, video itu sudah memasuki menit ke sepuluh.
"Sudah sepuluh menit sejak video diputar dan kalian masih bisa menahan orgasme, lumayan juga," Kata Dokter Mayu yang hanya disambut oleh desahan dan erangan oleh kedua Digimon yang sedang terangsang berat itu.
Sudah lima belas menit berlalu, Kazemon dan Mervamon mulai merasakan cairan orgasme yang mereka tahan dari tadi akan menyembur keluar. Dokter Mayu dan Rin menyadari hal ini dan mereka tetap memberikan rangsangan di puting dan vagina Kazemon dan Mervamon.
"Aaaahhhhh... Aku tidak tahan lagi... Ahhhhhh..." Kazemon mengerang dan meremas selimut dengan keras, kakinya yang mengangkang kini mulai menutup dan berusaha menahan orgasmenya sekuat tenaga. Apa daya, usahanya sia-sia karena Rin melepaskan kuasnya dan memencet puting dan klitorisnya bersamaan.
"NNHHAAAAAHHHHH!" Mata Kazemon terbelalak, kakinya kembali mengangkang dan erangan yang panjang mengiringi orgasmenya. Tubuhnya melekuk ke atas dan cairan vaginanya menyembur keluar, membasahi TV dan lantai di sekitarnya. Ia mengerang setiap kali cairan itu menyembur keluar. Saat semburan kelima, tubuh Kazemon ambruk ke tempat tidur dan merapatkan kedua kakinya. Dengan nafas yang terengah-engah, kedua tangannya sedang sibuk meraba vagina dan payudaranya. Dua jarinya ia masukkan ke vaginanya mencari kenikmatan yang ia tahan dari tadi.
Tidak berapa lama kemudian, Mervamon juga merasakan orgasmenya, "Ooohhh... Dokter.. Aku juga... Aaaaahhhhhhnnnnn..."
Dengan erangan panjang, Mervamon melepaskan semua kenikmatan yang ada di tubuhnya. Vaginanya menyemprotkan cairan yang banyak, sama seperti Kazemon. Tubuhnya mulai lemas dan kehabisan tenaga.
"Hmmm..." Dokter Mayu menghentikan video dan melihat waktunya, "Berita bagusnya kalian bisa bertahan selama 25 menit. Berita buruknya, tubuh kalian langsung melemah saat orgasme pertama."
Ia mencatat itu dan merapikan peralatannya, "Baiklah. Kalian bisa beristirahat di sini. Aku keluar sebentar mencari makanan. Rin akan menjaga kalian, yah walaupun sudah pasti dia akan bermain diluar." Kata Dokter Mayu yang tidak dapat menemukan Rin di ruangannya.
Kazemon dan Mervamon tidak merespon.
"Halo? Kalian dengar aku?" Dokter Mayu mendekati keduanya, "Cepat sekali mereka tidur. Pasti sangat melelahkan kalau jadi mereka."
Pintu ruangan itu tertutup dan Dokter Mayu berjalan keluar rumah.
Beberapa jam sebelumnya di Kota Alpha...
Dengan senyuman di wajahnya, Ranamon membuka pintu besar yang menutupi sebuah ruangan yang sangat luas, "Selamat datang di 'duniaku'. Aku menamakannya Ruang Tentakel. Sebenarnya aku tidak tahu harus memberi nama apa." Kata Ranamon sambil tertawa.
Lilithmon melihat ke dalam ruangan dengan pandangan kagum dan sedikit kaget, "I-Ini... Mengagumkan..."
"Masuklah,"
Lilithmon melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu. Ruangan itu sangat luas, terdapat banyak tembok berbentuk tabung yang bertugas sebagai tiang penopang ruangan itu. Seluruh dindingnya diselimuti oleh sesuatu yang menyerupai daging yang didominasi dengan warna merah. Dari beberapa tempat di dinding ruangan itu, terdapat beberapa tentakel yang menjulur keluar. Tentakel itu berwarna-warni dan memiliki ukuran yang berbeda-beda. Dari kejauhan, Lilithmon melihat seseorang yang dia kenal.
"Bukankah itu Calmaramon?"
"Benar. Dialah yang mengendalikan ruangan ini disaat aku tidak ada."
Kedua Digimon itu berjalan mendekatinya. Kini terlihat jelas jika Calmaramon sedang melilit Digimon di tentakelnya. Empat tentakelnya masing-masing melilit tangan dan kaki Digimon itu dan mengangkatnya di udara. Satu tentakelnya sedang meremukkan pakaian pelindung Digimon itu yang tergeletak di lantai.
