Rina: Tehe~ Rina balik lagi! Soal na baru kesamber geledek ide!

Rin: Geh, iblis satu ini balik!

Len: Semoga cerita na bakalan nyambung…

Rina: Bawel kalian berdua! Oh ya, omong2 karena "Festival Panic!" bakal dibagi menjadi beberapa bagian… hingga bisa dibuat Arc… jadi preview di chapter kemaren itu agak salah…

Rui: Inti na, Rina baru saja dapet kesadaran bahwa cerita nie akan segera selesai dalam waktu dekat! Mungkin yah… satu Arc pendek setelah Arc ini!

Rin: Wah, bagus dong! Cerita na makin aneh soal na!

Len: Terus yg cerita segi banyak yang kau tulis di draft mau kau apain BakAuthor?

Rina: Hehe, 1 pair akan dihilangkan, tapi penambahan (sensor) (sensor) masih akan jalan!

Rin: Siapa tuh yang disensor? *heran

Rina: Rahasia! Sekarang kalian berdua cepat baca disclaimer! *kasih kertas disclaimer sambil nenteng jeruk dan pisang*

Rin&Len: Siap laksamana! *langsung tegap

Disclaimer: Vocaloid bukan milik Rina! Kalau iya, adanya ntar Rin ma Len dibuat canon. Kaito bakal canon ma Meiko tapi selingkuh ma Gakupo. Luka bakal love love dengan Miku dan Gakupo. Gumi hanya akan makan wortel di pojokan bareng ma Leon.

Rin&Len: Disclaimer na GJB (Gak Jelas Banget)

Rui: GJB… Gerak Jatuh Bebas? (Fisika kumat) Apa hubungan na ma disclaimer na?

Rina: Yah, yang jelas semoga kalian suka dengan chapter ini! Festival Panic Part 1 ~I am Cinderella?~


Rin POV


Sejak hari dimana Akane-senpai menolak buka mulut tentang siapa pasangannya pada acara Kembang Api, aku, Miku, Neru, Teto, mulai membuntutinya kemana-mana. Tapi mencari siapa benar-benar sulit! Akane-senpai bersosialisasi dengan hampir seluruh cowok di angkatannya dan juga semua cowok panitia. Sehingga kemungkinan tiap-tiap orang sangatlah tipis.

Aku hanya berharap bukan Liu-senpai sih…

Yang jelas, hari ini hanya aku dan Miku yang membuntuti Akane-senpai. Neru dan Teto tidak ikut karena Neru harus jaga rumah sedang Teto membeli persediaan roti. Tapi, aku agak sangsi dengan Neru, karena tawanya yang menyeramkan ala fujoshi psycho keluar. Miku yang cerita bahwa lebih baik aku tidak tanya apa yang dia lakukan.

"Ah, Liu!" aku dan Miku mendengar suara Akane-senpai memanggil seseorang yang membawa setumpuk berkas-berkas. Dari apa yang Akane-senpai ucapkan, dia merupakan Liu-senpai. Wajahku jadi panas hanya dengan memikirkan namanya.

Buru-buru aku dan Miku memasuki ruangan terdekat yang bisa memberi kami keleluasaan untuk mengamat-amati. Aku sempat melihat ke atas, dan ada tulisan OSIS atau semacamnya di plat nama. Tapi biarlah! Yang penting kami aman.

Liu-senpai berbalik ke arah Akane-senpai, yang segera memberinya tambahan kertas di tumpukan kertas yang dibawa Liu-senpai. Akane-senpai kemudian berkata, "Ted bilang kau harus membantunya menandatangani surat-surat yang akan diberikan pada sponsor. Katanya dia sibuk pacaran dengan Teto-chan," ujar Akane-senpai dengan entengnya.

Wajah Liu-senpai segera memelas dengan mulut yang terbuka, sepertinya dia lelah, "Ted itu benar-benar memanfaatkan posisinya! Kenapa aku tidak boleh pacaran sepertinya? Haaah," keluh Liu-senpai sambil berjalan menuju ke ruang OSIS… ke tempat kami!

"Rin-chan! Pikirkan sesuatu!" ujar Miku dengan panik saat dia menyadari kemana mereka berjalan. Aku juga ikut-ikutan panik, karena kantor OSIS memang memiliki tempat persembunyian yang sangat minim.

"Kau juga harus memberiku ide!" balasku pada Miku sambil melihat ke sekeliling, mencari tempat sembunyi. Tapi, selain berbicara pada Miku, aku juga minta bantuan Ma… Milet. Ya, sekarang aku bisa menyebut namanya dengan benar!

"Rin, cepat sembunyi di balik meja ketua OSIS!" nasihat Milet yang berbicara dari dalam pikiranku. Karena dia bisa tahu tentang pergerakan orang-orang selanjutnya, aku mematuhinya dan menyampaikan ideku pada Miku.

Miku menyetujui usulanku, dan kami berdua segera bersembunyi di balik meja ketua OSIS yang membelakangi jendela dan sangat tertutup jika dilihat dari depan. Tapi, kalau ada yang berjalan hingga ke samping, maka kami akan ketahuan dengan mudah.

"…hei, Rui, kau ada waktu senggang nanti tidak?" aku mendengar suara Liu-senpai yang berbicara saat pintu terbuka. Setelah itu disusul dengan sesuatu yang diletakkan di meja. Mungkin itu kertas-kertas yang dibawanya tadi.

Miku sudah bergerak sepertinya tidak tenang, dan seakan-akan ingin mengatakan sesuatu padaku. Tapi, aku memberinya tanda untuk diam, dan mulai menguping. Oke, menguping itu salah, tapi aku kan pencuri! Pencuri itu tidak peduli apa dia menguping atau mengintip.

"Tentu! Kita harus menyelesaikan proposal yang ditinggalkan Ted itu bukan? Tentang acara di panggung utama. Momo, Defoko, dan juga Rook sudah kuberi tahu tadi," ujar Akane-senpai dan kemudian disusul suara sofa yang tertekan. Mereka berdua duduk di kursi ruang OSIS, aku tahu itu dari suara mereka.

Aku menghela nafas lega. Aku lega karena mereka tidak hanya sendirian. Ada beberapa senpai yang tidak terlalu kukenal bersama mereka. Jadi, mereka tidak hanya berdua saja… jadi hanya karena tugas mereka.

"A-ah… iya… aku tahu itu… haha," ujar Liu-senpai dengan nada yang tidak kumengerti. Aneh… Liu-senpai terdengar kecewa… a-apa mungkin?

"Rin…" bisik Miku dengan memberikan tanda bahwa semakin lama kami menguping, keadaannya makin parah.

"Miku… kita sendiri tidak bisa lari dari sini…" balasku pada Miku. Aku tahu kekhawatiran Miku, tapi karena pintu hanya ada satu, kami tidak mungkin keluar sekarang atau kami akan ketahuan.

"Hei, Liu…" aku mendengar Akane-senpai berbicara lagi. Telingaku secara spontan kupertajam. Aku mendengar suara gesekan sesuatu di atas kertas, sepertinya Liu-senpai sedang menulis.

"Hmm?" tanya Liu-senpai yang masih sibuk dengan kertasnya. Ternyata saat kudengarkan baik-baik, Liu-senpai sedang menandatangani kertas itu, bukan menulis.

"Seandainya… salah seorang temanmu memiliki kutukan yang tak bisa hilang, apa yang akan kau lakukan?" ujar Akane-senpai dengan nada yang terdengar serius.

Deg. Aku merasa seakan-akan Akane-senpai berbicara tentangku. A-apa sebenarnya dia tahu tentang identitasku?

"Kutukan? Hmm, kau percaya sama yang begituan… aku baru ingat. Yah, kalau dia seorang teman, mungkin akan kubantu. Bahkan jika itu orang lain pun aku masih akan membantu mereka. Memang kenapa kau bertanya?" ujar Liu-senpai yang sepertinya masih sibuk dengan pekerjaannya.