"H-Hei... Dia kan..."
Lilithmon terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya, Digimon itu memakai sebuah topeng berbentuk seperti rubah yang menutupi wajahnya, terlihat rambut Digimon itu yang berwarna abu-abu terurai berantakan. Setengah dari topeng itu sudah hancur dan terlihat satu mata berwarna coklat sedang menatap lemah ke lantai ruangan itu. Pakaian pelindungnya pun sudah hancur berkeping-keping di lantai, kini tubuhnya hanya terbalut oleh kain hitam ketat yang menutupi kedua payudaranya dan daerah sekitar pinggang sampai kakinya tertutup oleh celana ketat hitam yang sudah robek di beberapa tempat. Walaupun kain hitamnya masih menutupi payudaranya, tapi itu masih tidak cukup karena besarnya payudara itu membuat kain itu terlihat kecil dan hanya mampu menutupi sepertiga dari ukuran payudaranya.
"Ya, dia adalah Sakuyamon." Kata Ranamon santai.
Calmaramon yang melihat datangnya kedua Digimon itu dan menyapa mereka, "Oh, kalian datang ke sini,"
"Tidak usah hiraukan kami, lanjutkan saja kegiatanmu." Kata Ranamon.
Calmaramon mengangguk dan memecut punggung Sakuyamon dengan tentakelnya, "Sekarang bukan waktunya istirahat!"
SPLATS!
"HYAAAA!"
Sakuyamon berteriak kesakitan setelah menerima pecutan yang meninggalkan bekas di punggungnya, "Aahh... Hah.. Hah.. Hah... Hentikan..."
"Wah, kau benar-benar menghancurkannya." Kata Lilithmon yang melihat tubuh Sakuyamon.
Tubuh Sakuyamon dipenuhi dengan memar dan luka kecil. Terlihat jelas kalau perut Sakuyamon menjadi sasaran empuk bagi Calmaramon, memar di daerah perutnya membuatnya terlihat seperti samsak tinju yang sudah dipukul berkali-kali. Selain bekas pukulan, terlihat juga goresan-goresan yang diakibatkan oleh putaran yang sangat kencang, seperti bor yang sangat besar. Andaikan tangannya tidak dililit tentakel, mungkin dia akan memegangi perutnya dan menahan rasa sakitnya.
SPLATS!
"HYAAAAAHHH!"
Baru saja Sakuyamon menundukkan kepala, datang lagi cambukan dari Calmaramon yang menghantam punggungnya.
"Ku.. Kumohon... Hentikan..." Kata Sakuyamon memohon, setitik air mulai jatuh dari matanya, "Aku menyerah... Aku tid- HYAAAAAA!"
SPLATS!
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk memohon!"
SPLATS! SPLATS! SPLATS!
"AAAAAAAHHHHHH!"
Cambukan demi cambukan bertemu dengan punggung Sakuyamon. Bekas-bekas berwarna kemerahan di punggungnya kini mulai mengeluarkan darah. Air mata Sakuyamon kini mengalir deras dan bibirnya mengeluarkan darah karena ia mengigitnya dengan keras akibat menahan rasa sakit.
'NGGHHHHH! MMMMPPPHHH!""
Dengan beberapa cambukan terakhir, Calmaramon menghentikan pukulannya dan menyeka keringat yang mengalir di dahinya, "Fiuh.. Melelahkan juga memukuli rubah kecil ini." Ia lalu membalikkan tubuh Sakuyamon menghadap ke dirinya.
"To-Tolong... Hentikan... A-aku tidak ku—AKH!"
Calmaramon mengepalkan tentakelnya dan mengirimkan pukulan keras tepat di perut Sakuyamon hingga membuat darah keluar dari mulutnya.
"Uhk... Kuh.. Ghkk..."
"Rubah yang satu ini memang susah diatur," Kata Ranamon sambil memegang dagu Sakuyamon agar ia bisa melihat wajahnya.
BRUUGG!
Terdengar suara keras dari arah belakang Ranamon dan Lilithmon, "Apa-apan ini?!"
Terlihat satu Digimon lagi sedang terkapar. Wajahnya tertutup topeng dan penampilannya seperti seorang malaikat, pakaiannya berwarna putih cerah dan rambutnya yang berwarna pirang keemasan. Tangannya memegangi perutnya sambil terbatuk-batuk. Sayapnya terlihat dalam keadaan yang tidak baik. Tapi, keadaannya masih lebih baik dibandingkan Sakuyamon.