"Tidak… aku hanya mendengar sebuah cerita. Seorang gadis yang dikutuk untuk menjadi sesuatu yang lain saat malam hari, dan tidak mungkin lari dari kutukan itu. Andai saja… andai saja ya. Yang bisa menyembuhkannya adalah ciuman… misalkan ciumanmu, apa yang akan kau lakukan?" ujar Akane-senpai. Aku merasakan rasa ragu di setiap kata-kata yang keluar dari dalam mulutnya.

Hening… dan suasana itu juga berlaku padaku dan Miku. Miku sepertinya tidak terlalu paham. Tapi, perutku serasa sakit saat Akane-senpai mengatakan itu. Dia berkata seakan-akan dia membicarakanku. Apa dia tahu bahwa aku sebenarnya Cinderella? Apa dia ingin membantuku? Kalau iya, kenapa? Apa alasannya?

"… itu cerita lain Rui. Aku tidak bisa asal melakukannya. Aku harus memikirkan perasaannya dan perasaanku sendiri," jawab Liu-senpai dengan nada suara dingin.

"O-oh… maaf, pertanyaanku aneh seperti ini," ujar Akane-senpai dengan nada suara meminta maaf. Dan jawaban Liu-senpai membuat dadaku sakit pula.

"Aku mungkin tidak bisa melakukannya. Kau tahu kenapa Rui? Karena aku sudah menyukai seseorang yang lain," ujar Liu-senpai dengan nada suara lembut.

Perkataan itu seakan menyambarku seperti petir di siang bolong. Liu-senpai… menyukai seseorang? Siapa? Siapa yang dia sukai? Apakah ada kemungkinan bahwa itu merupakan aku?

"Kalau begitu. Bukannya lebih baik kau mengajak gadis itu dibanding dengan orang yang tidak kau sukai?" ujar Akane-senpai seraya tertawa. Tawanya terdengar jujur dan memiliki nada bercanda yang sangat kental dan khas Akane-senpai.

Setelah beberapa lama, Liu-senpai ikut tertawa. Lalu aku mendengar langkah kaki mereka berdua meninggalkan ruangan. Aku masih terduduk lesu di tempatku, saat Miku berkata, "Rin-chan, ayo kita pergi dari sini… hari ini cukup…" ujar Miku yang membantu berdiri.

Aku hanya mengangguk. Banyak hal yang berputar-putar di kepalaku. Tetapi, aku khawatir jika Akane-senpai mengetahui tentang identitasku yang merupakan Cinderella. Tapi, jika dia tidak membicarakanku, siapa yang dia bicarakan?

(Time Skip)

"CUT! CUT! CUT!" teriak produser dadakan Neru. Dia memegang buku naskah di tangan kanannya, sambil memukul-mukul meja. Sudah kelihatan empat sudut siku-siku yang bisa membentuk satu lingkaran penuh, di dahinya.

Oke, kalian pasti penasaran apa yang dilakukan Neru tadi bukan? Kalau iya, maka kujawab, kalau tidak, ya tetap kujawab.

Kelas kami akan mengadakan pementasan "Cinderella" pada hari pertama Festival Kebudayaan dan besok adalah Hari-H dari Festival dan Pertunjukan.

Aku memegang naskahku dengan menghela nafas panjang-panjang memikirkan perananku. Aku juga lumayan lelah akan latihan neraka yang diberikan Miku padaku setiap hari sepulang sekolah disela-sela misi membuntuti Akane-senpai, yah, meski aku berhenti sejak kejadian hari itu.

"Rin-chan! Kau adalah pemeran utama laki-laki! Jadi jangan hanya menghela nafas di pojokan meratapi nasib! Jika kau ingin menyalahkan seseorang, salahkan pemeran utama cewek kita!" omel Neru sambil melemparkan buku naskah di tangannya. Aku reflek menghindar, dan menghindari Neru memang mudah, aku bahkan bisa melakukannya dengan mata tertutup.

Nah, lho, kalian pasti tambah heran. Aku, yang secara biologis cewek, menjadi pemeran utama laki-laki? Begini ceritanya…

(2 minggu lalu…)

"Karena kita sudah setuju pemeran cewekaliasCinderella akan menjadi milik Kagamine Len-kun, kita punya sedikit masalah…" ujar ketua kelasku, alias Teto.

"Masalah apa Teto-chi?" tanya salah seorang murid cowok. Teto memang sering dipanggil Teto-chi, tapi teman-temannya selalu memanggilnya "-chan".

Teto mengerutkan dahi, dia kemudian berkata, "Sebenarnya…" ujarnya dengan wajah yang terdengar merasa kesulitan.

"Sebenarnya?" semuanya, kecuali Len yang cengar cengir sendiri, mengulang perkataan Teto yang diputus di tengah-tengah tadi.

"Len meminta… Rin-chan menjadi pangerannya," ujar Teto dengan berdehem-dehem.

… … … … … keheningan melanda seluruh isi kelas, dan mereka berbalik melihat ke arahku dan juga Len. Len hanya cengar cengir kayak anak iseng. Sialan tuh anak, ini dia yang rencanakan!

"A-APA! AKU JADI PEMERAN PANGERAN?" teriakku secara spontanitas setelah menyadari bahwa ini merupakan rencana Len.

(Flashback wis bar)

Begitulah ceritanya aku menjadi pangeran. Len yang merupakan pemeran crossdress paling berbakat di kelas, mau melakukan semua ini jika aku harus ikut-ikutan crossdress dengannya. Kuakui waktu aku kecil, sifat tomboi merupakan sifat utama milikku, tapi kenapa aku harus ikut juga?

"Rin, saatnya uji coba kostum! Len kau ikut juga!" ujar Teto sambil membawa dua stel baju yang terlihat bagus dan juga… berlebihan?

Baik aku maupun Len, mungkin sudah ketakutan melihat pakaian itu. Tapi, saat kami hendak melarikan diri, semua jalan sudah diblokir oleh teman-teman sekelas yang tertawa-tawa seperti maniak. Spontan aku dan Len saling berpelukan seperti Telletubies, tapi bedanya karena kami ketakutan akan hawa membunuh yang mereka pancarkan. Saat itu aku baru menyadari bahwa Neru menekan-nekan tombol ponselnya, tanda bahwa dia memotret kami.

Sebelum aku buka mulut untuk memberi Neru perintah untuk menghapus foto itu tadi, Miku sudah melepaskanku dari Len, dan menarikku menuju ke tempat berganti kostum. Aku menangis-nangis minta dilepasin karena aku diseret seperti karung beras. Dan… Miku secara harafiah mencekik leherku!

"Mi…ku… lepa…sin… aku gak bisa… napas…" ucapku secara putus-putus seraya meronta-ronta untuk dilepaskan dari tarikan Miku yang tidak kenal ampunan.

Miku tidak menggubris omonganku, hingga dia memasukkanku ke dalam sebuah ruangan ganti dan membanting pintunya. Aku hanya duduk di tempatku tanpa berkedip. Apa aku membuat Miku marah? Tapi, rasanya aku tidak melakukan apapun…

… kecuali memeluk Len akibat ketakutan tadi.

"Miku…-chan?" tanyaku dengan khawatir. Aku khawatir jika apa yang kucurigai benar, dan aku takut bahwa Len akan meninggalkanku sendirian.

"Tidak adil… kau benar-benar… tidak adil Rin-chan…" ujar Miku yang terdengar seperti terisak-isak dibalik pintu. Dalam waktu yang singkat, aku sudah mendengar suara isak tangis yang cukup keras.

"Miku…-chan…" panggilku lagi. Ada sesuatu di dalam perutku yang membuatku sangat mual dan juga sakit. Kepalaku menjadi sangat pusing, dan aku tidak bisa berpikir dengan jelas. Kenapa aku merasakan ini? Apa karena aku mengetahui bahwa…

"Aku… akulah yang menyukai Len… tapi kenapa… kenapa dia hanya melihat padamu Rin-chan… padahal aku selalu berada di sisinya selama 3 tahun… padahal kami selalu bersama… tapi kenapa… kenapa saat kau datang… Len menjadi sangat peduli padamu… hanya karena kau adalah sahabat masa kecilnya… Rin-chan… kenapa?" ujar Miku yang masih terus menangis.