Digimon itu menatap ke arah Ranamon, "K-Kau!?"
"Jangan alihkan pandanganmu Angewomon!"
Ranamon dan Lilithmon melihat ke atas, begitu juga dengan Angewomon yang terkejut melihat LadyDevimon yang menyerangnya secara tiba-tiba dari atas. Walaupun Angewomon melihat datangnya LadyDevimon, ia tetap tidak dapat menghindari serangan itu karena tubuhnya masih belum pulih dari serangan sebelumnya.
"UAKKKH!"
Kedua kaki LadyDevimon mendarat tepat di atas payudara kanan dan perut Angewomon. Itu membuat pelindung payudara kanan Angewomon hancur dan membuat puting merah mudanya terlihat. Injakan di perutnya membuat Angewomon memuntahkan darah dari mulutnya dan menambah rasa sakitnya. Tubuh Angewomon terbaring lemas, kedua tangan dan kakinya tidak dapat bergerak sementara LadyDevimon masih tetap berdiri di atasnya.
"Oh, hai kalian. Maaf, aku tadi sedang sibuk mengurusi pelacur sialan ini." Kata LadyDevimon sambil mengangkat kaki kanannya dan menginjak payudara Angewomon yang tidak terlindung apa-apa.
"Akh!"
"Yah, aku bisa melihat itu. Pelacur-pelacur ini memang perlu diberi pelajaran." Kata Ranamon mendekati Angewomon. Ia berjongkok di sebelah wajah Angewomon dan mengusap darah yang ada di bibirnya dengan jari.
"Hmmm..." Ranamon menjilati jarinya, "Aku bisa merasakan kekalahanmu, Angewomon."
Angewomon yang tidak ingin dipermalukan, mulai melawan. Ia meludahi wajah Ranamon dengan darah dari mulutnya, "Haha... Coba bersihkan itu dari wajah jelekmu."
Ranamon tersenyum sambil berdiri dan mengambil tempat LadyDevimon. Ia menduduki dua payudara Angewomon dan mengepalkan kedua tangannya.
BUG!
"Ugh!"
Satu pukulan keras mengenai pipi kiri Angewomon.
BUG! BUG!
Kini pipi kanannya.
LadyDevimon, Lilithmon, dan Calmaramon melihat kemarahan Ranamon. Pukulan demi pukulan mengarah ke wajah Angewomon.
KRAK!
Terdengar suara pecahan dari topeng Angewomon akibat pukulan Ranamon. Kini terdapat celah di topeng sebelah kiri Angewomon hingga memperlihatkan mata indahnya yang berwarna biru. Darah juga mulai mengalir dari dahinya dan nafasnya terengah-engah. Dengan satu pukulan terakhir, Ranamon menyelesaikan amarahnya.
Ranamon berdiri dan membersihkan tangannya dari darah Angewomon, "Kuharap kau bisa membersihkan yang itu terlebih dahulu."
Wajah Angewomon kini babak belur karena pukulan-pukulan tadi. LadyDevimon mendekatinya dan mengangkat tubuhnya, "Jangan sampai kau mengulanginya lagi, bodoh!" Ia menjatuhkan tubuhnya, "Sekarang apa, Ranamon?"
"Masukkan mereka ke ruang tahanan dan ikat mereka. Kita lanjutkan besok saja."
Calmaramon membawa Sakuyamon dan Angewomon ke ruang tahanan. Ia melemparkan tubuh mereka dan seketika tentakel-tentakel yang ada di ruangan itu melilit tubuh mereka, "Sampai ketemu besok." Dengan tertawa, Calmaramon menutup pintu ruang tahanan itu dan mendatangi ketiga temannya.
Empat Digimon kejam itu berjalan ke luar dan menutup pintu besar Ruang Tentakel itu, meninggalkan Angewomon dan Sakuyamon di dalamnya.
Sudah lebih dua jam Dokter Mayu melakukan percobaan pertama kepada Kazemon dan Mervamon. Dia meninggalkan mereka di ruangannya dan pergi berbelanja. Dokter Mayu keluar dari toko sambil membawa barang belanjaannya, "Panas sekali di luar sini." Katanya.