Aku tidak tahu sudah berapa kali aku disambar petir di siang bolong seperti ini. Aku bahkan tidak menyadari tentang semua ini meski hanya sedikit. Miku yang selalu tersenyum padaku… ternyata cemburu kepadaku. Dia cemburu… karena dia menyukai Len.

Aku tidak bisa mengatakan apapun saat aku mengatakan pada kepalaku sendiri, bahwa Miku cemburu padaku karena dia menyukai Len. Len… Len… hanya itulah yang kepalaku putar berkali-kali, hingga aku merasa pusing.

"Aku… aku menyukai Len, Rin-chan. Bagaimana denganmu?" ujar Miku dengan jujurnya.


Aku tidak ingat apa yang kukatakan pada Miku, tapi saat aku menyadarinya, kini aku sudah berjalan di samping Len di belakang panggung. Len sendiri membawa teks yang ada di tangannya, dan menghapalkannya keras-keras.

Aku jadi ingin tertawa sendiri, Len memang selalu begitu. Tapi, aku menyadari bahwa Miku tidak lagi ragu untuk mendekati Len, meski ada aku. Aku entah kenapa bersyukur bahwa aku memiliki lebih banyak waktu dibandingkan dengan Miku sekarang.

"Hei, Len, bukannya kau seharusnya…"

"Ah, benar juga! Kau benar-benar sahabatku Rin!"

"Bukankah kita sahabat?"

"Haha, kau benar juga…"

Terkadang percakapan bodoh seperti itu terjadi. Terkadang kami hanya akan bermain-main, membuat banyak sekali kenangan. Semua ingatan indah yang menumpuk menjadi satu. Kenangan-kenangan indah dari sebuah cerita "Cinderella". Apa mungkin ceritaku akan bisa seindah itu? Tanpa sadar, aku pun sudah hafal dengan dialog Len yang menjadi Cinderella. Aku merasa ini sedikit ironis.

"Hei Len, bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang menarik seperti dulu?" usulku pada Len yang sedang membaca naskahnya untuk yang terakhir kali. Meski waktu kami tampil masih agak lama, tapi ini merupakan saat terakhir kami akan berlatih.

"Hal apa? Gah, jangan-jangan…" ujar Len dengan wajah yang setengah terkejut. Len memang cepat tanggap, tidak seperti dulu.

"Onegai!" ujarku dengan memohon-mohon pada Len. Aku ingin mencoba 'terlihat' seperti Len sekali saja. Meski sudah agak berubah, kami masih terlihat seperti pinang dibelah dua. Jadi kami masih bisa memainkan permainan kesukannku, dan kebencian Len ini. Hehe, kalau kalian pintar, pasti tahu deh apa permainannya!


Setelah aku dan Len selesai, aku melihat Len yang memakai seragamku, bandoku, dan semua aksesorisku. Ternyata masih terlihat sama! Aku seperti melihat cermin jika melihat Len begini.

"Len, kau masih imut ya!" ujarku dengan bercanda. Tapi, itu sukses membuat wajah Len memerah karena malu. Aku tidak tahu apa masalahnya, tapi yang begini kan menarik!

"Len! Rin!" aku mendengar suara orang memanggil kami. Dan saat aku tahu, aku dan sudah ditarik pergi oleh siapapun itu dengan kecepatan super. Hmm, biar kuingat-ingat… siapa ya, yang sekuat ini di dalam kelas?

Aku dan Len segera melihat tersangka, (karena lebih mudah begini) dan melihat wajah seorang Luki Megurine, adik dari Luka Megurine, manajer Miku. Aku diberi tahu oleh Miku bahwa adik manajernya sekelas dengan kita.

Sebelum aku ataupun Len sempat berbicara bahwa kami sedang bertukar tempat, Luki sudah membuang kami ke dalam ruang ganti. Aku hanya melongo saja, dan saat aku menyadarinya, aku sudah memakai apapun itu yang ada di dalam ruangan itu.

Saat aku keluar… entah siapa yang memulai, aku langsung ditarik ke meja rias untuk diriasi. Kami melakukan rias sendiri, karena ada murid-murid di kelas kami yang master dalam kosmetik, Miku dan juga Nekomura-san. Aku pernah mencuri permata milik Nekomura-san, dan dia menjadi sangat jujur akan addict nya pada Hello Kitty. Orang tuanya adalah pemilik salon artis-artis seperti Miku.