Ketika sudah sampai di dekat rumahnya, Dokter Mayu melihat Rin berlari dari dalam rumah, "Dokter! Dokter!" Teriaknya.
"Eh? Ada apa Rin?"
Nafas Rin yang tidak beraturan membuatnya sulit berbicara, "Me-mereka sudah bangun..."
"Lalu?"
"... dan obatnya merangsang mereka..."
Wajah Dokter Mayu yang tenang berubah menjadi penuh dengan ketertarikan, "Ini yang kutunggu-tunggu!" Ia berlari ke dalam rumah dan mendobrak pintu ruangannya.
Di ruangan itu, ia melihat celana dalam Kazemon dan celana pendek Mervamon berserakan di lantai. Mereka berdua sedang memuaskan diri mereka, jari-jari mereka mencari kepuasaan di dalam vagina. Dengan kaki yang terbuka lebar, jari-jari mereka keluar masuk vagina mereka. Desahan dan erangan memenuhi ruangan.
"Ahhhh... Dokter... Mmmpphh..." Kazemon mengerang.
"Sudah berapa lama mereka seperti ini, Rin?"
"Baru beberapa menit yang lalu. Mmm, sekitar tiga menit."
"Bagus... Apa mereka sudah orgasme?"
"Sepertinya belum. Apa kita memerlukan kuas lagi, dokter?"
"Tentu saja, cepat ambil kuasnya. Sepertinya kita juga butuh tali."
Rin berlari keluar dan tidak berapa lama kemudian dia kembali dengan membawa seutas tali dan kuas baru.
"Ini dokter" Katanya sambil memberikan kuas dan tali itu, "Untuk apa tali itu?"
"Kau lihat mereka? Mereka sudah terangsang berat, tidak mungkin tangan mereka akan berdiam diri, mereka pasti butuh pemuas nafsu mereka sekarang. Aku akan mengikat tangan mereka dan biar kuas saja bekerja, sama seperti tadi. Cepat bantu aku mengikat tangan mereka."
Dokter Mayu memotong tali itu dan memberikannya ke Rin. Dokter Mayu mengikat tangan kanan dan Ular Medullia di tangan kirinya, "Maaf Mervamon, ini demi kebaikanmu."
Dengan wajah yang memerah karena nafsu dan rangsangan, Mervamon hanya bisa mendesah dan mengerang ketika tangannya diikat di atas tempat tidur.
"Maafkan aku, Kazemon." Kata Rin sambil melakukan hal sama ke Kazemon.
Kazemon menganggukan kepalanya.
"Perlukah kita mengikat kaki mereka juga?" Tanya Rin.
"Tidak perlu. Tidak ada wanita terangsang yang akan menutup kakinya. Cepat, ambil kuas ini." Kata Dokter Mayu sambil melemparkan dua kuas ke Rin.
Dokter Mayu dan Rin membuka pakaian Kazemon dan Mervamon hingga membuat payudara mereka menyembul keluar. Puting mereka terlihat mengacung tegak dan terlihat butiran-butiran kecil air susu mulai keluar dari puting payudara Kazemon.
Begitu kuas menyentuh puting dan bibir vagina mereka, Kazemon dan Mervamon mengerang panjang dan langsung mengalami orgasme yang dahsyat. Tubuh mereka melekuk ke atas. Vagina mereka menyemburkan cairan yang sangat banyak dan menyembur ke segala arah.
"AAAAHHHHHHNNN!"
Rin yang terkejut mendengar erangan kedua Digimon itu, tanpa sengaja mengoleskan kuasnya ke klitoris Kazemon dan mendorong kuas itu masuk ke dalam vaginanya. Rin terjatuh dari tempat tidur dan memandangi Kazemon.
"NNGGGHH! NYYAAAHHH!"
Erangan Kazemon semakin keras dan cairan dari vaginanya semakin deras keluar. Bersamaan dengan itu, air susu Kazemon juga menyembur keluar dengan derasnya ke segala arah dan membasahi tempat tidur juga lantai.
"Ahhhhh... Ce-cepat keluarkaaahhhnnnn..." Kata Kazemon lemah.
Rin dengan cepat berdiri dan menarik kuas itu perlahan. Cairan vagina Kazemon menyembur mengenai wajahnya, ia mengusap wajahnya dan terkejut melihat cairan vagina itu kini berwarna sedikit kemerahan. Ia melihat kuas itu dan melihat ada darah menutupinya.
"Ka-Kazemon... Kau pe-perawan... lagi?"