"Ka-kalian tunggu dulu…" aku berusaha protes dan mengatakan bahwa aku Rin, bukan Len. Aku hanya memakai baju Len tadi, dan kenapa aku harus dilempar kedalam ruang ganti…

"Len, tidak ada suara! Kita hanya memiliki waktu kurang dari 20 menit untuk menyelesaikan semua ini!" bentak Iroha dengan sangat menyeramkan.

Aku hanya menelan ludah, dan menurut. Aku berusaha melirik ke samping, dan Len sepertinya mengalami sebuah penderitaan yang sama, karena dia dikira adalah aku, dan aku merupakan Len! Aku baru tahu bahwa kami semirip itu hingga bisa membuat semua orang tertipu…

Atau mungkin mereka saja yang terlalu bodoh…

Setelah kami berdua benar-benar selesai, sepertinya mereka baru menyadari. Len yang terlihat sangat cocok dengan pakaian pangeran yang seharusnya merupakan peranku. Dan mereka kemudian melihatku yang menggunakan pakaian Cinderella yang lusuh sebagai intro.

"Rin-chan… Len-kun… apa yang kalian lakukan?" tanya Neru yang sepertinya kaget sekali dengan kesalahannya sendiri.

Aku dan Len hanya menghela nafas, Len kemudian berkata, "Kalian tidak mendengar perkataan kami dan terbawa suasana buru-buru, karena itu kalian salah orang," ujar Len dengan wajah yang sedikit dark. Tapi, aku yakin dia senang tidak harus memakai pakaian Cinderella.

Semuanya terdiam, dan sepertinya mereka terlihat kebingungan akan satu hal. Saat itulah Neru segera berkata, "Rin-chan, kau kan selalu latihan dengan Len-kun bukan?" ujar Neru dengan menanyakan pernyataannya padaku.

Aku hanya mengangguk, dan Len berkata, "Memang ada apa dengan itu?" tanya Len dengan heran. Sepertinya dia tidak mengerti apa yang berjalan di otak Neru, yang jenius tidak, brilian tidak, bodoh juga tidak.

"Dan Len-kun… kau mendengarkan semua dialog Rin-chan bukan?" tanya Neru tanpa menggubris pertanyaan Len tadi.

Giliran Len kini yang mengangguk. Aku melihat ke sekeliling, dan teman-teman sekelas segera melonjak-lonjak kegirangan seperti menang hadiah liburan ke luar angkasa. Jujur saja… aku punya perasaan buruk…

Neru memukulkan buku naskah yang entah sejak kapan di tangannya, ke tangannya yang bebas, seakan ingin memukul orang. Tapi, Neru kemudian menggunakan gulungan buku naskah itu ke arahku dan juga Len, dengan segera dia berkata, "Len-kun, peranmu diganti menjadi Pangeran, dan Rin-chan, mau tidak mau kau harus menjadi Cinderella," ujar Neru.

Kini giliran aku dan Len yang cengo lagi…

"A-AKU CINDERELLA?" teriakku dengan keras-keras. Kenapa aku merasa peran ini sedikit ironis ya?


Rina: Udah, segini ja untuk Festival Panic Part 1!

Rui: Waduh, gaje bener deh… depan na serius, belakang na malah antik…

Rin: Miku ngajak berantem tuh?

Len: Yang sabar Rin…

Rina: Udah deh kalian bawel! Terima saja nasib kalian dan cepat minta review!

Rin+Len: Kalo bukan karena dia… yah, kami minta RnR yg banyak deh!

Rina: Bagus. Sekarang adalah untuk preview chapter selanjutnya!


Preview Chapter 7 : Festival Panic! Part 2 ~Culture Festival Live Stage!~

"Cinderella, jangan pergi!"

"Jika kita memang ditakdirkan bersama… pasti kita akan bertemu lagi,"

"A-ano… kumohon pergilah denganku saat Acara Kembang Api!"

"Maaf… aku tidak bisa"